Règne
a story by amiodarxne
.
.
.
.
A NamJin Fanfiction
Omegaverse! Alpha! Namjoon x Omega! Jin
Cast(s) : Find more later.
.
.
.
Disclaimer and Warning : All cast(s) are not mine, but the story is mine. If you find something similar; that's just coincident. This is yaoi fanfiction, may content inappropriate scene and language. Don't like Don't read!
.
.
.
Chapter 2: The Past.
"Sudah bawa obatmu?"
"Sudah, Omma."
"Sudah bawa bekal yang Omma siapkan?"
"Sudah, Omma."
"Tugas sudah juga?"
"Sudah, Omma. Sudah. Aku ini sudah dewasa, okay? Aku sudah kelas 3 sekolah menengah atas. Sebentar lagi akan lulus dan masuk universitas."
Lalu raut sendu itu hadir lagi. Anak muda itu benci melihat mendung membayangi paras cantik omma. Apalagi jika sumber dari mendung tersebut. Omma adalah segalanya bagi pemuda dengan nama Seokjin yang kini merupakan murid tahun senior tersebut.
"Omma hanya khawatir padamu,Jin-ah. Kau adalah satu-satunya yang omma miliki …," belum sempat pria tersebut melanjutkan kalimatnya, sang anak telah mendaratkan sebuah kecupan kasih sayang di pipi sang ibunda. "Uhm … aku tahu, omma. Hanya saja, tolong beri aku sedikit kepercayaan, ara?" Dan ibunya tak dapat mengeluarkan kata selain mengangguk dengan senyum samar yang menyertai. "Ara, Omma paham. Mianhae … jja, berangkat sebelum kau terlambat."
Obrolan seperti itu seolah menjadi rutinitas Jin dengan bundanya semenjak pubertas menghampiri. Sejak gender sekundernya sebagai omega terkuak, pria yang telah melahirkannya menjadi over-protective. Ya, ibu Seokjin adalah omega jantan seperti dirinya. Sayangnya, ibunya adalah omega tanpa alpha. Pria dengan figur tinggi dan kurus tersebut tidak memiliki mate. Sebuah keanehan dalam komunitas. Kim Heechul namanya. Omega dengan paras serupa malaikat namun memiliki tekad sekuat baja. Seorang diri membesarkan putranya tanpa bantuan siapapun jua; bahkan orang tuanya sendiri. Lalu siapa pria yang telah menanamkan knotnya pada womb Heechul? Jin sendiri tidak tahu. Pria yang telah melahirkannya tersebut tak mau memberi-tahu atau bahkan sekedar bercerita. Ia sendiri bukan tak mau tahu. Hanya saja, setiap kali pertanyaan terlontar; raut pilu yang disuguhkan oleh ibundanya. Membuat Seokjin bagai disayat sembilu.
Omega yang memiliki pup tanpa alpha sendiri adalah anomali. Bukanlah suatu yang umum bahkan merupakan aib yang dapat mencoreng nama baik keluarga. Dalam kasus ini, keluarga Heechul adalah keluarga yang kesemuanya merupakan alpha. Ibunya, ayahnya, adiknya; kecuali Heechul tentunya. Dan kejadian yang menimpanya tentunya adalah sebuah aib bagi keluarga Kim yang terhormat. Menjadikan Kim Heechul sebagai omega tanpa mate yang memiliki seorang anak dan terbuang dari keluarganya.
Lalu apakah hal tersebut dapat menghentikan kehidupan pria cantik tersebut? Normalnya, omega dalam diri manusia akan merana tanpa belaian seorang alpha. Tentu saja itu normalnya … karena tekad yang Heechul punya bahkan dapat menaklukkan omega manja dalam dirinya ... dan Heechul menang. Sendirian membesarkan putranya. Di antara sekolah, pekerjaan sambilan dan perhatian yang Seokjin butuhkan. Hingga dua windu kemudian semua nyaris terbayar. Ya, nyaris. Masih sendiri dan putranya adalah anak haram tak berayah.
.
.
.
"Haah …," entah berapa kali Seokjin harus menghela napasnya. Ibu begitu khawatir terhadapnya. Apalagi semenjak beberapa tahun lalu; di mana usianya menginjak angka emas ketujuh belas dan mendapatkan heat pertamanya. Walaupun gender sekunder diketahui seorang hybrid serigala udah terkonfirmasi semenjak anak memasuki usia remaja; pada umumnya pada usia 12 tahun; bisa jadi lebih cepat atau lebih lambat, namun tanda-tanda seksual sekunder baru akan muncul saat usia menginjak 17 tahun.
Berlaku juga untuk heat bagi omega dana rut pada alpha. Untuk beta sendiri, tak banyak perubahan yang terjadi; terutama yang berhubungan dengan urusan biologis karena pada hakikatnya mereka adalah manusia dengan ruh serigala yang tidak terlalu mendominasi seperti milik omega atau alpha. Heat bagi omega adalah saat di mana rahimnya mengalami ovulasi sehingga ia berada pada posisi puncak kesuburan. Pada masa-masa tersebut, hubungan senggama akan memiliki kesempatan untuk membuahi sel telur paling tinggi. Dampak yang didapatkan oleh omega antara lain; ia akan mengalami peningkatan nafsu dan bau feromon yang akan menggoda alpha untuk menerkam mereka. Dan pada saat-saat seperti itu, pada umumnya omega tidak memiliki kendali atas pikirannya. Hanya kabut nafsu dan keinginan untuk bersenggama yang menguasai diri mereka.
Bagi omega tanpa pasangan hal ini akan terasa menyakitkan karena tidak ada pelepasan. Bagi populasi yang belum memiliki mate, biasanya akan mengasingkan diri sejenak agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal-hal yang tak diinginkan misalnya ditandai oleh alpha yang tak dikenal … atau lebih buruk, alpha memasukkan knotnya tanpa menandai si omega yang menghasilkan bayi tanpa ayah setelahnya. Seokjin bergidik membayangkan jika bisa saja itulah yang terjadi pada Heechul dan dirinya adalah si anak haram hasil hubungan tanpa penandaan.
Pun bagi sang teruna bermarga Kim, heat pertamanya bagaikan neraka. Seluruh sel dalam tubuhnya seolah berteriak untuk disentuh; dibelai; dimanja dan disayangi. Darah mengalir dengan deras ke arah bagian selatan tersebut terus berada pada ukuran terbesarnya dan Namun apa yang bisa ia lakukan? Hanya merimtih; mendesah; memanja diri sendiri; hingga menangis sambil bergelung di sudut ranjangnya menahan semua rasa yang mendera seluruh indera yang dipunya. Setengah windu telah berlalu; namun bagi si pria Kim, ia tak jua merasa terbiasa dengan sensasi yang ada. Untungnya, seiring berlalunya waktu masa heatnya sudah memiliki pattern yang jelas sehingga lebih mudah bagi sang pemuda untuk ditanggulangi.
"… hyung! Jin hyung!"
"Eh …," sedikit terhenyak karena tepukan di pundaknya. Ternyata angannya terbang ke awing-awang sedari tadi hingga Jin tak sadar jika sedari tadi ia berjalan dengan rekannya yang berada di kelas anatomi yang sama; Min Yoongi atau yang lebih suka disebut sebagai Suga. Seorang omega sama seperti Jin dan terpaut usia sekitar satu tahun lebih muda. Keduanya adalah mahasiswa tingkat akhir fakultas kedokteran salah satu universitas yang cukup prestisus di ibukota negeri ginseng. Keduanya adalah sedikit omega yang mengambil jurusan yang nantinya akan menjadi pengabdi masyarakat tersebut. Sekali lagi, bahkan omega yang melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi tidaklah banyak.
"Ya, Yoongi-ah. Kenapa?"
"Tch! Panggil aku Suga, okay? Dan astaga … dari tadi hyung tidak mendengarkan apapun yang kukatakan?"
"Heheheh … mian tadi ada yang sedang kupikirkan," Seokjin menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa canggung sejenak tidak mengacuhkan Suga. "Memangnya kau tadi bicara apa, ya?" Seokjin bertanya tanpa rasa bersalah yang dijawab Suga dengan tepukan kasar pada dahinya. "Astaga, hyung!" hembusan kasar lolos dari sepasang labium tipis milik pemuda bersurai ebony.
"Tidak, aku hanya bertanya jika aku bisa melakukan penelitian di rumah sakit milik ibumu karena data-dataku tidak cukup."
"Heum tentu saja. Nanti akan kusampaikan pada omma. Tapi kurasa akan dibolehkan karena omma sangat mendukung hal-hal seperti ini," terang Jin. Ibunya memanga memiliki sebuah rumah sakit. Warisan dari kakek dan nenek Kim yang bisa dibilang kaya raya dan sebagai anak tunggal, tentu rumah sakit tersebut kini menjadi tanggung jawab Kim Heechul; walaupun dia adalah seorang omega.
"Yes!" Suga bersorak kegirangan.
"Gomawo, hyung-ie! Ah … aku sudah dijemput Jimin. Aku duluan ya, hyung!"
Suga berlalu sambil melambaikan kuasa kanannya meniggalkan Jin berjalan seorang diri menyusuri lorong kampus yang sepi karena kini sang raja siang nyaris sempurna menuju peraduannya untuk berganti tugas dengan sang dewi malam.
Ada satu hal yang entah kenapa terasa mengganjal dalam pikiran pemuda bernetra sebentuk tetesan embun tersebut. Seperti ada yang terlupa … dan ia tak dapat untuk mengingatnya. Entahlah, Seokjin sendiri akhir-akhir ini seolah melupakan banyak hal. Akibat dari menumpukknya tugas, jurnal dan tugas akhir yang seolah meneggelamkan sang pemuda hingga tiada ruang tersisa bagi pribadinya. Seokjin adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedikit lagi akan lulus dan akan melanjutkan keprofesian yang akan membuatnya resmi menyandang gelar sebagai dokter.
Lalu raganya merasakan rangsang itu. Gelenyar panas yang familiar; nikmat sekaligus menyiksa. Jin melupakan jadwal heatnya. Dan ini tidak bagus karena ia berada di kampus. Dengan terburu-buru ia menggeledah tasnya. Mencari heat and pheromone suppressant; nihil. Oh, tidak … jangan bilang ia meninggalkan obatnya di rumah.
Rasionalitasnya terasa memudar seiring waktu. Tidak tahu bagaimana tubuhnya bekerja. Hal terakhir yang Seokjin ingat adalah seseorang dengan postur tubuh lebih tinggi darinya datang menghampiri dan aroma asing yang memabukkan. Campuran antara musk dan petrichore yang memabukkan menyapa pembaunya. Lalu sepasang kuasa memeluknya dan semua menjadi gelap … hilang … tak tersisa apapun selain badai kenikmatan yang mendera ….
Empat hari berlalu dan yang Seokjin sadari, ia berbaring polos dihamparan fabric yang berantakan di tempat yang asing dengan kulit pucatnya ternoda merah; kepuasan yang aneh dan asing; aroma yang sama sebelum kehilangan kesadaran; dan tangan yang memeluknya erat. Oh, crap!
.
.
.
"Omma!" suara yang ia kenali memanggilnya dan menyentakkan Jin kembali pada masa yang sebenarnya.
Lalu ketiga pasang mata beralih kepada seorang anak lelaki yang berlari dan mengehampiri Seokjin kemudian memeluk pinggangnya.
Oh, crap!
TBC
.
.
.
.
.
a/n
cie saya balik lagi terus gaje gini wkwkwkwkwk. Terima kasih atas supportnya ya semua! Sebuah respon yang luar biasa saya terima. Dari review, view, fav dan follownya luar biasa sampai terharu. Kalau missal ada pilihan kata saya yang kalian ga paham, komen aja nanti saya dm artinya kan lumayan buat nambah diksi kalian yang juga penulis wkwkkw bbtw gaya nulis saya emang kaku dan formal gitu sih ya efek dari lingkungan RP saya yang pada suka eksperimen sama diksi.
Dan hayoloh ceritanya makin twisted
Regards,
MAHES
