Chanyeol bisa saja menyuruh Jisung menemani sang ibu yang sedari malam mengeluh akan sakit kepalanya untuk pergi ke rumah sakit. Namun itu sebelum ia mendengar sang ibu sendiri yang menelpon dan meminta dirinya untuk menemani. Tipikal Chanyeol, ia tak bisa menolak kemauan sang ibu, kemauan konyol sekalipun.
Sekarang Chanyeol sudah berjalan santai memasuki rumah orang tuanya, dan disaat melangkahkan kaki menuju kamar sang ibu yang melewati ruang TV, Chanyeol mendapati keadaan si adik, Jisung tertidur dengan mulut setengah terbuka dan beberapa bungkus makanan ringan disekitar anak itu. Sisi jail Chanyeol tiba-tiba muncul, dengan pelan ia raih bsegenggam popcorn yang memang tersedia di meja dekat remot TV terletak, lalu dengan entengnya memasukan popcorn tersebut ke dalam mulut Jisung, dimana hal itu membuat adiknya itu dengan cepat mendudukan diri, sembari terbatuk berusaha mengeluarkan popcorn yang tersangkut di ujung tenggorokannya.
Setelah berhasil mengeluarkan popcorn tersebut, Jisung menggerakan kepala, mencari siapa manusia tidak punya kerjaan yang mengerjainya. Seketika ia mendapati keberadaan hyungnya. Jisung tau sekali ekspresi yang di keluarkan hyungnya itu. Ekspresi puas setelah mengerjai dirinya.
"Hyung, tidak lucu!" geram Jisung marah dengan kilatan marah di kedua mata sipitnya, walaupun itu tak terlihat oleh Chanyeol namun Jisung tetap saja menatap Chanyeol dengan tatapan yang sama.
Chanyeol tertawa, "Aku hanya iri, kau tidur sangat nyenyak. Aku tidak tau kapan terakhir kali aku tidur senyenyak itu." curhat Chanyeol.
"Tapi caranya tidak begitu!!" Jisung berseru kesal. Anak itu kesal dengan cara Chanyeol menjailinya. Jika ia sempat tersedak dan mati, bagaimana?
"Oke, oke. Maafkan hyung, hm?" Chanyeol mengalah, dirinya sadar bahwa mungkin candaannya sedikit keterlaluan.
Jisung hanya berdeham pelan. Tak menanggapi hyungnya itu, ia masih kesal. Pasalnya, ia baru saja tertidur setelah di paksa sang ibu menguras seluruh bak mandi yang ada dirumah.
Ibu Chanyeol memang tak memiliki asisten rumah tangga. Itu memang keinginan sang ibu, semenjak memiliki Jisung, ibunya berniat untuk mengasuh Jisung dan rumah seorang diri. Asalannya simpel, ibunya hanya ingin merasakan euforia menjadi seorang ibu, karena ia tidak merasakan itu saat ia mempunyai Chanyeol. Dulu, setelah melahirkan Chanyeol, ia hanya mengambul cuti selama 3 bulan, dan setelahnya Chanyeol ia serahkan sepenuhnya pada babysitter terpercaya.
Merasa tak mendapat jawaban dari Jisung, Chanyeol mencolek lengan sang adik yang masih setia duduk di sofa, menatap layar TV yang menampilkan salah satu saluran olahraga disana, "Hei, dengar tidak? Hyung minta maaf, oke?" ulangnya.
Jisung menoleh malas, "Iya." jawabnya singkat. Taunya itu berhasil menciptakan kerutan di kening yang lebih tua, Jisung tak biasanya menjawabnya sesingkat itu.
"Apa terjadi sesuatu?" Chanyeol bertanya untuk memastikan perubahan sang adik.
"Aku hanya lelah, ibu menyuruhku untuk menguras seluruh bak mandi dirumah ini." adunya pelan. Jisung tidak bohong. Ia memang sangat lelah. Karena, kamar mandi dirumahnya tidak cuma satu.
Rumahnya memiliki 6 kamar, 4 dilantai dasar dan 2 di lantai atas. 2 di lantai atas merupakan kamarnya dan Chanyeol. Namun karena Chanyeol lebih sering tidur di apartemen, maka dari itu kamar Chanyeol jarang terpakai. Jadi Jisung bisa melewati kamar Chanyeol karena memang kamar mandi di kamar Chanyeol tidak pernah dipakai. Intinya, Jisung menghabisnya waktunya untuk menguras 5 bak mandi sekaligus. Dan itu cukup menguras tenaganya pula. Maka dari itu ia tiba-tiba saja jatuh tertidur, setelah mengunyah beberapa cemilan yang ia dapatkan dari kulkas. Tapi tak lama ia terpejam, seorang monster bertelinga caplang mengganggu tidurnya, siapa lagi kalo bukan hyungnya sendiri, Park Chanyeol.
Chanyeol merasa iba sekaligus gemas. Iba karena ia tau sang adik pasti sangat lelah, gemas karena cara Jisung bercerita sangat lucu dimatanya.
"Kasiannyaaa." Chanyeol mengusap kepala Jisung pelan. "Sudah makan belum?"
Jisung menggeleng, "Belum. Ibu sakit kepala, maka dari itu tak sempat untuk memasak."
"Kasiannyaaa." ulang Chanyeol lagi. "Sana, telepon layanan pesan antar." saran Chanyeol. Pria itu meraba saku celananya dan meraih dompet yang tersimpan disana. Chanyeol mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikan nya pada Jisung yang sedang memeriksa ponselnya, mencari nomor telepon restoran langganannya. "Ini, makan dengan baik ya!" ucap Chanyeol sayang. Ia sungguh kasian dengan adik kesayangannya itu, ia pikir Jisung pasti lapar, di tambah tenaga sang adik pasti sangat terkuras banyak. Maka dari itu sebisanya ia menghibur sang adik, dan salah satunya cara adalah dengan mentraktir adiknya makan. Sederhana memang, tapi Chanyeol merasa senang bisa menghibur Jisung dengan cara seperti itu.
"Terima kasih, hyung! Kau yang terbaik sedunia." puji Jisung setelah menerima uang pemberian hyungnya.
Chanyeol hanya mengangguk. Kakinya ia langkahkan menuju kamar sang ibu, disaat ia membuka pintu, terlihat sang ibu yang tengah siap dengan sweater dan celana training yang sama dengan Chanyeol.
Jangan tanya mengapa penampilan ibunya hampir sama dengan Chanyeol, ibunya itu memang sedikit kekinian.
"Ibu mau kerumah sakit atau nongkrong bersama anak SMA?" sang ibu menoleh dan mendapati Chanyeol berdiri di ambang pintu dengan tangan bersidekap dada, memperhatikan penampilan ibunya yang seperti anak muda.
"Jangan banyak komentar. Ayo cepat. Kepalaku serasa mau pecah." Ibunya berucap cepat, menggiring Chanyeol keluar langsung menuju pintu besar rumah tersebut. Mengabaikan Jisung yang sedang asik menelpon beberapa restoran makanan siap saji favoritnya. Uang yang di berikan Chanyeol memang sedikit banyak, sehingga Jisung berinisiatif untuk memesan beberapa makanan.
Chanyeol duduk dikursi kemudi, menyetir dengan tenang sedang ibunya duduk di kursi penumpang tepat disebelahnya, sembari memejamkan mata. Pria itu tak tau apa yang terjadi pada ibunya, tapi melihat ibunya yang seperti itu, dirinya sedikit khawatir akan hal itu.
*
*
Baekhyun berjalan tergesa menuju ruangan Sehun berada. ia tak langsung menuju ruangan ketua, karena ia ingin mendengar cerita Sehun lebih dulu mengapa ketua sialan itu mencari dirinya.
"Sehun!" seru Baekhyun setelah membuka pintu ruangan pria itu keras. membuat Sehun yang sedang membaca laporan berjingkat terkejut, lalu menatap kesal ke arah Baekhyun.
Sehun membuang napas lelah, "Tidak bisa mengetuk dengan baik ya? Kau mengejutkanku, hyung!" seru Sehun kesal, tangan pria itu bergerak melepas kacamata yang bertumpu di hidungnya.
"Tidak bisa. jika menyangkut pria sialan itu aku tidak bisa untuk tidak berbuat kasar." jawab Baekhyun dengan napas yang terburu. "Kenapa pria itu mencariku?"
"Tidak tau. ia tiba saja mendatangiku di UGD, dan mencari keberadaanmu dengan suara lantang didepan semua perawat yang ada disana."
"Dia melakukannya?" Baekhyun terkejut.
Sehun mengangguk, "Ada apa sebenarnya hyung? aku tak mengerti. lagipula kau tak memberitau apa yang terjadi antara kau dan ketua sehingga kau berani memberi embel sialan di belakang namanya."
Baekhyun terdiam. dirinya memang tak menceritakan hal tak mengenakan tersebut pada siapapun. oh, Soojung. ia baru saja memberi tau Soojung, dan Soojung lah satu-satunya orang yang tau perihal tak mengenakan itu.
"Aku akan menceritakannya nanti." ucap Baekhyun. Pria mungil itu menyisir rambutnya kebelakang dengan jemari lentiknya, menampilkan kening indah miliknya yang memang jarang ia tampilkan karena memang sengaja ia biarkan tertutup dengan rambutnya.
Entah apa yang ada dipikiran Baekhyun sekarang, namun ia tiba-tiba saja melangkahkan kakinya ke UGD yang memang sedikit ramai hari ini. seluruh pasang mata yang ada disana, tak terkecuali beberapa perawat dan teman seperjuangannya kini tengah menatapnya. penampilannya lah yang membuat mereka semua memfokuskan seluruh pandangan pada dirinya.
Namun ini kesialan bagi Baekhyun, karena tanpa sengaja sang pria brengsek yang sangat di bencinya kini berada disana. Sedang berbicara dengan seorang perawat yang menampilkan raut takut terhadap pria didepannya sekarang.
"Kang Daeyun!" panggil Baekhyun dengan suara lantang, tak perduli beberapa pasien dan perawat terkejut akan suaranya.
langkah kaki Baekhyun bawa menuju pria yang sekarang tampak tersenyum melihatnya. Pelan tapi pasti Baekhyun tiba di hadapan sang ketua. Baekhyun menarik napas, lalu menampilkan senyum. bukan senyum tulus yang biasa ia tampilkan, melainkan senyum mengerikan penuh arti miliknya.
"Byun Baekhyun, ah aku mencarimu kemana-mana!" ucap pria didepan Baekhyun riang. Baekhyun berdecih dalam hati, tak tau malu.
"Apa yang kau inginkan, Ketua?" tanya Baekhyun sembari menekankan kata 'ketua' dengan senyum mengejek.
namun seakan rasa malu miliknya sudah hilang, Kang Daehyun di hadapan Baekhyun saat ini tetap tak peduli dengan Baekhyun yang secara terang-terangan mengibarkan bendera perang padanya saat ini.
"Kau sangat tidak sabar ya, Dokter Byun." jawab Daehyun.
"Tidak ada kata 'sabar' dikamusku jika itu bersangkutan denganmu, Ketua."
"Benarkah? Ah jadi benar kau sungguh tak sabar. Baiklah aku akan mengatakan ini sekali, jadi dengarkan aku baik-baik." terlalu jelas apa yang akan di katakan Daehyun, Baekhyun berusaha mengontrol emosinya. "Ikut aku keruanganku sekarang."
Baekhyun diam tak bergeming. enak saja pria dihadapannya ini memberinya perintah. ya, walaupun Baekhyun tau Daehyun adalah atasannya, namun ia tidak akan mudah untuk menuruti pria itu, terlebih lagi ia telah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Daehyun. Baekhyun bisa saja melaporkan perlakuan atasannya itu pada pihak berwajib, namun Baekhyun masih cinta pekerjaannya. maka dari itu, ia mengurungkan niatnya tersebut.
Sehun yang baru saja tiba menyusul Baekhyun tampak bingung dengan situasi dihadapannya. ketua Kang tampak tersenyum sementara Baekhyun menatap sang Ketua dengan tatapan membunuh khas pria mungil itu. dengan cepat Sehun menghampiri Baekhyun dan menepuk pelan bahu sunbae nya tersebut, setelah membungkukkan badan memberi salam pada Ketua.
"Apa yang terjadi?" Sehun berbisik pada Baekhyun yang masih setia menatap Ketua merek Dengan tatapan yang sama.
tampak Baekhyun tak berniat menggubris pertanyaan Sehun, sebaliknya ia malah menjawab ajakan Daehyun dengan kasar. "Untuk apa keruanganmu? mengapa tidak disinu saja?" Jawab Baekhyun dengan suara lantang. "Ah, apa agar kau bisa melecehkanku seperti waktu itu, Ketua Kang?" lanjutnya. dan jawabannya tersebut sukses membuat beberapa pasang mata menatapnya dan pria bermarga Kang yang wajahnya sudah memerah menahan malu sekaligus amarah.
Sehun menganga tak percaya. pria itu berusaha mencerna kalimat yang baru saja Baekhyun katakan. untuk sesaat Sehun kelihangan dirinya, sedangkan Baekhyun kini tersadar akan ucapannya yang kelewat batas. dirinya mengedarkan pandangan, diperhatikannya tatapan beberapa perawat yang ada disana. mereka semua menatapnya tak percaya, untung saja pasien satupun tak mendengar kalimatnya.
Baekhyun berdeham menetralkan suaranya, "Kalian sudah dengar kan?" ucapnya selagi memperhatikan perawat disana. "Itu benar, pria ini hampir saja melakukan hal tak mengenakan padaku. sekarang kalian tau kan alasanku bersikap seperti itu padanya tadi?" Baekhyun melihat beberapa perawat mengangguk, sedangkan Sehun yang kini telah mengerti ikut mengangguk, pria itu masih tak percaya jika sunbae kesayangannya itu telah mengalami hal tak mengenakan seperti itu. disatu sisi ia merasa sedih, disatu sisi juga Sehun kesal karena Baekhyun tak menceritakan hal itu padanya, atau setidaknya pada Luhan, atau Kyungsoo atau siapapun. yang penting Baekhyun tidak memendam hal seperti itu sendiri.
"Dengar, Ketua Kang." Baekhyun dengan berani menatap Daehyun yang ia yakin pria dihadapannya sangat ingin membunuhnya sekarang, namun Baekhyun tak peduli. ini menyangkut harga dirinya. "Aku tau kau adalah atasanku. seharusnya aku menghormati dirimu. tapi bagaimana aku bisa melakukannya setelah kau melakukan hal keji seperti itu padaku?" jelas Baekhyun panjang. "Aku tidak peduli jika promosiku kau batalkan atau bahkan kau memecatku menjadi salah satu doktermu disini, karena ini menyangkut harga diriku. kau menyakiti harga diriku, Ketua." entah sejak kapan air mata mengalir dipipinya, namun Baekhyun tau dirinya menangis saat ini. dan ia tidak peduli jika ia terlihat lemah, dirinya merasa sakit hati bila mengingat kejadian itu.
Sehun terlihat mengusap pelan pundaknya namun dengan cepat Baekhyun tepis. ia tau ia berbuat kasar namun sungguh, Baekhyun tak perlu diberi tatapan kasihan seperti apa yang beberapa orang disekitarnya ini lakukan. dengan cepat ia mengusap ar matanya kasar, berjalan menunduk tanpa menghiraukan panggilan Sehun akan namanya.
Baekhyun berjalan tergesa menuju pintu keluar, ia sungguh tak memperhatikan sekelilingnya ketika berjalan. tangannya ia bawa meraih tudung hoodie miliknya dan menyampirkannya di kepala yang mana telah ditutupi oleh topi hitam miliknya.
Seseorang yang memperhatikannya sedari tadi dan mendengarkan semua hal yang Baekhyun bicarakan dengan pria yang entah siapa ia tidak tau, tiba-tiba saja menghadang jalannya tepat saat Baekhyun ingin melangkahkan kaki keluar dari pintu utama. Baekhyun yang hampir saja tertabrak orang itu sontak berhenti saat memperhatikan ujung sepatunya menyatu dengan milik yang lain.
Baekhyun mendongak, namun yang ia dapati kemudian adalah wajah tergurat akan amarah milik tetangga di apartemennya. siapa lagi, Park Chanyeol.
Si mungil tak tau apa yang terjadi sehingga Chanyeol terlihat penuh amarah seperti itu dan untuk sekarang dirinya sedang tidak ingin peduli pada siapapun. Baekhyun butuh waktu untuk menenangkan dirinya, dan juga pikirannya. Ia sungguh terlalu lelah untuk sekedar bertanya apa yang terjadi dengan pria yang 2 hari ini selalu memenuhi pikirannya.
Baekhyun hendak tampak menyingkir tanpa berbicara, tapi dengan cepat Chanyeol menghadang jalannya. Baekhyun ke kanan, Chanyeol juga akan kekanan. begitu juga seterusnya. Baekhyun jengah, lalu dengan kasar menarik tudung hoodie-nya hingga topi yang ia kenakanpun terjatuh ke lantai.
"Mau apa?" Baekhyun bersuara lemah.
Chanyeol tidak menjawab dan malah membungkuk, meraih topi simungil yang tergeletak di lantai. setelah ia berdiri, tangannya ia bawa mengusap rambut Baekhyun yang menempel di dahi lalu memasangkan topi pada kepala Baekhyun dengan benar.
"Diluar sangat panas. pakai topimu dengan baik." Chanyeol tidak menjawab pertanyaannya, membuat Baekhyun jengah.
"Mau apa?" ulang Baekhyun lagi. Namun entah mengapa air matanya dengan kurang ajar malah kembali mengalir deras. Baekhyun mengumpat dalam hati, Chanyeol pasti mengira dirinya baru saja putus cinta dan sialnya pikiran tersebut membuat dirinya malu.
Chanyeol yang notabane nya mendengar dan mengetahui semua hal yang si mungil alami, sungguh tau jika Baekhyun tidak baik-baik saja sekarang melihat si mungil tengah beruraian air matadihadapannya.
Tanpa permisi, Chanyeol meraih tangan Baekhyun. Menggenggamnya erat dan menyeret si mungil menuju parkiran yang memang terlihat sepi. Chanyeol memojokkannya ke dinding yang memang mobilnya terparkir paling sudut mendekati dinding. Chanyeol mengurungnya dengan satu tangan pria itu bertumpu pada dinding tepat di sebelah kepala Baekhyun. sedangkan simungil kini masih setia menunduk. tak tau harus bereaksi apa akan perlakuan Chanyeol yang aneh terhadapnya.
"Tatap aku, Byun." perintah Chanyeol dengan suara rendah, membuat Baekhyun mau tak mau mendongak, ia merinding seketika saat tatapannya bertemu dengan milik Chanyeol yang tampak mengeluarkan kilat amarah.
Baekhyun bungkam tak berniat menjawab ataupun sekedar menyapa Chanyeol saat ini. sungguh si mungil berwajah cantik itu tak tau harus menanggapi Chanyeol seperti apa disaat dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja sekarang.
"Bicaralah!" Baekhyun tersentak saat Chanyeol sedikit membentaknya. hanya sedikit bamun Baekhyun tau jika Chanyeol sedang marah.
Baekhyun meneguk ludahnya kasar sebelum menjawab pelan, "A-aku harus bicara apa?" cicitnya kembali menunduk.
sungguh itu bukan sikap Baekhyun. Ia tak pernah menuruti perkataan orang lain. dengan Ketua yang notabane nya adalah atasannya saja ia berani melawan, kenapa dengan Chanyeol ia seakan takut?
Chanyeol memundurkan tubuhnya, pria itu tak lagi mengurung Baekhyun. Chanyeol berbalik membelakangi Baekhyun dan menghela napas kasar. ia sedang berusaha mengontrol emosinya.
sungguh, entah apa yang terjadi pada dirinya. ia berdiri disana sejak awal. bahkan sebelum Baekhyun datang dan menghampiri pria brengsek itu.
awalnya ia biasa saja, ia mengira mungkin Baekhyun hanya terlibat pertengkaran kecil dengan teman seprofesinya disana. namun ketika mendengar suara lantang Baekhyun mengucapkan beberapa kalimat yang membuat dirinya entah mengapa merasa marah, ia tak bisa tak memikirkan si mungil.
dengan sabar Chanyeol menahan niatnya untuk tidak menghampiri pria yang hampir saja melecehkan si mungil pencuri hatinya itu dan melayangkan beberapa tinjuan disana. hingga pada akhirnya ia sadar, jika ia melakukan hal tersebut makan Baekhyun akan menganggap dirinya pria aneh dan arogan. ia tidak mau kesan buruk dirinya di lihat oleh Baekhyun.
maka dari itu Chanyeol menunggu Baekhyun selesai, dan entah mungkin itu keberuntungannya Baekhyun memilih melewati jalan di mana ia berada. maka dari itulah dia bisa membawa Baekhyun jauh dari sana dan berniat menenangkan si mungil.
namun yang ia dapati sekarang hanya Baekhyun yang menunduk dengan air mata beruraian dan tanpa suara. jujur, 2 hari tidak bertemu, Chanyeol sedikit merindukan celotehan Baekhyun yang memang terdengar sangat berisik itu. namun melihat Baekhyun yang diam seperti ini entah kenapa membuat sesuatu dalam dirinya tak suka. ia tak suka jika simungil bersedih seperti sekarang ini.
Chanyeol membalikkan badan menatap Baekhyun yang masih setia menunduk.
"Kumohon alihkan pikiranku atau aku akan kembali kesana dan menghajar pria brengsek itu!"
Kalimat Chanyeol berhasil membuat Baekhyun mendongak dan mengerjab bingung. dan entah mengapa hal itu sangat lucu dimata Chanyeol. namun itu tak ia jadikan alasan untuk mengurungkan niatnya ingin menghajar Daehyun.
"Kau tidak dengar? Alihkan pikiranku, Byun." ucap Chanyeol menekankan. "Alihkan pikiranku atau pria tadi akan mendapatkan akibatnya."
Baekhyun tau akan kata 'akibat' yang dibicarakan Chanyeol. Chanyeol mendengar semuanya dan pria itu berniat membalaskan rasa sakitnya pada Baekhyun.
Namun Baekhyun tidak tau, Chanyeol berniat seperti itu bukan untuk membalas Daehyun untuknya, melainkan untuk menenangkan dirinya sendiri yang entah mengapa menjadi emosi saat mendengar Baekhyun hampir saja di lecehkan.
"Ja-jadi, ka-au mendengarnya?" tanya Baekhyun terbata dan sesegukan. "A-aku menjijikan, kan?"
Chanyeol tercengang mendengarnya. tidak, bukan itu yang ingin Chanyeol dengar. Baekhyun, pria itu tidak tau jika kalimat yang baru saja ia ucapkan mampu memancing emosi Chanyeol kembali. Pria jangkung itu berfikir jika Baekhyun benar-benar telah disentuh oleh Daehyun dan itu membuatnya marah.
"Katakan." ucap ya tegas. "Katakan dimana dia menyentuhmu!" Baekhyun bungkam dan kembali menunduk, si mungil berfikir Chanyeol pasti sangat jijik pada dirinya, padahal dirinya sedikitpun tidak disentuh oleh Daehyun, ah. Pria brengsek itu mencuri ciumannya. ia ingat. ciuman pertama berharga miliknya direbut oleh pria brengsek itu.
"Katakan padaku dimana dia menyentuhmu!" Chanyeol tak tahan dan akhirnya ia berteriak frustasi. Pria itu emosi sekarang. bayangan Baekhyun terbaring pasrah akan paksaan pria yang sedang mengejar kenikmatan diatas pria mungil itu membuat emosinya mendidih.
"Tatap aku!" Chanyeol meraih dagu Baekhyun pelan, namun dengan ucapan tegas. "Bahkan seujung jariku pun aku tak jijik padamu." Chanyeol melembut kemudian.
"Aku tak tau apa yang terjadi padaku tapi, aku sangat marah saat tau ia menyentuhmu." pria jangkung itu berucap jujur membuat Baekhyun entah mengapa merasa hangat di hatinya.
"A-aku..." Baekhyun terbata. ucapannya menggantung. baru saja ia ingin melanjutkan namun ponsel milik pria dihadapannya berbunyi.
Chanyeol mengangkat panggilan yang ternyata dari ibunya. Ibunya berkata jika ia telah selesai dan dengan terpaksa Chanyeol berbohong kalau pria itu ada urusan mendadak dan ia meminta ibunya untuk menghubungi sopir pribadi mereka. dan untungnya ibunya tak banyak bertanya dan segera menurut. Chanyeol sedikit lega akan hal itu.
ia kembali pada Baekhyun yang kini menatapnya dengan tatapan ia tak mengerti. si mungil menatapnya dengan tatapan terpana dengan senyum tipis dibibirnya. Bahkan Chanyeol tak sadar jika simungil tersenyum.
"Aku akan menghapuskan jejak sialan itu." kalimat Chanyeol layangkan pada Baekhyun membuat si mungil kembali mengerjap lucu. entah apa yang terjadi tapi Baekhyun dasa dirinya menjadi telmi belakangan ini.
tanpa banyak bertanya, Chanyeol kembali menggenggam tangannya dan memaksa Baekhyun masuk kedalam mobilnya, lalu pria itu berlari mengitari mobil lalu masum dan duduk di kursi kemudi. dengan cepat meninggal rumah sakit menuju apartemen mereka. lebih tepatnya, apartemen Chanyeol.
*
*
Sesampainya di apartemenpun Baekhyun tak menolak jika pria yang diam-diam ia kagumi itu membawa nya ke apartemen pria itu. Chanyeol menekan kata sandi dengan cepat dan saat pintu terbuka pria itu menarik Baekhyun dengan cepat dan setelah pintu tertutup, ia merapatkan tubuh Baekhyun tepat di belakang pintu, dengan kedua tangan mengurung si mungil.
Baekhyun meneguk ludah kasar, ia tak tau apa yang akan Chanyeol lakukan. namun seketika kalimat yang tadi Chanyeol katakan memasuki pikirannya. pria itu akan mengapuskan jejak yang Daehyun tinggalkan.
Si mungil tentu tau jejak apa yang Chanyeol maksud tapi sepertinya ada yang salah disinu. dirinya sama sekali tak disentuh Daehyun, oke, hanya dicium, namun ia juga tak menyangkal tindakan yang sangat ia tau yang akan Chanyeol lakukan padanya.
tangan Chanyeol bawa mengelus permukaan bibir bawah Baekhyun dengan ibu jarinya, sedangkan simungil tanpa sadar memejamkan mata. Chanyeol yang melihatnya pun tak bisa untuk tak tersenyum. Chanyeol mendekatkan wajahnya, dirinya sangat ingin sekali mencium si mungil di hadapannya saat ini. namun saat ia ingin menjalankan aksinya, keningnya yang memang tak di halangi topi terpaksa bertabrakan dengan topi yang Baekhyun kenakan.
"Ah!" perih Chanyeol rasakan dan seruannya membuat Baekhyun kembali membuka mata. dirinya melihat Chanyeol yang sedang mengusap keningnya, dan setelahnya ia melirik ke arah topi yang ia kenakan. setelahnya si mungil terkekeh canggung.
"Mengganggu ya?" si mungil bertanya polos. sungguh, Baekhyun memaki dalam hati akan topi yang ia kenakan.
Chanyeol mengangguk dengan cepat namun setelahnya kembali seperti semula. "Aku akan menyingkirkannya." ucap pria jangkung itu.
Baekhyun pun menyetujui, dan tanpa sadar topi tersebut telaah terlepas dan terjatuh di lantai.
Pria di hadapannya kembali menarik dagunya. menatapnya dalam membuat Baekhyun merasa kedua pipinya memanas. begitupula dengan sesuatu yang lainnya.
"Bolehkah?" simungil tak menyangka jika pria itu akan meminta izin. Ia berfikir selama ini Chanyeol seorang dominan normal yang tidur dengan seseorang jika ia sedang ingin menyampaikan hasratnya. Chanyeol pasti sangat ahli dalam hal ini, namun yang tak Baekhyun ketahui itu memang benar. hanya saja ia tak ingin menyakiti Baekhyun dengan sikap dominannya saat sedang...ekhm...bercinta. Chanyeol membatin dalam hati, semoga saja.
Dan tanpa Chanyeol duga, Baekhyun mengangguk. Si jangkung tak menyia-nyiakan kesempatan.
Chanyeol mencium Baekhyun. Pria itu hanya menempelkan bibirnya pada milik Baekhyun namun si mungil langsung merasakan perasaan aneh di dalam sana. ia bisa merasakan perutnya bergejolak akan sesuatu yang ia sendiri tak tau apa.
si mungil hanya diam. ia bisa apa? ini bahkan pertama kalinya ia berciuman. maksudnya, dengan keadaan sadar. dan ia bersumpah bagian dimana ciumannya di rebut paksa oleh Daehyun tak masuk hitungan. ia tetap akan menghitung ciuman Chanyeol ini sebagai ciuman pertamanya.
seakan tau jika ini adalah yang pertama bagi Baekhyun, Chanyeol menuntun si mungil dengan pelan. Pria itu mulai menggerakan bibirnya. menyesap pelan bagian atas dan bawha milik Baekhyun secara bergantian dan membuat Baekhyun tanpa sadar mendesah pelan.
"Uhhmm," desahannya benar tak terelakan keluar dari bibir Baekhyun, membuat Chanyeol tersenyum disela ciuman mereka.
Chanyeol kembali melanjutkan aksinya, namun kali ini ia sedikit lebih intens.ia mendobrak paksa bibir Baekhyun dengan mengetuk sederetan gigi rapih milik si mungil dengan lidahnya. Baekhyun yang tiba-tiba saja memiliki insting membuka sedikit bibirnya dengan cepat Chanyeol lesakkan lidahnya untuk mengabsen seluruh anggota mulut Baekhyun.
"Uhhmmm, Chhanyeoll--" Baekhyun mendesah tak karuan. sungguh, Chanyeol benar-benar memabukkan. ciumannya sangat memabukkan. Baekhyun tak tau dirinya harus berhenti untuk menyelamatkan dirinya yang ia tau akan berakhir ekhm bercinta dengan Chanyeol atau ia tetap melanjutkan dan benar-benar akan berakhir bercinta dengan pria itu.
Chanyeol melepas ciumannya. Sisa-sisa saliva entah milik siapa mengalir disudut bibir Baekhyun. dengan cepat Chanyeol mengusapnya, bibir Baekhyunpun terlihat sedikit berisi dan memerah dari sebelumnya.
Baekhyun menatap Chanyeol. entah mengapa Baekhyun merasakan hal aneh pada dirinya. ia merasa, panas. dan matanya pun tak luput ikut mengeluarkan aura bernafsu menatap Chanyeol yang sialnya memiliki tatapan yang sama dengan miliknya.
"Hentikan aku atau aku tak bisa berhenti." Chanyeol berucap pelan. jarak wajah mereka yang terlampau dekat membuat napas hangat Chanyeol menerpa wajah Baekhyun yang sedikit berkeringat.
"A-apa?" Baekhyun mengerti, namun ia hanya ingin memastikan sesuatu. ia ingin memastikan apa Chanyeol merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan.
"Hentikan atau kau akan berakhir di ranjang bersamaku, Baekhyun."
Kalimat yang Chanyeol ucapkan terlalu frontal dan Baekhyu dibuat malu setengah mati akan hal itu. ingin sekali ia menarik telinga aneh milik pria itu namun ia yakin itu sangat tidak sopan maka dari itu ia mengurungkan niatnya.
Baekhyun menarik napas dalam, berusaha meyakinkan diri.
dirinya sama sekali belum pernah melakukan hal seperti itu. seks. ia sama sekali tak pernah melakukannya, ia berani sumpah. selama 33 tahun hidupnya ia tak pernah berakhir diranjang bersama seseorang. namun pria didepannya saat ini dengan tak tau malunya berucap demikian.
Baekhyun berfikir, apa salahnya mencoba? ini hanya akan berlangsung sebentar dan keesokan harinya ia akan melupakannya kan? ia yakin akan seperti itu.
dengan ragu, Baekhyun mengangguk. membuat Chanyeol menatapnya bertanya memastikan.
"Kau yakin?" ucap Chanyeol.
lagi, Baekhyun mengangguk.
"Kau tidak akan menyesal?" lagi, Chanyeol bertanya memastikan.
"A-aku yakin." jawabnya terbata.
dan taunya itu membuat Chanyeol terkekeh, "Kau tidak yakin." Chanyeol mundur, namun tak jauh dari simungil yang masih setia bertumpu pada pintu. "Lupakan saja. Maaf telah memperlakukanmu dengan tidak sopan." pria itu membalikkan badan, menghindari tatapan Baekhyun yang kini menatapnya tak percaya.
Baekhyun berjalan mendekat, meraih pundak Chanyeol, "Hei." panggil Baekhyun. namun Chanyeol tak menoleh, ia tetap tak ingin menghadap Baekhyun.
"Park Chanyeol." ulang Baekhyun.
"Chanyeol-ssi." lagi Baekhyun ulang namun taunya Chanyeol tetap tak menoleh. "Chanyeollie..."
cicitan pelan Baekhyun suarakan saat panggilan itu ia ucapkan. ia merutuk dalam hati, mengapa ia terdengar seperti seorang kekasih yang sedang membujuk kekasihnya yang sedang merajuk karena dirinya tak infin di ajak bercinta?
namun nyatanya dengan panggilan itu lah Chanyeol membalikkan badannya dengan cepat, menatap si mungil dengan salah satu alis terangkat. "Apa? kau memanggilku apa?"
"A-anu, i-ituu..." Baekhyun terbata dan itu taunya lucu di mata Chanyeol.
Chanyeol menampilkan seringaiannya, dan Baekhyun berani bersumpah pria dihadapannya itu sangat tampan. "Apa, Baekhyun?"
"Tidak ada!" Baekhyun dengan cepat berseru. "A-aku tidak sengaja memanggilmu seperti itu." si mungil berusaha menjelaskan.
Chanyeol tampaknya masih menikmati sisi Baekhyun yang satu ini. sisi Baekhyun yang tengah merona sembari menunduk.
si mungil menyimpulkan bahwa Chanyeol sudah tak berniat melakukannya bersama dirinya, dilihat dari Chanyeol yang hanya diam saja membuat Baekhyun sedikit...cemas.
"Kalau begitu a-aku...aku pulang saja."
"Pulang?" Chanyeol dengan cepat menyahut.
"Ji-jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, a-aku pulang saja."
"Hei, tidak." Chanyeol dengan cepat menyangkal, "Kau meninggalkan aku disaat seperti ini?" tatapannya Chanyeol bawa ke bawah, terarah pada sesuatu di balik celananya.
Baekhyun tau apa artinya itu. hei, dia seorang dokter. tentu saja ia tau apa maksud dari semua itu. walaupun ia tak pernah melakukannya tapi ia tau apa yang sedang terjadi.
si mungil membuang muka cepat saat ia dengan tak sadar mengikuti pergerakan tstapan si jangkung. rona merah tak terelakan tercetak di pipinya.
"Astaga!" Baekhyun taunya berucap.
"Baekhyun..." terdengar geraman tertahan Chanyeol.
Baekhyun mendongak, "Ki-kita...demi Tuhan itu...kita bahkan baru berciuman!" ucap Baekhyun frustasi.
"Aku tau, tapi..." Chanyeol berjeda, "Ahh, sudahlah! Baekhyun, kau mau bersamaku atau tidak?" tanya Chanyeol pada poinnya.
Baekhyun membelalakan mata, "Kenapa kau frontal sekali?!" ucap Baekhyun tak terima.
"Arghhh! Baekhyun kau lama sekali!" erangan Chanyeol tak terelakan.
dirinya menarik Baekhyun, mencium si mungil kasar dan gairah pun tak terelakkan. Chanyeol benar telah kehilangan kontrol dirinya. ia mencium Baekhyun dengan penuh nafsu, yang dibalas dengan amatiran oleh si mungil.
Tangan Chanyeol tak tinggal diam. dirinya meraih pinggang si mungil mendekat, menempel padanya. keduanya bersentuhan di bawah sana. tanpa sadar membuat nya mengerang masing-masing.
ini gila. Baekhyun menyakinkan dirinya ini gila. tetapi sensasi yang ia dapatkan mampu melumpuhkan otaknya. namun ia seakan tak peduli, dirinya merapatkan tubuhnya pada Chanyeol dan instingnya menuntun untuk mengalungkan tangannya di leher pria itu. Chanyeol semakin memperdalam ciumannya. ia tau ia akan melukai bibir si mungil tapi ia tak peduli. bibir Baekhyun sungguh membuatnya tergila-gila.
Bibirnya ia bawa menelusuri leher mulus si mungil dan dengan cepat Baekhyun mendongakkan kepala, memberi akses mudah pada Chanyeol yang melakukan tugasnya disana. namun hoodie yang terpasang di tubuhnya mengganggu Chanyeol. Chanyeol dengan cepat menarik wajahnya, menatap Baekhyun dengan tersenyum.
"Benda sialan ini mengganggu jalanku." ucapnya lalu melepas tangan Baekhyun yang melilit lehernya, dan dengan cepat menarik masing-masing ujung hoodie milik Baekhyun dan menariknya ke atas, diikuti dengan Baekhyun yang mengangkat kedua tangannya dann dengan mudah meloloskan hoodie tersebut lalu membuangnya ke sembarang arah.
menyisakan satu kaos polos hitam yang masih di kenakan simungil. "Seriously, Baek?!"
Baekhyun hanya terkekeh, ia tau Chanyeol kesal karena dirinya mengenakan kaos tambahan didalam dan pria itu pasti sangat terganggu.
Chanyeol taunya kembali ingin membuka kaos tersebut namun sebelum Baekhyun menahan tangannya. "Kau berniat menelanjangiku disini?" Baekhyun bertanya polos.
"Tentu saja. benda sialan itu menggangguku."
"Aku tidak mau." tolak Baekhyun.
"Baek...jangan mempermainkanku. aku sudah kesulitan disini."
"I-ini yang pertama bagiku." aku Baekhyun.
"Apa?" Chanyeol melotot tak percaya.
"Ini yang pertama bagiku." ulangnya. "setidaknya a-ku i-ingin melakukannya di ra-ranjang..." akunya pelan.
Chanyeol terkekeh, "Selain galak, kau ternyata menggemaskan."
Baekhyun tertunduk malu. ini sangat bukan dirinya, tau.
Chanyeol menggenggam tangannya dan menyeretnya ke suatu ruangan. itu kamar Chanyeol. aroma dominan Baekhyun dasakan saat melangkahkan kaki dikamar itu. Chanyeol membawanya berdiri tepat disisi bawah ranjang, bersiap membuka kaos milik simungil namun taunya simungil kembali menghalanginya.
"Apa lagi?!" erang Chanyeol frustasi.
"Pi-pintunya.." ucap Baekhyn gugup.
"Demi Tuhan tidak akan ada orang yang masuk, Baek. kau sungguh mengujiku, ya?"
"Tidak!" sangkal Baekhyun cepat. "A-aku hanya merasa akan nyaman jika pintunya ditutup."
Chanyeol lagi terkekeh. ia seperti akan tidur dengan gadis perawan. well, Baekhyun memang perawan.
pria itu melangkahkan kakinya cepat dan menutup pintu dengan keras.
"Sudah?" ia kembali berdiri dihadapan Baekhyun.
si jangkung kini terlihat puas dengan senyuman yang menghiasi wajahnya dan kembali menjalankan niatnya untuk membua kaos dan lagi, Baekhyun menghalanginya.
"Demi Tuhan, apa lagi, sayang?" panggilan Chanyeol taunya membungkam Baekhyun. si mungil tampak membuang muka malu namun Chanyeol tak menghiraukan hal tersebut.
"Kau belu membuka bajumu dan itu tidak adil." simungil jawab pelan.
dengan tergesa Chanyeol menanggalkan hoodienya cepat dan tak tanggung kaos yang ia kenkanpun ia lepaskan. membuat tubuh atasnya terekspos sempurna.
Baekhyun taunya meneguk ludah dengan apa yang dilihatnya kini. ia gugup. dengan ragu menggerakan tangan lentiknya hendak menyentuh perut Chanyeol namun dengan cepat tangan si jangkung meraih tangannya. "Apa yang akan kau lakukan, hm?"
"Tidak ada!"
"Baekhyun, kau menggemaskan!"
Baekhyun tersenyum mendengarnya. Kali ini ia tak menghalangi Chanyeol untuk membuka satu-satunya benda tersisa yang melindungi tubuhnya.
Chanyeol berdecak kagum. kulit Baekhyun sungguh indah dan ia bersumpah ia ingin menangis sekarang.
"Kau...astaga." Chanyeol tampak menggelengkan kepala, "Apa kau malaikat?" pertanyaan aneh ia serukan.
"Chanyeol?" seakan bingung ia memanggil si jangkung dengan ragu.
"Kau kemanakan Baekhyun?"
"Chanyeol apa yang terjadi? aku Baekhyun!"
"Tidak." Chanyeol menggeleng cepat, "Kau itu malaikat dan sekarang dimana Baekhyun? kembalikan Baekhyun!"
Baekhyun menghela napas kasar, Sungguh kekanakan. "Terserah kau saja." si mungil meraih kaos nya yang terletak di ranjang dan hendak memakainya, namun Chanyeol lebih dulu mencegahnya.
"Mau apa kau?" tanya Chanyeol.
"Pulang."
"Pulang?" Chanyeol membeo.
Baekhyun mengangguk. "Kau tau, kau terlihat seperti sedang mempermainkanku." ucap si mungil pelan namun Chanyeol masih bisa mendengarnya.
"Tidak! Maafkan aku."
"Sudahlah, aku ingin pulang."
"Tidak, Baekhyun. maafkan aku, aku hanya bercanda."
"Dan aku tidak suka."
"Jangan pergi..." Chanyeol berucap lirih. taunya membuat simungil pasrah.
"Apa maumu sebenarnya?" simungil kesal.
"Aku mau dirimu. aku mau melakukannya bersamamu."
"Kau terlalu banyak bicara."
"Aku tau."
"Kalau begitu aku pulang saja--Ah!"
Chanyeol mendorong tubuhnya hingga si mungil terbaring di ranjang, sedangkan Baekhyun menatapnya penuh pertanyaan.
"Aku ingin bercinta denganmu." ucap Chanyeol dengan suara rendah. "Baekhyun, aku ingin bercinta denganmu. Aku tau, kita baru beberapa hari bertemu, tapi aku sangat sadar sekarang, aku ingin bercinta denganmu." jelas Chanyeol panjang.
Tanpa menunggu jawaban Baekhyun, Chanyeol kembali menautkan kedua bibir mereka dan Baekhyun langsung saja tenggelam akan ciuman memabukkan yang di berikan Chanyeol.
telat update ya...hehe mian. nih aku kasih yang manis-manis dulu.
