Bleach © Tite Kubo
A Lift © Nenk RukiaKate
Warning : AU, Typo, OOC maybe, cerita bertele-tele, kacau, abal and segala ketidaksempurnaan masih ada disini.
Spesial Thanks to: ika chan, , Cha Chappie, Naruzhea Aichi, hiyoshi H, Guest, Namikaze Nara, Anemone Jie, Seo Shin Young, Nyia, mR. Krabs, Qren, dera, gui gui M.I.T, Emi, Plovercrest, Peachy Berry, Guest, HO HO HO, lightning chrome, HaruHaru, Wild Melody, aduhhh siapa ya, Guest, denaputra20, , Kiki RyuEunTeuk, Poppyholic uki, Ray Kousen7, Riyuzky L, Guest, KittyLuvBunny, Account Options, candy loly berry, beby-chan, shiro ardiwinata, nyanmaru, , Gold Dragon, Lhylia Kiryu, Ichikia, Rey ai3rin, , hanazonorin444, and semua yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca dan meriview fic. Ini. maaf belum bisa menjawab satu", tapi mudah"an semua pertanyaannya bisa terjawab sejalan dengan chapter" mendatang... Arigatougozaimas #deep bow
Mengendap-endap bukanlah gaya serorang Rukia Kuchiki, tapi akhir-akhir ini dia sering melakukan kegiatan tabu itu tepatnya seminggu belakangan ini –pasca kotak-bodoh-besar itu rusak lengkap-dengan-penghuninya—. Satu-satunya alasan dengan 'rela'nya Rukia harus menggunakan cara menyebalkan seperti ini, berjalan menempel dengan tembok, sekali-kali menengok ketika sampai dipersimpangan koridor, menyatu dengan pohon pajangan jika itu memungkinkan, dan ucapkan terima kasih pada tubuhnya yang mungil membantunya dalam kegiatan persembunyian ini.
Tujuannya tinggal selangkah lagi sebelum pintu besar berpelitur itu terbuka lebar sehingga membuatnya harus kembali bersembunyi disebelah pot berdaun besar yang ada disamping pintu tersebut. Sambil menahan nafas berdoa agar tak seorangpun menyadari kehadirannya. Tepat seperti dugaannya, para tamu yang berkunjung ke ruangan ini akan langsung menuju arah lift yang ada di sebelah barat, untungnya dia sedikit cerdas dengan mengambil arah berlawanan menggunakan tangga darurat. Yah sedikit lelah memang, tapi setidaknya dia bisa meminimalkan resiko gossip yang akan beredar kelak.
Jika saja semua orang tahu apa yang dilakukannya seminggu terakhir ini mungkin dia tidak akan sanggup melanjutkan harinya lagi di dunia ini. Karena itu dia sudah membulatkan tekad untuk menyelesaikan masalah ini sekarang juga, harus! Pikirannya menerawang sampai dia tidak sadar jika sang inti masalah sudah menyambutnya dengan cengiran andalannya sambil bersedekap dada, dia berkata, "sudah aman, ayo masuk."
Rukia hanya bisa menatap tangan yang sedang terulur padanya, tidak merespon apapun, jiwanya masih belum kembali ke tempat semula sampai tangan itu merengkuhnya untuk membantunya berdiri. Entah kenapa Rukia selalu hilang kesadaran saat melihat senyum pria yang sedang menuntunnya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. "Hey, sampai kapan kau mau menatapku seperti itu Rukia?" tanya orang itu sambil mendekatkan wajahnya ke arah Rukia. Reflek, dia langsung mengerjapkan kedua matanya sambil memundurkan wajahnya dari pria bermahkota orange ini saat dia merasa ada hembusan hangat menyapa wajah diamnya.
"A- um- a- em…," Rukia tidak bisa menemukan kata yang tepat saat bertemu tatap seperti ini, padahal tadi dia sangat yakin dengan kepercayaan dirinya hari ini.
"Awww…," teriak Rukia kesal karena orang itu tiba-tiba mencubit pipinya gemas, "apa yang kau lakukan bodoh!" geramnya sambil langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, lagi-lagi dia kelepasan bicara. Habis sudah –pikir Rukia.
Tapi nyatanya orang itu hanya tertawa setiap mendengar jawaban dari Rukia, sambil menuntun kembali Rukia agar mengikutinya, dan Rukia hanya bisa mendesah pasrah sebelum dia melepaskan ikatan jemari itu.
Pria itu menatap bingung pada kelakuan Rukia hari ini, dia baru ingin berkata 'ada apa?' ketika dengan cepat Rukia berkata, "maaf."
"Maaf… kita tidak seharusnya seperti ini, bos."
"Bos?"
"Benar, Kurosaki-san. Anda adalah atasan saya, jadi tidak seharusnya kita seperti ini," akhirnya dia mengatakannya juga, entah mendapatkan keberanian dari mana yang jelas masalah mereka harus diselesaikan saat ini juga.
Masalah? Masalah yang mana? Entahlah, mungkin hanya Rukia yang beranggapan ini sebuah masalah tidak dengan pria dihadapannya yang masih menatap dengan sedikit bingung dan sedikit kesal. "Apanya yang tidak seperti ini, dan apanya yang tidak melakukan seperti ini? Dan kita sudah sepakat untuk tidak memanggilku demikian, Rukia," protes sang atasan.
"Ini di kantor, dan saya harus membiasakannya, bagaimanapun anda adalah atasan saya," lanjut Rukia lagi.
"Hentikan omong kosongmu."
"Ini bukan omong kosong!"
"RUKIA!"
Oke, atasannya sudah masuk ke dalam mode marahnya. Rukia tahu itu. Sebagai seorang bawahan dia sangat tahu watak seorang atasan -tidak suka dibantah. Rukia hanya bisa menghela nafas –mengalah. Dan diam.
"Apa maumu?" akhirnya bos berkepala orange itu sudah bisa mengendalikan dirinya kembali. Seminggu terakhir ini otaknya sudah hampir pecah karena masalah yang dia akibatkan seminggu yang lalu, kini dia sedang berusaha menyelesaikannya satu persatu, sedikit demi sedikit. Dan yang bisa membuatnya bertahan sampai detik ini hanyalah gadis di hadapannya ini. Ya, hanya dia –Rukia.
Dia hanya berharap bisa terus bersama dengan gadis dihadapannya ini, apa itu salah? Dan lagi, dia tidak suka jika Rukia sudah memasukkan unsur pekerjaan dan peran atasan-bawahan disaat mereka bersama, walau itu benar adanya. Dia hanya ingin gadis itu bisa berada di sisinya.
"Kita putus saja. Jangan lagi menelpon ku, jangan lagi memintaku untuk datang ke sini, atau jangan lagi kau mengancamku akan datang ke ruang kerjaku lagi, anggap kita tidak pernah bertemu sebelumnya dan kembalilah menjadi Ichigo Kurosaki sebelum kita bertemu. Itu mauku, bisa?"
"Tidak."
"Kurosaki –san!"
Kurosaki hanya diam sambil menatap angkuh lawan bicaranya, tanda dia sedang mempertahankan jawabannya.
"Ichigo…,"
Dan tetap diam.
Rukia dinyatakan kalah kembali atas sikap keras kepala atasannya itu. Dia sudah mencoba untuk menjauh dari situasi ini semenjak dirinya dinyatakan sadar ke esokan harinya, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Atasannya tersebut selalu memiliki ribuan cara agar bisa bertemu -mencoba lebih dekat- dengan Rukia. Rukia tidak habis pikir kenapa dia bisa ada diposisi seperti ini, dia pun bingung harus menjelaskan dari mana. Tapi yang jelas situasi ini tidak menguntungkan dirinya sama sekali, malah bisa termasuk dalam kategori golongan berbahaya. Mengingat apa yang akan terjadi di masa depan jika mereka semua mengetahui kebenaran ini.
Rukia hanya bisa berjongkok sambil menangkupkan wajahnya, dia benar-benar sudah terjebak dalam ruang sempit hatinya sendiri. Seharusnya dia tidak perlu memikirkan sejauh itu, hanya cukup duduk tenang menjadi kekasih sang atasan, menikmati segala kebaikan dan perhatian dari orang ini, dan kelak dia akan menjabat sebagai Nyonya Kurosaki –skip ide itu. Mungkin jika orang lain yang ada diposisinya mereka akan menyambut bahagia, tapi tidak dengan Rukia. Dia sudah terjebak dengan kata-katanya sendiri. Atau mungkin pilihan lari dan kabur terdengar lebih meyakinkan, tapi kemana dia harus pergi mendadak seperti ini? lagi?
Dan kini dia hanya bisa pasrah ketika orang yang berstatuskan menjadi atasan dan kekasihnya itu menariknya untuk bisa duduk bersama menyantap hidangan makan siang di ruang kerja pribadinya tersebut.
"Sudah, ayo makan," lanjut sang kekasih sambil memberikan sumpit pada jemari Rukia dan memulai acara santap siang mereka.
"Tidak mau," jawab Rukia sambil meletakkan kembali sumpit itu di atas meja sambil mendelik kesal pada Ichigo yang menganggap pembicaraan ini tidak pernah ada sama seperti hari-hari sebelumnya.
Ichigo hanya terkekeh geli melihat kelakuan Rukia, yang terpenting untuknya Rukia tetap berada disisinya itu sudah lebih dari cukup, sambil sesekali menjahili Rukia dengan menyuapinya namun Rukia masih mempertahankan sikap kesalnya. Ekspresinya sama ketika mereka sedang terjebak dalam lift –hanya itu pendapat Ichigo. Dan memikirkan hal itu membuatnya kembali tersenyum tiada henti.
"Hentikan senyum konyolmu itu," protes Rukia masih dalam mode kesalnya.
"Tidak bisa," dan mendapat pelototan tajam dari manik ungu Rukia.
"Aku sudah mencobanya, tapi tetap tidak bisa. Setiap kali memikirkanmu, apalagi kejadian lift itu, aku selalu seperti ini. Tadi saja waktu rapat Urahara-san tidak hentinya menggodaku. Dia sampai bilang 'mana ada orang yang mau bangkrut tapi masih bisa tersenyum seperti itu' aku dibilang tidak waras lah, tidak fokus."
Konyol memang, mana ada orang yang perusahaannya sedang di ambang kebangkrutan masih bisa tertawa dan memikirkan tentang jatuh cinta. Salahkan wanita yang ada disampingnya saja kalau begitu –pikir Ichigo. Wanita itu yang telah membuatnya gila seperti ini.
"Apa bagusnya terjebak dalam lift, kau saja yang memang tidak waras," cibir Rukia.
"Kau pikir siapa yang membuatku tidak waras seperti ini, hah," tantang Ichigo sambil menunjuk-nunjuk kening Rukia. Rukia hanya mendelik sebal sebagai tanggapan.
"Hey, ayo cepat makan."
"Tidak mau."
"Kalau makananmu tidak habis kau belum boleh keluar dari ruangan ini."
"Kau! berehenti mengancamku!"
"Itu bukan ancaman tapi pilihan."
"Itu tidak adil!"
"Itu adil Rukia," tetap santai sambil melanjutkan acara makan siang mereka.
"Apanya yang adil, kau selalu saja memberikan pilihan sulit untukku, Kau yang kesini atau aku yang kesana, habiskan atau tidak, mau atau –"
"Itu namanya pilihan."
"Apanya yang pilihan, Rukia aku ingin bertemu denganmu sekarang, mau aku yang ke ruanganmu atau kau yang mengunjungiku disini," Rukia berkata sambil memeragakan gayanya bertelpon, lanjutnya, "Kau punya otak tidak sih, apa yang mereka pikirkan jika kau datang ke ruanganku, kau ingin aku dipecat saat itu juga!"
"Siapa yang berani memecatmu?" tantang Ichigo.
"Itu hanya perumpamaan Tuan se-enaknya sendiri," Ichigo kembali terkekeh mendengar julukan barunya.
"Itu kan hanya pikiranmu saja, memangnya kau tau apa yang akan ku lakukan di ruanganmu? aku kan bisa mengadakan rapat ditempat Urahara atau –"
"Sidak dadakan yang hanya kau lakukan di bagianku, dan hanya mengunjungi meja kerjaku yang hanya ada tumpukan makanan di sana, itu yang kau sebut dengan berkunjung! menyebalkan!" karena itu yang telah dilakukan Ichigo saat pertama kali Rukia mengabaikan panggilannya. Dan sejak saat itu mau tidak mau, suka ataupun tidak suka, Rukia sudah menjadi bagian hidup Ichigo.
"Kau tahu, beritanya bahkan sudah terdengar sampai seluruh lantai," rengek Rukia sampai berbaring di sofa nyaman itu.
"Benarkah? Bukankah itu bagus, aku jadi tidak harus membuat pengumuman tentang –"
"Ichigo! awas kau, sampai ada berita tentangku yang lebih besar sedikit saja dari ini, maka kupastikan hubungan kita berakhir dan akan ku pastikan aku akan menghilang dari perusahaan ini…," Ichigo kaget setengah mati mendengar perkataan Rukia.
"Aha! benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya!" Rukia kembali bersemangat dengan duduk tegak menghadap bos besarnya tersebut. "Bagaimana?" lanjut Rukia penuh kemenangan.
Rukia menari-nari kegirangan sedangkan Ichigo masih diam menanggapi dan mencerna kata-kata Rukia. Karena dirinya merasa senang bisa membuat sebuah pilihan atau ancaman lebih tepatnya pada atasannya itu maka sekarang dengan tidak sungkan dia mulai melahap jatah makan siangnya sambil sekali-kali melirik ke arah pria yang berada disebelahnya. Dia sangat yakin sekali jika Ichigo sedang memikirkan ulang hubungan mereka yang tiba-tiba ini.
"Kenapa?" tanya Rukia saat Ichigo tidak memberinya tanggapan sama sekali, sedikit bingung dan sedikit sesak melihat Ichigo yang bertampang serius seperti itu, keningnya sampai bertaut hampir menyatu. Rukia berusah payah menelan sisa makanan yang masih ada di mulutnya, menelan –tanpa mengunyah. Rasanya sedikit aneh, apa ada yang salah disini? Rasa-rasanya sih tidak. Rukia mulai mengibaskan jemarinya dihadapan Ichigo –masih tidak direspon.
"Memang kau saja yang bisa membuat pilihan," lanjut Rukia lagi. Tapi kini Rukia ikut mengerutkan kening tanda dia sedang bingung dengan sikap Ichigo yang tidak biasanya. Haruskah Rukia meminta maaf atas kata terakhirnya tadi? Tidak! Tidak boleh, itu sudah menjadi kunci terakhirnya, Rukia tidak boleh mundur jika dia ingin lepas dari masalah ini secepatnya, ya tentu saja. Rukia mulai mengabaikan bentonya dan mencoba memanggil kembali kekasihnya tersebut.
"I –" Ichigo merengkuh dan memeluknya tiba-tiba.
"Sebentar… sebentar saja," ucap Ichigo sambil mengeratkan pelukannya pada Rukia. Rukia hanya bisa terduduk kaku, pelukan lagi –pikir Rukia. Ini sudah pelukan yang keberapa? Racau Rukia dalam pikirannya.
Waktu Rukia teriak dalam Lift itu sebuah pelukan atau tidak? Ketika berbagi jas jelas bukan pelukan, tapi bos orangenya sempat memeluknya saat terjatuh, Lalu saat dia menangis dan saat mereka –'sudah lupakan Rukia!' batin Rukia menginterupsi. Lalu sekarang ada apa lagi? 'Dasar orang aneh,' itu pikirnya. Rukia bisa merasakan pelukan Ichigo semakin kuat padanya, Rukia hanya bisa menahan nafas tapi tidak berani untuk menginterupsi karena itu dia biarkan saja tanpa ada tindakan apapun.
"Aku tidak mau hubungan kita berakhir…," Ichigo berkata dalam pelukannya, "aku tidak mau berpisah denganmu."
"Ichi…,"
"Maafkan aku Rukia, aku tidak bisa melepaskanmu."
"Tapi,"
"Ijinkan aku untuk egois sekali ini saja Rukia, ku mohon," Ichigo menyamankan dirinya dalam pelukan Rukia.
"Aku… tidak sebanding dengan semuanya," lirih Rukia.
"Memang… kau lebih dari semua."
"Ichigo! Kau tau kan ini semua tidak benar!" Rukia akhirnya berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Ichigo.
Ichigo diam. Dia tahu semua yang dilontarkan Rukia adalah benar adanya.
"Dengarkan aku, berpikirlah realistis. Hidupmu baik-baik saja sebelum bertemu denganku dan akan tetap begitu walaupun tidak ada aku disisimu." Ichigo menggeleng.
"Kau atasanku –"
"Tidak ada salahnya berhubungan dengan bawahanku, lagipula tidak dilarang diperusahaan ini." Tepat sekali, perusahaan tidak melarang jalinan kasih sesama rekan kerja selama tidak merugikan perusahaan.
"Kau super super atasanku, tidak ada sejarahnya karyawan biasa menjalin kasih dengan pemilik perusahaan."
"Kalau begitu kita jadi yang pertama."
"Kau masih menjadi tunangan Orihime Inoue."
"Aku sudah membatalkannya," jawabnya sambil menunjuk kearah Koran-koran yang ada di atas meja. Koran-koran dengan Headline 'Kurosaki corp. diambang kebangkrutan' atau 'Orihime Inoue dikabarkan bunuh diri setelah pertunangannya dengan putra Kurosaki dibatalkan'.
"Kau masih berhubungan dengannya," Rukia masih mencari alasan.
"Tidak. Kau boleh memeriksa ponselku kalau kau mau."
"Keluargamu tidak akan suka denganku –"
"Siapa bilang." Oke, Rukia kehilangan kata-kata dengan mengerjapkan kedua matanya kembali. Dia Kaget.
"Apa maksudmu?" Mata Rukia bertanya-tanya. Ichigo kembali tertawa geli, kini dia tahu apa yang menjadi pemikiran Rukia atas hubungan mereka. Dia terlalu memikirkan pendapat orang –itu hasil kesimpulannya.
"Kau kira aku membatalkan pertunangan itu tanpa persetujuan mereka," ledek Ichigo, Rukia mencoba mencerna setiap kata yang Ichigo berikan.
"Lagipula kau sudah bertemu dengan mereka," Ichigo memamerkan senyum terbaiknya sambil mencubit gemas pipi Rukia kembali.
"Aku? Kapan? Bertemu denganmu saja baru minggu lalu, aku tidak tahu keluarga Kurosaki selain kau dan poster Ibumu yang ada di Lobi," ujar Rukia polos masih dengan tanda tanyanya. Lagi-lagi Ichigo hanya bisa tersenyum.
"Ayo, aku antar kau sampai ke depan pintu."
"Hah?" Rukia masih dalam mode bingungnya.
"Atau mau ku antar sampai depan pintu ruanganmu,"
"Tidak," jawab Rukia cepat sambil melirik jam dinding di ruangan itu. 12.45. Rukia harus segera kembali ke ruangannya jika dia tidak ingin dicurigai oleh rekan sekerjanya, rupanya Ichigo ingat betul syarat yang Rukia ajukan jika mereka ingin bertemu di jam makan siang.
Ichigo mengantar Rukia sampai pintu depan ruangannya, senyum tak hentinya mengembang dari sudut bibirnya melihat Rukia yang masih dalam mode berpikirnya. "Hey, sudah tidak usah dipikirkan," kata Ichigo sambil membukakan pintu untuknya.
"Um," hanya kata itu yang Rukia ucapkan sambil pergi begitu saja dari hadapan Ichigo -masih sambil memikirkan ucapan terakhir pria orange itu.
"Hey," Ichigo memprotes dengan menarik kembali tangannya.
Rukia mengerutkan dahinya.
Ichigo menempelkan jari telunjukknya ke bibir berulang kali.
Rukia mendelikkan matanya marah sambil melanjutkan langkahnya lagi.
Ichigo menarik tubuh Rukia kembali sambil mendaratkan kecupan di pipi kanannya sambil berbisik, "jangan lupa kencan kita nanti malam." Dan berhasil mengecup bibirnya sebelum dia berlari dan menutup pintu ruangannya sendiri. Kekanakan memang, tapi justru itu yang membuat Ichigo bahagia saat bersama Rukia. Ichigo tersenyum dari balik pintunya.
Sedangkan Rukia yang masih shock hanya mampu terdiam, dan saat dia ingin memukul kepala orange itu sang pemilik sudah berlari terlebih dahulu sambil menutupkan kembali pintunya. Rukia yang ingin memprotes dengan menggedor pintu besar itu jadi terhenti ketika melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Mau tidak mau dia harus menyimpan kembali amarahnya sambil berlari dan bergumam, "dasar jeruk sialan!"
o0o
Waktu rapatnya masih setengah jam lagi. Setelah selesai membereskan sisa makan siangnya bersama Rukia, Ichigo hanya bisa terdiam sambil memikirkan kembali semua yang diucapkan Rukia. Bukannya Ichigo tidak tahu dan tidak perduli akan keadaan Rukia ataupun dengan apa yang dicemaskan olehnya hanya saja Ichigo Kurosaki sedang dalam 'mode jatuh cinta' dan tidak ada satupun yang bisa menghentikannya sekarang.
Terdengar gila dan konyol memang tapi begitulah adanya. Ichigo memainkan cincin yang tersemat di jari tangan kirinya. Ini salah satu alasan Ichigo tidak akan pernah melepaskan Rukia. Karena Rukia adalah wanita yang direstui oleh seluruh keluarganya termasuk seluruh nenek moyangnya. Pikiran Ichigo menerawang saat dirinya dinyatakan sadar di Rumah Sakit minggu lalu.
flash back
"Cepat panggil Ambulance!" teriak Kenpachi. Ichigo bisa mendengar suara teriakan orang, apa dirinya masih bermimpi?
"Cepat pindahkan mereka ke tempat yang lebih aman!" perintah Kenpachi sambil mengangkat tubuh Ichigo dengan bantuan sang maintenance. Sedangkan Rukia di bawa oleh Ikaku. Membaringkan mereka dikursi lobi dan memberikan mantel yang mereka pakai untuk Ichigo dan Rukia. Ichigo berusaha keras membuka matanya saat dirasakannya kenyamanan tergantikan dengan rasa hangat yang berbeda. Dia bisa merasakan tubuhnya dibawa oleh beberapa orang dan rasa hangat yang asing mulai merayap menyelimuti tubuhnya.
"Kau sudah menghubungi Ambulance Ikaku?" tanya Kenpachi masih dalam paniknya.
"Ini aku sedang menelpon kapten," jawab Ikaku sambil menunggu jawaban dari suara di seberang sana.
"Aku akan menghubungi Presdir," lanjut Kenpachi.
Dan ambulance-pun segera datang. Mereka membawa Rukia dan Ichigo dalam ambulance yang berbeda, Saat Ichigo akan dimasukkan ke dalam Ambulance, dia membuka matanya sedikit sambil berkata, "Ru…kia… Rukia," walau sangat lemah Kenpachi masih bisa mendengarnya.
Kenpachi melirik kearah ambulance Rukia yang ditemani oleh ganju –sang maintenance. "Rukia baik-baik saja bocah, bertahanlah," Kenpachi berkata seolah menjawab kekhawatiran Ichigo. Dan Ichigo benar-benar jatuh tak sadarkan diri.
o0o
Bau Rumah Sakit memang sangat menyengat, Ichigo terbangun karena semakin tersadar dengan aroma yang begitu tidak disukainya ini.
"Ichi-nii… Ayah Ichi-nii bangun," itulah suara yang selalu menyapanya di pagi hari.
"Yuzu…," Ichigo sangat hafal suara ini walau dengan memjamkan mata, "diamlah…."
"Ichi-nii tenanglah, dokter sebentar lagi datang," jawab Yuzu sambil menggenggam tangan kakaknya.
'Dokter? Kenapa ada dokter di rumahnya? tapi ini bukan wangi kamarnya, ini… Rumah Sakit…,' gumam Ichigo dalam batinnya ketika dia membuka mata dan memperhatikan lingkungan sekitarnya dengan seksama.
"Ichigo?" panggil ayahnya khawatir.
"Ichi-nii kau baik-baik saja?" kali ini Karin yang terlihat cemas. Sedangkan Ichigo hanya bisa menatap mereka dalam diam sambil memikirkan apa yang telah terjadi dan kenapa dirinya bisa sampai terbaring di rumah sakit. Dia terus mengumpulkan memorinya tanpa menghiraukan dokter yang memeriksa keadaannya serta tatap cemas dan khawatir seluruh keluarganya.
"Ku kira kau diculik monster tak tahunya hanya terjebak dalam lift, mengecewakan," ejek Karin menutupi rasa khawatirnya.
Karin bilang lift? Apa itu artinya dia memang tidak bermimpi, kejadian-kejadian yang direkam memorinya itu semua benar? Kalau begitu dimana dia? Dimana wanita itu?
"Mana dia?" tanya Ichigo tiba-tiba, membuat Yuzu yang sedang mengupaskan jeruk terhenti dan Karin melakukan kontak mata dengan ayahnya.
"Apa maksudmu Ichigo?" tanya Ayahnya tak mengerti.
"Dia? Dimana Rukia?"
"Rukia?" Ayahnya malah bertambah bingung.
Susah menjelaskan lebih baik dia mencari tahu sendiri. Dengan tergesa dia berusaha bangkit dari pembaringannya dan berusaha melepaskan selang infus yang setia bertengger semenjak dia dinyatakan sebagai pasien.
"Ichi-nii apa yang kau lakukan?!" cegah Karin sambil menahan Ichigo tetap dalam pembaringannya.
"Lepaskan aku Karin! aku harus bertemu dengannya! Lepas!"
"Keadaanmu masih belum pulih benar Ichigo. Jangan keras kepala," ayahnya hanya melarang dengan perkataannya tapi tidak dengan tindakan seperti Karin yang masih berusaha keras agar kakaknya tersebut tidak bertingkah kekanakan seperti ini –menurutnya.
"Ichi-nii! Kami tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan!"
Brak!
Karin terjatuh dan dinyatakan kalah dibanding dengan kekuatan dan kegigihan Ichigo. Memang benar yang dikatakan orang jika Ichigo Kurosaki tidak punya perasaan, melihat adiknya terjatuh karena dirinya saja dia tidak peduli, malah terus jalan menghiraukan panggilan seluruh keluarganya.
"Apa dia wanita yang terjebak bersamu? Ichi-nii?" tanya Yuzu ragu dan berhasil mengalihkan pandangannya pada adik yang masih berdiri kaku tersebut. Yuzu sangat takut jika Ichigo sudah mengibarkan bendera perangnya pada siapapun.
"Dia… ada dikamar sebelah," lanjut Yuzu lagi. Dan Ichigo segera berlalu dari hadapan mereka.
O0o
Di kamar Rukia, Ichigo hanya duduk diam di samping ranjangnya. Keluarga Kurosaki berkumpul di sana hanya untuk memastikan keadaan Ichigo dan sedikit penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Ichigo pada gadis itu. Ishin Kurosaki hanya duduk di sofa sambil memeperhatikan gerak gerik putra putrinya. Karin memilih untuk tidak berdekatan dengan Ichigo, dia berdiri dihadapan jendela kamar membelakangi kakaknya tapi dia bisa dengan jelas memperhatikan dari pantulan di bingkai cermin jendela. Sedangkan Yuzu, dia duduk di sebrang Ichigo, disisi berlainan ranjang Rukia.
"Ayah…," panggil Ichigo.
"Hm…," jawab sang kepala keluarga.
"Apa aku boleh membatalkan pertunangan ini?" Karin menoleh tanda dia tidak mengerti dengan jalan pemikiran kakak dan ayahnya, sedangkan Yuzu masih memilih untuk diam.
"Apa alasanmu?"
"Dia." Jawab Ichigo tanpa mengalihkan pandangannya dari Rukia.
"Dia?" tanya Ishin kembali untuk penegasan.
"Aku sudah menemukannya Ayah, wanita yang dipilihkan Ibu untukku, dan wanita yang direstui oleh keluarga kita, aku sudah menemukannya…."
Ishin bangkit dari singgasananya, memperhatikan putranya lalu wanita yang masih terbaring lemah itu, dan perhatiannya jatuh pada tangan yang masih bertautan itu -tangan Ichigo yang menggenggam Rukia- mereka mengenakan cincin yang dulu pernah dipakainya bersama mendiang istrinya. Dia benar-benar telah menemukannya.
"Kau tahu akibatnya bukan?" ungkap Ishin memastikan.
"Aku tahu."
"Kau yakin?"
"Aku yakin."
"Baiklah lakukan apapun yang kau suka mulai sekarang, kami selalu bersamamu Nak," Ishin berkata sambil memegang bahu putra tunggalnya sebelum dia melangkah meninggalkan kamar tersebut.
"Terima kasih ayah," Ishin tertegun sebentar sebelum melanjutkan langkahnya lagi.
"Ayah," panggil Ichigo lagi sebelum Ishin benar-benar keluar, "Apa kau merestui kami?"
"Tentu saja," jawab Isihn disertai dengan cengiran lebar dan acungan jempolnya.
Yuzu tersenyum bahagia tanpa terasa membuat air mata harunya mengalir, entah kenapa sepertinya baru kali ini dia merasakan kakaknya memiliki sebuah nyawa, akhirnya kakaknya bisa bersikap seperti yang diinginkannya, dan itu sudah lebih dari cukup untuk Yuzu. Entah apa yang sudah dilakukan wanita ini, yang jelas Yuzu harus mengucapkan terima kasih kepadanya.
Ichigo yang melihat air mata Yuzu mengalir hanya bisa membantunya mengusap air matanya sambil berkata, "Kau kenapa? Yuzu?"
Yuzu menggeleng.
"Aku tidak apa-apa Ichi-nii…," tapi nyatanya dia tidak dapat menahan laju air mata bahagianya. Dan Ichigo hanya bisa memeluk Yuzu untuk menenangkannya. "Maafkan aku Yuzu," hanya itu yang bisa diucapkan Ichigo kali ini.
"Siapa dia, Ichi-nii?" tanya Karin tanpa bermaksud untuk mengganggu acara kedua saudaranya. Ichigo melepaskan pelukannya pada Yuzu.
"Calon kakak iparmu," jawab Ichigo sambil tersenyum.
Karin mendelik sebal, karena bukan itu jawaban yang dia inginkan, "karyawanku. Dia salah satu pegawai diperusahaan kita," Karin menukikkan alisnya sebagai pertanyaan kembali.
"Lain kali akan ku ceritakan," lanjut Ichigo menjawab keingintahuan Karin.
"Tentu saja," ini benar-benar bagus, sejak kapan kakaknya ini bisa diajak berbicara? Baru setengah jam yang lalu mereka kembali bertengkar dan sekarang kakaknya bilang akan bercerita? Kita lihat bagaimana hasilnya, senyum sumringah Karin ikut mengembang. Kini dia ikut merasakan apa yang ayah dan saudara kembarnya rasakan beberapa menit sebelumnya.
Satu kesimpulan. Ichigo Kurosaki telah berubah, dan itu diakibatkan oleh hitungan detik setalah bertemu dengan gadis yang sedang terbaring ini -mungkin. Karin harus berterima kasih padanya lain kali. Dia tidak memperdulikan yang lainnya, yang terpenting adalah senyuman kakaknya yang telah kembali.
"Ayo Yuzu, banyak yang harus kita lakukan setelah ini," ujar Karin sambil membantu kembarannya berdiri.
"Kami menunggumu di rumah, Ichi-nii," ucap Yuzu berpamitan pada kakaknya.
"Jangan lupakan janjimu," Karin berkata sambil menggandeng kembarannya.
"Karin…," Lagi-lagi Ichigo berkata untuk menghentikan langkah mereka.
"Ya, ada apa Ichi-nii?"
"Maaf,"
Karin hanya tersenyum sebelum menjawab, "tidak usah dipikirkan."
"Kalian… juga merestui kami kan?" lanjut Ichigo lagi, dan dijawab anggukan mantap dari keduanya.
o0o
Dan sekarang masalahnya tinggal wanita yang ada dihadapannya ini. Bagaimana tanggapan Rukia setelah dia sadar nanti? Hidupnya akan berubah setelah dia membuka matanya -salah- mungkin hidupnya telah berubah setelah mereka bertemu semalam -sama seperti dirinya. Setelah ini akan banyak masalah yang akan dihadapi putra sulung Kurosaki ini, tapi dia tidak perduli, asalkan Rukia bersamanya dia yakin bisa melewati cobaan ini semua. Karena Ichigo yakin mendiang Ibunya pun akan turut membantunya dari atas surga sana.
Tiba-tiba mata Rukia terbuka perlahan. Ichigo sedikit terkaget tapi selanjutnya dia tersenyum senang.
Rukia bingung dengan penglihatan matanya, seingatnya cat kamarnya berwarna biru, tapi kenapa yang dilihatnya sekarang berwarna putih? Dia merasa ada yang menggenggam tangannya dan ada jemari yang bermain halus dipunggung tangannya, siapa? siapa yang sedang menggenggam tangannya? Dia melihat kearah tangannya, benar ada yang menggenggam dan siapa orang yang disebelahnya ini? Rukia masih mengerutkan dahinya.
"Kau sudah bangun?" sapa Ichigo.
"Kau?" tanya Rukia kebingungan.
"Hey, masa kau lupa dengan kekasihmu sendiri?" Ichigo mulai menggoda Rukia.
"Ke –kasih? Kau?" Rukia masih mengerenyit bingung sambil berusaha bangun dan menarik tangannya dari genggaman Ichigo. Ichigo yang melihat Rukia akan berontak seperti dirinya tadi mencoba untuk menenangkan Rukia dengan menahan tubuhnya agar tetap terbaring.
Rukia melotot marah padanya,"Ah- ha-us, aku haus!" teriaknya dengan susah payah.
"O –oh," Ichigo salah tingkah, "tunggu sebentar biar aku ambilkan," ucapnya sambil melepaskan Rukia dan segera menghidangkan segelas air putih kehadapannya.
Ichigo membantu Rukia untuk minum dan mereka kembali diam membisu sambil memperhatikan satu sama lain. Ichigo lupa kalau mereka adalah pasien dehidrasi dan hipotermia mungkin, dikarenakan kotak-kecil-bodoh-sialan-itu, tapi sepertinya Ichigo harus menghilangkan kata 'sial' karena yang terjadi adalah sebaliknya kini, kotak itu kotak keberuntungannya. Dia yakin sekali kini.
"Maaf, kenapa anda masih berada di sini?" Ichigo mengerjapkan kedua matanya karena terkejut dengan pertanyaan Rukia.
"Apa?"
"Kenapa anda di sini?"
"Anda?"
"Ya, anda Ichigo Kurosaki-san,"
"Anda?" ulang Ichigo sekali lagi, sepertinya ada yang salah di sini.
"Um… jika saya tidak salah ingat, anda yang terjebak bersama saya di lift itu bukan?" Ichigo mengerucutkan dahinya tanda tidak suka.
"Kau masih mengucapkan kata itu disaat seperti ini?" protes Ichigo tidak suka.
"Hah?!" kali ini Rukia yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Ichigo.
"Kau tahu kan aku tidak suka dipanggil seperti itu oleh kekasihku sendiri."
"Kekasih?" Rukia benar-benar bingung menanggapi pembicaraan ini, jelas-jelas pria dihadapannya ini adalah seorang bos besar, CEO diperusahaannya, dan yang menjadi kekasihnya itu bukannya model yang cantik dan berbadan aduhai itu? Tapi kenapa dia menyebutkan kata yang tidak dimengertinya sedari tadi.
"Kau lupa dengan janjimu sendiri?" lanjut Ichigo lagi.
"Janji?"
"Kau berjanji, jika kita bisa keluar dengan selamat maka kau akan menjadi kekasihku," Ichigo berkata sambil mendekatkan dirinya pada Rukia. Rukia berusaha menjaga jarak aman dari jangkauan bos tampannya ini dengan menahan tubuh Ichigo dihadapannya.
"Kau lupa? apa perlu ku ingatkan lagi kejadian semalam?" tantangnya sambil terus mencoba mendekatkan diri pada Rukia.
"Kau lupa? semalam kita juga sudah –"
" –Aaahhhh," Rukia berteriak mengingat kejadian yang sepintas berlalu dibenaknya, dia menunduk dalam, dia berteriak karena takut Ichigo mengucapkan sesuatu yang tidak ingin diakuinya.
"Kau sudah mengingatnya?"
"Tidak."
"Mau ku ingatkan?"
"Tidak."
"Tidak," Ichigo semakin mendekatkan dirinya pada Rukia.
"Sedikit," Rukia berteriak panik ketika hampir saja hidung mereka bersentuhan.
"Ku –kurasa aku sudah bisa mengingatnya sedikit," ucap Rukia sedikit gugup sambil memejamkan matanya rapat. Ichigo tersenyum senang melihat tingkah Rukia yang begitu lucu menurutnya.
"Apa yang kau ingat?"
"Yang ku ingat… aku haus lagi," dan Ichigo tertawa menanggapi kelakuan Rukia, dia tahu Rukia sedang gugup dan dalam mode penyangkalan karenanya dia biarkan saja Rukia terus menyangkal sedari tadi.
Ichigo kembali menyodorkan segelas minuman pada Rukia dan langsung disambut dengan gugup oleh Rukia. Dia hanya meminumnya setengah dan kembali diam, masih ragu untuk kembali memulai pembicaraan dengan Ichigo, jika ujung-ujungnya hanya berakhir pada janji yang dia ucapkan sesaat sebelum dia tak bisa mengingat apapun.
Rukia memainkan gelasnya sebelum Ichigo mengambil dan meneguk habis sisanya. Rukia hanya bisa memperhatikan kelakuan atasannya dengan tatapan tidak percaya. Apa ada diantara kalian yang pernah melihat seorang atasan menghabiskan sisa minuman bawahannya? Rukia melihatnya, dan dia tidak mampu berkedip sampai atasannya kembali berbicara dengannya.
"Lalu?" Rukia masih diam sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
"Apa?"
"Apa yang sudah kau ingat tentang sedikit itu?"
"Ah, um… aku ingat kalau kau adalah CEO diperusahaan kami," Ichigo mengangguk.
"Aku ingat… kau memiliki tunangan model yang bernama Inoue Orihime," Ichigo masih bersabar menunggu.
"Ah, aku melempar sepatuku padamu dua kali," Rukia langsung membungkam mulutnya lalu menggetok kepalanya sendiri beberapa kali, tanda dia sudah bertindak bodoh dengan keceplosan berbicara sembarangan.
Ragu-ragu melirik bos tampannya yang dilihatnya adalah senyuman maut dari Kurosaki Ichigo yang membuat lidahnya kelu, dia juga mengingat senyuman itu, tapi dia urungkan untuk mengucapkannya.
"Aku ingat… kita mengobrol dan… sudah."
"Sudah?"
"Iya sudah."
"Benar hanya segitu ingatanmu?"
"Benar," jawab Rukia yakin.
"Benar?"
"Agghhh… apa sebenarnya maumu? aku sudah mengatakan semuanya kan?!"
"Kau tahu dengan pasti apa yang ingin kudengar nona," kali ini tindakan Ichigo lebih berani, dengan mengurung Rukia dalam kedua lengannya, tidak sampai memeluk karena Rukia masih mempertahankan jarak amannya. Yang Rukia ingat dengan jelas, jika atasannya ini suka sekali bertindak tiba-tiba yang membuat jantungnya berhenti seketika. Karena itu Rukia sudah memasang sikap waspada begitu dia bisa mengingat semua kejadian yang bisa diingatnya.
"Apa maumu?"
"Kau tahu apa yang ku mau, Rukia."
"Katakan dengan jelas!" Rukia panik, dia kembali mengucapkannya dengan suara keras.
"Ak –aku pasien sekarang," lirihnya kembali.
"Aku juga pasien."
"Macam-macam aku akan teriak."
"Dengan suara serakmu itu? semutpun tidak mampu untuk mendengarnya," Rukia menelan ludahnya dengan susah payah, jangan lupakan dia adalah pasien dehidrasi. Rukia merasa wajahnya terasa panas sekarang tidak sedingin seperti saat dia terjebak dalam lift.
"B –bos?" Ichigo semakin merapatkan kurungannya.
"I –chigo?" lirih Rukia.
"Hm." Jadi bosnya serius dengan pembicaraan mereka saat itu?
"Kupikir… itu adalah kalimat andai-andai… jadi bisakah kau menghentikan ini semua?"
"Aku bilang, jadilah kekasihku, Rukia?"
"Kau bilang, jika kita berdua bisa selamat –"
"Dan kita berdua selamat."
Skakmate!
"Tapi," Rukia masih berusaha untuk menyangkal.
"Aku masih bisa mendengar jelas jawabanmu Rukia," dan Rukia kalah telak.
"Tapi… ini tidak mungkin," jawab Rukia masih ragu.
Karena Rukia lengah akhirnya Ichigo dapat memeluknya juga, dia menyandarkan kepalanya di atas bahu Rukia dengan nyaman.
"Rukia...,"
"Aku bau tidak," Rukia shock. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran bos ini. disaat suasana sedang romantis seperti ini dia bertanya badannya bau atau tidak? yang benar saja? Eh, jangan-jangan justru tubuhnya sendiri yang memancarkan bau tidak sedap, dia kan belum mandi dari kemarin!
"Kau tidak bau," eh? apa yang baru saja di katakan bos kepala orange-nya?
"Aku suka wangi tubuhmu, daripada bau rumah sakit ini."
"Maksudmu badanku setingkat lebih bau dari rumah sakit."
"Hahahahaha… bisakah kau tidak melucu disaat romantis seperti ini?" Ichigo tertawa terbahak sambil melepaskan pelukannya sesaat, tapi setelah itu dia kembali memeluk Rukia.
"Siapa yang melucu," jawab Rukia datar.
Ichigo masih setia memeluknya, menyandarkan kepalanya dibahu mungil gadis itu sambil sesekali menyesap aroma yang menguar dari tubuhnya –Lavender, benar-benar aromateraphy yang pas untuk kekacauan otaknya saat ini.
Anehnya, Rukia tidak merasa risih diperlakukan seperti ini. Padahal biasanya, jika ada yang berani merangkul pundaknya atau menyandarkan lengan dibahunya saja, bisa dipastikan kepala kalian akan benjol oleh ulah tangan mungilnya. Tapi rasanya Rukia tidak sanggup menolak apapun yang dilakukan pria ini, rasanya ada perasaan nyaman tersendiri yang diperolehnya. Apakah Rukia boleh mengharapkan lebih dari impiannya selama ini? Tidak. Tidak boleh, selama ini sudah lebih dari cukup untuk kehidupannya. Karena itu, Rukia tidak bisa berharap lebih dari ini. Sudah cukup.
"Tuan Kurosaki, sampai kapan kau mau memelukku seperti ini?"
"Sampai aku puas. Aahhhh," jawaban Ichigo salah, karena itu dia mendapat cubitan super mematikan dari Rukia.
"Apa yang kau lakukan?! Aduh… sakit sekali," protes Ichigo sambil mengusap-usap bekas cubitannya.
Rukia hanya diam memperhatikan sambil menopang wajahnya dengan kedua lututnya sendiri. Tidak merasa iba sama sekali.
"Apa ini caramu memperlakukan kekasihmu sendiri?!"
"Kekasih? Siapa?" Rukia masih menyangkal.
"Kau. Kekasihku. Dan aku. Kekasihmu. Suka ataupun tidak. Ingat ataupun tidak. Kau sudah menyatakan YA pada janjimu. janji kita," ujar Ichigo penuh kemenangan.
Rukia hanya bisa mengusap wajahnya pasrah.
"Dan seingatku kau masih berstatuskan tunangan orang –"
Kalimat Rukia terpaksa terputus karena ada seseorang yang membuka pintu dan memasuki ruangan tempat dia berdiam diri saat ini.
"Kenapa kau ada disini Tuan Kurosaki? Apa yang kau lakukan dengan pasienku? Cepat kembali ke kamarmu. Dia mencarimu," dokter Ishida datang dengan rentetan keheranannya.
"Sejak kapan kau sadar Nona? Kenapa tidak ada yang melapor padaku? Suster?" Sedari tadi dia bertanya sambil memeriksa keadaan Rukia.
Dan seorang suster yang menjadi asistennya hari ini hanya bisa berkata, "maafkan saya dokter, tidak ada yang melapor jika pasien sudah sadar."
"Apa harus menunggunya sadar baru ada yang melapor? Kalian harus memeriksanya setiap saat. Dia pasien mana bisa melapor," sambil menatap penuh tuduhan pada pria disampingnya.
Ichigo heran sekali, kenapa sahabatnya ini begitu cerewet sekali hari ini, tidak biasanya. Seakan menjawab tatapan heran pemuda orange ini, dia berkata, "Karena kau sudah membuat gaduh rumah sakit ku. Cepat keluar!" perintahnya.
Ichigo hanya bisa menghela nafas sambil mengikuti langkah sahabatnya itu pergi. Sedangkan Rukia hanya bisa menatapnya bingung dalam diam.
"Kita belum selesai, tunggu aku," pesan Ichigo pada Rukia sebelum menutup pintu kamarnya.
O0o
"Kurosaki –san. Kurosaki –san." Panggil sekretarisnya –Kira Izuru.
"Ah, ya, ada apa Kira?" dia melamun sampai tidak sadar jika sekretarisnya sudah kembali dari acara makan siangnya.
"Ada kabar baik kurosaki –san, pihak Kuchiki Company merespon permintaan kita."
"Benarkah?"
"Benar. Ini email dari mereka."
Laporan dari Kira melengkapi kebahagiaannya hari ini. Senyumnya terkembang begitu lebar sampai-sampai Kira terpana melihatnya. Ini senyuman yang pertama kali dia saksikan selama menjabat sekretaris sang CEO. Jika saja dia seorang wanita, pastilah dia sudah terpesona melihat senyumannya –dia menggeleng-gelangkan kepala pada pemikiran terakhir.
Baru kali ini dia merasa bekerja sangat santai walau keadaan perusahaan mereka tidak bisa dikatakan demikian. Entah atmosfer ini datang darimana yang jelas terasa sangat berbeda dibandingkan saat pertama kali mereka bekerja sama, atau bisa dibilang berbeda sebelum dan setelah pesta perusahaan, entahlah yang mana saja, asalkan itu kearah lebih baik Kira tidak akan berani memprotesnya.
PoCuruNK:
Minnnaaaaa-sannn... im come back, :D ^^V #joget bareng uncle ishin
yeaahhhh akhirnya minnaaaa, nenk bisa update yeaayyy, nyolong lepink my sohib coz my lembek masih dihozpital T_T #cium atu"
lanjut dlu ah ke next chap, tdnya mwu dibikin 1 chap tpi rasa"nya ga sreggg, jd dbelah dua ya yg ini bagian ichi, yg onoh buat rukia... c ya...
