Title : me and my PRINCE charming
Pairing : Lee DongHae & Lee HyukJae [HaeHyuk]
Disclaimer : Donghae dan Hyukjae saling memiliki. Semua cast di sini milik Tuhan, Orang Tua, SM Entertainment. Story by ORIZUKA. Saya cuma mengganti tokoh dan latar tempat dan beberapa bagian. Semuanya selain itu sama. Terimakasih.
Summary : Lee Donghae adalah cowok yang baru saja dinobatkan sebagai The Most Wanted Male di sekolahku. Selain super imut, dia juga keren, jago main basket, populer; pokoknya segalanya yang membuatnya berhak atas titel itu. Lalu, suatu hari, keajaiban terjadi. Aku, Lee Hyukjae, berhasil pacaran dengannya!
PROMISES, PROMISES
"Yang bener kamu, Hyuk!" sahut Heechul ketika aku menyampaikan berita kalau aku akan pergi nonton film dengan Donghae oppa.
Saat ini, kami sedang bersantai di rumahku, menonton episode-episode terdahulu Dawson's Creek yang kupinjam dari penyewa video.
"Beneran! Oh ya, Chul, aku sampe lupa. Kemaren Jaejoong imo ngirim e-mail ke aku, katanya aku disuruh ngebujukin kamu ke Venezuela."
"Ya ampun, mommy! Nggak ada matinya nyuruh aku ke sana!" keluh Heechul sambil merapikan rambutnya yang sudah terlihat sempurna.
Aku menghela napas pasrah. Aku tak mau lagi memberitahunya walaupun ibunya mengirim seratus e-mail per hari. Heechul sekarang sudah mengoceh tentang ketidakinginannya menjadi orang Venezuela yang paling tidak Venezuela. Menurutnya lebih baik menjadi orang Korea yang paling tidak Korea. Awalnya, aku tidak mengerti maksudnya, tapi melihat dirinya yang lebih cantik jika ada di Korea, aku mulai paham. Di Venezuela mungkin tidak ada yang seperti Heechul. Apalagi yang seperti aku.
"Jadi…. Mau pake baju apa ntar?" sahut Heechul setelah selesai menghujat ibunya sendiri, juga Venezuela. Entah mengapa Heechul sangat tidak menyukai ibunya. Padahal ibunya membicarakan soal cowok hot. Eommaku tak pernah membicarakan cowok manapun, apalagi yang hot. Ya Tuhan, aku tidak bisa membayangkannya.
"Baju apa, ya? Pengennya sih yang special," kataku sambil mengobrak abrik lemari baju. "Menurut kamu yang mana..?"
Heechul sudah tak lagi mendengarkanku. Dia sekarang berjarak lima sentimeter dari layar TV.
"Jen!" teriaknya histeris ketika Michelle Williams muncul di TV. Berondong jagungnya berterbangan ke segala arah.
Aku mendesah, menyadari tak banyak gunanya memintai Heechul pendapat sementara Michelle berakting di depannya. Dia terobsesi dengan gaya Michelle berdandan. Aku menarik sebuah rok mini yang dibelikan Eomma beberapa bulan yang lalu. Aku tidak pernah memakainya karena, yah, aku tidak pantas memakai apa pun yang tingginya di atas lututku.
Aku melempar rok itu sembarangan, mulai mengaduk-aduk lagi lemariku. Aku menemukan kaus berwarna pink. Aku tidak ingat pernah membelinya. Tapi yang jelas, kaus itu ada di lemariku dan kaus itu imut sekali. Aku memutuskan untuk memakainya nanti malam.
"Eh, punya siapa, nih?" Heechul mengacungkan rok miniku yang ternyata jatuh di hadapannya.
"Punya aku," sahutku tak peduli.
"Heh! Kenapa nggak pake yang ini aja! Keren, lagi!" jerit Heechul.
Aku memandangnya seakan dia gila. Memang sih, rok itu keren, tapi akan tampak aneh jika aku yang memakainya.
"Eh, dicoba dulu!" Heechul menyodorkannya kepadaku, lalu mengepaskannya ke pinggangku begitu aku memalingkan wajah. "Nah! Cocok, kan?" sahutya senang.
Mau tak mau, aku melihatnya juga. Memang tampak lumayan, sih. Tapi bisa-bisa Donghae oppa pingsan kegelian kalau melihatku memakai rok ini.
"Yang bener aja, Chul. Aku kayak penguin pake rok!" seruku.
"Dicoba dulu deh! Kalo jelek aku nggak akan lagi ngasih saran apa pun lagi sama kamu! Cepet cobain!"
Aku mendesah, melepaskan celanaku, lalu mengenakan rok itu. Aku tak bisa memakai rok di atas lutut. Rok sekolahku saja panjangnya sampai di bawah lutut. Heechul biasa menjulukinya rok tanggung.
Heechul memegang kedua pipinya, lalu segera menarikku ke cermin. Aku sungguh tidak ingin bercermin sekarang. Pasti aku kelihatan konyol sekali.
"Apa kata aku, kan?" kata Heechul puas.
Tidak terlalu jelek. Malah, rok itu kelihatan manis sekali di tubuhku yang mungil. Aku segera meraih kaus pink yang tadi aku temukan, lalu mengenakannya. Aku seperti bukan aku.
"Ada yang kurang!" sahut Heechul, lalu segera beranjak ke arah tasnya. Sahabatku itu sedang mengambil kotak kosmetiknya. "Aku bakal ngedandanin kamu abis-abisan!"
Aku segera berlindung di balik tempat tidur. Jelas aku tidak suka dengan bagian abis-abisannya.
"Natural aja kok, Hyuk! Nggak usah takut! Kayak aku gini." Heechul menyadari ketakutanku. Aku akhirnya menurut saja. Heechul dan wajahnya terlihat sempurna bagiku.
Dengan cekatan, Heechul mengeluarkan alat-alat perangnya. Aku pernah dibelikan Lip Glide oleh ibuku. Tapi aku sama sekali tak pernah menyentuhnya, dengan kebiasaanku menjilat bibir, Lip Glide itu pasti lenyap tak berbekas setelah lima detik.
"Sini, liat ke kaca," sahut Heechul sambil mendorongku ke cermin.
Mulutku menganga lebar. Aku bahkan tak mengenal wajah di cermin. Seperti acara Oprah saja. Aku bisa menjadi orang lain dalam waktu sekejap. Sepertinya aku baru maju beberapa abad dari peradaban lamaku.
"So cute," komentar Heechul sambil mengedipkan matanya kepadaku. "Kalo begini, Donghae oppa pasti bakalan nagih mau nonton sama kamu lagi," tambahnya.
"Cantikan juga kamu," kataku, berusaha merendah.
"Yah, tapi seenggaknya kamu punya pacar." Heechul duduk di tempat tidurku.
Aku menatapnya simpati. Fakta bahwa cewek yang sangat cantik seperti dia belum punya pacar dari lahir memang sangat mengherankan. Dari dua puluh satu cowok yang datang dan menembak, dua puluh ditolaknya dengan halus. Satu orang sisanya ditolak mentah-mentah. Ya si Sehun itu.
Kenapa juga sih, Heechul harus suka pada Hangeng oppa yang tampangnya hanya seperempat Sehun? Ah, tapi berhubung aku selalu diejek Sehun, aku lebih memilih Hangeng oppa. Setidaknya dia lebih bermoral daripada Sehun.
"Hangeng oppa ke mana sih? Ke tempat cewek itu?"
"Nggak. Dia ikut ortu ke pernikahan temen mereka," jawabku sambil memasukkan dompet dan ponsel ke tas.
"Oh.. kamu janjian jam berapa?" tanya Heechul sambil membereskan tasnya.
"Pulang dia latihan. Jadi paling jam setengah tujuh nyampe."
"Oh, gitu. Ya udah aku pulang dulu. Kamu berani kan, sendirian di rumah?"
Aku mengangguk, lalu mengantar Heechul keluar. Heechul segera masuk ke Audi-nya yang secantik dirinya, kemudian menghilang di balik pagar.
PROMISES, PROMISES
Aku memutuskan mengunggu Donghae oppa di ayunan. Setelah mengunci rumah, aku duduk di sana sambil memandangi langit yang kelam.
Akhirnya, aku akan menonton dengan Donghae oppa. Artinya, ini adalah kencan pertama kami. Tanganku sudah berkeringat sekarang. Aku yakin lipstikku pun sudah hilang sama sekali. Aku punya kebiasaan buruk kalau sedang gugup, yaitu menggigiti kulit bibirku sampai tak bersisa. Kali ini, aku harus menahan diri. Aku tak mau menahan rasa perih setiap berbicara pada Donghae oppa.
Sudah pukul setengah tujuh. Donghae oppa belum muncul, tapi dadaku mulai berdegup kencang. Aku menyisir rambutku dengan jari-jari tangan. Rambutku tidak kusut sama sekali –tidak pernah lagi sejak aku meluruskannya tiga bulan yang lalu. Aku melakukannya karena iri pada Jennifer Anniston dan Avril Lavigne yang tampak sangat nyaman menggerakkan rambutnya.
Pukul tujuh kurang lima belas dan Donghae oppa belum datang juga. Aku melirik jamku setiap beberapa detik. Satu detik terasa selamanya bagiku. Mungkin Donghae oppa sedang mandi atau apa…. Menyiapkan diri untuk bertemu diriku….
Pukul tujuh tepat. Jika Donghae oppa tak datang di menit berikutnya, kami akan ketinggalan filmnya.
Tapi Donghae oppa tidak datang setelah menit berikutnya. Dan menit berikutnya. Dan menit-menit berikutnya.
Sekarang, sudah pukul delapan. Oppa kamu ke mana sih?
Air mataku sudah meleleh lagi. Dia pasti lupa padaku. Atau dia memang bohong waktu mengatakan akan menjemputku. Dia pasti hanya menggodaku. Atau dia sebenarnya tak pernah punya niat untuk pergi nonton denganku.
Memang benar dia tak punya niat. Aku yang mengajaknya.
Ya Tuhan, kenapa aku bisa menyedihkan seperti sekarang ini? Aku jadi ingin bicara dengan seseorang. Tapi tidak ada siapa pun di rumahku. Bahkan, tak ada siapa pun yang lewat. Tidak bahkan seekor hewan pun.
Pukul sembilan lima belas. Aku mulai kedinginan, tapi aku tidak peduli. Aku benar-benar berharap Donghae oppa tetap datang walaupun dia lupa. Tak mungkin dia lupa sampai besok.
Mungkinkah?
Pukul sebelas tepat. Dia tak juga datang! Donghae oppa benar-benar melupakanku! Aku seharusnya tidak mengajaknya nonton. Mungkin dia malu jika kedapatan nonton denganku. Mungkin juga kemarin dia hanya berbasa-basi di depanku supaya aku tidak meraung-raung di rumahku sendiri.
Berjuta kemungkinan berkecambuk dalam kepalaku, tapi tak satu pun bisa menghiburku. Mungkin –kemungkinan terakhir– mungkin dia tak pernah menyukaiku.
Dia memang tidak menyukaiku. Tidak pernah sekali pun dalam hidupnya. Dia hanya menganggapku sebagai adik. Aku tahu, tapi selama ini aku tak mau tahu. Aku tahu….
Sayup-sayup, aku mendengar jeritan Eomma. Dan Appa. Juga Hangeng oppa.
PROMISES, PROMISES
"Hyuk?" suara Eomma terdengar lembut di telingaku.
Aku membuka mata. Badanku terasa seperti terbakar, seolah sedang berbaring di atas bara api. Rupanya aku demam hebat.
"Eomma?" aku memegang tangan Eomma erat. Tangan itu dingin sekali.
"Kamu demam, Hyuk. Kata dokter kamu hampir kena paru-paru basah. Kamu ngapain di luar?" kata Appa dari belakang Eomma.
"Kamu nggak jadi nonton sama Donghae?" sahut Hangeng oppa, yang duduk di pinggir tempat tidurku.
Aku menggeleng pelan. Air mataku mengalir lagi mengingat kejadian semalam.
"Kita nemuin kamu jam dua belas malam pingsan di ayunan. Kamu gila ya? Untung gak ada orang jahat," kata Hangeng oppa, lalu menghela napas.
Tadi malam aku sama sekali tidak memikirkan orang jahat. Satu-satunya yang jahat malam itu adalah Donghae oppa.
Hangeng oppa melihat air mataku, lalu segera bangkit. Entah ke mana. Eomma mengganti kompresku. Appa mengelus tanganku lembut. Aku sangat bahagia mempunyai keluarga seperti mereka.
Tiba-tiba, aku merasa sangat mengantuk. Aku segera tertidur lagi.
Andrew menyelipkan cincin perkawinan di jari manisku yang mungil. Cincinnya terlalu besar. Andrew menatapku bingung, lalu memasangkannya ke jari Heechul. Tahu-tahu Donghae oppa datang dengan menunggang unta, lalu menarikku dan membawaku pergi. Unta itu bisa terbang. Aku sangat bahagia bisa terbang bersama Donghae oppa, tapi tiba-tiba unta itu mengamuk ketika Donghae oppa hendak menciumku. Aku terjatuh dari ketinggian Himalaya. Donghae oppa menatapku dingin, tanpa berusaha meraihku sama sekali…..
"Aaahhh!" jeritku keras. Aku terbangun. Kepalaku terasa sangat pusing.
Ya Tuhan. Mimpi tadi sangat buruk. Mimpi terburuk sepanjang hidupku. Lebih buruk dari mimpi yang pernah kudapat saat aku kecil –aku pernah mimpi dimakan naga ketika sedang buang air kecil di tepi jalan. Sejak itu, aku tak pernah lagi memaksa Appa untuk berhenti di tengah jalan untuk buang air.
Aku memegang kepalaku, lalu bersandar pada bantal-bantal yang empuk. Tidak ada orang di kamarku. Sepi.
Sayup-sayup, terdengar suara orang bercakap-cakap di depan kamarku. Salah satu dari suara itu terdengar seperti suara Donghae oppa. Aku segera menenggelamkan diri lagi di balik selimut dan berpura-pura memejamkan mata. Aku benar-benar tak ingin melihatnya setelah apa yang dia lakukan kepadaku tadi malam.
Pintu kamar terbuka. Dari langkah dan wangi tubuhnya yang memakai Benetton, aku sudah tahu siapa dia. Aku menutup mataku rapat-rapat.
Donghae oppa duduk di sebelahku. Aku sangat ingin memeluknya, tapi di lain pihak, aku sangat sebal padanya.
"Hyuk," panggil Donghae oppa lembut.
Aku ingin menjawabnya, tapi otakku melawan. Donghae oppa sudah melupakanku tadi malam. Dia hanya menganggapku sebagai adik. Air mataku menetes lagi. Harusnya aku tak menangis, karena Donghae oppa bisa tahu kalau aku pura-pura tidur. Tapi kantung air mataku tak bisa kompromi.
"Hyuk, oppa minta maaf banget," kata Donghae oppa pelan. "Hyuk, maafin oppa ya. Please."
Aku tetap memejamkan mata, walau aku yakin Donghae oppa tahu aku tidak tidur.
"Hyuk," panggil Donghae oppa lagi, tapi aku bergeming.
Donghae oppa mendesah pasrah, lalu terdiam sesaat. "Oppa ketiduran abis latihan basket. Oppa juga harus ngaku kalo oppa baru inget pas Hangeng ngasih tahu soal keadaan kamu. Oppa nyesel banget. Kamu seharusnya nggak nungguin oppa sampe jam dua belas di luar rumah."
Dia baru ingat ketika Hangeng oppa memberitahunya? Berarti dia sama sekali tak sadar? Aku jadi semakin kesal.
Walaupun dengan mata tertutup rapat, aku bisa merasakan Donghae oppa menatapku serba salah. Tanpa kuduga, Donghae oppa meraih tanganku yang panas. Lalu, menggenggamnya.
Sekarang, wajahku bertambah panas kira-kira lima puluh derajat lagi. Dadaku berdegup kencang. Kau harap Donghae oppa tidak mendengarnya.
"Hyuk, oppa bener-bener minta maaf. Kamu sakit demi nungguin oppa… Ya ampun, Hyuk, oppa nyesel banget." Donghae oppa menyandarkan dahinya ke tanganku.
Aku mau pingsan!
"Hyuk?"
Aku masih diam tanpa membuka mata. Aku masih belum bisa memaafkannya, entah kenapa.
"Hyukjae, oppa mau ngelakuin apa aja asal kamu nggak diem kayak gini," kata Donghae oppa, yang langsung membuatku membuka mata.
Begitu melihat wajahnya, aku seratus persen memaafkannya. Wajahnya seperti anak-anak. Sangat polos. Sekarang, aku tahu apa yang menyebabkan aku selalu bisa memaafkan Donghae oppa. Mata yang dimilikinya.
"Apa aja?" tanyaku sambil memicingkan mata. Pasti mataku terlihat jelek dengan bekas air mata.
Donghae oppa mengangguk.
"Kalo gitu, aku mau besok kita nonton. Nggak ada lupa-lupaan lagi." Kataku setengah mengancam.
Donghae oppa segera tersenyum. "Kalo kamu udah sembuh. Nggak besok," katanya sambil –yang segera kusayangkan– melepaskan tanganku dan mengembalikannya di sebelah pahaku dengan lembut.
Aku membalas senyumnya. "Janji?" aku mengacungkan jari kelingkingku.
Senyum Donghae oppa semakin lebar saat dia mengaitkan kelingkingnya di jariku. "Janji."
Aku akan melakukan apa pun unttuk mendapatkan senyum itu setiap hari. Oh ya, dan aku telah melupakan segala pikiranku soal kemungkinan-kemingkinan perasaan Donghae oppa terhadapku. Mungkin aku tadi hanya sedang terbawa emosi atau apa.
PROMISES, PROMISES
Heechul datang menjengukku, terlihat luar biasa khawatir. Aku segera menjelaskan duduk perkaranya kepadanya. Ternyata, dia mendapat kabar burung tentang keabsenanku dari majalah dinding edisi besok yang dipasang sepulang sekolah tadi. Di sana tertulis bahwa aku tertabrak truk besar gara-gara mengejar Donghae oppa. Aku tidak penasaran siapa sumber beritanya.
"Aku sekarang jadi tahu kelemahan Donghae oppa!" sahut Heechul setelah mendengar laporanku.
Aku menatapnya heran. "Maksudnya?"
"Kelemahannya! Yang bisa kamu pergunain! Mau tahu?" aku segera mengangguk. "Dia tuh kurang inisiatif!" sahut Heechul seolah menemukan sesuatu yang baru.
"Apa kamu nggak bisa ngasih tahu aku sesuatu yang aku nggak tahu?" sahutku kesal, hampir mengeluarkan kata-kata kasar yang biasa Heechul lontarkan saat ia marah. Heechul kadang-kadang bisa jadi sangat bodoh.
"Ye… kalo kamu udah tahu, mestinya akalin, dong! Kamu harus lebih agresif! Kamu yang mestinnya punya inisiatif!"
"Aku nggak mau dibilang murahan!" sahutku. Tapi kupikir-pikir mengajaknya nonton lebih dulu juga termasuk murahan.
"Alah… udah nggak zaman, Hyuk! Nggak apa-apa, lagi! Buktinya, kamu ngajak nonton, dia mau. Kalo kata aku, dia tuh cuma nggak kepikiran cara pacaran yang romantis kayak apa. Kalo aku jadi kamu sih, aku bakalan agresif! Cowok macem dia, kalo kamu diem, bakalan jalan di tempat!"
Aku langsung membayangkan Donghae oppa jalan di tempat, lalu terkikik sendiri. Detik berikutnya, aku memikirkan kata-kata Heechul. Sangat tak lucu jika aku menertawakan pacarku sendiri. Apalagi pacarku imut.
Mungkin apa yang dikatakan Heechul benar. Yah, apa pun yang dikatakannya selalu benar. Tapi, aku bukan Heechul. Aku tidak bisa agresif. Aku tipe cewek yang lebih baik diam daripada berterus terang. Walaupun demikian, kadang-kadang aku kemasukkan arwah cewek genit yang dengan seketika bisa bicara apa yang aku biasanya tidak pernah bicarakan. Seperti ketika aku mengajak Donghae oppa nonton atau ketika aku ditembaknya. Aku tidak tahu siapa yang ada pada tubuhku saat itu. Yang jelas, aku berterima kasih. Tapi jika harus melakukannya sendiri, aku sangat meragukan kemampuanku.
"Heh, Hyuk. Kok bengong? Agresif, agresif!" sahut Heechul seakan aku tuli atau apa.
"Kamu udah gila, ya? Aku bukan orang yang bisa…"
"Ngajak cowok nonton?" potong Heechul cepat.
Wajahku langsung memerah.
"Ayolah, beberapa jam yang lalu kamu ngajak dia nonton! Kamu pasti bisa lebih agresif dari itu! Kamu punya bakat itu!"
"Kamu bilang bakat? Bakat aku tuh dance, ngelukis, juara kelas…"
"Terus kamu mau ngelukis kalo lagi kencan sama Donghae oppa? Atau malah belajar? Kamu gimana sih, katanya mau lebih romantis sama dia. Kalo Donghae oppa bisa dance sih nggak apa-apa, tapi dari pada kamu kena sikut sih mending nggak usah."
Aku menghela napas panjang. "Terus aku harus gimana?" tanyaku pasrah.
"Nah! Itu yang aku tunggu-tunggu dari tadi!" sahut Heechul semangat. "Gini. Langkah pertama kamu udah mantep, ngajak dia nonton…"
"Thanks to Madonna, udah minjemin jiwanya ke aku…"
"Langkah kedua, kamu harus mulai minta dia duduk bareng kamu di kantin setiap hari! Aku bersedia pindah demi kamu…"
"Aku haru bilang apa? 'oppa, mulai besok oppa harus duduk bareng aku di kantin', gitu? Kalo gitu, mending aku mati aja deh."
"Lho, emang kenapa? Aku punya perasaan kalo Donghae oppa tuh bakalan ngabulin apa pun permintaan kamu!"
"Chul, Donghae oppa bukan jin…"
Heechul memelototiku.
Aku balas memelototinya.
"Yang aku maksud, kamu bakalan gampang minta apa pun sama dia. Kalo gue salah, gue mau ngerjain apa aja permintaan lo!" seru Heechul yakin, kata-kata kasarnya keluar begitu saja.
"Ngepel rumah aku?"
Heecul mengangguk mantap.
"Nyuciin baju-baju keluarga aku?"
Heechul mengagguk lagi walaupun sudah tak semantap yang pertama.
"Jangan kasih saran apa pun lagi ke aku?"
Heechul mengernyitkan dahinya tanda tak suka.
Aku menghela napas. Sepertinya, aku akan mencoba usul Heechul, walaupun seratus persen tak yakin.
"Ya, deh," sahutku akhirnya.
Heechul langsung melompat kesenangan.
TBC
Chap 4 datang~
Sorry for typos and late update.
Thanks for reviews, favs, and follows~
Review?
