.

Hoping For More Good Days

(Cause You Never Walk Alone)

.

Chapter III

-Lie-

.

.

/lī/

"Lies are like a cancer in the soul. They eat away what is good and leave only destruction behind."

. . . "Lie is lonely"

.

.

.

Lonely lonely lonely whale

ireoke tto han beon bulleobwa (Like this, try calling once again)

daedap eobtneun i noraega (Until this song that doesn't have a response)

naeire daheul ttaekkaji (Reaches tomorrow)

Begitu berantakan, file-file bertumpuk tak karuan di atas meja kayu yang terletak di tengah ruangan itu. Seolah pekerjaan lain siap datang kembali hingga ia enggan membereskan. Beberapa kertas berceceran dilantai menandakan si pemilik ruang kerja yang elegan ini sedang dalam suasana hati yang buruk atau ia sudah bosan dengan pekerjannya?. Di sisi kanan ruangan itu, gelas kopi serta botol soju yang tak terhitung jumlahnya berserakan di atas meja sebening kristal dengan beberapa ukiran abstrak di tiap sudutnya. Dan lihatlah disamping meja kristal itu, seseorang tengah tertidur diatas sofa kulit mahal berwarna coklat tua, wajahnya tampak gelisah dan lelah. Kemejanya lusuh dan sepatunya tergeletak di lantai.

Kim Seokjin berjalan mendekat mengambil jas berwarna dongker yang tersampir di atas sofa lalu ia menyelimuti tubuh sahabatnya itu dengan hati-hati. Matanya menyapu seisi ruangan tersebut. Sambil terus bernyanyi ia dengan senang hati merapikan semua yang berserakan di meja dan lantai. Mengambil botol soju serta gelas kopi lalu membawanya keluar. Tak butuh waktu lama ruangan yang seperti kapal baru dihantam ombak besar itu kini sedikit mulai rapi.

"Haruskah menyanyikan lagu itu?"

"Ya!, Namjoon-ah, kau mengagetkanku saja"

Seokjin menoleh kebelakang, sahabatnya itu berbalik memunggungi meja, mencari posisi nyaman dan melanjutkan tidurnya. Ia tersenyum, sebenarnya ia tahu Namjoon sudah bangun dari tadi dan ia juga sengaja menyanyikan lagu yang berjudul 'Whalien 52' hanya untuk memberi sengatan kecil di hati Presdir keras kepala ini.

"kau kesepian Namjoon-ah, jadi aku menyanyikannya karena sangat pas untukmu" Jin mulai mengganggu sahabatnya itu

Setelah selesai membereskan ruangan tersebut, Jin mengeluarkan kotak bekal dan menaruhnya di atas meja yang dipunggungi sang Presdir. Lalu sebuah botol minuman dengan perasaan enggan ia keluarkan dari tas jinjingnya, jus apel yang ingin ia nikmati di meja kerja di kampusnya harus rela ia serahkan pada Presdir tak tahu diri ini. Terakhir ia menaruh aspirin di samping botol tersebut. Ia berdiri menoleh kebelakang dan menatap jas hitam dengan kemeja merah marun yang sengaja ia gantung di dekat rak buku, lalu kembali menatap sahabatnya ini.

"aku sudah membawakan bajumu, karena kau tidak pulang semalam, aku. . .harus berangkat sekarang"

Seokjin segera melangkah ke pintu keluar dengan hati yang terasa di tusuk jarum, entah apa yang ia pikirkan, sejak kejadian kemarin rasanya sakit ketika harus bertemu sahabat terbaiknya ini. Bukankah Namjoon telah meremukkan hatinya? Bukankah secara terang-terangan Namjoon mengakui jika ia seperti penganggu dan Namjoon tak membutuhkannya? Walaupun tidak keluar dari mulut pria itu tapi secara tersirat itulah yang sepertinya ingin dikatakan Namjoon padanya. Ia menghela napasnya, berharap rasa sesak dihatinya sedikit berkurang. Ia segera meninggalkan gedung tersebut agar bisa mencapai kampus dalam sekejap.

Sudah beberapa bus berhenti di halte dan Jin membiarkannya lewat begitu saja. Rasanya mood untuk kekampus hilang di hembus angin tetapi kenapa sakit hatinya juga tak ikut pergi ketika udara dingin itu menerpanya, itu tidak adil sekali. Sudah berapa kali ia menghela napasnya, tapi tetap saja perasaannya tak menjadi lebih baik bahkan lebih buruk. Ia menegakkan kepalanya, sebuah 'Maybach Exelero' terparkir di depan halte dan seorang lelaki dengan kemeja lusuh ditutupi mantel hitam kelam itu menatap Jin sambil menyandarkan tubuhnya pada mobil seharga 8 juta dollar Amerika itu. Jin tersenyum tipis.

.

.

.

Aroma garlic bread yang begitu mengundang membuat Jin tak sabar untuk mencicipinya, rasanya sudah lama sekali ia tak memanjakan mulutnya dengan makanan enak, terlalu banyak kesibukan hingga ia melupakan dirinya sendiri. Mengajar di kampus, terkadang mengurusi Taehyung dan Namjoon. Ia melakukannya karena ia selalu khawatir dengan kakak beradik ini, sama-sama keras kepala, sama-sama tidak mementingkan dirinya sendiri, terkadang mereka tampak saling peduli dalam diam tapi terlalu gengsi untuk bertindak dan mengekspresikannya.

"Been too long, you never come with your lover, Sir" Seseorang datang menghampiri sambil membawa sepiring Spaghetty dan Fettucinne, lalu menaruhnya di atas meja.

Namjoon memberikan senyuman sebagai tanggapan pada seseorang yang melayaninya di restoran Italia yang ia kunjungi bersama Seokjin.

"I though you've get the new one"

Jelas sekali pria itu melirik Jin dan menyangka bahwa Jin seseorang yang istimewa disini. Merasa bahwa jika hanya berdiam akan mengganggu pikiran Namjoon, Jin dengan cepat mengklarifikasi dengan bahasa inggrisnya yang cukup dapat dimengerti.

"No, we are not couple"

"too curious, you've got the answer, dude!" Namjoon melemparkan tawanya pada pria yang fasih berbaha inggris itu.

Tapi kesalahpahaman ini tidak berpengaruh sama sekali pada Namjoon, lihatlah dia tak begitu menanggapinya. Seolah mengabaikannya dan menganggap tak penting, tetapi bagi Jin tidak, ini sesuatu yang harus dibicarakan dan diperjelas agar tak ada gosip nakal yang menerpa Presdir ini. Jin hanya ingin menjaga 'image' sempurna pemimpin tertinggi perusahaan terkenal di Korea Selatan.

"aaa, saya minta maaf saya tidak tahu bahwa anda juga temannya Namjoon" ucapnya seketika takut jika perkataannya membuat kedua orang ini tak nyaman

Jin sedikit terkejut, tak menyangka ternyata pria asing bermata biru dan berkulit khas orang Inggris ini bisa dengan lancar berbahasa korea. Dan jangan lupakan pakaiannya, dia jelas bukan pelayan disini, tepatnya executive chef.

"anyway, enjoy!" ucapnya sambil berlalu

"Sepertinya kau sering mengunjungi tempat ini, dengan. . .kekasihmu" suara Jin terdengar ragu

Namjoon hanya mengangguk.

"aku ini sahabatmu, kenapa aku tak mengetahuinya?" terdengar nada kecewa di suaranya

Namjoon berhenti menyantap makanannya dan membiarkan pandangannya menatap Jin "kurasa itu bukan hal yang harus aku ceritakan, lagipula itu sudah lama, ketika SMA dan sudah berakhir, hanya masa lalu, what past is past!"

"aku mengerti" ucap Jin singkat ketika menatap mata Namjoon yang terlihat tak suka

Deringan ponselnya di dalam mantel hitam Namjoon membuat mereka sedikit terganggu. Ia merogoh sakunya, lalu menatap layar ponsel pintar itu sesaat. Jin melirik Namjoon yang hendak berdiri dari kursinya hingga suaranya dengan cepat sudah sampai di ujung lidahnya.

"Habiskan dulu sarapanmu Joon-ah"

"aku akan habiskan nanti, ada panggilan penting"Namjoon melangkah keluar sambil menanggapi seseorang yang sedang bicara di ponselnya

Tak ada yang lebih penting dari pekerjaan, Namjoon seperti seorang worka holic, pekerjaan di atas segalanya. Waktu bersama Taehyung, waktu bersama sahabatnya, waktu untuk makan bahkan istirahat, tak ada artinya dan mengabaikan semuanya. Namjoon berubah, Jin tak mengenal pria itu lagi, ia tak bisa mengerti dengan sahabatnya, apakah dia benar Namjoon atau bukan.

Jin melirik sekilas ketika Namjoon menutup panggilannya, chef yang melayani mereka tadi menghampirinya sambil ikut menyandarkan tubuhnya pada mobil Namjoon. Entah apa yang ia bicarakan, chef itu tersenyum sambil mengangguk. Lalu tiba-tiba ia merebut ponsel Namjoon, mereka terlihat akrab dan Jin yakin dia salah satu teman dekat Namjoon. Ponsel Jin bergetar di atas meja, seketika ia menatap layarnya, nama Namjoon terpampang jelas disana. Jin menatap Namjoon dari jendela besar restoran terkenal itu, ia melihat sang chef mengembalikan ponsel milik Namjoon. Jin menyentuh tombol hijau ketika melihat Namjoon mendekatkan ponselnya pada telinganya. Pria itu tak berbicara sama sekali, ia menatap sang chef dengan kesal, tawanya pria asing itu terdengar seketika, lalu ia mengangguk dan meninggalkan Namjoon.

"aku harus segera kekantor" ucap Namjoon

"kau belum sarapan, makananmu disini juga masih tersisa banyak, tadi malam aku tak yakin kau sudah makan atau . . ."

"Kim Seokjin" sela Namjoon "taximu akan datang 10 menit lagi" tutup Namjoon yang segera masuk ke dalam mobil mewahnya dan melaju dengan kencang.

Jin tersenyum tipis, tanpa ia sadari butiran bening itu jatuh dari mata indah Jin, kali ini bukan jarum yang menusuk hatinya, tapi pisau yang menyayat jantungnya.

.

.

.

.

.

.

.

"bukankah nilaiku tidak berbeda jauh darinya, kenapa anda memilih Taehyung-ssi mewakili fakultas"

"bukan dari nilai saja yang aku pertimbangkan disini, kau tau ini kompetisi sains nasional?"

"absensi dan sikap, bagaimana dengan itu? "

" termasuk didalamnya"

"bukankah dari kedua hal tersebut aku lebih baik?"

"kau merasa seperti itu? Mungkin kau tak menyadari apapun Jungkook, tapi dari pertama aku masuk ke kelas dan melihatmu, tak butuh waktu lama untuk mengenal orang seperti apa yang sedang aku hadapi"

.

.

.

"kau sedang kesal pada siapa?"

Suara itu membuyarkan lamunan Jungkook. Park Jimin, seseorang yang tak pernah berubah, masih sama seperti sebelumnya saat pertama kali mereka bertemu, seseorang yang peka terhadap orang disekitarnya. Jungkook membutuhkan orang seperti itu, mengerti tentang dirinya, jujur ia merindukannya, merindukan orang seperti Jimin hadir di hidupnya, sangat. Tapi ini bukan hal yang benar, menghindar dari Jimin lebih baik. Ia tak ingin ada seorangpun berada di dekatnya dan menghalanginya. Ia cukup tahu bahwa ia hanya akan membuat bekas luka. Bahkan untuk dirinya sendiri. Ia tak ingin merasakan hal tersebut, ia ingin hidup damai, tak ada rasa bersalah yang mengengejarnya kemanapun ia pergi atau menghantuinya dalam mimpi.

Jungkook enggan menatap Jimin yang tiba-tiba sudah berada di depan mejanya, berdiri disana dengan senyuman khasnya. Dengan gerakan cepat ia mengambil ransel yang ia letakkan di atas kursi di sebelahnya, ia berdiri dan sedikit mendorong kebelakang kursi yang ia duduki, dan siap melangkah pergi. Tetapi ketika Jimin bersuara, kakinya terhenti dan rasanya ia tak ingin menangis karena ia bisa menebak apa yang akan Jimin katakan padanya.

"aku masih mencintaimu"

Jungkook sempat terdiam, memikirkan apakah ia harus menjawab pernyataan Jimin barusan atau meninggalkannya begitu saja. Tapi sebelum ia sempat melakukan semua hal yang ada di pikirkannya, Jimin sudah menyentuh pergelangan tangannya lalu menariknya lembut agar menatap pria tampan dihadapannya.

"I've moved on Park Jimin" suara Jungkook terdengar seolah putus asa

"bagaimana jika aku belum bisa melakukan hal yang sama?"

Jungkook menoleh menatap Jimin dengan keberanian, lalu suaranya terdengar tegas kali ini "You have to!"

"jelaskan semuanya agar aku mengerti, jangan meninggalkanku dalam keadaan yang membingungkan, it's been 2 years since you left me without any reasons that makes sense"

Setidaknya Jungkook ingat terakhir kali ia menghubungi Jimin hanya melalu pesan singkat perihal keinginannya mengakhiri hubungan yang telah terjalin hampir cukup lama itu. Ia melepas tangan Jimin dengan sedikit kasar.

" kau hanya yatim piatu yang beruntung dipungut keluarga kaya raya, kau mengerti sekarang? "

Tak ada jawaban, dan Jungkook sama sekali tak berharap jawaban apapun.

"Kau!" suara Jungkook sedikit bergetar "yang tak tahu asalnya darimana tak pantas berada disisiku, orangtuamu saja meninggalkanmu di panti asuhan, kau tau artinya apa? . . .kau tak diinginkan, apa kau menganggap dirimu masih berarti?"

"ingatlah kau hanya manusia rendahan"

Tepat saat itu Jungkook benar-benar menusuk hati Jimin, meremukkannya sekuat tenaga, memecah hingga kepingin terkecil lalu menginjak dan meninggalkan seperti sampah, seperti sesuatu yang tak berarti. Tak ada senyuman di wajah Jimin, bahkan tak menampakkan ekspresi apapun. Hanya satu hal yang bisa ia rasakan saat ini, semua yang ia pikirkan selama ini tak berjalan seperti yang ia harapkan, cinta pertamanya menggoreskan luka yang begitu dalam.

"Jaga ucapanmu tuan Jeon yang terhormat"

Suara berat Taehyung terdengar dari kejauhan, nadanya datar tapi sedikit menakutkan. Dentingan berat dari Gucci slippersnya seolah mengaung di tengah keramaian cafe yang tiba-tiba hening. Minuman soda kesukannya yang berada di tangannya kini telah berpindah ke atas kepala sang 'terhormat', mengalir begitu saja tanpa ampun. Membasahi rambut pria itu hingga terlihat lengket, meninggalkan bercak kecoklatan di sweater putih milik Jeon Jungkook.

" tidak usah membelaku Taehyung~ssi,"

Seketika hanya rasa sakit hati yang merasuki jiwa pria tampan itu, melihat Jungkook sekaligus sahabatnya ini. Tidak hanya harga dirinya yang diinjak disini tapi juga ketulusan cinta yang ia jaga hanya untuk seorang Jeon Jungkook.

"kau benar tuan Jeon, aku hanya seseorang yang beruntung bahkan dari seorang Kim Taehyung yang sekarat, dan selamat atas hubunganmu dengan Taehyung"

Jimin melangkah lebar melewati Jungkook begitu saja. Dan ketika hendak melewati pintu cafe Jimin bisa mendengar Taehyung mendesis tapi terdengar seolah mengolok sahabatnya itu.

"kau benar-benar membuatku iri Jim"

Taehyung menatap Jungkook, bukan tawa, bukan seringaian mengerikan, bukan wajah yang tampak puas atau amarah ketika melihat punggung Jimin yang semakin menjauh dari cafe, tapi wajah penuh sesal yang menyedihkan.

"kau bohong, kau membiarkan kebaikan dalam dirimu dihabisi kebohongan itu, lihat sekarang. . .yang tersisa hanya kehancuran"

Tak ada tanggapan dari pernyataan yang dikatakan Taehyung.

"aku bisa melihat kebaikan dalam matamu"

Jungkook menatap Taehyung, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"you need help and a friend, Jungkook-ssi"

.

.

.

.

.

.

.

Dingin, lorong yang terlihat tak betepi ini begitu dingin. Warna putih yang mendominasi membuat jalanan ini bak bercahaya. Tapi jalanan ini pulalah yang terkadang menyembunyikan misteri. Apakah akan membawa seseorang di tempat ini pada surga dengan keindahannya atau pada neraka dengan segala kekejamnya. Takdir seseorang. Tak ada yang tahu seperti apa jalannya walaupun tampak begitu terang tapi di ujung sana akan berakhir dengan jalan yang gelap, tak ada yang tahu hal itu dan mungkin saja bisa terjadi. Lorong sepi dipenuhi ketidakpastian, menunggu keajaiban, terkadang ada yang bosan dan memilih menyerah, hingga hanya tangisan pedih yang meramaikannya. Jimin mulai terbiasa dengan hal tersebut ketika Taehyung menjadi salah satu yang penghuni tempat ini, tempat menyedihkan dan tidak pasti.

Jimin membalas senyuman tipis yang hampir tak terlihat milik Yoongi. Dari celah pintu ruang kerja yang terbuka lebar, Jimin bisa melihat pria mungil itu sibuk membereskan berkas yang ada dimejanya lalu menaruhnya dipinggir. Ia mengambil jas putih yang tersampir di atas sofa sebelum melangkah keluar. Jimin hanya bisa memandang dari jauh ketika Yoongi mengucapkan beberapa kata pada rekan kerjanya, pria itu tampak sedang menggodanya lihatlah senyuman tanpa ketulusan itu, begitu jelas. Sejak kapan Yoongi terlihat menarik dimata Jimin, menarik ketika ia melakukan sesuatu hal bahkan hal kecil sekalipun, sejak kapan pria itu bisa membuat bola matanya tak berhenti mengikutinya. Rasa kagumnya semakin bertambah pada seniornya itu.

"hey"

Jimin tersenyum ketika Yoongi sudah berada di hadapannya.

"ada apa kau datang kemari?"

Belum sempat menjawab, Yoongi telah mengajukan pertanyaan lain padanya.

"Hey. . . tunggu. . . sejak kapan kau tahu jadwalku di rumah sakit?"

Salah satu hal menarik lainnya adalah, terkadang ia terlihat manis jika banyak bicara.

"bukankah kita terlalu sering bersama? Hingga jadwalmu bisa melekat dikepalaku "

" menurutku juga seperti itu" Yonngi tersenyum

"tapi apa kau tau jadwal kuliahku? "

Yoongi diam sejenak lalu menggelengkan kepalanya dan itu tampak lucu dimata Jimin.

" kau membuat hatiku sakit hyung"

"mana bisa aku mengetahuinya, kau mahasiswa pintar yang sering bolos"

Jimin tersenyum "hyung"

"ya"

"boleh aku menginap di tempatmu"

.

.

"ada yang mengganggumu, kau terlihat murung dan banyak diam dari tadi"

Yoongi menaruh teh hangat dihadapkan Jimin. Ia cukup tahu pria dihadapannya ini, bagaimana tidak intensitas pertemuan mereka yang cukup sering. Jika Jimin lebih sering diam, tandanya ada sesuatu yang terjadi padanya atau orang di sekitarnya, itulah Jimin. Seolah mengklaim masalah orang di dekatnya merupakan tanggung jawabnya juga.

"kau bisa ceritakan apapun padaku, bukankah aku juga sering bercerita padamu? "

" ya, tentang para pria tampan yang sering mengejarmu" Jimin tertawa

"ya salah satunya, tapi kau tak pernah memberi solusi yang bagus"

"walaupun begitu aku selalu mendengarkan masalahmu, bukankah itu cukup?"

"okay aku hargai itu, kau yakin tak ingin membicarakan masalahmu?"

"tidak ada yang terjadi, aku hanya bosan dirumah sendirian"

Yoongi hanya mengangguk tak ingin memaksa Jimin bercerita, ia tahu Jimin akan melakukannya jika ia mau, kapanpun.

"kau membeli pirigan hitam lagi?"

" temanku menawarkannya padaku dan aku tertarik"

Yoongi menaruh pirigan hitam itu pada pemutarnya lalu menyetelnya, setelah mengutak atik benda antik itu alunan musikpun mulai terdengar, ia tersenyum dan mulai menggoyangkan kepalanya mencoba mengikuti nada dan suara sang penyanyi. Tempo musiknya lambat penuh perasaan sehingga terdengar lembut tetapi jika mendengarkan sang penyanyinya seolah menyampaikan pesan yang kuat. Seolah terbawa oleh alunan musik Jimin berdiri lalu mendekat pada Yoongi dan mengulurkan tangannya.

"mau berdansa denganku?"

Yoongi perlahan membuka matanya, ruangan menjadi temaram hanya di temani sebuah lilin di ruang tamu dan ia tidak tahu kapan Jimin melakukan hal tersebut, terlalu cepat hingga ia tak mendengar apapun. Ia menatap Jimin lalu menatap tangan yang terulur bebas tersebut. Jimin segera menarik tangang pria mungil itu, hingga Yoongi sekarang berdiri dihadapkan Jimin, dan ia masih terpaku. Jimin menautkan jemarinya pada Yoongi dan menaruhnya sedikit tinggi ke udara, lalu satu tangan lagi ditaruhnya dibahu kokoh itu. Yoongi membiarkan Jimin melakukan semuanya. Jimin tersenyum dan sekarang tampak sedang berpikir. Ada keraguan dalam hatinya sebelum ia menaruh tangannya dipinggang Yoongi, lalu menarik tubuh itu agar lebih dekat dengannya. Mata Yoongi melebar tetapi ia berusaha menahan keterkejutannya, jantungnya bekerja dua kali lipat dari sebelumya dan pipinya mulai merona. Jimin tersenyum dan membalas tatapan Yoongi.

"kenapa menatapku?" ucap Jimin lembut

"a a maaf" Yoongi segera menunduk

Jimin melepas tangannya lalu menarik dagu Yoongi agar melihatnya lagi, tangannya kembali pada pinggang mungil itu , menariknya dan membuat Yoongi lebih dekat dari sebelumnya, hingga tubuh mereka saling menempel. Rasanya Yoongi ingin menghilang saat itu ketika wajah Jimin hanya berjarak beberapa milimeter dari wajahnya, tidak tahukah Jimin bahwa ia telah membuat seorang dokter terkena serangan jantung hanya dari perlakuannya. God!, ia benar-benar ingin menghilang, ia tak ingin mati jantungan hanya karena seorang Park Jimin yang membuatnya hampir meledak dan kehabisan napas. Dan ia tak ingin berita mengenai penyebab kematiannya diumumkan adalah karena berdansa dengan seorang 'hot man', yang entah sejak kapan membuat kerja jantungnya tak karuan, memalukan dan tidak elegan.

"jangan menunduk, kita berdansa bukan berdoa" Jimin tersenyum tipis dalam leluconnya

"kau tahu" Yoongi terdengar gugup "kau bisa ceritakan masalahmu, apapun itu aku akan membantu mencari solusinya"

"Aku tahu hyung" Jimin tersenyum dan tak mengalihkan tatapannya dari mata Yoongi

"kau percaya padaku?"

"tentu"

Yoongi berusaha kembali mencari ide, ia tak ingin detak jantungnya terdengar oleh Jimin. Oh shit!, ia yakin pipinya sudah semerah kepiting rebus saat ini, tapi ia sedikit beruntung dengan ruangan temaram ini.

"apa kau sudah bicara dengan Taehyung?"

"sssttt, diamlah hyung, aku menyukai lagu ini dan dansa kita" bisik Jimin

"They Said It's Wonderful by Johnny Hartman, I love this song hyung"

Jimin masih setia menatap mata Yoongi, tetapi pria itu sudah tak tahan lagi, lututnya lemas. Jika saja Jimin tak mengeratkan pegangannya pada pinggang ramping itu mungkin ia akan jatuh ke lantai. Jimin melepas salah satu tangannya hingga membuat Yoongi memindahkan pegangannya pada pinggang kemeja Jimin tak begitu berani menyentuh pria tersebut secara langsung. Jimin mulai menelusuri setiap lekukan wajah Yoongi, matanya, pipinya, hidungnya, dan ia kembali menatap mata itu, tangannya bergerak menyentuh wajah mungil Yoongi, mengusapnya dengan lembut. Jimin melepas tangannya satu lagi. Berusaha menangkup wajah itu, memandangnya dengan penuh arti. Dan entah mendapat dorongan dari mana ia mendekatkan wajahnya pada Yoongi, hingga membuat Yoongi menutup matanya perlahan. Semuanya seolah menjadi gelap, deru napas Jimin terdengar jelas olehnya, jantung mereka seolah saling beradu kencang. Sedetik kemudian ia merasakan bibir tebal Jimin menyentuh bibirnya, melumatnya dengan lembut, terlalu lembut hingga membuatnya melayang.

.

.

.

"dokter Min"

"dokter Min"

"dokter Min Yoongi"

"Min Yoongi-ssi" suara itu kini terdengar gemas karena tak mendapat tanggapan

Yoongi terbangun dari lamunannya, wajahnya tampak sedikit menyesal karena sepertinya pria di depannya sudah bercerita panjang lebar, tapi pikirannya entah melayang kemana. Seharusnya ia tidak berlaku bodoh seperti itu. Bagaimana bisa ia memikirkan Jimin yang sudah meninggalkannya. Ia ingat malam itu, Jimin tersenyum lembut dan menyuruhnya tidur di kamar, sedangkan Jimin tidur di sofa empuk miliknya. Tetapi di pagi hari Jimin tak berada di apartemennya lagi. Ponselnya tak aktif ketika dihubungi, seolah sedang menghindar.

"apa yang kau pikirkan dok?"

"tidak ada" ia menyerup hot cappuchinonya "aku sudah janji akan menemanimu makan, jadi . . ."

"Ya! tuan Jung Hoseok apa yang anda lakukan disana, menggoda pelangganmu lagi?"

Pria yang bersama Yoongi adalah Jung Hoseok, pemilik Hope cafe. Dan lelaki yang baru saja memasuki cafe ini tak lain adalah Taehyung, si pelanggan setia. Ia berjalan dengan tas ransel di punggungnya dan kacamata yang bertengger di belakang kepalanya. Taehyung sedikit terkejut melihat Min Yoongi dihadapannya, pria yang Jimin kenalkan padanya waktu itu.

"apa kabar dokter Min" sapa Taehyung

"kau mengenal dokter Min?"

"ya, sahabatku mengenalkannya padaku"

"duduklah Taehyungie, aku akan mengambilkan makanan favoritmu, it's free for you" Hoseok bangkit dari kursinya menuju etalase

"daebak!, kau sedang senang hari ini" Taehyung membiarkan matanya mengekori Hoseok yang sibuk di belakang etalase seolah sedang melayani pelanggan istimewa.

"tentu, aku baru saja keluar dari rumah hantu itu" Hoseok berbicara sambil memperlihatkan ekspresi bangga di wajahnya

"selamat!, kau harus traktir aku setiap hari agar kau tidak kembali ke tempat menyeramkan itu"

"aku bisa menutup cafe ini jika melakukannya"

Taehyung tertawa mendengar jawaban Hoseok yang begitu jujur.

"rumah hantu itu adalah rumah sakit, kami menyebutnya seperti itu" jelasnya pada Yoongi sambil Hoseok menaruh 2 molten cake dan segelas hot chocolate di meja mereka.

"jadi dokter Min kekasih sahabatmu"

Taehyung menatap Yoongi "tanyakan saja pada yang bersangkutan"

"jadi kau kekasih. . ." sebuah pukulan mendarat di kepala Hoseok membuatnya mengaduh kesakitan

"ya! hyung, kenapa kau tidak sopan sekali menanyakan hal pribadi pada dokter Min"

"aku hanya bercanda" Hoseok masih mengusap kepalanya yang terasa sakit "kenapa kau tidak konsultasi dengan dokter Min, dia yang menanganiku di rumah sakit, dia dokter yang hebat"

Taehyung mengangguk mengerti, sebelumnya Jimin juga pernah bercerita mengenai Yoongi, dan kurang lebih ia tahu dokter ini benar-benar diakui kehebatannya, Hoseok saja memujinya.

Taehyung menatap Yoongi sesaat dan dengan sedikit ragu ia mengeluarkan suaranya "hyung, apa boleh aku berbicara dengan dokter Min? hanya berdua saja"

"apa yang ingin kau bicarakan dengannya?" Hoseok menyipitkan matanya menandakan ia penasaran

"aku hanya ingin bertanya beberapa hal"

"baiklah, panggil aku di ruangan jika butuh sesuatu"

Setelah Hoseok pergi meninggalkan mereka suasana terasa sedikit canggung. Taehyung juga tak tahu harus memulai dan berbicara apa. Salahkan ia yang jarang bergaul dengan teman-teman kampusnya, dan hanya memiliki teman bernama Park Jimin sepanjang hidupnya. Memulai pembicaraan dengan Jimin begitu mudah tetapi dengan seseorang yang baru apalagi seseorang seperti dokter hebat ini membuatnya harus memilih kata yang bagus.

"dokter Min"

"panggil saja aku hyung" sela Yoongi

"mmm. . .hyung" rasanya sedikit canggung di lidah Taehyung tapi ia mengabaikannya

"aku minta maaf atas kejadian waktu itu, aku sudah berlaku tidak sopan, meninggalkanmu begitu saja"

"aku mengerti, dan itu tidak masalah, jadi kau akan mempercayakan dirimu padaku sekarang?"

Taehyung hanya berniat meminta maaf pada pria mungil ini bukan bermaksud membahas atau menerima tawaran dokter ini agar menjadi salah satu pasien yang ia tangani.

"datanglah ke tempatku secara berkala ke rumah sakit atau kau bisa berkunjung ke apartemenku"

Taehyung hanya mengangguk untuk menanggapinya tapi ia tak bisa menjanjikan ia akan datang seperti yang diharapkan Yoongi. Mereka kembali diam, dan Taehyung tak punya bahan pembicaraan sama sekali saat ini. Tidak mungkin ia membicarakan game seperti yang biasa ia lakukan dengan Jimin, atau membicarakan komik, ia yakin dokter ini lebih hobi membaca koran atau majalah tentang pengetahuan.

"apa selama dua hari ini kau bertemu Jimin?" Yoongi memecah keheningan

"tidak, aku sedang sibuk mengurusi beberapa hal" bohong Taehyung

"kau ada masalah dengannya?" tanya Taehyung yang sedikit penasaran

Yoongi tak menjawab, dan tak seharusnya membicarakan masalahnya pada Taehyung. Taehyung tampak menunggu jawaban tapi Yoongi mengabaikannya. Seketika pandangan Taehyung beralih pada pintu cafe yang terdengar baru saja di buka, menandakan pelanggan datang berkunjung.

"hyung, tumben sekali kau kemari"

Taehyung bersuara ketika melihat Namjoon untuk pertama kalinya datang ke cafe milik Hoseok yang pernah ia ceritakan. Seorang teman yang memiliki nasib yang sama dengannya, dan mereka bertemu di rumah sakit yang sama sebelumnya. Tapi ketika Taehyung bercerita, Namjoon tampak tak begitu tertarik, ia hanya diam tak bertanya atau menanggapi. Dan dia selalu menghindar jika sudah membicarakan penyakit Taehyung atau rumah sakit. Ia akan pergi begitu saja setelahnya.

"Taehyung!"

Yoongi menjerit tiba-tiba ketika melihat hidung Taehyung mengeluarkan darah begitu deras dan banyak. Ia berteriak pada pelayan di cafe agar memberikannya tisu. Yoongi segera meraih tubuh Taehyung yang mulai kehilangan keseimbangan.

Taehyung benci ketika hidungnya berdarah. Taehyung benci itu. Ia benci ketika orang-orang menjadi repot. Hoseok datang mendekat merebut tisu dari tangan pelayannya, membantu Taehyung membersihkan darahnya yang terus mengalir. Yoongi mengatakan apa yang harus Taehyung lakukan seolah Taehyung belum tahu sebelumnya. Dan Namjoon tak bergerak, hanya berdiri disana melihat Taehyung dengan pandangan aneh di wajahnya seolah Taehyung adalah alien.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


I'm coming back home

Come back to my home, come back home (nyanyi ala daddy Seo Taiji XP)

.

How was your day without me?, Hope you're all doing well :D

So sorry, I'm not coming for a long time, but I'm happy some of you still waiting for me, give me support and much love, I'm really thankful of it.

Anyway, gak tau kenapa, ff ini makin jelek, bahasanya juga berantakan, mungkin gara-gara hiatus TT, gk nyentuh yang namanya ff sama sekali, udah berapa bulan juga gk tau :(. Tapi pengen banget nyelesaiin ini ff huftttt. Hope I can! :(.

.

Finally BTS comeback with new album. Siapa yang beli albumnya 4 versi?, please acungkan kakimu, . . . atau yg cuma beli 1 atau 2 versi?. Selamat, soalnya bagus banget merekanya, susah milih bias, bias aku Tae, tapi apa daya mereka semua terlahir sebagai 'bias wrecker'. Tapi aku setia kok sama Tae, sama bangtan pokonya hahahha.

Aku harap kalian suka chapter ini dan berikutnya, klo gk suka silahkan lempar aku dengan album LOVE YOURSELF, aku iklas dilemparin sama kalian, really XP

Enjoy yeorobun :D