:
Chapter 4
:
Matahari pagi telah terbit. Udara dingin pagi hari di desa Yukiranmaru membangunkanku. Rasanya benar-benar berbeda dengan desa Konoha. Udara di desa kecil ini benar-benar segar. Aku keluar untuk mencuci muka dengan air sumur yang berada di belakang rumah. Kupandangi matahari yang sedang terbit itu beberapa detik hingga kuputuskan untuk masuk.
Aku hendak membereskan barang-barangku karena pagi ini kami harus segera kembali. Tapi sebelum aku kembali ke kamarku, aku memutuskan untuk mengecek Sakura di kamarnya. Kupikir ia belum bangun karena pintu kamarnya masih tertutup dan sama sekali tidak terdengar suara di dalam kamar.
Aku mengetuk pintu kamarnya namun sama sekali tidak mendapatkan respon walau suara dengusan sekecil apapun. "Sakura, Bangunlah! Kita harus kembali ke Konoha pagi ini." dan sekali lagi aku tidak mendapatkan respon apapun. Kucoba mendorong pintunya dan mendapati pintu kamarnya tidak terkunci. Apa Sakura lupa mengunci pintu? Kupikir juga begitu.
Aku semakin membuka pintu itu lebar. Ternyata kamarnya telah kosong dan tasnya pun telah disiapkan di atas meja. "Ternyata dia sudah bangun dari tadi. Tapi di mana dia?" batinku bertanya.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan Sakura pun memasuki rumah sambil membawa 2 piring berisi makanan untuk Sarapan.
"Kau dari mana?" tanyaku.
"Aku tadi pergi ke rumah kepala desa untuk memasak Sarapan karena di rumah ini tidak ada peralatan memasaknya.. Ayo makan lalu kembali ke desa," kata Sakura.
Aku pun memakan makanan yang telah di masakan oleh Sakura. Rasanya tidak buruk juga. Masakannya kali ini terasa lebih enak dari pada sebelumnya. Mungkin saja Sakura diam-diam belajar masak dari seseorang. Karena belakangan ini ia sering mengantarku makanan. Mungkin untuk membuatku terkesan dengan masakannya, dia diam-diam belajar memasak dari seseorang sehingga masakannya kali ini terasa cukup enak.
==[][]==
Matahari pun mulai bersinar semakin terik. Kami pun sudah bersiap untuk pergi kembali ke desa Konoha. Kepala desa dan para warga turut mengantar kami menuju gerbang desa.
"Berhati-hatilah. Kemungkinan kalian akan menemui pasukan pelindung jika tidak berhati-hati untuk keluar dari perbatasan. Lebih buruk lagi jika kalian bertemu dengan anggota kelompok Rakai yang sedang bersembunyi dari kejaran para pasukan pelindung," kata kepala desa.
"Baik. Kami akan pergi sekarang. Terima kasih untuk perbekalan yang telah anda siapkan untuk kami," kataku.
"Sama-sama," kata kepala desa.
Kami pun mulai berjalan meninggalkan desa. Para warga desa pun melambaikan tangan mereka sambil melihat kepergian kami.
Kami terus berjalan hingga akhirnya matahari telah tergelincir ke arah barat. Kami saat itu hendak memutuskan untuk berhenti dan membuat api unggun dan bermalam di tempat kami berada sekarang. Namun tiba-tiba saja langit menjadi gelap dan angin pun mulai bertiup dengan sangat kencang.
"Sial. Akan ada badai di tempat ini. Kita harus cari tempat perlindungan," kataku.
"Kalau begitu kita harus bergerak sekarang. Di dalam hutan mungkin ada semacam gua yang bisa kita pakai untuk berlindung," ucap Sakura.
"Jika tidak salah, di tempat ini ada bekas persembunyian Orochimaru. Kita bisa memakai persembunyiannya untuk berlindung dari badai. Aku akan memakai Rinnegan untuk menemukannya." aku pun memakai Rinnegan dan mencari sebuah ruangan di dalam tanah yang merupakan bekas persembunyian Orochimaru.
Aku mendapati sebuah ruangan tak jauh dari tempat kami berdiri. Kami pun mulai berjalan ke sana. Butiran hujan pun mulai turun dan kupikir aku harus lebih cepat. Kami pun tiba di depan pintu ruang rahasia itu.
"Dilihat dari model ruangan ini, bangunan ini masih baru namun sudah lama di tinggalkan. Kalau memang benar ini baru maka seharusnya," kataku lalu membuat beberapa segel tangan. Pintu rahasia pun terlihat bergerak ke bawah dan memperlihatkan terowongan menuju ruangan rahasia itu.
"Berhasil! Ternyata memang terpasang segel di tempat ini. Ayo masuk, Sakura!" ajakku.
Sakura mendekatiku dan berdiri di belakangku. Tangannya memegangi tanganku karena takut. "Inikan persembunyian Orochimaru. Apa kau yakin tempat ini aman, Sasuke?" tanyanya gelisah.
"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti di dalam sana kita akan lebih aman dari pada di luar sini. Sebaiknya kita cepat masuk karena sepertinya badai akan datang lebih cepat."
Angin semakin kuat berhembus membuat daun-daun dan ranting-ranting pohon saling bergesekan menciptakan suara riuh. Terlihat beberapa kilatan yang lalu di susul oleh petir.
"Ayo masuk!" ajakku sambil menarik tanganku yang sedang di pegang oleh Sakura agar ia ikut masuk.
Gelap, itulah yang nampak di ruangan rahasia itu. Seperti yang kuduga, di tempat ini tidak ada penerangan karena telah lama di tinggal. Aku mengambil senter dari dalam tasku dan memberikannya pada Sakura sementara aku menutup pintu.
"Tempat ini baunya aneh. Ini hampir sama persis seperti markas persembunyian Orochimaru yang pernah kudatangi bersama Naruto untuk mencarimu."
"Mungkin saja ada laboratoriumnya di tempat ini. Jika saja itu memang benar, maka kita harus lebih berhati-hati. Karena bisa jadi ada percobaan Orochimaru yang di kurung atau bahkan telah lepas dan berkeliaran di ruangan ini."
Kami terus berjalan hingga akhirnya bertemu dengan sebuah ruangan besar dan luas yang memiliki 2 terowongan yang mengarah ke ruangan lainnya. Sepertinya dugaanku memang tepat. Tempat ini bukan hanya sebuah persembunyian saja melainkan salah satu markas penelitian tersembunyi Orochimaru. Dan sepertinya aku tidak akan bisa beristirahat dengan tenang sebelum menutup kedua terowongan yang mengarah ke ruangan lain itu.
"Sasuke, aku tidak yakin jika tempat ini aman. Apa kau yakin kita akan beristirahat di tempat ini untuk malam ini?" tanya Sakura.
"Tenang Sakura. Ada aku di sampingmu. Aku akan menjagamu. Sebaiknya sekarang kita bersihkan tempat ini. Aku akan menutup kedua terowongan itu dengan teknik apapun yang aku punya."
Sakura pun mulai membersihkan ruangan yang akan kami pakai untuk bermalam. Ia juga menyiapkan alas untuk kami tidur. Sementara aku sedang berpikir untuk mengetahui cara agar kedua terowongan itu bisa tertutup. Cukup lama aku berpikir hingga akhirnya kubuat Chidori dan menghancurkan batu di setiap sisi terowongan itu agar bebatuan yang hancur bisa menutupi terowongan itu.
Tentu saja dengan Chidori, aku mampu memotong batu namun penggunaan yang salah bisa membuat ruangan bawah tanah ini bisa menjadi runtuh akibat getaran yang timbul sewaktu proses pemotongan.
Aku mendekati Sakura dan berkata:
"Ayo kita beristirahat. Aku tidak bisa membuat api untuk penghangat atau penerangan karena tak ada apapun untuk di bakar. Kita hanya bisa berharap pada cahaya senter ini saja."
"Sepertinya senter itu tidak akan bertahan lebih lama lagi. Cahayanya mulai redup."
"Sudahlah, mari kita tidur. Tapi sebelumnya, kau mau aku tidur di bagian mana?" tanyaku.
"Terserah kau Sasuke. Tapi kumohon jangan jauh-jauh dariku. Aku takut," kata Sakura.
"Apa kau takut gelap?"
"Tidak. Hanya saja aku merasa tidak nyaman tidur tanpa cahaya. Apalagi di tempat seperti ini."
"Baiklah, aku akan tidur di sampingmu."
Sakura pun mulai menggelar Kantong Tidur di atas alas yang telah ia siapkan. Aku pun menyusul. Namun malam ini aku sama sekali tidak berniat untuk tidur karena aku harus memastikan kami aman di tempat ini.
Sakura mulai tertidur. Aku bisa mengetahui hal itu dengan melihat aliran Chakra Sakura dengan Sharingan. Meskipun tidak sebaik Byakugan dalam melihat aliran Chakra, tapi aku bisa melihat aliran Chakra Sakura yang mulai nampak tenang tanda ia mulai tertidur.
Saat kupikir semua kan berjalan lancar hingga pagi hari, tiba-tiba saja senter pun mulai meredup dan pada akhirnya padam karena kehabisan daya. Tiba-tiba saja aliran Chakra Sakura mengalir lebih cepat tanda ia mulai terbangun. Dengan cepat aku mengubah posisi tidurku dengan posisi tidur menyamping dan menutup mata Sakura dengan telapak tanganku.
Sakura terbangun dalam keadaan kaget. Entah karena tanganku atau menyadari kalau cahaya telah menghilang. Saat ini aku masih bisa melihat ekspresi kagetnya karena masih memakai Sharingan walau penglihatan Sharingan tidak sebaik memakai Byakugan atau Rinnegan.
"Sasuke!" kata Sakura kaget. "Ada apa? Apa cahaya senternya padam?" tanyanya.
"Iya. Tapi jangan Khawatir, aku ada di sampingmu. Anggap saja kondisi gelap ini adalah akibat aku menutup matamu dengan tanganku. Sekarang kembalilah tidur," ucapku untuk menenangkan Sakura. Aku benat-benar sedikit tidak percaya bahwa ninja yang mendapat julukan tenaga monster dari Naruto ini takut dengan gelap. Tapi mau bagaimana lagi, siapapun pasti akan merasa takut jika ia berada di tempat seperti ini dalam keadaan gelap gulita. Bagiku, tempat ini tidak menyeramkan karena aku berkembang di tempat seperti ini di bawah pelatihan Orochimaru.
Aku melihat Chakra Sakura kembali tenang. Kupikir ia sudah mulai tertidur kembali. Namun aku harus memastikan tidak melakukan gerakan apapun yang akan membuat Sakura terbangun sebelum Sakura benar-benar memasuki fase bermimpi. Kumatikan Sharinganku untuk menghemat Chakra. Perlahan aku mengangkat tanganku dari mata Sakura dan kembali tidur terlentang. "Ini benar-benar gelap," batinku.
Aku saat ini benar-benar mengantuk. Dan saat ini pun aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Bahkan sampai-sampai aku tidak bisa memastikan apakah saat ini aku sedang menutup mata atau membuka mata.
Lama kelamaan rasa kantuk yang kualami semakin menjadi hingga akhirnya membuatku ketiduran dan melanggar sumpah di mana aku akan menjaga Sakura semalaman.
==[][]==
Tak lama setelah aku ketiduran, aku terbangun kembali akibat mendengar suara percakapan yang entah dari mana asalnya. Dengan cepat aku mengaktifkan Rinneganku dan mencari asal suara itu. Di salah satu terowongan, aku melihat 2 orang sedang menatap ke arah reruntuhan bebatuan yang kupakai untuk menutup terowongan itu.
Aku berdiri perlahan tanpa membuat suara sedikitpun. Aku mendekati mereka dan menguping pembicaraan mereka sekilas.
"Siapasih yang menutup jalan keluar. Jahil sekali?" suara perempuan.
"Bukankah tempat ini tersembunyi, dan lagi hanya kita berdua yang mengetahui tempat ini," suara laki-laki.
"Bagaimana cara kita keluar. Cepat pikirkan!" suara perempuan.
"Baik-baik. Aku akan kesebelah. Kau tunggu sebentar." suara laki-laki.
Aku semakin bersiaga. Aku jadi penasaran, si laki-laki itu akan ke sini dengan cara bagaimana. Dengan Rinnegan aku mampu melihat Chakra mereka lebih baik dan bahkan melihat wujud mereka walau dalam tampilan hitam putih. Tiba-tiba saja si laki-laki ini terlihat mencair dan bergerak melewati bebatuan. Aku pun semakin bersiaga dan membuat Chidori.
Ruangan tempatku berada menjadi terang karena Chidori yang kugunakan. Dan ketika si laki-laki itu keluar dari bebatuan dan kembali ke wujud aslinya, aku menyerangnya dengan cepat.
"Suigetsu!" ujarku ketika serangan Chidoriku menyentuhnya dan membuat dirinya berubah menjadi air. Dengan cepat kuhentikan Chidori.
"Agh, Sasuke! Kenapa kau bisa ada di sini? Dan kenapa kau menyerangku dengan Chidori?" tanyanya.
"Maaf. Kupikir kau salah satu eksperimen Orochimaru yang berkeliaran di persembunyian ini. Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku.
"Tuan Orochimaru menyuruh kami untuk menghancurkan tempat ini. Namun sebelum itu, kami harus menyelamatkan bahan-bahan dan dokumen-dokumen penelitian yang penting terlebih dahulu."
"Suigetsu! Apa yang kau lakukan di sana? Cepat keluarkan aku dari sini," teriakan wanita yang saat ini masih berada di balik puing-puing bebatuan yang menutup terowongan.
"Benar juga. Aku hampir lupa kalau wanita itu masih di sebelah. Sasuke, tolong bukakan jalan untuknya," ucap Suigetsu.
Aku membuat Chidori dan kemudian berkata "Karin! Menjauhlah!" titahku sebelum memotong-motong bebatuan itu menjadi lebih kecil dengan Chidori. Tentu saja suara ribut itu membangunkan Sakura. Akibat mendengar suara hancurnya batu oleh Chidori membuat Sakura langsung terbangun dan bersiaga walau kondisinya gelap.
Cahaya pun mulai muncul dari balik puing-puing batu yang baru saja kupotong. "Sasuke!" kata perempuan itu yang ternyata adalah Karin.
Karena karin membawa lentera, ruangan itu pun menjadi agak terang dan Sakura pun segera mendekatiku dan berdiri di dekatku.
"Aku tak percaya. Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu, Sasuke," kata Karin.
"Padahal kau dan Sasuke baru saja bertemu beberapa bulan yang lalu di markas tuan Orochimaru," kata Suigetsu. Ia pun melihat ke arah Sakura dan bertanya "Siapa gadis di sampingmu itu?"
Terlihat dengan jelas saat itu bahwa Karin dan Sakura sama-sama saling menatap dengan ekspresi kesal. Aku memutuskan untuk mengabaikannya saja. Karin sangat terobsesi padaku dan Sakura menyukaiku.
"Apa yang kau lakukan dengan gadis itu di tempat seperti ini malam-malam?" tanya Suigetsu curiga.
"Kami sedang malam misi. Dan ketika dalam perjalanan pulang, terjadi badai yang memaksa kami untuk berlindung di tempat ini," kataku.
"Oh! Jadi sekarang sedang badai? Pantas saja terdengar suara petir dari luar." ucap Karin.
"Hey Sasuke. Ngomong-ngomong siapa gadis itu? Pacarmu?" tanya Suigetsu.
"Bisa di bilang begitu."
Sakura bahagia ketika mendengarku berkata begitu. Namun di satu sisi, Karin nampak tidak senang mendengar itu sehingga ia pun mendekati Sakura dan melabraknya.
"Apa? Kau pacarnya Sasuke! Apa Sharingan Sasuke telah rusak sehingga ia menjadikan gadis jelek sepertimu sebagai pacarnya."
"Siapa yang kau bilang jelek! Dasar jelek!" balas Sakura.
"Kau yang jelek."
"Bukankah dirimu itu yang jelek."
"Sudahlah, kalian berdua itu sama- sama jelek. Jadi tenanglah sedikit. Aku mau beristirahat." potong Suigetsu yang saat itu sedang mencari tempat untuk tidur.
Sakura dan Karin nampak marah pada Suigetsu yang mencampuri pertikaian mereka dengan mengatakan bahwa mereka berdua jelek. Jadi keduanya pun bekerja sama dan menghajar Suigetsu dengan kekuatan maksimal.
Pukulan Sakura dan Karin yang begitu mendadak mengakibatkan perubahan wujud Suigetsu menjadi air sedikit terlambat sehingga pukulan itu mengenainya ketika tubuhnya masih padat. Akibatnya Suigetsu terpental dan menghantam tembok. Tubuhnya pun mencair dan sesaat kemudian tubuhnya kembali memadat.
"Agh! Pukulan macam apa itu, tubuhku sampai terlambat berubah bentuk," katanya sambil meraba perutnya yang memar akibat terkena pukulan Sakura.
"Sakura! Karin! Sebaiknya kalian berdua beristirahat. Dengan adanya Suigetsu, kita bisa beristirahat dengan tenang. Aku juga mau tidur."
"Kalau Sasuke yang mengatakannya, baiklah. Aku akan tidur," ucap Karin.
Aku pun mulai berbaring di Kantong Tidur-ku. Sakura pun mendekatiku untuk tidur di sampingku karena Kantong Tidur-nya berada di sampingku. Namun tindakannya itu di cegah oleh karin.
"Kau mau apa mendekati Sasuke huh?" tanya karin sambil menahan tangannya.
"Aku mau tidur," kata Sakura.
"Tidak. Hanya aku yang boleh tidur di samping Sasuke," kata Karin sambil menarik Sakura ke belakang.
"Aku pacarnya! Jadi aku yang berhak tidur di sampingnya," ucap Sakura mengembalikan posisinya ke depan Karin.
Mereka pun terus menerus saling tarik menarik hingga mendekatiku. Aku benar-benar muak dengan pertikaian mereka ini. Aku pun memakai Rinnegan untuk bertukar posisi dengan Suigetsu yang saat itu sedang tidur cukup jauh dariku.
Melihat diriku berubah menjadi Suigetsu yang sedang tertidur membuat Sakura maupun Karin kaget luar biasa dan berhenti dari aktifitas tarik menarik itu seraya berteriak histeris.
"Loh! Kenapa aku bisa di sini?" tanya Suigetsu.
Jauh dari mereka bertiga, Aku kembali menggelar Kantong Tidur yang kebetulan aku bawa ketika berpindah posisi dengan Suigetsu. Aku benar-benar tak percaya bahwa mereka berdua membuatku memakai kekuatan Rinnegan untuk menghindari mereka agar tidak bertengkar terus menerus.
Aku pun melihat Tas milik karin yang berada tak jauh dari posisiku sekarang. Kemungkinan Suigetsu yang membawa tas itu ke sini untuk mengambil Kantong Tidurnya. Dan sekali lagi aku memakai Rinnegan untuk menukar posisi Suigetsu dan tas itu.
"Kalian berdua tidur di sana saja. Aku dan Suigetsu akan tidur di sini. Tolong jangan ribut lagi. Cobalah untuk mengakrabkan diri," ucapku lalu berbaring.
"Loh! Kok aku berpindah lagi!" seru Suigetsu yang kembali bingung.
Karin pun mengambil Kantong Tidur-nya dari dalam tas lalu menggelarnya sedikit lebih jauh dari Sakura. Sakura pun kembali mengatur ulang letak Kantong Tidur-nya menjauhi Karin.
Keadaan pun mulai sunyi. Sepertinya semuanya sudah tertidur atau baru akan tidur. Aku pun berpikir untuk tidur karena saat ini ada Karin yang memiliki kemampuan sensor untuk mendeteksi chakra asing bahkan ketika ia sedang tertidur.
==[][]==
Aku terbangun di pagi hari. Dari sini aku tidak bisa mengetahui apakah saat ini sudah benar-benar pagi atau masih gelap. Namun satu hal yang kutahu pasti adalah badai telah berhenti. Jadi untuk memastikan waktu, aku berjalan menuju pintu keluar. Kubuka pintu rahasia dari ruangan tersembunyi ini dengan beberapa segel dan mendapati sinar mentari telah menyinari hutan yang baru saja di guyur hujan.
Aku pun kembali masuk tanpa menutup pintu ruangan tersembunyi ini. Lagi pula tempat ini sebentar lagi akan di hancurkan jadi tidak ada gunanya menyembunyikan ruangan ini lagi. Dan juga sepertinya mereka bertiga yang masih tertidur itu harus mendapat pasokan oksigen segar langsung dari hutan.
Aku membuka tasku dan mengambil beberapa buah roti untukku makan sambil menunggu ketiga orang itu terbangun. Aku memang tidak begitu terburu-buru untuk pulang karena aku menunggu hutan kering terlebih dahulu agar kami lebih aman ketika berlari di hutan dan melompat dari dahan ke dahan.
Suigetsu pun terbangun ketika mendengarku sedang makan. "Apa sudah pagi?" tanyanya sambil mengambil tasnya. Ia mengorek tasnya namun tak mendapati apa yang ingin ia cari. "Loh! Benar juga, botol terakhir sudah kuhabiskan tadi malam," kata Suigetsu.
Aku menyodorkannya sebotol air. "Ini. Untuk kau," kataku lalu melanjutkan makanku lagi setelah ia menerima botol itu.
"Terima kasih Sasuke. Kau memang sudah sangat banyak berubah," katanya seraya meneguk air.
Tak lama kemudian, Sakura dan Karin pun terbangun. Mereka berdua pun segera membereskan perlengkapan tidur mereka. Berbeda dengan kami berdua yang lebih memilih sarapan terlebih dahulu.
"Suigetsu! Apa kau menghabiskan semua air kita?" tanya Karin dari jauh.
"Maaf! Aku khilaf," kata Suigetsu.
"Kurang ajar kau Suigetsu! Padahal dari malam aku belum minum," ucap Karin.
Aku melihat Sakura mengambil 2 botol dari tasnya dan menyerahkan satu botol pada Karin. Karin pun diam dan menerima botol air pemberian Sakura.
"Terima kasih, kau...umm." Karin nampak kebingungan untuk mengucap nama Sakura.
"Sakura. Haruno Sakura."
"Aku Karin."
Mereka berdua pun saling menjabat tangan untuk memperkenalkan diri dan tentu untuk mengakrabkan diri. Aku akhirnya bisa bernafas lega karena mereka berdua tidak lagi berselisih seperti semalam.
"Kalian berdua, makanlah. Setelah itu kita harus hancurkan tempat ini dan pergi ke tujuan kita masing-masing sebelum pasukan pelindung negara ini menyadari kita," ucapku.
:
:
:
Bersambung
Entah mau ngomong apa nih untuk pembukaan. Karena itu kita langsung ke intinya saja.
Untuk Chapter 3, author minta maaf jika pendeskripsiannya jelek dan pembawaan kurang enak di baca. Itu semua terjadi karena Author mempercepat alurnya agar mereka tiba di desa tanpa nama dan kembali ke desa Konoha.
Author tidak suka dengan cerita yang hanya menampilkan romansa dari awal hingga akhir jadi author memasukan bumbu seperti Humor (Walau ngak terlalu kerasa) genre Adventure. Namun untuk cerita ini, Author memakai genre romance sebagai genre utama.
Author sampai sekarang masih dalam tahap pengembangan diri agar cerita yang author hasilkan bisa lebih baik dari cerita author (Aku) yang sebelumnya. Jadi Komentar kalian itu sebenarnya sangat berarti untuk author (Saya)
Untuk Chapter 4 ini mungkin ada hal dalam cerita yang tidak sesuai fakta. Jadi jika kalian mengetahui mana hal dalam cerita yang tidak sesuai fakta bisa di beriktahukan pada saya di komentar.
Untuk pembaca yang pernah ngirim review kayak gini "Kakashi hokage keenam. Tapi ngak ngaruh juga" author bingung dan bimbang nih dengan penulisannya. Apa ini memberi tahu apakah peran kakashi di cerita tidak berpengaruh. Atau pembaca salah mentafsir gelar "Rokudaime" milik Kakashi yang artinya ke-enam.
Oke sekian, terima kasih telah membaca.
