Seminggu berlalu sejak hari itu, benjolan-benjolan di tubuh Jiyong tidak tampak membaik. Malah kelihatannya makin parah. Benjolan-benjolan di tubuhnya semakin gatal, dan Jiyong tidak tahan sehingga seringkali menggaruknya dengan keras. Akibat garukannya, timbul luka di benjolan itu, dan luka itu kemudian terinfeksi sampai-sampai mengeluarkan nanah. Jiyong tidak tahu harus berbuat apa. Dia sangat malu, bahkan menolak untuk keluar kamar meski Youngbae, Daesung dan Seungri sudah membujuknya dan mengatakan kalau dia tampak baik-baik saja. Terakhir kali Jiyong keluar untuk membeli rokok – yang mulai dia konsumsi sejak tiga hari yang lalu – beberapa orang gadis berseragam sekolah dan pemuda berbaju rapi berbisik-bisik sambil terus menatapnya dengan jijik. Jiyong berlari pulang bahkan sebelum dia sampai di swalayan mini yang dia tuju. Anggota YG Family yang lain juga menjauhinya, Jiyong bisa merasakan itu. Mereka tidak lagi berkunjung ke apartemen yang ditinggalinya bersama Daesung dan Seungri itu. Bahkan kedua member yang serumah dengannya menjaga jarak dengannya karena bisul-bisulnya mengeluarkan bau yang tidak enak. Jiyong tidak bisa ke studio tari untuk berlatih, dia tidak bisa ke studio untuk menyelesaikan detail rekaman, dia tidak bisa datang ke rapat-rapat dengan pejabat manajemennya, dan dia tidak bisa mengawasi jalannya rekaman para membernya untuk album baru mereka. Dan Seunghyun. Jiyong belum sekalipun melihat Seunghyun semenjak hari itu. Anggota tertua Big Bang itu belum mengunjunginya sekalipun. Biasanya Seunghyun adalah orang yang paling cepat panik kalau sesuatu terjadi pada leadernya, dan selalu memberi perhatian yang berlebihan pada pemuda yang setahun lebih muda darinya itu, bahkan ketika Jiyong merasa tidak ada yang perlu Seunghyun khawatirkan. Seunghyun juga sering melakukan gestur-gestur yang tanpa Jiyong sadari sangat dia rindukan. Gestur-gestur sederhana seperti mengacak rambut Jiyong, menyuruhnya tidur, mengingatkannya agar tidak lupa makan, mengacungkan ibu jarinya sambil memuji Jiyong, yang biasanya Jiyong balas dengan "ck, jangan buat rambutku berantakan" atau "apa sih, aku kan bukan anak kecil". Dan sekarang tanpa Seunghyun melakukan hal-hal itu padanya, tidak salah kalau Jiyong merasa sangat merindukan satu-satunya Hyungnya di bandnya itu.
"Bagaimana kabar Jiyong?"
Seunghyun duduk di pojokan restoran mewah itu sambil memegang gelas tinggi yang berisi wine putih di antara jari-jarinya, sementara di hadapannya duduk Youngbae yang tengah menyeruput teh lychee dinginnya. Tempat makan ini terletak tidak jauh dari gedung dormitori mereka, Mereka suka sekali ke sini karena suasananya yang bergaya 70-an itu sangat nyaman, tidak terlalu banyak fans yang suka mengerubungi restoran ini karena keamanannya yang ketat, dan rasa makanan dan minumannya sangat cocok dengan lidah para member Big Bang.
Youngbae mendongak ketika mendengar pertanyaan Seunghyun. "Kau masih peduli padanya?"
"T-tentu saja," jawab Seunghyun dengan gugup. Dia tahu, tidak ada nada marah di pertanyaan Youngbae. Dia terdengar benar-benar terkejut.
"A-ah, bukan maksudku seperti itu, Seunghyun," Youngbae menyadari kegugupan Seunghyun. Dia melepas sedotan dari mulutnya, lalu bersandar ke kursinya seraya menghela nafas. "Setelah semua yang dia katakan padamu malam itu, kau.. masih peduli?"
"Memangnya kau dengar percakapan kami malam itu?"
Dengan sedikit merona Youngbae mengangguk, menundukkan kepalanya. Bukan salahnya sebenarnya. Seunghyun dan Jiyong berbicara cukup keras, sehingga Youngbae yang sedang berjalan ke kamar mandi mendengar beberapa bagian percakapan itu.
"Aku pikir kau tidak peduli lagi padanya. Kau tidak pernah datang, Hyung."
"Youngbae, dia bilang aku menjijikan." Mengingat apa yang Jiyong katakan padanya masih sangat menyakitkan untuk Seunghyun. Dia tidak melupakan satupun kata yang Jiyong ucapkan malam itu. Seperti ditembak dengan sebuah pistol oleh Jiyong, bekas lukanya tidak bisa hilang. Memang Jiyong sering berbicara seperti itu, dia memang punya mulut yang tidak sopan, tapi tetap saja perkataannya malam itu keterlaluan.
"Hyung.. kau tahu dia tidak bermaksud buruk. Kau tahu bukan itu maksudnya."
Youngbae – pikir Seunghyun sambil menghela nafas – selalu sahabat semua orang. Youngbae selalu berusaha mencari sisi positif dari setiap kejadian, dan selalu berusaha mendamaikan rekan-rekan setimnya yang sedang ribut. Dia tidak suka perselisihan, tapi ya, memang sikapnya itu terkadang membuat orang sebal. Sekarang Seunghyun mengerti kenapa Seungri begitu kesal tiap kali dirinya membela Jiyong meskipun leadernya itu yang salah.
"Dia.. bisul di tubuhnya makin banyak, Hyung," Youngbae menjelaskan. "Terutama di wajahnya. Sepertinya sebagian terinfeksi juga, dan nanah yang keluar dari bisul itu bau sekali. Dia tidak pernah mengganti seprainya, dan juga tidak membersihkan kamarnya, Dia tidak mengizinkan bibi pembersih masuk, bahkan tidak memperbolehkan aku atau Daesung membereskan kamarnya. Aku rasa itu memperparah kondisi bisul-bisulnya. Karena kamarnya yang kotor. Dia juga tidak bisa ke studio untuk latihan atau rekaman, aku.. aku khawatir dengan nasib comeback kita, Hyung."
Sesaat Seunghyun tidak menjawab. Dia begitu terkejut mendengar keadaan Jiyong dari Youngbae barusan. Seunghyun tidak tahu kalau keadaannya separah ini. Ini tidak baik. Tidak baik untuk Jiyong, Tidak baik untuk Big Bang.
"Aku lebih memikirkan bagaimana kita menyembunyikan keadaan ini dari fans. Kalau Jiyong tidak sembuh-sembuh, dan dia tidak muncul di hadapan publik terlalu lama, banyak pertanyaan dan rumor akan muncul."
"Aku tahu~," Youngbae melepas topi yang dia pakai dan mengacak-acak rambutnya sendiri. "Dia tidak bisa selamanya bersembunyi. Tapi.. kelihatannya tidak ada tanda-tanda dia akan sembuh dalam waktu dekat. Terlalu banyak bisul, mereka terus bertambah, Hyung."
"Apa dia sudah ke dokter? Mengkonsumsi obat?"
Youngbae mengangguk, maju sedikit untuk menyedot tehnya sebelum melanjutkan, "Tapi tetap saja. Dia tampak sangat tertekan, dia tidak mau orang-orang melihat dirinya dan berbicara buruk tentangnya. Tapi.. aku dengar kau ikut rapat kemarin?"
"Mmhm," Hyung tertua Big Bang ini mengangguk. Dia menaruh gelasnya di meja, lalu kembali bersandar dengan anggun. Terkadang Youngbae bingung bagaimana leadernya yang canggung dan teledor ini bisa bergerak dengan anggun dan elegan di saat-saat tertentu. "Sajangnim sudah memutuskan bahwa kita harus menunda comeback kita, Sebagai gantinya Seungri akan mengeluarkan digital single solo tanpa promosi sampai Jiyong sembuh. Aku pikir kalian sudah tahu berita ini dari manajer Hyung?"
Youngbae mengangguk, "Tapi Jiyong belum diberi tahu. Dia tidak akan menyukai berita ini."
"Kita semua tidak menyukai berita ini, Bae. Aku yakin kau benci keadaan ini juga," Youngbae mengangguk mendengar pertanyaan Seunghyun. Comeback mereka ini sudah dipersiapkan selama 2 tahun lebih, dan mereka tahu fans juga sudah sangat mengantisipasi comeback mereka kali ini. Mendengar berita mereka harus menunda comeback lagi sampai waktu yang tidak ditentukan, para member Big Bang ini sangat kecewa. "Seungri bahkan sempat membuat keributan karena tidak setuju ketika mendengar keputusan ini, tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah jalan keluar yang terbaik."
Youngbae dan Seunghyun sama-sama menghela nafas panjang dan membuangnya. Lalu tertawa sendiri menyadari kekompakan mereka.
"Kkeun Hyung datanglah ke dorm kami dan tengoklah Jiyong," Youngbae tiba-tiba berkata setelah selama beberapa detik tidak ada di antara mereka yang bicara. "Aku tahu sebenarnya dia ingin kau ada di sana, seperti biasanya, untuk merawatnya. Kau kan sahabatnya yang paling dekat. Shish, kalau Jiyong tidak memacari Kiko aku pasti menyangka kalian ini saling mencintai."
Seunghyun hampir menyemburkan wine yang baru saja dia sesap ketika mendengar perkataan Youngbae. Dengan terbatuk-batuk dia mengusap mulutnya. "A-apa kau bilang?"
"Ayolaaah," Youngbae tertawa, dengan reflex tangannya mengambil tisu di meja dan membantu Seunghyun mengelap mulutnya. "Kau tahu maksudku. Kau dan Jiyong tidak pernah jauh dari satu sama lain. Kau satu-satunya yang tahan dengan sifat Jiyong, maksudku benar-benar tahan dan tidak pernah membalas. Dan meskipun aku lihat omongannya padamu seringkali lebih kejam daripada apa yang dia lontarkan pada kami, aku bisa lihat dia sebenarnya sangat peduli dan sayang padamu."
"Well, aku.." Seunghyun berusaha menjelaskan pada Youngbae alasan ketidak berdayaannya di hadapan Jiyong tanpa membocorkan perasaan terlarangnya terhadap sahabatnya itu. "Aku dan Jiyong kenal jauh sebelum kami trainee di YG, bahkan sebelum dia mengenalmu,Bae. Aku pikir kau tahu itu? Jadi.. aku rasa aku hanya sudah terbiasa. Kami sudah biasa dengan sifat satu sama lain."
"NAH!" Youngbae menjentikkan jarinya di hadapan Seunghyun, membuat pemuda berambut hitam legam itu mengerjapkan matanya karena kaget. "Mungkin Jiyong bertingkah aneh sekarang karena kau tidak mengunjunginya selama seminggu! Dia sangat terbiasa denganmu selalu ada di dekatnya, dan tiba-tiba kau menghilang begini tanpa kabar."
Seunghyun hanya terkekeh, menggelengkan kepalanya dengan geli. Mungkin benar kalau Youngbae bilang Seunghyun-lah yang merasa begitu. Tapi kalau Jiyong yang merasa kehilangan Seunghyun.. dirinya sendiri tidak yakin. Sebenarnya dia sangat ingin melihat keadaan Jiyong, dia merindukan Jiyong. Tapi Seunghyun tidak yakin hatinya akan sanggup menahan kepedihan tiap Jiyong menginjak-injak ketulusan cinta dan perhatiannya pada pemuda itu.
Pada akhirnya, Seunghyun setuju untuk ikut ke apartemen Jiyong. Meskipun jika nanti Jiyong tidak menerimanya, dan menendangnya keluar dari tempat tinggalnya, yang penting Seunghyun sudah lihat keadaan sahabatnya itu dengan mata kepalanya sendiri. Begitu turun dari lift di lantai di mana apartemen Jiyong, Daesung dan Seungri berada, mereka disambut dengan pemandangan yang mengejutkan. Youngbae dan Seunghyun sama-sama terkejut melihat Daesung dan Seungri yang terpaku di lorong gedung itu, sementara di dalam apartemen, Jiyong sedang berteriak marah.
"Dae! Seungri!"
Keduanya menoleh mendengar Youngbae memanggil nama mereka. Wajah Seungri yang tadinya suram dan cemberut langsung cerah ketika melihat siapa yang ada di belakang Youngbae, dia setengah berlari menyambut Seunghyun dan memeluk Hyungnya itu.
"Seunghyun Hyung! Aku sudah lama sekali tidak bertemu denganmu!"
"Mwo?" Seunghyun tertawa mendengar nada manja Seungri itu. "Kita baru saja bertemu di rapat kemarin," katanya sambil balas memeluk Seungri. Dia juga memeluk Daesung sekilas, tertawa ketika melihat wajah member yang kata fans paling dekat dengan dirinya itu masih cemberut. "Ada apa ini?"
"Ck! Jiyong Hyung itu!" Seungri berseru kesal. Seunghyun yang sudah melepaskan pelukannya dengan Seungri dan sedang merangkul pinggang pemuda yang lebih muda darinya itu masih tampak bingung. Dia beradu pandang dengan Youngbae, yang mengangkat bahunya dengan bingung sebelum menoleh pada Daesung.
"Kenapa dengan Jiyong?"
"Kau bicaralah padanya, Youngbae Hyung! Kau juga, Kkeun Hyung! Aku sudah tidak kuat. Dia—"
Belum selesai maknae itu berbicara, tampak sebuah koper besar dilempar ke lorong tempat keempat member Big Bang itu sedang berdiri.
"Ini! Sudah kuisi dengan barang-barang penting kalian! Cepat ambil tasnya dan keluar dari sini, dasar berengsek!" suara Jiyong bergaung di seantero lorong apartemen itu. "Pergi dan jangan kem—" ucapan Jiyong terputus. Umpatan dan makian yang sudah dia siapkan di kepalanya untuk Daesung dan Seungri seketika menguap melihat siapa yang berdiri di hadapannya ini.
"S-Seunghyun Hyung?" Jiyong menggelengkan kepalanya dengan keras. Apakah dia sedang berhalusinasi? Apa yang berdiri di depan pintu apartemen mereka ini benar-benar Seunghyun? Seunghyun tampak sedikit kurus, tapi tidak mengurangi ketampanannya, dan—tidak tidak, Jiyong menggelengkan kepalanya. Stop berpikir seperti itu, Ji, dia memperingatkan dirinya sendiri.
Seunghyun, dengan sebelah lengannya masih melingkar di bahu Seungri, tersenyum kecil. "Jiyongie," dengan suara nyaris berbisik, Seunghyun membalas sapaan Jiyong. Dia tidak mempercayai matanya. Dia pikir Youngbae melebih-lebihkan ketika tadi dia sedang bercerita tentang keadaan Jiyong, tapi setelah melihatnya dengan matanya sendiri.. Jiyong. Jiyongnya yang tampan, Jiyongnya yang imut dan awet muda, Jiyong yang kulitnya selalu bersih dan mulus tanpa perawatan sekalipun, sekarang wajahnya dipenuhi benjolan-benjolan bisul yang bernanah. Lengan dan kakinya yang tidak tertutup t-shirt dan celana pendeknya juga dipenuhi bisul itu. Seunghyun bisa mencium betapa tidak enaknya bau tubuh Jiyong dari jarak jauh. Seunghyun merasa mual mencium bau itu. Baunya seperti susu basi, atau apapun yang basi, bahkan Seunghyun kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan bau tidak enak itu.
Seunghyun kembali ke dunia nyata ketika mendengar Jiyong memukul koper yang baru saja dilemparnya keluar apartemen. Wajah Jiyong yang tadi sempat melembut, sekarang kembali cemberut. "Ini! Barang kalian berlima sudah kumasukkan semua ke sini! Kalau ada yang kurang silahkan ambil sendiri! Kalian tidak perlu repot-repot, aku bisa hidup sendiri tanpa kalian!"
"Ada apa sih ini?" Youngbae bertanya sebelum Seungri sempat balas membentak Jiyong. "Kau mengusir mereka, Lu?"
"Tidak!" Jiyong berseru marah pada Youngbae, yang tampak terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Jiyong. "Mereka berdua.. mereka ingin pergi. Mereka boleh pergi, aku tidak peduli."
"Jiyongie Hyung, bagaimana aku.. kami bisa tetap tinggal di sini kalau kau terus menutup diri dari kami dan tidak membiarkan kami membantumu?"
Pernyataan Daesung dijawab Jiyong dengan sebuah tatapan tajam. "Jangan pura-pura kau. Kau, kalian semua.. aku tahu kalian tidak ingin dekat-dekat denganku. Aku tahu kalian jijik padaku."
"Hyung!" Daesung nyaris menangis mendengar perkataan Jiyong. Itu tidak benar. Memang dia dan yang lain sedikit takut pada keadaan Jiyong, takut kalau nanti mereka akan tertular, tapi toh mereka berusaha mengabaikan kemungkinan itu. Dia selalu menawarkan diri untuk membantu Jiyong mengoles salep obatnya ke tubuhnya, atau membantu menggosok punggungnya saat mandi, tapi Jiyong menolaknya. Menolak mereka semua. Bahkan menolak orangtuanya. Di saat seperti ini, Daesung bertanya-tanya ke mana gadis pujaan Jiyong yang selalu dibanggakannya itu? Yang katanya begitu mencintai Jiyong dalam susah atau senang? Sejak awal Daesung dan member Big Bang yang lain tahu, Kiko tidak mencintai Jiyong. Gadis itu tidak pantas mendapatkan cinta Jiyong Hyungnya.
"Jiyong.." Youngbae maju satu langkah, berusaha menenangkan Jiyong. "Jangan lakukan ini. Jangan usir mereka. Jangan usir aku. Biarkan kami membantumu."
"Apa yang bisa kalian lakukan? Ha? Apa yang bisa kau lakukan, Youngbae?" Seunghyun bisa melihat Jiyong menarik nafas dengan sedikit gemetar. Tiba-tiba pemuda kasar di depannya itu tampak seperti Jiyong yang dia kenal dulu, jauh sebelum training, jauh sebelum debut. Lugu. Polos. Hilang. "Aku sudah dengar dari manajer Hyung. Aku bangga pada maknae," katanya sambil menoleh pada Seungri yang sudah berlinang airmata di rangkulan Seunghyun. "Aku.. Tidak apa-apa comeback kita ditunda sebulan, dua bulan. Tapi.. apa yang terjadi kalau.. ini—" dia menunjuk wajahnya, "—tidak hilang untuk selamanya? Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan Big Bang?"
"Jiyong.."
"Hyung…" Seungri membalikkan tubuhnya, membenamkan wajahnya di bahu Seunghyun yang mengelus punggungnya dengan lembut, sementara Daesung masih melihat Jiyong dengan tatapan sedih. Seunghyun tahu, di dalam hatinya, Daesung kasihan pada Jiyong. Bocah itu sangat mengidolakan dan dekat dengan Jiyong dan Seunghyun tahu melihat Jiyong seperti ini menyakitinya juga.
"Tsk, tidak ada gunanya. Omong kosong semua ini," tiba-tiba topeng Jiyong kembali dipasang. Terkadang para member Big Bang curiga Jiyong mengidap penyakit bipolar. Moodnya dan perilakunya berubah begitu cepat. "Pergi dari sini, kalian semua. Jangan ganggu aku."
Semua terpaku menyaksikan perubahan mood Jiyong yang drastis, tapi Seunghyun bereaksi dengan cepat. Dia menahan pintu apartemen yang sudah nyaris tertutup. Berusaha tidak muntah mencium bau Jiyong yang sudah menyebar di dorm mereka ini, Seunghyun mendorong pintu sampai kembali terbuka. Dia mengabaikan wajah shock Jiyong, berbalik memunggunginya dan berdiri menghadap ke rekan-rekannya.
"Hyung?"
"Hyung apa yang kau lakukan?" Seunghyun mendengar Jiyong bertanya di belakangnya. Hanya Youngbae yang tampak sudah mengerti maksud Seunghyun dan tidak komentar apa-apa.
"Seungri, Daesung, kalian bisa pakai kamarku di apartemenku. Youngbae Hyung," Seunghyun beralih pada pemuda paling bijak di grup mereka ini, "Tolong bantu keduanya koordinir dengan para manajer yang memakai kamarku, jelaskan situasinya pada mereka—"
"CHOI SEUNGHYUN! Apa-apaan sih?"
Seunghyun menoleh pada Jiyong yang barusan memotong perkataannya. Seketika Jiyong terdiam. Meskipun Seunghyun bukan seorang leader, tapi bagaimanapun dia adalah yang tertua di antara mereka. Sejak dulu Jiyong sudah menghormati Hyungnya, tidak pernah ada satu masapun di mana Jiyong meragukan kewibawaan Seunghyun. Meskipun Jiyong tampak masih ingin melawan, semua tahu dalam hatinya leader mereka ini sudah kalah.
"Jelaskan pada mereka apa yang terjadi," Seunghyun melanjutkan. "Aku yakin mereka akan mengerti. Kalian tidak usah khawatir, aku akan tinggal di sini dan menjaga Jiyong."
"Jangan main-main denganku, brengsek," Jiyong berkata pelan. Dia tahu tidak seorang pun akan tahan berada di dekatnya selama beberapa jam, apalagi untuk tinggal dan mengurusnya. Tapi Jiyong ingin lihat seberapa kuat keinginan Seunghyun untuk 'menjaga'nya. "Aku tidak boleh keluar rumah sedikitpun, selama 24/7. Dan kau, Seunghyun.. kalau kau menjagaku, kau juga harus berada bersamaku 24/7."
"Jiyong, biarkan Seunghyun membantumu," Youngbae berkata dengan lembut.
"Membantuku? Cih," Jiyong mendengus, membuat Seunghyun akhirnya membalikkan badannya menghadap Jiyong, dan menatap lurus-lurus ke dalam mata Jiyong.
"Aku akan merawatmu, Ji."
Panggilan itu, Jiyong merasa jantungnya diremas. Seunghyun sudah lama tidak memanggilnya dengan panggilan pendek itu. Seunghyun sempat memanggilnya dengan nama kecil itu beberapa malam lalu, tapi Jiyong sudah terlalu marah, terlalu bingung untuk menyadarinya. Dan ketika Seunghyun memanggilnya kali ini, Jiyong mendengarnya, dan ribuan kupu-kupu menari di dalam perut Jiyong mendengarnya.
"I'll stay."
a/n
Chapter 3! Review juseyo~!
Thanks dumb-baby-lion. Yup, ini pasti GTOP kok. Terimakasih sudah review yaaa. Keep reading. See you next chapter! ^^
