"Selamat datang di Le Café!"
Kaito, cleaning service, entah dapat dosa apa harus jadi penyambut tamu di pintu depan.
[ 4 ]
WELCOME TO LE CAFÉ!
By Shintaro Arisa-chan (Id 5031728)
Hatsune Miku, Hatsune Mikuo & KAITO
Hatsune Mikuo sudah lama kerja di coffee shop bernama Le Café itu. Apalagi dia masuk bersama dengan satu adik kelasnya di universitas 5 tahun yang lalu.
Jadi, ibarat kata, Kaito sama Mikuo itu udah jadi pekerja lama, siap pensiun sebentar lagi kalau resume pekerjaan mereka diterima.
Doain, jangan? Mending nggak usah. Karena selain kopi dan cemilan enak yang disajikan, pelayanan memuaskan dan berkompeten, kalau mereka keluar, berkurang sudah ikemen di café ini.
Mikuo yang baru selesai nganterin pesanan, segera kembali ke ruangan yang bertuliskan 'STAFF ONLY' yang dihuni bersama dengan pegawai lain, salah satunya Kaito.
"Kai, kenapa lu nggak pernah mau ngadepin pelanggan?" Mikuo, entah untuk ke berapa ratus kalinya, bertanya pada Kaito soal alasan mengapa Kaito tidak mau menghadapi pelanggan.
"Hah? Nggak ada alasan khusus," jawab Kaito sambil nyapu.
"Daripada lu kayak ikan sapu-sapu di sini, mending jaga pintu sana."
"Ih, 'kan, gue cleaning service!"
"Terus kenapa? Inget, kudu senyum!" Mikuo mengusir Kaito dari stasiunnya.
Kaito terdorong dan sapunya ditarik. Mikuo memasangkannya apron dan memberikannya sapunya lagi.
"Ganbatte!"
Kaito membalas dengan menatap Mikuo tajam.
Akhirnya, Kaito terjebak di dekat pintu masuk.
Baru sebentar dia berdiri, ada seorang gadis berambut hitam panjang dengan pakaian serba hitam yang misterius.
"Selamat datang di Le Café!" sambut Kaito. Gadis itu menunduk dalam.
'Gadis mencurigakan,' pikir Kaito.
PRANGG!
"Kai, ada yang tumpah!" teriak Mikuo dari sudut ruangan.
"Ha'i!" Kaito keluar dari podium penyambutan tamu, akhirnya, dan kembali melakukan pekerjaannya. Bersih-bersih.
Dia mengambil peralatan kebersihannya di belakang dan pergi ke meja yang ditunjuk Mikuo.
"Whoa, Miku-chan? Daijoubu, ka?!"
Gadis berambut toska yang rambutnya digelung ke belakang dengan tampang kusut dan pucat yang sangat dikenalinya sebagai adik perempuan dari Mikuo itu, tersenyum lemah pada Kaito.
Meja yang ditempatinya, sudah berantakan dengan tumpahan kopi, ponselnya dengan layar retak dan basah oleh kopi, wig hitam panjang yang juga tersiram kopi, dan lantainya berserakan pecahan gelas.
Kaito membersihkan mejanya terlebih dahulu.
"A-akan kuganti. Ma-maaf, barusan aku kelepasan. Perangaiku su-sulit diu-ubah. Hahaha," Miku memaksakan tawa dan senyumnya.
Kaito curiga. Jomblo-jomblo gini juga, Kaito peka sama cewek.
"Uhm, Miku, kau boleh pindah ke meja sebelah sana," perintah Kaito halus sambil menunjuk satu meja. "Urusan ganti mengganti, gampang. Serahkan saja pada Mikuo."
"Ma-makasih, Kaito. Jangan kasih tahu Mikuo-nii kalau aku disini, 'ya?"
Kaito mengangguk.
"Beritahu dulu alasannya,"
"Abang gue,'kan, dicurigai siscon."
Kaito berpikir. Pasti masalahnya sangat serius sampai-sampai Miku ingin menyembunyikannya dari Mikuo.
Miku pindah dan membenamkan wajahnya pada tas tangannya. Bahunya bergetar dan Kaito mendengar, meskipun riuh ramainya café, suara isakan.
Kaito mengumpulkan pecahan gelas tersebut dan membersihkan meja sebersih-bersihnya. Ah, dia menemukan foto yang sudah terbagi dua. Dia mengeringkan foto itu dari tumpahan kopi dan menyakuinya.
Kaito mengembalikan peralatan kebersihannya.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
[HatsuMikuo :
KAI, JAM GANTI SHIFT SUDAH TIBA!]
Dia masuk ke ruang staf dan mengganti bajunya.
"Mau kemana, lu?" tanya Mikuo sambil melepas apronnya.
"Tadi Miku SMS," Kaito menggantung apronnya. Dia segera mencopot kemeja kerjanya dengan t-shirt biru-biru dan melapisnya lagi dengan kemeja hitam.
"Hah?"
"Katanya, barusan hape lu nggak bisa bisa dihubungin. Dia lagi di jalan mau ke sini. Lu disuruh nungguin di stasiun." Kaito melingkarkan syal biru kesayangannya pada lehernya.
"Serius?"
"Ngapain juga bohong."
Mikuo langsung mengambil jaketnya dan minta izin sama manager untuk pulang duluan.
Kaito menyeringai. Dari zaman Kaito pertama kali kenal Mikuo, Mikuo itu gampang banget dikibulin.
Ih, Kaito, awas kena karmanya, lho.
Kaito kembali mengunjungi Miku dengan nampan berisi dua gelas ice blend vanilla latté yang barusan dipesannya.
"Miku-chan?"
Miku mengangkat wajahnya dan buru-buru menghapus air matanya.
"Ha-hai, Kaito," jawab Miku serak.
Kaito duduk dihadapan Miku dan menyodorkan satu dari dua gelas ice blend vanilla latté kesukaannya.
-Kaito licik. Biar seandainya Miku nggak mau sama minumannya, dia bisa minum dengan alibi mubazir. Amit-amit.
"Kau kenapa?" tanya Kaito sambil menyedot minumannya.
"Nggak apa-apa, kok," jawab Miku sambil mengambil gelas ice blend-nya.
"Bohong."
"Ng-nggak, kok! Serius!"
"Bohong-PREPPP!" Kaito menyedot ice blend dari permukaannya untuk menciptakan bunyi memalukan yang biasa dilakukan anak kecil.
"Siapa yang bohong?!"
"Kau. Masa' aku?"
"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Aku tidak mengkhawatirkanmu, cuma kasian doang."
JLEB.
"Jadi, ada masalah apa?"
"Hm?"
"Kau pasti ada masalah sampai-sampai dari Kyoto ke sini nyamar kayak mafia penjual senjata illegal."
"Nggak ada masalah apa-apa, kok."
"Aku telepon Mikuo aja?"
Kaito mengancam.
"Ja-jangan!"
"Makanya cerita," Kaito menuntut.
"Seandainya aku cerita, memang apa untungnya bagimu?"
"Hmm," Kaito berpikir. "Nggak ada, sih. Tapi asal tahu saja, kalau kau menceritakan masalahmu pada orang lain, kau akan meringankan beban psikismu."
Kaito mendadak jadi psikolog.
"Jadi, begini—"
"Kau baru putus, 'kan?" potong Kaito.
"Kenapa kau bisa tahu?!"
"Aku, 'kan, liat foto ini di meja." Kaito mengeluarkan satu lembar foto yang disobek menjadi dua bagian. Satu bagian dari foto itu ada foto si mantan pacar Miku yang sudah dicoret-coret oleh spidol permanen.
"Kau sudah tahu, 'kan? Aku baru putus. Puas?"
"Lalu, kenapa singgah ke sini sampai memecahkan satu gelas, satu piring, satu handphone, dan merusak satu wig untuk cosplay? Menghancurkan satu barang lagi, kau akan dapat free ice blend cappucino."
"Cih, niatnya aku mau curhat tapi kau malah bikin aku tambah sakit hati. Aku pergi dulu, masalah barusan, kau saja yang bayar. Jaa."
Miku berdiri dan Kaito menahan tangannya. "Mau kemana? Buru-buru amat. Duduk dulu."
Kaito mendudukkan Miku di kursinya lagi.
"Sekarang cerita."
Miku menghela napas.
"Awas kalau kau komentar yang aneh-aneh."
"Iya, bawel."
"Jangan kasih tahu Mikuo-nii."
"Iya, nggak akan."
"Sumpah?"
"Iya!"
"Gue punya pacar. Dulu sepermainan waktu SMA. Dia selalu ada buat gue seandainya gue butuh, nggak kayak kalian."
Kalimat Miku udah kayak lirik lagu.
Kaito enteng menyeruput minumannya macam bocah saat pegawai lain yang baru aplus sudah memandang horror pada Kaito.
"Gue sama dia beda jurusan. Gue ngambil kimia, dia ngambil ekonomi. Nah, tahun kemaren, kita jadian. Gue juga udah lama suka sama dia, lu pasti tahu siapa orangnya. Sebulan yang lalu, gue tahu busuknya dia. Gue baru tahu kalau ternyata dia masih punya perasaan sama temen cewek gue.
"Waktu itu gue nggak sengaja mergokin temen gue bilang, 'sayang', ke cowok gue. Gue panas, tapi gue diemin aja. Gue sempet marah. Jelaslah!
"Gue juga suka ngasih bento ke dia, tapi selalu dibalikin! 'Kan, sakit! Gue masukkin bento-nya ke tas, dibalikkin lagi! Sementara kalau temen gue ngasih makanan, pasti langsung dimakan! Maksudnya apa coba?!"
"Uhm, Miku, interupsi," Kaito menyanggah. "Mempertimbangkan faktor keselamatan, wajar dong dia balikin. Masakan lu pernah dua kali bikin gue diare tiga hari."
Ingin Miku melempar minumannya pada Kaito.
Iya sih, Miku inget. Bagaimana menderitanya Kaito yang pernah diare tiga hari gara-gara makan bento buatan Miku. Yah, dosa Kaito juga sih, seenaknya rebut makanan orang. Orang tadinya bento itu mau dikasih ke kecengan Miku, seenaknya direbut. Dua kali lagi.
Sampai Miku pikir kalau Kaito masokis. Udah tahu beracun masih dimakan. Alasannya, mubazir atau lapar.
Tapi, Kaito kapok, makan bekal yang dibuat Miku.
"Ta-tapi aku nggak pernah keracunan makan makanan buatanku sendiri. Mikuo-nii juga!"
"Bohong. Mikuo pernah muntah-muntah sampai harus kuantar sampai rumah gara-gara lemas. Untung gue berhasil nemuin dia! Dia terkapar di lantai toilet kampus kayak orang mati!"
Check mate. Miku sudah tak bisa mengelak lagi. Miku nggak tahu kalau abangnya juga udah korban.
"U-udah, ah! Jangan bahas masakanku lagi!" Miku memalingkan wajahnya. "Terus, saat gue tanya, apa hubungan dia sama temen cewek gue, dia jawab cuma sahabat. Okelah, nggak masalah.
"Beberapa jam setelah gue bertanya soal hubungan dia sama temen cewek gue, gue mergokin mereka lagi makan berdua di cafétaria kampus,"
Kaito menatap Miku sambil menyedot ice blend-nya nafsu. Kesel juga lama-lama denger cerita Miku. Cowok sampah gitu, kenapa busuknya baru ketahuan waktu udah lama jadian?!
"Terus, cewek itu juga tahu lebih banyak soal cowok gue. Gue tambah panas. Sayang, gue nggak bisa nabok dia. Terlalu sakit.
"Akhirnya, tadi pagi kita putus, gue yang mutusin,sih, dan gue buru-buru ke sini, mau cerita soal ini ke elu, terutama."
"Mmhm," Kaito menggumam.
Ponsel Kaito berdering. Sebuah telepon dari Mikuo. Mampus.
Tanggung jawab, Kaito. Lu udah nyelundupin Miku 45 menit dan lu harus tanggung jawab!
Dengan ragu Kaito mereject panggilan tersebut.
"Miku, ceritanya lanjut lain kali aja. Abang lu udah nungguin. Ayo, gue bawa lu ke pinggir stasiun."
Miku mengangguk dan menarik tas tangannya. Kaito menarik tangan Miku dan mengajaknya sprint.
Di depan stasiun, dia melihat Mikuo yang sedang menunggu seperti orang kesal.
Kaito menarik dirinya bersama Miku untuk bersembunyi di samping vending machine.
Kaito mengambil ponselnya dan menelepon Mikuo.
"Mikuo, udah ketemu si Miku belum?" tanya Kaito setelah panggilan terhubung.
[Belum. Handphone-nya juga nggak bisa dihubungin!]
"Seriusan? Periksa dulu yang bener! Coba cari di sekitar peron!"
[I-iya sih. Oke deh, gue cari dia dulu. Jaa!]
Panggilan terputus. Kaito mencuri pandang lagi ke arah tempat Mikuo berdiri dan makhluk itu sudah lenyap dari sana.
"Nih," Kaito memberikan sapu tangannya pada Miku. "Muka lu cemong. Susul sana abang lu. Gue tinggal disini, 'ya?"
Miku tersenyum. "Thanks."
Kaito menepuk bahu Miku. "Cowok nggak cuma satu di dunia ini. Jangan stress, gara-gara putus doang. Lagian lu bijak mutusin dia. Dia ngeduain elu."
Miku tersenyum. "Makasih udah dengerin masalah gue, Kai."
"Nggak masalah. Kalau ada apa-apa dateng aja ke café. Gue kerja dari pagi sampe sore,"
Miku mengangguk dan menundukkan wajahnya. "Jadi, sampai besok?"
"Kau mau datang lagi?"
"Mungkin."
"Datang, ya! Sa-sana! Susul Mikuo." Kaito mendorong-dorong Miku.
"I-iya! Ja-jaa nee!"
Miku berlari sambil melambaikan tangannya pada Kaito. Kaito membalasnya dengan kikuk.
Setelah Miku dipastikan sudah masuk stasiun, Kaito memilih kembali ke café.
Keesokan harinya, Kaito beraktivitas seperti biasa.
Kalau jam sibuk, dia bisa bantu-bantu jadi pelayan sambil bersih-bersih.
Seperti sekarang, setelah mengantarkan pesanan, dia langsung lari ke meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan. Dia mengambil gelas dan piring tatakan kue yang kotor ke atas baki lalu membersihkan mejanya dari tumpahan kopi atau remah kue. Itu juga yang dilakukannya di lantai dua.
Dia keluar menuju smoking area, alias teras, dan mulai bersih-bersih lagi di sana. Dia mengosongkan asbak rokok, mengangkat gelas dan piring kotor, dan terakhir membersihkan mejanya.
Setelah café agak kosong, dia mulai membersihkan lantai secara keseluruhan.
Pintu café terbuka.
"Selamat datang di Le Café!" Kaito yang sedang membersihkan pintu depan, menyambut pelanggan yang datang.
"Hai, Kaito!" balas si pengunjung, Hatsune Miku.
"Mi-Miku!"
Miku tertawa. "Aku akan memesan dulu,"
"Silahkan saja."
Miku tertawa. Dia menepuk bahu Kaito dan meninggalkannya menuju coffee bar untuk memesan.
"Ini pesannya, Miku," Mikuo, yang kebetulan mengantar pesanan Miku, berucap dengan nada datar.
"Nii-san, minta password Wi-Fi."
"Nggak ada."
"Tapi ada pass-nya!"
Miku menunjukkan layar ponselnya.
"Huft," Mikuo mulai membisiki Miku password Wi-Fi-nya. "Password-nya, nama café ini."
"Makasih! Sana kembali bekerja!"
Mikuo memutar tumit dan kembali untuk mengantar pesanan.
Miku bersantai sambil menikmati kopi dan Wi-Fi gratisannya dan Kaito masih terus bekerja.
Seorang wanita dengan seorang anak kecil masuk.
"Selamat datang di Le Café!" Kaito masih saja menyambut pelanggan masuk.
Wanita itu masuk dan menduduki satu meja dekat Miku.
Wanita itu duduk di dekat meja Miku dan menyuruh anaknya duduk dengan kasar.
Miku terusik. Dia nggak suka dengan cara wanita itu memperlakukan anaknya.
Wanita itu memanggil pelayan dan Mikuo muncul.
Miku mencuri dengar pesanan wanita itu.
'Anaknya nggak dijajanin apa-apa?!' pikir Miku.
Pesanan datang dan wanita itu masuk dengan dunianya sendiri, dunia media sosial.
Miku jengkel juga akhirnya. Anak kecil itu dibiarkan cemberut di kursinya. Miku tahu kalau anak itu sesekali mencuri pandang sama kuenya.
Miku, atas dasar karena dia suka anak kecil, memberi isyarat pada anak kecil itu untuk datang ke mejanya. Anak kecil itu tersenyum dan mengangguk.
Baru saja anak kecil itu berdiri, ibunya langsung memarahinya dan mencubitinya.
Miku benar-benar jengkel.
Baru saja Miku berdiri dan hendak menghampiri wanita itu, satu badan tegap dan tinggi menghalanginya.
"Maaf, Nyonya, jika Anda menginginkan anak Anda diam, sebaiknya Anda belikan dia satu minuman. Kami menyediakan menu untuk anak-anak kok."
Kaito datang dan menghalangi Miku yang hendak mengamuk.
"Apa urusanmu?"
"Tidak ada. Tapi tolong perlakukan dia sebagai mana mestinya. Kami hanya menginginkan semua pelanggan kami senang, termasuk anak-anak."
"Dasar banyak bicara," wanita itu mengeluarkan dompetnya dan menaruh sejumlah uang di tangan Kaito untuk membayar minuman yang baru seteguk diminumnya. "Aku tidak akan datang ke sini lagi."
"Tidak masalah. Selama Anda belum bisa menghargai anak Anda sendiri, tak masalah Anda tak datang kemari."
Wanita itu menggeram marah.
Wanita itu keluar dari café dengan menarik anaknya kasar.
Seluruh perhatian pelanggan sempat terarah ke mereka bertiga dan sejurus kemudian, situasi kembali ke sedia kala.
"Whoa, kok pelanggannya kabur?" tanya Mikuo sambil mengambil uang minuman.
"Nggak tahu," Kaito menggeleng.
"Lu nyegah gue berantem sama cewek itu, ya?" Miku bertanya.
"Gue udah merhatiin lu dari tadi. Lu, 'kan, suka banget sama anak-anak jadi kalau liat anak kecil digituin pasti lu langsung bertindak," Kaito menyentil dahi Miku. "Lagian, kalau lu yang ngomong, yang ada bakal perang. Lu, 'kan, orangnya nggak mau kalah. Entar ujung-ujungnya elu nangis juga."
Kok Kaito bisa tahu tentang dirinya selengkap itu? Iya sih, dulu mereka sempat satu sekolah waktu SMA. Tapi—
—Ah, nggak mungkin! Miku mensugestikan diri.
"Udah, ah, gue balik kerja dulu. Ayo, Mikuo."
Kaito dan Mikuo kembali ke pekerjaan mereka.
Tapi sebelum Kaito ke lantai atas untuk bersih-bersih, Mikuo menahannya.
"Kai, jangan bilang kalau lu masih suka sama Miku."
Kaito berhenti, dia memandang atap café yang bernuansa coklat itu. "Nggak tahu, mungkin, iya."
Kaito segera naik ke lantai atas dengan peralatan bersih-bersihnya.
Miku bangkit dari mejanya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Dia keluar dari café dan dia merasa seperti ada yang mengawasinya.
Miku melihat ke lantai satu dan melihat Kaito sedang menatapnya sambil mengangkat satu tangannya. Miku membalas lambaian tangan pemuda cleaning service café tersebut.
Sepanjang perjalanan di kereta, Miku berpikir.
Kenapa saat dia putus, dia ingin sekali cerita sama Kaito? Memang, waktu SMA dulu, Miku memang sangat dekat dengan Kaito.
Dibandingkan bercerita dengan kakaknya, dia lebih baik bercerita pada Kaito. Meskipun Mikuo menjawab dengan cara yang jauh lebih baik, tapi pemuda biru bersyal itu selalu bisa memperbaiki mood Miku.
Kenapa dia sangat mempercayai pemuda yang 2 tahun lebih tua darinya itu?
Karena sudah sangat dekat? Kalau begitu, dia seharusnya lebih mempercayai kakaknya, 'kan?
Dan lagi, kenapa Kaito tahu banyak soal dirinya? Apa Kaito itu stalker?
Apa mungkin….
... TIDAK!
Miku memukul kepalanya sendiri pada akhirnya.
Miku membuka jurnalnya dan mencari satu kertas yang ditemuinya di loker sepatu waktu kenaikan kelas di SMA.
Miku menemukannya. Selembar kertas berisi deretan huruf dan angka yang memusingkan. Sampai Miku sendiri malas memecahkan kode tersebut.
Miku penasaran, dari dulu, apa maksud dari kode-kode ini dan siapa pengirimnya.
Mungkin beristirahat di sisa hari ini pada apartemen kakaknya tidak akan salah….
Di hari Minggu, seperti biasa, Le Café kebanjiran pelanggan sampai-sampai para pegawai mendapatkan double job, jadi pelayan-cleaning service dan sebaliknya.
Salah satunya, Kaito, si cleaning service ganteng multitalenta.
Dia sudah naik tangga belasan kali untuk mengantar pesanan dan setiap turun pasti dia membawa piring dan gelas kotor.
Jujur saja, setelah lima tahun bekerja di café ini, baru kemarin dia membuat pelanggan marah dan pergi. Meskipun Mikuo sudah bilang jangan terlalu dipikirkan, tapi dia takut kalau ada pegawai lain yang melaporkan soal kemarin.
Kaito menghela napas.
Dia juga jadi kepikiran soal pertanyaan Mikuo kemarin.
Apa dia masih menyukai Miku?
Waktu SMA dia sempat menyukai gadis toska itu. Tapi gadis itu terlanjur menyukai orang lain, bahkan sangat menggilainya. Dia selalu berusaha mengacaukan Miku, mulai dari mencuri makanan yang akan diberikan pada sosok pujaannya itu (meskipun berakhir tragis pada pencernaannya), sampai mengangguinya sampai dia kesal sekesalnya.
Ah, sudahlah.
Tapi, apa dia punya harapan? Miku, 'kan, sudah sendiri lagi.
Dia menggeleng untuk mengusir pikirannya.
Kaito kembali sibuk membersihkan teras dan saat dia hendak masuk kembali untuk mengembalikan peralatan kebersihan, dia bertemu dengan Miku.
"Yo, Kai!" sapa Miku.
Kaito hanya mengangkat sebelah tangannya.
"Boleh minta waktunya sebentar, nggak?"
Kaito melihat jam tangannya. "Lima menit."
Miku menarik Kaito keluar café.
"Gue mau balik ke Kyoto."
"Terus?"
"Nggak mau bilang 'sampai ketemu lagi'?"
"Ngapain? Lu, 'kan, tiap liburan main kesini."
"Cih," Miku mendecih. "Ini tulisan lu, 'kan? Ngaku. Tulisannya sama kayak tulisan lu!"
Miku mengeluarkan sebuah buku tulis dengan sampul bertuliskan kanji namanya.
"Ini buku catatan lu yang ketinggalan di apartemen Mikuo-nii dan kedua tipe tulisannya sama."
Miku mengeluarkan kertas kode tersebut.
Kaito membulatkan matanya. Pipinya memerah.
Yah, ketahuan, deh.
"Ini artinya apa?"
Kaito diam mematung.
"Kaito," desis Miku. "Kasih tahu! Ini surat udah bikin gue penasaran selama 5 tahun! Kasih tahu!"
Kaito mengambil surat itu dan menduduki satu meja lalu mengeluarkan dari kantung apronnya.
Kaito asyik mencoreti kode-kode itu dan Miku menunggu sambil penasaran.
Kaito menyodorkan kertas itu.
"Aku tunggu jawabannya, Miku-chan." Kaito tersenyum dan menepuk kepala Miku sebelum melangkah masuk ke dalam café.
Miku mengamati kertas itu, ada beberapa huruf yang tersisa di kertas itu.
Miku membacanya dan pipinya memerah. Darah seolah menghilang dari ujung-ujung jarinya. Jantungnya berdetak sangat cepat.
'Aku menyukaimu. Aku tunggu di meja pojok dekat jendela di kedai kopi dekat stasiun. Shion Kaito.'
Miku terburu-buru masuk kembali ke dalam café.
Dia melihat ke meja pojok, ada Kaito berdiri di sana. Dengan pakaian pelayan, sapu di tangannya, apron putih, dan syal biru yang selalu melingkari lehernya.
Dia sudah tak mengenakan seragam sekolah lagi.
Kenapa Miku baru tahu? Lima tahun Kaito selalu menunggu di tempat ini.
Lima tahun….
... Sejak lulus SMA sampai sekarang, Kaito selalu menunggunya?
LIMA TAHUN, GUE NGEGANTUNGIN DIA?! Hati Miku menjerit tak percaya.
Miku berlari ke arah Kaito dan menangis.
Seluruh atensi manusia yang berada di café itu beralih ke mereka berdua.
Kaito malu jadinya.
Tidak cuma karena dipeluk Miku tapi karena seluruh pasang mata menatap ke arah mereka! Sampai pemilik café, kasir, dan barista berada di garis depan bersama Mikuo untuk menonton drama nggak romantis ini.
"Mi-Miku."
"Lu bego, kenapa ngasih surat cinta yang ruwet kayak gitu!" Miku memukul-mukul wajah Kaito.
"Ja-jadi gimana jawabannya?"
"NGGAK!"
Seluruh manusia di café mendesah kecewa dan sisanya menyoraki Miku.
"NGGAK! GUE NGGAK AKAN TERIMA LU SEBELUM LU JANJI SAMA GUE KALAU LU NGGAK SELINGKUH! GUE NGGAK RELA KALAU LU SELINGKUH DI BELAKANG GUE! NGERTI?!"
"Gue nggak akan selingkuh, bawel."
Teriakan Miku memicu teriakan heboh satu café.
Kaito tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti tomat kematangan.
Mikuo menghampiri mereka dua. "Selamat, ya. Gue ridho ade gue nikah sama elu."
Entah sudah untuk keberapa kalinya, café yang menyediakan berbagai kopi dan cemilan ringan ini dijadikan tempat pernyataan cinta.
"Selamat datang di Le Café!"
Kaito menyambut siapa saja yang datang ke café tanpa disuruh lagi sekarang….
... Apalagi kalau gadis toska yang suka menyamar dengan rambut hitam dan pakaian serba hitam seperti penjual senjata illegal datang.
THE END
