.
Out of the Blue
===.===
DISCLAIMER chara NARUTO milik Masashi Kishimoto
DISCLAIMER STORY SATU - SATUNYA MILIK SAYA
Spica Zoe
Cover Art : CharaKauffmann
Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,
.
.
.
.
.
.
Sejak kepergiannya bersama Sarada beberapa menit lalu. Kini Sakura hanya diam dalam tindakannya. Fokusnya pecah pada segala hal yang telah terjadi antara dirinya dan Itachi malam tadi. Bukan pertengkaran hebat memang, bukan pertengkaran yang mengharuskan dia pulang kerumah orang tuanya dan menceraikan suaminya. Pertengkaran seperti ini diantara mereka memang kerap terjadi. Sakura punya kekesalan yang bisa meledak kapanpun. Dan entah kenapa hanya pada Itachi lah dia bisa melepaskan semua yang bersarang dalam hatinya.
Terkadang setelah pertengkaran, Itachi akan datang padanya, memaksanya bicara jujur dengan apa yang sedang dipikirkannya. Dan pada akhirnya mereka akan berpelukan sambil mengucapkan maaf. Tapi untuk Sakura kali ini, hal seperti itu bukanlah lagi hal termanis yang dia harapkan. Itachi sudah keterlaluan, sangat keterlaluan. Sebagai seorang istri, Sakura hanya merasa berhak marah karena tindakan Itachi padanya.
"ibu.."
Sakura langsung menoleh pada sosok gadis kecil yang duduk disamping kemudinya. Dia hampir lupa jika ada Sarada di dalam mobilnya. Dan untung saja, meski pikirannya sedang membebani, Sakura masih tidak lupa jalan mana yang harus dia tempuh untuk menuju sekolah Sarada. Meski jarak antara rumah sakit tempatnya bekerja tidak terlalu jauh dari sana, juga searah.
Gadis kecil Uchiha yang duduk disampingnya ini memang gadis yang sangat manis. Duduk diam saat merasa Sakura sedang memikirkan sesuatu, membuat Sakura merasa bersalah karena bersikap terlalu dingin padanya sejak tadi, apalagi dihadapan Itachi. Sarada seakan tahu Sakura sedang tak ingin diganggu, hingga sejak tadi Sarada hanya diam. Dan baru ini dia mengeluarkan suaranya. Sakura menatapnya datar, wajahnya masih belum bisa tersenyum, dia sedang kesal pada suaminya.
"ibu bertengkar dengan paman karena Sarada ya?" tanyanya memandang bening berwarna milik Sakura polos.
Sakura melemah sejenak, dialihkannya pandangannya kearah depan. Dia takut terkunci dengan ketulusan dimata Sarada. Sangat takut hingga akhirnya berdampak buruk pada emosi dan perasaannya. Dia benci mengakuinya, tapi dia sangat menyayangi gadis kecil ini. Sangat.
Namun, bukannya berusaha memeluk Sarada dan mengucapkan "semua baik-baik saja", Sakura malah terdiam tak ingin menjawab. Mendapat perlakuan ibunya, Sarada semakin menunduk. Memilih mengunci bibirnya dan tetap diam sampai Sakura mengantarnya ke sekolah.
Sakura keluar dari mobilnya, melangkah menuju sisi pintu lain dan mempersilahkan Sarada keluar dari mobilnya.
"nanti, suruh paman Gaara saja yang menjemput Sarada bu, Sarada tak ingin merepotkan ibu lagi mulai sekarang" ucap gadis itu masih menunduk takut.
Sakura hanya diam. Tidak biasanya Sarada bersikap seperti ini padanya. Biasanya Sarada akan tetap menatapnya meskipun Sakura sedang berada dalam tahap kekesalan paling tinggi sekalipun dalam hidupnya. Dan meskipun bukan waktu yang tepat bagi Sarada untuk mengajaknya bicara, Sakura tak pernah berbuat kasar pada gadis ini, selain hanya diam mengabaikannya. Dan mendapat perlakuan seperti itu pun Sarada biasanya merasa tidak apa. Tapi sekarang? Sakura merasa Sarada sedikit berubah.
Tanpa sengaja, Sakura melayangkan pandangannya kearah lain. Tepat didepan pagar sekolah, seorang wanita menunduk sejajar dengan tinggi anak lelakinya. Direngkuhnya kedua pundak anaknya dan mengecup keningnya lembut. Sang anak terlihat memerah dan marah, tapi sang wanita yang Sakura yakin ibu si anak lelaki hanya tertawa melihat tingkah malu-malu anaknya. Membawa kepikirannya sendiri, Sakura sadar dia tak pernah memperlakukan Sarada seperti itu. Diantar oleh seorang ibu, pergi sekolah, tapi hanya dibiarkan melangkah tanpa doa yang mengiringi, membuat hati Sakura sedikit tersakiti.
"kalau begitu, Sarada masuk dulu ya bu-"
"Sarada.."
Diam sejenak, Sarada menghentikan langkahnya. Tangannya masih mengepal erat pada kedua tali tas ransel disekitar lengannya. Dia takut Sakura marah padanya. Sarada mengangkat kepalanya memandang Sakura yang telah duduk berjongkong menyamai tingginya. Memandang pada wajahnya.
"maafkan aku," ucapan Sakura terdengar seakan sedang menahan tumpukkan emosi yang sedang bertarung didalam batinnya. Dia suka menatap wajah Sarada, karena wajah itu sangat mirip dengan ayahnya. Tidak dengannya. Menatap wajah Sarada juga bisa membuat perasaan asing yang berusaha dikuburnya dengan waktu selalu berhasil bangkit dan menyeruak mencari pelepasan. Itulah alasan kenapa dia tidak terlalu ingin menunjukkan seberapa besar rasa sayangnya pada Sarada. Karena masalalu itu akan datang lagi dan menyakitinya.
Sarada masih diam menatap wajah cantik Sakura, kedua tangan wanita itu kini mencekram dikedua lengannya. Dan Sarada merasa tak apa dengan cekaraman cukup kuat itu.
"aku tak pernah menjadi ibu yang baik untukmu" Sakura menahan gejolak basah dari nada suaranya. Dia takut jika Sarada menangkap tangisan dari dirinya. Takut disebut lemah, karena selama ini dia sudah mencoba untuk menjadi tegar.
"ibu.." Sarada hanya berucap pelan.
"jangan bicara lagi" Sakura menatap Sarada lekat, dan itu membuat Sarada sedikit menunduk takut.
"peluk aku" ucap Sakura lembut, hingga Sarada kini mengangkat kepalanya tak percaya. Untuk pertama kalinya, bagi Sarada, dia melihat Sakura tersenyum secantik ini padanya.
"peluk aku, kau tak pernah memelukku kan?" tanya Sakura menyentuh kening Sarada dengan ujung jemarinya. Sarada mematung tak percaya. Meskipun dia masih kecil, tapi tingkahnya seperti orang yang sudah mengerti segalanya.
"apa setelah aku memeluk ibu, ibu akan pergi meninggalkanku?" tanya Sarada ingin tahu. Dia menahan langkahnya untuk mendarat dalam pelukan Sakura, karena dia merasa butuh satu pernyataan dari bibir Sakura. Jika saja ini merupakan pelukan perpisahan, Sarada tak akan mau melakukannya. Sarada takut.
"tidak.." Sakura menarik tubuh Sarada dan mendekapnya. Airmatanya mengalir lembut membasahai pipinya. Melepaskan semua kerinduan yang selalu di hembuskan jauh darinya sejak dulu. "aku hanya ingin meminta maaf padamu" lanjutnya. Dan Sarada pun kini balas memeluknya. Hangat, pelukan Sakura jauh lebih hangat dari pelukan ayahnya, pelukan pamannya, bahkan pelukan semua orang yang pernah mendekapnya. Sarada lebih suka pelukan yang ini. Apakah pelukan ini akan selamanya menjadi miliknya?
"siang nanti, aku akan menjemputmu. Kita akan pergi kemanapun kau mau, paman Itachi pasti senang, merayakan ulangtahunnya denganmu" Sakura melepas pelukannya dan memandang Sarada penuh senyuman, meskipun wajahnya masih basah dengan airmatanya. Sarada mengangguk semangat. Tidak peduli lagi Sakura akan pertengkarannya dengan Itachi, mungkin Sarada memang terlahir untuk selalu menjadi juru damai diantara mereka berdua.
"benarkah bu?!" Sarada terlihat takjub luarbiasa. Dipeluknya lagi Sakura dan rasanya begitu menyenangkan.
"ya, karena sejak kau lahir, kau adalah hadiah terbesar dalam hidupnya"
Dan dalam peluknya, Sakura bisa merasakan jika Sarada mengangguk untuk menyetujui ucapannya.
Sakura hanya tak mau terlalu lama berlarut-larut menyimpan kekesalannya karena pertengkaran bersama Itachi. Biar bagaimanapun, hari ini adalah ulangtahun suaminya. Sakura akan mengalah, meski dia tahu Itachi pun tak akan mempermasalahkannya. Itulah mengapa Sakura selalu merasa bersyukur kenapa Itachi begitu baik padanya. Kekeraskepalaannya, hanya Itachi lah yang mampu memakluminya.
.
Out of The Blue
.
Sakura menarik kursinya dan duduk disana, didalam ruangan pribadi miliknya di rumah sakit itu. Rumah Sakit Konoha, salah satu rumah sakit terbesar yang berada di pusat kota. Sudah lama Sakura menjadi seorang dokter ahli kandungan disana. Sebagai salah satu dokter muda berbakat, Sakura sering meneliti gejala-gejala baru yang tak biasa yang sering muncul dalam bagian-bagian reproduksi baik di dalam tubuh pria maupun wanita yang pernah menjadi pasiennya. Sakura juga sering menjadi kepala tim dalam sebuah operasi. Kehebatannya memang selalu mendapat pengakuan dari setiap orang yang mengenalnya.
Membawa pikirannya berfokus, Sakura mengeluarkan beberapa berkas yang sejak tadi memang sudah disiapkannya sebelum berangkat. Namun sebelum dia mulai tenggelam dalam kesibukannya. Bayangan seseorang sudah muncul dipintu ruangannya. Sakura diam memandangnya.
"kau selalu lebih pagi dari aku, Sakura" ucap si pemilik suara, Tenten. Siapa lagi yang bisa mengusik Sakura jika bukan gadis ini. Sakura meletakkan berkas-berkasnya diatas meja. Diletakkannya saja seperti itu, diabaikannya. Meskipun Tenten juga sama diabaikannya. Sakura hanya diam.
"oi, kau ada masalah? Bukankah suamimu ulangtahun hari ini? berbahagialah sedikit, aku pikir kau akan cuti untuk berbulan madu yang kesekian kalinya dengan Uchiha-sama" ucapnya menarik kursi didepan Sakura dan duduk menghadap sahabatnya, sengaja di pasangnya wajah meledek untuk Sakura. Namun Sakura hanya mengendus kesal.
"kau kenapa? Sedang hamil? Sejak kapan? Kenapa wajahmu sesuram itu?" lagi – lagi Tenten hanya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat yang bisa memancing emosi Sakura terbakar. Tenten tidak peduli, dia lebih suka melihat Sakura mengamuk memarahinya dari pada diam mengabaikannya. Paling tidak, dia rela membantu Sakura melepaskan kekesalannya.
"diamlah. Ucapanmu hanya membuat aku ingin mati"
Tenten tersenyum.
"jadi, bagaimana kejutan ulang tahun untuk Itachi malam tadi, Sakura?"
Sakura mengangkat kepalanya memandang wajah Tenten yang kini hanya tersenyum. Oh, Sakura kesal melihat wajah ini. Tapi dia memang tak bisa menyembunyikan apapun dari sahabatnya ini. Tenten memang sedikit menyebalkan dan usil, tapi dalam hidupnya, Sakura hanya mempercayai Tenten sebagai tempat keluh kesahnya. Bahkan tentang Itachi sekalipun. Sakura akan menceritakan semuanya. Meskipun akhir – akhir ini dia lebih memilih menutup semua beban hanya untuk dirinya sendiri.
"jangan bahas ini, Tenko. Atau aku akan membunuhmu" Sakura menarik pandangannya dari wajah menyebalkan Tenten. Dia mendengus kesal dan Tenten berhasil mendengarnya. Bukannya takut, tapi Tenten makin bersemangat mengganggunya.
"kalian bertengkar?" Tenten menebak, dan Sakura mengelah nafasnya berat. "sudah kuduga" lanjutnya menyandarkan punggungnya pada kursi yang sedang didudukinya. Bertengkar? Tenten tak perlu khawatir dengan pertengkaran suami istri ini, pasti beberapa saat lagi, Itachi akan datang menjemput Sakura dan meminta maaf. Itu sering terjadi di hadapan Tenten.
"ini ulang tahunnya Sakura, mengalah sedikit bukanlah hal yang akan merugikanmu kan?"
Sakura menatap Tenten tajam. Dia tidak suka Tenten pun seakan ingin menyalahkannya.
"kau tak akan tahu Tenko, jadi-"
"-jadi aku tak berhak berkata seperti itu. Itu yang akan kau bilang kan?" Tenten memotong ucapan Sakura cepat sebelum wanita itu mengakhiri semua hal yang ingin dikatakannya.
Sakura terdiam.
Tenten mengalah.
"dia tidak akan pernah mau menyentuhku lagi, Tenko"
Tenten terdiam, diarahkannya tatapaan senduhnya pada Sakura yang sudah bangkit dari kursinya dan melangkah mendekati rak buku dalam ruangannya. Meski Tenten tak bisa memandang wajahnya, tapi Tenten tahu, ada kesedihan yang mendalam dari wanita ini. Dia sangat tahu.
"dia tahu tentang selingkuhanmu?"
Sakura menoleh cepat kearah Tenten.
"untuk saat ini, jika bisa, aku bahkan ingin sekali mendesah dipelukan pria lain didepan matanya. Ingin lihat reaksi apa yang dia punya saat istrinya memilih untuk menghabiskan gairah dengan pria lain"
"coba saja, jika itu mau mu. Coba dengan Sasuke"
Dan beberapa saat setelah ucapannya keluar, Tenten hanya mendapati senyum tipis penuh kepahitan diwajah sang merah muda.
"Sasuke-sama.."
Sasuke langsung menoleh saat namanya terdengar, didapatinya seorang wanita tua. Wanita yang sudah menjadi bekerja bagi keluarganya cukup lama. Tangan wanita tua itu menunjukkan sesuatu padanya. Sebuah amplop putih yang Sasuke sendiri menjadi bingung karenanya.
"ya, ada apa Sarutobi-san?"
"saya menemukan ini di ruang tamu. Mungkin nyonya Sakura tak sengaja meninggalkannya. Bisakah anda mengantarkannya? Saya rasa ini sesuatu yang penting untuknya"
Sasuke terdiam sejenak. Bertemu Sakura? Butuh ribuan kali berpikir untuk itu.
"biarkan saja. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengantarkan itu padanya"
Sebenarnya Sasuke tidak bermaksud untuk berbohong, meskipun dia memang benci mengakui jika dia sedang tidak ingin bertemu Sakura saat ini. Tapi, sejujurnya dia memang harus segera tiba di kantornya, mempersiapkan berkas untuk segera menghadiri sidang.
"saya rasa ini memang cukup penting tuan, mungkin saja ini adalah hasil pemeriksaan salah seorang pasiennya. Ini berhubungan dengan nyawa, apa anda sama sekali tidak merasa bersalah jika-"
"oke. Baik. Serahkan padaku. Aku akan mengantarnya"
Sasuke mengangkat kepalanya kesal. Jika berhubungan dengan keselamatan nyawa orang lain, bagaimana mungkin dia tega. Diterimanya benda itu dari tangan si wanita tua yang kini tersenyum memandangnya. Rasanya Sasuke baru saja dipecundangi sebagai seorang manusia hanya karena dia merasa terlalu mudah dimanipulasi oleh sebuah rasa kasihan.
.
.
.
"jadi, bagaimana hasil hipotesismu?" Sakura kembali duduk setelah mendapatkan buku yang dia mau. Ditatapnya wajah Tenten sekilas, wajah itu masih begitu ingin menertawainya lebih banyak dari apapun hal paling menggelitik di dunia ini. Sakura bisa melihatnya dengan jelas. Berusaha untuk mengubah topik pembicaraan, Sakura hanya ingat tentang apa yang akan mereka lakukan hari ini. Rapat akhir dari sebuah penelitian gejala baru penyakit. Sakura bersyukur ada sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam kepalanya disaat-saat seperti ini agar Tenten tak lagi berfokus untuk menertawai kehidupannya. Tapi, sepertinya tak berjalan lancar seperti yang Sakura mau, buktinya...
"kau mau mengubah pembahasan kita? Tidak akan bisa, cantik" ucap Tenten dengan gelagat tawa yang membahana. Berhasil dilihatnya wajah Sakura memerah karena kesal.
"hasil hipotesismu bukannya kapan saja bisa kau berikan? Ketua tim kita, Senju Tsunade masih tetap menjadi ibu mu meskipun kau keluar dari tim ini Sakura, jangan mengelak jika kita sedang membicarakan dirimu" ucapnya masih menatap Sakura intens. Ingin rasanya Sakura menendang gadis ini keluar dari ruangannya. Tidak ada yang bisa dia tutupi dari Tenten.
"terserahmu lah, perawan tua. Aku tidak pernah bisa menang melawanmu"
Tenten masih tetap tertawa ringan sebelum dia memandang penanda waktu yang melekat di pergelangan tangannya. Setibanya dirumah sakit tadi, melihat ruangan Sakura yang sudah terbuka, Tenten hanya ingin memastikan jika sahabatnya itu memang sudah tiba, sebelum dia beranjak menuju ruangannya sendiri yang berada dilantai tiga. Tenten bangkit dari bangkunya. Disambarnya tas jinjingnya yang sejak tadi memang diletakkannya di meja Sakura.
"saranku, mungkin Itachi pun butuh hipotesismu Sakura"
Sakura langsung menatap wajah Tenten yang entah kenapa kini dia rasa sedang menatapnya begitu serius, berbeda dengan ekspresi-ekspresi yang mengusilnya tadi. Menyinggung nama Itachi dengan tatapan seperti ini, Sakura tahu mau kemana Tenten akan membicarakan suaminya. Sebelum Tenten melanjutkan ucapannya, Sakura sudah bangkit dari tempatnya duduk dan mereka saling menatap dengan ekspresi yang terlalu jarang mereka perlihatkan. Sakura menggeram.
"dia cacat Sakura, kau harus tahu itu. Tujuh tahun menikah, dan kalian belum memiliki anak, apa kau pikir semuanya masih berjalan dengan normal-"
"cukup Tenten. Kali ini kau telah menyinggungku"
Sakura meletakkan buku yang berada didalam genggamannya dengan keras. Dia tidak ingin Tenten menyinggung keberadaan suaminya lebih banyak lagi. Melangkah mendekati Tenten, Sakura sama sekali tidak ingin melepaskan tatapannya dari sahabatnya itu.
"kenapa kau tidak memeriksanya jika kau memang penasaran dengan kesehatannya, bukankah itu yang sejak dulu kau khawatirkan-"
"cukup!" Sakura mendorong tubuh Tenten cukup keras, namun tak sampai membuat Tenten terhempas cukup jauh dari tempatnya berdiri. Tenten tersenyum lirih.
"..jangan teruskan Tenten, atau aku akan benar-benar.."
"Sakura-sensei!"
Belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, seseorang yang tak dia duga langsung muncul dan memanggil namanya begitu panik. Sakura menoleh kesal seketika namanya disebut. Emosinya memuncak, bercampur dengan emosi yang ingin sekali dilampiaskannya dengan Tenten tadi. Dilepaskannya tatapannya dari Tenten, untuk memandang seorang wanita berbusana serba putih yang berdiri diambang pintu dengan nafas memburu, seorang perawat. Dan Tenten pun ikut menoleh pada bayangan baru yang muncul di ruangan itu.
"-ADA APA?!"
Entah kenapa, tiba-tiba ada perasaan buruk yang membungkus batin Sakura. Melihat seorang perawat yang datang dengan ekspresi panik seperti ini, baik Sakura dan Tenten bisa membayangkan apa yang mungkin akan dia katakan selanjutnya. Tapi khusus bagi Sakura, ini bukan pertanda yang baik. Tenten pun tahu itu. Perawat ini yang mungkin tidak tahu apapun.
"bantu kami. Ada korban kecelakaan yang butuh pertolongan secepatnya" Perawat itu tak mampu menurunkan ekspresi takutnya. Wajahnya penuh dengan peluh.
"dokter jaga ada dimana?!" tebakan Sakura tepat, Tenten juga. Pasti. Tenten melangkah lebih dulu dan meninggalkan Sakura masih di posisinya. Dipandanganya perawat itu yang masih bergetar cukup hebat karena ketakutannya. Ini rumah sakit. Tenten sudah terbiasa. Tapi, Sakura?
"tidak ada seorangpun dokter jaga dibawah sana, untuk itu kami mohon bantulah kami" serunya mendesak. Mendengar itu, Sakura melupakan amarahnya seketika, ditatap Tenten penuh tanya yang kini juga mengikat pandangannya pada Sakura. Ini bukan pekerjaannya, Tenten pun tahu itu. Tapi jika melihat situasi seperti ini sebagai seorang dokter mereka berdua memang sudah seharusnya turun tangan. Terlebih, mereka kini sedang berada dilantai dua, apa sama sekali tidak ada dokter yang menjaga di lantai satu? Sakura berpikir sejenak. Sedang Tenten, tanpa pemikiran lebih panjang lagi, kini mengubah pandangannya memandang Sakura penuh harap.
"Sakura, ini jauh lebih penting. Cepatlah pergi lebih dulu untuk melakukan pemeriksaan, aku akan pergi keruanganku sebentar dan akan segera menyusulmu" Tenten berujar, dan Sakura mengangguk cepat dengan spontan.
Perasaan buruk, Sakura bisa merasakan ada sesuatu yang kini tengah menghantuinya. Kenapa dia harus merasakan perasaan tak jelas seperti ini saat dia diwajibkan untuk bertugas? Sakura tak perlu menoleh untuk tahu keberadaan perawat yang masih mengekorinya dengan langkah yang sama cepat dengan dirinya dibelakang sana. Melihat wajah perawat tadi, rasanya, ketakutan dalam diri Sakura yang sejak tujuh tahun lalu kembali mengerayangi pikirannya.
Uchiha Sakura, memang seorang dokter muda berbakat, semua orang pun tahu itu. Seorang dokter ahli kandungan yang punya reputasi cukup dikenal dalam keahliannya. Namun, meskipun begitu bukan berarti Sakura tak bisa menangani korban kecelakaan. Secara dasar, dia juga paham bagaimana menangani korban kecelakaan. Sakura juga sering melakukan seminar tentang bagaimana cara memberikan pertolongan pertama untuk orang awam dalam menghadapi korban kecelakaan pada umumnya. Jika memang ada perasaan tak enak yang dia rasakan saat ini, sebenarnya bukan karena dia tidak punya pengetahuan maupun pengalaman menangani korban kecelakaan. Dia punya, setiap dokter ahli apapun harusnya memang memilikinya. Tapi, pengecualian ini, berlaku khusus hanya untuk Sakura. Tenten pun tak pernah tega memaksa Sakura untuk menangani korban kecelakaan. Sebab, Sakura dulu punya trauma, tujuh tahun lalu. saat dia belum lulus dari sekolah kedokterannya. Tujuh tahun lalu, saat dia harus memilih jalan yang tak pernah dia rencanakan dalam hidupnya. Sakura punya trauma besar atas kecelakaan yang menimpa Itachi, yang saat itu hanya dia kenal sebagai putra sulung keluarga Uchiha, kakak dari Uchiha Sasuke yang tujuh tahun lalu adalah kekasihnya.
Jubah putih itu berkibar, langkah kaki Sakura tegas terdengar menelusuri lorong. Dia harus cepat, dia harus cepat. Itu lah perintah yang berputar diotaknya. Keluar dari lift di lantai satu, Sakura sudah melihat beberapa suster berlarian kesana kemari, membuat suasana semakin mencekam dalam pandangan matanya. Sakura menelan ludahnya, berusaha memaksa agar tubuhnya tak mengeluarkan getaran yang membuat dia memiliki kemungkinan melakukan kesalahan. Ini bersangkutan dengan nyawa.
"ruang ICU Sakura-sensei!" seru perawat yang masih mengekorinya dibelakang terdengar penuh desakan. Sakura mendengar. Diaturnya langkahnya semakin cepat menuju ruang ICU dilantai satu. Kenapa bisa seorang korban kecelakaan langsung ditempatkan keruang ICU?. Diabaikannya pikirannya sendiri, diabaikannya juga langkah-langkah perawat lain yang sama paniknya.
"bagaimana statusnya?" tanya Sakura tegas. Semua orang yang berada dilorong langsung menyingkir memberi jalan. Beberapa perawat yang melihat Sakura pun seakan terbengong dan menelan ludah secara masal. Sebagian dari mereka memang telah tahu rumornya. Tentu saja, Sakura-sensei tak pernah mau turun tangan menangani korban kecelakaan. Tidak pernah.
"darurat! Sakura-sensei" sial! batin Sakura, mempercepat langkahnya. Darurat? Tujuh tahun lalu, Itachi juga hampir mati dalam pelukannya. Sakura gemetar, tidak ada yang bisa dia perbuat. Semua orang memandanginya. Seorang gadis bermandikan darah seorang pria yang beberapa saat lalu menolongnya hingga lolos dari kecelakaan maut.
Langkah-langkah kaki bergerak mundur menjauhi mulut ruangan. Ini ruang ICU kan? Kenapa begitu banyak warga sipil yang berdiri disekitar ruangan?
"korban kecelakaan berumur empat tahun, berjenis kelamin perempuan. Tempat kecelakaan tepat di depan sekolah Konoha Child School-" sebuah laporan dijabarkan oleh salah satu perawat lain yang segera menghampiri Sakura melangkah memasuki ruangan. Konoha Child School?
Belum lagi Sakura melihat korban dengan jelas, langkahnya langsung berhenti setelah-
"..namanya, Uchiha Sarada"
-nama itu dia dengar bersamaan dengan pandangan matanya yang kini menatap seorang anak, berambut hitam, penuh dengan luka dan simbahan darah sedang terbaring tak berdaya dengan beberapa perawat yang kini tampak jauh lebih panik dengan kedatangan Sakura.
"Sar-" Sakura gemetar. Bayangan trauma mengelilingi kepalanya. Bibirnya bahkan tak lagi sanggup mengucapkan nama Sarada. Seluruh perawat yang tidak sedang membasuh menatap Sakura penuh kecemasan. Getaran disekujur tubuhnya tak lagi bisa disangkal. Dokter itu terlihat begitu terkejut.
.
.
.
Sarada berdiri ragu diambang pintu, dengan hanya menampilkan kepalanya saja, diliriknya takut kedalam ruang kamar Sakura. Memastikan apa Sakura itu ada didalam atau tidak. Awalnya Sarada meminta ijin pada Itachi yang berada diruang tamu untuk menemui Sakura dikamar mereka, dan Itachi mengijinkannya. Untuk itu, kenapa saat ini Sarada berada disini, dengan takut-takut ingin melihat keberadaan Sakura yang kini sudah memandangnya diujung sana.
"kau sedang mencari siapa?" Sakura meletakkan pena yang digunakannya diatas meja. Digesernya kursi tempatnya duduk dan memandang Sarada yang kini menunduk dengan langkah pelan berjalan kearahnya.
"jika mencari paman Itachi, dia mungkin ada dibawah" ucap Sakura datar.
"Sarada, mencari ibu kok,"
"untuk apa? sudah malam, kau tidak tidur?"
"Sarada tidak bisa tidur, ayah membacakan dongeng dan malah ayah yang tertidur. Apa ibu punya waktu untuk membacakan Sarada sebuah dongeng biar Sarada tertidur?" Sarada mengangkat kepalanya malu-malu. Takut Sakura marah, atau mungkin ingin Sakura langsung memeluknya. Tapi satu dari kedua pemikirannya itu tak dia dapati dikenyataan.
"ada banyak hal yang harus kukerjakan malam ini, minta pada pamanmu untuk mendongengkanmu sesuatu" ucap Sakura menarik pandangannya dari Sarada, dan kembali memperbaiki posisinya untuk segera melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sarada menunduk kecewa.
"baiklah, maaf mengganggu ibu. Selamat malam, bu"
Setelah Sarada menghilang dari balik pintu, Sakura mendesah kecewa. Diangkatnya tangannya disisi lain untuk meremas rambutnya dengan keras. Dia tidak suka bersikap dingin pada Sarada. Tapi, batinnya pun akan sama-sama tersiksa.
Dua jam berlalu, Sakura melangkah keluar kamarnya. Didapatinya Itachi masih duduk diruang tamu dilantai bawah dengan kesibukan yang sama dengan dirinya saat di dalam kamar tadi. Berkutat dengan lembaran-lembaran bernilai yang sama sekali tak ada harga dimatanya. Selama dua jam Sakura tak bisa fokus pada pekerjaannya. Dia penasaran bagaimana keadaan Sarada setelah penolakannya. Dikunjunginya kamar Sasuke yang kebetulan tak terkunci dan terbuka sedikit, Sakura mengintip, tak ada bocah kecil itu disana. Sesaat tadi pun dia hanya melihat Itachi sendirian diruang tamu, yang artinya mungkin Sarada memang sudah berada di dalam kamarnya. Apa Itachi sudah menidurkannya dan mengantarnya kedalam kamar? Sakura membuka pelan pintu kamar Sarada, didapatinya bayangan seorang bocah perempuan yang tengah terlelap di pembaringan, dengan sebuah buku penuh dengan gambar – gambar berwarna disebelahnya. Sakura meraih buku itu, buku yang berisi dengan cerita-cerita putri kerajaan, Sakura bisa menebak, Sarada ingin menidurkan dirinya sendiri dengan buku-buku itu. Ada setitik penyesalan yang Sakura rasakan muncul dalam hatinya ketika dia melihat Sarada tertidur seperti ini. Diambilnya buku itu sebelum menaikkan selimut menutupi tubuh Sarada. Dibukanya perlembar demi perlembar dari beberapa bagian yang tersusun disana. gambar-gambar yang begitu cantik, dulu juga Sakura menyukai hal-hal menakjubkan seperti ini. Mungkin, Sarada memang tak berbeda jauh dari dirinya.
"maafkan aku, Sarada.." bisik Sakura mendekatkan wajahnya mengecup lembut kening Sarada di pembaringan, masih terlelap. "aku menyayangimu". Dan sebelum Sakura menjauhkan wajahnya, Sarada sudah lebih dulu terusik dengan kehadirannya. Sarada terbangun, ditatapnya Sakura yang telah tersenyum memandangnya. Apakah dia sedang bermimpi?
"i..ibu.." ucapnya dengan suara tertahan.
"maaf membangunkanmu, tidurlah. Aku akan tetap disini sampai kau kembali tertidur"
Dan sejak itulah, Sarada mulai mengingat berapa banyak Sakura menyayanginya. Meskipun Sakura tak pernah mau menunjukkannya.
.
.
.
"sensei! Sakura-sensei!" seruan seorang perawat tak lagi bisa membawa kesadaran Sakura kembali. Kenangan masalalu, entah kenapa langsung berputar dikepala Sakura. Namun, disaat yang tidak tepat itu juga, mereka sedikit kaget akan kehadiran Tenten yang terlihat sangat tergesa-gesa memasuki ruangan.
"Sakura! Sakura!" Tenten menatapnya emosional. Yang berada didepannya kini, seorang bernama Sakura diam menahan getar tubuhnya
Mengabaikan Sakura, Tenten langsung mengambil tindakan, diperintahkannya semua perawat menyediahkan perlengkapan. Apapun yang sangat diperlukan untuk saat ini. Dan semua perawat mengambil bagian masing – masing.
"Sarada!" suara Sakura, Tenten tak lagi mau peduli. Diperiksanya denyut nadi anak itu, begitu lemah. Lukanya terlalu parah, bahkan tulang kakinya terlihat patah. Tenten menarik nafas berusaha menenangkan diri. Pendarahan tak bisa dihentikan. Seorang perawat mengambil gunting untuk memotong pakaian Sarada. Membasuh dan membersihkan lukanya dengan alkohol, tapi luka itu terlalu banyak.
"i-ibu.." suara itu terdengar lemah, Sakura dengan cepat meraih tangan Sarada yang seakan ingin menggapainya. Oh Tuhan, kenapa ini harus terjadi? Wanita itu hanya menangis. Apa lagi yang bisa dia lakukan selain menangis? Sudah ada Tenten yang jauh lebih bisa mempersiapkan dirinya untuk menangani luka Sarada. Sedangkan dia sendiri merasa tak bisa berbuat apa-apa.
"siapa yang membawanya kemari?" tanya Tenten dengan guratan cemas yang terlihat begitu nyata. Parah, keadaan Sarada benar – benar parah. Anak ini akan memasuki tahap kritisnya. Selang–selang medis telah dipersiapkan untuk penyelamatan.
"beberapa saksi mata yang mengantarnya kemari sensei" lapor mereka turut menyimpan ketakutan. "dengan beberapa guru dari pihak sekolah" lanjutnya panik.
"Sakura, tenanglah. Jangan membuatku takut. Kita pasti bisa menyelamatkannya" Tenten cukup takut memandang wajah Sakura yang kini bersimbah airmata. Masih digenggamnya tangan Sarada disana. Dia takut, dia benar – benar takut.
"selamatkan dia Tenten. Selamatkan anakku, Tenten!" Sakura berteriak cukup histeris. Kenapa baru kali ini sebutan manis seperti itu baru keluar dari mulutnya? Kenapa sejak dulu dia tidak pernah mau mengakui Sarada sebagai anaknya? Bukankah itu yang Sarada selalu inginkan?
"i-ibu.." Sarada masih berucap lemah saat melihat Sakura menangis. Sakura, ibu yang begitu disayangnya. Sakura mengecup jari jemari Sarada takut, wajahnya pun ikut bersimbah darah tak lagi dipedulikannya.
"bertahanlah Sarada. Aku mohon bertahanlah. Kau akan baik – baik saja. Ibu akan menyelamatkanmu" seru Sakura tanpa menyadari inilah pertamakalinya kata ibu keluar dari mulutnya. Sebutan yang tanpa sengaja mengakui dirinya sendiri sebagai seorang ibu dihadapan Sarada.
"dia kehilangan banyak darah. Kita perlu darah, lakukan pemeriksaan untuk memeriksa jenis darahnya" teriak Tenten memerintah. Dipandangnya Sakura yang masih terisak.
"Sakura, apa Sasuke bisa mendonorkan darahnya?" Sakura tak menjawab, tidak tahu apa dia mendengarkan pertanyaan Tenten atau tidak, dia masih terisak disana.
"sensei, jantungnya melemah. Sepertinya-"
"kita harus melakukan resusitasi jantung, siapkan peralatan, cepat!" Tenten berteriak sambil memompa dada Sarada dengan tangannya. Seluruh perawat mengalami tekanan karenanya. Belum lagi pemandangan yang Sakura hasilkan. Ada rasa begitu iba yang menyelimuti mereka.
"pendarahannya semakin banyak, apa kata saksi mata?" Tenten merayapkan matanya fokus pada beberapa luka ditubuh Sarada, meski mulutnya masih berbicara.
"dia tertabrak mobil dalam kecepatan tinggi dan terlempar dalam jarak sepuluh meter dari kejadian" lapor seorang dari mereka. Sakura mempererat genggaman tangannya. Dia tahu, ini adalah luka parah, tapi.
"aku mohon Sakura, jangan membuatku takut" Tenten tak mampu memandang Sakura, dia tidak tahu harus melakukan apa. Sebuah keajaiban jika dengan luka seperti ini, Sarada masih mampu bertahan dengan nafasnya.
"selamatkan dia Tenten. Atau aku yang akan membunuhmu!" Sakura memandang Tenten penuh amarah.
"kita perlu 2000cc darah dengan segera, Sakura! Cepat panggil ayahnya! Hanya dia kemungkinan terbesar saat ini, dari pada kita melakukan pemeriksaan yang percuma" Tenten memandang wajah Sakura tegas. Namun Sakura masih terisak, Tenten menggeram. Apa hanya ini yang bisa Sakura lakukan?
"Sarada punya darah yang sama dengan ibunya, kemana aku harus mencari ibunya disaat seperti ini?!"
Tenten menarik nafasnya kecewa. Sial, tidak pernah terpikirkan olehnya tentang kemungkinan seperti ini. Sakura bukan ibu kandungnya, dia sudah tahu. Mencari wanita yang empat tahun lalu melahirkan Sarada disaat seperti ini, jauh lebih memakan waktu. Melakukan pemeriksaan yang juga memakan waktu memang harus menjadi pilihan satu – satunya.
"darahmu bagaimana? Kau pasti lebih paham kococokan diantara kalian kan?" Tenten memaksa Sakura lagi. Dan wanita itu hanya menggeleng tak berdaya. Sakura tak memiliki kecocokan apapun dengan Sarada. Tidak semuanya. Mereka tidak punya hubungan darah. Jika saat ini Sakura tahu dimana keberadaan ibu kandung Sarada yang empat tahun lalu telah meninggalkannya. Sakura ingin sekali berlutut dibawah kakinya. Apapun demi Sarada, akan dia lakukan.
"i-ibu.., aku.. a-aku sayang ibu.." pedih rasanya mendengar suara itu keluar dari mulut Sarada. Sakura tak kuasa menahan tangisnya. Ditatapnya wajah gadis kecil itu penuh kelembutan. "jangan tinggalkan ibu sayang. Ibu akan mengantarmu setiap pagi, ibu akan membacakanmu sebuah dongeng, jangan tinggalkan ibu. Kita belum melakukan banyak hal. Sarada, bertahanlah. Bukankah kau sudah berjanji akan merayakan ulangtahun paman Itachi siang nanti? bertahanlah!" Sakura terisak.
"a-aku.. takut.. bu.."
Tenten bahkan tak sanggup menahan airmatanya. Inikah penyesalanmu Sakura? Ini benar-benar menyakitkan. Bukan hanya Tenten, Sakura pun pasti tahu tak ada sesuatu yang bisa mereka perbuat sekarang. Hanya berserah pada Tuhan? Apa Sakura sanggup melakukannya? Tenten sudah memperkirakannya jauh, jika mereka punya darah sekalipun, masa kritis Sarada jauh lebih menakutkan. Tubuh Sarada melemah setahap demi setahap. Semua alat medis sudah diupayakan. Dan kondisinya tidak mendukung.
"Sarada.., ibu ada disini. Ibu disini" Sakura terisak cukup keras sekarang. Dia benar – benar terlihat menderita. Kenapa baru ini dia menyadari semua kesalahannya. Kenapa baru ini rasanya dia tak sanggup kehilangan Sarada.
Nafas Sarada semakin berat, denyut nadinya pun melemah. Tenten hanya bisa ikut berdoa dalam hatinya. Melihat anak kecil, menangis dengan luka separah itu. Menangis memanggil ibunya. Tenten tak bisa menahan airmatanya mengalir. Sesak rasanya. Empat tahun lalu, Tenten pun ada disana saat ibu kandung dari anak ini memutuskan untuk meninggalkan putri yang baru beberapa menit dilahirkannya. Sakura tak bisa bicara banyak pada saat itu. Ada sesuatu yang juga membebani pikirannya. Tapi, meskipun Sarada bukan anak kandungnya. Tenten tahu sebesar apa rasanya cinta istri Itachi itu pada Sarada. Sikap dingin Sakura baru terbentuk dua tahun terakhir ini. Hanya itu yang tidak diketahui Tenten. Kenapa Sakura berubah drastis menjadi pemurung, kenapa wanita ini seakan menjauhi Sarada yang begitu sangat disayanginya. Menahan diri, itulah yang Tenten rasakan dari sikap Sakura dalam menghadapi Sarada selama ini.
"ay-ayah.., aku ingin bertemu ayah.." suara Sarada semakin melemah. Sakura langsung teringat pada Sasuke. Diperintahkannya seorang suster untuk menghubungi Sasuke.
"cepat hubungi Sasuke, cepat hubunngi ayahnya!" teriaknya penuh perintah. Tapi yang ada semua suster saling memandang dengan ekspresi penuh pikir. Perintah Sakura terlalu sulit mereka mengerti.
"Shizune, cepat kau hubungi suamiku sekarang!" Sakura memandang salah satu perawat yang sering berada dalam satu tim dengannya. Shizune mengangguk cepat sebelum menghilang dari ruangan. Jika dia diperintahkan untuk menghubungi Suami dari Haruno Sakura, yang dia kenal dengan nama Uchiha Itachi. Shizune tentu mengerti, karena Shizune sudah mengenal sosok itu lebih lama.
"ayahmu akan datang sayang. Kau akan bertemu dengannya, bertahanlah. Jangan buat ayahmu khawatir" Sarada tak mampu mendengar. Nafasnya semakin melemah, sepertinya resusitasi jantung yang dilakukan Tenten dan beberapa alat medis yang dipasang padanya beberapa saat tadi tak berpegaruh apa – apa.
.
.
.
Sasuke melangkah masuk kebagian lobby utama Rumah Sakit yang dia tahu adalah tempat dari Haruno Sakura bekerja. Haruno? Sasuke lebih suka memanggil Sakura dengan marga itu dari pada marganya yang sekarang. Meskipun dulu dia juga sering memberi Sakura marga yang sama dengan marga dirinya. Masih digenggamnya sebuah amplop dalam tangannya. Setelah dia mengantarkan ini, mungkin dia akan bisa segera pergi dari sana. Menemui Sakura, bukanlah pilihan untuknya. Tapi, memikirkan mungkin apa yang digenggamnya sekarang adalah benda yang sangat penting. Tak mungkin bisa dia menitipkannya pada orang lain. Dan menemui Sakura adalah pilihan paling akhir yang diputuskannya.
"aku ingin bertemu dengan Uchiha Sakura, dokter dibagian ahli kandungan" ucap Sasuke saat menatap salah satu dari beberapa wanita yang menyambutnya dibagian recepsionist.
"maaf tuan, Sakura-sensei sedang menangani korban kecelakaan" balas wanita itu ramah. "apa ada yang bisa kami bantu?" lanjutnya penuh perhatian.
"ah, tidak. Biar aku menunggunya-"
"Ino-san. Cepat hubungi Itachi-sama, katakan padanya anaknya mengalami kecelakaan" Sasuke menoleh cepat kearah sang perawat yang terlihat begitu panik. Seorang perawat yang tanpa peduli bahwa dia sudah melakukan kepanikan disana. Sejenak Sasuke tertegun.
"apa yang terjadi suster?" tanya Sasuke ragu. Dilihatnya pakaian perawat itu penuh dengan noda darah, rasanya detik itu juga ada perasaan tak enak menyerang batinnya.
"maaf tuan, kami-"
"Uchiha Itachi adalah kakakku, suami dari Sakura-sensei. Apa yang terjadi? Katakan padaku, anak siapa yang anda bilang mengalami kecelakaan?" paksanya cepat. Tanpa pikir panjang, Shizune menjawab pertanyaan Sasuke, tidak ada gunanya berlama-lama.
"Uchiha Sarada, putri Sakura sensei. Dia sedang sekarat sekarang, dan-" dan seketika itu detakan jantung Sasuke berdetak sangat kencang.
"BAWA AKU KESANA!" teriaknya membuat seluruh mata menatapnya heran.
"ta-tapi tuan, anda siapa?-"
"aku ayahnya!"
"Tenten, lakukan sesuatu Tenten. Bilang padaku apa Sarada bisa menjalani masa kritisnya?" Sakura menatap iba Sarada, dia pun tahu tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi saat ini. Pendarahannya tak bisa berhenti dan ini membuat Sakura terlihat begitu malang. Tapi apa dia masih bisa berdiam diri saat Sarada terlihat begitu menyakitkan?
"Sarada!"
Tenten menolehkan wajahnya cepat. Seorang pria yang sangat dia kenal, kini mendorong semua penjagaan yang menahan tubuhnya untuk masuk.
"biarkan dia masuk" perintah Tenten dan semua orang melepas tubuh Sasuke disana. Mata Sasuke membulat sempurna, harta yang paling dicintainya, kini terlihat begitu malang didepan matanya.
"apa yang terjadi pada putriku?!" teriaknya membuat kepanikan. Seluruh perawat masih mengusahakan apa yang mereka bisa, tapi Tenten tahu itu percuma.
"Sasuke-san, dia mengalami kecelakaan. Dan pertolongan pertama yang didapatnya semakin memperparah lukanya" Tenten berusaha menjelaskan meskipun dia tahu Sasuke tidak terlalu peduli padanya.
Pertolongan pertama yang didapat Sarada diawal kecelakaan memang memperparah kondisi lukanya. Bagaimana cara dia diangkat dari tempat kejadian pun bisa memperngaruhi luka yang sudah didapatnya. Dan itu yang Tenten simpulkan dari luka disekitar tulang kaki dan punggungnya.
"apa yang kau lakukan pada putriku, Sakura?!" teriak Sasuke kesal. Ditariknya tubuh Sakura menjauh dari Sarada, tidak peduli bagaimana orang memandang sifat kasarnya. Hingga Sakura terpekik karena hempasan tubuhnya mengantam lantai dan menyebabkan tubuhnya membentur alat – alat medis yang masih ingin dirapikan disana. Tenten meraihnya cepat.
"maafkan aku.. maafkan aku.." hanya itulah kata yang didengar Tenten dari Sakura. Wanita itu menggigil ketakutan penuh penyesalan dalam dekapannya. Menderita, sangat menderita. Tenten mendekap tubuh Sakura penuh perhatian. Dia ikut menangis, tangisan Sakura membuatnya tak mampu menahan airmata.
"sayang, ini ayah. Ini ayah. Buka matamu" haru, seorang orang yang memandang peristiwa ini membuat ruangan menjadi penuh dengan isakan. Shizune melangkah mendekati Sakura, tak tega melihat dokter itu menangis seperti ini. Jika ada seseorang yang harus disalahkan, harusnya bukan Sakura. Dia juga menderita saat ini. Meskipun Shizune tak paham hubungan seperti apa antara Sarada, Sakura dan Sasuke didepannya saat ini. Tapi dia tetap tak rela Sakura disalahkan seperti yang dilakukan Sasuke tadi.
"sensei, jangan menangis lagi. Semua orang sudah mengupayakan semua yang bisa diuapayakan. Jika dia bisa melewati maa kritisnya, maka semua akan baik – baik saja" ucapnya tak berdaya. Hanya jika dia bisa melewatinya, bagaimana jika tidak bisa?. Ini terlalu menyedihkan. Bertahun – tahun dia menjadi perawat, begitu banyak hal yang membuat airmatanya mengalir selama dia bekerja sebagai perawat, tapi baru kali ini dia merasa sesedih ini. Apalagi, dari yang dia tahu, Sakura adalah wanita yang terlihat cukup dingin. Namun saat melihat wanita ini berada pada titik terlemahnya seperti yang dia lihat didepan matanya. Shizune merasa lirih.
"a-ayah, a-aku sa...yang i...bu" ucap Sarada tak jelas. Tapi Sasuke mendengarkannya dengan baik.
"ya, ayah juga. Bertahanlah sayang. Kita akan bersama–sama lagi, ayah akan menuruti semua permintaan Sarada, bertahanlah" isaknya penuh harapan. Seandainya Tuhan mendengar permintaan itu sekarang juga, bisakah keajaiban berpihak pada Sarada.
"ayah, b-bilang pada ibu Sakura jika Sarada sayang dia. B-bilang pada ibu sakura jika Sarada akan tetap memanggilnya i..ibu, bolehkan?" Sasuke mengangguk cepat. Didekapnya tubuh Sarada yang penuh luka. Dia tak sanggup melihat pemandangan ini. Sangat tak sanggup. Piluh rasanya melihat buah hatimu semenderita ini.
"jangan bicara lagi cantik. Ibu Sakura juga menyayangi Sarada. Dia yang merawatmu sejak kecil. Ayah sudah bilang kan, dia menyayangimu. Jadi bertahanlah, sampaikan sendiri semua yang kau rasakan padanya nanti. Sarada, ayah mohon bertahanlah" Sasuke memeluk tubuh Sarada, dia ingin berteriak. Dia sangat ingin berteriak. Terlalu sakit mendengar semua ucapan itu dari mulut anaknya yang kini tak lagi sanggup membuka matanya.
"Sarada. Ibu janji akan bersama Sarada selamanya. Bertahanlah sayang. Ibu membutuhkanmu" Sakura merangkak menggapai Sarada, ditepisnya seluruh tangan yang mendekapnya. Diraihnya tangan Sarada yang berada digenggaman Sasuke, dan ikut menggenggamnya. Untuk kali ini saja, dia begitu takut akan sebuah kehilangan.
"I-ibu, b-baik-baik sama ayah ya.." Sakura menggangguk cepat, diusapnya airmata diwajahnya menggunakan tangan Sarada, dibiarkannya tangan itu menyentuh pipinya. Dingin.
"dokter, jantungnya melemah!"
Tenten bergerak cepat, menghampiri Sarada, diberinya perintah bagi beberapa orang untuk menarik Sasuke dan Sakura dari tubuh Sarada. Namun saat semuanya akan terjadi, suara panjang dari monitor EKG yang menampakkan detakan jantung Sarada terdengar mengisi ruangan. Rahang Sakura mengeras. Tenten menundukkan kepalanya, dan semua perawat disana menunduk dengan isakan tangis. Tak ada lagi detak jantung. Tak ada lagi hembusan nafas yang terasa. Semuanya menjadi terasa begitu sepi. Garis lurus menjadi pemandangan yang paling mengerikan untuk saat ini.
"OH TUHAN! Sarada! Sarada! Buka matamu! BUKA MATAMU!" Sasuke meraung, tubuh itu masih didekapnya dengan seluruh kekuatannya. Tapi dia tahu semua itu akan percuma. Tenten mengangkat kepalanya, berusaha tegar untuk tidak terlalu banyak mengeluarkan airmata, dia telah gagal. Itu lah kini mengganjal dihatinya. Dipandanganya Sakura yang hanya menunduk diam disana. Iba, Tenten sangat iba melihat sahabatnya itu. Andai dia bisa membuat keajaiban. Sarada pasti akan dia selamatkan.
"Sakura, maafkan aku" Tenten memeluk Sakura dan mereka terisak bersama.
"Tenten.. aku menyayanginya Tenten. Aku sangat mencintainya. Aku menyesal mengabaikannya selama ini. Aku menyesal!" teriaknya dalam dekapan Tenten. Suara itu teredam, bersama dengan isakan beberapa perawat yang terlihat ikut dalam kesedihan disana.
"maafkan ayah Sarada, maafkan ayah" bisik Sasuke entah pada siapa. Bisakah Sarada mendengarnya?
Dia masih berdiri disana, Itachi masih berdiri dalam diam diluar ruangan. Meski dia tak ikut menyaksikan kesakitan didalam sana. Tapi dia tahu apa yang telah terjadi, saat ini. Perlahan, tanpa dia sadar ada airmata yang jatuh menelusuri pipinya. Dadanya terasa begitu sesak. Teriakan-teriakan kehilangan Sasuke menghantamnya berkali-kali. Tangisan Sakura membuatnya bergetar. Dan suara-suara isakan dari perawat lain membuatnya tak berdaya.
Itachi tak kuat menghadapi kejadian ini. Dilangkahkannya kakinya menjauh, mencari ketenangan untuk dirinya sendiri. Sejenak kenangan-kenangan tentang keponakan kesayangannya itupun muncul menghantui pikirannya.
.
.
.
"paman, ibu mana?" Sarada, gadis kecil itu mendekap Itachi dengan tawa, meski terlihat jelas ekspresi tanya dalam wajahnya. Itachi membalas dekapan Sarada, menariknya lembut dan membiarkan gadis kecil itu duduk dalam pangkuannya.
"ada apa? kau selalu mencari ibumu, kenapa tak pernah mencari paman?" seru Itachi tersenyum lembut sambil mengelus pipi Sarada.
"loh, pamankan sudah disini. Untuk apa dicari? Ibu jarang dirumah, makanya Sarada cari" jawabnya dengan tingkah khasnya. Imut, Itachi mendekap tubuh Sarada dan memeluknya dalam tawa, tak mampu ditahannya rasa geram yang mendesak dalam dadanya.
"kau sudah pintar bicara ya?" ledek Itachi sambil mengacak rambut Sarada. Dan respon yang dibuat Sarada hanya menampilkan wajah tak senangnya.
"paman?"
"ya?" Itachi masih menatap Sarada penuh senyuman.
"kenapa ibu tak pernah mencium ayah?"
Pertanyaan singkat. Tapi Itachi sedikit tertegun untuk memikirkannya sesaat. Sakura mencium Sasuke? Bisakah Itachi menjawabnya?
"kenapa bertanya seperti itu?"
"habisnya, ayah dan ibu itu kan harusnya saling mengasihi. Kenapa ayahku dan ibuku tak pernah melakukannya?" Sarada ingin tahu. Meski dia masih kecil, tapi kejujurannya itu terlalu terang–terangan.
"Sarada sayang. Ibu Sakura itu, istri paman. Bukan ibu yang melahirkanmu, bukankah ayahmu sering mengatakannya?" Itachi memandanga Sarada.
"pernah kok, tapi ayah bilang ibu Sakura yang melahirkan aku" bantahnya sengit. Itachi tertawa.
"bukan. Ibu Sakura membantu ibumu melahirkan, bukan yang melahirkanmu" ucapnya membuat Sarada berpikir. Melihat tingkah Sarada yang terlalu serius membuat Itachi kembali mendekapnya. "sudahlah, kau tak akan mengerti" –aku yang mengijinkanmu memanggil Sakura sebagai ibu. Tapi tak kusangka itu selalu membuatku menderita, batin Itachi.
.
.
.
"Sakura?"
Itachi tersadar dari lamunannya. Didepannya kini, melangkah lemah seorang wanita yang begitu sangat dicintainya. Sakura mengangkat kepalanya memandang Itachi, kembali tangis menyerang batinnya. Wajah Itachi membuatnya seakan merasa dua kali lebih bersalah.
"a-aku yang telah me-membunuhnya, Itachi.. aku.."
Itachi langsung mendekap Sakura sebelum wanita itu bicara terlalu banyak. Sakura menjerit, Sakura meraung tanpa batas. Dibiarkannya wajahnya membasahi pakaian Itachi, dia tidak peduli.
"jangan menangis lagi, jangan menyalahkan dirimu lagi" ucapnya mempererat dekapannya.
"Itachi, maafkan aku. Aku tak bisa melakukan apa yang kau inginkan. Aku-"
"diamlah Sakura. Aku tahu semua yang kau rasakan. Diamlah"
Tbc
.
.
"bukan pilihan yang bagus untuk tetap membiarkan Sarada memanggilku sebagai ibu, Itachi"
Sakura duduk menatap Itachi yang juga menatap matanya. Itachi tersenyum lirih. Benar kata Sakura, membiarkan Sarada memanggil istrinya sebagai ibu bukanlah pilihan yang bagus. Tapi, rasanya Itachi tak tega membiarkan Sarada tumbuh tanpa sosok ibu dalam hidupnya.
"tapi, membiarkannya tumbuh tanpa seorang ibu, membuatku merasa bersalah Sakura"
Itachi menarik pandangannya dari Sakura, dia tidak suka melihat istrinya menatapnya sengit seperti itu. Bukannya Sakura tidak mau Sarada menganggapnya sebagai ibu. Hanya saja, beda ceritanya jika saja Sarada bukan anak dari Sasuke, mantan kekasihnya. Masalalu diantara mereka, Itachi pun harusnya memahaminya. Sakura tidak bisa terus-menerus berada dalam satu ikatan dengan Sasuke. Dan kesalahan terbesar Itachi saat mengajak Sasuke tinggal bersama dengan mereka pun adalah kesalahan yang masih belum bisa Sakura terima. Tinggal bersama dengan mantan kekasihmu, saat kau telah bersuami, apalagi suamimu adalah kakak dari mantan kekasihmu sendiri. Bukankah ini terlalu menyakitkan? Sakura memang akhirnya mengijinkan Sasuke tinggal dengan mereka, hanya karena keberadaan Sarada. Tanpa seorang ibu, bisakah Sarada bertahan? Dan itulah mengapa akhirnya Sakura memutuskan mengalah pada semua keputusan Itachi pada hidupnya. Toh, sejak pertama Sakura memang sudah mencintai Sarada dalam pelukannya.
AN: sialan! tembus 6k (word) lebih! Niatnya pengen di belah, tapi ya sudahlah. Saya satuin aja.
Makasih untuk yang review! makasih juga yang sudah penasaran dan menebak-nebak!
Untuk Chapter ini, tolong jangan salahkan saya karena pengetahuan saya tentang nyawa dan sejenisnya kurang banyak. saya bukan seorang ahli disini.
monitor EKG : Singkatan dari Elektrokardiogram.
Resusitasi : tindakan memberikan kejutan pada jantung atau paru, untuk mengembalikan fungsinya, baik dengan alat maupun dengan manual seperti pompaan tangan.
Maaf kalau saya gak bisa balas review satu persatu. Tapi saya sangat menghargai kalian semua.
Lain kali kalau saya punya waktu banyak, saya akan membalas kalian satu persatu.
So, sekarang sudah mulai terbuka kan bagaimana hubungan antara mereka berempat?! lambat laun semuanya akan diperjelas.
Dan setelah ini, saya ingin meminta maaf Sarada.
ohya, saya lupa bilang. Naruto dan Hinata pun sebenarnya gak ada di OS (Original Story)-nya. Saya nambahin aja disini.
