Title :Scenario of My Life

Genre :Romance / Family

Rated :T

Pairing :Alaude x OC / Alaude x Stella | Slight Giotto x OC & G. x OC

Warning :OOC, OC, Typo (mungkin)

Disclaimed :KHR © Amano Akira | Stella © Me

Chapter 4, Training

"H—hei Alaude, jangan bercanda!"

Mencoba untuk melihat keadaan Alaude, tetapi yang bersangkutan tampak tidak sadarkan diri membuat Stella semakin panik. Dengan segera mengambil handphone yang ada di saku celananya, menekan tombol untuk menghubungi seseorang.

"Stella, kenapa kau menghubungiku yang hanya berjarak—"

"G, aku butuh bantuanmu—Alaude terluka di dapur, dan—dan darahnya," suaranya tampak gemetar karena suatu hal. G yang mendengar adiknya tampak panik dan juga cemas mengerti apa yang membuatnya panik.

"Aku akan kesana, tetap jaga Alaude sampai aku kembali—" suara hubungan telpon yang terputus membuatnya cemas. Dengan segera mencoba untuk membalikkan tubuh Alaude dan duduk sambil memangkukan kepalanya di pangkuannya.

"Da—darahnya banyak sekali," mencoba untuk menekan luka yang ada di perut kanan Alaude, berusaha untuk menghentikan darah yang keluar dari tubuh Alaude. Walaupun saat ini tangannya sudah kotor oleh darah Alaude, Stella tampak tidak berhenti melakukannya, 'G…'

"G, kau dimana—" suara tangisan anak kecil tampak terdengar saat itu. Di sebuah reruntuhan bangunan yang tampak dikepung oleh api, anak perempuan berambut merah pendek itu tampak menangis dengan kaki yang terjepit di salah satu balok yang ada disana, "—disini panas, aku takut…"

"Stella! Kau dimana, jawab aku!" suara yang ia kenal baik membuatnya berhenti menangis walaupun masih ada isakan kecil terdengar. Menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mendengar lagi suara yang tadi ia dengar, "Stella!"

"G, aku disini!" bayangan seorang anak laki-laki terlihat diantara kepungan api itu. Tampak bocah berambut merah dengan mata yang senada itu menghampiri anak perempuan itu. Tampak tersenyum lega, bocah itu akan menghampiri sebelum matanya menangkap sesuatu yang membuat senyumannya memudar.

"STELLA AWAS!" anak perempuan itu menutup matanya, saat sosok pemuda itu tampak menerjangnya. Saat matanya membuka, yang ia temukan adalah sosok kakaknya yang berada di atasnya. Balok yang cukup besar terlihat menimpa mereka berdua—dan darah tampak mengotori wajah kakaknya itu membuat matanya membulat.

"G…G!"

"…la…Stella… STELLA!" satu hentakan di bahunya, matanya langsung membuka dan menatap sekelilingnya. Masih basah dengan air mata, ia menatap kakaknya yang sekarang berada di depannya bersama dengan Giotto dan juga yang lainnya, "kau tidak apa-apa?"

"G—G," memeluk erat lengan kakaknya itu, menutup matanya erat mencoba untuk menghilangkan memori masa lalunya itu. Itu sudah lama terjadi, aku harus melupakannya hanya itu yang ada di fikirannya saat itu sebelum menyadari kenapa ia ada disini.

"B—Bagaimana dengan Alaude?"

"Knuckle sudah mengatasinya—ia akan sadar sebentar lagi," G menoleh pada Knuckle yang tampak mencoba untuk menutup luka yang menyebabkan pendarahan di Alaude. Stella tampak menghela nafas lega, namun tubuhnya yang masih memeluk G tampak gemetar.

"Stella?"

"Aku masih belum bisa melupakannya G…" keringat dingin masih bercucuran di wajah Stella saat itu, "bahkan rasa panasnya masih bisa kurasakan kalau aku melihat darah di tanganku—" menatap Stella, G tampak menghela nafas dan menepuk kepalanya.

"Bukankah sudah kubilang itu bukan salahmu bodoh…"

"Tetapi—" pukulan pelan di kepalanya membuatnya refleks menutup matanya, "—hei!"

"Sebaiknya kita melihat keadaan Alaude dan menanyai penyebabnya, bukan saatnya memikirkan hal itu—" menutup sebelah matanya dan melepaskan pelukan Stella sebelum berdiri menjauhinya, "—lagipula itu sudah lama sekali, tidak perlu kau ingat lagi…"

'Tetapi—bukankah luka di wajahmu itu karena aku? Setiap melihatnya, bagaimana mungkin aku melupakannya—' hela nafas, memutuskan untuk berjalan mendekati G dan juga yang lainnya.

Entah sudah berapa lama Alaude tidak sadarkan diri karena—ternyata tiga peluru menembus tubuhnya. Ajaib kalau Alaude bisa kembali sendiri, berjalan ke dapur—walaupun entah kenapa ia harus berjalan kesana—dan masih sempat sadar.

Mengerjapkan matanya, menemukan dirinya berada di ruangannya. Terdiam sejenak mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Menggerutu pelan saat mengetahui apa yang membuatnya pingsan.

"Millefiore itu—" mencoba untuk bergerak duduk sebelum menyadari seseorang tertidur di samping tempat tidurnya. Gadis berambut merah dengan mata hijau itu tampak membaringkan kepalanya dengan lipatan tangan sebagai bantalnya, "—herbivore ini…"

Perlahan ia juga mengingat, setengah sadar ia berjalan kearah dapur, mendengar suara Stella sebelum kegelapan benar-benar menguasainya secara penuh. Sedikit mengerutkan dahinya—memijatnya perlahan.

'Kenapa aku malah pergi ke dapur saat itu?'

"Oh, kau sudah sadar?" suara itu membuatnya menoleh untuk menemukan G yang tampak membawa selimut ke dalam ruangan. Yah, bagaimanapun adiknya tertidur disana—ia harus memastikan kalau ia tidak masuk angin, "tidak seperti biasanya kau pulang dengan luka yang parah seperti kemarin—"

"Ia menungguiku sejak kemarin?" menunjuk pada Stella yang masih tertidur di sampingnya.

"Kalau kau tidak menghitung saat ia bekerja dan juga mandi serta makan—jawabannya ya," menghela nafas dan menyelimuti Stella yang ada di hadapannya. Kali ini menatap kearah Alaude yang masih menatap Stella.

"Jadi, siapa yang melakukannya?"

"Millefiore—" G tidak terkejut, akhir-akhir ini keluarga mafia itu tampaknya gencar-gencarnya mengincar Vongola dan juga Arcobaleno. Mare ring bukanlah benda yang bisa diremehkan—bagaimanapun itu adalah satu benda selain Pacifier dan Vongola Ring yang bisa mengaktifkan Tri ni sette.

"Itulah kenapa aku tidak ingin Stella ada disini—tempat ini terlalu berbahaya," menghela nafas, tampak G yang menatap Stella yang tengah tertidur, "bagaimanapun Stella tidak memiliki kemampuan bertarung dan juga kemampuan pengendalian flame."

"Tetapi bagus bukan—karena Millefiore sudah mengetahui data tentangnya, dan akan sangat berbahaya kalau sampai ia tidak dalam perlindungan," G menatap Alaude yang tampak menatap Stella sebelum menoleh pada G yang menatapnya curiga, "ada apa dengan tatapanmu itu?"

"Hanya—sedikit aneh," jawabnya sambil berbalik akan keluar. Alaude berdiri, mencoba untuk keluar bersama dengan G saat itu, "hei, kau harusnya beristirahat!"

"Tidak, aku tidak suka terlalu banyak beristirahat—" jawab Alaude tenang sambil menatap kearah Stella dan kembali sejenak untuk menggendongnya dan meletakkannya di atas tempat tidur, "aku tidak suka terlihat lemah."

"Giotto akan membekukanmu kalau tahu kau tidak istirahat bodoh—"

"Biar saja…"

BLAM!

Suara pintu yang tertutup tampak terdengar kala itu, suasana hening sejenak sebelum mata merah itu terbuka dan menunjukkan Stella yang terbangun kala itu. Ia tidak tertidur, mendengar semua yang dikatakan oleh kakaknya dan juga Alaude.

Di sebuah tempat tampak seseorang yang berada di tempat itu, meneliti beberapa macam mesin dan juga komputer disana. Ruangan tampak remang, hanya ada dia sendirian disana sebelum suara langkah terdengar dari belakangnya.

"Biasanya kau akan menghubungiku dulu," suara itu tampak berasal dari seseorang dengan rambut berwarna hijau dan pakaian jas putih seperti seorang ilmuan, "Stella?"

Berjalan lebih dalam hingga cahaya lampu menyinari, perempuan berambut merah itu tampak hanya diam dan mendekati pria itu—duduk di salah satu kursi yang ada di dekatnya.

"Verde-sensei—kau, bisa bertarung bukan?"

"Aku tidak pernah bertarung secara langsung—" memutar kursi yang diduduki, tampak menatap Stella dengan tatapan bingung, "—aku lebih suka menggunakan otakku."

"Aku ingin diajarkan bertarung—" menunduk, membiarkan matanya ditutupi oleh bayangan poni, "sensei selama ini selalu mengajariku tentang hacking dan sejenisnya—tetapi itu semua tidak bisa membantu banyak kakakku…"

"Memangnya apa yang ingin kau bantu dari kakakmu yang terkenal kuat itu—" hela nafas berat dan masuk menatap Stella dengan tatapan bingung. Verde sudah mengajari Stella sejak 5 tahun yang lalu—dan sebenarnya atas permintaan dari G yang melihat talent Stella.

"Aku hanya akan merepotkannya kalau aku tidak bisa minimal menjaga diriku sendiri, kalau sampai G terluka lagi—" mengeratkan genggaman tangannya di celana yang ia pakai, tubuhnya gemetar hanya karena memikirkannya, "—aku hanya ingin sedikit lebih kuat agar tidak menyusakan G dan juga yang lainnya!"

Diam dan hening—Verde menatap Stella yang membalasnya dengan tatapan serius.

"Baiklah, aku akan membantumu—tetapi, bukan dengan mengajarimu," Verde mengambil handphonenya dan mencoba untuk menghubungi seseorang. Stella yang mendengar itu tampak akan protes dengan apa yang dikatakan oleh sang guru, "aku akan memperkenalkan tutor yang bisa mengajarimu. Walaupun sebenarnya, aku tidak yakin kau akan tahan…"

"Ia bisa membuatku kuat?"

"Yah, ia memang memiliki tugas sebagai tutor—" suara sambungan yang diterima terdengar dari sebrang, "ah—Lal, aku butuh bantuanmu."

"Millefiore terus saja menyerang Vongola dan juga beberapa aliansi—bahkan hingga aliansi Vongola di Jepang—" menggunakan video call dari layar TV yang ada di Vongola, Giotto dan Tsuna tampak mencoba untuk berkomunikasi. Penyerangan Alaude tampaknya benar-benar dianggap serius oleh kedua boss Vongola ini.

"Kau tidak apa-apa bukan Tsuna?"

"Aku tidak apa-apa Giotto-nii, aku menghawatirkan Fuuta dan juga yang lainnya—Reborn tampaknya akhir-akhir ini kurang sehat," Tsuna menghela nafas mengingat tutornya yang seperti tidak memiliki kelemahan itu akhir-akhir ini cepat sekali sakit.

"Apakah ini behubungan dengan Millefiore?"

"Aku bertaruh besar untuk itu—" suasana hening tercipta dari mereka berdua. Giotto menatap Tsuna yang menatap lekat-lekat cincin yang terbagi dua antara dirinya dan juga Giotto. Tatapannya menunjukkan perasaan takut dan juga cemas saat melihatnya.

"Tsuna, kau tidak apa-apa?"

"Giotto-nii, apakah kau percaya apapun yang kulakukan nanti adalah untuk kebaikan kita semua?" Giotto mengerutkan alisnya, tampak benar-benar bingung dengan apa yang dikatakan oleh adiknya, "apakah nii-san bisa berjanji akan menyetujui apapun keputusanku?"

"Apa yang kau bicarakan Tsuna?"

"Tidak! Aku hanya memikirkan sesuatu, tetapi takut nii-san tidak menyetujuinya—yah, akan kufikirkan lagi sebelum mengatakannya pada nii-san," Giotto merasakan hyper intuitionnya menendang fikirannya, mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tsuna.

"Boss, pertemuan dengan kelompok Yamitsuki akan dimulai sebentar lagi—" suara Gokudera tampak terdengar saat itu memanggilnya.

"Ah, aku harus pergi—baiklah nii-san sampai jumpa!"

"Ah tunggu Tsuna—" mencoba untuk menghentikan Tsuna tetapi layar itu tampak gelap dan tidak ada sosok Tsuna sama sekali. Hening, Giotto benar-benar memikirkan apa yang dikatakan oleh Tsuna saat itu, "—apa yang kau rencanakan sebenarnya—Tsuna…"

"Namaku adalah Stella—mohon bantuannya mulai sekarang—" setelah Verde menelpon seseorang, muncul seorang perempuan berambut biru dengan sebuah luka di wajahnya. Memakai pakaian army dan tampak cukup galak dengan hanya melihatnya.

"Dia adalah orang yang dimaksud?" perempuan itu menunjuk kearah Stella sambil menatap Verde.

"Ia adalah muridku, kalau masalah mesin dan juga pemrgoraman aku sudah tidak meremehkannya lagi—tetapi ia ingin belajar bagaimana untuk bertarung," Verde tampak tersenyum dan menatap kearah Lal yang mengamati Stella dari ujung kaki ke ujung kepala.

"Kau pernah memegang senjata?"

"Apakah pisau termasuk?"

"Pisau jenis apa?" mengerutkan alisnya dan menatap Stella yang tampak tertawa datar sambil menggaruk kepala belakangnya.

"Pisau dapur—"

DHUAK!

Pukulan telak di kepala didapatkan Stella dari Lal saat itu. Mengaduh pelan dan tampak memegangi kepalanya.

"Ia benar-benar amatir—aku mengajarinya dari awal," Lal menghela nafas dan menghampiri Verde yang tampak sweatdrop melihat Stella. Bahkan selama 5 tahun menjadi muridnya, Stella tidak pernah dipukul olehnya seperti itu.

"Disinikah?"

Perempuan berambut kuning dengan mata senada itu tampak melihat sebuah catatan kecil di tangannya dan menatap kearah bangunan yang ada di depannya.

"Besar—" tampak sweatdrop sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan masuk dan menuju ke pintu depan—10 menit berjalan kaki dari gerbang depan. Beruntung sepertinya tidak ada apapun yang terjadi selama itu, "—disini Stella tinggal?"

Mengetuk pintu besar yang ada di depannya, mencoba untuk menunggu seseorang untuk membukakan pintu untuknya. Hanya menunggu tidak lama sebelum pintu terbuka perlahan dan menunjukkan pemuda berambut merah yang tampak memakai kemeja berwarna putih dengan kancing yang tidak dikancingkan pada bagian atas.

'G—G-san?!' panik dengan sosok pemuda yang ada di depannya—wajah Rhea tampak langsung memerah dan terlihat salah tingkah, 'a—aku tidak berdandan sama sekali, penampilanku pasti kacau—kenapa tidak Stella yang—'

"Oh, bukankah kau adalah teman Stella?" G yang tampak tidak sadar dengan sifat salah tingkah Rhea lebih memikirkan siapa yang ada di depannya saat ini, "—uh, Rhea Voldanski?"

'Ia ingat namaku—' mengangguk dengan cepat menjawab pertanyaan dari G.

"Ada apa kemari? Dan—bagaimana kau bisa tahu tempat tinggal kami?"

"S—Stella kemarin terlihat terburu-buru dan meninggalkan handphonenya, karena hari ini tidak masuk kukira aku bisa mengantarkannya. Kebetulan ada catatan kecil di handphone Stella tentang alamat tempat ini," menunjukkan handphone yang ada di tangannya, G hanya menunduk dan menghela nafas.

"Selalu saja ceroboh—" menggaruk kepala belakangnya dan tampak memikirkan sesuatu sebelum sadar kalau Rhea masih ada di depannya, "—ah, Stella sedang tidak ada di sini. Tetapi mungkin kau bisa menunggunya—"

"T—tidak apa-apa?"

"Tentu saja, lagipula kalau kau bersahabat dengan Stella pasti kau adalah orang yang baik," tersenyum sambil melirik kearah Rhea sebelum berjalan masuk ke dalam ruangan. Membiarkan Rhea yang tampak makin salah tingkah karena senyuman G.

'Aku sangat beruntung!'

Setelah komunikasinya dengan Tsuna berakhir, Giotto masih belum bisa menenangkan dirinya. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tsuna—ia tahu itu. Beruntung hari ini pekerjaan tidak banyak membuatnya bisa beristirahat sejenak untuk menenangkan fikiran.

"Apa karena aku kelelahan jadi berfikir yang tidak-tidak ya?" menghela nafas dan memijat pelipisnya, duduk di salah satu kursi yang ada di beranda lantai bawah mansion. Menutup matanya, mencoba untuk memikirkan setiap apa yang ada di dalam fikirannya.

"Tsuna—"

TUK!

Suara sesuatu yang diletakkan di samping kursinya membuatnya menoleh untuk menemukan sebuah cangkir berwarna hitam dengan isi berwarna cokelat dan asap mengepul dari gelas itu. Menoleh pada yang membawa—pelayan berambut cokelat pendek dengan kacamata yang menghiasi wajahnya.

"Sepertinya anda butuh sesuatu yang menghangatkan primo—" tersenyum dan membungkuk kearah Giotto. Mengambil cangkir itu dan mencium bau cairan di dalamnya. Sebuah cokelat panas lagi—untuk Giotto.

"Aku selalu suka cokelat buatanmu—kau memang benar-benar pandai membuatnya," tertawa dan mencoba untuk meminum minuman itu. Tsubaki yang melihatnya tampak panik dan salah tingkah, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Ah, maaf—aku memanggilmu seenaknya dengan nama Yukihime." Menggaruk kepala belakangnya tampak tidak enak dengan Tsubaki saat itu karena perkataan dari Stella. Tsubaki sendiri tampak mengerutkan alisnya dan tampak bingung dengan itu, "karena terbiasa di Italia, kukira biasa saja menggunakan nama kecil sebagai panggilan."

"A—ah, itu tidak masalah primo—aku tidak mempermasalahkannya sama sekali," menggoyangkan tangannya untuk memberikan isyarat tidak. Wajahnya semakin memerah karena gugup dengan permintaan maaf Giotto yang sebenarnya tidak ia permasalahkan, "a—anda bisa memanggil saya dengan Yukihime saja…"

Hening, tampak tidak ada pergerakan ataupun suara sebelum Tsubaki tampak sadar dengan apa yang dikatakan olehnya.

"A—apa yang ku katakan, ma—maafkan saya karena lancang primo!"

"Eh, tidak apa-apa—"

"Se—sebaiknya saya pergi saja sebelum mengatakan yang lebih tidak pantas untuk saya katakan pada anda," berbalik dengan segera dan panik karena perkataannya sendiri, namun Giotto yang melihat itu tampak berdiri dan mencoba untuk menghentikannya.

"Ah tunggu—Hime," memegang tangan Tsubaki dan mencoba untuk menghentikannya. Nahas, saat itu Tsubaki tampak tidak bisa mempertahankan keseimbangannya hingga akan terjatuh ke belakang.

"AAAH!" Giotto dan Tsubaki tampak berteriak bersama, dan mengaduh pelan. Saat sadar, Giotto tampak terbaring di atas lantai dengan Tsubaki yang tampak tergeletak menimpanya.

"Hime, kau tidak apa-apa—?"

"I—iya, maaf—" mencoba untuk bangkit, saat itu kacamatanya tampak terlepas begitu saja membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas saat itu. Belum sadar kalau ia terjatuh menimpa Giotto saat itu. Menoleh untuk melihat keadaan Tsubaki, Giotto malah melihat Tsubaki yang saat itu tidak memakai kacamata, menunjukkan mata dengan iris biru langit—yang menurutnya tampak sangat berbeda dari gadis-gadis biasanya.

"Apa yang kalian berdua lakukan—" suara itu tampak membuat keduanya tersadar, G yang saat itu baru saja masuk bersama dengan Rhea hanya bisa diam melihat Tsubaki yang menimpa Giotto dan berada di atas lantai.

"G—G!"

Mengambil kacamata yang ia temukan di dekatnya, memakai hingga ia bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.

"Tu—tuan G," menatap G yang tampak tersenyum, baru menoleh untuk menemukan ia yang masih duduk menimpa Giotto.

"Kau tidak apa-apa Hime?"

"AAAH, maafkan aku primo—aku tidak bermaksud untuk menimpamu seperti ini! Maafkan kelancangan saya primo—saya benar-benar tidak bermaksud," Giotto mencoba untuk menghentikan Tsubaki yang saat itu berdiri dengan segera dan membungkukkan badannya berkali-kali, "sa—saya akan pergi saja…"

"Ah, tunggu Hime!"

Tetapi kali ini ia tampak tidak berhenti dan berlari meninggalkan Giotto dengan G dan juga Rhea.

"Apa yang terjadi pada kalian berdua?"

"Tidak ada apa-apa—" menutup mulutnya dengan sebelah tangan, memalingkan wajahnya yang sedikit memerah dari G sebelum matanya menangkap sosok Rhea yang segera membungkukkan badannya, "—eh, siapa gadis ini G? Diam-diam kau sudah punya kekasih?"

"Bukan bodoh—" memukul kepala Giotto yang menurutnya melindur, "—dia adalah sahabat dari Stella, namanya adalah Rhea. Ia kemari untuk bertemu dengan Stella—"

"Oh, kufikir kalian adalah pasangan, kalian cukup cocok saat kulihat tadi," tertawa santai, melihat wajah Rhea yang seketika it memerah karena perkataan dari Giotto, dan G tampak memukul sekali lagi kepala Giotto dengan cukup keras.

"Jangan mengganggunya—" tersenyum sinis sambil menoleh pada Giotto yang masih mengaduh, "lagipula siapa yang diam-diam punya hubungan dengan Hime dan ternyata sudah sampai sejauh tadi?"

"I—itu bukan seperti yang terlihat G, a—aku hanya—"

"Iya-iya, ayo Rhea—tinggalkan saja orang ini—" G tampak menarik tangan Rhea saat itu, yang membuatnya sangat terkejut dengan apa yang G lakukan.

"T—tunggu G-san—"

"AAAH!" suara teriakan terdengar dari area tembak yang ada di salah satu laboratorium milik Verde. Mengaduh pelan, tampak Stella yang terduduk sambil memegangi kepalanya. Di tangannya tampak sebuah pistol yang tampak tergenggam erat.

"Ya! Yang benar saja, kau bahkan terpental hanya karena menggunakan pistol itu untuk menembak sekali!" Lal tampak berdecak kesal dan berkacak pinggang melihat Stella yang tampak sangat bodoh untuk menggunakan senjata.

"A—aku tidak biasa menggunakannya—jangan samakan aku dengan G ataupun Hayato," tampak benar-benar frustasi karena dorongan dari pistol itu selalu membuatnya terjatuh. Ia tidak pernah bisa untuk menggunakan benda seperti ini—namun kalau tidak, ia bisa membuat yang lainnya kelabakan.

"Jangan cengeng, aku akan memberikan pistol itu—setelah ini kau harus berlatih lagi di mansion Vongola itu! Latihan kita hari ini selesai—"

"Baiklah Lal-sensei—" tampak menghela nafas dan meletakkan pistol itu di dalam tasnya.

"Lal!" suara itu membuatnya menoleh dan menemukan seorang pria berambut kuning dengan headband army dan juga seekor burung Valcon yang tampak terbang di dekatnya. Menghampiri dan berhenti di depan mereka, "kukira kau kemana—apa yang kau lakukan ditempat Verde?"

"Melatihnya—" menunjuk pada Stella yang segera membungkuk di depan pemuda itu, "namanya adalah Stella dan ia adalah adik dari G dan juga kakak dari Gokudera Hayato—"

"Oh, namaku adalah Colonello—salam kenal, kora!"

"Kau—kekasih Lal-sensei?" menoleh pada mereka berdua yang wajahnya langsung memerah mendengarnya. Menggeleng cepat, baik Lal maupun Colonello tampak terlihat salah tingkah karena perkataan Stella.

"Te—tentu saja tidak, ia adalah salah satu muridku sepertimu—tidak lebih!"

"Aku mengerti-aku mengerti," melihat jam tangannya, "ah sudah jam segini—aku harus pulang, sampai jumpa Lal-sensei!"

"Oh, jadi kau adalah seorang wartawan juga seperti Stella—awalnya bekerja di Russia?" G tampak berada di salah satu ruangan bersama dengan Rhea, meminum minuman yang ada di depannya yang disiapkan oleh pelayannya, "kau bertemu dengan Stella saat ia mengambil pendidikan di Russia."

"Begitulah—karena sedikit yang bisa berbahasa Italia, awalnya Stella kebingungan karena ia sendiri tidak bisa menggunakan bahasa disana," tertawa—Rhea tampak cukup tenang saat ini walaupun bersama dengan G, "karena aku senang belajar menggunakan bahasa asing, aku cukup bisa berbahasa Italia dan pada akhirnya aku menjadi seperti penerjemah untuknya."

"Yah, karena ia bekerja dan dipindahkan ke Russia secara tiba-tiba, ia tidak pernah belajar bahasanya sih—" G menggaruk kepala belakangnya dan tampak tertawa gugup, "—yah, terima kasih untuk bantuanmu pada Stella selama di Russia."

"Bukan apa-apa, lagipula Stella adalah temanku," tampak mengibaskan tangannya di depan badan dan tertawa canggung kearah G, "Stella sering bercerita kalau ia sangat ingin bersama dengan kalian lagi, beruntung karena ia bisa tinggal bersama dengan G-san saat ia kembali ke Italia…"

"Begitulah—aku jarang menghubunginya selama 5 tahun karena pekerjaanku disini sangat banyak."

"Memangnya—" G menoleh saat Rhea akan menanyakan sesuatu. Melihat sekelibat bayangan yang ada di jendela saat itu, menyadari apa itu segera berlari kearah Rhea dan menarik tubuh Rhea untuk berlindung.

"Awas!"

"AAAH!" menutup matanya dan telinga saat suara tembakan terdengar di telinganya. G masih mendekapnya dan mencoba untuk mengeluarkan pistolnya dan menembak kearah asal tembakan. Beberapa tembakan, dan suasana menjadi hening.

"A—apa itu tadi…"

"Kau tidak apa-apa Rhea?" suara G membuatnya menoleh saat tadi ia membelakangi sambil menutup matanya. Saat menoleh, jarak Rhea dan juga G tampak sangat dekat membuat wajahnya memerah seketika. G juga tampak tersentak dengan posisi mereka.

"Ah, maaf—"

"T—tidak apa-apa," sama-sama berdiri dan menjauh, Rhea tampak memegang kedua pipinya yang memerah dan tampak diam, 'wajahnya tadi dekat sekali…'

'Kenapa aku jadi malu seperti ini—' menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan membelakangi Rhea dengan wajah yang sedikit merah.

"Ah, apa itu tadi—" Rhea yang sudah sadar dan ingin bertanya tentang kejadian yang baru saja terjadi itu menoleh pada G. Sadar kalau serangan singkat tadi terjadi, G segera menoleh pada pintu depan dan segera berlari untuk mencari sosok Giotto.

"Giotto!" membuka pintu menuju ke aula saat melihat beberapa musuh mengepung Giotto. G segera mengeluarkan pistolnya, mencoba untuk menembaki beberapa orang yang ada di belakang Giotto, "mereka menyerang lagi?"

"Ya, aku baru saja akan ke tempatmu saat mendengar pistol meletus dan mereka sudah masuk begitu saja dan mengepungku," Giotto menyelimuti tangannya dengan flame sky dan menerjang kearah musuh yang ada di depannya.

"Rhea, sebaiknya kau segera berlindung—kau bisa terluka—" G menoleh pada Rhea yang memang mengikutinya karena G yang menyuruh. Namun saat itu tiba-tiba beberapa peluru menyerempetnya dan salah satunya mengenai tangan, lengan, dan juga pinggangnya.

"G-san!"

"G!" Giotto melihat tangan kanannya terkena tembakan. G masih sadar namun pistolnya terlempar begitu saja. Beberapa orang yang berada di dekat G dan siap untuk menembak G. giotto disibukkan oleh beberapa orang di sekelilingnya.

"Rhea lari!"

"Ta—tapi," melihat pistol yang ada di dekat sana dan beberapa orang yang ada di depan mereka. Dengan segera mengambilnya, mengarahkan dengan cepat kearah beberapa orang yang ada di depannya dan menembakkan pistol kearah musuh di depan mereka.

Walaupun tidak tepat—namun cukup membuat orang-orang itu tumbang.

"Eh?" G menatap Rhea yang cukup tenang saat menggunakan pistol. Dengan segera mendekati G dan melihatnya.

"G-san, kau tidak apa-apa?"

"G!" Giotto yang sudah membereskan beberapa orang di sekelilingnya tampak menghampiri mereka berdua, "kau tidak apa-apa?"

"Ya, hanya menyerempet saja—" G tampak memegangi pinggangnya yang terluka dan juga tangannya. Sepertinya peluru menembus dua bagian itu membuat darah cukup banyak keluar dari tempat itu, "yang lebih penting…"

"Rhea-san bukan? Apakah—kau mau mendengarkan apa yang akan kami ceritakan padamu?"

"Aku pulang!"

Stella tampak baru saja masuk ke dalam mansion saat melihat beberapa anak buah tampak membereskan kekacauan yang disebabkan penyerangan singkat di mansion. Mengerutkan alisnya, ia berjalan cepat menuju ke ruangan G saat itu.

"G!" membuka pintu, menemukan Giotto, G, dan juga Rhea ada disana. Karena Knuckle tidak ada di tempat itu, G hanya diperban dan tampak terbaring di atas tempat tidur walaupun masih dalam posisi duduk, "Rhea, kenapa kau ada disini?"

"Tadi terjadi penyerangan saat temanmu ada disini—dan sepertinya kami terpaksa memberitahukannya tentang semua ini," Giotto tampak menghela nafas dan menatap kearah Rhea yang menundukkan kepalanya. Ia sudah mendengar semua yang ada di sekelilingnya, tentang Vongola dan semuanya.

"Lalu, kenapa kau—"

"Hanya terserempet peluru," menunjuk tangannya yang diperban pada Stella yang tampak membulatkan mata sejenak sebelum menghela nafas panjang, "aku tidak apa-apa."

"Aku mengerti, Rhea ini sudah malam—kau ingin kuantar pulang?"

"Ah, tidak apa-apa—aku akan pulang sendiri saja," tampak mengibaskan tangannya dan menolak tawaran Stella, "lagipula lebih baik kau menjaga G-san saja Stella."

Berdiri dari tempatnya dan tersenyum kearah Giotto dan juga G disana.

"Kalau begitu, aku permisi dulu—" membungkuk pelan dan berjalan keluar dari tempat itu keluar dari mansion. Stella hanya menghela nafas dan menatap tajam kearah G yang mundur sedikit karena tatapan Stella.

"Ada apa?"

"Kau bodoh G—"

Rhea berada di depan bangunan Vongola yang ada di belakangnya sebelum berhenti dan menoleh kembali ke ruangan yang ada di belakangnya. Vongola—benar-benar membuatnya bingung, ia hanya tahu kalau Vongola adalah kelompok mafia yang besar di Italia.

Mengambil handphonenya, menghubungi seseorang sambil berjalan kembali.

"Ya, ayah—ini aku Rhea," suara dari dalam handphone itu terdengar tidak jelas dari luar, "ada yang ingin kutanyakan—"

"Ayah, sebagai kepala polisi—apakah semua kelompok mafia adalah musuh ayah?"

…to be continue…

Another Secret, Rhea Voldanski itu anak kepala polisi di Russia XD

Waah gimana ya mafia sama polisi kan bertentangan gitu, yah nanti dilihat saja selanjut-lanjutnya.

Makasih buat yang sudah review ^^ Jackfrost14, Yuuri, dan Rin-x-Edden.

Untuk 3 ukuran Stella, itu sebenarnya karena Alaude cuma dapat kabar dari yang disuruh nyari informasi Stella aja .w.

Oh, yang bingung settingnya, ini settingnya pas Future Arc tapi sebelum Tsuna mati :3

Biodata Rhea :

Nama : Rhea Voldanski

Usia : 25 tahun

Genre : F

Sifat : Otaku parah, ga bisa diam, setia kawan, keras kepala, cepat gugup.

Kelebihan : menembak (dari latihan ayahnya), bergerak cepat.

Kekurangan : memasak, berurusan dengan dunia nyata, suara yang keras, berenang.

Penampilan : berambut kuning panjang se-pinggang dengan mata berwarna kuning, tubuh sedikit gemuk dengan pipi chubby.

Senjata : hand gun

Kegemaran : Anime & Manga, makan, apapun kegiatan yang banyak gerakan.

Yang tidak disukai : diam di tempat, orang yang pemaksa.

Family : Athur Voldanski (Kepala polisi di Russia)