Pairing : Neji, Shikamaru, Sai, Sasuke, Naruto, Tenten, Temari, Sakura, Ino, Hinata.

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

WARNING : AU, OOC, TYPO, DLL.

LOVE IS STRANGE

Chapter 4

Kediaman keluarga Nara. Di halaman belakang keluarga Nara yang menyambung dengan hutan 'mini' milik keluarga Nara, telah berkumpul seluruh anggota keluarga Nara beserta tamu-tamunya yang membawa seluruh keluarganya juga. Tak perlu kuberitahu, kalian akan tahu keluarga apa saja yang berkumpul di sana.

Meja bundar besar yang penuh dengan santapan berbintang itu riuh dengan sebuah percakapan yang menyangkut satu hal; kejadian yang baru saja terjadi pagi hari ini, di Konoha High School.

"Yoshino, tadi kau jahat," Uzumaki Kushina, Nyonya keluarga Uzumaki itu melirik Yoshino.

Yoshino jelas saja tidak terima. "Kenapa aku? Bukan aku yang menentukan hukumannya bukan? Lagi pula salah mereka sendiri datang terlambat."

" Tapi kau yang memberi izin mereka untuk masuk," Nara Shikaku, yang sama malas dan jeniusnya dengan Shikamaru itu menyahut. " Aku dapat membayangkan betapa malunya mereka."

Uchiha Mikoto, yang duduk tepat di samping Yoshino juga tak mau ketinggalan. " Kasihan mereka. Harus menanggung malu sebesar itu. Lagi pula, murid kelas tiga yang menentukan hukuman mereka itu juga kejam sekali. Ah, siapa namanya? Konan?"

Yoshino mengangguk. " Dia kreatif ya?" Yoshino tertawa kecil.

Uzumaki Minato, yang duduk bersebelahan dengan Uchiha Itachi, juga sempat mengutarakan pendapatnya disela-sela kegiatan makannya. " Dan usulannya tentang hukuman itu, benar-benar memalukan. Maksudku, membuat empat gadis malang itu malu."

" Maaf, tidak ada maksud untuk membanggakan atau mengelu-elukan anak-anak itu," Itachi melirik ke sebuah gazebo di mana semua putra muda setiap keluarga berkumpul. " Tapi kupikir, kemungkinan gadis-gadis malang itu untuk menang sangatlah kecil," Itachi tersenyum, kemudian menambahkan. " Aku mengatakan ini berdasarkan fakta."

" Berharap sajalah semoga mereka mau mengalah," Hyuuga Hiashi menekan kata terakhir dalam kalimatnya.

" Jangan berharap terlalu jauh. Kupikir ana-anak itu tidak akan membiarkan hal itu terjadi," pernyataan Uchiha Fugaku itu disambut dengan tolehan serentak semua kepala kearah gazebo. " Aku ingin tahu apa maksudmu, Yoshino."

Yoshino hanya tersenyum. " Semua ini untuk kepentingan mereka," matanya tidak lepas dari gazebo yang terletak tidak jauh dari tempatnya duduk. " Semoga dengan ini mereka berubah," pernyataan Nyonya keluarga Nara itu disambut dengan pandangan penuh arti dari semua orang yang hadir.

####

" Lihat ini," Naruto menunjukkan laptopnya di hadapan Neji.

Neji melirik layar laptop Naruto. terpampang dengan jelas di layar laptop Naruto website KHS Friendster, jejaring sosial khusus murid-murid KHS. " Sebenarnya apa yang sedang kau tunjukkan?" Neji menatap Naruto bingung.

" Lihat trending topicnya dong, Neji! Sejak kapan kau jadi bodoh?!" Naruto berteriak keras. Sasuke yang duduk disampingnya sampai menjatuhkan tab-nya. Shikamaru yang tertidur langsung terbangun dengan gumaman kata 'merepotkan'. Sai yang sedang menggambar langsung melempar pensilnya tepat di kening Naruto.

" Lihat ini," Sai mengangkat sketch book-nya. " Hasil karyamu Naruto," Naruto hanya nyengir lebar saat melihat coretan garis horizontal tebal di atas gambar Abraham Lincoln milik Sai.

" Hihihi," Hinata, adik sepupu Hyuuga Neji tertawa geli. " Sai-nii jangan kasar begitu pada Naruto-kun."

" Jangan terlalu baik padanya Hinata," Shikamaru melirik kesal Naruto. " Aku tidak tahu kenapa kau betah dekat-dekat dengan orang merepotkan seperti dirinya."

Otomatis wajah Hinata memerah. Hinata langsung menunduk diam, terlalu malu untuk menanggapi kata-kata Shikamaru. " Shi-Shikamaru-nii ja-jangan b-be-gitu," Hinata akhirnya bersuara, sambil tergagap. Ciri khas Hinata jika merasa malu. Dah hal itu membuat empat pasang mata melirik jahil satu sama lain.

Sasuke mendecih, menyembunyikan senyum jahilnya.. " Aku tidak menyangka kau akan bertunangan dengannya Hinata"

" T-ta-pi i-itu kan ma-masih la-ma," Hinata melirik Naruto malu-malu.

" Begitukah?" Shikamaru menyahut, melirik Naruto yang susah payah menyembunyikan tawanya melihat wajah Hinata. " Tapi Paman Minato, Bibi Kushina, Ayahmu, dan bahkan Neji-," Shikamaru melirik Neji, meminta izin si empunya nama untuk ikut dalam skenarionya. "-direpotkan dengan rencana pertunanganmu itu yang bahkan masih setahun lagi."

" Paman Hiashi ingin pestanya terencana dengan matang," Neji melirik Sai yang sedang sibuk dengan sketch book-nya sejak tadi, tidak mempedulikan orang-orang disekitarnya. " Bahkan dia sudah meminta Sai untuk melukis potret dirimu dengan Naruto saat pertunanganmu nanti."

Mendengarnya, Sai mengangkat sebelah alisnya. Kemudian dia menatap Neji dengan tatapan aku-sama-sekali-tidak-tahu-soal-hal-itu. Namun setelah mendapat delikan mata jahil dari Naruto, dia akhirnya ikut menyahut. " Ah, aku ingat paman Hiashi ingin aku melukismu dan Naruto dengan pose berciuman."

Serentak, empat pasang mata menatap Sai. Sai hanya mengangkat bahu dan menyeringai jahil. Naruto yang melihat wajah Hinata memerah karena malu semakin membekap mulutnya erat-erat, berusaha untuk tidak tertawa.

Sai melanjutkan kata-katanya. "Jadi, jika kalian ingin berciuman, jangan lupa ajak aku untuk 'menontonnya', ya," perkataan Sai sukses membuat wajah Hinata semakin memerah karena malu.

" Eh, ta-tapi i-itu me-ma-mema-lukan."

" Kalau begitu aku minta foto saat kalian berdua sedang berciuman." Mendengarnya, wajah Hinata semakin memerah seperti kepiting rebus.

" Heemmpfft HAHAHA!" Naruto tidak kuat lagi menahan tawanya. Shikamaru, Sai, Neji dan Sasuke hanya tersenyum senang saat melihat hasil 'karya' mereka di wajah Hinata.

" Lucu," Neji menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyu menahan tawa melihat wajah sepupunya memerah karena malu. " Dan Sai, kau sedikit berlebihan."

Sai hanya tersenyum senang sambil mengangkat bahu.

Hinata terdiam, wajahnya semakin memerah. Kali ini wajahnya memerah malu karena sudah digoda oleh empat orang yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri, dan marah karena empat orang kakaknya itu mempermalukannya. Oh, jangan salahkan empat kakakmu yang jahil dan jenius itu Hinata.

" Onii-san! Jangan menjahiliku!" Hinata menyuarakan protesnya, memecah tawa girang Naruto.

" Onii-san yang mana yang kau maksud?" Naruto merangkul Hinata. " Kau punya empat Nii-san yang jenius, Hinata. Jangan lupakan itu."

Hinata hanya mendengus kesal.

" Sudahlah. Naruto, apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" Neji berusaha mengalihkan pembicaraan. Dliriknya Hinata yang masih cemberut.

" Empat anak yang terlambat bersamaan serta hukuman yang akan mereka jalani itu," Naruto meraih laptopnya. " Mereka sekarang sedang ribut dibicarakan," Naruto melirik empat pasang mata yang sontak menatapnya serius.

" Aku tidak tertarik," Shikamaru menyuarakan pendapatnya dan kembali menutup matanya.

Sasuke mendecih. " Biarkan saja. Lagi pula itu salah mereka," Sasuke berkata acuh.

" Jadi tak ada ampunan bagi mereka, eh?" Naruto menatap empat temannya bergantian.

" Aku tidak akan bersikap kasar pada perempuan, Naruto," Neji menyahut.

Sai mengeleng-gelengkan kepalanya. " Kasihan mereka. Tapi apa boleh buat. Aku hanya mengikuti kata-kata konan-senpai."

" Kenapa Neji-nii dan yang lainnya menerima tantangan itu? Mau cari perhatian?" Hinata sama sekali tidak menyadari tatapan tajam dari empat pasang mata di depannya. Dirinya terlalu sibuk membaca sesuatu di laptop Naruto.

" Tentu saja tidak," Sasuke menyahut.

" Lalu?" mata Hinata masih terpaku pada layar laptop Naruto.

" Hukuman tetaplah hukuman," Sai bersuara.

" Tapi bukankah kalian bisa menolaknya?"

Sasuke menghela nafas keras. Kesal juga dirinya dengan sikap Hinata." Aku tertarik untuk menerimanya. Aku pikir ada sesuatu yang berbeda darinya, dari gadis berambut pink itu, sejak pertama kali aku melihatnya." Sasuke sama sekali tidak mengindahkan tatapan kaget dari Naruto dan Hinata.

" Aku juga," Shikamaru ikut bersuara. " Jujur saja, aku sudah pernah bertanding shogi dengan gadis itu. Temari namanya. Dia gadis yang menabrakku, ingat?" empat anggukan kepala menjawab pertanyaan Shikamaru. " Aku menang, tapi untuk pertama kalinya, aku senang aku bisa menang. Aku tidak pernah merasa sesenang itu."

" Neji-nii? Sai-nii?" Hinata menuntut penjelasan dari Neji dan Sai.

" Kurang lebih sama dengan Sasuke. Aku sebenarnya juga tidak tahu." Sai menghela nafas. "Apa seperti ini yang dinamakan emosi labil?"

" Mungkin," Neji menyahut. Dilihat dari nada bicaranya, kata-katanya barusan bukan ditujukan sebagai jawaban dari pertanyaan Sai. " Mungkin juga alasanku juga sama seperti Sasuke."

Naruto dan Hinata berpandangan. Satu kalimat terbersit di benak mereka.

Mereka belum berubah.

####

Tenten menghela nafas kesal. Ia bersyukur bisa menahan emosinya untuk tidak memukuli satu persatu orang-orang menyebalkan di luar sana. Orang yang menyebalkan? Tentu saja menyebalkan! Bagaimana tidak? Seharian ini Tenten harus rela kupingnya panas dengan suara bisik-bisik tentang dirinya! Seperti ini ;

" Hei, itu anak yang kemarin terlambat, kan?"

Atau yang seperti ini;

" Eh, lihat. Menurutmu dia bia menang melawan Hyuuga Neji-kun tidak?"

Oh, untuk yang satu ini jangan tanya pada Tenten apa jawabannya. Karena Tenten juga tidak yakin dia bisa menang.

Dan yang benar-benar menyebalkan adalah;

" Lihat tuh. Si bocah cepol dua yang terlambat itu. Angkuh banget, sih. Memangnya dia pikir dia siapa? Anak kelas reguler juga. Bisa apa dia? Aku yakin dia pasti sengaja terlambat untuk mencari perhatian dan bisa bertanding dengan Neji-kun. Cih, tapi aku yakin dia pasti kalah dan Neji-kunKU yang akan menang."

Neji-kunKU.

Hoeks.

Memangnya ada orang yang bisa memprediksi hukuman yang akan diterimanya? Tenten tidak habis pikir kenapa sampai ada orang yang bisa berpikir begitu.

" Hei! Semangat dong, Ten!" Lee berteriak keras tepat di telinganya, membuat Tenten terlonjak kaget.

Tenten melirik Lee kesal. Sebenarnya Tenten sangat ingin menimpuk Lee dengan sepatunya, kalau saja Tenten tidak ingat bahwa makhluk di belakangnya ini adalah temannya.

" Heehhhh, Tenten! Semangat dong! Besok kan pertandinganmu!"

Tenten berbalik menatap Lee kesal. Lee benar-benar membuat mood Tenten menjadi semakin buruk.

" Diam, Lee!"

Dan 'lahirlah' sebuah benjolan di kepala Lee.

####

" Kenapa, sih semua orang begitu heboh?" Tenten menghempaskan tubuhnya kasar ke bangkunya.

" Kau tahu, kan Tenten. Nara, Hyuuga, Uchiha, Dan. Siapa yang tidak 'haus' tentang berita mereka?" Sakura ikut duduk di samping Tenten.

" Hoi, aku bahkan sama sekali tidak menganggap pertandingan itu serius," Tenten menegakkan tubuhnya.

" Aku juga," Temari duduk dihadapan Tenten. " Menang ya menang, kalah ya kalah. Yang penting aku sudah melaksanakan hukumanku."

" Yeah," Ino memutar bola matanya. " Lagi pula dianggap serus pun kemungkinan untuk menang sangat kecil."

" Ino, kau jadi tidak pergi membeli alat melukis?" pertanyaan Sakura disambut dengan anggukan dari Ino.

Tenten mengangkat tangannya tinggi-tinggi. " Aku ikut! Aku ikut!"

Ino melirik Tenten heran. " Untuk apa?"

" Membeli raket. Milikku yang lama sudah rusak."

Temari ikut-ikut mengangkat tangannya. " Boleh aku ikut? Aku ingin membeli sebuah buku."

Sakura dan Ino hanya mengangguk-angguk mengiyakan.

####

Hari ini, hari pertandingan. Dan Tenten sama sekali tidak menganggap serius pertandingan ini. Tapi hari ini Tenten benar-benar dibuat melongo kaget. Pertandingan ini serius. Tanpa perlu bertanya, Tenten sudah bisa menebak jika lawan bermainnya sama sekali tidak menganggap hal ini cuma main-main.

Bahkan seluruh anggota keluarga Hyuuga datang ke KHS hanya untuk melihat pertandingan ini! SELURUH!

Ah, tak hanya keluarga Hyuuga. Keluarga Dan, keluarga Nara, keluarga Uchiha, semuanya datang berbondong-bondong ke KHS. Dan hal ini cukup membuat Temari, Ino, dan Sakura panik.

" Ya ampun, aku bahkan belum menyiapkan koreografi," Sakura berkata setengah berbisik.

" Aku bahkan tidak tahu akan melukis apa," Ino menyahut.

Sementara Temari, sudah sejak pagi dia berkutat membaca bukunya. Buku tentang shogi, yang kemarin dibelinya. Sebenarnya Temari ingin membacanya kemarin, hanya saja malas. "Untuk menambah wawasan taktik bermain shogi," begitu katanya ketika ditanya untuk apa buku itu. Sebenarnya Temari sama sekali tidak berniat membaca buku itu. Tapi saat mengetahui bahwa juri pertandingan shoginya adalah Shikaku Nara, Sarutobi Asuma dan Hatake Kakashi, Temari jadi panik dan mengeyahkan rasa malasnya untuk membaca buku itu.

Guy, wali kelas mereka, dan juga guru olahraga menepuk bahu mereka berempat. " Jangan permalukan kelasmu di pertandingan ini."

Tenten cuma bisa melongo.

Sakura menatap Guy tidak yakin.

Ino hanya memandang kuas di tangannya.

Temari memeluk bukunya.

Serius.

Jangan anggap semua hal di KHS itu remeh.

TBC

####

HUWAAA! MAAF KALO UPDATE-NYA KELAMAAN! /sujud-sujud.

Hee, cerita pertandingannya di chap selanjutnyaa!

teru, Makasih banyak buat semua yang udah ngerepiu ^^.

Ini balasan review chap 3:

Sabaku Yuri : Makasih banget! Sarannya udah dicatet. Tapi maaf kalo di chap ini belum bisa diterapin. Mungkin di chap selanjutnya. Terus, Yoshino bukan kepala sekolah KHS. Yah, disini ceritanya itu keluarga Nara adalah anggota yayasan pendiri KHS.

: Ini udah update kilat. Tapi gomen-ne, kalau misalnya masih dirasa kelamaan :(

Mina Jasmine : Heehh? benarkah begitu? Kalo gitu nanti aku usahain buat ngimbangin ShikaTema ama NejiTen. ^^

Teehe4869 : Ini udah update kilat. Tapi gomen-ne, kalau misalnya masih dirasa kelamaan. Chap selanjutnya kuusahain untuk update lebih cepet.

Wuah! pokoknya makasih buat semua yang udah mau baca en ngerepiu nih fict gaje ...

Terus maaf kalo misalnya ada yang belum disebutin

Author terlalu banyak berbuat kesalahan. Jdi Maaf sebanyak-banyaknya kalo author terlalu banyak berbuat kesalahan.

Makasih banyak! muah muah!

Terakhir, minta repiu-nya lagi boleh? /ditampar