a/n: akhirnya bisa balik ke ffn lagi XD ok, setelah Naka publish chap ini, Naka bakal publish chap terakhir sekuel-nya Demi Neechan *nebar bunga kamboja*


to:

Yashina Uzumaki: Terimakasih atas reviewnya. Ok deh, kalo gitu Naka panggil Nee-chan aja. Naka bakal semangat deh mulai sekarang*mata berbinar, tapi tetep aja gak ada tindakan*

Kiriya Diciannove: Terimakasih atas reviewnya. Kok malah nyekek Sasu? Bukannya Saku yang bully Naru? Alhamdullilah kalo ini belum dibilang kekerasan, Naka kan cinta damai, jadi gak tega nyakitin Naru lebih dari ini*?*Kalo Naru mati menderita, ceritanya abiss dong.

Nasumi-chan Uharu: terimakasih atas reviewnya. Naru emang gitu sama Mikoto, soalnya dia benci banget sama Kaa-san tirinya. Mikoto gak jahat, baik banget malah. *tolong jangan panggil senpai, Naka masih 13 tahun*

Zoroutecchi: terimakasih atas reviewnya. Emang belum end kok. Gak mungkin Naka buat ending yang gantung banget gini. Entahlah Gaara sosok jahat atau baik.

Xxruuxx: Terimakasih atas reviewnya. Iya, emang ada Gaara*ikut loncat-loncat*Mikto gak nyiksa kok, baik banget malah. Naru-nya aja yang masih belum bisa nerima anggota keluarga baru. Gak tau juga kapan Sasuke suka sama Naru, liat aja sama sikapnya ke Naru.


Copyright by Masashi Kishimoto

I Hate My Life

By: Shiho Nakahara

Warning: OOC, Naruko's Pov, angst, cerita berlebihan, typo(s),


Sebaik apapun kedua manusia itu padaku, aku tak akan membalas kebaikannya. Tak akan bersikap ramah pada mereka dan tak akan menerima mereka sebagai anggota keluargaku. Aku akan terus bersikap tak acuh pada mereka dan terus memandang sinis ke arah dua makhluk yang telah merebut kebahagiaanku dan keluargaku. Yang membuatku harus hidup dengan kisah baru.

Kupikir aku adalah manusia yang paling bahagia di dunia ini. Memiliki segalanya. Ayah yang bijaksana, Ibu yang perhatian dan selalu menyemangatiku, Aniki yang sangat menyayangiku. Namun semua keadaan berbeda 180 derajat kini. Ayah yang bijaksana bermetamorfosis menjadi pilih kasih dan selalu menyalahkanku, Kaa-san yang perhatian kini berubah sifat menjadi sok peduli seolah ia Ibu yang baik hati. Aniki yang selalu menyayangiku berubah menjadi Aniki yang sombong, dingin dan sok berkuasa. Kini Tuhan telah mengambil kebahagiaanku. Membuatku benci mengakui kehidupanku.


I HATE MY LIFE

Begitu memasuki ruangan dengan nuansa orange dan aroma citrus yang khas itu, aku segera menutup kembali pintu ruangan itu dengan sedikit bantingan, lalu meletakkan tasku di kursi dan segera menghempaskan diri ke atas ranjang empuk yang berada tak jauh dari kursi. Pikiranku langsung melayang pada sosok Gaara dan… Teme.

Apa maksud Teme itu? Aku tak boleh mendekati Gaara? Memangnya ada apa antara Teme dan Gaara? Gaara bahkan lebih baik dari pantat ayam sialan itu. Chi, Teme itu selalu mengatur hidupku, memangnya dia siapa? Anikiku? Aku tidak akan mengakui Aniki sepertinya dan bahkan dia sendiri tak sudi menjadi Anikiku. Tunggu… jika ia sangat protect padaku… kenapa ia tak mau menganggapku imoutonya? Dan aku harus menganggapnya sebagai Aniki? Semua ini sungguh sangat aneh…

'BRAAAAK!'

Aku yang semula memejamkan mata di atas tempat tidur kini langsung terlonjak kaget dan langsung terduduk di ranjangku.

Mataku langsung membualat melihat manusia di depanku ini. Posisinya di ambang pintu sembari melipat kedua tangannya di dada. Matanya memicing marah padaku. Mulutnya terkatup rapat dan wajahnya sedikit memerah, memerah menahan marah. Aku tau penyebab marahnya apa… pasti karena ulahku tadi di lantai dasar.

"K-kau…! Ke-" belum sempat aku memarahinya karena seenaknya membuka kamarku, ia langsung masuk ke kamarku dan menutup pintu dengan keras, membuatku kembali terdiam shock.

"Apa-apaan sikapmu barusaaaan? Kenapa kau bersikap seperti itu pada Kaa-san?" ia berteriak tepat di hadapanku. Membuatku ikut tersulut amarah. Apa-apaan manusia ini? Seenak jidat masuk kamar orang, membanting pintunya, daan sekarang malah membentakku? Hey, aku yang menjadi tuan rumah di sini!

"Kau mau tau kenapa? Aku membenci kalian semua! Aku benci sikap wanita itu padaku yang seolah-olah baik padaku! Aku benci denganmu karena kau bersikap seolah kau sangat ingin melindungiku, sok pahlawan! Jika kau tidak suka padaku dan tidak mengakuiku sebagai adikmu, untuk apa kau baik padaku?"

….

"Hanya itu?" a-apa? Setelah aku mengatakan hal panjang lebar itu ia hanya menjawab dengan dua kata dan helaan napas biasa? Bukankah tadi Teme ini sangat emosi? Seharusnya ia marah dan balas membentakku kan?

"Aku membencimu karena kau dan Ibumu telah menghancurkan keluargaku!" aku kembali melanjutkan kalimatku dan air mata mulai mengalir di kedua pipiku. Napasku mulai sesak.

"…"

"Jika kau jadi aku… mungkin kau baru mengerti bagaimana sakitnya menderita seperti ini!" aku kembali berteriak tak peduli jika semua orang akan mendengarnya. Well… aku sudah lelah untuk menahan semua ini.

"Aku juga membenci sifatmu! Karena kau tak pernah jujur pada dirimu sendiri! Kau selalu berpura-pura baik-baik saja di hadapan orang banyak! Aku benci sifatmu, bukan fisikmu, atau dari mana kau berasal!"

"Diam! Kau tak tahu apa-apa tentangku!" aku kembari menjerit kuat. Seolah hidupku bergantung pada kuat lemahnya frekuensi suaraku.

"Dasar Dobe…"

"Jika kau membenciku, jangan berbuat baik padaku… itu sangat kejam," aku mulai menundukkan wajah sambil berusaha menghapus air mata yang semakin banyak mengalir.

"… apa tadi aku bilang membencimu? Aku hanya benci sifatmu… jadi, tak apa kan jika aku baik padamu?" ia mengucapkan kalimat itu dengan lirih namun cukup membuatku tertegun. Dengan cepat aku mengarahkan pandanganku padanya.

"Aku peduli padamu… karena aku menyayangimu. Bukan sebagai saudara, tetapi sebagai Naruko, dan bersikap baiklah pada Ibuku, dia Kaa-sanmu sekarang," lalu dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu, membukanya. Lalu ia meninggalkan kamarku.

"A-apa….?" T-tunggu… dia bilang apa tadi? Me-menyayangi…? Oh tidak, aku yakin pasti kini wajahku memerah.

.

Ini hari keduaku menginjakkan kaki di sekolah ini. Aku langsung melangkahkan kakiku dengan cepat menuju kelas. Meninggalkan Sasuke yang tadinya berada di sampingku jauh di belakang. Namun, hal itu tak berlangsung lama, ia kini sudah berada di sampingku lagi lalu menarik kasar lenganku.

Aku langsung menatap matanya, memberikan deathglare terbaikku.

"Kau tak ingin di-bully seperti kemarin lagi, kan?" setelah mendengar kalimatnya, wajahku kini sedikit melunak. Benar kata Teme ini… aku pasti bisa di-bully lagi hari ini. Aku menghela napas sebentar lalu kembali melanjutkan langkah seirama dengan langkahnya.

"Justru, dengan kau yang selalu berada di sampingnya, Naru akan semakin di-bully, Tuan Uchiha…" Sasuke langsung menghentikan langkahnya, aku yang masih terus melangkah kini tertarik ke belakang karena tangannya masih berada di pergelangan tanganku.

"… apa maksudmu?"Sasuke berkata dengan nada datar miliknya. Nada yang paling kubenci dengan sorot mata angkuh yang membuatku malas menatapnya.

"Jika kau berada di dekatnya, fans brutalmu itu akan semakin membencinya dan bahkan bisa melakukan aksi yang lebih berbahaya… sebaiknya kau jauhi Naru jika tak ingin dia terluka," aku tertegun melihat seringaian yang cukup tajam terukir di bibir Gaara. Apa-apaan senyum aneh pria itu? Senyum itu… terlihat sangat berbahaya.

"Kau tak usah ikut campur. Kau tak tahu apa-apa tentang kami," Sasuke langsung membalikkan badan dengan cepat sambil menarikku meninggalkan Gaara menuju kelas kami. Aku yang ditarik hanya diam. Sibuk tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Ada apa sebenarnya antara Teme ini dan Gaara? Apa-apan seringaiannya tadi? Kenapa ia berbicara seolah takdirku tergantung pada kedekatanku dengan Sasuke? Siapa Gaara sebenarnya? Ia kawan atau lawan…?

.


Di kelas:

"Pagi Hinata~" aku yang baru tiba di kelas langsung berjalan ke arah Hinata di sertai senyum palsu yang akhir-akhir ini setia menemaniku. Aku sudah bilang pada kalian kan? Aku akan hidup dengan kepura-puraan mulai sekarang. Bukankah hidup ini adalah drama? Jadi tak ada salahnya jika aku menciptakan dramaku sendiri.

"…" tak ada respon. Ia hanya melirikku singkat. Terlihat reaksinya yang sedikit salah tingkah dan gelisah. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa lagi dengan Hinata?

"Hinata…? Kau sakit?" aku yang sudah meletakkan tasku di bangku sebelah Hinata berada kini beralih melihat Hinata yang masih menunduk seolah menghindariku. Namun,ia tetap tak menjawab pertanyaanku.

Hah, baiklah… aku tidak akan berbicara dengannya lagi. Hingga… bel tanda pelajaran berbunyi nyaring.

Baru kusadari, dari tadi, semua siswa yang ada di kelas ini seperti menghindariku. Saat diskusi kelompok tadi tak ada yang memperdulikan komentarku, pendapatku bahkan mereka menganggapku tak ada. Apa-apaan maksudnya semua ini?

Selama pelajaran berlangsung, aku hanya bisa terus bertanya dalam hati. Ah! Aku mungkin bisa menanyakan yang sebenarnya pada Hinata nanti saat istirahat…

.


Istirahat…

"Hinata, maukah kau me-" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku,tiba-tiba seseorang di belakangku sudah memotong ucapanku.

"Hinata! Ke kantin yuk?" Sakura… Haruno. Aku membaca Tag name miliknya. Oh, jadi namanya Sakura? Anak yang mem-bully ku kemarin? Apa-apaan dia? Kenapa ia tiba-tiba muncul di antara kami berdua? Apa ia masih belum jera oleh bentakan Gaara dan ancaman Sasuke kemarin?

'Grek' aku kembali menoleh ke asal suara. Hinata. Ia mulai beranjak dari kursinya dan menerima ajakan Sakura dengan senang hati. Meninggalkan aku sendiri di kelas.

Kenapa…? Hinata yang hari ini begitu berbeda… ya, walaupun kuakui bahwa Hinata adalah orang yang pemalu, tapi tidak sampai harus membuang muka dan tak mau menyapaku seperti ini, kan?

Tiba-tiba Sakura berbalik dan menatapku remeh. Seringaian terukir jelas di sudut bibirnya. Perlahan ia membuka kedua bibirnya yang semula terkatup.

"Kami akan terus membully-mu walaupun kau sudah meminta maaf pada Sasuke!" oh, jadi ini permainan mereka selanjutnya? Hinata tak mau menyapaku karena ini? Ia takut karena ancaman wanita pink ini? Ok… kau menang, Sakura.

"Yah, kalau kami memakai cara kasar, Sasuke pasti akan sangat marah. Jadi… nikmati saja permainan kami ini," ia kemudian melenggang dengan santai meninggalkan kelas. Meninggalkan aku yang masih diam terpaku berusaha untuk pasrah dan tetap bertahan dari permainan hidup ini.

Tak lama setelah itu, aku pun beranjak dari kursiku untuk sekedar mengelilingi sekolah ini. Yah, baiklah…. Jika Hinata tak mau menemaniku, aku akan melakukannya sendiri.

Jadi begini ya yang namanya kehidupan? Ditinggal Kaa-san, dan Kyuu-nii… selalu dimarahi Tou-san, punya Kaa-san baru yang bahkan sok peduli… dan kini punya Aniki yang sok berkuasa dan seenaknya sendiri. Dijauhi semua orang dan bahkan di-bully. Setelah itu apa lagi? Hhhh… kenapa aku tak mati saja sih…?

Tanpa kusadari, aku kini sudah berada di atap sekolah. Tunggu… kenapa pikiranku dan latar tempat ini sangat cocok? Tadi aku bilang kenapa tak mati saja, sekarang aku sudah berada di tempat yang cocok untuk bunuh diri… apa aku sebaiknya…. TIDAK, TIDAK! Kau tak boleh melakukannya, Naru! Jika kau melakukannya, maka kau akan kalah dari takdir. Bagaimanapun caranya kau harus bertahan hidup dan membuktikan bahwa kau bisa menghadapi ini semua.

Aku terus berjalan sampai berhenti di pagar pembatas atap. Menerawang jauh hamparan gedung-gedung di bawah… lalu memandang ke atas. Mencoba mengerti makna dari tiap gari-garis kilauan mentari yang semakin terik. Yang menandakan hari semakin siang.

"Kau… masih di-bully ya?" deg! Dengan gerakan patah-patah aku menoleh ke asal suara itu yang tepat berada di sebelah kananku. Rambut merah itu, dengan mata hijau itu, dan kulit putih itu… di-dia Gaara, kan?

"K-kenapa kau ada di sini…?" dengan langkah cepat, aku perlahan mundur mencoba menghindar darinya.

"Kenapa kau memandangku begitu? Kau pikir aku akan berbuat jahat padamu? Tenang saja, aku hanya ingin berteman denganmu," lahi-lagi ia seperti sedang membaca pikiranku. Darimana dia tahu kalau aku tak lagi mempercayainya? Dari mana ia tau kalau aku berpikiran negative tentangnya?

"Sasuke melarangmu ya? Itu sebabnya kau ragu padaku… ya kan?" tepat sasaran lagi… siapa sebenarnya dia? Apa yang dia inginkan?

"S-siapa kau sebenarnya…? Aku memberanikan diri bertanya padanya walau ada secercah perasaan takut dalam diriku. Namun rasa penasaranku telah mengalahkan semuanya.

"Kau ini lucu… aku Gaara, sudah kubilang bukan? Dan aku ketua kelas di kelasmu. Apa itu belum cukup?"

"M-maksudku… kenapa kau bisa membaca pikiranku…?"

"Hah… padahal kemarin kau seolah sudah sangat percaya padaku. Jadi semua yang kukatakan itu benar…? Hah, padahal aku hanya menebak…" ia menghela napas panjang. Tubuhku yang sedari tadi menegang kini sudah bisa bergerak normal kembali. Hah, baiklah… tak ada yang perlu kutakutkan dari manusia ini. Ia hanya manusia biasa, Naru…

"Baiklah… aku percaya."

"sebenarnya, ada hubungan apa antara kau dengan Sasuke?" … pertanyaan ini yang seharusnya sebisa mungkin aku hindari kini malah keluar dari mulut Gaara.

"Tidak… kau tak perlu tahu," aku kembali berkata dingin padanya.

"Ok-ok, aku tak akan memaksamu. Tapi aku hanya penasaran. Baru kali ini Uchiha itu sangat protect pada wanita. Kupikir kau kekasihnya…" kulihat ia tersenyum kecil.

"Apa? Mana mungkin! Dia baik padaku karena aku imoutonya-Hmph!" aku langsung membekap mulutku sendiri. Ughhhh….! Bodohnya kau, Naru! Tak seharusnya orang lain tau, apa lagi Gaara adalah orang yang baru saja kaukenal.

"Tak usah setegang itu. Aku tak akan membocorkannya. Jadi, kalian saudara? Aku sangat yakin bahwa kalian bukan saudara kandung," baiklah, kali ini aku akan mempercayai Gaara dan menceritakan semuanya pada Gaara.

"Ya… baiklah. Tunggu dulu, kenapa kau begitu tertarik padaku?" aku kembali memicingkan mata menatapnya tajam.

"Kau berbeda, itu yang membuatku tertarik padamu." Hah…? Berbeda?

"Ok, aku akan mempercayaimu. Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini dan kita bisa berteman- eh, bersahabat baik" lalu dengan perlahan aku menceritakan semuanya. Tentu saja tidak semua, banyak bagian dari cerita yang kuubah. Aku tidak ingin ia mengasihaniku, aku bukan orang lemah yang patut dikasihani. Sesekali aku bercerita disertai senyum palsu khasku. Sepertinya, semua kepalsuan dan kebohongan sudah mendarah daging dalam hidupku.

.


"Baik anak-anak… jangan lupakan tugas Biologi kalian yang besok lusa harus dibawa! Bagi yang tidak membawa atau bahannya kurang lengkap, maka Sensei akan mengosongkan nilai kalian," Sensei yang kuketahui bernama Iruka itu berkata dengan tegas.

Terdengar dari berbagai sisi ruang kelas teman-temanku mengeluh sebal. Aku hanya terdiam mengingat bahan apa saja yang harus kubawa besok lusa.

Semua siswa kini menghambur keluar kelas menuju tujuan mereka masing-masing. Entah bagaimana caranya, Sasuke kini sudah berada tepat di sampingku dengan wajah angkuhnya yang datar.

"Kita ke Toko perlengkapan sekolah dulu untuk membeli bahan," ia tiba-tiba membuka suara. Namun ia masih terus melanjutkan langkahnya dengan pasti dengan wajah yang tetap memandang lurus ke depan.

Aku menoleh sekilas ke arahnya, "Baiklah."

Kini kami sudah berada di dalam mobil. Suasana kini hening. Aura tegang menyelimuti tiap sudut ruangan. Aku kini menerawang jauh menatap langit biru di tengah kemacetan. Langit yang masih setia memayungi bumi tanpa kenal lelah. Karena memang itulah tugasnya. Seperti diriku yang ditugaskan untuk dijadikan bahan percobaan hidup. Langit, hah… aku sangat kagum padanya. Terkadang ia menjadi hitam, menurunkan hujan begitu banyak, menjelang sore ia menjadi merah. Namun ia akan selalu kembali menjadi biru cerah yang melambangkan ketidakputus asaan.

Namun ia begitu berbeda denganku. Ia mempunyai banyak teman yang selalu menyemangatinya. Aku juga punya, namun itu dulu. Pelangi sehabis hujan selalu datang menyapanya. Burung terbang tinggi, namun masih di bawah dirinya. Berkoak-koak menyapanya dengan ramah. Sungguh berbeda dengan diriku yang sekarang.

"Tadi aku melihatmu berbicara dengan Gaara di atap sekolah… sudah kubilang kau jangan dekat-dekat dengannya, kan?" deg…! Aku sedikit terkejut mendengar suara Sasuke yang tiba-tiba masuk ke dalam indera pendengaranku. Memecahkan semua pikiran dan khayalanku.

Aku menoleh ke arahnya dan mendapati ia sedang menatapku datar. Menunggu jawaban dari diriku.

"… bukan urusanmu. Aku baru akan menjauhi Gaara bila kau memberiku alasan yang masuk akal kenapa kau melarangku mendekatinya!" aku balas manatapya seolah sangat menantangnya.

"Kau! Sudah kubilang jangan dekati Gaara! Dan kau tidak perlu tau kenapa aku melarangmu untuk mendekati Gaara! Dia itu makhluk berbahaya, kau tau?" Sasuke kini menaikkan suaranya. Aku tertegun mendengar semua ucapannya, namun hanya berlangsung beberapa detik.

"Che! Kau pasti hanya iri padanya karena kau tak bisa bersikap sebaik dia dan sepeduli dia…" aku kembali membuang wajahku ke arah kaca jendela.

"… Naruto-sama, Sasuke-sama… kita sudah sampai," Kakashi yang membawa kami sedari tadi kini membuka suara.

"Hn, terimakasih," aku dan Sasuke pun langsung turun dari mobil itu dan memasuki sebuah bangunan yang dipenuhi berbagai macam buku dan alat-alat tulis serta berbagai perlengkapan biologi di dalamnya.

Baru saja memasuki ruangan itu, sekilas pandangank melihat kepala merah yang sangat kukenal. Yang sudah hampir sebulan tak kutemui.

Aku dengan langkah cepat berjalan ke arah pemuda itu. Mencoba mencari tau siapa dia sebenarnya. Ah! Terlihat ia sedang cermat meneliti satu-persatu buku di rak buku bagian 'Ekonomi' itu… Tak salah lagi… bukankah ia…

"Kyuu-nii?" aku setengah berteriak ketika ia membalikkan tubuhnya. Terlihat mata ruby-nya menatap terkejut mata safirku. Oh, God! Dia benar-benar Kyuu-nii!

TBC or End?


A/N: Astaga… kenapa cerita ini makin berlebihan dan alurnya jadi makin gak jelas…? Yah, Naka harap kalian semua ngerti alurnya deh…

Menurut kalian, Gaara tokoh Antagonis/Protagonis? Jawab di review, ya?

Shiho Nakahara