Title: Black Angel
Summary: Sebuah dunia dimana North muda adalah pemburu, dan sang Nightmare King benar-benar hanyalah malaikat bersayap hitam yang diburu.
Pairing: Uh… hint of OC/Pitch, YoungNorth/Pitch, one-sided Sandy/Pitch, Aster/Jack, OC/OC, Sandy/Tooth.
Rate: T. Untuk sekarang. *trollface*
Disclaimer: Bukan yang saia~!
Bacotan: Hai-ho~! Chapter 4 disini~!
Kali ini saia ga banyak bacot deh, hehehe…
Enjoy~! :D
"Ascott! Hei! Ascott!"
Si pak tua berbalik dan memandang si bocah kecil yang memanggilnya. "Kau tidak latihan?" tanyanya.
Bocah itu merengut. "Tidak. Mereka semua payah. Aku sudah menang melawan mereka semua tadi pagi."
Dia tertawa keras. "Baiklah… jadi, kau mau apa, jagoan?"
Bocah itu menendang sedikit tanah dengan ujung sepatunya sambil berpikir. "Temani aku ngobrol deh, Pak Tua."
"Tentang apa? Aku yakin kau tidak punya topik baru selain bagaimana mengasah pedang yang baik dan benar."
Sebuah gelengan. "Orangtuaku, Ascott. Kau janji kau akan menceritakanku tentang mereka kalau aku sudah sembilan tahun."
"Kau masih terlalu muda. Bagaimana kalau kuceritakan saat kau sepuluh tahun?"
"Kau sudah menggunakan alasan itu selama tiga tahun terakhir. Aku mau tahu dan sebaiknya kau ceritakan sekarang atau aku kabur."
Kalau yang mengatakannya bocah yang lain, Ascott pasti sekarang sudah akan tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Memangnya apa yang seorang bocah ketahui tentang hidup pelarian? Tapi dia tahu anak ini tidak akan ragu-ragu melakukannya. Dan dia tidak boleh membiarkan dirinya kehilangan pemburu terbaiknya.
Dengan satu helaan napas, dia pegang pundak si bocah. "Aku ingin menyimpan ini lebih lama, tapi kurasa kau berhak tahu."
"Aku memang berhak," jawab si bocah dengan dengan tidak sabar menunggu jawaban. Dia memandang Ascott dengan mata birunya yang lebar sambil melipat kdua tangannya. "Jadi?"
"Hah…" pria itu menghela napas sebelum membuka mulutnya dan mulai bercerita, "Kedua orangtuamu…"
Dia tersenyum sendiri sambil berjalan di sepanjang tepi sungai untuk mencari air yang paling jernih.
"Benar, deh. Kau seprti seorang ibu yang sedang dalam tahap pilih kasih."
Mungkin seperti ini rasanya punya anak, ya?
"Aku mau punya banyak anak! Aku mau kita setidaknya punya tiga pasang kembar!"
Senyumnya menghilang begitu kalimat itu terlintas di pikirannya. Tangan kurusnya mengelus sedikit perutnya, tempat rahimnya berada. Malaikat, tidak peduli pria atau wanita, mempunyai rahim ketika mereka lahir. Pada sebagian pria, rahimnya meluruh ketika mereka remaja, dan yang sebagiannya lagi bisa mengandung dan melahirkan anak. Dulu dia benci dengan rahimnya karena selalu saja ada malaikat yang mencoba menikahinya entah wanita atau pria (sampai dia muak dengan perjodohan).
Tapi ketika Artia melamarnya, mungkin dia tidak lagi membenci keadaannya karena itu berarti dia akan punya anak yang menjadi bukti ikatan antara dirinya dan Artia.
"Aku ingin anak kita punya rambutmu dan punya mataku.
Sempat terbersit di pikirannya untuk mencari manusia yang mirip dengan tunangannya yang sudah mati dan membiarkan manusia itu membuahi rahimnya. Tapi manusia tidak bisa melakukan itu padanya. Malaikat tidak bisa mengandung anak dari manusia, walaupun manusia bisa mengandung anak dari malaikat.
Dan itu membawanya kembali ke titik awal permasalahan. Kalau saja tidak pernah ada perburuan malaikat, mungkin sekarang di rahimnya sebuah hidup sedang berlangsung.
Kepalanya sedikit berdenyut. Dia memutuskan untuk berhenti berpikir yang macam-macam dan kembali mencari air yang jernih.
Ketika dia mendapat apa yang dia inginkan, dia langsung membungkuk untuk mengambil air.
Tiba-tiba saja kulitnya serasa dicabik. Tempayan air jatuh dari tengannya ke tanah. Dia memandang lengan atasnya dan menyadari bahwa kulitnya memang tercabik. Dia berbalik dan melihat sebuah panah tertancap di batang pohon.
Panah itu…
Dia langsung berlari sekencang-kencangnya. Untuk sekarang, dia tidak akan kembali ke desa. Dia akan berlari, bersembunyi sampai para pemburu yang mengejarnya kehilangan jejak, dan baru setlah itu dia akan kembali ke desa dan membuatkan makan malam untuk anak-anak seperti yang sudah dia lakukan selama setahun terakhir.
Dia berbelok, dan didengarnya derap langkah seseorang mengejarnya.
Aneh, terlalu diam.
Pemburu malaikat tidak pernah bekerja sendirian. Mereka selalu berkelompok.
Tapi itu masalah terakhir. Sekarang dia harus bisa melarikan diri sebelum tertangkap.
"Tooth… kurasa bahkan untuk seorang Jack pun… ini sudah terlalu lama," ujar Jamie pada Tooth yang sedang membersihkan bawang.
"Aneh… biasanya dia tidak pernah selama ini…" gumam Tooth.
Lalu Jack memandang Jamie. "Itu berarti ada yang memegang rekor terlambat setelah selama beberapa tahun aku yang memegangnya," bisiknya sambil nyengir.
"Aku akan mencarinya dulu, kalian tetap disini," ujar Tooth dengan khawatir.
Tapi disuruh begitu pun, Jack dan Jamie tetap mengekor 'kakak' mereka ke hutan karena penasaran. Itu diikuti oleh Aster yang lagi-lagi dipaksa Jack, kali ini dengan alasan 'membantu mengatasi traumanya', lalu Seraphina juga ingin ikut. Emma, Sophie dan Baby juga ingin pergi, tetapi Nightlight mengajak mereka bermain dan tampaknya hal itu lebih penting daripada ke sungai bagi mereka.
"Baiklah, tapi kalian jaga diri sendiri," perintah Tooth akhirnya.
Sepanjang jalan, Tooth tidak bisa berhenti memikirkan skenario terburuk yang bisa terjadi.
Bagaimana kalau Pitch tersesat di hutan dan tidak bisa menemukan jalan pulang?
Dia berhenti dan melihat tempayan air yang dibawa Pitch di tepi sungai.
Oh, astaga.
Bagaimana kalau dia jatuh dan tenggelam?
Dan dia melihat sedikit ceceran darah di tanah.
Bagaimana kalau dia diserang beruang?
Bagaimana kalau—
Dia menyadari sebuah panah tertancap di pohon dan ceceran darah merah tadi seakan membuat petunjuk ke arah mana dia harus mencari Pitch.
"Oh ya ampun…" gumamnya ngeri.
Pemburu tengah mengejar Pitch!
Dadanya serasa terbakar. Dia tidak menemukan tempat untuk bersembunyi dan pemburu itu rasanya makin dekat. Dia bisa saja terbang, tapi itu sama saja dengan mengirimkan isyarat 'hei, aku disini' pada pemburu lain yang mungkin sedang bersembunyi.
Dia harus terus berlari sampai dia aman.
Dia berbelok entah untuk keberapa kalinya dan mungkin saja akan sangat susah nantinya untuk menemukan jalan menuju desa lagi kalau begini caranya. Tapi asalkan dia bisa kabur, tidak apa-apa. selamatkan dulu nyawa, baru pikirkan yang lain.
Sebuah panah mencabik lengannya lagi. Lukanya yang agak mengering berdarah lagi. Tapi hanya lngan ini. Dia tidak peduli.
Dia mengambil belokan lagi dan melihat sebuah gua kecil. Mungkin dia bisa selamat!
Dia mempercepat langkahnya.
Sedikit lagi!
Belum sempat dia mencapai setengah jalan, kakinya dililit oleh tali dengan beban besi di kedua ujungnya. Dia jatuh tersungkur ke atas daun-daun merah yang berguguran menyelimuti tanah. Segera dia duduk dan mencoba melepaskan lilitan itu.
Tali lain melesat ke arahnya dan melilit tubuh bagian atasnya sehingga dia terjatuh kmbali ke tanah.
Meronta tidak ada gunanya.
Terdengar bunyi langkah kaki menginjak daun-daun kering. Si pemburu menampakkan dirinya. Seilah pedang lengkung di tangannya. Dia memakai jaket panjang berwarna merah (mungkin dia percaya diri tidak akan terlihat dengan jaket semencolok itu). Semakin dekat.
Dia hanya memandang si pemburu yang sekarang akan menghabisi nyawanya dengan mata penuh dengan keputusasaan. Tampaknya itu tidak mempengaruhi nasibnya. Maka dia hanya terus memandang.
Pemburu itu masih muda.
Rambut dan janggut cokelat.
Luka gores di pipinya.
Mata biru.
Ah, dia ingat sekarang.
Pemuda itu dulu salah satu yang mengejarnya. Dia terlihat lebih tua sekarang, tentu saja sih, sudah tiga tahun berlalu sejak dia terakhir kali melihat si pemburu ini. Dulu tidak ada luka gores itu, dia tidak setinggi sekarang, dan janggut itu pun baru tumbuh ketika Pitch terakhir kali melihatnya. Juga, rambutnya dulu masih tidak sepanjang itu.
Tapi ada satu yang tidak berubah.
Mata itu. Mata biru itu dari dulu begitu penuh dengan kebencian. Entah pada apa.
Pemuda itu duduk di dadanya. "Kita bertemu lagi, malaikat," ujarnya dengan nada seberacun bisa ular pada kata terakhirnya. Tangannya yang kasar menemukan leher Pitch yang kurus, jemarinya melingkar disitu dengan kuat, seakan-akan dengan sedikit saja tekanan cekikan itu bisa meremukkan lehernya. Pedangnya terangkat tinggi-tinggi, siap untuk memutuskan leher tahanannya.
Lalu pemburu itu mendelik ke arah sampingnya. Sepeerti ada suara anak kecil menangis. Tapi tidak ada siapa-siapa dan suara itu hilang. Setelah memastikan dia hanya salah sangka, dia kembali brsiap memenggal malaikat di bawahnya.
"Kuharap kau setidaknya punya sihir membangkitkan tubuh sendiri," oloknya sambil bersiap menebas pedangnya.
Sebuah bunyi benturan yang sepertinya menyakitkan terdengar, bersamaan dengan mata si pemburu terbelalak karena sakit. Dia lalu terjatuh ke tanah karena kehilangan kesadaran. Di belakangnya, tampak Tooth dengan sebuah tempayan air ditangannya. Sepertinya gadis ini baru saja menghantam kpala si pemburu.
"Hai, Pitch. Kau baik-baik saja?" tanya Tooth.
Lalu muncul juga Jack, Jamie, Aster dan Seraphina yang langsung membantunya lepas dari lilitan tali kekangan dan menggunakan tali-tali itu untuk mengikat si pemburu.
"Fuuh… untung saja kau tidak mati," ujar Jack. "Siapa lagi nanti yang bisa membuat kue enak di rumah?"
Mereka tiba ke desa ketika matahari mulai terbenam dan awan-awan mulai berubah menjadi keemasan dan menghiasi langit. Tooth dan Aster mengobati lukanya di beranda rumah, banyak yang datang untuk melihat kondisinya dan banyak juga yang datang untuk membawa tahanan mereka ke penjara bawah tanah.
"Ya, selesai," ujar Tooth sambil perlahan menepuk balutan kain putih pada lukanya.
"Terima kasih, Tooth," balasnya dengan senyumnya yang tipis. "Oh ya. Bagaimana kau bisa menemukanku? Aku yakin aku lari cukup jauh dari sungai."
Tooth membalas senyumnya dan juga pertanyaannya. "Karena, kau tidak mungkin kembali ke desa kalau kau sedang dikejar pemburu karena itu sama saja dengan bilang 'aku tinggal disini, kalau-kalau kalian perlu memburuku lagi nanti'. Jadi… kami mencari alternatif lain. Mungkin kau akan mencari gua atau tempat apa untuk sembunyi. Lalu kami bertemu dengan anak kecil. Aku tanya padanya dan dia menunjukkan jalan."
"Anak kecil?"
"Iya, anak kecil. Aku juga heran kenapa ada anak kecil di tengah hutan, tapi aku sedang panik, jadi tidak terlalu kupikirkan."
Tiba-tiba saja lonceng di gerbang desa berbunyi dan mereka berdua langsung melihat ke arah bunyi itu. Terdengar seruan-seruan senang dari para wanita dan anak-anak.
"Buka gerbang untuk kami!" teriak salah satu orang dari luar gerbang.
"Mereka pulang!" seru Aster senang. Dia langsung berlari ke arah gerbang yang sedang dibuka perlahan karena agak berat itu. Mata Pitch mengikuti arah lari Aster. Tampaknya anak itu senang sekali.
Gerbang terbuka dan masuklah pria-pria dan para pemuda dalam baju baja. Yang memimpin pasukan itu adalah seorang pemuda dengan rambut pirang dan mata sewarna madu hangat yang menunggangi seekor kuda putih.
Para wanita dan gadis mengarak pasukan itu.
Dan satu nama meluncur dari mulut Pitch begitu dia melihat pemuda pirang berbaju baja di atas kuda putih itu.
"Artia…?"
End of Chapter 4
Okeh, folks. Chapter empat dan sedikit rahasia malaikat terbuka~! XD
Ada yang mau ripiu? :D
Love and milk
Shirasaka Konoe
