A xxx. HoLiC Fanfiction
"Romance no Kamisama"
Genre: Romance
Pairing: Doumeki x Watanuki
Disclaimer: CLAMP, not this author -,-
a/n Chapter ke-4 akhirnyaa diupdate setelah nyaris... 3 tahun hiatus ;_;
Gomen, ne reader-tachi..
Saya ga bermaksud PHP-in kalian ;_;
Author sebisa mungkin meng-update fanfic ini beserta seri pengikutnya dari fandom seberang disela-sela libur kuliah pasca UAS.
Jadi, seandainya fict ini tersendat lagi, author kembali mohon maaaaaaf w
Saya tetap minta review dari rekan sesama author.
Saran dan kritik Anda akan sangat membangun bagi saya.
Sekian dan terima kasih…
Fourth Day: Tattoo
Watanuki tersadar dari tidurnya. Matanya hampa menatap langit-langit berhiaskan dekorasi bintang glow in the dark yang pasti ditempelkan oleh Maru dan Moro ketika ia sedang keluar rumah kemarin. Sayup-sayup ia mendengar kicauan burung dari kejauhan. Watanuki mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang terpampang di sisi kiri tempat ia berbaring.
Masih pukul 4 pagi.. Tapi tubuhku enggan untuk terlelap lagi...
Watanuki duduk termenung di atas tatami. Pikirannya kosong. Bahkan ia tidak sadar sedang apa dan kenapa ia ada di ruangannya sekarang. Entah apa yang muncul begitu saja dari dalam pikirannya, Watanuki berjalan perlahan menuju kamar mandi yang memang disediakan di ruangan yang ia tengah tempati itu.
Watanuki masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Sesekali ia mengusap-usap matanya dengan maksud mengurangi lelah yang masih menempel. Setelah ia menjadi normal kembali, Watanuki mengunci pintu kamar mandi dari dalam, lalu melucuti pakaian yang ia kenakan satu per satu. Watanuki meneruskan langkahnya menuju shower.
Masih pukul 4 pagi, dan kenapa aku ada di tempat ini? Aku sama sekali nggak paham...
Pemuda yang sehari-harinya mengenakan kacamata itu memutar kran shower sedemikian rupa agar menghasilkan output berupa air hangat. Ia terdiam beberapa detik, membiarkan cucuran air perlahan menyadarkannya dari lamunannya. Seiring air membasahi permukaan kulitnya, Watanuki segera meraih sebotol sabun cair yang berada tak jauh dari shower. Watanuki menuangkan isinya ke shower puff, lalu ia usapkan ke tubuhnya.
Mengenai kejadian kemarin... Aku nyaris tidak bisa mengingatnya dengan baik. Beberapa bagian nampak kabur dari benakku. Di samping itu... Mimpiku beberapa hari yang lalu...
Rasa perih sedikit demi sedikit menjalar di bahu sebelah kiri Watanuki. Lama kelamaan ia merasa kulitnya seperti sobek terkoyak oleh sesuatu. Awalnya ia tidak begitu menyadarinya. Namun, begitu ia melihat selintas garis berwarna merah turut mengalir bersama dengan air yang bersumber dari shower dari tubuhnya, barulah ia menyadari ada luka sobek yang lumayan lebar memanjang dari pundak hingga lengannya. Watanuki tercengang, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi padanya. Watanuki segera membilas tubuhnya, dengan harapan darah yang mengalir berangsur-angsur berhenti. Tapi kenyataannya, luka tersebut semakin lebar, menjalar hingga ke dada Watanuki.
"Ugh!", Watanuki jatuh terduduk menahan perih yang kian bertambah, "Apa-apaan ini?!"
Luka sobek yang semula hanya berupa garis memanjang, dengan sendirinya melebar seperti sebuah ukiran di badan Watanuki.
"Nggh..", Watanuki mengatur nafasnya. "Yamete!"
Watanuki tergeletak di lantai kamar mandi, mendekap tubuhnya sendiri yang bergelimangan darah, meringkuk tersiksa oleh rasa sakit yang menampar tubuhnya. Watanuki berusaha untuk meraih kran shower jauh di atasnya, melawan perih menembus kulitnya. Watanuki mematikan shower yang sedari tadi menghujaninya dengan air, kemudian kembali tergeletak di lantai.
"Haah... Haah...", Watanuki memejamkan matanya. "Apa ini..."
Watanuki memegangi bahunya yang sesekali masih terasa sakit. Luka yang dibalut oleh Moro dan Maru tidak begitu banyak membantu. Setidaknya, darah sudah berhenti keluar dari sumbernya.
"Watanuki-kun!"
"Aa.. Himawari-chan.."
"Ohayou, Watanuki-kun!" Himawari menepuk pundak Watanuki.
"Aw!" Watanuki spontan menjauh. Himawari kemudian menghampiri Watanuki yang mundur beberapa langkah ke ke belakang.
"Anou.. Doushite, Watanuki-kun?" tanya Himawari cemas.
"Daijoubu... Aku.. Cuma sedang cedera saja..." jawab Watanuki.
Himawari terdiam sejenak. Wajahmya terlihat semakin cemas mendengar statement dari Watanuki barusan.
"Ki ni shinaide, Himawari-chan!", Watanuki segera meramaikan suasana, "Aku akan lekas sembuh, kok!"
"Alangkah baiknya jika demikian, Watanuki-kun," Ujar Himawari, lagi dengan wajah riangnya. "Hayaku genki ni naru, yo!"
"Arigatou."
Himawari menunjukkan senyumannya kepada pemuda berkacamata itu. Watanukipun membalasnya dengan senyuman yang merekah lebar.
Mereka kembali meneruskan perjalanan mereka yang tertunda. Tak lama berjalan, bola mata Himawari menangkap sesosok Doumeki Shizuka yang tengah berjalan berlawanan arah dengan mereka. Tanpa sepengetahuan Watanuki, Himawari segera berbalik arah menyusul Doumeki yang berlalu begitu cepat seperti shinkansen.
"Watanuki-kun duluan saja, ya!" Himawari melambaikan tangannya kepada Watanuki. "Aku ada urusan sebentar!"
"Aa.." Watanuki spontan menoleh ke sumber suara. "Ha-hai..."
Perasaan aneh kembali menyelimuti Watanuki begitu matanya menangkap bayangan Himawari dan Doumeki berjalan beriringan menjauhinya. Perasaan yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya. Menjalar dari dadanya, turun menuju jemari kakinya, kemudian merambat naik hingga ubun-ubunnya. Perlahan menggetarkan jiwa dan raganya, lalu berubah menjadi rasa pening yang teramat sangat di kepalanya, yang membuat sel kulit di wajahnya melepuh. Lambat laun membuat fungsi sistem pernafasannya kacau berantakan –membuatnya tidak bisa bernafas seperti semestinya. Seperti petir yang menyambar bumi, yang bunyinya melintas dengan kecepatan super dan memekakkan telinga –dan panas dahsyat yang mampu meluluhkan logam apapun yang ada di dunia.
Nafas Watanuki mulai sulit dikendalikan. Ia merasakan sulitnya mendapat suplai oksigen untuk tubuhnya. Dadanya sesak, seperti terhimpit di antara beban yang sangat berat. Watanuki menggerutu dalam pikirannya sendiri, tentang perasaan yang sedang ia rasakan. Perasaan yang sama sekali tidak bisa diungkapkan atau dijelaskan dengan kata-kata, maupun penjelasan yang singkat. Perasaan yang ia sendiri tidak bisa pahami, namun ia yakini –ia paling mengetahui hal itu, namun tak bisa terjawab olehnya. Ia merasa kesal. Entah merasa marah atau kecewa. Entah kepada pemuda bernama Doumeki Shizuka itu, maupun kepada gadis yang bernama Himawari Kunogi, entah kepada dirinya sendiri sebagai Watanuki Kimihiro.
Perasaan yang sama sekali abstrak ini sudah terlalu sering membebani Watanuki. Menambah penderitaan hidupnya saat ini. Menambah beban hatinya, mengusik waktu dan ketenangan jiwanya. Perlahan tapi pasti membuatnya gila.
"Kimihiro! Oi, Kimihiro!"
Watanuki jatuh terkapar tak sadarkan diri di lantai. Pikiran yang melayang dalam benaknya tadi seketika itu juga menghilang. Berubah bagaikan butiran debu yang tertiup angin.
"Siapapun! Cepat bawa dia ke ruang kesehatan!"
"Doumeki-kun?"
Doumeki tidak menghiraukan panggilan gadis berkuncir dua itu. Matanya tetap memandang lurus ke depan.
"Kau terlambat." Ujarnya dingin.
"Gomen, ne. Aku bangun sedikit terlambat hari ini." Kata Himawari, dengan suara yang kian mengecil.
Pemuda berbadan tegap itu kembali diam dalam keheningan. Tidak ada tanggapan darinya mengenai pernyataan terakhir dari Himawari barusan.
Langkah dua orang itu terhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya terkunci ganda. Doumeki merogoh dalam saku celananya, dan meraih serenceng kunci-kunci di tangannya. Pertama, ia membuka pintu besi yang terpampang di depannya, kemudian barulah ia membuka pintu yang menjadi akses masuk utama ke dalam ruangan itu.
Doumeki pertama kali menginjakkan kakinya ke dalam ruangan serba putih itu, disusul oleh Himawari. Tanpa dikomando, Himawari segera meletakkan ransel di atas meja dan mengeluarkan satu buah folder yang berisi data-data eksperimennya, sementara Doumeki masuk ke dalam ruang penelitian –mengambil sebuah wadah berisi objek yang mereka jadikan bahan pengamatan.
"Anou... Doumeki-kun...?"
Doumeki kembali dengan wadah plastik yang tertutup rapat, kemudian meletakkannya di sebelah Himawari.
"Nani?"
"Sebelumnya, aku sama sekali nggak bermaksud mencampuri urusan Doumeki-kun..." Himawari mengeluarkan satu persatu data pengamatan yang telah ia ketik ulang dari tempatnya. "Sepertinya hubunganmu dengan Watanuki masih belum membaik, semenjak hari itu..."
Pupil mata Doumeki sedikit melebar mendengar perkataan Himawari. Entah merasa terkejut atau terusik dengan kalimat itu, hal ini mendorong Doumeki untuk mengetahui lebih dari apa yang gadis itu ketahui.
"Kau ini kenapa...?"
"Kau sudah sadar, Kimihiro?"
Sebuah suara menyadarkan Watanuki dari tidur sementaranya. Watanuki membuka matanya pelan-pelan, membiarkan cahaya perlahan merangsang saraf-saraf di matanya. Watanuki mendapati dirinya sedang terbaring di atas ranjang, dan seluruh sisinya dikelilingi oleh gorden berwarna putih.
"Kau tadi jatuh pingsan," ujar seseorang seraya menyingkirkan gorden yang menghalangi pembaringan yang sedang ditiduri Watanuki. "Terlebih, bahu dan lenganmu luka parah."
Lagi-lagi!
Watanuki spontan beranjak dari pembaringan, memastikan luka yang berada di bahu dan lengannya. Watanuki termenung. Perban yang membalut bagian yang terluka itu terlihat masih sangat baru. Itu berarti...
"Sepertinya luka yang lama sobek, makanya..." wanita paruh baya yang merawat Watanuki tadi menuangkan teh hangat ke dalam sebuah wadah yang diletakkan di atas meja di sebelah pembaringan. "Aku segera mengambil tindakan. Aku melakukan operasi kecil pada bagian yang lukanya lumayan dalam."
"Sou ka..."
"Sehubungan dengan profesiku terdahulu sebagai dokter bedah, setidaknya peralatanku masih bisa dipergunakan. Untuk menangani kasusmu, Kimihiro."
"Terima kasih. Maaf merepotkan..."
"Ah, ngomong-ngomong... Kau sudah lama tertidur. Apa kau belum makan sedikitpun sejak tadi pagi?"
Watanuki melirik ke arah jam yang terpampang di salah satu sudut ruangan. Jam menunjukkan tepat jam setengah satu siang.
"Entahlah..." Watanuki mengusap-usap dahinya pelan. "Akupun lupa apakah aku sudah makan atau belum. Bahkan aku sama sekali tidak sadar kalau aku sudah ada di sekolah..."
"Sou desune..."
Wanita itu menyerahkan sebuah bungkusan kepada Watanuki. Kemudian ia juga mengambil sebuah bungkusan lain –untuknya sendiri.
"Anou.. Kore.."
"Bentou. Aku bawa lebih. Kuberikan satu untukmu, ya."
"So-a..."
"Kau makanlah yang banyak. Setidaknya membantu pemulihan tubuhmu. Douzo."
"A- Doumo arigatou gozaimashita!"
Seluruh murid kelas XI-C tengah harap-harap cemas menanti jam pelajaran terakhir usai. Tak terkecuali Doumeki. Tapi kali ini, entah ada hal lain selain jam pelajaran terakhir yang ia khawatirkan sejak tadi.
Dan akhirnya, saat-saat yang dinantikan tiba.
KRIIIIIIIIIIIIIIIIINGG!
"Sudah, sudah. Tenang semuanya!" Kabura-sensei si guru matematika mulai kalang-kabut begitu murid-muridnya sudah siap lepas landas dari kelas. "Jangan lupa materi kuis untuk lusa pelajari bagian delapan dan sembilan!"
"Iyaaaaa!"
Seluruh murid segera tancap gas menuju alam yang mereka inginkan, kecuali Doumeki dan Himawari. Sesaat sebelum Kabura-sensei meninggalkan kelas, matanya terpaku pada Doumeki dan Himawari yang masih sibuk membereskan meja mereka yang berserakan dengan buku-buku.
"Araa... Aku tidak melihat Kimihiro hari ini. Apakah kalian tahu ke mana dia?"
Doumeki dan Himawari terdiam sejenak. Tak lama, Himawari memberikan sebuah jawaban untuk menghapuskan rasa penasaran pria dengan rambut ikal itu.
"Kudengar tadi pagi ia pingsan. Hingga saat ini ia belum kembali dari ruang perawatan..."
"Wah, bahaya juga.." Kabura-sensei memasukkan kacamata yang ia kenakan ke dalam kotaknya. "Akhir-akhir ini cuaca sulit untuk diprediksi. Begitu juga dengan kondisi tubuh kita, bukan begitu?"
Kabura-sensei berjalan meninggalkan kelas XI-C yang sudah sepi dari huru-hara murid-muridnya. Kini hanya tersisa Himawari dan Doumeki. Berdua.
"Benarkah yang kau katakan itu?" tanya Doumeki dengan suara beratnya.
Himawari mengangguk pelan, "Kudengar kabar dari kelas sebelah. Dia yang membawanya ke ruang kesehatan."
Doumeki segera beranjak dan bergegas keluar kelas. Sebersit raut khawatir tergambar di wajahnya. Namun ia berusaha menutupi hal itu dengan ekspresi datarnya.
"Kau ingin menjenguknya?" tanya Himawari.
"Tidak," Doumeki menyangkal pertanyaan Himawari. "Aku hanya ingin mampir ke sekretariat panahan, lalu pulang."
"Sou ka..."
Doumeki menghilang dari ambang pintu. Derap langkah kakinya terdengar memantul di telinga gadis yang disukai Watanuki itu. Kian lama kian mengecil kemudian menghilang ditelan dimensi lain.
"Senpai!"
Doumeki menoleh ke sumber suara.
"Senpai, apakah... Hari ini kau tidak ikut latihan?"
Doumeki terdiam sejenak. Ia membuang pandangannya ke sudut koridor yang terjauh yang bisa ia lihat.
"Mungkin aku akan absen untuk tiga hari ke depan. Cedera di bahuku belum terlalu pulih."
"Nante?! Parahkah?"
"Tidak terlalu parah. Hanya saja aku dianjurkan untuk sedikit beristirahat."
"Zannen, da. Baiklah kalau begitu... Kudo'akan agar lekas sembuh!"
"Hn. Arigatou."
Adik kelas Doumeki meninggalkannya di koridor. Sepertinya sebentar lagi latihan akan dimulai. Dan ini pertama kalinya aku absen latihan. Selama hampir dua tahun aku menekuni olahraga itu.
Doumeki berjalan pelan menuju persimpangan koridor yang berada tak jauh darinya. Ia kembali berargumen pada dirinya sendiri.
Dan kenapa dengan bahuku? Lukanya, terlalu parah. Aku mungkin harus rehat lebih dari seminggu. Terlebih, mengapa lukanya bertambah dalam? Apa ini ulah...
Tak jauh darinya, Watanuki melintas tepat di depan matanya.
"O-oi!"
Dan, Watanuki menoleh ke arah Doumeki yang memanggilnya.
"Sudah kukatakan jangan memanggilku seperti itu!" sahutnya ketus. "Namaku Watanuki Kimihiro! Paham?"
Doumeki melihat balutan perban di sekujur lengan sebelah kiri Watanuki. Memang, Watanuki tidak mengenakan gakurannya. Hanya kemeja putih dan celana panjang hitam yang ia kenakan saat itu. Dan.. Raut wajah Doumeki seketika itu juga berubah.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?!"
"Harusnya aku yang bertanya padamu, aho," Doumeki berjalan mendekati Watanuki. "Ke mana saja kau seharian ini? Bolos?"
"Bukan urusanmu!"
Mereka terdiam sejenak dalam keheningan. Tanpa pikir panjang, Doumeki langsung menarik tangan Watanuki –mengajaknya untuk segera pulang.
"H-hei! Apa-apaan ini?!"
"Kaerou."
"Jangan menarik tanganku seperti ini!" Watanuki bersikeras melepaskan tangan Doumeki darinya. "Lepas!"
"Kenapa kau masih bersikukuh dengan keadaanmu yang bobrok seperti ini?!" Doumeki tetap keukeuh pada apa yang ia lakukan. "Menurut saja apa yang kubilang! Kenapa kau keras kepala sekali?"
"Kau aneh! Karena kau orang aneh!"
"Apa karena kau bilang aku aneh berarti kau tidak aneh?!"
"Lepas! Aku tak mau berdebat denganmu!"
Watanuki berlari menjauh dari Doumeki. Beberapa kali ia terjatuh, tapi ia kembali bangkit, dan berlari menjauh, menjauh dan kian menjauh. Doumeki menggertakkan giginya, kesal. Ia mengejar jaraknya dari Watanuki yang tertinggal. Berlari secepat mungkin untuk mengimbangi kedudukannya sekarang.
Apa-apaan orang itu? Kenapa dia mendadak menjadi seperti orang asing begitu?!
Watanuki menoleh ke belakang. Dan benar saja, Doumeki sudah berada beberapa meter darinya.
"Sial!"
Watanuki kembali berlari, dan Doumeki terus mengejar sosok pemuda berkacamata itu dari belakang. Menerjang segerombolan manusia berlalu-lalang yang ada di hadapan mereka. Mereka berlari dalam hening. Tanpa saling berteriak satu sama lain. Aksi kejar-kejaran terus terjadi, hingga pada akhirnya mereka dihadapkan pada sebuah persimpangan jalan besar, dengan arus kendaraan yang terbilang ramai. Rambu pengatur lalu lintas menunjukkan sinyal aman bagi pejalan kaki untuk menyebrang. Watanuki memutuskan untuk terus melintasi jalan.
Tapi, bukan tidak mungkin ada kemungkinan pengemudi yang ugal-ugalan melintas di saat rambu menunjukkan demikian, kan?
"WATANUKI!"
Menyadari kemungkinan buruk yang akan terjadi, Doumeki berusaha untuk mempercepat laju kakinya. Mencoba meraih tubuh Watanuki yang tengah terancam maut. Doumeki menolak kakinya sekuat mungkin pada jalan beraspal, agar bisa menghasilkan langkah kaki yang lebih besar –yang berarti lebih cepat menyelamatkan Watanuki.
GREBB!
Sekuat tenaga Doumeki mendekap tubuh mungil Watanuki, kemudian "menggulung" tubuhnya sendiri untuk menghindari terjangan truk berukuran sedang yang tengah melaju tanpa kendali. Mereka terhempas terguling-guling sejauh beberapa meter seperti uang logam, dan akhirnya gravitasi menghentikan mereka tepat di dekat sebuah restoran seafood ternama. Watanuki perlahan membuka matanya, samar tergambar wajah Doumeki di hadapannya. Pemuda yang menggemari panahan itu masih mendekap tubuhnya erat.
"A-apa yang terjadi...?"
"Kimi... Daijoubu...?" tanya Doumeki, dengan nafas yang agak tersenggal-senggal.
Setetes cairan berwarna merah menetes tepat di pipi Watanuki. Pemuda berkacamata itu mebelalakkan matanya, setelah matanya jelas menangkap gumpalan berwarna merah pekat dari dahi Doumeki.
"Kau berdarah!" tangan Watanuki spontan menyanggah wajah Doumeki dengan kedua tangannya.
"Kalau kau tidak apa-apa..." darah kembali menetes di pipi Watanuki. "Yokatta..."
"Ayo!" Watanuki mengumpulkan tenaganya untuk bangkit. "Kita harus segera ke rumah sakit!"
"Itu... Tidak perlu..."
Watanuki keukeuh memapah Doumeki. Ia mengutarakan segenap kekuatannya yang masih tersisa untuk menolong Doumeki yang mulai tak sadarkan diri saat itu. Sedikit demi sedikit, Watanuki berhasil memindahkan tubuh yang tengah terkulai lemas itu. Sial! Kenapa di saat seperti ini justru tidak ada orang yang mau menolong? Apa mereka tidak melihat nyawa seseorang nyaris terancam di sini?
Bunyi berderit terdengar dari kejauhan sebanyak beberapa kali dengan jeda waktu 2-3 detik. Sepersekian detik setelah bunyi-bunyian yang terakhir, bunyi yang lebih dahsyat terdengar samar-samar merambat di udara.
"Hoi! Menyingkir dari sana! Abunai, yo!" seru seseorang dari sisi jalan yang lain.
Watanuki segera menengadahkan kepalanya ke atas. Seperti apa yang telah diperingatkan sebelumnya, ia melihat sebuah neon box sedang meluncur dari ketinggian sekitar 5 meter, dan siap menimpanya dan Doumeki. Tapi sebelum menimpa mereka, benda itu terlebih dulu menabrak akuarium berisi ikan hidup. Dan sudah bisa ditebak, neon box itu jatuh beriringan dengan serpihan kaca dan beberapa ekor ikan yang semula sedang berenang bebas di dalam wadah kaca tersebut.
Doumeki yang terlihat lemah itu akhirnya menggunakan sisa tenaga yang ia miliki untuk menghempaskan tubuh Watanuki sejauh mungkin. Kejadian berlalu begitu cepat. Seperti ratusan koma dalam satu scene. Tak dalam hitungan detik, tubuh Doumeki kembali jatuh terkulai di tanah, dengan neon box yang menimpanya, dan diikuti dengan serpihan kaca yang menghujam daging di sekujur tubuhnya. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Kesadarannyapun rasanya sudah melayang entah ke mana.
Melihat pemandangan memilukan di depan matanya, Watanuki kembali hilang kendali. Tanpa ia sadari, ia berteriak memanggil nama pemuda malang itu berkali-kali. Dari matanya air mata mengalir tiada henti. Ya, ia menangis histeris.
"DOUMEKI!"
Orang-orang di sekitar TKP berbondong-bondong mengerubungi lokasi. Beberapa mengamankan Watanuki, sementara sisanya melakukan evakuasi pada Doumeki. Watanuki dibawa ke sebuah toko kecil tak jauh dari tempat terjadinya kejadian naas itu. Ia masih belum bisa mengendalikan dirinya. Sesekali ia histeris meneriakkan nama Doumeki berulang-ulang. Wanita paruh baya pemilik toko mencoba untuk menenangkannya, tapi sepertinya usahanya sia-sia saja.
Tak lama Doumeki berhasil dievakuasi, ambulance datang dan membawanya menuju rumah sakit pusat. Dari sinilah, gejolak di dalam dada Watanuki mencapai puncaknya. Seiring dengan memuncaknya emosi, tiba-tiba darah segar menyembur dari sekujur bahu hingga tangan kiri Watanuki. Seisi toko panik, suara erangan Watanuki terdengar hingga ke ujung jalan. Kejadian itu tak berlangsung lama. Setelahnya, Watanuki jatuh pingsan.
"Sepertinya ia terluka parah, seseorang tolong bawa ia ke rumah sakit pusat!" sahut si bibi penjaga toko.
"Perlu kupanggilkan ambulance? Atau taksi?!" usul seorang tukang pos yang memang turut membawa Watanuki ke toko.
"Hai, onegaishimasu!"
Si tukang pos segera menjalankan tugasnya. Sementara yang lainnya sibuk membereskan percikan darah yang terpapar di sekeliling lokasi. Tak lama, si tukang pos sudah kembali dengan membawa taksi.
"Tolong hati-hati! Bisa jadi lukanya menjalar ke tubunya!"
"Wakatta!"
Mereka segera melarikan Watanuki ke rumah sakit yang sama di mana Doumeki mendapatkan perawatan. Sementara, beberapa orang yang tersisa di toko sibuk membantu si bibi membersihkan noda darah yang tersisa. Konsentrasi mereka buyar begitu saja, ketika seorang pemuda masuk ke dalam toko yang berantakan itu.
"Anou.. Sumimasen, ga..." pemuda bermantel putih itu melangkahkan kakinya ke dalam toko. "Apa barusan ada kecelakaan di sini?"
"Ya.. Baru saja, para korban sudah dibawa ke rumah sakit pusat untuk mendapatkan perawatan." Ujar si pemilik toko.
"Korban terluka parah?" tanyanya lagi.
"Satu orang luka parah karena tertimpa neon box di seberang jalan..." jawab seorang siswi menengah atas. "Satunya lagi... Tiba-tiba dari tubuhnya... Tersembur darah..."
"!" pemuda itu mengernyitkan alisnya. Ia membuang pandangannya ke luar toko, mengamati setiap sudut jalan. Berharap menemukan sebuah petunjuk di sana.
Kejadian ini bukan karena kesengajaan. Ini... Jangan-jangan...
Tanpa pamit pemuda itu meninggalkan toko, menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang yang ada di sana.
"...orang tadi kenapa, ya...?"
"Iya. Dia aneh..."
Kalau memang dengan melakukannya, hal itu bisa terjadi... Maka...
Sanggupkah...?
a/n Chapter 4 UPDATED!
Akhirnyaaa, satu hutang saya lunas!
Maaf kalo makin abal-bala-bala ceritanya ;_;/
*dampak hiatus kelamaan*
Fanfict ini dibuat secara marathon pas hari-hari terakhir puasa menjelang lebaran, dan finishing kelar dalam jangka waktu 12 jam! ;_;/
Selama penulisan fanfict ini, author dibikin galau lantaran nekad marathon ulang X TV Series ampe kelar. Dan semoga tidak memicu munculnya another-discontinued-fanfictions ;_;/
*ngenes*
Dan... Anyway, ada yang bisa tebak siapa pemuda bermantel putih di akhir chapter ini? :p
Adapun playlist yang diputer berulang-ulang buat naikin mood nulis adalah, sbb:
1. Ost X/1999 – Sadame
2. Kohei Koizumi – Secret Sorrow
3. Nira Etsuko – Tsuki wa Noboru, Watashi wa Utau
4. ZARD – In My Arms Tonight
5. Kohei Koizumi – Strength
6. X Japan – Forever Love (aseli lawas bener)
Dan.. Atas permintaan beberapa reader, berikut saya lampirkan glosarium berisi kosakata dalam Bahasa Jepang yang saya selipin di fanfict ini :D
Ohayou = Selamat pagi
Doushite = Kenapa
Daijoubu (ex: Kimi daijoubu?) = Gak pa-pa (ex: kamu gak pa-pa?)
Ki ni shinaide = Gak usah dipikirin
Hayaku genki ni naru, yo! = Cepet sembuh, ya!
Yamete! = Hentikan!
Nante / Nan to iimashitaka = Apa lu kate? / Barusan lu bilang apa? (makna berubah tergantung bamen, ya)
Zannen, da = Sayang sekali...
Aho = Bodoh, tolol, bego
Kaerou / Kaerimashou = Ayo kita pulang!
Abunai = Bahaya
Wakatta/ Wakarimashita = Saya paham
Onegaishimasu = Saya mohon (ungkapan meminta tolong biasanya pake ini, lazimnya setelah kita dapet tawaran bantuan dari orang lain)
Semoga bermanfaat! ^^v
