Ketika bel pulang berbunyi, Zitao menghampiri mejanya. Joonmyeon mendongak, menatap mata cokelat milik pemuda jangkung di depannya.
"Kau tidak pulang, Myeon?"
"Aah..." Joonmyeon menggaruk belakang leher, lalu merapikan bukunya masuk tas. "Kalian duluan saja. Aku ada urusan di perpustakaan. Pulanglah duluan."
"Urusan?" Chanyeol yang bersandar di ambang pintu kelas sambil memantulkan bola basket mengernyit. "Urusan apa?"
"Pasti urusan para jenius bau buku," Tao menyeret lengan Chanyeol. "Ayo, Yeol, kita pulang saja dulu."
"Baiklah. Kami duluan, Myeon!"
Joonmyeon membalas lambaian tangan Chanyeol. Ia menunggu hingga keduanya menghilang dari pandangan sebelum menghela napas panjang yang sedari tadi ia tahan.
Napas panjang yang diselipi keresahan.
Ia melirik lagi pada layar ponsel pintarnya. Satu notifikasi pesan dari Lay berkedip tanpa suara
'Kutunggu di perpustakaan, Sayang.'
Pipinya merona membacanya. Dasar, ia mengunci layar ponsel. Semudah itu Lay membuatnya merasa terbakar.
Tapi itu sensasi yang menyenangkan, ia harus mengakuinya.
Lima menit kemudian ia meninggalkan kelas. Perpustakaan agak jauh dari kelasnya, sekitar tiga menit kalau jalan kaki santai. Tiap langkahnya terasa berat, bayangan Lay saat mengantarnya ke kelas tadi berkilas kembali.
Ciuman Lay masih terasa membekas di bibirnya. Hangat deru napas pemuda itu masih bisa ia rasakan.
Namun kemudian pria itu menemukan sesuatu di lehernya—sebuah kissmark. Saat itulah Lay melepas ciumannya.
Joonmyeon ingin menangis rasanya. Lay pasti sekarang mencurigainya tidak suci lagi—atau sudah ternoda—atau lebih parahnya lagi ia disangka pemuda jalang!
Dan Lay (menurut penuturannya tempo hari) sangat menyukai sesuatu yang polos dan lugu.
"Seperti dirimu," imbuh Lay waktu itu, kemudian tertawa kecil melihat darah Joonmyeon berdesir ke atas.
Tapi sekarang semua ini sia-sia. Aksi kaburnya waktu itu sia-sia. Semua pengorbanannya, semua hukuman yang ia terima! Habislah imejnya di depan pemuda yang disukainya! Habislah semua perjuangan pendekatan yang ia lakukan!
Dan Joonmyeon hanya bisa menyalahkan satu nama untuk semua ini—Wu Yifan!
Krek.
Perpustakaan lumayan sepi (tentu saja, apalagi besok ada libur tiga hari berturut-turut). Hanya ada pustakawan yang duduk manis di belakang komputernya, dan dua siswa tingkat tiga yang membaca novel di meja depan.
Tapi tidak ada Lay.
Joonmyeon meletakkan tasnya di rak yang disediakan, lalu memainkan ponselnya.
'Lay-ah, kau di mana?'
Tiga puluh detik kemudian, masih belum ada jawaban.
Joonmyeon sadar betul akan tatapan tajam dari si pustakawan. Ia memasukkan ponsel ke dalam tasnya, lalu berjalan menuju rak buku.
Ia berjalan menyusuri rak sastra, melihat-lihat judul buku baru sambil sekalian menunggu Lay. Jemarinya menyusuri jilid buku, membaca satu persatu sambil mencari yang sekiranya membuatnya tertarik.
Ia telah berpindah rak hingga sampai pada rak sejarah di sudut ruangan ketika dua tangan melingkari pinggangnya.
"Hya—umph!"
Satu tangan orang itu secepat kilat membekap mulutnya yang hampir mengeluarkan pekikan. Ia merasa diseret ke balik rak, tempat ruang kosong yang beralih fungsi jadi gudang penyimpanan buku-buku lama, lalu bekapannya dilepas.
Joonmyeon berbalik, lalu otomatis memukuli dada Yixing yang terkekeh geli.
"Ow! Ow! Duh, kenapa memukuliku?"
"Memang harus ya pakai acara bekap-bekapan segala? Aku kaget, tahu!"
Yixing terkekeh seraya mengacak rambut Joonmyeon. "Aku sedang ingin mengerjaimu saja. Kau lucu kalau kaget begitu. Tahu tidak, kau tadi sampai lompat, lho."
"Aku tidak peduli," Joonmyeon menghembuskan napas kasar, menggembungkan pipi. Yixing terkekeh, lalu menarik Joonmyeon lagi.
"Hei, hei!" Joonmyeon memekik lagi ketika Yixing menariknya ke bawah sampai terduduk di atas pangkuan Yixing yang duduk bersila.
"Duduk sini."
Rona merahnya makin parah ketika Yixing kemudian mendekap erat pinggangnya, meletakkan hidungnya di tepi kulit lehernya, menghirup aroma citrus segar yang memabukkan.
Joonmyeon memejamkan mata, bergerak-gerak geli ketika ujung hidung Yixing menggelitiknya.
"Ung, geli..."
Yixing membuka matanya, lalu bertindak usil dengan mengecup lehernya.
Joonmyeon mendesah.
"Lay-ah..."
"Joonmyeon?"
"Hum?"
Pelukan Yixing mengerat.
"L-Lay-ah?"
"Ceritakan."
Ini dia. Inilah yang paling Joonmyeon takutkan.
Saat Yixing meminta kejelasan dari kebenaran yang terjadi.
"A-apanya?"
Ia memilih bermain aman dengan pura-pura tidak paham.
Yixing tidak segera menjawab. Joonmyeon memejamkan mata. Meresapi detak jantung Yixing yang merambat ke punggungnya.
Gudang singup itu hening untuk sesaat. Yixing dan Joonmyeon hanya bernapas dan bersandar.
"Kau tahu apa maksudku."
Joonmyeon menggigit bibir bawahnya. Suara Yixing turun satu oktaf.
Ia serius.
"Maksudmu... merah-merah di leherku itu?"
Joonmyeon sebisa mungkin berakting polos. Yixing tampaknya tertipu.
"Iya. Dari mana kau dapat itu, hm?"
Hembusan napas Yixing pada telinganya membuatnya tidak bisa fokus.
"A-aah... aku... er..."
Tidak mungkin dia akan menceritakan kejadian sebenarnya pada Yixing, kan? Lay-nya itu tidak tahu apa-apa. Salah-salah malah dia yang akan dianggap murahan.
"Itu... umm... nyamuk! Ya, nyamuk!"
Yixing mengangat sebelah alis. Tapi Joonmyeon tidak melihat.
"Nyamuk?"
"Iya! Kau tahu sendiri, ini sudah hampir musim panas." Lalu apa hubungannya?
"Begitu?"
Joonmyeon mengangguk kuat, berusaha meyakinkan.
Yixing menarik sudut bibirnya. "Ah, untunglah. Kukira apa, aku berpikiran yang bukan-bukan soal merah-merah itu. Ternyata cuma nyamuk..."
"Umm... memangnya Lay-hyung pikir itu apa?"
Joonmyeon bertanya untuk menghilangkan kecurigaan Yixing, untuk memberi kesan bahwa ia hanyalah pemuda lima belas tahun yang tidak tahu kejamnya dunia.
Bukan pemuda lima belas tahun yang sudah dirusak oleh kakak sepupu bejatnya.
"Aku pikir... itu gigitan."
"Gigitan?"
"Iya. Gigitan cinta dari orang lain. Untunglah aku salah."
Joonmyeon membeku. Yixing terkekeh atas kesalahannya sendiri.
"Aku sudah meragukanmu, ah, aku bodoh sekali. Padahal kau sendiri tidak tahu kissmark itu apa. Tapi untunglah, soalnya..." Yixing memberi jeda. "Aku benci dengan orang murahan yang pernah dijamah."
Detak jantung Joonmyeon berhenti sesaat.
"Tapi, sekali lagi, untunglah aku salah. Aah, aku lega~"
Tapi tidak dengan Joonmyeon. Tubuh pemuda mungil itu masih kaku. Beku. Menyesap ucapan Yixing yang menusuk menembus dirinya.
Ada satu bulir air mata yang mengalir tanpa ia sadari.
"Myeon-ie?"
Yixing mengangkat pinggang Joonmyeon, memutarnya hingga berhadapan dengannya. Joonmyeon buru-buru mengedipkan mata lalu mengusap bekas basah di pipinya.
"Myeon-ie? Kenapa?"
"T-tidak... "
"Kau menangis?"
"Tidak!"
Tapi reaksi tubuhnya mengkhianatinya. Joonmyeon terisak.
"Ssh, ssh," Yixing mengelus punggung Joonmyeon, membuat pola lingkaran untuk menenangkan pemuda itu. "Sudah, sudah. Maafkan aku. Aku sudah salah sangka padamu."
Tapi kau benar, Lay-ah.
"L-Lay-ah, k-kau mempercayaiku?"
Yixing menatap Joonmyeon aneh.
"Tentu saja, Sayang. Kenapa tidak?"
Sayang. Afeksi yang luar biasa dari Yixing ia rasakan. Mendengar itu, Joonmyeon makin merasa bersalah.
Ia tidak bisa menjaga tubuhnya demi orang yang ia cintai.
"Aku... aku..."
Joonmyeon tidak tahu apa yang hendak ia ucapkan. Ia tidak ingin mengutarakan yang sebenarnya, tetapi ia juga tak suka membohongi Yixing. Dilema itu membuatnya tergagap diselingi isakan, membuat Yixing kemudian mendekapnya erat.
"Ssh, ssh, sudah... Sayang, sudah..."
"L-Lay-ah... Hiks..."
Joonmyeon mengeratkan pelukannya pada leher Yixing.
"Maafkan aku, oke? Aku memang keterlaluan, menyangka dirimu melakukan macam-macam di belakangku. Aku yang salah, oke? Sudah, tenang. Ssh..."
"Percayalah..." Joonmyeon tersedak isaknya sendiri. "Percayalah... percaya padaku..."
Hanya itu yang bisa ia ucapkan. Yixing menggumam mengiyakan, lalu mengecup pipi Joonmyeon sayang.
"Kalau kau sekhawatir itu... bagaimana kalau begini saja?"
Joonmyeon memasang telinga, mendengarkan tawaran Yixing.
"Biarkan aku mengganti bekas merah itu dengan tanda dariku sendiri."
Joonmyeon tidak bisa berpikir jernih. Ketakutan Yixing akan menjauhinya membuat otaknya kalut. Ia menarik diri dari Yixing lalu mengangguk antusias.
"Kau benar. Tandai saja! Tandai aku!"
Ia melepas dua kancing kemeja teratas, lalu mendekatkan diri pada Yixing.
Manik cokelat jernih si pemuda Cina perlahan mengabur oleh nafsu. Ia menjulurkan badan, menghampiri kulit seputih susu yang berhias merah menyala, lalu menanamkan bibirnya hingga Joonmyeon mengeluarkan suara yang membuat bagian tubuh selatannya bergetar.
Joonmyeon masih tetap menangis.
.:xxx:.
Klik!
Klik!
"Begini kan lumayan."
Klik!
"Bisa untuk laporan ke Yifan-ge. Biar dia bisa lihat sendiri apa yang adiknya itu lakukan."
Klik!
Klik!
Pemuda bersurai pirang itu terkekeh.
"Toh memang aku di tugasi untuk menjaga Myeon-ie di sekolah."
Klik!
Klik!
"Sambil melaporkan ini, sekalian pendekatan dengan Yifan-ge."
Pemuda itu meraih tasnya lagi, lalu melenggang pergi dari ventilasi pada gudang penyimpanan perpustakaan, ponsel dengan foto skandal di tangan.
.
.
[tbc]
Edit: Akhirnya bisa update juga... walau baru yang kosmos ini sih, belum yang LH...
Halo semuanyaaa, ada yang kangen sama saya? /plak/ Iya iya, lelet banget updatenya I knoww, habis mau gimana lagi, hehe :D Yang penting kan Crell masih sehaat~
Pinginnya bikin si Kosmos ini enteng-enteng aja, ga pake konflik cemacem. Tapi ternyata takdir berkata lain. Walau bobotnya masih enteng sih daripada LH... Ada yang tau siapa kira-kira pemuda yang jeprat-jepret di lubang ventilasi itu? ohoho
Yang nungguin LH harus lebih sabar lagi yaa hohoho tenang, Crell lagi ngerjain kok ini. Gatau sih selesenya kapan .w. Tapi ngomong-ngomong nih ya (curhat ceritanya) Crell seneng banget selama aku hiatus, ada banyak event yang nyerempet-nyerempet ke plot asli LH. Yang si Luhan mampir ke Korea, lah, kostum bunny Myeon-ie pas exoluxion., lah, fanservice CB pas konser lah, bahkan sampe cideranya Kai untuk yang kedua kalinya. Ya ampun, itu semua nyerempet ke plot awal LH asal kalian tahu! Tinggal sekarang liat apakah bener Ipan kontak ke EXO lagi seperti di ficnya, huehehe
(ga mungkin sih, tapi berharap boleh, dong?)
Intinya, mulai detik ini Crell sepertinya sudah bisa aktif lagi (kalau tidak ada halangan lain di RL, ya). Terima kasih buat semua yang udah review, fav, follow, dan bentuk dukungan lainnya! Sini tak peluk satu-satu /dor
Akhir kata yang paling akhir, makasih semuanyaaa! Review, ya!
