AN : Fanfic remake, dengan pengubahan seperlunya demi kesesuaian jalan cerita, tapi tidak mengubah inti cerita itu sendiri.

Happy Reading~

SWEET ENEMY

Doyoung berjalan sendirian di trotoar, tadi Lisa sudah dijemput supir pribadinya dan mengajak Doyoung menumpang mobilnya, tetapi Doyoung menolak karena sebelum pulang dia ingin mengunjungi toko buku tua di sudut kota. Sekarang setelah berhasil membawa beberapa buku hasil buruannya, dia ingin segera pulang karena tanpa disadarinya, waktu sudah beranjak sore. Eomma Taeyong, Nyonya Lee menyediakan supir dan mobil untuk mengantar jemput Doyoung, tetapi Doyoung menolak fasilitas itu dengan halus, selama ini Doyoung selalu menggunakan bus untuk pulang dan dilanjutkan dengan jalan kaki. Doyoung ingin segera sampai ke halte bus, dia tidak ingin ketinggalan bus, karena kalau sampai terlambat, dia harus menunggu bus berikutnya dua jam lagi. Itu berarti dia harus menunggu di halte sendirian sampai malam.

Tiba-tiba sebuah mobil berjalan lambat di sampingnya, semula Doyoung tidak memperhatikan, tetapi ketika mobil itu semakin mengikutinya, Doyoung menoleh dan menatap waspada. Mobil itu berwarna hitam legam, jenis mobil sport yang cukup bagus, dengan kacanya yang gelap.

Apakah ini penculikan? Mobil itu mirip mobil mafia-mafia di film. Kadang Doyoung kesal dengan imaginasinya sendiri yang membuatnya ketakutan. Lalu kaca mobil itu terbuka sebelum Doyoung sempat panik lebih jauh. Yang ada di balik kemudi adalah Gongmyung. Lelaki yang memainkan biola waktu itu. Doyoung tak akan pernah lupa wajahnya. Langkahnya langsung terhenti.

Gongmyung ikut mematikan mobilnya dan tersenyum lembut, "Aku pikir aku tadi salah orang, ternyata kau benar-benar Doyoung. Kenapa kau berjalan sendirian di sini Doyoung?"

"Aku... Eh... Aku sedang menuju halte bus."

"Menuju halte bus? Memangnya tidak ada mobil dan supir yang menjemputmu?" Gongmyung mengerutkan kening, tampak tidak suka dengan ide Doyoung berjalan sendirian dan pulang dengan naik bus.

Doyoung tersenyum, "Bukan Gongmyung, bukannya tidak ada, Eomma Lee menyediakannya untukku, tetapi aku menolaknya... Kupikir terlalu berlebihan kalau harus diantar jemput setiap hari."

Gongmyung mengangkat alisnya, "Tidak terlalu berlebihan, apalagi untuk seseorang yang sudah menjadi bagian dari keluarga Lee. Sangat berbahaya berjalan sendirian, karena banyak orang dengan pikiran negatif yang bisa saja memutuskan menculikmu demi uang."

Kata-kata Gongmyung membuat Doyoung takut, dia menatap sekelilingnya dengan waspada, "Tetapi aku bukan bagian dari keluarga Lee..." gumamnya pelan, "Mereka tidak akan tertarik menculikku."

Gongmyung mengangkat bahunya, "Yah, siapa tahu. Banyak orang putus asa dan nekad di dunia ini." lelaki itu membuka pintu mobilnya, "Ayo, aku akan mengantarmu pulang."

Sejenak Doyoung berdiri ragu. Dia teringat akan kata-kata Taeyong kemarin kepadanya, kalau dia harus berhati-hati dan jangan terlalu dekat kepada Gongmyung, karena Gongmyung adalah penghancur hati perempuan dan membenci perempuan. Tetapi dilihat dari manapun, dia pasti bukanlah tipe yang diincar oleh lelaki sekelas Gongmyung, jadi tidak mungkin dia dijadikan target oleh lelaki itu. Lagipula Gongmyung tampak baik dan tulus kepadanya, tidak apa-apa mungkin kalau dia ikut lelaki itu. Setelah menghela nafas ragu untuk terakhir kalinya. Doyoung melangkah masuk ke mobil Gongmyung.

"Kau duduk dengan begitu tegang. Tenanglah Doyoung, aku tidak akan memakanmu." Gongmyung akhirnya bergumam dengan geli setelah beberapa lama mereka berdua dalam keheningan. Doyoung merasa begitu malu, apakah ketegangannya sangat terbaca? Dia dipenuhi kekhawatiran akibat peringatan Taeyong kemarin, padahal Gongmyung sepertinya benar-benar berniat baik kepadanya.

"Maafkan aku," gumam Doyoung pelan, mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar.

Langit malam sudah makin menggelap, dan kemacetan di jalan raya membuatnya semakin terlambat pulang. Ponselnya mati karena kehabisan baterai dan dia tidak bisa menghubungi mansion. Tetapi sepertinya mansion juga tidak akan menunggunya pulang. Nyonya Lee sedang berada di luar negeri dan Doyoung yakin Taeyong sedang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga tidak memikirkan kepulangan Doyoung.

"Aku mengerti kok. Suasana memang terasa canggung karena kita belum begitu kenal," Gongmyung terkekeh, "Dan mungkin kau mendengar tentang reputasi jelekku. Reputasiku memang jelek kepada beberapa perempuan, tetapi sepertinya berlebihan kalau aku dikatakan suka membuat patah hati perempuan. Aku menjalin hubungan dengan beberapa perempuan dan tidak berhasil. Itu saja." perkataan Gongmyung itu seolah menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Doyoung, meskipun Doyoung bertanyatanya dalam hatinya, Gongmyung sahabat Taeyong bukan? Kalau begitu kenapa Taeyong memperingatkannya tentang Gongmyung? Bukankah para sahabat biasanya saling mendukung?

"Aku tidak mempertanyakan reputasimu." Doyoung bergumam pelan, "Aku juga tidak takut kepadamu. Aku hanya cemas karena pulang terlambat."

"Pulang terlambat bersamaku." Gongmyung tertawa geli, "Mari kita lihat bagaimana reaksi Taeyong."

Taeyong tidak akan peduli, gumam Doyoung dalam hati.

Lagipula kenapa Taeyong harus peduli?

Sepertinya Taeyong memang peduli. Itu yang ada di benak Doyoung ketika melangkah turun dari mobil Gongmyung dan menemukan Taeyong bersandar di pilar teras mansion itu. Gaya tubuhnya tampak santai, tetapi tidak bisa menipu. Tatapannya terasa membakar.

Lelaki itu marah. Batin Doyoung dalam hati.

"Darimana saja kau Doyoung?" suara Taeyong berdesis lirih. "Dan kenapa ponselmu mati?"

Doyoung menatap Taeyong penuh rasa bersalah, lelaki itu memperlakukannya seperti ayah memarahi anaknya yang masih kecil. Doyoung bukan anak kecil lagi bukan? Seharusnya Taeyong tidak memperlakukannya seperti itu.

"Aku... Tadi pulang kuliah aku bersama Lisa, lalu aku mampir ke toko buku di sudut kota sampai lupa waktu... Aku... Aku terlambat pulang jadi..."

"Dan bagaimana kau bisa pulang bersama Gongmyung?" Taeyong mengangkat alisnya mengamati Gongmyung yang menyusul dengan tanpa rasa bersalah di belakang Doyoung.

"Eh... Aku bertemu Gongmyung di..."

"Sudahlah Taeyong. Doyoung tidak harus diintimidasi seperti itu. Tadi aku kebetulan berpapasan di jalan dengannya, jadi aku menawarkan untuk mengantarnya pulang karena hari sudah malam. Itu saja."

Tatapan Taeyong tampak tajam kepada Gongmyung, "Di antara sejuta kesempatan setiap detiknya, dan kau kebetulan bertemu Doyoung?"

Gongmyung mengangkat bahunya, "Mau bagaimana lagi? memang begitu kejadiannya. Ya kan Doyoung?"

Doyoung menatap Taeyong dan Gongmyung berganti-ganti dengan gugup, lalu menganggukkan kepalanya. "Ya... Memang begitu kejadiannya."

Taeyong menghela napas kesal, "Lain kali kalau kau pulang terlambat, telepon aku. Mengerti?"

Doyoung sebenarnya ingin membantah. Taeyong tampak begitu arogan dan memaksakan kehendaknya, dan Doyoung tidak suka diperlakukan seperti itu. Tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Lelaki di depannya ini tampak begitu marah, entah kenapa. Seakan-akan sudah siap meledak kalau dipancing. Doyoung pikir lebih baik dia diam dan membiarkan Taeyong mereda dengan sendirinya.

"Mengerti, Doyoung?"

"Mengerti Taeyong." jawab Doyoung datar kemudian setengah terpaksa.

Taeyong tentu saja mengetahui nada terpaksa itu, tetapi dia tidak mempedulikannya. Lelaki itu melemparkan tatapan memperingatkan kepada Gongmyung yang hanya tersenyum datar dan melangkah pergi keruangan santai tempat biasanya dia duduk kalau sedang datang ke rumah ini.

Setelah Gongmyung menghilang, Taeyong menatap Doyoung memperingatkan."Bukankah aku sudah memperingatkanmu supaya menjauhi Gongmyung?"

"Aku tidak pernah berusaha mendekati Gongmyung, kami bertemu dan dia mengantarku pulang. Kenapa kau membesar-besarkan masalah ini Taeyong?" gumam Doyoung agak keras, lalu menatap Taeyong marah, "Ah. Sudahlah." Doyoung membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Taeyong yang tercenung sambil menatap punggung Doyoung.

Taeyong sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan Doyoung. Kenapa melihat Gongmyung mengantarkan Doyoung pulang terasa sangat mengganggunya?

Sambil menghela napas panjang, dia melangkah ke ruangan santai menyusul Gongmyung.

"Jangan dia Gongmyung." Taeyong membanting tubuhnya di sofa dan menyesap minuman di gelas kristal bening yang dipegangnya, dia tampak begitu frustrasi.

Gongmyung yang sedari tadi duduk sambil membaca buku di sofa seberangnya mengangkat kepalanya. "Apa?"

"Jangan. Jangan Doyoung."

Gongmyung terkekeh dan meletakkan buku di tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, "Apa yang membuatmu berpikir kalau aku sedang mengincarnya?"

"Tatapanmu. Kau tidak melepaskannya dari pandanganmu."

Gongmyung mengusap rambutnya pelan dan menatap Taeyong penuh spekulasi, "Lalu kenapa kau melarangku?"

"Karena," Taeyong menghela nafasnya frustrasi. "Karena aku sudah berjanji akan menjaganya. Dia adalah satu-satunya gadis yang tak akan kubiarkan untuk kau hancurkan."

"Kalau aku tidak mempedulikan peringatanmu?" nada suara Gongmyung tampak tenang dan tidak terpengaruh oleh tatapan Taeyong yang menajam, seolah ingin membunuhnya.

"Maka kau akan berhadapan denganku."

Gongmyung tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa kau ini Taeyong, sebelumnya kau tidak peduli dengan sepak terjangku dengan siapapun. Dan tentang Doyoung, dulu kau membencinya dan ingin mengusirnya. Lalu tiba-tiba saja kau membawanya kembali ke rumah ini dan bertingkah seperti malaikat penjaganya."

"Sebenarnya itu bukan urusanmu."

"Ah ya." Gongmyung tersenyum santai, "Itu memang bukan urusanku... Tetapi setidaknya bisa menjadi pertimbanganku untuk tidak mengincar Doyoung."

"Dia bukan tipemu."

"Aku tidak punya tipe khusus. Kau sudah berteman denganku sejak lama, kau pasti tahu kalau aku tidak pilih-pilih."

Taeyong mengacak rambutnya kesal, "Kau sahabatku. Dan aku tidak suka harus bertentangan denganmu. Tetapi Doyoung adalah pengecualian. Kau tidak boleh mengganggunya, kau dengar itu? Dan kalau kau bertanya-tanya kenapa, itu adalah karena aku punya hutang yang sangat besar kepadanya."

"Hutang?" Gongmyung mengerutkan keningnya, ekspresinya tidak lagi bercanda. "Bagaimana mungkin seorang Taeyong Lee mempunyai hutang kepada gadis biasa seperti Doyoung?"

"Bukan hutang uang. Aku berhutang nyawa kepada Doyoung, ah bukan... Kepada ayah Doyoung."

"Apa maksudmu?"

"Kau seorang pemain biola profesional, mungkin kau pernah mendengar namanya, Junmyeon? Itu nama panggungnya dulu kalau tidak salah."

Gongmyung mengetuk-ngetukkan jemarinya, tampak berfikir. "Ah, ya... Aku ingat... Junmyeon adalah pemain biola yang sangat hebat dulu. Guru-guru musik kami menyebutnya jenius. Terakhir dia menerima tawaran yang sangat menarik di Austria. Tetapi entah kenapa ternyata dia batal mengambil tawaran itu lalu menghilang begitu saja. Sejak itu dia tak pernah muncul seolah-olah ditelan bumi." Gongmyung terkekeh, "Guru biolaku adalah salah satu penggemarnya, dia selalu mengulang-ngulang kisah tentang Junmyeon yang jenius dan betapa sayangnya karena dia menghilang. Sebuah kehilangan besar di dunia musik klasik, katanya."

"Dia menghilang karena dia tidak bisa bermain biola lagi."

"Apa? Kenapa kabar itu tidak pernah terdengar?" Gongmyung menatap Taeyong tajam, "Dan darimana kau tahu?"

"Karena aku yang menyebabkan dia tidak bisa bermain biola lagi. Lelaki itu menyelamatkanku dari penculikan waktu aku masih kecil, dan melukai tangannya. Luka itu mengenai saraf pentingnya dan dia tidak bisa bermain biola lagi." Taeyong mengatupkan kedua jemarinya di bawah dagu, "Dan dia mempunyai seorang puteri."

Gongmyung mengamati ekspresi Taeyong lalu wajahnya memucat ketika menemukan kebenaran di depannya.

"Doyoung...? Apakah maksudmu, putri dari Junmyeon adalah Doyoung?"

"Ya." Taeyong mendesah, "Orangtuaku berusaha mencari-cari Junmyeon, dan mereka menemukannya memiliki seorang putri, hidup dalam kemiskinan. Putri dari Junmyeon adalah Doyoung." Taeyong menatap Gongmyung letih, "Sekarang kau tahu kenapa aku harus menjaga Doyoung."

Gongmyung menatap Taeyong dalam-dalam, "Dan apakah Doyoung tahu kisah ini?"

"Tidak." Taeyong mengangkat bahu. "Aku tidak ingin dia tahu. Eomma sudah ingin memberitahu Doyoung, tetapi aku melarangnya."

"Kenapa?"

Karena dia pasti akan langsung membenciku. Itulah yang dipikirkan Taeyong pertama kali. Tetapi dia menatap Gongmyung dengan pandangan tanpa ekspresi.

"Karena aku ingin menjaga supaya hubungan kami tetap seperti ini. Aku akan menjaganya dengan sepantasnya. Kau tahu, bisa saja begitu Doyoung mengetahui bahwa kami mempunyai hutang budi kepadanya. Dia akan meminta lebih dan memanfaatkan kekayaan kami. Yah, aku tidak menuduh Doyoung mata duitan. Tetapi hati orang siapa yang tahu?" Taeyong merasa mulutnya pahit mengucapkan kebohongan dan penghinaan kepada Doyoung. Tetapi di tahannya perasaannya. Gongmyung tidak boleh tahu kalau Taeyong sangat takut dibenci oleh Doyoung.

Gongmyung menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Well, tidak kupungkiri, kisahmu ini sangat mengejutkan." dia memasang ekspresi kosongnya yang biasa. "Jangan khawatir kawan, kisahmu ini sudah pasti membuatku mengurungkan niat untuk merayu Doyoung. Kau tidak usah khawatir."

Mimpi itu datang lagi. Doyoung tahu kalau dia sedang bermimpi. Teriakan-teriakan keras, pertengkaran dan adu mulut panas terdengar di luar kamar, diselingi dengan hujan badai dan kilatan petir lengkap dengan suara guntur yang memekakkan telinga. Membuat Doyoung merasa sangat ketakutan, dia masih kecil di mimpi itu, mungkin empat tahun, duduk di lantai sambil menutupi telinganya, memejamkan matanya. Mencoba tidak mendengarkan teriakan-teriakan itu.

Siapa yang berteriak-teriak itu? Kenapa? dimana ayahnya?

Lalu sebuah tangan meraihnya, lembut. Doyoung kecil tersentak dan berseru ketakutan. "Sttt... Jangan takut ini aku."

Doyoung kecil mengenali aroma itu, aroma menenangkan yang sangat akrab. Dan suara itu juga terdengar akrab. "Mereka akan berhenti bertengkar nanti. Sini biar kupeluk dirimu dan kunyanyikan lagu untukmu."

Yang memeluknya adalah seorang anak lelaki. Lebih tua darinya. Tidak dikenalnya tetapi terasa akrab. Akrab tetapi dia tidak dapat mengingatnya. Kenapa dia tidak dapat mengingatnya?

Anak lelaki itu bernyanyi, suaranya terdengar lembut. Dia bernyanyi untuk mengalihkan perhatian Doyoung dari suara petir yang menggelegar di luar, mengalihkan Doyoung dari suara teriakan-teriakan pertengkaran di luar. Lambat laun Doyoung hanya mendengarkan suara nyanyian anak lelaki kecil itu. Tidak ada lagi suara guntur, tidak ada lagi suara teriakan pertengkaran. Kamar itu terasa begitu damai...

Hanya ada Doyoung dan anak lelaki kecil itu...

Doyoung terbangun kemudian, dengan tubuh basah kuyup dan napas terengah-engah. Mimpi itu sudah lama tidak datang. Dan sekarang datang lagi menghantuinya. Mimpi yang sama, kamar yang sama, anak lelaki yang sama...

Kenapa?

"Tidak ada yang lebih berbahaya daripada seorang musuh yang berpura-pura manis di depanmu."

"Pulang sendirian lagi?"

Doyoung menoleh mendengar sapaan yang akrab itu. Dia mendapati Gongmyung sedang bersandar pada mobil hitam legamnya, tersenyum menatapnya. Senyumnya lebar dan ramah, sama sekali tidak tampak kalau dia adalah penghancur wanita seperti yang dikatakan oleh Taeyong. Kalaupun dia memang seorang penghancur wanita, sepertinya sah-sah saja, Doyoung membatin, mengamati ketampanan Gongmyung yang halus. Lelaki itu bisa dibilang sangat tampan. Matanya sendu tapi bening, seolah menarik siapapun yang tergoda untuk tenggelam bersamanya.

"Iya." Doyoung menjawab dan mengerutkan keningnya, apa yang dilakukan Gongmyung sore-sore begini di depan kampusnya?

"Kau harus membiarkan supir pribadimu menjemput, sudah kubilang, berbahaya kalau seorang perempuan berjalanjalan sendirian malam-malam, apalagi kampusmu terkenal sebagai kampus anak-anak kaya. Siapa tahu ada yang mengawasi dan mencari kesempatan, lalu melihatmu sedang jalan sendirian? Kau akan diculik." Gongmyung mengulangi lagi peringatannya, sama seperti kemarin ketika berpapasan dengan Doyoung di jalan.

Lelaki itu begitu serius dengan kata-katanya sehingga Doyoung merasa takut. Tetapi perkataan lelaki itu memang ada benarnya.

"Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?"

Gongmyung mengangkat bahu dan tertawa, "Mungkin aku sedang mengawasi kampus ini, mencari kesempatan kalau-kalau ada anak orang kaya berjalan sendirian yang bisa kuculik." Lelaki itu membuka pintu mobilnya, "Mau masuk?"

Sejenak Doyoung ragu. Tetapi Gongmyung tampak begitu tulus. Dan dia kan sahabat Taeyong, meskipun Taeyong sudah memperingatkannya tentang kebencian Gongmyung kepada perempuan. Doyoung yakin dia bukan termasuk salah satu tipe yang Gongmyung incar untuk dibuat patah hati.

"Taeyong bercerita kalau kau selalu mendapatkan nilai-nilai tinggi di sekolah, begitulah cara Eomma Taeyong menemukanmu, dengan penyaringan anak-anak cemerlang untuk mendapatkan beasiswa." Gongmyung memulai percakapan, sambil menyetir mobilnya dengan tenang.

Doyoung menganggukkan kepalanya, "Ya, waktu itu perwakilan yayasan Nyonya Lee menemuiku dan menawarkan beasiswa, waktunya tepat sekali karena kondisi keuangan kami sedang sulit." Doyoung menatap Gongmyung sambil tersenyum, "Ayahku seorang tukang bangunan, dan meskipun dia mengupayakan segala cara untuk menyekolahkanku, membiayai kuliahku akan terlalu berat untuknya."

Gongmyung menoleh sebentar dan menatap Doyoung dengan tatapannya yang bening.

"Lalu ayahmu meninggal ya? Aku turut berduka Doyoung."

Suara itu benar-benar tulus sehingga Doyoung melemparkan senyum lembut kepada Gongmyung.

"Ya, ayah mengalami kecelakaan di tempatnya bekerja. Setelah ayah meninggal, Nyonya Lee menawariku beasiswa sepenuhnya dan aku boleh tinggal di rumahnya, jadi di sinilah aku sekarang."

"Kau tidak pernah curiga kenapa Nyonya Lee begitu baik kepadamu? Banyak anak lain yang juga cemerlang dan hidup dalam kemiskinan. Tetapi kenapa kau? Kenapa kau yang dipilih?" tatapan Gongmyung yang memandang jauh ke depan terlihat kelam dan misterius.

Doyoung mengangkat bahunya, "Yah... Mungkin karena aku ada di saat yang tepat dan tempat yang tepat. Kebetulan seperti itu akan selalu ada kan?"

Gongmyung tersenyum muram, "Tidak ada yang namanya kebetulan, Doyoung. Semua hal terjadi pasti ada alasannya." Dia lalu menghentikan mobilnya. Mereka ternyata sudah sampai di ujung jalan dekat mansion keluarga Lee.

"Maaf. Aku menurunkanmu di sini." Gongmyung tersenyum meminta maaf, "Taeyong melarangku mendekatimu. Yah. Kau pasti sudah diperingatkan tentang reputasiku." senyumnya berubah serius, "Tetapi selama kau masih tidak mau menggunakan supir pribadimu itu, aku akan menjemputmu setiap hari sepulang kuliah."

"Aku tidak perlu dijemput setiap hari." Doyoung menoleh kaget mendengar kata-kata Gongmyung, "Aku baik-baik saja."

"Tidak. Aku sudah memutuskan. Kau terlalu polos dan menganggap semua orang di dunia ini baik hati. Kau akan mudah ditipu dan dimanfaatkan orang. Harus ada seseorang yang menjagamu."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri." sela Doyoung keras kepala, "Terima kasih sudah mengantarku," dengan sopan Doyoung melangkah pergi dan berjalan menuju mansion.

Setelah beberapa langkah, dia merasa ingin tahu. Dengan sembunyi-sembuyi dia menoleh dan mendapati mobil Gongmyung masih terparkir di sana, mengawasinya. Dan mobil itu baru pergi setelah Doyoung memasuki gerbang rumah dengan aman.

"Dia bilang dia akan menjemputku setiap hari." Doyoung setengah berbisik saat berbicara di ponselnya, Lisa tadi meneleponnya dan mengatakan bahwa besok pagi dia belum bisa masuk karena sakit. Mereka bercerita-cerita tentang hari itu, dan Doyoung pun teringat akan Gongmyung.

"Aneh..." Lisa tampak tercenung di seberang sana, "Kenapa dia repot-repot melakukan itu? Kau harus hati-hati Doyoung, jangan-jangan dia mengincarmu sebagai korban berikutnya."

"Perempuan-perempuan yang menjadi korban Gongmyung adalah perempuan kaya dan semuanya cantik. Aku sama sekali bukan tipenya." Doyoung membantah, "Lagipula aku merasa aneh, dia berkali-kali mengingatkanku tentang bahayanya berjalan sendirian karena aku bisa diculik, dia tampak serius dengan perkataannya."

"Tapi dia ada benarnya juga Doyoung. Bahaya kalau kau selalu pulang sendirian. Kita tidak tahu siapa orang jahat yang mengincar di luar sana. Biasanya anak-anak orang kaya selalu diawasi setiap saat dengan ketat oleh kedua orangtua, supir pribadi dibekali kemampuan bela diri juga, untuk menghindari insiden itu, karena dari pengalaman, banyak sekali kejadian penculikan itu." Lisa tampak berpikir di seberang sana. "Demi keselamatanmu juga Doyoung... Kalau kau mau aman dan terhindar dari penculikan, sekaligus mengindari Gongmyung, gunakan fasilitas supir pribadi yang diberikan oleh keluarga Lee."

Doyoung termenung mendengar nasehat Lisa. Mungkin memang ada benarnya juga...

Dia tadi mengawasi dengan kesal ketika lelaki itu ternyata menunggui Doyoung pulang. Dia sudah menyiapkan pisau di tangannya, dengan beberapa pegawainya yang kekar dan ahli. Rencananya untuk menculik Doyoung sudah hampir berhasil. Karena dari pengamatannya, Doyoung selalu pulang dari kampus sendirian, tanpa ada supir pribadi yang menjemputnya. Perempuan bodoh! Dia seperti mengumpankan dirinya kepada para penjahat. Lalu lelaki pengganggu itu muncul dan menjemput Doyoung. Dan rencana penculikannya hancur berantakan. Lelaki itu sepertinya akan terus mengganggu. Dia harus mencari cara lain...

Pagi itu Doyoung mampir di Garden Cafe seperti biasa dengan segelas besar oreo milkshake di tangannya, ketika dia menghirupnya, Shindong sudah ada di depan counter bar itu dan menyapanya.

"Sepertinya suasana makin membaik ya." gumamnya dalam senyum, "Kulihat kau sudah memiliki seorang teman."

Pasti Lisa yang dimaksud oleh Shindong. "Namanya Lisa, dan dia anak orang kaya, tetapi dia baik kepadaku berbeda dengan yang lainnya."

"Jadi tidak semua orang kaya berpikiran sempit bukan?" Shindong tertawa, "Setidaknya sekarang hari-harimu menyenangkan."

"Iya... Sangat menyenangkan memiliki teman di kampus, selama ini aku selalu sendirian sehingga setiap detiknya terasa lama, tetapi aku tetap harus berjuang menyelesaikannya dengan nilai yang baik supaya bisa membalas budi kepada keluarga Lee."

"Ternyata menjadi anak angkat keluarga kaya cukup berat ya?" gumam Shindong dengan ironis.

Doyoung tersenyum menyetujui, "Sangat berat. Dulu aku hidup dengan sederhana, tidak memikirkan apakah kita akan punya musuh atau tidak, kami tidak sempat memikirkan hal semacam itu karena pikiran kami sudah tersita tentang kecemasan memikirkan apa yang akan kami makan esok hari." Doyoung mengangkat bahu, "Sedangkan orang kaya, mereka semua sibuk memikirkan cara melindungi diri dari musuh-musuhnya, kemudian saling mencurigai dan berpikir siapa yang menjadi musuh terselubung."

Shindong tertawa. "Seperti halnya sahabat, musuh itu ada di mana-mana Doyoung, tidak peduli kita orang kaya ataupun orang miskin. Seperti minumanmu. Lihat, dia berwarna putih bersih, bayangkan itu adalah dirimu dan sahabat-sahabatmu, satu pikiran, sama-sama berwarna putih. Tetapi lalu ada butiran-butiran remah oreo itu, berwarna hitam dan banyak, menodai warna putihnya hingga menjadi abu-abu, bayangkan itu adalah musuh-musuhmu, selalu ada di sekitarmu, mengincarmu, tidak menyukaimu, mempunyai rencana terselubung." Shindong mengedipkan sebelah matanya, "Yang perlu kau lakukan adalah melalui mereka semua, kau tidak akan bisa mengalahkannya karena mereka terlalu banyak, kau hanya bisa melaluinya, selaras bersamanya, dan kemudian kau bisa membuat musuhmusuhmu itu menghilang dengan sendirinya, kalah oleh dominasi rasa susu yang manis dan segar, sehingga kemudian hanya menjadi pelengkap yang manis."

Doyoung tertawa mendengar filosofi Shindong, "Jadi pada intinya aku harus bisa membuat musuh-musuhku menjadi manis?"

Shindong tergelak, "Ya. Tetapi sebelumnya kau harus bisa menemukan mana yang bisa diubah menjadi manis, mana yang memang pahit dan tak bisa diperbaiki, dan mana yang berpurapura menjadi manis, yang terakhir itulah yang paling berbahaya."

"Berbahaya?"

"Ya. Tidak ada yang lebih berbahaya selain seorang musuh yang berpura-pura manis di depanmu."

"Bagaimana harimu?" Taeyong mengetuk pintu kamar Doyoung dan mendapati Doyoung sedang belajar di mejanya. Dengan langkah elegan, lelaki itu duduk di pinggir ranjang Doyoung. Taeyong masih memakai jas dan dasinya sudah dilonggarkan. Lelaki itu tampak lelah.

"Baru pulang kerja?" Doyoung meletakkan buku pelajarannya dan mengernyit, Taeyong tampak pucat. "Kau tidak apa-apa Taeyong?"

"Sepertinya aku sedikit flu. Aku batuk-batuk dari tadi dan tenggorokanku sakit." lelaki itu berdeham, "Tapi aku sudah minum obat flu, sebentar lagi juga sembuh."

"Oh." Doyoung melirik Taeyong dengan cemas, "Sepertinya kau harus ke dokter."

"Tidak, aku tidak apa-apa." tiba-tiba lelaki itu membaringkan tubuhnya di ranjang Doyoung. Doyoung menoleh kaget, hampir berdiri dari duduknya.

"Taeyong?"

"Please. Jangan berteriak." lelaki itu mengernyit, membuat Doyoung tertegun, padahal dia sama sekali tidak berteriak, Taeyong berbaring dan menutup matanya dengan sebelah lengannya, "Kepalaku pusing seperti berdentam-dentam, biarkan aku berbaring sebentar di sini."

Doyoung terdiam, merasa kasihan kepada Taeyong, sepertinya lelaki itu benar-benar sakit. Ya sudah, biarlah. Lagipula Doyoung masih belum ingin tidur, dia harus belajar sampai larut malam untuk persiapan ujian minggu depan.

Waktu berlalu, dan Doyoung larut dalam kegiatan belajarnya. Diiringi suara dengkuran halus Taeyong yangsepertinya jatuh lelap ke dalam tidurnya, mungkin karena pengaruh obat flunya. Doyoung menguap dan melirik jam di dinding, sudah jam dua pagi, dan dia mengantuk. Dengan bingung diliriknya Taeyong yang masih pulas di atas ranjangnya.

Lalu dia harus bagaimana? Dengan bingung Doyoung memutar kursinya dan menghadap ke arah ranjang. Taeyong sedang tidur pulas. Dan ketika tidur lelaki itu tampak sangat tampan. Gurat-gurat sinis di wajahnya tidak tampak dan lelaki itu kelihatan begitu polos seperti bayi, bibirnya sedikit terbuka dan napasnya teratur. Doyoung larut dalam kenikmatan memandangi maha karya Tuhan di depannya. Tuhan pasti sedang tersenyum ketika menciptakan sosok ini.

Mata itu terbuka. Seketika itu juga langsung menatap tajam ke arah Doyoung. Membuat Doyoung berjingkat dari duduknya karena kaget. Lelaki itu tampaknya tipikal orang yang langsung sadar ketika bangun, dia mengerutkan keningnya menatap Doyoung.

"Kenapa kau menatapku?"

Doyoung merasa pipinya memerah, "Aku tidak menatapmu." dipalingkannya wajahnya, tidak mampu menahankan tatapan tajam Taeyong kepadanya.

Lelaki itu beranjak duduk di ranjang, memandangi sekeliling dan menatap Doyoung lagi. "Kenapa aku tidur di kamarmu?" gumamnya menuduh.

Doyoung menaikkan alisnya jengkel. "Kau yang datang kesini ketika aku sedang belajar lalu tiba-tiba tidur di ranjangku. Coba tanya dirimu sendiri."

"Oh." Taeyong tampak mencoba mengingat-ingat, "Maaf."

Lelaki itu tanpak sakit, Doyoung menatapnya dengan cemas, "Kau tidak apa-apa Taeyong? Bagaimana pusing dan flumu?"

"Aku masih pusing." lelaki itu tampak terhuyung, "Aku akan kembali ke kamarku."

Pintu tertutup di depan Doyoung, meninggalkan Doyoung yang menatap cemas.

To Be Continued

Semoga kalian suka

Next time sepertinya saya harus coba untuk ngedit cover dengan bener. Gak tau kenapa cover semua saya edit gs Jadi fujoshi sejati harusnya gak bikin cerita GS atau baca cerita GS. Mungkin saya belum jadi fujoshi sejati sepenuhnya

Jangan lupa untuk vote and comment ya