Setiap orang memiliki masalahnya sendiri dan aku ... bahkan saat orang itu terlihat baik-baik saja, sebenarnya dia sedang mencoba bertahan dari penderitaan yang dirasakannya.


Love Live! Sunshine! © Kimino Sakurako, ASCII Media Works, Klab.

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi penggemar ini!


Percakapan Kecil Kita olehOwldio

Alternate Universe. OOC!Eli.


Chapter 4–Ayase Eli


Beberapa hari yang lalu nama Kousaka Honoka muncul begitu saja dalam halaman-halaman ceritaku di kota kecil ini, menggeser nama sang pemeran utama—Ayase Eli—dalam cerita itu—hanya dalam beberapa halaman itu saja aku sudah merasakan adanya jarak lebar yang memisahkan aku dan Umi. Kousaka Honoka atau pemuda yang akrab dipanggil Honoka itu adalah teman sekelas Umi, ketua osis yang periang dan mudah mendapatkan teman—sepertiku, tidak, tidak, aku ketua osis yang kaku dan selalu terlihat dingin, bahkan sebagian dari siswi di sekolahku dulu sangat membenciku, tapi untuk berbagai macam alasan aku juga mempunyai fans club tersendiri, iya, aku juga tak mengerti mengapa aku bisa mempunyai fansclub sendiri. Kemunculan Kousaka Honoka membuat jarak dalam hubunganku dengan Sonoda Umi semakin mengecil. Aku harus mencari alasan untuk bertemu gadis yang melihatku nyaris membunuh diriku sendiri itu, sementara orang-orang dengan mudahnya bercengkrama dengan gadis itu.

Sudah dua minggu sejak aku menjauhi Sonoda Umi, setelah sebelumnya bertekad untuk mencari tahu alasan Sonoda Umi melakukan aksi bunuh diri saat itu. Dan untuk beberapa alasan Umi juga melakukan hal yang sama, gadis berambut panjang itu mengalihkan pandangannya setiap kali tak sengaja melihatku—mungkin dia risih. Seharusnya memang percakapan kecil yang terjadi sebelumnya kujaga dengan erat, tapi kenapa aku tak bisa menjaga hal yang sangat simpel seperti itu? Cukup menyapanya, bertanya kabarnya, bagaimana dia melalui harinya, dan mengucapkan sampai bertemu esok hari—itu saja sudah cukup kan? Iya, semudah itu, tapi kenyataannya sesulit mengerjakan ujian masuk universitas. Dari pada percakapan kecil aku lebih banyak membuang tenagaku untuk menceritakan hal yang tak masuk akal, menggoda Umi, dan bertindak seperti orang bodoh. Aku tidak bodoh. Aku hanya berpikir, bahwa hidupku cuma permainan semata dan tidak ada yang lebih baik di dunia ini dari pada kehidupan orang-orang yang ada di sekitarku. Mereka selalu tampak bahagia dan aku selalu ternggelam dalam permainan kata di kepalaku. Aku bukanlah orang yang kau lihat kemarin dan esok. Makanya aku berusaha untuk terlihat sok akrab. Aku tidak sebaik yang orang lain kira.

Dari atas balkon kamar aku menatap ke arah lautan, sekilas aku teringat peristiwa beberapa bulan yang lalu ketika aku nyaris bunuh diri karena tak lolos ujian masuk universitas favoritku. Aku tertawa—mentertawai aksi bodohku. Kupandang lagi laut itu, warna birunya mengingatkanku pada Sonoda Umi, Umi memiliki aroma seperti lautan dan dia selalu memakai benda yang berwarna biru. Namanya juga berarti laut. Kenapa aku merasa harus berteman dengan gadis itu? Niatku datang kemari adalah untuk memperbaiki kesalahan yang kulakukan sebelumnya. Kenapa juga aku harus cemburu pada penduduk lokal yang sudah expert dalam segala hal di kota ini? Mungkin aku kesepian, mungkin aku hanya ingin melanjutkan permainan hidupku kemudian berkata semuanya adalah takdir yang sudah diatur.

"Aaargh!" teriakku kesal.

"Sudah berapa hari kau mengurung diri?" tanya kerabatku ketika dia memasuki kamarku sambil menyajikan makanan untukku. "Setelah membuang tiga bulan waktu belajarmu dan kau akhirnya merasa lebih baik selama beberapa minggu terakhir, kemudian menjadi seperti ini lagi, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu, Eli. Ini, makanlah, aku biasanya tidak sebaik ini, tapi aku simpati melihatmu yang tiba-tiba saja menjadi orang sakau. Makanlah yang banyak." Kemudian dia melangkah menjauh dari kamarku setelah melontarkan beberapa kalimat itu, dari kejauhan samar-samar aku dapat mendengarnya menyemangatiku. "Cepatlah baikan dan jadilah Eli yang biasanya."

Aku tersenyum mendengar kalimat yang diucapkannya. "Eli yang biasanya?" gumamku. Bagaimana Ayase Eli yang biasanya? Apakah Ayase Eli yang biasanya itu adalah Ayase Eli yang dingin, berwibawa, dan tegas, seperti Ayase Eli ketika menjabat menjadi ketua osis dulu? Ataukah Ayase Eli yang biasanya itu adalah Ayase Eli yang berbicara banyak hal, mesum—coret itu—ramah, dan periang? Yang mana kah Ayase Eli yang biasanya itu?

Kutatap kembali lautan biru itu, aku kembali memikirkan apa yang harus kulakukan setelah ini—setelah semua masa transisi ini aku harus bergerak untuk belajar kan? Tapi aku terus menunda-nunda semua itu. Seakan hari esok datang tanpa membawa beban, padahal hari esok membawa tekanan yang membuatku lebih stress dari pada sekarang. Kutarik napasku panjang, lalu aku berteriak kembali, kini sekuat tenaga. Aku berharap teriakanku membawa tekanan yang kurasakan ini pergi.

Setelah memakan makanan yang disiapkan oleh kerabatku, kuputuskan untuk turun ke lantai bawah setelah dua minggu mendekam diri di dalam kamar. Kuikat rambut pirangku kebelakang. "Selamat pagi." Sapaku.

"Ya, selamat pagi—" dia menatapku bingung. "A-ada apa denganmu hari ini?!"

Aku tersenyum simpul padanya. "Apanya?" tanyaku.

"Kau ... berbeda?" ucapnya. Kerabatku menatapku dari atas kebawah heran, mencoba mencari hal yang berbeda padaku seperti yang diucapkannya. "Apa yang terjadi? Kau tiba-tiba saja terkena geger otak?"

"Tidak mungkin kan?" jawabku dengan wajah datar. "Aku mau belajar dulu ke perpustakaan, aku akan pulang sore nanti."

"Ayase Eli!" panggilnya.

Kutolehkan wajahku padanya. "Iya?"

"Jika kau punya masalah kau bisa bercerita pada Ayase senior ini, Eli. Jangan terlalu memikirkan hal yang membuat beban pikiranmu bertambah ya."

Aku tersenyum padanya. "Terima kasih, aku akan baik-baik saja kok." Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan.

Dalam perjalanan, kutatap dermaga kecil di dekat laut tempatku pernah berbincang dengan Sonoda Umi. Tak sengaja mataku menangkap sosok Sonoda Umi tengah duduk sendirian di ujung dermaga itu. Kulirik arlojiku, seharusnya jam segini jam sekolah sudah dimulai. Pasti dia membolos lagi.

Ah, aku sudah memutuskan untuk tidak peduli dan menjadi Ayase Eli yang biasanya. Ayase Eli yang biasanya adalah Ayase Eli yang dingin dan tak peduli pada keadaan sekitarnya, Ayase Eli yang hanya mengenal Tojo Nozomi dan Yazawa Nico. Kulirik lagi dermaga itu hanya untuk memastikan bahwa Sonoda Umi tak melompat ke lautan. Diluar dugaanku Sonoda Umi melambaikan tangannya begitu mata kami beradu pandang—tunggu dulu, bukannya Sonoda Umi sedang menjauhiku? Kualihkan pandanganku dengan cepat, mungkin Umi sedang melambaikan tangannya pada temannya yang ada dibelakangku. Kulangkahkan kakiku menjauhi dermaga. Tujuanku adalah perpustakaan, aku tidak punya banyak waktu tersisa hingga tes masuk selanjutnya. Aku tidak seharusnya terikat dengan kehidupan di kota kecil ini terlalu lama. Karena saat waktunya telah tiba, perpisahan itu akan lebih menyakitkan ...


tbc...


Fanfic ini ditulis setelah terkena writeblock dan hiatus, saya kehilangan inti ceritanya, jadi mungkin beberapa chapter dibelakang akan diperbaiki atau chapter ke depannya akan menyesuaikan chapter yang telah diupload. Thank you for reading!