Bola mata Shappire milik Rin mulai terbuka perlahan tatkala telinganya mendengar beberapa suara di dekatnya. Kepalanya begitu sakit, pandangannya masih terasa memburam. Mengerikan, apakah ini efek gigitan dari Len? Itulah yang ia pikirkan jika mengingat dirinya masih belum lupa dengan apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Mengerikan.
"Ah! Kau sudah sadar, Rin?"
Miku, gadis pecinta negi itu sedikit berteriak khawatir saat dirinya menjadi orang yang pertama kali mendapatkan Rin siuman. Gadis negi ini begitu panik saat melihat teman ngobrolnya selama 2 minggu itu di gendong keluar dari mobil agensi dengan kondisi kurang baik. Yah, kurang baik karena tubuh pucat Rin hampir terekspose begitu saja bagaikan habis di perkosa. Sebenarnya Miku mencurigai Len telah melakukan sesuatu, namun melihat kondisi mental dan penjelasan Gumi saat itu, akhirnya ia mengerti meski masih belum percaya sepenuhnya pada pria pecinta Banana tersebut.
"Miku..."
"Jangan banyak bergerak dulu, Rin." Kata Miku tatkala temannya itu mencoba mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.
"Berapa lama aku pingsan?"
"3 hari."
Dua pasang mata berbeda warna itu serempak mengarahkan pandangannya pada orang yang menyibak tirai di samping tempat tidur Rin. Disana Gumi berdiri dengan jas putih panjang yang menciri khaskan seorang dokter pun menatap Rin dengan wajah datar. Tepat di belakangnya, terlihat sesosok berambut blonde yang tengah duduk seraya menundukkan wajahnya murung.
Rin menatap Gumi dengan pandangan tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. 3 hari? Sungguh, apakah ini efek dari apa yang Len lakukan saat itu? Benar- benar gila.
"Yah, itu karna kau kekurangan darah cukup banyak."
"Apakah aku akan baik-baik saja, Megpoid-san?"
"Kau hanya perlu beristirahat penuh selama dua hari lagi, maka kau akan kembali seperti semula."
Setelah mengatakan hal tersebut, Gumi berbalik dan memberikan isyarat pada Len namun, pemuda itu malah menggeleng seraya menundukkan kepalanya dengan wajah yang hampir menangis. Melihat tingkah Len yang kekanakan membuat Gumi gemas hingga menarik pemuda itu dengan kasar ke arah tempat tidur Rin dan kembali memberikan sebuah kode padanya.
"Cepatlah!" Bisik Gumi agak keras pada Len yang membuat Miku dan Rin kebingungan, namun tetap pemuda itu menggeleng menanggapi perkataan Gumi. "Cepat katakan atau ku kurung kau kembali disana!" Ancam Gumi.
"Kurasa kau terlalu memaksanya, Megpoid-san." Kata Miku yang kasihan melihat Len seperti itu.
Mendengar rasa kasihan Miku, Gumi malah mencubit lengan Len hingga pemuda itu meringis minta ampun. "Jangan karna mentalnya, kau merasa kasihan pada bajingan ini, Hatsune-san." Jawab Gumi datar.
"A-ah.."
"Kau takkan pernah tau tindakan anjing liar, Hatsune-san." Kata Gumi seraya melepaskan cubitannya dan membisikkan sesuatu pada Len yang membuat pemuda itu terlihat gelisah ketakutan.
Melihat perubahan drastis dari Len, Rin yang sejak tadi memperhatikan akhirnya mulai membuka mulut. "Jika Kagamine-san tak ingin mengatakannya, sebaiknya jangan memaksanya, Megpoid-san."
Tak memperdulikan perkataan Rin, Gumi malah menepuk punggung Len cukup keras sebagai isyarat untuk membuka mulutnya. Yah, meski Len tidak mau, sepertinya ia harus mengatakannya.
"Ma-Maaf."
"Katakan Lebih tegas dan jelas!" Ucap Gumi pada Len yang membuat mata pemuda itu semakin berkaca- kaca seakan siap untuk tumpah kapan saja.
"Len minta maaf, Rin. Le-Len-" sebelum melanjutkan perkataannya, Len melirik ke arah Gumi takut- takut yang langsung di berikan tatapan tajam dari yang di perhatikan hingga membuatnya menundukkan kepalanya. "Len janji takkan melakukannya lagi. Maaf!" Sambung Len seraya membungkukkan tubuhnya ke arah Rin.
Sebenarnya Rin masih agak kesal dengan kelakukan Len yang bertindak sendiri dengan menghisap darahnya begitu saja. Tapi, setelah melihat permohonan maaf dan wajah memelas Len, hatinya luluh seketika menjadi tidak tega.
"Ya, aku memaafkanmu." Jawab Rin seadanya yang mendapatkan pandangan senang dari Len.
Len menyampingkan tubuhnya menghadap Gumi. "Rin sudah memaafkan Len. Jadi, Len sudah lepas dari hukuman kan?" Tanya pemuda itu penuh harap.
"Kau boleh ke kembali ke asrama."
Len mengangguk menanggapi perkataan Gumi dan berlalu begitu saja tanpa berpamitan atau sekedar kata basa- basi. Ah... Tidakkah ada yang mengajari pemuda ini berlaku sopan santun? Ataukah ini memang sifat keturunan. Begitu banyak hal yang tidak di ketahui soal Len. Tunggu, ngomong- ngomong soal Len, Rin baru ingat bahwa ada sesuatu yang ingin di tanyakannya pada Gumi. Sepertinya ini waktu yang tepat.
"Maaf sebelumnya, Megpoid-san. Aku ingin menanyakan sesuatu perihal Kagamine-san dan sifat anehnya itu."
Gumi menatap Rin dengan wajah datar yang seakan mengerti dengan apa yang akan di bahas oleh gadis jeruk ini. "Jika kau menanyakan 'perubahan'nya aku akan menceritakannya tapi jika bisa menjaga rahasia ini, termasuk kau Hatsune-san."
"Kenapa aku di libatkan?"
"Karna ini adalah rahasia agensi, jika kau tidak sanggup untuk menanggungnya maka keluarlah sekarang juga." Jawab Gumi to the point.
Miku mengembungkan pipinya kesal tatkala dirinya seakan di anggap tukang gosip secara tidak langsung oleh Gumi. "Baiklah! Aku akan keluar dari ruangan ini! Lagi pula aku hanya menjemput Rin saja." Kata Miku seraya bangkit berdiri dari duduknya. "Baiklah, Rin. Sepertinya ada nenek sihir jahat yang menyuruhku pergi, jadi aku akan keluar dulu. Nanti aku akan kembali, bye." Sambung Miku yang mendapat hadiah tatapan death glare dari Gumi karna di bilang nenek sihir.
Miku pun keluar dari ruangan seraya bergumam mengutuk kesal pada gadis berambut hijau disana. Melihat temannya berlaku seperti anak kecil, Rin malah tertawa kecil menanggapinya.
"Jadi, apa yang ingin kau tahu dari Len?"
Rin menghentikan tawanya tatkala pertanyaan Gumi terdengar oleh telinganya. "Mungkin, semua. Maksudku, segalanya tentang Kagamine-san. Seperti, siapa dia? Apa asal usulnya? Siapa keluarganya? Mengapa dia berubah drastis saat menjalan kan misi? Dengan mengapa sekarang dia kembali seperti semula?"
Helaan nafas di berikan Gumi sebagai jawaban awal. Sepertinya dia harus menjelaskan semuanya dari awal.
"Len ditemukan di dalam hutan dengan kondisi bayi yang masih merah. Entah siapa orang tuanya atau keluarga besarnya namun yang pasti ia telah di buang hingga agensi dapat mengambilnya begitu saja. Dia sama sekali tak memiliki marga sebelumnya, hingga ia mendapatkan partner dan kami pun memutuskan memberikannya marga dan memanipulasi riwayat hidupnya untuk kepentinganmu. Dalam hal ini, jika sesuatu terjadi padamu atau Len maka keluargamu akan baik-baik saja karna mereka akan mencari keluarga Len yang sebenarnya tidak ada. Untuk perubahan drastisnya..." Gumi terdiam seraya mencoba mencari kata yang tepat.
"Mungkinkah Alter Ego?!" Tanya Rin.
Gumi menatap Rin sesaat saat pertanyaan gadis honey blonde itu terdengar oleh telinganya. "Bukan."
"Lalu?"
"Di umurnya yang ke 5 tahun, biasanya para vampire muda akan bertindak sedikit agresif karna pengontrolan diri yang masih susah. Tapi, melihat kondisi mental Len yang seperti itu, kami pikir Len takkan seagresif anak- anak lain. Len malah bertindak liar dan menyerang beberapa staf hingga membuat kejadian yang cukup merepotkan. Awalnya kami mengira bahwa dia mengalami Alter ego, tapi hal itu di tepis begitu saja. Len sama sekali tidak mengalami Alter Ego." Jelas Gumi.
"Tunggu, jika bukan Alter Ego. Mengapa sifatnya berlawanan dengan dirinya yang sekarang?" Tanya Rin yang jelas- jelas ia merasakan perbedaan antara Len dan 'Len' pada waktu itu.
Gumi mendudukkan dirinya pada sebuah kursi yang tadi sempat jadi tempat duduk Miku. "Pada dasarnya, Len seorang Half. Memang dia memiliki kecacatan mental seperti sekarang, tapi itu semua bagian dari dirinya yang seorang Manusia. Di dirinya yang seorang Vampire, dia hanyalah Vampire pada umumnya. Dia sama sekali tak mempunyai dua jiwa atau berkepribadian ganda. Hanya saja, jika dia berubah menjadi Vampire maka dirinya yang terpendam sebagai orang normal pun keluar. Begitu juga saat dirinya kembali menjadi manusia, sifatnya yang normal itu seakan terpendam karna kekurangannya."
Merasa ada yang ganjil disini, Rin menyeringitkan dahinya. "Tunggu, lalu apanya yang rahasia dari kondisi ini?"
Entah bodoh atau apa yang pasti Gumi hanya bisa menghela nafas saja. "Kau tahu, Vampire itu mahluk abadi yang hanya dapat di bunuh dengan beberapa cara saja. Sedangkan Len, dia itu Half terlebih agent tingkat tinggi. Jika informasi ini menyebar, maka dengan mudah Len dapat di taklukkan begitu saja dan Kau pun akan masuk dalam jebakan. Jika kau tak ingin mati muda, maka simpan rahasia ini baik-baik jangan sampai ada yang tahu bahwa Len itu seorang Half, mengerti?!"
Rin terdiam tatkala penjelasan mutlak Gumi masih terngiang di kepalanya.
"Ne, Megpoid-san. Ada yang ingin aku bicarakan padamu."
~addict~
Dor! Dor! Dor!
Tembakan demi tembakan terus mengenai pada sasaran sejauh 10 meter disana. Meski ini hanya latihan, tapi rasanya bagaikan berada dekat dalam situasi yang mengharuskan pemuda berambut blonde itu mengeksekusi target buruannya. Sungguh menakjubkan, bahkan itu semua sama sekali tak membuatnya terlihat seperti orang yang kekurangan. Rin benar- benar di buat terkagum-kagum dalam hal itu.
"Hebat."
Len-pemuda tersebut- mengarahkan bola mata jadenya pada Rin yang baru memasuki ruangan ini. Pemuda itu kini melepas headphone khusus yang tersemat pada kedua telinganya lalu menaruhnya di meja. Tak lama setelahnya, ia pun berbalik dan menatap gadis yang tak jauh darinya itu dengan wajah datar.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau harus beristirahat sehari lagi?"
Rin berjalan menghampiri Len seraya memberikan senyum lembut. "Kurasa berjalan- jalan dan refresing juga termasuk dalam beristirahat. Lagipula, apa salahnya aku melihat partner kerjaku?" Kata Rin.
Entah apa yang di pikirkann Rin, tapi Len hanya dapat menaikan sebelah alisnya saat mendengar jawaban Rin. "Kembalilah ke kamarmu." Len kembali memakai Headphonenya. "Aku tak ingin wanita iblis itu menceramahi diriku lagi." Sambungnya.
"Jadi kau tak senang dengan kehadiranku sekarang?"
"Wajahmu membuatku muak." Jawab Len seraya mengangkat pistol yang tadi ia pakai agar sejajar pada bahunya.
Tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya, Rin memposisikan dirinya tepat di belakang Len yang kini tengah membidik papan targetnya. "Maaf telah membuatmu mendapatkan hukuman. Tapi, itu semua bukan pure karna kesalahanku juga."
Dor!
"Yah, jika saat itu tidak menggigitku hingga pingsan pun, ku yakin kau takkan menerima hukuman seperti ini."
Dor!
"Tapi, kurasa sejak awal ini memang kesalahanmu."
Dor!
"Jika dulu kau membiarkanku mati, maka kau takkan mendapat hukuman seperti sekarang bukan?"
Dor!
"Jika saja, dulu kau tak menolongku. Hidupku pasti lebih ba-"
Dengan cepat dan tanpa di duga, Len berbalik dari posisinya dan mencengkram rahang Rin dengan cukup kuat hingga sanggup membuat gadis itu meringis kesakitan. "Hentikan ocehanmu, gadis bodoh!" Ucap Len dengan nada menuntut.
"Lepaskan!"
"Dengar! Bukan aku yang menolongmu! Yang menolongmu adalah sifat idiotku, jadi jika kau mau mati maka jangan protes dan ikuti saja seluruh misi. Aku akan memastikan bahwa dalam waktu dekat hidupmu sudah tidak ada lagi!" Kata Len seraya melepaskan Rin dengan kasar.
Rin terhuyung kebelakang saat Len melepaskannya dengan kasar tapi beruntungnya ia tidak jatuh. Setelah kembali mantap, Rin kembali memandang ke arah Len. "Jika aku memang menyusahkanmu, kenapa kau tidak membunuhku sekarang?"
"Apa keuntunganku dengan membunuhmu sekarang? Lagipula, jika sampai kau terluka, ku yakin mereka akan memasukanku kepenjara sialan itu lagi."
Tepat setelah menyelesaikan perkataannya, mata jade Len mulai kembali berubah menjadi shappire seperti semula. Wajah keras dan maskulinnya kembali menjadi wajah lembut yang penuh dengan ketidak berdayaan. Len kembali ke mode Tuna Grahitanya.
"Ri-Rin."
Suara yang bergetar dari Len saat melihat Rin itu terasa seperti orang yang ketakutan. Tak salah lagi, pemuda ini memang ketakutan, buktinya kini pemuda itu berjongkok seraya menutupi bagian atas kepalanya dengan wajah ketakutan yang sangat ketara. Melihat tingkah Len yang berubah drastis, Rin hanya menyeringitkan dahinya bingung.
"Mungkinkah kau kembali menjadi 'Len'?" Kata Rin seraya mendekat ke arah Len.
"Ja-jangan mendekat!"
Mendengar teriakan Len, seketika itu Rin pun menghentikan langkah kakinya. "Bukankah tadi kau yang ingin sekali aku mati? Kenapa sekarang kau takut padaku?" Tanya Rin.
"Len tidak mau menyakiti Rin lagi. Len tidak mau masuk ke tempat itu lagi. Tidak mau!"
Rin hanya menghela nafas menanggapi perkataan Len. Lalu ia mengambil ponselnya dan mengecek sesuatu pada layar ponsel miliknya itu. "1 jam." Gumam Rin tanpa menghiraukan Len yang masih gemetar ketakutan. "Benar kata Megpoid-san. Mode Vampiremu hanya bertahan dalam waktu 1 jam, dan membutuhkan setengah hari untuk kembali mendapatkannya. Tapi, itu tidak termasuk jika kau kelaparan. Benar bukan?".
"Maaf atas perkataanku tadi, dan aku kesini bukan untuk memasukanmu ke ruangan itu. Aku disini hanya mengetes perkataan Megpoid-san tentangmu. Dan setelah aku menimbang- nimbang segalanya, kurasa aku akan mencoba menjadi partnermu untuk sementara waktu." Jelas Rin pada Len yang kini sudah mau menatapnya meski dengan pandangan ketakutan. "Bagaimana? Kau mau menjadi partnerku?" Rin berjongkok di depan Len seraya mengulurkan tangan mungilnya ke arah pemuda itu.
Len memperhatikan uluran tangan Rin sejenak dengan ragu-ragu. Ia masih takut untuk memutuskan segalanya, terlebih ia takut jika salah langkah maka dirinya harus kembali ke ruangan itu. Tapi, entah mengapa Len merasa sedikit nyaman jika bersama Rin di banding dengan partner-partner sebelumnya. Untuk sekarang, Len mencoba mempercayai Rin dahulu, meski jika suatu saat semua akan berakibat fatal. Dengan perlahan Len mengambil uluran tangan Rin.
"Ayo berusaha menjadi partner yang baik."
Senyuman dan anggukan Len menjadi jawabannya. "Umm!"
TBC
Hai All, Balik lagi nih sama saya. author ngaret, yang ga punya target waktu. Maaf saya belum bisa lanjut ff lain, saya masih sakit soalnya. Dan, saya juga agak sedikit ngedown liat ga da peningkatan para reader. Yah walau ku akui, ceritaku emang kurang bagus #abaikan
#authorlagibete
ku harap ini bisa memuaskan kalian, walau belum ada actionnya. tapi ku usahakan actionnya bakal keluar deket deket inilah.
Itu saja. jadi Saya berterima kasih bagi para Readers yang sudah berkenan untuk membaca ff abal ini. Trima kasih
salam Hangat,
Go Minami Asuka Bi
