If I said I love you, what should I do?
Kageyama Tobio x Hinata Shoyo
Haikyuu! milik Furudate Haruichi
Cerita milik saya
Summary:
Kalau kukatakan aku sudah terlanjur mencintaimu, apa yang harus kulakukan, hei malaikat pelindungku?
Enjoy!
.
.
Chapter 4 – Sepupu
Drap! Drap! Drap!
Bunyi derap kaki yang tergesa memasuki indra pendengaran Kageyama dan Hinata begitu lift yang mereka naiki berhenti dilantai yang mereka tuju.
"Bunyi apa itu?" Hinata yang penasaran segera berjalan keluar diikuti Kageyama dibelakangnya.
Deg!
'Aura ini, tidak salah lagi…' Kageyama mendecih, membuat Hinata bingung.
"Kageyama, ada—"
"Hinata boke, ayo lari!" Kageyama yang sudah mendeteksi adanya bahaya segera menyeret Hinata menuju kamar mereka.
"O-oi, Kageyama! Ada apa?!"
"Diam dan larilah secepat mungkin!" perintahnya. Hinatapun akhirnya menuruti saja apa yang dikatakan Kageyama –walaupun ia sebenarnya masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi-.
"Kunciku, dimana—" perkataan Kageyama terpotong kala sepasang tangan yang –lumayan- berotot menahan segala pergerakkannya. Ah! Sial, mereka tertangkap!
"K-Kage…yam…a!" yang dipanggil segera menolehkan kepalanya kesosok jingga yang kini melayang karena diangkat ala anak kucing. Ya, tepat dikerah belakangnya dan sukses membuatnya sesak nafas. Kageyama sweatdrop seketika. Mereka ini benar-benar!
"Tobio-chan, mitsuketa!"
"Oikawa-san!"
"Ya, adikku sayang?"
"Lepaskan. Aku. Sekarang. Juga. Kau. Sampah."
"Hidoi! Dilarang memanggil kakak sepupumu sendiri dengan sebutan sampah! Mou, Tobio-chan!"
"Kau memang kakak sepupu super sampah!"
"1 untuk Tobio, dan 0 untuk Tooru, ahahaha…" sosok yang tak lain dan tak bukan merupakan jelmaan kakak sepupunya yang paling menyebalkan –setelah Oikawa tentunya- itu tertawa sambil menutup mulutnya. Berusaha tampak anggun namun hasilnya malah menjijikan.
"Futakuchi-san, tolong lepaskan Hinata. Dia hampir mati."
"Hm?"
"A-ano… ke-kerah… aku tid…ak bisa berna…fas…" cicit Hinata dengan wajah yang mulai memucat.
"Ara~ Chibi-chan. Maaf, aku lupa." Futakuchi segera menurunkan Hinata sebelum memasang pose sok manisnya.
"Uhuk! Uhuk!"
"Futakuchi-san, Oikawa-san, apa mau kalian?" Kageyama, yang sudah lepas dari pelukan maut Oikawa, bertanya dengan raut masam. Sontak Futakuchi dan Oikawa jadi kesal dibuatnya.
"Tobio-chan, jangan salahkan aku bila aku mengunyahmu hidup-hidup! Wajahmu benar-benar mengesalkan!" jerit Oikawa gemas. Kemudian matanya menangkap sekelebat surai jingga didekat futakuchi yang masih terbatuk, mata sewarna caramelnya mengerjap.
"Ara? Siapa chibi-chan ini?" tanyanya dengan senyum angkuh yang otomatis terpatri saat ia bertemu orang baru –kecuali perempuan-.
"Ah, aku juga bertanya hal yang sama. Tapi aku pernah melihatnya keluar dari apartemen Tobio. Bukan keluar juga sih," Futakuchi menatap Kageyama sekilas sebelum wajahnya berubah menyebalkan, "Tapi diusir dengan kasar oleh Tobio-chan yang manis ini." lanjutnya lalu terkekeh.
"Eh? Benarkah Kenji-chan?! Uwah…" Oikawa menatap Kageyama dengan tatapan sok jijik dengan tangan menutup mulutnya.
Ah, ini dia mode ibu-ibu penggosip milik kedua kakak sepupunya. Menyebalkan!
"Hinata,selagi mereka sibuk ayo kita perg—"
"Tobio-chan, mau kemana kau?!"
"Akh! Le-leherku tercekik!"
"Cih!"
"Tobio, aku masih tidak percaya kalau kau mengusirnya didepan pintu untuk penghayatan karena kalian sedang latihan drama waktu itu, tapi…" Futakuchi menjeda kalimatnya demi mengembangkan satu seringai usil yang super menyebalkan dimata Kageyama.
"Tapi apa, Kenji-chan?"
"Drama apa yang dilakukan pada hari pertama masuk, hm?"
"Ah! Aku tidak mengerti! Apa yang sebenarnya terjadi?! Oikawa-san ini juga ingin tahu! Ceritakan Kenji-chan!" Oikawa dengan gaya alaynya yang biasa merengek sambil berkacak pinggang. Ia kesal karena menjadi satu-satunya pihak yang tidak tahu apapun.
"Jadi begini…" menghabiskan waktu lima menit bagi Futakuchi untuk menceritakan keseluruhan kisah yang diambil dari sudut pandangnya. Kageyama sampai memucat saat tahu bahwa cukup banyak hal yang terdengar oleh untunglah bukan perihal Hinata yang merupakan malaikat itu yang ia dengar, jadi Kageyama masih bisa menghela nafas lega. Mungkin setelah ini Kageyama harus mengganti dinding kamarnya dengan dinding kedap suara untuk menghindari para penggosip -khususnya kakak sepupunya yang rada kurang waras itu- bisa menguping apa saja yang terjadi diapartemennya.
"Ohoho~ Nakal sekali. Tobio-chan sudah puber ternyata. Yah, Oikawa-san ini tahu bagaimana mengerikannya masa pubertas~ Jadi kasihan dengan chibi-chan. Apakah aku harus menghubungi Enji-jiisan dan memberitahunya apa yang terjadi?"
"Mungkin ia akan kaget saat mendengar anaknya mengapa-apakan anak orang!" tawa Futakuchi pecah setelahnya.
"Oikawa-san, jangan berani beritahu apapun pada ayah! Ini hanya salah paham!" sanggah Kageyama. Oikawa dan Futakuchi malah makin menyeringai.
"Jangan denial, Tobio. Dia sudah jadi korbanmu kok."
"Aww! Kenji-chan, ternyata Tobio-chan saat puber nakalnya mengalahkan kenakalan kita. Dia bahkan sudah mengapa-apakan chibi-chan!" Oikawa tertawa lagi. Kageyama pasang raut wajah ingin membotaki rambut coklat Oikawa. Kesal, astaga!
"Hey, memangnya kau belum, hah?"
"Belum."
"Lalu bagaimana kau menjelaskan Hajime yang kadang suka kesulitan berjalan, hm?"
"Eh-? I-itu… ehehehe." Oikawa mati kutu.
"Futakuchi-san! Oikawa-san! Lepaskan kami kalau kalian tidak ada kepentingan! Aku lelah dan ingin segera mandi!" protes Kageyama. Percuma saja berontak, yang ada hanya membuat rumit masalah.
"Eh, mana boleh!" larang Oikawa sambil mengeratkan pegangannya dikerah Kageyama, membuat Kageyama tersedak. Mendadak Kageyama kesal. Ah, jadi begini rasanya saat Hinata tercekik tadi?
"Oikawa-san! Aku tercekik, astaga!"
"Ops! Maaf, Tobio-chan! Yang itu disengaja, tehe!"
"Naa, chibi-chan, katakan pada kami dan jangan coba-coba berbohong. Siapa kau ini sebenarnya?" tanya Futakuchi. Hinata berdehem sejenak sebelum ia memasang senyum yang… agak bodoh mungkin?
"Bukankah tidak sopan jika kau tidak memperkenalkan dirmu duluan, tuan?"
"Apa sulitnya untuk menjawab, bocah?"
"Tapi itu tindakan yang tidak sopan, tuan."
"Baik, baik. Namaku Futakuchi Kenji, aku bersekolah di Date kogyou dan sekarang aku kelas dua. Kau puas, bocah?"
"Iya."
"Kapan kau menjawab pertanyaanku tadi, chibi-chan?"
"Pertanyaan yang mana?"
"Si-ap-a-ka-u-bo-cah?"
"Eh? Baiklah." Ia mengangguk penuh semangat, "Hinata Shoyo desu!" kemudian ia mengangguk kecil sebagai tanda hormat. Futakuchi menaikkan salah satu alisnya.
"Itu saja?" Futakuchi pasang tampang kesal. Urat-urat mulai bermunculan didahinya.
"Ya. Bukankah Futakuchi-san bertanya siapa aku? Aku Hinata Shoyo." ucapnya polos. Kageyama yang awalnya masih berdebat dengan Oikawa melongo sebelum menahan tawanya yang hampir pecah. Demi apa! Bocah itu idiot atau apa?
"Pfff!" rupanya hal yang sama menimpa Oikawa. Wajahnya sampai berubah absurd akibat menahan tawanya yang hampir pecah.
"Tooru, kau mau aku memberitahu Hajime kalau kau sering—"
"Huwaa! Kenji-chan! Ampuni aku!" mohon Oikawa sambil mengusap airmata imajinernya menggunakan tangan kiri. Kenapa hanya tangan kiri? Tentu saja karena tangan kanannya masih memegangi kerah milik Kageyama.
"Baiklah, chibi-chan, kuganti pertanyaanku. Ehem! Bagaimana kau bisa bertemu dengan Tobio? Kau bahkan tinggal diapartemennya kan? Jawab, chibi-chan!" interogasi Futakuchi.
Hinata malah melongo dengan wajah bodoh. Apa yang harus ia katakan? Masa iya dia harus menceritakan yang sebenarnya. Bahwa ia adalah malaikat yang bertugas merubah Kageyama menjadi anak baik. Memangnya mereka akan percaya?
"Oi…" Futakuchi yang kesal karena diabaikan akhirnya tak tahan dan memukul kepala Hinata. Yah, tentunya tetap dengan posisi Hinata yang mirip anak kucing tadi.
Keringat dingin mengalir menuruni pelipisnya. Harus jawab apa? Diliriknya Kageyama dengan tatapan meminta bantuan, tapi yang dilirik tidak peka dan malahan sibuk mencoba mencakari wajah Oikawa. Hinata jadi kesal. Apa sajalah, terserah.
"Aku berutang budi pada Kageyama, makanya aku tinggal disini dan membantunya mengurus kegiatan rumah tangga untuk membalas budi baik, Kageyama." Jawab Hinata dengan senyum yang tampak agak… meragukan. Aktivitas cakar mencakar Kageyama ke Oikawa otomatis terhenti. Mereka semua membeku ditempat. Tak lama tawa si kembar pecah.
"Wuahahaha! Tobio-chan melakukan apa sampai kau merasa berutang budi? Tidak kusangka Tobio-chan sebaik itu, hahaha!"
"Pfft! Astaga, perutku…"
Hinata hanya menatap bingung kearah dua orang yang sibuk tertawa. Kenapa dengan jawabannya? Mendadak Hinata ingat dengan sifat buruk Kageyama. Ah, pantas saja. Memang jawabannya tidak masuk akal.
"Perutku…"
Mendadak Hinata merasakan tatapan tajam dan ingin menguliti tertuju padanya. Lehernya sampai meremang. Apalagi saat ia maniknya menatap langsung kearah si penebar aura suram. 'Wakh! Seramm!' pikir Hinata dengan wajah pucat.
"Ahaha… Aha.. Pfft! Ekhem! Tapi tetap saja mustahil kan? Tobio itu bukan tipe orang yang mudah menerima orang baru, terlebih sampai membiarkan orang itu tinggal seapartemen dengannya. Tempat yang sudah ia anggap sebagai zona nyamannya, itu tak mungkin. Hahaha, hal itu sama mustahilnya seperti Tooru sembuh dari penyakit masonya (Aku tidak maso, Kenji-chan!). Astaga, aku terlalu banyak bicara, hahaha…" ucap Futakuchi yang sudah lumayan berhasil meredakan tawanya.
"Yah, aku juga tidak yakin. Habisnya Tobio-chan itu'kan bocah sadis yang hobinya memerintah orang lain dengan raut bengis, mana mungkin dia mau menerima bocah cebol kucel yang tampak serampangan macam kau, buahahaha…!" Oikawa mengejek dengan tawa menggelegar sebagai penutupnya. Dahi Kageyama berkedut kesal, begitupun dengan Hinata.
'Kurang ajar.' Batin Hinata memaki kesal. Wajar saja malaikat yang ia dengar pernah ditugaskan untuk membantu orang ini merubah sikap jeleknya itu sudah angkat tangan bahkan sebelum ia memulai tugasnya. Hinata sekarang paham betapa menyebalkannya sikap orang ini. Mungkin lain kali Hinata bisa mengapa-apakan orang ini. Seperti mengerjainya hingga mengompol mungkin? Ya, ide itu terdengar bagus.
"Tentu saja bisa! Dan lagi, aku menceritakan kebenarannya kok!" sanggah Hinata dengan senyum yang nampak sekali terlihat sangat meragukan. Jujur, hal itu berakhir sia-sia karena si kembar bukannya mendengarkan malah makin tertawa. Kageyama hanya menutup matanya dengan kerutan didahinya. Ia frustasi. Frustasi memikirkan seberapa bodoh Hinata itu sebenarnya.
Futakuchi menurunkan Hinata untuk memeluk perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa, sedangkan Oikawa bahkan sudah gegulingan dilantai dan membiarkan Kageyama berdiri dengan raut super masam. Sudah, Kageyama tidak tahan lagi. Akan ia botaki kepala anak itu!
"Hinata boke…!" desis Kageyama yang dijamin super menyeramkan –ditelinga Hinata-.
"Hii! Ampuni aku, Kageyama-san!" Hinata langsung mundur teratur. Si kembar bersurai kecoklatan masih sibuk tertawa, membiarkan Kageyama juga Hinata berdebat sendiri.
"Hoo~ jadi kalian ada disini, hm?"
Tawa Futakuchi dan Oikawa langsung terhenti. Pun dengan Kageyama dan juga Hinata yang menyadari bahwa suara tawa membahana milik si kembar lenyap, keduanya langsung ikut menghentikan debat tidak jelas mereka. Oikawa dan juga Futakuchi menoleh patah-patah dengan wajah pucat dan senyum masam tersungging dibibir mereka. Kageyama dan Hinata? Mereka memasang dua wajah yang berbeda namun tetap berpikiran sama. Kageyama melongo sedangkan Hinata memasang tampang puas setengah licik.
"Ara… Kamasaki-san…? Tehe~"
"Iwa-chan, ehehehe…? Tehe~"
Dua kembar itu secara insting langsung menggunakan gaya alay andalan Oikawa, jari telunjuk dan tengah yang dibentuk seperti huruf V, mata yang mengedip sebelah, serta lidah yang dijulurkan sok imut. Semua yang melihat mendadak ingin muntah.
Bola voli langsung telak menabrak wajah tampan Oikawa, sedangkan Futakuchi langsung mendapat geplakan super keras dikepalanya.
"Aduuuhhhh!" keduanya mengaduh bersamaan. Kedua pemuda yang baru datang tadi menatap mereka dengan wajah garang, terlebih Iwaizumi.
"Ini hal yang kau lakukan sampai berani bolos latihan seenaknya, hm! Dasar kau bocah sok!" omel Kawasaki membuat Futakuchi hanya mengeluarkan suara tawa datar sambil menatap kearah lain.
"Tatap aku, bocah! Berani sekali kau memalingkan wajahmu! Kau harus dihukum! Kemari kau!" Kamasaki menyeret Futakuchi di leher bajunya tanpa ampun, membuat si korban tercekik.
"Ehh! Tunggu dulu, Kamasaki-san! Uhuk! Kamasaki-saannnnnnn!" itu jeritan terakhir yang terdengar oleh empat orang yang tersisa. Kamasaki dan Futakuchi lenyap ditelan pintu lift.
"Sial sekali kau, Kenji-chan~"
"Aku turut berduka." Kata Hinata sambil mengulum senyum puas diam-diam.
"Oikawa-san, sebaiknya khawatirkan dirimu sendiri." Kageyama menatap belakang punggung Oikawa, membuat Oikawa kembali teringat kalau ada seseorang lagi disana. Mendadak lehernya meremang.
"Ehehe, apa yang kau lakukan disini, Iwa-chan?" pilihan buruk, karena Iwaizumi langsung menatap dengan tatapan laser kearah Oikawa.
"Futakuchi sial kau bilang? Kalau begitu aku akan membuatmu merasa sial sampai ingin mati, Oikawa." Iwaizumi menyeret Oikawa ke pojok lorong sebelum melakukan kegiatan 'biasa' mereka.
"Hiiii! Iwa-chan, ampuni aku! Aku janji tidak akan bolos, terlebih membohongi kalian semua! Iwa-chan! Kyaaaaaaa! Berhenti, uwaaa!"
"Ayo masuk, Hinata. Beri mereka privasi." Kata Kageyama sambil membuka pintu apartemen mereka. Mengakhiri acara menonton adegan tidak lulus sensor di pojokkan sana.
Hinata menatap kearah pojok kemudian menatap kearah Kageyama, ia tersenyum. Diam-diam tersenyum penuh arti. 'Rasakan!'
"Um, ayo masuk, Kageyama-kun."
.
.
.
Tbc…
A/N : Astaga, berapa lama sudah gak update ya? Maafkan saya, soalnya sibuk pas masuk sma (banyak sekali tugas, mana fullday. Saya capek) dan juga saya kena WB, yang ternyata sangat mengerikan. Entah ada yang menungu atau tidak, intinya ini udah lanjut. Yang mau baca, silakan baca dan kalau nggak, ya udah. Update selanjutnya tidak janji cepat.
Sekian untuk chap ini, maaf karena tidak sempat membalas review. Mohon kritik dan saran agar karya saya semakin baik kedepannya. Terima kasih^^
