Aku tak pernah mengira bahwa aku akan mendengar sendiri kenyataan itu. Tak pernah sekalipun terlintas dalam otakku, sedetikpun sejak aku tinggal di tempat ini untuk memikirkan hal itu.
Jantungku masih berdegup tidak karuan. Tenggorokanku sangat sakit rasanya. Aku merasa sudah berada di ambang batas. Mataku terasa panas dan air mata ini seolah-olah sangat ingin tumpah.
Tapi aku menolaknya.
Seperti waktu itu, menolak untuk menutup mata dan telingaku.
.
.
disclaimer : Eleuh-eleuh… Tite Kubo-san, saya pinjem bentar charanya, okey. Eh lama dingk, maksudnya mpe saya kehabisan ide buat bikin fic tentang Bleach, saya akan terus menculik Byakuun cs, Hehehe…
.
Sebuah kenyataan terkadang memang sangat pahit untuk dialami. Dunia memang bersifat dinamis, selalu berputar dan yang diyakini saat ini, kehidupan ini tampaknya berada di posisi terbawah.
Ketika hati tidak bisa memutuskan, terkadang beberapa orang memandang bahwa lari adalah jalan yang terbaik untuk menghindari sebuah konflik yang menyesakkan dada.
Walaupun sesungguhnya hal itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang kian menumpuk.
.
~ Heart of the Sword ~
by shiNomori naOmi
Angsty/Family ; AU (Authentic Universe) ; rate T+;
campuran 1st person POV (Rukia) ; Normal POV
.
.
Bagian Keempat : Fakta
Kedua pria itu saling bertatapan. Diam adalah kata yang tepat untuk menguraikan kesunyian ganjil yang terjadi di ruang utama keluarga Kuchiki saat ini. Aizen Sousuke, seorang mantan bangsawan yang bisa dibilang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Kuchiki itu memandang sang keponakan dengan tatapan yang ramah.
Byakuya, tidak pernah menyangka bahwa orang yang paling dibencinya itu mengunjunginya saat ini. Tentu saja, karena Aizen memilih untuk melepaskan nama Kuchiki dan memilih untuk hidup bersama dengan istri yang sangat ia cintai. Mengganti nama adalah pilihannya, dengan konsekuensi dikeluarkan dari silsilah keluarga. Ia menolak untuk menjadi ketua klan, tentu saja dengan alasan yang sebenarnya tidak bisa diterima oleh Byakuya sendiri karena otomatis tahta akan jatuh di tangannya.
Bila diperbolehkan memilih, maka Byakuya ingin memilih jalan yang dilalui pamannya itu. Melepaskan beban menjadi pemimpin keluarga dan hidup bahagia di desa terpencil bersama orang yang dicintai.
Ia memandang sang paman dengan tatapan datar yang telah menjadi ciri khasnya selama ini. Sepuluh tahun lebih sejak Aizen meninggalkan rumah itu, nyaris mereka tidak pernah berkontak, kecuali saat hari pernikahan Byakuya dan Hisana. Itupun mereka hanya saling menyapa secara basa-basi.
"Sousuke, apa urusanmu kemari?" tanya Byakuya dingin.
Aizen cukup kaget dengan perubahan kepribadian Byakuya yang tergolong drastis. Menjadi kepala keluarga Kuchiki ternyata telah merubah seluruh kepribadiannya, termasuk sifat ceria dan kekanak-kanakannya yang dahulu. "Oh, tidak sopan sekali kau memanggil pamanmu ini, Byakushi."
Byakuya terlihat mengkerutkan keningnya, sedikit menyunggingkan senyuman kecut nan masam mendengar nama panggilan yang paling tidak ingin ia dengar. Byakushi… ia merasa bahwa Aizen telah tertular penyakit seorang wanita yang beberapa tahun lebih tua darinya yang juga selalu memanggilnya dengan nama itu. 'Aku bukan bocah lagi, kau tahu!' batinnya geram. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, menyelipkannya di balik masing-masing lengan kimono hitamnya. "Kau bukan lagi pamanku sejak kau meninggalkan tempat ini sepuluh tahun yang lalu, Sousuke."
Aizen terkikik. "Ah tentu saja, tapi darah lebih kental dari pada air, bukan, Byakuya? Selain itu, aku masih memiliki sedikit wewenang di sini," katanya dengan nada bijaksana dan serius.
"Maksudmu?"
"Kurasa kau sudah mengetahui maksud kedatanganku ke sini, bukan?" tanya Aizen dengan nada memancing. Byakuya tetap saja terdiam. Ia menunggu. "Tentang Rukia."
"Tidak usah berbelit-belit, katakan saja apa maumu?"
"Dia itu… adik dari istrimu, Hisana, bukan?" tebak Aizen. Senyuman tampak merekah di kedua sudut bibirnya ketika melihat reaksi Byakuya. Seperti yang telah ia perkirakan sebelumnya. "Kau akan dibencinya bila gadis itu mengetahui yang sebenarnya, Byakuya."
Sorot mata abu-abu itu tampak berkilat, memperlihatkan sebuah emosi yang sulit ditebak. Namun bagi Aizen Sousuke, sorot mata Byakuya seperti menggantikan bibirnya untuk meluncurkan sebuah pertanyaan tentang alasan. Ya… alasan yang bahkan tidak diketahui oleh Byakuya sendiri. "Mengapa kau bisa berkata seperti itu?" tanyanya.
"Kau membohonginya, Nak." Aizen memandang pigura berisi lukisan Hisana yang berada di salah satu meja hias di sudut ruangan kerja Byakuya itu. Ia tampak cantik mengenakan kimono berwarna putih, duduk di atas batu di baah pohon sakura walaupun wajahnya tampak sedikit tirus karena penyakit yang menggerogotinya selama 2 tahun sebelum ajal menjemputnya. "Mereka sangat mirip sekali. Aku bahkan hampir mengira ia masih hidup saat aku melihat sekilas Rukia tadi," ujarnya dengan pandangan menerawang. Ia tersenyum, kemudian mengalihkan perhatiannya kembali kepada Byakuya. "Tapi tak kusangka, dia seorang samurai."
"Lalu… setelah kau mengetahui semuanya, kau akan mengatakannya, begitu?" tanya Byakuya dengan sorot mata tajam dan dingin.
"Hmm… aku tidak akan pernah merusak hubungan orang lain. Biarkan Rukia mengetahuinya dengan sendirinya. Cepat atau lambat, rahasiamu ini juga akan terkuak. Kau tahu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya nanti bila ia mengetahui hal ini," kata Aizen dengan sorot mata yang serius dan penuh keyakinan. "Aku tidak pernah menentang keputusanmu, walaupun sebagian besar para tetua sangat tidak menyetujui pengangkatan Rukia. Karena semuanya berada di tanganmu, Byakushi," lanjutnya seraya berdiri dan berjalan membelakangi Byakuya yang masih termenung. "Aku tidak akan mengatakan apa-apa. Lakukan apa yang menurutmu pantas untuk dilakukan. Sampai jumpa." Aizen menutup pembicaraanya dan membuka pintu geser yang memisahkan ruang antara dirinya dan Rukia. "Ah yah…" Aizen menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. "… jagalah dia karena dia adalah wasiat terakhir dari mendiang istrimu."
Sreeek~!
Aizen terkesiap kaget ketika melihat sosok seorang gadis remaja yang tidak ia inginkan mendengar pembicaraanya dengan Byakuya. "Kau… Rukia?"
~ ~ H-ot-S ~ ~
Aku tersentak ketika pintu geser itu terbuka. Pria itu, yang kutahu bernama Aizen Sousuke juga menampakkan wajah kaget namun kurasa tidaklah sebesar yang aku alami. Badanku terasa beku, khususnya ketika seseorang yang sangat-sangat tidak ingin aku temui saat ini muncul.
Kuchiki Byakuya, tampak segera berlari menyusul Aizen begitu pria paruh baya itu menyebutkan namaku. Tatapan matanya tampak sedikit kaget dengan emosi yang tak pernah kulihat selama ini. Aku tidak mengerti arti tatapan itu, namun sedetik kemudian mata abu-abu itu kembali dingin.
Ah… orang itu memang sulit ditebak. Tapi bukan itu masalahku saat ini. Ia telah membohongiku. Sangat fatal karena masalah ini merupakan masalah yang sangat sensitif bagiku. Beberapa saat kemudian, kebencian mulai merasuki kembali hatiku bila mengingat bahwa aku ini adalah adik iparnya. Mengingatkanku akan kenyataan bahwa aku dibuang oleh kakakku sendiri di jalanan, sedangkan ia dengan mudahnya menikahi pria kaya itu.
Ufh… kakak yang kejam dan egois.
Hisana… pantas aku sangat familier dengan nama itu. Benar-benar tidak terduga, sungguh sangat mengejutkan. Kini aku mengerti… mungkinkah aku ini adalah wasiat terakhir Hisana sebelum ia meninggal? Wanita itu, aku tidak bisa menyebutnya dengan panggilan nee-san, seperti halnya aku kini memutuskan untuk berhenti memanggil Byakuya dengan sebutan nii-sama.
Wasiat terakhir?
Rasanya aku ingin tertawa saat ini. Jika perkiraanku benar maka Hisana meminta Byakuya mengangkatku sebagai adiknya untuk menebus dosa-dosanya. Oh… benar-benar mulia, dan aku tidak akan pernah mematuhinya. Sedikit-pun aku tidak akan pernah memaafkannya. Orang-orang yang telah mencampakanku, termasuk wanita itu dan dan tidak terkecuali pria berambut hitam indah yang ada di hadapanku saat ini. Kuchiki Byakuya, walaupun mungkin ini bukanlah kesalahannya, tapi ia mengingatkanku akan Hisana. Orang yang telah menorehkan kenangan pahit di masa kecilku.
Aku memalingkan mukaku, membuang pandangan dari tatapan ganjil dan kesunyian yang berhembus aneh di pagi hari ini. Menyesakkan.
Aku ingin lari dari tempat ini-!!
Langkahku terhenti seketika saat pergelangan tangan kiriku terasa digenggam erat oleh seseorang.
"Rukia…" Pria itu memanggilku, dengan nadanya yang sedikit datar tapi terbersit sedikit kecemasan di baliknya. Jangan bodoh! Mana mungkin dia mencemaskanku? Aku rasa dia juga terpaksa mengangkatku sebagai adik karena rasa cintanya kepada mendiang istrinya. "Dengarkan dulu penjelasanku…," lanjutnya.
"Lepaskan!" potongku. Aku menyentakkan tanganku dengan kasar, memang sakit tapi aku tidak peduli. Ugh… percuma, orang itu semakin mempererat genggamannya pada pergelangan tanganku, seolah ia memaksaku untuk menghadapinya dan mendengarkan semua omong kosong dan pembelaannya atas Hisana. "Aku tidak perlu mendengarnya lagi. Sudah cukup!" Suaraku sedikit tinggi dan ketus, membuatnya melonggarkan cengkeramannya itu. Satu buah sentakan sudah cukup untuk memaksanya melepaskan tanganku.
… dan aku berlari, menembus cahaya matahari pagi yang terasa begitu gelap dan menyedihkan. Mengabaikan panggilan para pelayan dan teriakan mereka karena tidak sengaja aku tabrak. Bisa dibilang aku mengalami posisi trans. Sebuah keadaan dimana kesadaran sudah benar-benar hilang dan tubuh ini bergerak sendiri karena emosi.
Satu hal yang menjadi tujuan utamaku saat ini adalah aku ingin keluar dari tempat ini. Segera… dan masa bodoh dengan semua hal tentang kebangsawanan. Kuchiki… kurasa nama itu akan berakhir sampai di sini, karena aku akan memakai namaku yang dahulu. Rukia… hanya Rukia.
Gerbang mansion itu, adalah pintuku. Jalanku untuk menghindari kekacauan yang terjadi dalam otakku saat ini. Konflik ini benar-benar menyesakkan jiwaku. Aku butuh sedikit udara segar. Tidak… maksudku, aku butuh amat sangat udara segar untuk otakku.
Ini benar-benar seperti mimpi buruk bagiku. Setidaknya lari dapat mengurangi sedikit beban yang menghimpitku selama hampir satu tahun yang akhirnya memuncak pada detik ini. Mimpi yang selama ini menghantui diriku, inikah puncaknya? Tapi mengapa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku?
Aku ingin mendengar semua kebenaran yang menghilang selama 16 tahun hidupku, sesungguhnya. Tapi aku terlanjur melarikan diri. Emosiku meledak seolah-olah ketenangan dan pengendalian diriku menguap begitu saja. Ego yang merajai pikiranku karena masa lalu yang sebenarnya harus aku lupakan. Menempuh kehidupan yang baru dan melupakan masa lalu, itulah tujuanku berada di keluarga Kuchiki.
Tapi aku tidak pernah menyangka, bahwa masa lalu itu akan kembali menyergapku, bersama dengan seseorang yang sedikit demi sedikit aku sayangi.
~ ~ H-ot-S ~ ~
Byakuya masih tampak mematung, memandang dengan tatapan nanar ke arah larinya Rukia. Ia sedikit bimbang dengan dirinya sendiri.
"Kejarlah, sebelum terlambat." Sebuah tepukan lembut terasa di pundak Byakuya, membuatnya menolehkan kepala ke arah Aizen yang memberinya tatapan ramah. Mata lembut seperti ayahnya yang telah lama meninggal dan ia lupakan sosoknya.
"Hn."
Ia berlari, mempercepat langkah-langkah kakinya. Satu hal yang terlintas di pikirannya adalah bahwa Rukia mungkin berada di kamarnya saat ini. Mengurung diri.
Ia memanggil nama adik angkatnya itu berkali-kali namun pintu geser itu tetap saja diam tak bergerak. Tidak sopan sebenarnya, namun ia memaksakan dirinya untuk membuka pintu kamar Rukia.
Kosong dan masih rapi.
Ia sedikit kaget dengan kamar itu. Harum namun dingin, seperti ruangan lain di mansion ini yang begitu dingin dan hampa. Tata ruang yang cukup sederhana, simpel dan terasa suram seolah kesedihan terselubung di dalamnya.
Sebuah kotak terbungkus kain putih yang terletak di sudut kamar menarik perhatiannya. Ia menatapnya dengan pandangan tertarik dan membuka isinya. Sebuah pedang seputih salju dengan pita putih di ujung pegangannya. Sangat indah dan menawan. Pedang yang menguarkan bau darah menyengat.
Bagaimanapun juga, ia mengenali aroma itu karena ia juga bisa melakukan teknik berpedang. Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa dilihat dari aroma amis yang berhembus dari pedang putih itu, Rukia telah membunuh begitu banyak orang.
Tujuh tahun sudah ia mencari keberadaan Rukia yang tak kunjung ia temukan. Fakta berbicara lain ketika ia telah bertemu dengannya dan rahasia yang tak pernah ia ketahui selain gadis itu bisa bermain pedang. Sebuah kenyataan bahwa adiknya juga adalah seorang pembantai.
.
To Be Continued
.
Author Note-!
Ah… kalau ada 1st person POV, itu selalu punyanya Rukia-nya. Terkadang nanti juga akan saya masukkan normal POV untuk beberapa keadaan dan bila ada 1st POV selain Rukia akan ada keterangannya, kalo gak ada keterangan itu tetap punyanya Rukia. Okey… my friend!!!
Tentang ayah Byakuu, itu mah imajinasi saja. Hahaha… ayay jangan tanya kenapa Rukia bisa menghilang secepat itu. Namanya juga samurai, pasti larinya cepet.
Byakuun muntah! *hoeks* gara-gara Aizen jadi pamannya! Hahaha… minna maapin saya, sebenarnya saya juga pengen muntah nulisnya T^T
Entah kenapa saya ingin menjadikan Aizen jadi orang baik-baik. Tapi menjadi paman Byakuya adalah keputusan yang sangat berat sekali. Hueeeee… selamat bagi yang udah jawab Aizen sebagai pria yang mengunjungi Byakuu, tapi tentang topiknya kayaknya kagak ada yang bener deh. Walah… yuks bales repiu dulu…
Tsuichi Yukiko : Weh… minta kamboja ya? Ah… bentar saya ke kuburan dulu deh buat minta ijin metik. Kamu mau ikut kagak? Kita bisa poto-poto bareng di sana, pemandangannya cukup indah loh. Hahaha makasih repiunya.
Quinsi Vinsis : Yeah… yeah… ini udah bener blom, dek? Mpe saya cek 5x loh hurupnya. Halah… ambil ajah tuh duren, aku gak suka duren. Iiih… bauk~! *ngelempar duren ke Quinsi*
Aya-na Byakkun : Ah yap Aizen, jeung~! Hum ntar ada kok scene itu, tunggu saja yah. Terima kasih atas repiunya.
Ryuku S. A. J males login : Weeeh dilihat dari judulnya saya gak akan mengeyampingkan adegan itu. Hahaha… maunya ama siapa? Tapi jangan ama saya yah, bisa koit ntar. Makasih repiunya.
BeenBin Castor no Seiei : Walah… ini pename susah bener, Bin. Eh ini juga gara-gara abis baca Twilight buku pertama, baru setengah jalan udah nyerah. Ngantuk ! *dirajam fans Edward* Um dah diapdet kok kemaren, hehehe sori lupa gak repiu fic kamu… makasih.
D31-ryuusei Hakuryuu : Angkat tangan? Hahaha padahal kan saya cuman nodong pake pistol aer. Ini udah apdet, en semua yang kau tanyakan udah terjawab di chapter ni. Okey makasih repiunya.
Armalita Nanda R. : Eh apa hubungannya salah jawab ama OL di kompi? *gak ada kale yah* Tuh jawabanmu bener satu dari dua pertanyaan, jadi aku kasih nilai lima *centang!*
Yui-chan numpang lewat : Udah apdet kok… uh dingin nih di rumah. Brrrr … *jawaban kagak nyambung* Makasih repiunya, lama-lama kamu ntar juga bisa kok. Berjuanglah.
Jess Kuchiki : ??? Kamu ngomong apa, Jessie? Aye kagak dongk ini… *mumet mode on*
chariot330 : ah mau UN yah? Walah… selamat berjuang kalau begitu. Ini sudah apdet nih, selamat membaca dan terima kasih udah repiu.
The1st : Iya Om-nya Byakuu yang bernama Aizen Sousuke *hoek-hoek-hoek* Makasih udah baca en repiu.
Walah-walah makasih semuanya. Yang udah baca, merepiu, atau cuman buka doang trus ditutup tapi makasih udah menambah hints-nya. Wuaaaa… makasih banget, jadi maukah kalian membaca dan merepiu lagi untuk chapter ini?
Maukah?
Maukah?
Mau- *plak-plak-plak*
Ugh… ya sudahlah. Sampai jumpa di episode selanjutnya. Salam ngorek.
-kodok ijo lagi ngorek-
