Disclaimer : Aoyama Gosho
.
Love is the ability and willingness to allow those that you care for to be what they choose for themselves without any insistence that they satisfy – Wayne Dyer
.
"Ai-chan!" jerit Ayumi Yoshida senang. Dia segera menghambur ke teman baiknya. Rambut hitamnya telah tumbuh panjang hingga menyentuh bahu. Gadis itu tak mengenakan bando lagi—yang merupakan trade-marknya dulu. Alih-alih sepasang jepit perak yang bertatahkan berlian menghiasi rambut indahnya.
Mitsuhiko Tsuburaya berdiri mematung, mengerjapkan matanya berulang kali. Seakan hendak memastikan kalau Ai yang berada di depannya bukan fatamorgana.
Genta Kojima terbahak dan menepuk punggung Ai kuat-kuat hingga gadis itu tersedak. Dan dia sepertinya menyesali tindakannya karena mata Ai membara balas menatapnya. Seakan berkata, berani-beraninya kau.
Shinichi Kudo yang melihat pesta penyambutan itu diam-diam tersenyum.
"Kenapa tidak memberitahuiku kalau kau akan datang ke Tokyo, Ai-chan? Email-mu yang terakhir sama sekali tidak memberi gambaran tentang kedatanganmu!" Ayumi memeluknya lagi dengan hangat.
Mitsuhiko menelan ludah beberapa kali lalu menggumam, "Haibara-san…" Wajahnya menatap gadis itu dengan penuh pengharapan. Ai yang baru lepas dari pelukan Ayumi, tersenyum tipis dan dia membiarkan pemuda tanggung itu memeluknya. Shinichi yang melihat adegan itu hanya mengangkat alisnya. Haibara sepertinya tak takut akan kontak fisik lagi, katanya dalam hati. Detektif itu teringat dengan metafora ikan yang dilontarkan dirinya dulu sekali, ketika dia membawa Ai pergi memancing ke laut bertahun-tahun yang lalu bersama Hakase dan Shounen Metantei-dan. Sentuhan sesama manusia seperti ikan—panas tapi hangat dan mampu melumerkan hati yang paling dingin.
"Berapa lama kau disini, Ai-chan?" "Kau tinggal dimana?" "Bagaimana kabar Hakase?" rentetan pertanyaan menyerbu Ai, dan dia sibuk menjawab pertanyaan sahabat-sahabatnya. Shinichi mengamati mereka dengan perasaan campur aduk. Sebagian dirinya merindukan masa-masa saat menjadi Conan dan bisa berteman dengan mereka tanpa mempedulikan prasangka apapun tetapi sebagian dirinya yang lain mengingatkannya kalau tidak ada jalan kembali. Dia hanya bisa maju dan terus berjalan ke depan.
"Ai-chan… Apa kau tau kabar Conan-kun? Terakhir kali dia mengirim email itu sudah beberapa bulan yang lalu. Apa dia telah melupakan kami?" tanya Ayumi tiba-tiba. Wajahnya sedikit cemas. Ai tertegun, dia tak mampu membalas pandangan mata Ayumi. Alih-alih Ai malah melirik Shinichi dari ujung matanya, detektif itu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku tak tau, Edogawa-kun juga sudah lama tak menghubungiku," ucap Ai dengan nada maaf. "Tapi kurasa dia baik-baik saja. Kalian tidak usah khawatir."
"Tapi Ai-chan…" Ai segera memotong ucapan Ayumi cepat, "dari email terakhirmu, kau bilang akan pergi ke London untuk menjengukku?"
Mitsuhiko berseri-seri, "Itu benar, Haibara-san. Aku dan Ayumi-chan akan pergi ke London untuk liburan… sekaligus menemuimu."
"AH! Sayang sekali aku tak bisa ikut!" tanya Genta bersemangat, "Aku tidak bisa pergi karena harus mengurus restoran. Maaf ya, Haibara! Kau bisa mengajak Shinichi-niisan karena dia pernah pergi ke London beberapa tahun lalu. Dia bisa jadi guide atau apa saja sih. Benarkan, Shinichi-niisan?"
Shinichi yang mendengar kata London, alisnya berkerut. Dia menelengkan kepalanya, memandangi pemandangan di luar jendela ruang tamu rumah Ayumi. Suara tonggeret berkicau tanpa henti. Banyak capung merah yang berterbangan di taman kecil yang ditata apik itu.
"Shinichi-niisan? Bukankah kau juga bilang mau pergi ke London juga suatu saat nanti?" tanya Genta sekali lagi, dia agak heran karena detektif itu tak menjawab pertanyaannya. Ai segera mengambil alih perhatian Genta dengan menariknya ke arah foto-foto yang dibingkai di dinding. Disana ada Shounen Metantei-dan atau Detective Boys muncul dalam beberapa foto.
"Ini siapa, Kojima-kun? Gadis yang manis…" Ai menunjuk ke salah satu foto. "Hey, d-dia hanya teman…" sergah Genta namun diikuti bantahan Ayumi dan Mitsuhiko. Mereka meributkan bagaimana kencan Genta dengan gadis itu yang berakhir dengan kegagalan tapi pasangan itu masih tetap menjalin hubungan selama beberapa bulan walau akhirnya putus juga. Tapi sepertinya Genta dan gadis itu kembali berpacaran akhir-akhir ini, menurut laporan Ayumi. Sedangkan dari sejauh apa yang dibicarakan Mitsuhiko dan Ayumi dalam beberapa email terakhir mereka, Ayumi telah menjalin kasih dengan seorang mahasiswa. Tapi Mitsuhiko masih single sampai sekarang.
Sepanjang percakapan Shounen Metantei-dan, Shinichi seperti berada di dunia yang berbeda. Dia hanya duduk termenung, memperhatikan gerakan capung merah dan menikmati suara kicauan tonggeret. Ai yang mengerling kearahnya, hanya menghela nafas.
.
.
.
"Kau kelihatannya capek. Tak seharusnya kau mengantarkanku…" gumam Ai.
Shinichi yang sedang menyetir, menoleh kearahnya. "Aku tidak capek," gumamnya pendek. Ai hanya mendengus pelan dan menolehkan pandangan matanya keluar.
"Ya… mungkin ini rekor. Aku telah berada dua hari di Tokyo bersamamu dan sama sekali tidak ada mayat yang berjatuhan di sekeliling kita…" kata Ai yang sepertinya lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Shinichi mengangkat salah satu alisnya, "Mungkin kau penyebabnya, Haibara…" dia terkekeh.
"Menurutmu? Ini rekor bagus atau tidak?" tanya Ai sambil menoleh. Pandangan matanya dan Shinichi bertemu. Mereka sama-sama mengulas senyum tipis.
"Kau lapar? Bagaimana kalau kita makan dulu sebentar? Lagipula Toshiro tak akan pulang sebelum jam delapan. Dia akan bersama mertuaku seharian..."
"Kita berhenti di supermarket saja, disana kita beli bahan makanan karena aku akan memasak. Lagipula kau dan Toshiro-kun pasti setiap hari makan di luar. K-karena aku telah tinggal di rumahmu secara gratis, biarkan aku yang mengambil alih dapurmu. Bagaimana?" tawar Ai.
Shinichi menelan ludah, dia tak ingin kedengaran terlalu antusias. Tapi dia rindu masakan rumahan biasa. Selama ini dia dan putranya hanya beli makanan di mini market terdekat dan kadang-kadang Shinichi berhasil memasak nasi kare tanpa gosong, sisanya mereka makan di Poirot Café tiap hari.
"Ya… jika kau memaksa…" Shinichi berusaha untuk tidak nyengir, "…aku juga tidak akan melarangmu."
Ai memutar bola matanya. Dia tau kalau Shinichi senang karena bisa makan masakan rumahan lagi, dia teringat pada tumpukan mie cup di salah satu laci dan bekas sisa bento di tempat pembuangan sampah di dapur.
Setelah memarkirkan mobil di depan salah satu mini market terdekat, Shinichi melepaskan sabuk pengamannya dan menoleh ke Ai. "Yuk!" panggilnya.
Dan seperti yang bisa diduga, malang tak bisa ditolak, tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita di dalam mini market itu. Yang sepertinya menjeritkan sesuatu tentang mayat, pisau dan darah. Ai dan Shinichi saling bertukar pandang.
"Rekornya telah terpecahkan…" kata Ai sambil mendesah. Shinichi yang melihat reaksi Ai, tak mampu menahan tawanya. Pria itu tertawa kecil, lalu gelaknya bertambah besar. Akhirnya Ai juga ikut tersenyum simpul. Shinichi yang telah lama tidak pernah tertawa selepas itu, merasa ringan. Dia mengerling ke Ai dan berkata, "Seperti masa lalu bukan? Aku berani bertaruh kalau hidupmu di Amerika pasti tak pernah seramai di Tokyo."
Ai hanya memutar bola matanya sarkastik. "Oh, benar sekali. Aku tak pernah melewatkan sedetil apapun kasus pembunuhan berantai yang kau pecahkan beberapa bulan lalu."
Ujung bibir Shinichi tertarik, "Wahwahwah, tak kusangka kau tertarik pada kasus-kasusku. Aku merasa tersanjung."
"Hey, kau tak tau arti sarkasme?" alis mata Ai terangkat.
"Sarkasme? Tentu saja aku tau."
"Ugh, daripada berdebat—bagaimana kalau kau masuk dan menyelidiki kasus apapun yang berada di dalam supermarket itu?" perintah Ai dan tambahnya lagi, "dan lakukan dengan cepat, sebab aku lapar."
Shinichi tertawa pendek. "Tentu saja… evil-eyed yawny princess. I'll do my best."
"Oi!" seru Ai kesal karena Shincihi masih mengingat nickname-nya tapi pria itu telah beranjak dari mobil dengan cepat untuk menghindari Ai dan setengah berlari menuju supermarket. Gadis berambut pirang strawberry itu hanya mendesah. Didengarnya Shinichi memanggilnya untuk mengikutinya lalu Ai turun dari mobil dan menguncinya.
"Bagaimana?" tanya Ai. Matanya berputar mengamati keadaan supermarket itu. Ada ceceran darah di lantai dan pisau yang terletak tak jauh dari kakinya. Ada mayat yang terbujur di salah satu sudut rak makanan. Beberapa orang sedang berdiri di sudut dengan ketakutan, dan menatap heran melihat kedatangan mereka.
Shinichi mengedipkan matanya, "Seperti masa lalu, Haibara…"
Ai hanya memutar bola matanya. Pria itu tak pernah berubah, dimanapun ada kasus—nalurinya tetap tajam dan selalu bersemangat untuk memecahkan setiap misteri dan teka-teki yang ada.
Diperhatikannya Shinichi mulai menelepon polisi, membentuk barisan supaya tidak ada yang menyentuh barang bukti dan mulai melacak kasus apapun itu yang terjadi sekarang.
.
.
.
"Otou-sannn!" tanya Toshiro begitu melihat ayahnya dan Ai memasuki ruang keluarga. Shinichi kemudian memeluk putranya sambil mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Dimana Obaa-chan?" Shinichi melihat sekeliling. Sepertinya putranya sedang menonton kartun di tv. Suara seseorang mengagetkannya. Eri Kisaki keluar dari dapur dengan mengenakan celemek. Dia berhenti sejenak untuk melirik Ai dan berlalu untuk menegur menantunya. "Toshiro telah makan malam barusan."
"Kisaki-san," panggil Ai sambil tersenyum sopan. Eri menoleh padanya, "Sepertinya aku pernah melihatmu. Kau gadis yang diadopsi Professor Agasa dan pergi ke Amerika bersamanya."
"Benar…"
"Kau…" tatap Eri dengan curiga.
Shinichi menyela cepat, "Aku yang mengundang Haibara untuk tinggal disini selama beberapa hari saja…"
Wanita pengacara itu tak menjawab, tapi hanya tersenyum sopan. Dia kemudian melepaskan celemeknya dan mengambil tas tangannya di atas sofa. "Aku harus pergi dulu, Shinichi. Ada pertemuan yang harus kuhadiri setengah jam lagi." Dia berputar untuk mencium pipi Toshiro dan menepuk pipi anak itu. "Sampai jumpa lagi, Toshiro. Ingat janji obaa-chan tadi," katanya sambil mengedipkan mata.
Setelah mengantarkan mertuanya ke pintu dan menunggu suara mobil Bentley Eri terdengar mendesum jauh, Shinichi berbalik untuk bertanya pada anaknya. "Apa janji obaa-chan denganmu, Toshiro?"
Yang ditanya hanya tertawa, "Ra-ha-si-a." dia kemudian menghambur ke pelukan ayahnya, "Otou-san! Kau telah berjanji akan membawaku besok ke kebun binatang, bukan?"
"Besok? Otou-san ada sedikit…" Raut wajah Shinichi berubah, sedikit berkerut.
Wajah anak lima tahun itu mengeruh, lalu mengerucutkan bibirnya. "Otou-san tidak boleh berubah pikiran begitu saja! Otou-san telah berjanji padaku dari awal musim panas." serunya lantang.
"Toshiro, kau tak boleh berkata begitu…" bujuk Shinichi. Tapi anak itu malah memalingkan mukanya dan tak mau memandang wajah ayahnya. Shinichi mendesah, lalu berkata dengan riang, "Bagaimana kalau kepergian ke kebun binatang ditunda dulu? Karena otou-san harus pergi ke markas besar kepolisian besok pagi. Ada kasus yang terjadi tadi… Tapi setelahnya Otou-san akan membawamu ke taman untuk menangkap tonggeret. Oh ya, ada capung juga. Banyak capung merah di taman. Kita bisa menangkap telur kodok untuk penelitian musim panasmu nanti."
"Benarkah?" Toshiro berseru senang, matanya berkilauan. "Tonggeret? Capung? Telur kodok? Apa kita bisa memungut biji kastanye lagi seperti tahun lalu sewaktu bersama okaa-san?"
"…tentu saja!" Shinichi menarik ujung bibirnya, mencoba tersenyum. Ai yang sedang berdiri sambil mengelap piring, tertegun sejenak. Dia menyeka kedua tangannya yang basah pada kain serbet lalu berpaling dan melipat kedua tangannya memperhatikan Shinichi dan Toshiro.
Toshiro melonjak-lonjak kesenangan dan berputar menirukan Super Sentai Ranger dengan suara keras. Shinichi tersenyum lega melihat aksi anaknya. Diacaknya rambut Toshiro. Dipandangnya anak itu pergi ke kamarnya, mungkin mencari buku berwarna untuk menggambar.
Ai mendekati Shinichi dan menggumam, "Wah… aku hampir tidak bisa mengenali Shinichi Kudo. Dia sangat berubah dari terakhir kali aku bertemu dengannya."
Shinichi mengangkat alisnya, "Apa maksudmu? Ini pujian bukan?"
Senyuman khas Ai muncul, "Bagaimana menurutmu?"
"Tentu saja ini pujian." Shinichi menepuk dadanya arogan yang dibalas dengan lemparan serbet dari Ai.
.
.
.
"Hey…pelan… kau jangan bergerak dulu. Hati-hati…"
"EH, bagaimana aku bisa bergerak kalau kau menggoyangkan badanmu…"
"Tentu saja, aku akan memegang kakimu. Tenang aja… Haibara."
"Awas jika kau melepaskan peganganmu, dan jangan menyentuh bagian-bagian lain yang tak boleh disentuh."
"Hey, aku tak mungkin bisa memegangmu jika tidak menyentuh…pahamu!"
"Oke, hanya paha."
"Jadi ceritanya kau mau naik apa tidak?" gerutu Shinichi.
Ai yang tak kalah kesalnya, "Ini kesalahan siapa dulu?"
Mereka saling melotot.
Mari kita tinggalkan percakapan absurd itu dan mundur ke beberapa jam sebelumnya.
Toshiro Kudo mengenakan t-shirt musim panasnya dan celana pendek katun berwarna coklat. Di tangannya ada tongkat bertangkai panjang lengkap dengan jeratnya. Dia memanggul tas kecil yang berisi botol plastik kosong yang rencananya akan diisi telur kodok jika ada. Di sebelahnya Shinichi berjalan beriringan dengan Ai. Mereka juga mengenakan pakaian musim panasnya yang tipis. Ai yang memang tak pernah tahan cuaca panas, hanya berusaha mengipas wajahnya dengan kipas plastik berwarna hijau milik Shinichi. Dia mengenakan t-shirt bergambarkan London Tower Clock—hadiah dari hakase dan celana pendek jeans yang memamerkan kaki jenjangnya.
Setelah beberapa saat, mereka berhenti. Telinga Shinichi yang tajam mendengar suara dengungan tonggeret. Sepertinya ada beberapa jenis di taman yang luas itu, matanya mencari-cari ke atas.
"Toshiro!" panggilnya dan putranya segera berlari-lari tergopoh-gopoh mendekati. Sebelumnya, dia sedang memperhatikan capung merah yang bertebangan di bawah terik matahari.
"Lihat…" tunjuk Shinichi. "Tonggeret yang sangat besar." Serangga itu sedang menempel di kulit pohon akasia yang tinggi. Dengungannya nyaring dan seakan mengundang, tangkaplah jika kau bisa.
Wajah Toshiro berbinar, "Hati-hati otou-san!" dia segera menyerahkan tongkat penjerat itu ke tangan Shinichi, "Tangkapkan dia untukku, Otou-san!"
"Baiklah! Lihat saja kehebatan otou-san…" Shinichi memegang tongkat itu dan beraksi seperti hendak maju ke medan perang. Ai yang melihatnya hanya memutar bola matanya.
Satu, dua,dan tiga kali tangkapan Shinichi gagal. Tonggeret itu malah berpindah-pindah ke tempat yang lebih tinggi. "Hey!" seru Shinichi kesal.
"Wah… otou-san yang sangat hebat," ejek Ai. Shinichi mendelik ke arahnya. "Aku sudah terlatih dalam menangkap tonggeret. Kau saja yang tak pernah melihat kehebatanku."
Ai mengerucutkan bibirnya dan mulai bersenandung. Lagu yang amat familiar. Shinichi menatap gadis itu dengan alis berkerut… dia pernah mendengar lagu ini. Dulu sekali.
"Otou-san! Lihat! Dia terbang ke sana!" seru Toshiro antusias. Shinichi segera bergerak ke pohon yang dihinggapi tonggeret pintar itu dan menggunakan segala taktik yang bisa dia pikirkan untuk menangkapnya.
"YEAHHHH!" Shinichi berteriak gembira. Tonggeret itu berhasil masuk ke jaring perangkap dengan sukses. Toshiro melonjak-lonjak senang di sampingnya.
"Tonggeret pertama tahun ini…" Toshiro tertawa. "Tangkapkan lagi untukku, otou-san!" matanya berbinar melihat tonggeret-tonggeret lain yang berdengung riang dan dia mengangsurkan botol plastik besar yang ditutupnya telah diberi lobang-lobang kecil. Sepertinya semakin siang, serangga itu semakin banyak bermunculan. Shinichi hanya bisa menghapus keringatnya dan berkata, "Oh… baiklah!"
Ai hanya tertawa kecil dan dia segera mencari tempat duduk yang biasanya banyak terdapat di taman itu. Suasana saat itu lengang dan hanya ada sedikit orang berkeliaran. Sepertinya mereka juga mempunyai tujuan yang sama, menangkap tonggeret atau memungut biji kastanye.
Setelah beberapa saat, Shinichi tak kelihatan. Tapi Toshiro masih berkeliaran di sekitar Ai. Anak itu sepertinya tertarik pada capung merah yang berterbangan.
Ai memperhatikannya sambil menopang dagu. Selama beberapa kali dia menguap. Dia hendak mencari-cari botol minuman yang telah disiapkannya di tas selempangnya ketika dia menyadari kalau Toshiro tidak berada di sekitarnya lagi.
"Toshiro-kun?" panggilnya.
Tak ada yang menjawab.
Ai bangkit berdiri dari bangkunya. "Toshiro-kun? Kau dimana?" serunya. Matanya awas menjelajahi taman itu. Tak tampak bayangan seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Dia mulai berjalan cepat, menyusuri jalan setapak, menyibak semak, ataupun di balik pohon rimbun.
Ketika terdengar suara gemerisik langkah kaki, Ai yang selalu waspada—berkat masa lalunya di Black Organization, segera mencari sumber suara.
"Siapa itu?" panggilnya tajam. Suara gemerisik itu terhenti. Hanya terdengar suara tonggeret dari kejauhan.
"Toshiro?" tanya Ai ragu. Tiba-tiba muncul sekelabat bayangan hitam menyerbu Ai, gadis itu memekik. Sesuatu itu… berbulu. Kucing? Bukan. Anak kucing yang masih sangat kecil. Berbulu hitam.
"Tangkap dia!" jerit Toshiro entah dari mana. Walau terlihat rapuh tapi refleks Ai sangatlah mengagumkan, dia berhasil memeluk kucing itu dengan erat-erat ke dadanya. Dibiarkan kucing itu meronta-ronta. "Toshiro, kau tidak boleh pergi sendirian tanpa orang lain yang kau kenal di taman ini. Bagaimana kalau kau tersesat nantinya?" tanya Ai dengan tajam. Anak kecil itu mengerucutkan bibirnya.
"Aku sudah besar!" bantahnya. "Aku tak mungkin bisa tersesat."
Ai memutar bola matanya, ini seperti menghadapi Conan Edogawa dulu. Kesamaan watak mereka dalam hal kekeraskepalaan luar biasa.
"Kau masih dibawah umur, Toshiro. Ya… jika kau tersesat, kau tak akan bisa mencari jalan pulang sendirian."
"Aku punya otou-san…. Dia yang akan mencariku! Jadi aku tak mungkin tersesat nantinya," seru Toshiro bandel.
Ai yang sudah lama tak menghadapi anak kecil semenjak pertemuannya dengan Shounen Metantei-dan itu hanya bisa menghela nafas. Dicarinya ponsel di sakunya dan diteleponnya Shinichi. Detektif itu ternyata berada lumayan jauh dari tempat Ai berdiri. Setelah saling mencocokan tempat, Ai segera menutup pembicaraan dan menggandeng tangan Toshiro sementara tangannya yang lain masih menggendong anak kucing itu.
"Otou-san tidak pernah memperbolehkanku memelihara binatang…" kata Toshiro tiba-tiba. Ai mengangkat alisnya, "Apa ada alasan tertentu?"
Toshiro menggelengkan kepalanya. Dia telihat sedih dan matanya menatap anak kucing itu dengan penuh harap.
"Bagaimana nanti kutanya pada ayahmu tentang kucing ini?" tanya Ai.
Anak kecil itu melonjak girang, "Benarkah? Haibara-san?"
"Serahkan saja padaku, Toshiro-kun!" Ai mengedipkan sebelah matanya.
"Otou-san selalu bilang kalau memelihara binatang—butuh tanggung jawab yang besar…" Toshiro menengadah, menatap Ai penuh harap, "… menurut Haibara-neechan, apakah aku bisa…" suaranya mengecil.
"Tentu saja kau bisa…" sahut Ai dengan nada menenangkan, senyumnya mengembang ketika teringat masa lalu, saat memberi semangat pada Shounen Metantei-dan. Sejarah berulang, huh?
Shinichi tiba di depan Ai dan Toshiro dengan nafas terengah-engah. Dia kemudian menyerahkan botol plastik transparan pada putranya, "Lihat! Otou-san berhasil menangkap kumbang badak!"
"WAHHH!" mata Toshiro berkilauan. Dia menggenggam botol itu dan memperhatikan bagaimana kumbang itu bergerak lambat di dalamnya. "Jadi tonggeret yang ditangkap tadi?" tanyanya heran.
Shinichi menggaruk kepalanya, "Maaf, Toshiro… kau tau kalau tonggeret dan kumbang tidak boleh ditaruh di botol yang sama. Mereka akan saling menyerang."
Walau begitu, Toshiro tak tampak kecewa, dia hanya sibuk menggoyangkan botol dengan kedua tangannya. Sedangkan Shinichi menoleh dan mengangkat alisnya ketika menyadari kalau Ai sedang menggendong seekor anak kucing.
"Anak kucing siapa, Haibara?" tanyanya heran.
"Toshiro-kun yang menemukannya…" jawab Ai sambil mengelus bulu kucing itu. Terasa hangat dan empuk.
"Sepertinya dia lapar…" gumam Shinichi. Toshiro yang mendengar kata-kata ayahnya segera memalingkan wajahnya pada Ai. Ai mengerti, "Kudo-kun… bagaimana kalau anak kucing ini dipelihara saja?"
Alis Shinichi berkerut. "Maksudmu?" tanyanya.
"Kau… atau Toshiro-kun bisa memeliharanya. Sepertinya anak kucing ini telah ditinggalkan oleh induknya. Kau tak mungkin meninggalkannya sendirian di taman ini, bukan?" tanya Ai dengan penuh intimidasi. Shinichi tertawa, "Hey, siapa bilang yang ingin meninggalkannya sendirian di sini? Tapi… kami tidak bisa memeliharanya…"
"Kenapa tidak bisa?"
"Tidak, Haibara…" geleng Shinichi. Toshiro mengerucutkan bibirnya. Dia meletakkan botol plastiknya ke dalam tas dan berteriak, "AKU BENCI OTOU-SAN!"
Anak kucing yang berada di pelukan Ai menggeliat terkejut dan melompat ke dahan pohon terdekat. Sia-sia saja Ai dan Shinichi hendak menangkapnya karena anak kucing itu malah naik ke dahan yang lebih tinggi. Lalu malah asik-asik duduk disana, memperhatikan manusia dibawahnya dengan puas.
"Hey, Neko-chan…turunlah kemari!" panggil Shinichi. Ai dan Toshiro juga sibuk memanggil anak kucing itu, alih-alih turun, dia malah naik lagi semakin tinggi. Sekarang jarak antara mereka dan sang kucing berkisar dua meter lebih.
"Ugh…" desah Ai sambil menghapus keringat yang bercucuran di dahinya. Matanya lalu menatap detektif di sampingnya dengan penuh arti dan dibalas Shinichi dengan mengeryitkan alisnya. "Haibara… kau ingin aku yang memanjat pohon ini?"
"Siapa lagi yang bisa selain kau?" tanya Ai entah pada siapa, karena matanya sekarang beralih pada pohon yang lumayan besar itu dan anak kucing yang sepertinya sedang sibuk menjilat tangannya di atas dahan, menikmati atensi dari manusia dibawahnya.
Shinichi menggerutu, "Aku tidak jago memanjat, jika kau lupa!"
Ai mengangkat alisnya, "Jadi sampai sekarang…kau masih belum bisa memanjat?" Dia terkenang masa lalu, ketika Ai menemukan anak burung yang jatuh dari sarangnya di atas pohon dan dia menginjak uhm… kepala Conan untuk mencapai tempat itu.
Shinichi memutar bola matanya, "Sepertinya kita memikirkan hal yang sama…" Pandangan mereka saling bertemu, penuh pemahaman.
Dan kita kembali pada dialog absurd tadi.
"Hey…pelan… kau jangan bergerak dulu. Hati-hati…"
"EH, bagaimana aku bisa bergerak kalau kau menggoyangkan badanmu…"
"Tentu saja, aku akan memegang kakimu. Tenang aja… Haibara."
"Awas jika kau melepaskan peganganmu, dan jangan menyentuh bagian-bagian lain yang tak boleh disentuh."
"Hey, aku tak mungkin bisa memegangmu jika tidak menyentuh…pahamu!"
"Oke, hanya paha. Tidak boleh menyentuh yang lain."
"Jadi ceritanya kau mau naik apa tidak?" gerutu Shinichi.
Ai yang tak kalah kesalnya, "Siapa lagi yang disini tak jago memanjat?"
Mereka saling melotot. Ai akhirnya naik ke pundak Shinichi—dengan rona merah di masing-masing pipi. Setelah berhasil menyandarkan tubuhnya ke dahan terdekat dengan kedua kaki masih dipegang detektif itu, Ai segera menahan berat badannya dan tangannya mampu meraih anak kucing itu.
"Neko-chan… ayo mendekat ke sini…" bujuknya dengan susah payah. Dan ajaibnya, anak kucing itu menurut, dia bergerak kearah jangkauan tangan Ai—yang segera disambarnya cepat.
"Berhasil!" seru Toshiro dari bawah.
Setelah menurunkan Ai dari pundaknya—gadis itu terasa ringan, Shinichi memperhatikannya lekat-lekat… apa dia cukup makan selama di Amerika bersama Hakase?
"Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu," gumam Ai sambil membelai kucing itu. Dia lalu menoleh ke Toshiro dan segera menggengam tangannya, "Ayo, kita pulang!"
"Hey… Apa maksudmu Haibara… Apa yang kupikirkan?" Shinichi segera mengikuti dari belakang. Ai berhenti dan menatapnya dari ujung matanya, "Bagaimana kalau aku bisa menebak apa yang kau pikirkan dengan benar? Apa kau mengizinkan Toshiro untuk memelihara kucing ini?"
Shinichi menggaruk kepalanya, "Hey, ini tidak adil…"
"Ya sudah kalau begitu," Ai segera beranjak sambil tetap menggandeng Toshiro.
"Haibara… baiklah. Kucing ini boleh dipelihara." Shinichi mendelik pada gadis berambut pirang strawberry itu. Ai hanya tersenyum kecil dan Toshiro melonjak gembira. Mereka segera pulang ke mansion Kudo.
Setelah makan siang dan menidurkan Toshiro, Shinichi turun ke lantai bawah dan menemukan Ai sedang memberikan susu untuk anak kucing itu. "Kau sudah memberinya nama?" tanya Shinichi sambil duduk di sofa samping Ai. Gadis itu menggeleng, "Biarkan Toshiro-kun yang mendapatkan hak untuk itu."
Shinichi tersenyum lalu dia teringat dengan peristiwa siang tadi. "Apa kau tau apa yang sedang kupikirkan tadi?" tanyanya dengan bermaksud untuk mengganggunya.
"Tentu saja… kau lupa kalau aku ini seorang scientist."
"Coba katakan padaku…"
"Hm…" Ai mengambil pose seolah sedang berpikir keras. "Apa kau mencoba untuk mencuri lihat warna celana dalamku?"
Wajah Shinichi memerah. "Heyyy… Haibara! Kau ini…" katanya kesal.
Ai terkekeh. "Kenapa kau tidak mengizinkan Toshiro-kun memelihara kucing? Bukankah lebih gampang memelihara kucing daripada anjing atau binatang lainnya?" tanyanya sambil lalu.
Untuk sesaat Shinichi terdiam. Hal ini membuat Ai menghentikan gerakannya membelai bulu kucing itu dan menatap pria itu.
"Ada apa?" tanya Ai pelan.
Shinichi menghela nafas. "A-aku tak ingin Toshiro merasa kehilangan lagi," katanya.
Ai termangu. Sementara itu anak kucingnya sibuk mengeong, sepertinya rindu pada induknya. Shinichi kemudian mengangkat anak kucing itu dari pangkuan Ai dan meletakkannya ke pangkuannya sendiri.
"Aku tak ingin Toshiro merasakan kesedihan dan kepedihan karena kehilangan sesuatu yang dia sayangi…" bisiknya lagi dengan suara rendah.
"Hidup memang singkat, Kudo-kun… Kita tak bisa mencegah kehilangan dan kepergian seseorang. Yang bisa kita lakukan hanyalah menikmati hari-hari bersama orang yang kita sayangi dengan sebaik mungkin…"
Shinichi membelai anak kucing itu. "Apa itu salah, Haibara…? Aku tak ingin merasakan kepedihan itu lagi," katanya dengan suara bergetar. Ai menggelengkan kepalanya perlahan. "Kedukaan itu manusiawi," gumamnya.
"Aku tau, Haibara… tapi aku tak sanggup lagi…" Shinichi menatap Ai sekarang. Gadis itu baru menyadari kalau kilau biru di mata detektif itu telah padam, tak lagi secemerlang yang pernah dia lihat dulu.
Ai menelan ludah lalu katanya dengan sedikit terbata, "A—aku telah kehilangan begitu banyak orang yang kusayangi dulu… aku tak punya siapapun. Kau, Hakase, Shounen Metantei, Ran-san, Akai-kun, Jodie-san… yang mengajarkanku kalau hidup itu harus tetap berlanjut. Walau apapun yang terjadi. Kau masih punya Toshiro-kun…"
"Aku tau… tapi Haibara, kupikir hanya kau yang mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayangi... Bagaimana jika aku juga mati? Apa kau juga akan merasa kehilangan?"
"Kudo-kun…"
Ai tak pernah melihat Shinichi Kudo yang terlihat begitu depresi dan putus asa. Punggungnya melengkung, bahunya menurun. Dia seperti menanggung beban yang begitu berat. Dimana Conan Edogawa yang dulu selalu penuh dengan kebanggaan dirinya sendiri? Segala kepercayaan dirinya seperti menguap bersama kematian istrinya.
Mungkin ini pertama kalinya, Shinichi memperlihatkan kelemahannya pada orang-orang terdekatnya. Saat bersama orangtuanya, mertuanya ataupun Heiji—dia selalu berpura-pura teguh dan kuat. Dia menundukkan wajahnya tertutupi oleh poni. Ai menyipitkan matanya. Dia mendehem sebentar sebelum berkata dengan suaranya yang tenang, "Shinichi Kudo, penyelamat kepolisian Jepang, Sherlock Holmes abad 21… Kau yang memberitahuiku supaya tidak lari dari takdirku dulu. Alih-alih menjadi detektif kebanggaan putramu, kau malah bersikap seperti pria cengeng."
Shinichi mengangkat wajahnya, tercengang. Bibirnya bergerak-gerak tak ingin percaya. Ai, dari semua orang yang dia kenal, hanya gadis ini yang berani memarahinya setelah kematian Ran. Lainnya hanya memberikan tatapan menyedihkan dan iba—yang amat dia benci.
"Kau ingin mati? Jangan bercanda! Bahkan kupikir, kau takut akan kematian itu sendiri. Pria brengsek, sombong, arogan, egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Kau bertanya apa aku akan merasa kehilangan jika kau mati? Tidak, Meitantei-kun. Jangan terlalu besar kepala." Dengan kata-kata itu, Ai bangkit berdiri dan meninggalkan Shinichi yang memandangnya termangu.
"H-Haibara!" panggil Shinichi akhirnya, tapi gadis itu pura-pura tak mendengarnya. Ai bahkan sudah setengah dalam perjalanannya menaiki tangga kedua ketika Shinichi berhasil mengejar gadis itu dan meletakkan tangannya di bahu untuk menyentaknya. Ai hendak berontak tapi Shinichi memutar bahu gadis itu dengan kedua tangannya supaya badan mereka saling berhadapan sekarang.
"Apa… kau menganggapku seperti itu?" tanya Shinichi hati-hati. Wajahnya terlihat serius dan risau—seakan ada sesuatu yang mengganggu hatinya.
"Benar!" sahut Ai tenang sambil melihat kedua tangannya di depan dada.
Detektif itu terdiam sejenak lalu melepaskan cengkeramannya. Shinichi kembali menatap Ai seakan hendak berkata sesuatu tapi tak ada yang keluar dari bibirnya. Alih-alih dia malah beranjak pergi meninggalkan Ai berdiri begitu saja dan melewatinya naik tangga. Gadis itu menyipitkan matanya memandangi kepergian Shinichi ke lantai atas—menuju kamarnya sendiri.
.
.
.
Tbc
A/N : Thanks atas reviewsnya... guest1-thanks, Darkcrowds-romannya pasti ada, ditunggu ya, guest2-thankyou, kise-nyan-ini uda lanjut, PureAi-Ah, iya donk, lagian di canon, Ai sepertinya uda melepaskan Shinichi dan menganggapnya sebagai saudara laki-laki yang menyebalkan XD, carverwords19-quote2nya gw copas dari internet XD, iya... fandom DC sepi amat, ga kayak fandom tetangga :(, marutaro-thanks, ace-betul, karena terasa singkat, gw post yang agak panjang kali ini, vali vanisihing dragon lucifer-heiji, sonoko dan beberapa karakter lain bakal muncul. tapi kaito kid masih gw pikirkan karena dia ga ada korelasinya dengan inti cerita.
Ada yang bisa tebak siapa orang ketiga di Shinichi-Ai fic ini? Gw uda memberikan beberapa hints sebelumnya ;3
Oh ya adegan Ai menginjak kepala Conan itu ada di episode DC. Gw lupa di episode berapa soalnya ketemu di youtube.
Chapter kali ini adalah gabungan dari dua chapter sekaligus karena gw merasa terlalu pendek dan tidak relevan dengan inti cerita jadi chatper ke 5 digabungkan menjadi chapter ke 4.
Thanks for reading ^_^
