Rated: T
Genre: Drama, Romance
SasuSaku
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Cring
Ia menyentuh benda yang tergantung di tas nya dengan pelan. Lalu menatap langit sore dengan pandangan yang tak di mengerti.
"Apakah ini takdir? Percayakah kau pada hal itu?"
.
.
.
Devil? Who are you?
.
.
"Tunggu Haruno," panggil Sasuke sensei. Tapi aku tak mempedulikan panggilannya. Aku malah semakin mempercepat langkahku. Entah kenapa sekarang aku sedang malas untuk menemuinya.
"Haruno," panggilnya lagi. Setengah berlari ia mengejarku. Lalu ia menarik lenganku untuk menghentikan langkahku.
"Ada perlu apa sih sensei?"
"Kemarin kamu kenapa sih? Tiba-tiba menghilang. Waktu di telepon malah marah-marah. Dan sekarang kamu kenapa tiba-tiba menghindar dari saya?"
"Saya ngga menghindar," jawabku ketus.
"Tadi buktinya waktu saya panggil kamu tidak menyahut."
"Saya ngga dengar."
"Ngga usah bohong sama saya. Saya tahu gelagat kamu. Saya kan udah kenal kamu dari-," tiba-tiba Sasuke sensei menghentikan ucapannya. Aku mengernyitkan alisku.
"Dari apa?"
"Ehem. Bukan apa-apa."
"Ish.. sensei kalau ngomong tuh yang jelas dong. Jangan setengah-setengah. Ck udah ah saya mau ke kelas," kataku sambil mengibaskan tanganku.
"Tunggu dulu," Ia kembali menarik pergelangan tanganku. Tapi aku malah menepisnya.
"Apaan sih?"
"Kamu kan belum menjawab pertanyaan saya."
"Pertanyaan yang mana lagi sih?" kataku mulai tak sabar.
"Kemarin kenapa kamu tiba-tiba menghilang? Ada masalah apa?"
"Bukan urusan sensei."
"Tentu saja itu urusanku!" katanya dengan nada yang agak meningggi. Aku agak tersentak kaget mendegarnya.
"Tahukah kau bahwa kemarin aku sangat khawatir?! Aku mencari kemana-mana tapi sama sekali tak menemukanmu! Aku hampir gila! Dan itu semua salahmu!"
Aku menganga lebar. Tak menyangka kalau ia akan semarah ini. Tapi aku juga merasa kesal karena ia melimpahkan semua kesalahan padaku. Padahal semua ini terjadi karena si merah yang brengsek itu.
"Kenapa kau malah menyalahkanku sih?! Kau pikir aku mau semua itu terjadi?! Jangan melimpahkan semua kesalahan padaku!"
"Kau bahkan tidak memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi! Bagaimana aku tak menyalahkan mu?" kini suaranya terdengar lebih merendah.
"Kemarin aku bertemu dengan si merah yang brengsek itu lagi! Puas!? Sudahlah, aku tak mau memperpanjang masalah ini lagi. Dan tolong biarkan aku sendiri selama beberapa hari."
"Kita juga tak perlu membahas soal-soal matematika dulu. Aku akan menyelesaikannya sendiri. Jadi kau hanya perlu mengoreksi hasil kerjaku," lanjutku. Lalu segera ku tinggalkan ia yang masih terpaku disana.
.
.
.
"Jadi kau sedang bertengkar dengannya?"
Aku hanya terdiam sambil terus mengunyah sisa makananku di mulut. Pipi tembam ku kini telihat semakin tembam karena penuh dengan makanan.
"Sakura, apa kau sedang bertengkar padanya?" Ino mengulangi pertanyaannya. Aku menghentikan aktivitas mengunyahku. Ku tatap Ino dengan wajah kesal. Ino berdehem pelan.
"Oke oke. Kau memang sedang bertengkar dengannya. Tapi bukankah itu terlalu berlebihan? Maksudku, ia melakukan itu karena merasa khawatir dengan keadaanmu."
"Tapi kan bisa dibicarakan baik-baik. Tak perlu berteriak seperti itu di hadapanku," kataku ketus. Ku potong daging ayam yang ada dihadapanku dengan kasarnya. Mungkin sang ayam akan berteriak kesakitan jika masih hidup.
"Dia khawatir Sakura. Kurasa, aku akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi nya."
"Jadi kau membelanya?" kataku dengan nada yang sedikit meninggi. Walaupun yang dikatakan Ino ada benarnya juga, namun tetap saja aku tak terima dengan perlakuan sensei tadi.
"Ah sudahlah. Kau merusak makan siang ku," kataku sambil berlalu.
Ino hanya menggeleng pelan melihat sikap kekanak-kanakan ku itu.
.
.
.
"Ini setoran untuk hari ini."
Cowok berambut merah itu menyerah amplop berwarna kecoklatan pada seorang lelaki paruh baya.
"Hmm.. bagus," punjinya setelah melihat isi amplop itu.
"Maaf saya terlambat," kata seseorang yang baru saja memasuki cafe itu.
Ia berperawakan tinggi besar dengan stelan jas nya. Sepatunya mengkilap. Rambutnya sengaja di cat putih untuk menutupi uban yang memenuhi kepalanya. Dilihat dari caranya berpakaian, terlihat jelas bahwa ia adalah orang penting di suatu perusahaan. Walau begitu, ia terlihat sangat sopan dan menghormati lelaki paruh baya yang ada di di hadapan Gaara.
"Loh? Kamu Gaara kan?"
"Paman?" kata Gaara setelah sadar siapa lelaki ber jas itu.
Setelah itu terjadilah obrolan ringan diantara mereka bertiga.
"Bagaimana keadaan bibi?" tanya Gaara.
"Dia baik. Malah sekarang semakin sibuk. Kau tahu sendiri kan, butiknya kini sudah memiliki banyak cabang."
"Ya aku tahu. Toko pertama bibi di Hokkaido juga semakin banyak diminati warga sekitar. Harga nya yang terjangkau itulah yang membuat banyak warga tertarik."
"Hahaha istriku memang pandai menarik hati pelanggan. Oh ya, apakah ini orang yang anda maksud waktu itu?" tanya lelaki bermarga Haruno itu pada bos Gaara.
"Ya, dia yang waktu itu pernah saya ceritakan. Saya bahkan sama sekali tak menyangka bahwa kalian saling kenal."
"Saya kenal baik dengan orang tua nak Gaara. Lagipula, saya dengan senang hati akan menerima hubungan kerjasama kita jika dia yang anda maksud."
"Baguslah kalau begitu. Hasil pekerjaan Gaara selama ini juga cukup memuaskan. Jadi Gaara, apa kau bersedia menerima pekerjaan ini?"
"Dengan senang hati," jawab Gaara tanpa ragu. Senyum mengembang di bibirnya.
Setelah perjanjian dibuat, lelaki paruh baya, selaku bos Gaara undur diri karena masih banyak pekerjaan yang harus beliau selesaikan. Tinggalah Gaara dengan tuan Haruno.
"Bagaimana kabar kakakmu? Kudengar ia juga bekerja di Tokyo."
"Ya, ia menjadi guru matematika di SMA ternama di Tokyo."
"Sudah kuduga ia akan bergelut di dunia pendidikan. Aku ingat, dulu ia sering mengajari Sakura pelajaran matematika. Biasanya Sakura selalu mencari-cari alasan agar tidak belajar dengan kakakmu. Bahkan ia pernah beralasan bahwa buku nya ketinggalan di sekolah. Padahal jelas-jelas bukunya ada di meja ruang tamu. Dasar anak itu."
Gaara tertawa renyah.
"Oh ya, apakah kau sudah bertemu dengan Sakura? Ia sudah menjadi gadis yang sangat cantik sekarang. Namun belum ada satu pun lelaki yang berani mendekatinya. Kurasa nyali mereka menciut setelah mengetahui status keluarga kami. Padahal saya tak pernah melarang Sakura untuk dekat dengan lelaki mana pun," lanjutnya.
"Benarkah itu? Aku jadi tak sabar untuk bertemu dengannya. Ku harap ia masih mengingatku."
Sebuah senyum mengembang manis di bibir Gaara.
.
.
.
"Aku pulang. Loh ayah? Tumben pulang awal," kataku sambil meletakkan tas ku di sofa. Lalu kusenderkan punggung ku pada sofa empuk itu.
"Iya. Hari ini acaranya ngga terlalu padat. Jadi ayah bisa pulang cepat."
Aku hanya mengangguk.
"Ibumu belum pulang?," tanyanya lagi.
"Hmm belum. Sepertinya ia akan pulang larut seperti biasa."
"Tadi ayah habis bertemu dengan seseorang," katanya sambil mengambil koran yang ada di atas meja.
"Siapa? Kolega ayah?" tanyaku ogah-ogahan.
Tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulut ayahku.
"Yah?"
"Hm?"
"Siapa orang yang tadi ayah temui? Tampan tidak?" gurauku. Ia tertawa mendengarnya. Lalu membetulkan posisi kacamata nya yang tadi sempat turun.
"Cukup tampan."
Kemudian ayah menatapku dengan pandangan anehnya.
"Apa?"
"Oh tidak yah, tidak. Jangan pernah ayah berfikir untuk mengenalkan ku pada kolega ayah. Aku tak mau dengan yang sudah berumur."
" Hahaha, bagaimana jika ternyata ia masih muda dan seumuran denganmu?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Tidak yah, tidak. Lagipula aku sudah punya orang yang ku-" ups. Ada apa sih denganku?
"Yang kau suka?"
Blush
"Ah sudahlah. Aku mau ke kamar saja," kataku dengan nada terburu-buru.
"Hahaha anak gadisku sedang menyukai seorang pria ternyata. Tapi dia harus seorang pria hebat. Kalau tidak, ayah tak akan merestuinya," kata ayahku sambil berpura-pura mengepalkan tangannya.
Aku terkekeh pelan mendengar gurauannya itu.
"Oh iya, kalau kau ada waktu, kau harus menemuinya."
"Menemui siapa?"
"Kolega ayah."
"Hah? Untuk apa? Aku kan sudah bilang tak mau."
"Hahaha kau pasti mau."
"Ayah sok tau," cibirku. Dia kembali tertawa.
.
.
.
Ia menatapku bingung saat menyadari kehadiranku di ruangannya itu.
"Ada perlu apa, Haruno?" tanyanya formil.
Segera kuserahkan berlembar-lembar kertas yang sedari tadi kupegang itu. Ia memperhatikan kertas-kertas itu dengan seksama.
"Kau mengerjakannya sendiri?" katanya dengan nada sedikit takjub. Perlu ku garis bawahi sedikit.
"Tentu saja. Memangnya ada yang bisa kumintai tolong untuk mengajariku?" kataku dengan nada sinis.
Dia hanya tertawa pelan. "Apa kau masih marah padaku?" tanyanya sambil membuka lembaran soal itu dan menelitinya.
"Hmm.. tidak juga. Tapi ada kemungkinan."
Ia terkekeh pelan kemudian kembali sibuk dengan soal-soal itu. Aku segera mengambil bangku dan duduk tepat di hadapannya. Kalau dipehatikan, ternyata wajah sensei tampan juga. Ia memiliki sorot mata yang tajam, namun indah. Lalu hidungnya. Dan bibir itu. Aku meneguk ludahku pelan saat memperhatikan bibirnya. Sepertinya khayalanku itu telah meracuni pikiranku sendiri.
"Apakah aku setampan itu hingga kau menelan ludahmu sendiri?" godanya tanpa mengalihkan pandangan dari soal-soal. Pipiku langsung merah padam menahan malu. Segera kubuang muka serta khayalan anehku tentangnya.
Dert Dert
Aku melihat layar ponselku dan sebuah nomor asing memenuhi panggilan masuk. Siapa yang menelepon di siang bolong seperti ini? Segera ku tekan tombol reject untuk menolak panggilan.
Dert Dert
Nomor asing itu kembali tertera di layar ponselku. Aku mendecak kesal karenanya.
"Kenapa ngga diangkat?"
"Ng hah? Itu.. paling-paling cuma orang iseng yang nelpon siang bolong gini. Mungkin dia mau minta dibeliin pulsa?," celetukku garing. Aku jadi ingat beberapa hari lalu ada yang menelponku, meminta dibelikan pulsa 25 ribu. Ia mengaku sebagai ibuku, padahal jelas-jelas ibuku yang asli sedang duduk di sampingku dan sibuk menggambar sketsa design baju musim panasnya.
"Hei." Panggilan itu sontak membuyarkan lamunanku.
"Apa?" kataku polos.
"Apa kau tak mendengar ucapanku tadi?"
Aku menggeleng pelan dengan tampang polosku. Ia menepuk jidatnya seakan-akan aku ini benar-benar murid yang lemot.
"Tadi saya bilang, kalau hasil pekerjaanmu sangat memuaskan."
"Benarkah? Yes!" seruku girang. Kini aku terlihat seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat sebuah balon dari ibunya.
"Ups.. maaf sensei. Saya suka lupa diri hehe," cengirku. "Ah iya! Waktu itu kan sensei pernah bilang, kalau saya berhasil mengerjakan soal-soal itu, kau akan men-traktirku es krim."
"Hah? Memangnya saya pernah menjanjikan hal itu?" katanya sambil tertawa pelan.
"Ish.. pernah tau," kataku tak mau kalah.
"Ahahaha iya deh iya," katanya sambil mengacak rambutku pelan. Aku terpaku sesaat hingga akhirnya panggilannya kembali menarikku kembali ke dunia nyata.
"Ng ya udah deh sensei. Aku balik ke kelas dulu ya. Nanti ketinggalan pelajaran sejarah," kataku terburu-buru. Berusaha untuk menutupi kegugupanku yang kini malah terlihat sangat jelas. Tanpa menunggu jawaban darinya, segera ku angkat kakiku dari ruangan tersebut.
.
.
.
"Ish.. nomer ini lagi," gumamku yang entah-pada-siapa.
Cklek
"Halo? Ini siapa ya?"
Klik
Apa-apaan sih?! Hampir saja kulempar ponselku ke jalan raya agar terlidas mobil. Namun segera kuurungkan niatku saat membayangkan wajah marah ibuku. Yah, walaupun aku berasal dari keluarga yang cukup berada, namun aku selalu diajarkan untuk tidak boros dalam menggunakan suatu barang.
"Tunggu Hana!" ujar seorang lelaki berseragam SMA. Ia menahan tangan seorang cewek agar tak beranjak pergi.
"Lepasin aku Kaito! Lepasin," kata cewek yang bernama Hana itu sok dramatis.
"Aku ngga mau ngelepasin tangan kamu! Aku ngga akan bisa hidup tanpa kamu," kata si cowok sok puisitis. Aku memandang kedua anak baru gede itu dengan tatapan sinis. Mungkin mereka berdua terlalu banyak menonton drama-drama korea dan mengikuti trend orang sana.
Dert
"Ya, halo yah?"
"Apa? Ke kantor ayah? Ish.. ngga mau ah, males."
Namun setelah mendengar jawaban dari seberang, mataku langsung berbinar. Dengan semangat, segera ku langkahkan kakiku menuju istana makanan~
.
.
"Yah! Eh, pak Tanaka liat ayah ngga?" kataku dengan nafas terengah.
"Ayah? Ooh sepertinya beliau sedang ada rapat-"
Tanpa kupedulikan ocehan tangan kanan ayahku itu, segera kulangkahkan kakiku menuju ruang kerja ayahku.
"Ayah! Hah?"
Kini semua mata yang ada diruangan itu tertuju padaku.
"Ah perkenalkan. Ini putriku satu-satunya, Haruno Sakura," kata ayahku mencoba mencairkan keheningan.
"Uumm.. salam kenal semua," kataku sambil membungkukkan badanku. Kemudian mereka semua langsung berdiri dan membalas salam sopan dariku. Kuberikan juga senyuman terbaikku pada mereka. Namun senyum itu langsung menghilang saat kulihat sesosok makhluk berambut merah itu. Sedang apa dia disini? Ia menatapku dengan senyum mengejeknya. Hampir saja kulempar ia dengan sepatu jika di ruangan ini hanya ada aku dan dia.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
.
.
Aku memakan biskuit-biskuit itu dengan rakus nya. Hingga tak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang bersandar di sofa yang tak terlalu jauh dari tempatku duduk. Ia juga memperhatikanku.
"Ternyata putri direktur itu bisa rakus juga ya."
Aku menoleh, syok saat melihat sosok itu. Bibirku langsung mencibir dan keluar beberapa kalimat sar-ka-tis yang biasa kuucapkan padanya.
"Hoo selain doyan makan, ternyata putri direktur itu tidak memiliki sopan santun dalam berbicara juga ya?" ledeknya lagi saat berdiri tepat dihadapanku. Sekarang ia sudah duduk di seberangku.
"Buat apa aku sopan sama kamu? Emangnya situ siapa, sampe harus bicara sopan segala hah?" kataku sinis. "Kenal aja ngga."
Ia tak membalas kata-kataku. Sekarang ia menatapku lekat dan penuh arti. Ia terlihat sedikit kecewa, tapi buru-buru ia tutupi. Apakah ucapanku tadi terlalu berlebihan? Seketika aku diliputi rasa bersalah.
"Maaf ya, jika kau merasa sakit hati karena ucapanku tadi. Ini kuberikan biskuitku agar kau merasa lebih baik," kataku sembari menyerahkan stoples biskuit.
Ia melongo kemudian tertawa terbahak-bahak. Aku hanya bingung menatapnya. Apa lelaki ini tidak waras? Seperti bisa menangkap tatapan kebingunganku, ia malah kembali tertawa cukup keras. Sekarang semua orang menatap kami berdua dengan pandangan aneh.
"Sstt.. jangan berisik. Kau membuat orang-orang melihat kesini."
"Kenapa? Kau takut disangka tak waras?" ledeknya.
"Aish.. kalau kubilang diam, ya diam."
Kupukul lengannya dengan cukup keras. Ia hanya meringis pelan. Lalu menyipitkan kedua matanya seolah sedang berfikir.
"Apa?" sinisku.
"Ternyata ada perempuan galak sepertimu ya di dunia ini. Hiii~ ngeri."
Setelah berkata seperti itu, ia kembali tertawa puas. Sedangkan aku kembali memukuli bahunya. Berharap semoga 'kewarasannya' itu bisa kembali. Aku bahkan tak menyadari bahwa ayahku sedang memperhatikan kami dari lantai atas.
.
.
.
"Kebarakaran! Kebakaran!"
Api dengan cepat menyambar sebuah rumah yang cukup besar, namun tak terlalu mewah.
"Tolong anak saya! dia masih terperangkap di dalam!" kata seorang wanita dengan histeris. Sedangkan suaminya berusaha untuk menenangkan sang istri, sembari berdoa atas keselamatan anaknya.
Dengan segenap keberanian seorang anak lelaki nekat menembus api untuk menyelamatkan anak itu. Hanya berbekal helm, ia berhasil membawa keluar seorang anak perempuan yang sudah berlinang air mata.
Anak perempuan itu selamat, namun orang yang telah menolongnya itu terkena luka bakar ringan.
"Oniisan, makasih ya," kata anak perempuan yang kira-kira berumur kurang lebih 7 tahun itu.
"Iya sama-sama," ucap anak lelaki itu disertai senyumannya.
"Tapi tangan oniisan..."
Anak perempuan itu menatap tangan orang yang sudah menolongnya tadi. Tiba-tiba ia terisak. "Tangan oniisan luka gara-gara aku."
"Sudah jangan menangis," kata anak lelaki itu menenangkan. Ia membelai rambut anak perempuan dihadapannya itu dengan lembut. Seketika, anak itu pun berhenti menangis.
"Sudah merasa lebih baik?"
Anak perempuan itu mengangguk lemah. Sesekali ia berusaha untuk menghapus bekas air matanya.
"Aku ngga apa-apa kok. Luka ini ngga berarti apa-apa buatku. Asalkan kamu selamat. Lagipula, sebentar lagi sembuh kok."
"Tapi oniisan beneran bakal sembuh kan?"
Orang yang dipanggil oniisan itu tertawa. Kemudian menatap anak perempuan yang ada dihadapannya itu dengan lembut.
"Iya. Tapi kalo mau sembuh ada syaratnya."
"Apa itu? Apapun akan Sakura lakukan buat oniisan," ucap anak perempuan itu mendadak semangat.
"Kamu harus janji dulu sama aku."
"Janji apa?"
"Janji kalau kamu ngga akan cengeng lagi. Aku ngga mau loh liat kamu nangis lagi kayak tadi."
Kemudian anak perempuan itu mengangguk mantap dan tersenyum.
"Aku janji."
.
.
Cowok berambut raven itu membuka matanya yang masih terasa berat. Kepalanya terasa pening. Ia melihat jam wekernya. Pukul 6 pagi. Kemudian ia duduk di pinggir kasur, berusaha untuk mengumpulkan sebagian nyawanya yang sekarang entah dimana.
"Mimpi sialan," gerutunya pelan. Bukannya segera bersiap, ia malah kembali menghempaskan tubuhnya di kasur empuk.
"Sakura," gumamnya pelan dengan mata setengah tertutup.
.
.
.
"Eh hari ini sensei ngga masuk ya?" kata Ino dengan hebohnya.
"Serius? Yah, ngga ada moodbuster dong hari ini?" sambung Tenten.
"Katanya sensei sakit ya?" kata Hinata menambahi.
Ino mengangguk sedih. Kemudian melirikku sekilas. Seakan menyuruhku untuk menjenguknya. Namun aku melotot padanya, berusaha mengatakan bahwa aku sangat tak setuju dengan idenya itu.
"Kau kenapa Sakura? Ada apa dengan matamu?" tanya Tenten bingung.
"Ah ngga kok. Ngga ada apa-apa."
.
.
.
"Apa kau gila?! Aku tak mau memberikan ini padanya. Tidak!" kataku sambil berusaha untuk mengecilkan volume suaraku.
"Ayolah Sakura.. ini kan amanah dari teman-teman kita. Kau hanya perlu memberikan buah-buahan ini, kemudian pulang."
"Tapi kenapa harus aku? Kan bisa menyuruh Tenten ataupun si Karin yang genit itu," decakku kesal.
"Memangnya kau mau Sasuke sensei dikunjungi oleh mereka?"
Aku terdiam. Hanya satu kata yang terpikir olehku: TIDAK.
"Oke oke, akan kuberikan padanya," kataku seraya mengambil sebuah bungkusan yan sedari tadi dipegang oleh Ino.
Ino tersenyum penuh kemenangan. "Sampaikan salam dari anak-anak juga ya! Semoga berhasil Sakura!"
Semoga berhasil? Memangnya aku akan melamar pekerjaan? Kutatap bungkusan yang ada ditanganku dengan malasnya. Dasar, orang ini membuatku repot saja.
.
.
Ting Tong
Bunyi bel itu terdengar sangat nyaring di telinga ku. Tapi tak ada jawaban sama sekali dari dalam. Ku tekan lagi bel itu berkali-kali dengan kasar. Kesal sekali rasanya menunggu seperti ini.
"Ish.. lama banget sih."
Sesaat setelah aku berkata seperti itu, tiba-tiba pintu rumah terbuka. Lelaki itu terlihat sangat kumel dan berantakan. Rambutnya acak-acakkan. Kantung matanya terlihat sangat jelas. Bahkan dua kancing kemejanya sengaja terbuka, sehingga aku dapat melihat err.. dadanya yang bidang itu.
"Sakura? Ada apa?" tanyanya dengan suara yang serak.
"Ah ini dari anak-anak," kataku malas. Kemudian kuserahkan bungkusan itu padanya.
"Tomat?" katanya setelah melihat isi bungkusan itu. Ia tertawa pelan. Bahkan disaat sakit seperti ini, ia masih saja terlihat sangat menjengkelkan.
"Kenapa harus tomat?" tanyanya lagi.
"Ya mana aku tahu? Aku kan hanya disuruh memberikannya padamu."
Ia mengernyitkan alisnya. "Disuruh? Oleh siapa?"
Hampir saja kusebut nama Ino, tetapi segera ku urungkan niatku. "Anak kelas."
Ia hanya ber-oh ria. Tiba-tiba ia kembali terbatuk. Jujur saja, aku sangat khawatir melihat kondisinya itu.
"Pulanglah," katanya dengan nada yang tiba-tiba berubah jadi dingin.
"Ap-?"
"Kau kan sudah mengantarkan ini. Jadi sekarang pulanglah," potongnya cepat.
Aku yang masih bingung dengan perkataannya tadi hanya bisa mematung. Hentakan keras pintu lah yang menyadarkanku. Apa ia tadi mengusirku? Mendadak mukaku langsung berubah kesal. Dasar tak tahu diri! Bukannya berterima kasih padaku, ia malah mengusirku! Aku tak terima ini!
Ku pencet tombolnya lagi beberapa kali dengan emosi.
"Siapa?" tanya Sasuke yang muncul dari balik pintu. "Saku-"
"Sensei bodoh! Cepat buka pintunya! Bisa-bisanya kau mengusirku, padahal aku sudah jauh-jauh datang kemari! Biarkan aku masuk!"
"Kau ini kenapa sih? Sudah pulang saja sana."
"Kau itu yang kenapa?! Tiba-tiba berubah jadi dingin. Pokoknya aku tak akan pulang hingga kau membiarkanku masuk," kataku sambil berusaha untuk mendorong pintu itu.
Sasuke menahan pintu itu. Sepertinya ia cukup kewalahan mempertahankan pintunya.
"Kau harus pulang, Sakura uhuk uhuk."
"Tidak!"
"Ayolah Sakura, sekarang bukan waktu yang tepat untuk bermain! Hentikan sikap kekanak-kanakan mu ini dan pulanglah. Aku yakin ibumu sedang khawatir sekarang."
"Omong-omong, ibuku masih di Paris dan ia akan pulang 3 hari lagi. Haha kau tak akan bisa membuat alasan untuk melarangku masuk!"
"Ayahmu pasti sedang mengkhawatirkanmu."
"Ayahku sedang sibuk sekarang. Ia tak pulang ke rumah hari ini. Sudah hentikan saja semua ini, dan biarkan aku masuk!"
Dengan sekali hentakan, aku dapat membuka pintu itu. Ternyata kekuatanku cukup untuk membuat pintu ini terbuka lebar serta membuat sensei terjungkal. Aku tertawa puas. Sementara ia menahan rasa sakit serta tawanya bersamaan.
"Dasar kau ini! Pantatku sakit tau," katanya sambil berusaha untuk berdiri.
"Hahaha salah sensei sendiri. Kalau saja tadi kau membiarkanku masuk, aku sangat yakin kau tak akan terjungkal seperti ini."
Lalu kutatap sekelilingku. Jadi ini rumah Sasuke sensei.
"Apa? Kau kagum dengan rumahku?" katanya sambil memegangi pantatnya yang masih terasa nyeri.
"Cukup rapi," kataku jujur.
"Aish.. lupakan saja ucapanku tadi," kataku setelah melihat ekspresi pamer di wajahnya itu.
Ia tertawa pelan kemudian berjalan menuju pintu dengan terseok-seok. Setelah menutupnya, ia kembali menghampiriku yang sekarang sudah berada di dalam kamarnya.
"Kau habis berbuat apa sih disini hingga kacau seperti ini?" tanyaku sinis.
"Menurutmu?" tanyanya balik disertai seringaian di bibirnya itu. Aku merinding melihatnya. Mendadak aku menyesali pertanyaan bodohku tadi.
"Kau sudah makan?" kataku berusaha mengalihkan topik.
"Be-"
"Apa ini? Mi instan? Pantas saja kau penyakitan seperti ini. Makananmu mi instan," sindirku dengan kejam. Kini aku sudah mengaduk-aduk isi dapurnya.
"Lum?"
"Apa kau tak ada bahan makanan lain selain mi instan?"
"Sebenarnya-"
"Akhirnya kutemukan sayuran! Aku akan membuatkanmu sup," kataku dengan bersemangat.
"Aku akan membantu uhuk uhuk."
Aku menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Atau sebaiknya aku menunggu saja," katanya lagi.
Kulirik ia lewat sudut mataku. Kini ia sedang duduk di kursi dan menyalakan tivi. Tanpa kusadari, sebuah senyum mengembang di bibirku. Lalu aku kembali sibuk di dapur, mempersiapkan makanan untuknya.
.
.
"Sensei! Supnya sudah jadi."
"Mana-mana?" tanyanya dengan antusias. Ia menghampiriku dan langsung mengambil sup yang ada di nampanku. Aku tertawa melihatnya. Yah, sepertinya ia benar-benar lapar.
Kuperhatikan ia yang sedang sibuk meniup kuah sup untuk menghilangkan hawa panasnya. Sepertinya ia sangat menikmati sup buatanku itu.
"Terima kasih," pancingku.
"Ahahaha aku lupa mengucapkannya. Terima kasih ya."
"Kau.. kau mengucapkan kata 'terima kasih'? Seorang Sasuke mengucapkan terima kasih?"
Sasuke memendangku sinis. Sementara itu, aku yang masih takjub dengan kata-kata ajaibnya itu masih saja memandangnya dengan pandangan tak percaya.
"Sudah jangan melihatku seperti itu lagi. Nanti kau malah naksir," katanya sambil meminum kuah sup.
"Apa? Haha jangan bermimpi."
"Oh ya? Bagaimana jika ternyata kau benar-benar menyukaiku?" kata Sasuke, lalu mendekatkan wajahnya padaku.
Aku kembali tertawa mengejek. "Apa? Suka pada guru sepertimu?"
Sasuke hanya mencibir lalu menarik kembali wajahnya itu.
"Itu obatnya sudah kupersiapkan. 5 menit lagi diminum ya."
"Hn."
Aku membereskan mangkuk serta piring kotor dan membawanya ke dapur. Setelah semua sudah bersih dan rapi, aku kembali melihat keadaan Sasuke. Ternyata ia sudah tertidur pulas. Sepertinya obatnya bekerja, pikirku. Wajah Sasuke terlihat sangat lugu dan polos saat terlelap. Kini ketampanannya semakin terlihat.
Aku mendekatkan wajahku, berusaha untuk meneliti wajahnya lebih dekat. Tiba-tiba ia membuka matanya. Kami bertatapan cukup lama, hingga secara tiba-tiba ia menarik tengkuk ku dan..
"Eh?"
Kemudian bibir kami bersatu. Aku tak sempat menghindar karena kejadiannya begitu cepat. Setelah melakukan hal itu, ia kembali terlelap dan meninggalkanku yang masih terpaku.
Hening
Tunggu, apakah tadi kami berciuman!? Jadi kami benar-benar berciuman?! Akh! Ciuman pertamakuu!? Aku kembali histeris, namun aku berusaha untuk menutup mulutku agar Sasuke tidak terbangun karena mendengar ke-histerisan ku. Lalu kutatap ia dengan pandangan marah bercampur jengkel.
"Dasar brengsek. Kau baru saja merebut ciuman pertamaku, lalu meninggalkanku begitu saja?" ucapku dengan penuh tekanan di setiap katanya.
"Sensei bodoh. Bagaimana jika aku benar-benar menyukaimu? Apa yang akan kau lakukan hah? Apa kau akan bertanggung jawab?" tanyaku yang entah pada siapa. Pertanyaanku pun seakan menguap begitu saja di udara.
.
.
.
.
.
TBC
Chapter 4 sudah update~! Maaf ya, updatenya udah lewat berapa minggu ._.v atau bulan ya? Hahaha mohon dimaklumi lah.. singkatnya, semoga lanjutan chapter Devil ini ngena di hati kalian semua ya~ jangan lupa review and happy reading :3
