Cast:
V as Kim Taehyung
J-Hope as Jung Hoseok
Jungkook as Jeon Jungkook
Other BTS members
Summary:
Kim Taehyung hanyalah seorang pemuda biasa yang tidak terlalu istimewa. Itulah kesan yang didapat Hoseok saat pertama kali berkenalan, setidaknya sampai Hoseok menyadari bahwa Taehyung memiliki sesuatu yang selalu membuntutinya.
Disclaimer:
Member BTS bukan punya author, tapi cerita fiksi ini murni ide author. Terinspirasi dari kisah nyata. Jika ada kesamaan cerita, itu adalah unsur ketidaksengajaan.
Unknown Memories
Hoseok membuka pintu kamar Taehyung dan langsung masuk ke dalamnya. Taehyung yang sedari tadi memeluk hyungnya akhirnya melepaskan pelukannya dan melompat ke arah bantal yang sudah terletak di lantai.
Mata Hoseok membulat saat ia mengangkat kepalanya—yang sedari tadi ia tundukkan karena pelukan Taehyung. Ia melihat boneka kelinci yang dicari Taehyung, berada di pelukan seseorang, dan seseorang itu menatap Taehyung dengan wajah yang terlihat sedih.
"Jeon Jungkook...?"
.
Chapter 4
Suara Hoseok yang menggumamkan nama Jungkook terdengar samar di telinga Taehyung. Ia menoleh dengan wajah heran. "Kau tadi bilang apa?"
Pertanyaan itu menyadarkan Hoseok bahwa Jungkook tak dapat terlihat oleh Taehyung, dan anak itu juga tidak tahu tentang keberadaannya. Mata Hoseok yang sedari tadi menatap Jungkook beralih dan menatap Taehyung. Ia tersenyum seolah ia tak melihat apapun. "Tidak, Tae-ya."
Hoseok berusaha mengabaikan fakta bahwa sosok Jeon Jungkook ada di ruangan itu sambil memeluk sebuah benda empuk berbentuk kelinci berwarna biru—boneka yang dicari olehnya dan Taehyung. Ia kini mengacak-acak meja Taehyung yang berantakan karena barang-barang yang tertumpuk. Jung Hoseok sedang berpura-pura mencari barang yang hilang. Sedangkan si pemilik kamar masih bermain di lantai bersama bantalnya.
"Dimana terakhir kali kau menyimpan ponselmu?"
Taehyung berhenti memainkan bantalnya dan menolehkan wajahnya pada Hoseok. Ia menggeleng. "Tidak tahu, aku lupa."
Jawaban Taehyung membuat Hoseok memutarkan matanya. Ia tidak peduli kalau Jungkook sedang menatapnya. Yang jelas, Kim Taehyung ini bodoh dan menyebalkan—tapi manis.
Mereka terus begitu selama beberapa menit. Taehyung yang berbaring di lantai sambil memainkan bantalnya. Hoseok yang mengobrak-abrik kamar Taehyung dengan alasan membantu mencari barangnya yang hilang. Dan Jungkook yang menatap mereka berdua bergantian.
Tangan Hoseok berhenti menyentuh barang-barang Taehyung dan merebahkan dirinya di ranjang yang berantakan. Ia menatap Taehyung yang masih sibuk dengan bantalnya, lalu ia menoleh pada Jungkook yang juga sedang menatap Taehyung. Ia menatap langit-langit kamar, dan bibirnya membisikkan sesuatu pada Jungkook. "Kembalikan bonekanya, Jeon. Juga ponsel dan sepatunya."
Ucapan Hoseok yang cenderung memerintah itu tidak digubris. Jungkook terlihat tak berniat menuruti perkataan pemuda indigo itu. Ia tidak menatapnya, ia mengalihkan pandangannya sambil memeluk boneka kelinci milik Taehyung dengan erat.
Hoseok masih bersabar. Ia kembali menatap Jungkook dan mengulang perkataannya. "Kembalikan barang-barang milik Taehyung, Jeon Jungkook."
Ia dapat melihat Jungkook menggelengkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di balik boneka kelinci yang berukuran cukup besar itu. Ia menggumamkan sesuatu—namun Hoseok tidak dapat mendengarnya.
Tiba-tiba saja Taehyung berdiri dan berlari ke luar kamar. Hoseok bangkit dari ranjang Taehyung dan ikut berdiri karena agak terkejut dengan tingkah teman serumahnya yang tidak terduga itu. Ia lalu duduk kembali dan mengarahkan pandangannya pada sesosok arwah imut yang masih memeluk boneka.
"Kenapa kau mengambilnya?" tanya Hoseok tanpa basa-basi.
"Aku—"
"Ponselku sudah ketemu! Hyung, lihat, ponselku sudah ketemu! Yeay!" Taehyung berteriak sambil berlari memeluk Hoseok. Otomatis wajah Hoseok langsung memerah dan ia mendorong tubuh Taehyung agar jantungnya tidak meledak.
Senyum Taehyung masih menghiasi wajahnya walaupun pelukannya dilepaskan secara paksa. Ia tersenyum lebar, menunjukkan gigi putihnya yang rapi. Tangannya memegang sebuah benda kotak berwarna hitam yang ditunjukkannya tepat di depan wajah Hoseok. "Hyung, lihat!"
Yang dipanggil hyung memundurkan kepalanya dan matanya mencuri-curi lirikan ke arah Jungkook. "Ba-bagaimana bisa? Kukira kau menghilangkannya di kamar ini."
"No no no, aku tidak pernah bilang begitu," kata Taehyung sambil menggoyangkan jari telunjuknya di depan Hoseok. "Aku bilang, aku lupa dimana aku menaruhnya terakhir kali. Dan ternyata ada di kamar mandi."
"Kamar mandi?"
Taehyung menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Iya, Seokjin hyung yang menemukannya." Ia meletakkan ponselnya di mejanya. "Tapi, kenapa kelincinya belum ketemu ya?"
Hoseok yang tadinya hendak berdiri dan kembali ke kamarnya sontak menoleh pada Taehyung yang membahas tentang boneka kelincinya. Ia menatap Taehyung penasaran.
"Taehyung-ah, sepertinya kau suka sekali dengan boneka itu, kenapa? Kau suka kelinci?" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya.
"Um..." Taehyung memandang jauh ke langit-langit kamar. "Tidak juga, aku suka singa."
Raut wajah Hoseok terlihat bingung setelah mendengar jawaban Taehyung. Dan ia semakin bingung saat Taehyung menambahkan, "tapi entah kenapa aku merasa, boneka itu rasanya spesial. Mungkin karena enak dipeluk?"
Di ujung matanya, Hoseok dapat melihat Jungkook—yang tadi membenamkan wajahnya pada boneka kelinci milik Taehyung—mengangkat kepalanya dan menatap Taehyung dengan senyum kecut, entah karena apa.
Lalu sebuah senyum yang dipaksakan muncul di bibir Hoseok. Ia menatap Taehyung dan bersikap semanis mungkin yang ia bisa—walaupun itu agak menjijikan. "Bagaimana kalau kita pergi membeli boneka singa untukmu?"
Setelah mengatakan itu, bibir Hoseok tidak diam. Ia menggerakkan bibirnya tanpa suara. Ia bicara pada Jungkook agar si-imut-yang-bukan-manusia itu pergi ke kamarnya—kamar Hoseok—dan menunggunya.
Taehyung menggeleng. Ia memajukan bibirnya—yang menurut Hoseok sangat menggemaskan. "Hoseok hyung, aku ini kan laki-laki! Kenapa kau ajak pergi membeli boneka?"
Saking gemasnya, Hoseok tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menarik bibir Taehyung dan mencubit pipinya. "Kau sendiri yang bilang kalau kau tidak bisa tidur tanpa boneka kelincimu itu, Kim Taehyung, jadi tidak salah kalau aku mengajakmu."
Taehyung mendesis kesal—tapi imut.
"Jadi," Hoseok kembali bicara, "mau atau tidak?"
"Mau!"
.
Sudah lebih dari dua jam setelah Hoseok dan Taehyung pergi untuk membeli boneka singa. Itu artinya, sudah lebih dari dua jam pula Jungkook sendirian di kamar Taehyung, menunggu si pemilik kamar tanpa menyentuh apapun yang ada di dalam ruangan itu.
Sedari tadi ia hanya berpikir. Bagaimana jika Taehyung benar-benar mendapatkan boneka baru? Boneka singa yang disukainya? Ia takut. Ia takut jika boneka baru yang dibeli Taehyung akan menggantikan peran boneka kelinci yang diambilnya. Ia takut jika Taehyung lebih memilih singa barunya dibandingkan kelinci birunya. Ia takut Taehyung akan melupakannya lebih dari ini. Ia benar-benar takut.
Jungkook menatap kakinya. Ia mengenakan sepatu milik Taehyung. Sepatu converse biru yang diambilnya tempo hari. Lalu ia menoleh pada boneka yang masih dipeluknya. Ia menatapnya bergantian. Matanya sendu, seolah teringat akan kenangan pahit. Ingin rasanya ia letakkan boneka itu di tempatnya semula, namun otaknya melarangnya. Begitu pula dengan sepatu yang dikenakannya. Aku masih ingin membuat Taetae hyung ingat semuanya.
Flashback
Kim Taehyung berjalan di dalam rumah sewaannya dengan mata yang tertutup oleh sepasang tangan milik sahabatnya, Park Jimin. Ia berjalan dengan tangan yang meraba-raba ke depan, walaupun Jimin sudah menuntunnya dari belakang.
"Park Chimchim, ada apa sih? Kenapa mataku harus ditutup seperti ini? Memangnya aku anak kecil yang melihat adegan ciuman saat menonton film?!" omelnya sambil tetap meraba dinding dengan kedua tangannya.
Jimin menguatkan tangannya pada mata Taehyung, membuatnya menjerit pelan. "Sudah diam saja dan jalan!"
Mereka terus berjalan hingga sampai di kamar Taehyung. Jimin menendang pintunya dan pintu terbuka dari dalam. Ia lalu melepaskan tangannya dari mata Taehyung.
Taehyung mengedip-ngedipkan matanya yang masih kabur karena ditutup dengan tangan Jimin. Ia dapat melihat cahaya lampu yang agak redup. Samar-samar ia melihat beberapa orang yang ia kenal tersenyum sambil mengenakan topi kerucut. Orang yang berada di hadapan Taehyung membawa sesuatu yang terlihat seperti kue.
"Happy birthday Kim Alien!" sahut mereka—kecuali Taehyung—bersamaan. Seorang pemuda bergigi kelinci yang membawa kue melanjutkan, "Taetae hyung, cepat tiup lilinnya, wajahku panas!"
Semua tertawa, kecuali Taehyung yang mendengus kesal.
"Kau ini tidak tulus sekali sih, pegang kue saja marah-marah!" katanya sambil meniup lilinnya ke wajah Jungkook. Ia lalu menatap dekorasi yang ditempelkan di dinding. "Aku ulangtahun hari ini? Memangnya hari ini tanggal berapa?"
"Tiga puluh Desember, dasar bodoh," jawab Jimin sambil menjitak kepala Taehyung pelan.
"Oh." Taehyung memasang wajah bodohnya. "Lalu hadiahku mana?"
Semua orang di sana—Jimin, Seokjin dan Namjoon—memutar bola matanya mendengar pertanyaan Taehyung yang blak-blakan itu, kecuali Jungkook yang langsung menaruh kue yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah kotak besar yang berbungkuskan kertas kado kuning bergambar Winnie the Pooh. Ia menyerahkan kotak tersebut pada Taehyung, yang berwajah masam setelah melihat kotak tersebut.
"Kenapa Winnie the Pooh? Aku kan suka Iron Man!" Ia menggerutu sambil membuka kotak tersebut dengan hati-hati. Jungkook selaku pemberi kotak tersebut hanya diam menatap Taehyung antusias, sedangkan yang lainnya menatap mereka penasaran.
Kening Taehyung berkerut setelah melihat isi kotak tersebut. Ia mengeluarkan sebuah benda berbulu berwarna putih dan biru, dan benda tersebut memiliki dua pasang telinga yang cukup panjang. Sebuah boneka kelinci yang lucu.
Taehyung menatap Jungkook aneh. "Boneka kelinci? Kau pikir aku pacarmu? Dasar menyebalkan!"
Ia melempar boneka tersebut tepat ke wajah si pemberi. Namun si pemberi hanya tertawa dan memeluk boneka yang secara khusus ia belikan untuk hyungnya itu. "Hyung kan tidak bisa tidur kalau sendirian. Aku berikan kelinci agar kau selalu teringat padaku."
Wajah Taehyung yang tadinya masam berubah, kerutan di keningnya pun menghilang. "Benar juga. Thanks, Kelinci."
Belum sempat Jungkook membalas perkataan Taehyung, dirinya sudah didorong oleh Jimin yang kini menyodorkan kotak hadiahnya pada sang birthday boy. Berbeda dengan kotak super besar pemberian Jungkook, hadiah dari Jimin ini tidak terlalu besar, dan dibungkus dengan kertas kado polos berwarna biru tua.
"Ayo buka, Kim Taetae!" kata Jimin bersemangat. "Kau pasti suka, tidak mungkin tidak, pokoknya aku jamin kau pasti suka!"
Tangan Taehyung membuka kotak pemberian Jimin dengan kening yang kembali berkerut. Matanya membulat dan tangannya langsung mengeluarkan isi kotak tersebut. Sepasang sepatu converse berwarna biru. Mulutnya terbuka dan matanya menatap sepatu itu dan Jimin bergantian. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia benar-benar menginginkan sepatu ini, dan sahabatnya, Park Jimin memberikannya secara cuma-cuma di hari ulangtahunnya.
Taehyung langsung memeluk Jimin sambil bersorak riang.
"Terima kasiiiih Park Jimin, aku cinta kamu!" katanya sambil mencium bibir Jimin singkat.
Entah merasa malu atau merasa jijik, Jimin mendorong Taehyung sehingga ciumannya terlepas. Taehyung masih tersenyum lebar. Ia lalu menoleh pada Jungkook yang menatapnya sambil cemberut.
"Jadi Taetae hyung hanya cinta Jimin hyung saj—"
Chu~
Taehyung mencium bibir Jungkook sama seperti ia mencium Jimin. Bedanya, Jungkook tidak mendorong Taehyung dan hanya bisa melotot tanpa melakukan apapun.
"Aku juga cinta Jungkook!" Ia beralih ke arah Seokjin dan Namjoon yang sibuk menyantap kue. Taehyung mencium mereka bergantian. "Aku juga cinta Seokjin hyung dan Namjoon hyung!"
Mereka berempat menatap Taehyung yang kini tersenyum lebar dengan krim yang menempel di bibirnya. "Semoga senyumnya takkan pernah hilang," ucap mereka dalam hati.
Flashback End
Jungkook menghela nafasnya—setidaknya ia bertingkah begitu. Perlahan, ia meletakkan boneka kelinci biru itu di ranjang Taehyung. Ia juga melepaskan sepatu yang dikenakannya dan meletakkannya di dekat pintu. Namun, tak sampai dua menit ia meletakkan boneka dan sepatu tersebut, ia kembali mengambilnya dan memeluk kedua benda itu dengan erat. Lalu ia pun pergi meninggalkan kamar Taehyung sebelum pemiliknya datang.
.
Pintu kamar Hoseok akhirnya terbuka setelah pemiliknya pergi bersama penghuni kamar sebelah untuk membeli sebuah boneka singa. Hoseok masuk ke dalam kamarnya dengan membawa sebuah bungkusan berisi boneka kuda poni. Boneka pilihan Taehyung yang ia beli untuk dirinya sendiri, karena paksaan dari si pemilih boneka yang mengatakan bahwa Hoseok kadang terlihat seperti seekor kuda, dan kuda poni adalah satu-satunya boneka kuda yang mereka temukan. Beruntung ukurannya tidak sebesar boneka singa yang dipilih Taehyung—yang tingginya hampir mencapai setengah paha orang dewasa. Ia mengeluarkan boneka tersebut dari plastiknya dan meletakkannya di atas mejanya.
"Oh, Jeon Jungkook," katanya saat melihat Jungkook yang menunggunya di dekat jendela dengan boneka kelinci dalam pelukannya. "Maafkan aku karena terlalu lama."
Jungkook menggeleng. "Tak apa. Bisa aku cerita sekarang? Rasanya... aku ingin meminta tolong padamu, hyung."
Ingin rasanya ia mengusak rambut Jungkook, entah kenapa, tapi yang dapat Hoseok lakukan hanyalah tersenyum. "Tentu, berceritalah."
"Hyung, aku..." Jungkook menundukkan kepalanya. "Aku rindu Taetae hyung."
Hoseok tidak merespon. Ia hanya menatapnya, memberi tanda bahwa ia mendengarkan setiap kata yang akan Jungkook katakan.
"Aku pernah memaksanya menemaniku ke suatu tempat, aku memaksanya menggunakan mobil milik Jimin hyung," ia mulai bercerita. "Waktu itu, kami bertiga menginap di rumahku dan Jimin hyung sedang ada urusan, dan mobilnya ditinggal dirumahku. Karena aku bosan, aku mengajak Taetae hyung untuk pergi berkeliling dengan mobil itu, padahal Jimin hyung sudah melarang kami memakainya karena mobil itu akan segera masuk bengkel."
Jungkook berhenti berbicara. Tubuhnya terlihat sedikit bergetar, seperti sedang menahan tangis. Dan benar saja, setetes airmata jatuh dari matanya. Ia melanjutkan ceritanya dengan suara yang sedikit serak. "Aku memaksanya. Aku memaksa Taetae hyung untuk mengendarainya bersamaku."
Mata Jungkook kembali mengeluarkan airmatanya dan itu membuat Hoseok seolah dapat merasakan kesedihannya, walaupun cerita belum selesai, namun hatinya sudah merasa sakit. Ia menatap Jungkook iba. "Pelan-pelan saja, Jungkook-ah, tidak perlu buru-buru."
Setelah membalas dengan anggukan, Jungkook kembali membuka mulutnya. "Kami bertemu dengan Jimin hyung di jalan, dan menabraknya."
Flashback
Jungkook berlari ke arah Taehyung yang sedang membaca komik sambil berbaring di lantai. Ia membaringkan tubuhnya di atas tubuh Taehyung dan mengambil komik yang sedang dibacanya. Ia tersenyum lebar, memamerkan gigi depannya yang lucu seperti kelinci.
"Hyung!" panggilnya. "Ayo kita jalan-jalan, aku bosan."
"Kemana? Kita tidak punya kendaraan yang bisa digunakan," jawab Taehyung sambil berusaha menyingkirkan Jungkook dari atas tubuhnya. "Bangun, kau berat."
Alih-alih menyingkir dari tubuh Taehyung, bocah bergigi kelinci itu malah menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil tertawa, membuat hyungnya terbatuk-batuk.
"Uhuk uhuk, Jeon Jungkook... Uhuk."
"Aku tidak akan bangun sebelum hyung mengajakku jalan-jalan," katanya sambil pura-pura cemberut. "Ada mobil Jimin hyung di garasi."
Taehyung mendengus dan menatap Jungkook serius. "Tidak, Kelinci. Chim bilang kita tidak boleh menggunakannya, ingat?"
"Ayolah, hyuuung, kita kan tidak akan lama. Lagipula Jimin hyung akan membawanya ke bengkel besok pagi," rengeknya sambil mengguncang-guncang tubuh Taehyung yang ada di bawahnya. "Ayo pergi hyung, kumohooon~"
Rengekan seorang Jeon Jungkook adalah titik lemah Kim Taehyung. Ia tidak pernah dan tidak akan pernah bisa menolak apapun yang diinginkannya jika ia merengek.
"Iya iya, tapi jangan terlalu jauh, deal?" kata Taehyung sambil mengulurkan tangan kanannya.
Wajah Jungkook menjadi berseri-seri. Ia berteriak, "DEAL!" dan langsung memeluk Taehyung, mengabaikan tangan hyungnya yang terulur untuknya. "Yeay! Taetae hyung memang yang terbaik!"
.
Sebuah mobil berwarna putih yang tidak terlalu mewah melaju di jalanan komplek dimana rumah keluarga Jeon berada. Di dalamnya, ada dua pemuda berambut coklat tua yang tertawa riang menikmati perjalanan mereka.
Tiba-tiba satu pemuda yang berada di kursi penumpang berhenti tertawa dan menarik-narik pakaian si pengemudi. Tangannya menunjuk seorang pemuda berambut merah yang berjalan kaki sambil memainkan ponselnya. "Hyung, bukankah itu Jimin hyung?"
Taehyung yang sedang mengemudi lalu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Jungkook. "Oh, kau benar, ayo kita angkut dia."
Kaca mobil di sisi pengemudi terbuka dan Taehyung menyembulkan kepalanya keluar.
"Park Chimchim!" panggilnya sambil mengarahkan mobil ke arah Jimin. Namun saat ia hendak menurunkan kecepatannya, ia kehilangan kendali. Ia panik.
"Jeon Tokki! Bagaimana iniiii?"
Jungkook yang juga panik hanya bisa berteriak tanpa membantu apapun. "Hyung, hentikan mobilnya!"
"Tidak bisa," jawabnya sambil tetap menginjak-injak pedal rem. Ia membanting setir agar mobilnya tak menabrak sahabatnya itu, namun usahanya sia-sia. "PARK JIMIN AWAS!"
"HYUNG!"
BRAK!
Orang-orang mulai berdatangan setelah mendengar suara keras di jalanan. Sebuah mobil menabrak pohon besar di atas trotoar, dan seorang pemuda berambut merah terbaring bersimbah darah di dekat mobil tersebut.
Kap mobil mengeluarkan asap yang mengepul. Di dalamnya, ada seorang pemuda yang juga bersimbah darah sambil memeluk erat si pengemudi. Pelukannya mengendur seiring dengan kesadarannya yang mulai pudar. Sedangkan si pengemudi sedikit terluka di bagian dahinya—berkat perlindungan pemuda tadi. Ia menggumamkan sesuatu sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.
"Jungkook-ah... Jimin-ah... Maafkan... aku..."
Flashback End
Jungkook masih berurai airmata. Ia menceritakan masa lalunya—yang ingin ia lupakan—sambil terisak. Hoseok yang mendengarkan cerita Jungkook hanya bisa diam dan menatapnya iba. Ingin ia memeluknya dan menenangkannya, namun ia sadar bahwa mereka itu berbeda, ia tak dapat menyentuhnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Yang ia tahu, Jungkook pasti masih merasa sakit oleh kenangan itu.
"Jungkook-ah, tidak apa-apa, menangislah dulu. Aku tidak akan memaksamu menceritakan semuanya sekarang. "
Ia mengangkat kepalanya dan matanya menatap Hoseok sendu.
"Aku memang tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti," kata Hoseok sambil menatap Jungkook lembut, "tapi aku tahu, kesedihanmu itu pasti sangat sulit untuk dilupakan."
"Tidak apa-apa." Jungkook tersenyum kecil disela-sela tangisnya. Ia menghapus airmatanya dan mengalihkan pandangannya ke boneka kelinci yang masih ada di pelukannya.
"Hoseok hyung," panggilnya. "Kau pasti ingin mendengar ceritaku selanjutnya. Mungkin agak aneh dan kau mungkin akan menganggapku gila, tapi ini yang menjadi alasanku mengganggu Taetae hyung."
Hoseok yang mendengar peringatan Jungkook menelan ludahnya. Wajahnya tegang dan serius. Bersiaplah untuk sebuah cerita tak masuk akal dari sebuah arwah, Jung Hoseok.
.
.
.
TBC
.
.
.
Special Short Story
Setelah membereskan meja makan setelah sarapan tadi, Seokjin berusaha keras menghindari Namjoon. Insiden yang terjadi antara mereka di meja makan membuatnya sangat malu dan rasanya ia tidak sanggup bertemu muka dengan pemuda yang lebih muda darinya itu.
Sebenarnya tidak masalah karena Seokjin bisa saja memasang poker face jika bertemu dengannya. Namun, yang jadi masalah adalah, kemanapun ia pergi, Namjoon selalu mengikutinya seperti ekor. Seperti tadi ketika ia sedang mencuci piring, pemuda itu terus memperhatikannya tanpa menyadari gerak-gerik Seokjin yang tidak nyaman. Ketika ia kembali ke kamarnya pun, Namjoon mengikutinya walaupun ia tidak sampai masuk ke dalam—ia diam di depan pintu yang terbuka sambil tetap menatap Seokjin.
Bahkan, kini saat Seokjin hendak masuk ke kamar mandi, pemuda sipit berlesung pipi itu masih saja mengekor di belakangnya.
"Kim Namjoon! Apa kau tidak lihat kalau aku akan masuk ke kamar mandi?! Kau ingin melihatku telanjang atau bagaimana?! Berhenti mengikutiku!" bentaknya sambil menutup pintu kamar mandi dengan keras—meninggalkan Namjoon yang masih diam di depan pintu.
Di dalam kamar mandi, Seokjin melepas kacamatanya dan menatap wajahnya sendiri di cermin yang ada di atas wastafel. Wajahnya terlihat marah, namun pipinya merona. Ia mengacak rambutnya frustasi. "Argh! Ada apa sih dengan anak itu? Bagaimana bisa dia melakukan itu padaku? Kalau begini dia bisa tahu kalau aku menyukai—"
Cklek!
"—nya."
Pintu kamar mandi terbuka dan seorang pemuda bernama Kim Namjoon masuk ke dalamnya sambil tersenyum. Oh tidak, kau lupa mengunci pintunya, Kim stupid Seokjin.
"Apa yang kau—"
Ucapan Seokjin terhenti karena bibirnya kini dikunci oleh bibir Namjoon. Pemuda itu menciumnya lagi, dan tangannya melingkar di pinggang Seokjin.
Kim Seokjin shock.
Mereka diam dengan bibir yang menempel satu sama lain, hingga tangan Seokjin mendorong Namjoon dengan paksa. Ia kembali menatap cermin sambil menutup matanya. Kim Namjoon bodoh, Kim Namjoon bodoh, Kim Namjoon bodoh!
Tiba-tiba Seokjin merasa ada sepasang tangan yang kembali melingkar di pinggangnya, dan ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Dan orang itu tidak lain adalah Kim Namjoon yang tadi didorongnya.
"Hyung," panggilnya sambil meletakkan kepalanya di pundak lebar Seokjin, membuat rona merah di pipinya tak kunjung pergi.
Seokjin berusaha melepaskan pelukan Namjoon dengan susah payah, dan kakinya tak sengaja menginjak genangan air yang ada di lantai. Ia relfeks menarik tangan Namjoon agar tidak terjatuh, namun tarikan tangannya itu malah membuat Namjoon ikut terjatuh bersamanya.
Dan kini beginilah mereka, terbaring di lantai dengan Namjoon yang hampir menindih Seokjin. Yang ditindih menutup matanya dan mengalihkan wajahnya ke kanan, menutupi warna merah yang membuat wajahnya panas, sementara yang menindih hanya menatap hyungnya sambil tersenyum jahil.
"Seokjin hyung," panggil Namjoon sambil menusuk-nusukkan jari telunjuknya di pipi Seokjin. "Buka matamu."
Seakan tersihir oleh suara Namjoon, ia membuka matanya perlahan—namun masih mengalihkan wajahnya. Saat ia membuka matanya, ia melihat sebuah benda kecil berwarna hitam di dekat toilet. Sebuah ponsel.
Ia mendudukkan dirinya—mengabaikan Namjoon yang masih ada di hadapannya—dan menyalakan ponsel tersebut. Ada sebuah gambar singa animasi yang terpasang sebagai wallpapernya.
"Wah, ponselku!"
Seokjin dan Namjoon sontak menoleh ke arah pintu. Entah sejak kapan Taehyung ada di sana, dan wajahnya tersenyum melihat benda hitam yang digenggam oleh Seokjin.
Taehyung berjongkok di dekat Seokjin dan langsung mengambil ponselnya, lalu ia keluar dari kamar mandi sambil melompat-lompat. Sebelumnya, ia sempat mencuri ciuman singkat dari Seokjin. "Terima kasih, hyung!"
Kedua pemuda yang masih terduduk di lantai kamar mandi itu melongo melihat Taehyung yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba pergi. Salah satu dari mereka langsung berdiri dan berlari ke luar kamar mandi sambil memegang kedua pipinya, meninggalkan pemuda lainnya di dalam sana.
"Dasar hyung itu, ia bahkan belum menyelesaikan urusannya di kamar mandi," gumam Namjoon sambil menggaruk-garuk kepala. Ia mengambil handuk berwarna pink dan kacamata yang tergeletak di dekat wastafel, lalu berjalan keluar dari kamar mandi sambil bersiul.
.
.
.
END
Haiiii~~~~
Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan yang super duper terlambat ini. Maklum lah jiwanya masih jiwa mudik (?)
Di chap 4 ini udah dikasih clue kenapa Jungkook ngambilin barang-barangnya Taehyung, Jimin juga udah muncul sedikit XD terus maaf ya lagi-lagi kalian digantungin sama ceritanya Jungkook, chap depan janji deh, suer ._.v
Buat NamJin shipper, gimana tuh special story nya? Hahaha efek belum puas bikin NamJin di chap kemarin nih jadi aja cerita itu muncul, geje ya XD
Tentang pairing di ff ini, anon mau perjelas lagi yaa. Disini pairingnya VHopeKook dituker-tuker(?) pokoknya ngga akan jauh dari mereka, walaupun nanti bakalan ada couple lain yang nyempil, tapi mereka ngga akan jadian :" soalnya ff ini kan lebih ke friendship hehe. Tapi kalo sewaktu-waktu ada adegan romance macam NamJin... mohon diterima aja ya XD
Oh, sedikit spoiler juga buat chap depan, bakalan ada female cast nih hahaha. Tapi tenang~ si cewek ini ngga bakalan ngeganggu pairing yang udah ada kok, cuma bakalan muncul sedikit aja.
By the way, anon agak sedih deh, kok rasanya ffn makin sepi ya? Apa karena udah masuk ajaran baru? Apa karena liburan udah selesai? Atau jangan-jangan... semua udah pada males buka ffn? *semoga aja ngga*
Sebelum cuap-cuap author yang panjang ini berakhir, anon mau ngucapin terimakasih yang sebesar-besarnya untuk yang udah sabar nunggu ff ini, kalian luar biasa! XD buat yang udah review, follow, favorite, dan yang baca tapi keep silent juga makasih banyak ya, aku sayang kalian. XOXO
