Switch!

Chapter 4: Waktunya Berdiskusi

.

.

Switch!

Chapter 4: Waktunya Berdiskusi

Author: Yurina305
Rated: T
Genre: Humor, Friendship, Romance
Warning: OOC, Typo bertebaran, Gaya penulisan berubah-ubah, Bahasa amburadul, dan kekurangan lainnya.

.

.

-Happy Reading-

.

.

.

.

Nagisa tercengang melihat pemandangan yang terlihat di depannya. Sungguh, Nagisa saat ini ingin sekali memukul Karma, masa bodoh dengan tubuh siapa yang ingin di pukulnya itu, toh, yang merasakan sakitnya juga Karma.

Sedangkan Karma yang sedang duduk berhadapan dengannya itu tengah tersenyum seakan memamerkan keadaannya saat ini.

Nagisa menghela nafas panjang dan berusaha bersikap setenang mungkin. "Karma-kun, apa ini?"

"Apa maksudmu, Nagisa-kun?" Karma masih terus memasang senyumannya. Berpura-pura tidak mengerti maksud Nagisa.

"Kenapa kau memakai baju perempuan!?" Teriak Nagisa sambil menunjuk Karma yang masih tersenyum.

"Karena kau terlihat manis jika memakai baju ini!" Ucap Karma sembari berdiri dan berputar-putar di depan Nagisa.

Nagisa facepalm. Suatu kesalahan memberikan tanggung jawab tubuhnya pada Karma.

Ini adalah hari libur dan mereka berada di kafe tempat yang di janjikan Karma untuk membahas masalah pertukaran jiwa mereka. Seharusnya begitu.

Tapi kenapa? Karma datang menggunakan tubuh Nagisa dengan baju perempuan. Dan darimana pula Karma mendapat baju itu!?

Nagisa menatap tubuhnya yang sedang di diami Karma. Rambut biru miliknya itu terurai. Baju warna biru muda dengan gradasi biru tua. Pita merah yang menggantung di antara celah kerah bajunya. Rok hitam pendek yang hanya menutupi setengah pahanya.

Nagisa terdiam. "Manis.."

'Tidak! Tidak boleh! Aku tidak boleh tergoda dengan tubuhku sendiri!'

"Ya-Yang jelas, Karma-kun! Ganti baju sekarang!" Perintah Nagisa sambil mendorong Karma agar segera menuju toilet.

"Tunggu, Nagisa-kun! Aku tidak membawa baju ganti!"

"Yasudah, akan ku belikan di toko sebelah yang penting sekarang pergilah ke toilet dulu!" Nagisa mendorong Karma menuju toilet sebelum ada orang yang mengenalnya melihat dia memakai baju perempuan.

Nagisa segera menutup pintu toilet begitu Karma masuk, lalu ia bergegas ke toko baju di sebelah kafe. Untung saja ada toko baju di sana, jadi dia tidak perlu jauh-jauh.

Yah, harus Nagisa akui, dirinya memang terlihat manis memakai baju itu. Tapi bukan itu masalahnya. Dia itu laki-laki. Dan dia tidak suka memakai baju perempuan. Meskipun yang saat ini yang memakai baju itu adalah Karma, tapi tetap saja itu tubuhnya.

"Padahal kau terlihat cocok memakai baju itu." Karma tersenyum jahil pada Nagisa yang sedang memasang wajah kesal.

Karma sudah memakai baju normal. Dan itu membuat Nagisa lega. Sebelumnya Karma sempat menolak mengganti baju sehingga dengan terpaksa Nagisa sendirilah yang mengganti baju yang Karma pakai kan di tubuhnya.

Karma menghela nafas sebelum akhirnya dia tersenyum. 'Syukurlah sudah ku foto sebelum kemari.'

Dan entah kenapa Nagisa merinding.

"Baiklah. Kembali ke tujuan utama kita. Apa kau ada ide agar kita bisa kembali, Nagisa-kun?" Tanya Karma.

"Mungkin.." Jawab Nagisa agak ragu. "Kalau menurutmu kita harus bagaimana, Karma-kun?"

"Menurutku ini aneh. Kita bertukar jiwa hanya karena berdejukan saat itu." Nagisa mengangguk mendengar penuturan dari Karma.

"Bukankah itu berarti kita hanya harus berjedukan lagi, Karma-kun?"

"Nagisa-kun, kita sudah mencobanya kemarin. Dan itu tidak berhasil."

"Karena itu kita harus melakukannya dengan lebih keras!"

Karma facepalm. Memang tabrakan kepala mereka saat pertama bertukar jiwa itu sangat keras. Tapi apakah memang hanya karena itu?

"Mungkin ada campur tangan lain." Gumam Nagisa. Karma yang mendengar itu langsung menatap Nagisa serius.

"Maksudnya?"

"Penyihir.. mungkin."

"Nagisa-kun, Penyihir itu tidak ada."

"Tapi pertukaran jiwa itu biasanya di hiasi dengan hal-hal mistis, Karma-kun! Memangnya ini bisa di percaya kalau kita bertukar jiwa hanya dengan jedukan?"

"Kau terlalu banyak menonton film, Nagisa-kun."

"..."

Nagisa dan Karma terdiam dan mencari cara lainnya.

"Mungkin kita harus meminum suatu ramuan untuk bisa kembali." Tutur Nagisa

"Ha?"

"Siapa tahu ada alat atau minuman yang bisa membuat kita kembali normal."

"Ide bagus. Tapi dapat darimana?"

"Okuda-san."

"Nagisa-kun, aku tahu kalau Okuda-san pintar IPA dan bisa membuat berbagai cairan kimia yang sering aku manfaatkan untuk melakukan kejahilan. Tapi saat ini di seluruh dunia masih belum ditemukan alat yang bisa membuat orang bertukar jiwa. Dan kau pikir Okuda-san bisa membuatnya?"

Nagisa hanya tersenyum sedangkan Karma kembali terdiam.

Sedetik kemudian Karma tersenyum licik sambil menjetikkan jarinya.

"Begini.." Karma mendekat kearah Nagisa. "Menurutku kita harus ciuman."

"..."

"..."

"..."

"..."

"Karma-kun, Kau serius?"

"Tentu saja aku serius, Nagisa-kun!" Dalam hati Karma, ia tertawa karena ada kesempatan agar bisa berciuman dengan Nagisa.

"Karma-kun, kau tahu darimana?"

"Darimana aku tahu itu tidak penting, Nagisa-kun! Lebih baik kita mencobanya saja untuk melihat apakah kita bisa kembali atau tidak."

"Karma-kun, Kau tidak mengetahuinya lewat film kan?"

"..."

"..."

"Nagisa-kun. Ada banyak film dan cerita yang mengisahkan tentang pertukaran jiwa, tapi aku sendiri tidak tahu kenapa ini benar-benar terjadi di dunia nyata, dan sebagian jalan keluarnya adalah dengan berciuman. Kau tahu?" Karma memberikan penjelasan agar Nagisa percaya.

Ini memang bukan untuk mengembalikan mereka. Tapi untuk bisa berciuman dengan pujaan hatinya itu. Salah satu modus Karma.

Nagisa, apa kau tahu betapa sakitnya hati Karma saat kau pernah berciuman dengan Bicth-sensei?

"Kalau menurutku, kita harus tersambar petir." Ucap Nagisa. Karma terdiam.

"Nagisa-kun, itu bahkan lebih buruk daripada berjedukan kemarin." Karma langsung beranggapan kalau mungkin saja Nagisa berubah menjadi masokis.

"Karena tersambar petir itu penuh misteri(?). Aku pernah melihat film dimana orang yang tersambar petir tertukar jiwanya. Dan ada juga orang yang tersambar petir tiba-tiba mempunyai kekuatan super."

Lagi-lagi korban film.

"Tapi, Nagisa-kun, itu tetap saja.."

"Lagipula saat kita bertukar jiwa kemarin, ada hujan dan petir kan?"

Karma kembali terdiam. Yang benar saja, yang ada mereka bisa mati. Kemudian tiba-tiba Karma teringat sesuatu.

"Nagisa-kun. Apa kau tahu? Ada yang mengatakan kalau gedung kelas 3-E itu misterius. Bisa saja penyebabnya-.."

"Wah, rupanya kelas E, sedang apa kalian kesini?" Tanya Asano yang tiba-tiba datang, sekalian PDKT dengan Nagisa, sang pujaan hatinya. Karma kesal karena kalimatnya di potong oleh Asano.

"Pagi, Asano-kun." Sapa Nagisa. Sedangkan Karma memasang wajah kesal.

Asano terdiam. Apa ini? Akabane Karma-dengan jiwa Nagisa- menyapanya dengan senyuman? Dan ada apa dengan Shiota Nagisa-dengan jiwa Karma- yang cuek padanya ini?

"Untuk apa kau kesini, Asano-kun?" Tanya Karma dengan nada kasar.

"Nagisa, kamu sakit?" Tanya Asano sambil memegang dahi Karma dengan telapak tangannya. 'Tidak panas.'

'Oh Tuhan! Apa yang kau lakukan pada malaikatku ini? Kenapa sekarang dia jadi jutek padaku? Apa salahku, Tuhan!?'

Karma menepis tangan Asano. "Jangan pegang-pegang! Sudah sana pergi, Jangan balik lagi!"

Mungkin sekarang kita bisa melihat petir menyambar di belakang Asano, atau ada sebuah panah yang menancap. Tepat di kokoro. Hancurlah perasaan Asano saat ini.

"Kar-.. Nagisa-kun! Jangan kasar begitu, kan kasihan Asano-kun. Maaf ya Asano-kun." Ucap Nagisa pada Asano.

"Ah, tidak apa-apa, setelah memesan, aku memang harus pulang, kok."

"Oh.. yasudah, sampai jumpa, Asano-kun!"

Asano mematung. Wajah Nagisa yang biasanya selalu tersenyum padanya kini menatapnya hina. Ini sakit. Sumpah.

Karma, sang saingan cinta Asano, yang biasanya selalu bermusuhan dengannya itu sekarang terlihat ramah dan saat ini Karma tengah tersenyum padanya. Mana senyumnya manis banget, lagi. Plis.. kokoro ini sudah tidak kuat.

Ini horror.

'Ada apa dengan mereka berdua!?'

"Akhirnya si pengganggu sudah pergi." Gumam Karma sambil menghela nafas saat Asano sudah pergi dari tempat duduk mereka.

Nagisa menatap Karma. "Karma-kun. Jangan bermusuhan terus dengan Asano-kun. Lagipula kenapa kalian selalu bermusuhan, sih?"

"Takdir mungkin. Lagipula kau tahu sendiri kenapa kami selalu begini." Jawab Karma enteng.

Nagisa menghela nafas dan terdiam di tempatnya. Memang Karma dan Asano kalau bertemu pasti ada kobaran api di antara mereka. Nagisa makhlum, sih. Tapi masalahnya ini sekarang Karma sedang berada di tubuhnya.

Karma dan Asano adalah saingan dalam berbagai hal. Termasuk saingan dalam mendapatkan Nagisa. Karma tersenyum saat sadar kalau pasti Asano syok karena melihat Nagisa seperti itu padanya. Rupanya keadaan ini bisa memungkinkan Karma untuk mengerjai Asano.

"Hey! Nagisa, Karma, pagi-pagi sudah kencan saja." Suara Isogai memecah keheningan. Tunggu. Isogai?

Nagisa dan Karma lalu mengalihkan pandangan pada sosok Isogai di samping mereka.

"Wuah! Isogai-kun, kau mengagetkanku!" Teriak Nagisa. Dia dapat melihat ada Maehara di belakang Isogai.

"Bukankah kalian sendiri yang sedang berkencan? Iyakan?" Tebak Karma yang memang sudah tahu situasi antara Isogai dan Maehara.

"Apaan sih! Ngomong-ngomong kalian benar sedang berkencan ya?" Tanya Maehara.

"Hanya sedang mengobrol saja." Jawab Karma. Padahal dalam hati dia ingin sekali berkata "Iya! Kami sedang berkencan" dengan bangganya.

"Ohya? Mengobrol apa?" Tanya Maehara.

Nagisa dan Karma terdiam. "Bukan apa-apa." Bisa gawat kalau mereka mengatakan yang sebenarnya.

"Hee? Benarkah?"

"Sudahlah, itu tidak penting. Kalian datang hanya berdua?" Tanya Karma.

"Hmm.. iya.. baru saja." Jawab Maehara.

Maehara dan Isogai lalu mengambil tempat duduk di meja yang sama dengan Karma dan Nagisa.

"Karma-kun. Kurasa mulai sekarang kita harus memanggil nama dengan nama sendiri." Bisik Nagisa karena saat ini mereka berempat.

"Ya. Sudah beberapa kali kita salah panggil. Jadi sekarang kita harus mulai membiasakannya, Nagisa-kun." Balas Karma.

Maehara dan Isogai lalu memesan minuman. Nagisa dan Karma yang sadar dari tadi belum memasan apa-apa lalu langsung ikut memesan minuman.

Yah, diskusi mereka tentang cara agar bisa kembali normal kini terpaksa dibatalkan karena saat ini mereka sudah tidak sedang berdua lagi. Meskipun begitu, kafe memang tempat umum dan terbuka dan tidak cocok untuk membicarakan hal yang rahasia. Memang tujuan Karma untuk kencan dan bukan membicarakan tentang pertukaran jiwa mereka,sih.

"Oh iya, Karma, bisa tolong ajari aku PR matematika yang kemarin di berikan Koro-sensei? Aku tidak mengerti." Pinta Isogai sambil meletakkan buku PR nya diatas meja.

"UHUK! UHUK!" Nagisa tersedak.

"Karma, kau tidak apa-apa?"

"Uhuk.. ya.."

Terlihat Maehara menatap Isogai dan Nagisa-dengan tubuh Karma- cemburu.

"Lebih baik kau minta bantuanku saja." Maehara langsung mengambil alih buku Isogai.

Isogai menatap Maehara tajam dan merebut kembali bukunya dari tangan Maehara. "Kau sih mana bisa? Karma lebih meyakinkan."

JLEB. Maehara ingin menangis sekarang juga.

'Aku juga mana bisa!?' Nagisa langsung melirik Karma, berharap agar Karma mau memberikan bantuan padanya dengan senang hati.

Karma hanya terdiam sambil memperhatikan Nagisa, Isogai, dan Maehara. 'Memang kita ada PR?'

Kenapa Karma malah melupakan PR nya!?

Ia baru sadar kalau memang kemarin sebelum pulang sekolah, mereka di berikan PR oleh Koro-sensei.

"Mana, coba lihat." Karma lalu mengambil buku Isogai dan menatapnya lekat-lekat.

"Kau bisa mengerjakannya, Nagisa?" Tanya Isogai.

Karma lalu tersenyum. "Ini sih kecil!"

Lalu dengan cepat Karma memainkan pulpen yang di pegangnya, memberi goresan angka-angka pada buku. Dalam 10 menit, PR terselesaikan.

Nagisa, Isogai, dan Maehara tercengang melihatnya.

"Hebat!" Maehara terkagum-kagum melihat buku PR yang dua lembarnya sudah di penuhi angka-angka dan tulisan matematis lainnya. Begitu pula dengan Isogai.

Nagisa memandang Karma dengan mata berbinar-binar. Dirinya sekarang terlihat pintar(?).

"Bagaimana kau bisa mengerjakannya Nagisa?" tanya Maehara.

"Ehm.. Kemarin Karma-kun mengajariku." Jawab Karma yang sebenarnya berbohong.

"Eh? Kenapa hanya Nagisa yang diajari? Karma curang! Sekarang ajari aku!" Ucap Isogai.

"Tapi yang penting PR nya selesai kan?"

Maehara entah kenapa sekarang tertawa penuh kemenangan sedangkan Isogai hanya terdiam dan memasang wajah kesal karena Karma-dengan jiwa Nagisa tidak mau mengajarinya. Bukannya tidak mau sih, tapi memang tidak bisa.

.

.

.

.

Karma menatap Nagisa yang saat ini berada di sampingnya. Hari sudah malam dan keduanya masih berjalan di pinggir jalan.

Beberapa jam lalu mereka masih di kafe dan tanpa sadar waktu berjalan dengan cepat dan hari sudah malam. Yah, bukan hal yang mengherankan bagi anak muda yang sedang menghabiskan waktu bersama.

Maehara dan Isogai pun sudah pulang.

"Karma-kun." Panggil Nagisa. Karma menatap Nagisa yang saat ini tengah melihat bintang di atas langit.

"Apa?"

"Jika saja.. waktu itu kau tidak ada bersamaku untuk menunggu hujan reda, apakah kita tidak akan bertukar jiwa?"

Karma terdiam sesaat saat mendengar pertanyaan aneh yang di berikan Nagisa.

"Entahlah.. kalau kita bertukar jiwa ini adalah takdir, sudah pasti tidak bisa kita hindari." Jawab Karma. Lalu ia bisa melihat Nagisa yang sedang melihat bintang itu tengah tersenyum.

"Tapi aku senang saat Karma-kun menemaniku. Itu terasa nyaman."

Karma meleleh. Karma bahagia bisa hidup sampai sekarang. Dan Karma bahagia bisa mendengar kalimat itu dari Nagisa. Sekarang Karma bisa tidur dengan tenang (?).

"Karma-kun adalah teman terbaikku."

Sial. Kena friendzone.

Tapi tak apa. Yang jelas, Karma tahu kalau dia adalah orang yang berharga bagi Nagisa.

"Ngomong-ngomong, Nagisa-kun. Jangan berjalan sambil melihat bintang. Kau bisa menabrak sesuatu di depanmu."

.

.

.

.

.

.

-TBC-

Maaf ya update nya lama.. ^_^

Banyak kendala yang harus Author hadapi. Tapi sekarang akhirnya bisa update juga.. Banzai! ^_^

Terimakasih yang udah mau favs dan follow.

Terima kasih yang mau me-Riview untuk Yamashii Raura, Elaine Esmeralda, Kirariie, yukari, dan Sakuramichi.

Terimakasih juga untuk dukungan dan sarannya ya.. ^_^

.

.

RnR?