Title: Hunger

Casts: VIXX members

Pairing: Keo, Navi, Hyukbin (Tapi lebih tentang persahabatan)

Rate: T to M (Untuk adegan sadis)

Genre(s): Mistery, Thriller, angst, character death

Chapter : 4/7


N berjalan menyusuri hutan, mengingat-ingat kembali jalan yang mereka lewati tadi malam. Tapi percuma. N tak bisa mengingat apapun. Keadaan siang ini dengan malam tadi benar-benar berbeda. Meski begitu, N tak menyerah. Ia terus berjalan untuk menemukan ujung dari hutan ini.

Tiba-tiba saja, suasana menjadi gelap. Angin kencang berhenti berhembus. N merasa sesuatu memperhatikannya. Sesuatu yang menatapnya dengan tatapan mencekam.

"Siapa di sana?"

N mulai berpikir yang aneh-aneh. Jantungnya mulai berdetak tak karuan. Ia ketakutan. Ditambah ketika ia mendengar seseorang berlari dari satu pohon ke pohon lain.

"Siapa itu? Ravi? Hongbin? Ken? Apa itu kalian? Kalian mengikutiku?"

Sekilas, ia lihat sosok hitam berlari dari pohon ke pohon.

"Ken, Ravi, Hongbin! Hentikan! Aku serius! Jangan bercanda! Keluarlah!"

Kini N merasa ada sosok yang mendekatinya secara perlahan. Dan tanpa menoleh, N mulai berlari sekencang mungkin untuk kembali ke rumah di atas tebing itu. Ia bisa merasakan sosok itu mengejarnya.

.

.

.

.

.

"Hyu- Hyung... N Hyung!"

Leo membuka matanya ketika mendengar suara Ken.

"Ken-ah?" Leo memperhatikan Ken yang masih tertidur, namun wajahnya gelisah. Tubuhnya pun begetar tampak tak nyaman. "Ken... Bangunlah!"

Dengan satu teriakan dari Leo, Ken membuka mata. Dengan cepat ia menududukkan posisinya. Napasnya tersengal. Leo memperhatikan dengan bingung dan perasaan khawatir.

"Ken-ah? Kau baik-baik saja?"

"Hyung..." Ken menoleh dan menatap Leo. Tiba-tiba Ken memeluk tubuh hyung-nya itu. "Hyung!"

Ken tak menangis, namun Leo tahu bahwa Ken sedang tidak dalam keadaan baik saat ini.

"Ken-ah? Ada apa? Kau mimpi buruk?" Ken menggeleng, entah itu jawaban dari pertanyaan Leo, atau Ken hanya tak ingin menjawab. Leo lalu menghela nafas, lalu mengusap-usap punggung Ken. "Tenangkanlah dirimu."

Hening sejenak. Leo menunggu sampai Ken merasa benar-benar tenang. Setelah ia dengra nafas Ken sudaah normal, tanpa melepas pelukannya, Ia kembali bertanya. "Kalau bukan mimpi buruk, apa yang membuat begini? Ceritakan padaku, Ken."

"Entahlah, hyung. Aku... Punya perasaan tidak enak."

"Ne?"

"Seperti... akan ada hal buruk terjadi. Benar-benar buruk. Tapi aku tak tahu apa itu, dan kapan akan terjadi." Ken mengeratkan pelukannya pada Leo. Kembali Leo rasakan tubuh anak ini gemetar. "Hyung... Aku takut..."

Leo tak mengatakan apa pun. Hanya membiarkan sang dongsaeng terus memeluknya. Sampai beberapa menit, Leo terus mengusap punggung Ken. Sampai Ken merasa tenang kembali.

Sampai keduanya mendengar suara bantingan pintu di luar.

"N hyung?!"

Sampai mereka dengar Ravi berteriak.

.

.

.

.

.

Akhirnya N berhasil masuk ke rumah, dan langsung membanting pintu.

"N hyung?!" Ravi yang baru saja keluar dari kamar Hyuk, langsung mendekati N yang kini terduduk lemas di lantai dan punggungnya bersandar di pintu. Napasnya terengah-engah. "N hyung?! Kau baik-baik saja?"

N tak menjawab. Tangan kanannya diletakkan di dada sebelah kirinya. Ia pastikan jantungnya masih di sana.

"Ravi, ada apa ribut-ribut?" Tanya Leo yang keluar karena penasaran dengan keributan yang terjadi. Diikuti Ken di belakangnya.

"Aku tidak tahu. N hyung tiba-tiba masuk dengan berlari dan keadaannya sudah seperti ini."

Leo dan Ken mendekati N.

"N hyung? Kau kenapa?"

"Ki- Kita.. harus keluar... Da- dari sini.."

Ken, Leo dan Ravi saling tatap. Mereka tak pernah melihat leader mereka setakut ini. Oke, mungkin N memang penakut. Tapi kali ini, bukan hanya penakut. N benar-benar ketakutan.

"Tapi, hyung..."

"Sekarang juga..."

N berdiri dari posisinya, kemudian mendatangi kamar di mana Hyuk dan Hongbin berada.

"N hyung? Kau kenapa?" Tanya Hongbin.

"Jangan banyak tanya! Bawa Hyuk pergi dari sini sekarang juga.." Ujar N sambil mencoba mengangkat tubuh Hyuk.

"Apa?!"

"Kenapa? Kau tidak mau keluar dari sini? Tidak masalah! Kau boleh selamanya di sini bersama sang putri tidur.."

N langsung pergi dari kamar itu.

"Hyung!" Ravi hendak mengejar N namun pertanyaan Hongbin mengehentikannya

"Ravi, ada apa ini? Kenapa N hyung jadi seperti itu?"

"Aku tak tahu." Ravi menggeleng, lalu menatap Hyuk. "Ikuti saja kata-katanya."

Ravi mencoba mengangkat tubuh Hyuk, tapi ia didorong oleh Hongbin.

"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian membawa Hyuk dari sini, sebelum dia sadar!"

"Tapi Hongbin.."

"Biarkan dia, Ravi. Itu artinya dia tidak ingin keluar dari sini." Ujar N dengan dingin.

"N hyung.." semua menatap N yang berdiri di ambang pintu.

"Hyuk masih dalam keadaan belum sadar, hyung! Ditambah demamnya yang masih tinggi, apa kau tega membiarkannya di luar?"

"Kita mencari jalan keluar, Hongbin. Bukan membiarkannya di luar."

"Tidak bisakah kita tunggu sampai dia sadar?"

"Siapa yang tahu kapan dia akan sadar? Siapa yang menjamin kita akan tetap hidup sampai dia bangun nanti?" Hongbin terdiam mendengar kalimat N. "Kita di sini tersesat, Hongbin. Tanpa makanan dan tanpa apapun. Lebih lama kita di sini, lebih cepat kita mati."

"N hyung.."

"Sekarang terserah. Kau mau Hyuk sembuh setelah kita selamat, atau Hyuk sadar tapi kita berlima mati kelaparan di sini?"

Hongbin makin terdiam. Ravi tidak menyangka N bisa mengancam seperti itu. Ken takut mendengar kalimat N. Ia terbayang bila mereka semua mati di sini. Leo. Leo diam, namun sebenarnya ia memihak kepada N.

.

.

.

.

.

Hujan kembali turun. Langkah kaki kelima pemuda ini masih terus mengitari hutan. Mencoba mencari akhir dari hutan aneh ini. Tapi hujan membuat hutan ini seperti tak berujung.

"Hyung! Kurasa kita harus berhenti sebentar!" Teriak Ravi yang berjalan di samping Ken yang mulai kelelahan.

N yang berjalan paling depanpun berhenti, berbalik melihat Ken tengah merunduk kelelahan.

"Kenapa? Kalian tidak kuat lagi? Apa ini VIXX yang kukenal? Dilatih di gym berjam-jam setiap hari, tapi baru jalan segini saja kalian menyerah?"

"Memang kau tahu kita sudah berjalan berapa lama?" Tanya Leo.

"Aku tak tahu, dan aku tak peduli! Sekarang bangun, dan kita lanjutkan perjalanan!"

"Hyung.. Kita ini manusia. Kau sendiri yang bilang manusia hanya memiliki satu nyawa, dan kita harus mengistirahatkannya." Ken mengingat kalimat N saat di bus kemarin.

"Kita sudah lima kali bergantian menggendong Hyuk. Kita lelah. Dan kau harus tahu kalau demam Hyuk saat ini makin tinggi." Hongbin menatap Hyuk yang kini berada di punggungnya.

N menatap setiap member satu-persatu. Muncul rasa bersalah dalam hatinya. Kenapa hatinya harus memintanya keluar di saat seperti ini? Bukan. Bukan hatinya yang meminta. Tapi rasa takutnya.

Ia lalu melihat sekeliling. Hanya pohon, pohon, pohon, dan sebuah cahaya. Dan cahaya itu kembali membuat N merasa bahwa mereka sudah selamat.

"Di sana ada cahaya. Mungkin di sana ada rumah penduduk. Kita bisa minta bantuan di sana." Ucap N dan siap untuk melangkah.

"Tunggu, hyung! Bagaimana kalau itu rumah yang sama? Karena sejauh kita berjalan tadi, tak ada satu pun rumah penduduk yang kita lihat kan?" Ucap Ken.

"Justru karena kita sudah berjalan sangat jauh, tidak mungkin kita kembali ke rumah yang tadi."

N lalu mulai berjalan. Keempatnya hanya bisa mengikuti kata-kata N, dan mengikuti langkah N.

.

.

.

.

.

"Ini..."

Kelimanya terdiam menatap bangunan di depan mereka. Tepatnya, bagian belakang bangunan yang kemarin mereka temukan.

Lutut N mulai lemas, dan akhirnya jatuh ke tanah bersama kepalan tangannya.

"Sudah kukatakan, ini percuma!" bentak Hongbin lalu membawa Hyuk masuk ke rumah itu.

Ravi dan Leo tak mengatakan apapun, dan langsung masuk mengikuti Hongbin. Sedangkan Ken masih di sana. Meratapi leader-nya yang kini menangis sambil membungkuk di tanah.

"Hyung.."

"Aku ini egois."

"Hyung, jangan berpikir begitu."

"Masuklah, Ken. Aku tak mau lebih banyak lagi yang sakit di antara kita."

"Tapi bagaimana denganmu?"

"Jangan pedulikan aku, aku akan menyusul. Masuklah."

Ken tak bisa membantah. Ia pun masuk ke dalam rumah.

.

.

.

.

.

To Be Continued


A/N: Update update! Hehe... Oh iya, fyi, di chapter ini sebetulnya ada part yang author tambahin. Yah kalau kalian belum pernah baca yang di AFF pasti nggak bakal tahu kkk... Ga ada hal penting yang perlu author tulis lagi.

So please review!

Criticisms are allowed as long as you guys are not rude!

And thanks for reading, see ya ^^