_Just Story_
Rated : T
Genre : Pasti parody - Bisa romance - Bisa friendship - Bisa humor
Desclaimer : Naruto untuk Masashi Kishimoto.
Warn : AU - OoC (Possibly) - Multi char & multi pair - Setiap chapter berbeda ceritanya dengan chapter sebelumnya.
AN : Kumpulan ficlet yang temanya didapat dari iklan-iklan TV terkenal.
.
.
.
Pair : Uchiha Sasuke X Haruno Sakura
Judul : Bisa senyum ga sih?
Special for : Din-din. Hasan - Sheva (guest)
.
.
.
Sudah setahun lebih Sasuke dan Sakura menjadi sepasang kekasih. Mereka tidak menyangka jika salah ketemuan waktu mereka di biro jodoh bisa berakhir semanis ini. Gadis berambut pink ini tidak mengira jika dia akan mendapat pacar yang super tampan, baik, dan isi dompet yang lumayan tebal. Benar-benar lelaki idaman!
Tapi...
Jika dipikir-pikir, Kalau Sasuke benar-benar memenuhi kriteria tersebut kenapa dia harus repot-repot ikut acara biro jodoh segala? Secara, hanya dengan mengandalkan ketampanannya dia sudah pasti bisa menggait banyak hati para perempuan. Alasannya?
Ini cukup aneh tapi percayalah dengan ucapan Sakura...
.
"Ih~! senyum dong!"
Sakura, entah keberapa kalinya dia mengatakan ucapan sakralnya ini kepada pria di depannya—Sasuke. Nyatanya, tujuannya untuk mengajak sang bungsu Uchiha untuk menonton film komedi guna menyembuhkan penyakit pacarnya tidak membuahkan hasil.
"Hii~"
Sasuke mencoba menuruti permintaan kekasihnya, tapi bibirnya tidak bisa melengkung bahkan hanya untuk satu militer pun. Bahkan ekspresinya lebih mirip orang yang sedang menakuti anak kecil di hari hallowen.
"Lupakan saja Sakura, aku tidak bisa melakukannya."
Ya, begitulah. Sasuke yang sesempurna itu ternyata memiliki kelemahan fatal, dia tidak bisa—
—tersenyum.
Pada awalnya, gadis itu tidak menyadari kekurangan pasangannya. Semuanya terasa normal hingga Sakura memaksa Sasuke untuk mengunjungi rumah temannya—Ino, yang kebetulan baru melahirkan anak pertamanya bersama Sai. Saat itu, Sakura berniat membuat baby Inojin tersenyum dengan melihat ketampanan pacarnya. Tapi reaksinya...
Bayi tidak berdosa itu langung menangis selama satu jam penuh ketika melihat wajah Sasuke yang dirasa bayi itu lebih mirip tembok. Alhasil acara senang-senangnya pun harus berakhir dengan si bungsu Uchiha yang menjadi objek kekesalan Sakura dan Ino.
.
Di lain waku.
"YEYYY!"
Sorak Sakura bersama supporter yang lain ketika mereka menyaksikan pertandingan sepak bola final. Duel El-classico, Barca melawan Madrid.
Semuanya bahagia tetapi tidak untuk... "Sayang! senyum dong!"
Sasuke menarik tipis bibirnya, tapi hasilnya sama. Dia tetap ber'ekpresi seperti ini (._.)
'Ya Tuhan~ apa salahku sebenarnya? kenapa aku tidak bisa tersenyum!?' Dan Sasuke hanya bisa membatin kesal pada dirinya sendiri.
.
"Oi, dobe. Aku sedang kesal."
Kini Sasuke berada di rumah, tengah menelpon Naruto—sahabat baiknya.
"Teme~ nani? nani? nani? apa kau diputuskan oleh Sakura-chan?"
"Hush!, sembarangan sekali kau. Baka, bukan itu maksudku tapi. KENAPA AKU TIDAK BISA TERSENYUM HAH!?"
keheningan sesaat. Sasuke mengira jika Naruto memahami perasaannya tapi si rambut pirang justru mentertawainya.
"BWUAHAHAHAHA! seriusan, kau membuat perutku sakit! hahaha! permasalahan macam apa itu!? hentikan candaanmu Sasuke! kau bisa membuatku mati tertawa jika begini!"
Wajah Sasuke memerah seperti tomat. "Urusai teme! tega-teganya kau mentertawai temanmu sendiri! Baka!"
Menunggu beberapa menit, Sasuke terdiam hingga tawa Naruto reda.
"Gomen, gomen. Tapi, kau benar-benar lucu." Jeda sesaat ketika Naruto menghela nafas. "Fiuh~, memang benar sih kau aneh. Maksudnya bahkan selama sekolah denganku kau selalu mendapat julukan wajah tembok karena tidak bisa tertawa sedikitpun. Itu konyol, haha!"
Untuk kali ini Sasuke membiarkannya. "Jadi, apa kau memiliki ide untuk masalahku ini."
"Hm... aku rasa ada."
.
Beberapa minggu kemudian.
.
Dari tadi Sakura hanya cemberut. Pipinya menggembung ditambah rona merah yang menghiasi masing-masing bagiannya. Ini bukan karena alasan, tapi karena pacarnya—Sasuke tidak henti-hentinya menebar pesona kepada para gadis.
"Sayang, kenapa kau diam saja? bukannya kau merasa senang jika aku sudah bisa tersenyum?"
"Hmph!" Sakura memalingkan kepalanya. "Memang benar sih, tapi—!"
Dua orang gadis melewati meja mereka berdua. Satu berambut coklat bernama Tenten dan satu lagi berambut merah terang—Karin. Dua gadis ini secara tidak sengaja memandang wajah tampan Sasuke.
"Karin, dia tampan sekali!"
"Tidak bercanda Tenten, kali ini aku setuju denganmu!"
Secara samar, Sakura mendengar ucapan mereka berdua. Membuatnya semakin emosi.
Sementara, Sasuke yang sadar jika dirinya menjadi objek pembicaraan dua gadis asing di depannya. Justru memasang senyuman paling indahnya. "Hai~ eh... ladys?"
"KYAAA! Dia tampan sekali!, aku serasa mau mati!"
Tidak kuat menahan godaan Sasuke, dua gadis ini langsung pingsan ditempat dengan wajah merah dan hidung mimisan.
Sakura langsung sweatdrop sambil menepuk jidatnya sendiri.
"SAYANG! JANGAN SENYUM!"
Habis sudah, Sakura memberikan pukulan ringan di dada sang pacar.
"Hah!? salahku apa!?"
"Hmph!~"
Dan untuk kesebelas kalinya, Sakura kembali memberikan jawaban yang sama. Pipinya kembali menggembung karena kesal.
'Memang dia tampan, tapi aku tidak mengira jika dia tersenyum bakalan membuatnya segenit ini pada gadis-gadis, siapa yang membuatnya tersenyum sih? SHANNARO!'.
.
.
.
FIN
.
.
.
AN : Ficlet keempat Update. Bytheway, ada yang tahu apa yang dilakukan oleh si dobe hingga membuat si muka tembok bisa tersenyum? entahlah. Saya juga bingung *dihajar*
BONUS
Di lain tempat di waktu yang bersamaan...
"Hacciu!" Naruto mengelap hidungnya yang gatal karena bersin. Aneh, padahal dirinya tidak mengingat jika sedang terkena flu. "Entah kenapa tiba-tiba aku bersin. Hm..., mungkin suhu ACnya terlalu dingin."
.
True Fin
