Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi. Penulis tidak mengambil keuntungan material dari menulis fanfic ini
Warning: AU, OC, OOC, Slash, Infidelity, Mpreg, character death, typo, etc
Rating: T
Genre: Romance, hurt/comfort
Pairing: Akakuro, slight! Kagakuro, KagaFuri
THE TRUE EMPRESS
By
Sky
Kagami Taiga tak pernah menyangka hal semengerikan ini akan terjadi di dalam hidupnya. Ia selalu berpikir kalau mengetahui salah satu anggota keluarganya adalah seorang penyihir hanya sebuah cerita yang sering tercetak di dalam sebuah novel yang penuh akan drama maupun berada di dalam mimpi, namun pada kenyataannya hal yang seperti ini harus terjadi di dalam kehidupan yang ia rasa begitu sempurna tersebut. Tetsuya, isterinya yang tercinta adalah seorang penyihir, sebuah makhluk yang keberadaannya sangat Taiga benci lebih dari apapun, dan kemungkinan sang Ratu sendiri sudah mengetahui fakta tersebut sudah sejak lama tanpa sepengetahuan Taiga sampai sekarang ini membuat semuanya bertambah lebih parah. Taiga merasa dirinya sangat bodoh karena ia tak menyadari hal yang sangat penting seperti ini, bagaimana mungkin ia bisa tak sadar dengan keanehan yang terjadi pada diri Tetsuya selama ini saat mereka hidup bersama? Rasa cintanya yang sangat besar telah membutakan hatinya untuk tak melihat keanehan tersebut sampai Tuhan membukakan matanya sekarang ini. Seorang carrier seperti Tetsuya tak bisa hamil, mungkin bisa dikatakan ini adalah hukuman yang Tuhan berikan pada sang Ratu karena ia adalah pengguna sihir yang dilarang tersebut, hal ini juga pertanda untuk Taiga kalau sang Ratu bukanlah orang yang tepat untuk dirinya. Taiga tak mampu mengungkapkan apa yang tengah ia rasakan sekarang ini, ia ingin marah kepada Tetsuya namun di satu sisi ia juga ingin marah kepada dirinya sendiri.
Taiga sangat mencintai Tetsuya sejak mereka pertama kali bertemu, namun perasaan cinta tersebut perlahan-lahan telah memudar karena kekecewaan yang Taiga rasakan terhadap Tetsuya yang tak mampu memberikannya keturunan, dan kali ini pun kekecewaan tersebut telah merubah bentuknya menjadi dua buah emosi negatif yang berupa kesedihan dan kemarahan. Cinta pada pandangan pertama, Taiga tak pernah mempercayai akan hal itu karena menurutnya itu adalah cinta palsu yang berlandaskan pada penampilan fisik belaka, namun hal itu nyatanya terjadi pada diri sang Raja Seirin saat ia melihat Tetsuya yang pertama kali di desa Kuroko dua tahun lalu, ia merasa dirinya begitu tertarik pada Tetsuya sampai ia berani mempersuntingnya setelah naik tahta menjadi seorang raja, dan kala itu Taiga merasa dirinya adalah orang paling bahagia karena berhasil mendapatkan seorang isteri yang sempurna di matanya. Nyatanya semua itu tidak lebih dari sebuah ilusi yang menipunya, sampai sang Raja Seirin sendiri pun kali ini merasa ragu dan meruntuki dirinya karena bisa jatuh cinta pada seorang penyihir. Ia bodoh karena matanya telah dibutakan oleh cinta palsu dari Tetsuya, dan ia baru tersadar setelah dua tahun hidup bersama.
"Sepertinya cinta yang Anda rasakan terhadap Yang Mulia Ratu adalah palsu, Raja Taiga. Saya memiliki teori kalau sang Ratu menggunakan sihirnya kepada Anda dan membuat Anda jatuh cinta kepadanya dalam waktu yang singkat, namun sihir tersebut terpatahkan karena kedatangan cinta sejati Anda dalam bentuk anak saya, Kouki."
Ucapan dari Takeru itu sangat masuk akal, cinta pada pandangan pertama yang ia rasakan pasti adalah sihir yang Tetsuya lemparkan padanya kala itu, membuatnya jatuh cinta pada sang Ratu yang membodohinya secara diam-diam. Memikirkan kemungkinan itu adalah apa yang terjadi membuat Taiga merasa dirinya diliputi oleh kemarahan besar.
Perasaan sedih yang meliputi hati kecilnya itu telah berubah menjadi sebuah kemarahan serta kebencian yang menyelubunginya, berani-beraninya Tetsuya membodohinya seperti itu, sama sekali tak bisa dimaafkan dan ia butuh diberi hukuman yang setimpal karena itu. Cintanya kepada Tetsuya disebabkan oleh sihir dari pemuda manis itu, artinya Taiga tak benar-benar merasa cinta kepada seorang penyihir seperti Tetsuya, sebuah cinta palsu yang seharusnya tidak pernah ada namun terasa karena bantuan benda laknat itu. Bila memang hal seperti ini terjadi, maka Taiga tak akan ragu lagi untuk memberikan hukuman yang sangat berat seperti apa yang sering Taiga berikan kepada mereka yang terbukti telah melakukan sihir, sebuah hukuman mati.
Dalam kamusnya, status Tetsuya kini sudah berubah dari isterinya yang tercinta menjadi 'si penyihir' laknat. Sihir telah merenggut nyawa sang ibunda tercinta, tidak heran kalau Taiga menganggap mereka yang memiliki sihir adalah makhluk gelap yang patut dimusnahkan dari muka bumi, dan mendapati isterinya sendiri adalah seorang penyihir maka kebencian Taiga terhadap sihir serta penyihir pun semakin besar. Pemuda berambut merah bergradasi hitam tersebut mengepalkan tangan kanannya dengan erat, bahkan saking eratnya buku-buku jemari Taiga memutih.
"Kami mendapat laporan dari penduduk setempat kalau Ogiwara Shigehirou yang merupakan teman baik sang Ratu adalah penyihir, ia mampu menyembuhkan orang dengan begitu cepat."
Ingatan Taiga pun berputar pada kejadian satu tahun yang lalu ketika Hyuga memberinya sebuah laporan mengenai Ogiwara Shigehiro. Pada saat itu rasanya Taiga tak percaya kalau teman baik dari Tetsuya adalah seorang penyihir, namun saat ia menyelidikinya sendiri Taiga bisa menemukan fakta yang sama dengan berita yang Hyuga bawa mengenai kemampuan dari Ogiwara. Seorang tabib tak mungkin bisa menyembuhkan orang dalam waktu yang begitu cepat seperti apa yang Ogiwara lakukan, dan kemampuan yang pemuda berambut oranye itu lakukan membuatnya menjadi pihak yang terpojok dan semakin membuktikan sebuah teori kalau Ogiwara adalah seorang penyihir. Saat itu Taiga yang tak ingin membuat Tetsuya sedih karena sebuah berita penangkapan Ogiwara yang ia lakukan pun mencoba merahasiakan dari sang isteri, ia memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Ogiwara dan mengurungnya di menara Seirin selama satu tahun karena dirinya terlalu pengecut untuk memberikan Ogiwara hukuman mati.
Taiga selalu menampik akan fakta bahwa Tetsuya mengenai hal ini, namun bila mengingatnya sekarang ini rasanya ia ingin menendang dirinya sendiri karena terlalu terbawa akan suasana pada saat itu. Tetsuya tahu kalau Ogiwara adalah penyihir dan begitu pula sebaliknya, dan teori yang pernah ia pendam mengenai kekuatan sang isteri pun sekarang menuju ke dalam puncaknya setelah satu tahun berlalu. Tetsuya adalah seorang penyihir, ia bersalah dan Taiga tak bisa menampiknya lagi.
Sesungguhnya aku sudah curiga sejak setahun yang lalu, terlebih setelah aku mendapat laporan mengenai teman si penyihir itu terbukti melakukan sihir. Tapi pada saat itu aku terlalu bodoh, terlalu dibutakan oleh 'cinta' yang si penyihir itu berikan padaku. Sial... kalau saja aku cepat bertindak dulu, mungkin aku bisa menuntaskan permasalahan ini dengan cepat! Pikir Taiga pada dirinya sendiri, secara tak langsung mengutuk dirinya karena terlalu buta oleh apa yang dinamakan cinta tersebut.
"Aku menyalahkan si penyihir itu, kurang ajar sekali ia telah menipuku seperti ini!" Ujar Taiga dengan nada yang diselimuti oleh kemarahan yang pekat. Ia pun mengambil sebuah gelas anggur yang berisi penuh oleh minuman beralkhohol dan segera pula ia pun menengguk isinya untuk menenangkan gejolak hatinya yang tak beraturan tersebut. Merasa dirinya masih diselimuti oleh sebuah emosi yang bernama kemarahan, Taiga pun membanting gelas yang ia pegang ke arah dinding, benturan antara gelas dengan dinding keras itu membuat bunyi yang tak mengenakan namun ia menghiraukan hal tersebut. "SIAL!"
Sang Raja Seirin itu terlihat begitu marah, sedih, dan juga bingung pada saat yang bersamaan. Ia marah karena dirinya telah dibohongi oleh seorang penyihir yang juga membohonginya selama dua tahun, ia sedih karena menemukan fakta bahwa perasaan cintanya pada Tetsuya tidak lah nyata, dan ia merasa bingung karena hatinya masih bimbang untuk memutuskan apa yang terbaik di sini. Harus kah ia memberikan hukuman mati kepada Tetsuya yang notabene masih berstatus sebagai isterinya serta Ratu Seirin? Dan apakah ia harus melepaskannya dengan syarat sang Ratu tak boleh menginjakkan kakinya lagi di tanah Seirin? Taiga bimbang, ia tak tahu harus melakukan apa. Kenapa semua permasalahan ini harus muncul dimana seharusnya ia mendapatkan kebahagiaan? Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul di benak sang Raja Seirin, membuatnya pusing dan ingin merusak sesuatu. Andai saja Taiga tahu kalau Tetsuya adalah penyihir sejak dulu mungkin ia tak akan memperistrinya untuk menghindarkannya pada dilema yang seperti ini. Sekejam-kejamnya Taiga, tak mungkin ia membunuh ratunya sendiri di hadapan masyarakat umum, bagaimana pun status keduanya masih suami isteri, kecuali kalau Taiga membatalkan pernikahaan di antara mereka dan mengklaim kalau selama ini pernikahan mereka adalah palsu.
Sang Raja Seirin mengangkat kepalanya, ia memikirkan ide yang barusan muncul di dalam kepalanya. Melihat Tetsuya adalah seorang penyihir maka kemungkinan besar rasa cinta Taiga adalah ilusi belaka yang disebabkan oleh sihir dari Tetsuya, ia yang diperdaya oleh sihir tersebut akhirnya melamar Tetsuya dan menjadikan pemuda manis itu sebagai Ratu Seirin. Kalau perasaan ini benar-benar palsu, berarti selama ini Taiga dan Tetsuya bukanlah pasangan suami-isteri yang sah di mata hukum, ia bisa membatalkan ikatan tersebut dan membebaskan dirinya dari status suami Tetsuya, hal ini juga berlaku pula kepada Tetsuya. Terlebih lagi Kagami Taiga adalah seorang raja, dan sebagai seorang raja ia bisa melakukan apapun yang ia sukai. Mungkin setelah Taiga terbebas dari ikatan palsunya dengan Tetsuya, ia bisa menikahi Kouki secara sah dan kemudian mengangkat ibu dari calon bayinya itu sebagai Ratu Seirin yang sah.
Pemikiran mengenai Kouki dan bayi mereka itu menghapus semua pemikiran pahitnya mengenai Tetsuya, ulasan senyum pun muncul di bibirnya dan rasa hangat pun merasuk ke dalam. Penantiannya selama dua tahun untuk mendapatkan seorang putera pun akhirnya terbayarkan, ia merasa bahagia atas hubungannya dengan Kouki. Taiga berniat untuk mengunjungi selirnya setelah ia menghadiri pengadilan istana yang dikhususkan untuk menentukan apakah Tetsuya bersalah apa tidak serta hukuman apa yang pantas diberikan kepada Tetsuya bila ia terbukti bersalah nantinya.
"Si penyihir itu jelas-jelas bersalah karena telah melakukan sihir, tidak peduli apapun tujuannya," ujar Taiga kepada dirinya sendiri, sang Raja Seirin itu pun menghela nafas panjang sebelum dirinya menatap ke arah cermin besar yang terpajang di sana. "Semakin cepat semakin bagus."
Ungkapan terakhir inilah yang mendasari langkah Taiga berikutnya, ia pun segera keluar dari dalam kamarnya untuk menuju ke ruang dewan dimana semua petinggi istana sudah menantikan kehadirannya, sidang penentuan untuk Tetsuya pun akan digelar dan beberapa dewan yang ia tunjuk untuk menyelidiki siapa Tetsuya pun akan mengungkapkan yang sebenarnya di hadapan publik. Dari sini Taiga bisa menentukan hukuman apa yang pantas ia berikan kepada sang Ratu Seirin dan ia harap apa yang ia lakukan ini adalah yang terbaik untuk dirinya serta kerajaannya. Dilema yang ditimbulkan oleh keberadaan Tetsuya tersebut benar-benar membuatnya pusing, bahkan selama beberapa hari ini pun ia tak bisa tidur dengan nyenyak meski Kouki sudah menemaninya di tempat tidur. Mungkin ia akan bisa tidur dengan nyenyak setelah ia memutuskan hukuman terbaik bagi Tetsuya dan Ogiwara tersebut.
Semua orang yang melihat Taiga langsung memberikan hormat mereka kepadanya, namun sang Raja yang masih terlarut dalam pikirannya sendiri menghiraukan hal itu dan terus berjalan lurus menuju ruang pertemuan dimana para dewan yang telah ia tunjuk sudah berkumpul. Saat dirinya sudah berada di depat pintu besar, seorang pengawal yang bertugas untuk menjaga pintu pun memberikan hormatnya kepada Taiga sebelum membukakan pintu tersebut untuk sang Raja, dan Taiga pun masuk ke dalamnya setelah seruan yang mengatakan kedatangannya, hal ini dibarengi oleh semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut segera berdiri dari tempat duduk mereka untuk memberikan penghormatan kepada Raja Seirin.
"Silakan kalian duduk lagi, aku akan memulai persidangan untuk Ratu Tetsuya secepatnya," ujar Taiga seraya dirinya menuju sebuah kursi kehormatan yang bertindak sebagai singgasana bagi sang Raja, ia pun duduk di atasnya dan menghadap kepada dewan yang telah ia tunjuk untuk membahas pengadilan bagi Tetsuya. "Kita bisa memulainya sekarang."
Semua orang yang berada di dalam ruangan langsung mengambil posisi masing-masing, beberapa dokumen pun ada di depan meja dan mereka menunggu perintah lanjutan yang akan Taiga berikan pada mereka.
"Furihata Takeru, posisimu sebagai Duke Furihata adalah mutlak di sini dan aku telah menunjukmu sebagai kepala pengadilan untuk kasus Ratu Tetsuya," disini Taiga memberikan instruksi kepada ayah dari Furihata Kouki yang tengah duduk di deret kanan meja bundar. "Aku ingin mendengarkan laporanmu."
Furihata Takeru, seorang pria paruh baya yang memiliki ambisi besar untuk menjadikan putranya sebagai Ratu Seirin itu memberikan anggukan yang begitu mantap kepada sang Raja yang balik menatapnya. Pria itu pun meletakkan beberapa dokumen yang telah ia siapkan sebelumnya di atas meja, ia pun segera berdiri dari tempat duduknya dan membacakan laporan yang diminta oleh sang Raja Seirin.
"Terima kasih atas kesempatan yang Anda berikan kepada saya, Yang Mulia Raja," kata Takeru, bibirnya menyunggingkan ebuah seringai yang begitu licik dan membuat Hyuga yang duduk di sampingnya ingin menghapus seringai tersebut, namun Izuki yang berada di samping Hyuga langsung menahannya. "Sesuai perintah yang diberikan oleh Raja Kagami Taiga, saya di sini akan membacakan laporan yang mampu saya kumpulkan mengenai Ratu Tetsuya yang saat ini memiliki status sebagai kriminal karena aktivitas sihir yang telah ia lakukan. Saya rasa kalian semua setuju dengan saya melihat kalian pasti menyaksikan sendiri akan apa yang Ratu Tetsuya lakukan kepada puteraku, dengan sihirnya itu Ratu Tetsuya mencoba mencelakakan putra mahkota beserta ibunya ketika suasana arena tengah dilanda kepanikan akibat musibah yang dialami oleh Raja Taiga. Cahaya yang keluar dari tangan kanan Ratu Tetsuya berwarna biru langit, serta sang Ratu sendiri mampu menciptakan tembok tak kasat mata untuk membentenginya ketika dua pengawal mencoba mendekatinya. Dua hal ini saja sudah mampu membuktikan kalau Ratu Tetsuya adalah seorang penyihir, ia bersalah dan sudah selayaknya sang Ratu dihukum seberat mungkin."
Takeru pun mengambil jeda untuk beberapa saat untuk melihat ke arah Taiga yang tengah duduk di atas singgasananya, ia menunggu perintah dari Taiga apakah ia harus melanjutkan laporanny apa tidak. Setelah mendapatkan anggukan dari sang Raja, Takeru pun tak bisa menyembunyikan seringai tipis untuk muncul di bibirnya yang langsung ia tutup dengan kertas laporan yang tengah ia baca. Rencananya untuk menyingkirkan Tetsuya sebagai seorang ratu sepertinya berhasil meski peristiwa yang mendalanginya pun cukup mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri. Rencana awal Takeru untuk menyingkirkan Tetsuya adalah menyebarkan isu yang tidak benar mengenai Ratu Tetsuya yang akhir-akhir ini sering menemui Duta Besar Teiko, berita mengenai perselingkuhan sang Ratu pasti akan membuat skandal yang hebat melihat seorang ratu dituntut untuk bersikap setia kepada rajanya, dan skandal tersebut akan menjatuhkan nama baik Tetsuya yang membuatnya akan dihukum seberat-beratnya oleh Raja Taiga. Namun, tanpa menyebarkan berita bohong mengenai sang Ratu dan duta besar pun rencananya tersebut sudah berjalan dengan baik, sangat baik malahan. Terbukti dengan melakukan sihir di kawasan Seirin adalah sebuah tindak kriminal yang tak bisa dimaafkan, bahkan lebih buruk daripada berselingkuh di belakang sang Raja, tanpa perlu memikirkannya secara dalam pun semua orang akan tahu kalau sang Raja Seirin akan memberikan hukuman mati kepada Tetsuya sebelum mencari penggantinya.
"Dari apa yang saya peroleh dari masyarakat yang tinggal di desa Kuroko, Ratu Tetsuya awalnya adalah seorang dokter yang tinggal di desa kecil tersebut. Kemampuannya dalam menyembuhkan penyakit pun bisa dikatakan sangat bagus, melebihi kemampuan dokter Aida. Kemampuan ini bisa dikatakan tidak wajar melihat sang Ratu tidak mengenyam pendidikan tinggi dalam mengobati makhluk hidup, teknik yang dilakukan pun juga terkesan mencurigakan dan saya bisa menyimpulkan kalau sang Ratu adalah seorang penyihir, Paduka Raja."
Mereka yang ada di tempat itu tak pernah tahu mengenai masa lalu dari Ratu Tetsuya sebagai seorang tabib, sehingga mendengarkan laporan tersebut dari mulut Furihata Takeru cukup membuat mereka merasa terkejut. Para anggota dewan tentu tidak melupakan kasus yang menimpa Ogiwara Shigehirou yang saat ini didakwa telah menjadi penyihir, dan melihat kedekatan keduanya pun bisa diartikan kalau Tetsuya memang mengetahui kalau Ogiwara adalah penyihir dan begitu pula sebaliknya. Fakta telah berbicara di hadapan mereka, tidak ada satupun yang berada di ruangan tersebut menyanggah kalau Tetsuya bukanlah seorang penyihir, bahkan orang buta pun bisa menyimpulkan akan hal itu. Meski fakta telah memberatkan sang Ratu, namun semua ini akan dikembalikan lagi kepada sang Raja yang merupakan hakim tertinggi di dalam sebuah kerajaan, artinya Taiga adalah satu-satunya orang yang bisa memutuskan apakah Tetsuya bersalah apa tidak.
Sebagian besar orang yang ada di ruangan itu bisa menebak kalau Taiga akan memberikan hukuman mati kepada sang Ratu, meski pada akhirnya mereka ragu kalau sang Raja akan memberikan hal sekejam itu kepada isterinya sendiri. Di samping pendapat itu, beberapa orang pun masih memiliki harapan kalau Taiga akan melepaskan Tetsuya. Penyihir atau tidak, mereka menyukai kepemimpinan Tetsuya karena sang Ratu itu sangat baik serta adil, bahkan menurut mereka Tetsuya itu adalah satu-satunya orang yang pantas menjadi ratu di kerajaan Seirin ini, tidak ada yang bisa menggantikan posisinya. Meski demikian mereka masih memiliki tanda tanya besar akan apa yang Taiga lakukan nanti, mereka takut akan nasib yang Tetsuya miliki di masa depan.
"Kiyoshi," panggil Taiga yang memecah keheningan di ruangan tersebut. Kedua matanya pun menoleh ke arah laki-laki berambut kecoklatan yang duduk di samping Izuki. "Aku ingin kau menemui Tetsuya di menara Seirin dan mengatakan kalau aku membatalkan pernikahan kami. Perasaan cintaku kepada Tetsuya itu tidak nyata, ia telah menggunakan sihirnya untuk membuatku seperti ini, dan kurasa ini sudah saatnya aku bertindak untuk membebaskanku dari belenggu yang ia berikan padaku.
"Setelah aku mendengar semuanya dan melihat apa yang terjadi, mulai detik ini Kuroko Tetsuya tidak lagi menjadi isteriku yang sah, dan ia juga tidak berhak untuk mengenakan mahkota Ratu Seirin yang berharga!"
Tidak ada yang percaya akan apa yang Taiga ucapkan tersebut. Mungkin pencopotan mahkota dari kepala seorang ratu bukanlah kali pertama yang terjadi di dunia ini, namun mereka masih merasa tidak percaya akan hukuman kejam yang Taiga berikan kepada Tetsuya. Mereka tidak yakin kalau Tetsuya menggunakan sihir untuk membuat Taiga jatuh cinta padanya, orang bodoh saja bisa melihat kalau Taiga benar-benar tulus mencintai Tetsuya dan begitu pula sebaliknya, sekiranya mereka bisa menyimpulkan satu alasan mengapa Taiga melakukan ini. Furihata Kouki, nama selir yang tengah mengandung anak dari Taiga berderang penuh hikmat di kepala mereka semua. Mereka tahu kalau Taiga sudah tidak mencintai Tetsuya karena pandangan matanya beralih pada selir cantik yang bernama Kouki tersebut, tidak hanya sang selir istana itu sangat cantik dan anggun sehingga memikat sang Raja, ia pun mampu memberikan keturunan kepada Taiga dimana Tetsuya gagal melakukannya. Tidak heran kalau sang Raja bersikeras untuk mencopot mahkota ratu dari kepala Tetsuya dan akan meletakkan pusaka berharga tersebut di atas kepala sang selir. Bila Tetsuya tersingkir maka Kouki bisa diperistri oleh Taiga, artinya posisi selir pun akan berganti menjadi ratu di sini. Mereka semua tak habis pikir dengan apa yang ada di dalam kepala sang Raja.
Kiyoshi Teppei yang merupakan penasehat kerajaan pun memberikan anggukan singkat atas perintah yang Taiga berikan padanya.
"Baik, Yang Mulia Raja, saya akan melaksanakan perintah yang Anda berikan kepada saya," jawab sang penasehat kerajaan dari posisi duduknya tersebut.
Sang Raja Seirin yang terlihat berwibawa di atas singgasananya itu pun memberikan anggukan penuh kepuasan, ia bisa mempercayai Kiyoshi untuk menyampaikan berita buruk itu kepada Tetsuya. Sesungguhnya memberikan hukuman kepada Tetsuya adalah hal yang berat untuk dilakukan, bagaimana pun juga sang Ratu adalah isterinya dan tidak mungkin ia bisa berbuat sekejam itu, namun kenyataan yang pahit harus menggantikan mimpi yang pada akhirnya menjadi realita. Tetsuya memiliki sihir, dan semua yang memiliki sihir di dalam tubuh mereka pun harus dihukum seberat-beratnya tanpa peduli status yang menyertai mereka. Bahkan kalau Taiga sendiri terbukti memiliki sihir di dalam tubuhnya ia pun tidak keberatan untuk membunuh dirinya sendiri.
Persidangan yang diketuai oleh Furihata Takeru itu pun berjalan lagi, keputusan Taiga untuk membatalkan pernikahannya dengan Tetsuya pun sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat, artinya selama ini Tetsuya dan Taiga tidak pernah menikah di hadapan Tuhan sehingga sang Raja pun bebas memperistri orang lain dan menjadikan orang itu sebagai Ratu Seirin yang sebenarnya. Sangsi pertama yang diucapkan Taiga pun sudah ditulis di atas selembar perkamen oleh Hyuga, kali ini mereka akan membahas mengenai keabnormalan yang dimiliki oleh Tetsuya. Perdebatan yang sangat alot pun mulai terjadi, minoritas dari mereka mulai menyuarakan kalau Tetsuya tidak sepantasnya mendapat hukuman mati, namun pendapat itu pun tak begitu didengarkan karena mayoritas dari mereka semua mengatakan kalau mereka bersalah. Tidak hanya itu saja, para anggota dewan mencoba untuk berada di sisi baik Taiga sehingga mereka pun dengan berat hati memberikan jawaban kalau Tetsuya bersalah, mungkin ungkapan itu tidaklah sangat bijak namun mereka tidak ingin membuat Raja Taiga marah kepada mereka karena mereka menganggap Tetsuya tidak bersalah.
"Kami semua mengatakan kalau Kuroko Tetsuya itu bersalah, Yang Mulia Raja," ujar Takeru yang menyampaikan hasil dari persidangan yang telah berlangsung selama tiga jam tersebut.
"Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain selain memberikan hukuman kepada Tetsuya," ujar sang Raja, ia pun mengambil sebuah dokumen yang diberikan Izuki kepadanya. Para dewan sudah memutuskan kalau sang Ratu memang terbukti bersalah, statusnya pun kini dinaikkan menjadi seorang kriminal berbahaya. "Hukuman mati biasa pun tak akan bisa menghapus dosa dari seorang penyihir. Aku ingin Tetsuya dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup, sebuah cara paling ampuh untuk mengantarkan jiwa seorang penyihir kembali ke neraka, dan aku pun ingin Ogiwara Shigehirou yang telah ditahan selama setahun lebih di menara Seirin mendapatkan hukuman yang sama. Kuroko Tetsuya dan Ogiwara Shigehirou akan dibakar hidup-hidup sebagai hukumannya di alun-alun istana dengan disaksikan oleh rakyat kerajaan Seirin. Penyihir tidak akan mendapatkan belas kasihan dariku, keluarga atau bukan mereka semua adalah sama."
Tak ada yang berucap selanjutnya, bahkan bernafas pun terasa begitu sulit saat mereka semua mendengarkan hukuman apa yang Taiga berikan kepada sang Ratu. Dibakar hidup-hidup, sebuah hukuman mati yang sangat kejam karena dibarengi oleh penyiksaan yang begitu menyakitkan sebelum nyawa mereka tercabut dari dalam raga. Mereka merasa bersalah karena telah menyetujui keputusan Taiga, mereka harap Tuhan mampu menyelamatkan Tetsuya tepat waktu.
Meski rasa bersalah menggerogoti hati para anggota dewan, beberapa orang seperti Furihata Takeru terlihat senang akan keputusan yang diberikan oleh sang Raja. Rencananya untuk menyingkirkan sang Ratu akhirnya sukses, tidak hanya Taiga membatalkan pernikahannya dengan Tetsuya, namun ia juga menambahkan hukuman lain yang merupakan hukuman mati. Tidak hanya sekedar hukuman mati tanpa rasa sakit seperti hukuman pancung, namun dibakar hidup-hidup yang notabene adalah hukuman paling kejam. Sepertinya kemenangan memang berada di dalam genggaman fraksi yang Takeru bangun untuk menjatuhkan Tetsuya, dan dengan begini bisa dikatakan Takeru akan menjadi ayah dari seorang Ratu Seirin dan juga kakek dari penerus tahta kerajaan Seirin. Tujuannya sudah terpenuhi, dan halangan pun tak akan menghadang lagi setelah kematian Tetsuya. Seringai lebar pun terulas penuh di bibir Duke Furihata yang bernama Takeru tersebut, ia merasa dirinya berada di atas angin.
Tuhan itu selalu menyayangi makhluk yang menjadi ciptaan-Nya, Ia selalu menjaga mereka sejak mereka berada di dalam kandungan sang ibunda yang terpilih sampai roh mereka dibuai di atas pangkuanNya ketika waktu mereka telah tiba untuk dipanggil kembali. Meski manusia adalah makhluk yang menjadi kesayangan Tuhan, tidak berarti mereka akan bebas dari apa yang namanya takdir serta cobaan yang menyertai mereka. Jabatan, kedudukan, dan status adalah apa yang bisa dijadikan contoh sebagai cobaan dari Tuhan, baik itu hal yang baik maupun hal yang buruk di mata manusia.
Menjadi seorang Ratu Seirin selama dua tahun bukanlah apa yang Tetsuya sebut sebagai mimpi, ini adalah sebuah keberuntungan yang tak sengaja dilemparkan di atas pangkuannya saat ia bertemu dengan Taiga sampai sekarang ini. Dan memiliki sihir pun juga Tetsuya anggap sebagai hal baik yang Tuhan berikan kepada dirinya meski pada akhirnya sihir itulah yang mengantarkan Tetsuya untuk mendekam di dalam salah satu kamar dingin dan tidak bersahabat yang ada di menara Seirin. Tetsuya tak pernah menganggap kalau nasib buruk yang melanda dirinya adalah kesialan, ia pun juga tak pernah menyalahkan Tuhan atas apa yang Ia berikan kepadanya itu, semua itu terjadi karena ada alasannya. Memiliki sihir serta diangkat menjadi ratu sampai menjadi tahanan pun adalah takdir untuknya, sebuah takdir yang meski ia tentang sekeras apapun tak akan berubah. Ia tak menyesal atas perbuatannya yang menolong Furihata dan bayinya waktu itu, bahkan Tetsuya pun tak menyalahkan Taiga yang memberinya hukuman seperti ini.
Rasa dingin serta ketakutan yang disebabkan oleh tempatnya ditahan ini pun ia terima dengan lapang dada, kalau mungkin ini adalah nasib yang akan Tetsuya terima kelak maka ia pun akan menyambutnya dengan tangan terbuka meski di dalam hatinya ia masih memiliki secercah harapan untuk terbebas dari belenggu yang mengikatnya ini. Sang Ratu Seirin itu duduk di atas tempat tidur dinginnya, kedua mata sebiru langit miliknya tersebut terus memandang langit malam yang terlihat dari balik jendela kecil yang dilapisi oleh jeruji besi. Ia melihat bagaimana kerlipan bintan yang ada di atas langit itu terlihat begitu menggoda, memberikan kata-kata penuh godaan untuk Tetsuya kalau suatu saat nanti ia akan bebas dari semua ini, sebuah harapan yang dibuai baik itu di dalam maupun di luar dirinya. Sembari memejamkan kedua matanya ia memiliki sebuah angan-angan yang entah kenyataan akan menjawabnya apa tidak, ia ingin bebas, meski tak ada jalan keluar yang Tetsuya ketahui mungkin untuk ia lakukan.
Kedua matanya pun terbuka lahir, memandang ke arah pemandangan yang tersaji dari balik jendela kecil yang diselubungi oleh jeruji besi tersebut. Dari apa yang Tetsuya lihat saat memandang jendela kecil yang ada di dalam kamar tahanannya, ini adalah minggu kedua setelah ia ditahan oleh Taiga di dalam menara Seirin yang kelam tersebut. Meski para penjaga tidak pernah melakukan hal buruk padanya serta memberinya kamar tempat Tetsuya berada sekarang ini, mengingat Tetsuya masih berstatus sebagai Ratu Seirin, bukan berarti Tetsuya merasa tenang dengan perasaan yang merasuk ke dalam hatinya maupun melihat situasi yang menimpanya ini. Hampir setiap saat ia berdoa kepada Tuhan agar diberi kebebasan, ia berharap agar Tuhan membukakan mata hati Taiga dan melihat kalau apa yang ia lakukan itu adalah untuk menolong calon putera mahkota Seirin beserta ibunya. Tetsuya tak bermaksud buruk di sini, bahkan pikiran untuk mencelakai Furihata Kouki pun tak pernah muncul di dalam pikirannya meski perbuatan suaminya dengan selir istana itu sudah cukup membuat hati lembut sang Ratu tertoreh dengan begitu menyakitkan. Ia hanya ingin menyelamatkan diri dengan menyembunyikan sihirnya, mimpi buruknya itu pun kini telah menjadi kenyataan. Sang Ratu menganggap semua ini sebagai cobaan dari Tuhan untuknya, dan ia pun berharap agar Tuhan memberinya kekuatan serta keteguhan hati untuk menghadapi semua ini.
Mendiang ibundanya pernah mengatakan kalau ia harus menerima semua itu dengan lapang dada, ia tidak salah karena terlahir dengan keistimewaan lain seperti memiliki sihir di dalam dirinya. Sihir yang ia miliki adalah sebuah kelebihan yang bila digunakan dengan baik maka akan memberikan dampak yang baik, dan selama ini Tetsuya yang meski tak terlalu bisa mengendalikannya melihat keterbatasan pengetahuannya pun selalu menggunakan kelebihan yang ia miliki untuk mengobati orang. Tak ada maksud jahat yang ada di dalam jiwanya, bahkan bila orang lain mampu menilai bagaimana Kuroko Tetsuya itu maka tanpa ragu mereka akan menjawab kalau Tetsuya adalah orang yang baik dengan kemauan yang keras. Andai saja Tetsuya terlahir di Teiko mungkin semua ini tidak akan terjadi padanya, namun Tetsuya tidak menyalahkan keadannya karena dibalik semua kejadian yang menimpa dirinya pasti ada maksud yang tersembunyi. Tuhan itu adil, Tetsuya percaya akan hal itu.
Siang tadi Kiyoshi Teppei mengunjunginya, pemuda berambut kecoklatan yang merupakan penasehat kerajaan itu memberinya semangat setelah ia memberikan kabar terbaru mengenai keputusan yang Taiga ambil. Keputusan yang diambil oleh Taiga itu tidak terlalu mengejutkan bagi Tetsuya, bahkan sebelum Kiyoshi memberitahunya pun sang Ratu sudah menduga kalau hukuman mati adalah apa yang akan ia terima nanti sebagai hukuman final, namun yang tidak membuatnya habis pikir adalah cara hukuman tersebut dilakukan. Dibakar secara hidup-hidup, Tetsuya merasakan tubuhnya bergetar hebat hanya karena membayangkan sensasi api panas yang akan menjalar pada tubuhnya. Ia hanyalah seorang manusia yang memiliki emosi serta rasa takut dibalik wajah datarnya, ia takut akan api dan tidak ingin dibakar secara hidup-hidup, namun bila itu adalah apa yang Taiga berikan kepadanya maka mau tidak mau Tetsuya harus menjalaninya.
Nafsu makannya yang sudah begitu sedikit pun kini hilang, bahkan bujukan Momoi agar Tetsuya makan pun tak ia indahkan. Keadaannya ini saja sudah membuat Tetsuya kenyang, ia tak butuh makanan mengisi perutnya hanya untuk keluar lagi. Ia akan mati. Meski demikian Tetsuya merasa begitu berterimakasih atas kesetian yang Momoi Satsuki berikan padanya, sejak Tetsuya dikurung di dalam menara ini sang pelayan berambut merah muda itu tak pernah absen untuk mengunjungi serta mengurus semua kebutuhannya. Entah apa yang Tetsuya lakukan di masa lalu sampai ia memperoleh kesetiaan yang begitu besar dari pelayannya ini, Tetsuya merasa berhutang banyak kepada gadis itu. Pikirannya melayang kembali pada pembicaraan yang ia lakukan dengan Kiyoshi, mengenai hukuman yang Taiga berikan kepadanya. Dua buah hukuman kejam yang membuat perutnya mual, ia ingin membayangkan semua ini adalah mimpi buruk belaka sehingga saat ia terbangun semua ini tidak akan menjadi nyata, namun sayangnya keinginan tersebut tak akan bisa terkabul begitu saja. Cobaan yang Tuhan berikan kepada Tetsuya itu sangat besar, dan pemuda yang memiliki paras manis itu hanya bisa berdoa agar Tuhan memberikan bantuan serta jalan keluar kepadanya.
"Tetsuya-sama, maafkan saya yang baru bisa menjenguk Anda di tempat ini. Ada beberapa hal yang ingin saya beritahukan kepada Anda, mengenai hukuman yang Raja Taiga putuskan. Paduka Raja menduga kalau Anda menggunakan sihir untuk membuatnya jatuh cinta kepada Anda, karena itu Raja Taiga memutuskan untuk membatalkan pernikahan kalian melihat semua ini adalah ilusi Anda ciptakan, selain itu hukuman utama yang telah Raja Taiga putuskan unuk Anda adalah hukuman mati, Anda akan dibakar hidup-hidup sebagai keputusan Beliau. Hukuman itu akan dilaksanakan tiga hari dari sekarang, Tetsuya-sama, saya harap Anda bisa mempersiapkan diri Anda sampai waktu itu tiba."
Suara Kiyoshi Teppei yang mendengungkan sebuah hukuman benar-benar membuat tubuh Tetsuya menggigil karena takut serta teror yang tersembunyi di dalamnya, Tetsuya ingin mengusir semua itu dengan memejamkan kedua matanya meski ia tahu usahanya itu adalah sebuah kegagalan besar. Dalam detik ini saja nasibnya tak akan berubah, ia akan mati tiga hari lagi dengan cara yang sangat mengenaskan. Mungkin Kuroko Tetsuya adalah ratu pertama dalam sejarah yang mengalami hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup, kehidupan pemuda manis itu memang dipenuhi oleh ironi yang posisinya begitu permanen, tak dapat diganggu gugat begitu saja.
"Tuhan, kalau Kau mendengar doaku, tolong bantu aku. Berikan aku jalan untuk keluar dari semua ini," gumam sang Ratu dengan suara lembut, kedua matanya yang terpejam secara tak sadar pun kini terbuka lagi. Ia menatap langit-langit kamarnya di menara Seirin dengan datar, semuanya begitu menakutkan dan fakta itu pun tak bisa dihindari.
Sang Ratu yang sudah mengalami kelelahan baik batin dan fisiknya pun kini sudah tak memiliki tenaga yang tersisa, dengan perlahan ia menempatkan dirinya untuk berbaring di atas tempat tidur yang keras dan dingin sebelum tangan kanannya menarik selimut tipis untuk menutupi tubuh ringkihnya itu. Dinginnya ruangan itu membuat Tetsuya menggigil begitu hebat meski selimut tipis yang ia tarik tadi sudah menutupi tubuhnya sampai di dada, namun semua usahanya untuk menghangatkan diri itu pun terasa percuma karena ruangan tempatnya berada itu memang tidak terlalu bersahabat. Lilin yang menjadi satu-satunya penerangan di dalam ruangan tersebut mati tertiup angin dari jendela kecil yang ada di sampingnya, membuat ruangan yang temaram itu menjadi gelap gulita tanpa ada cahaya yang meneranginya. Kegelapan tadi juga bersatu dengan rasa dingin yang menusuk kulit, sebuah kombinasi yang membuat kesehatan Tetsuya semakin menurun meski hal itu tidak terjadi secara signifikan sekarang ini. Tetsuya mencoba untuk memejamkan kedua matanya setelah memanjatkan doa, ia berusaha untuk menyimpan semua keluh kesahnya di dalam pikirannya yang terdalam dan mencoba untuk tidur, namun sekeras apapun pikirannya masih tak bisa diam sehingga membuat sang pemuda yang memiliki paras rupawan itu pun tak bisa mengantarkan dirinya ke dalam naungan mimpi. Bahkan seandainya ia tidur pun maka bukan mimpi indah yang akan ia alami, melainkan mimpi buruk yang tak ada habis-habisnya.
Tiga jam pun telah berlalun sejak terakhir Tetsuya mencoba memejamkan kedua matanya untuk tidur, dan sampai saat ini pun ia masih belum dapat beristirahat meski tubuhnya begitu lelah, memaksa otaknya untuk segera tidur meski hasilnya adalah percuma. Lima belas menit pun akhirnya berlalu, pikirannya yang terlalu berat serta tenaganya yang terkuras hebat pun kini sudah mampu membuatnya untuk tertidur, namun tidur yang menyelimuti tubuhnya tersebut tak bertahan lama ketika tanpa sadar Tetsuya merasakan ada sesuatu yang janggal berada di dalam ruangan itu. Ia tak sendiri di sana, ia merasa kalau dirinya menjadi sebuah objek penglihatan dari sepasang mata asing milik seseorang yang tiba-tiba hadir di dalam kamarnya di menara Seirin ini, yang seharusnya penghuni dari ruangan tersebut adalah Tetsuya seorang.
Dengan perjuangan yang begitu besar untuk menahan rasa kantuk yang akhirnya menyerang pun Tetsuya membuka kedua matanya, dan hal pertama yang ia lihat ketika ia membuka matanya adalah sepasang mata herokromatik berwarna merah-keemasan tengah menatapnya. Sosok gelap yang berdiri di samping tempat tidurnya itu terus-terusan menatap sosok Tetsuya yang berbaring di atas tempat tidur kecilnya itu. Sang Ratu tak perlu mendapatkan penerangan berlebih untuk mengetahui siapa yang tengah berada di dalam ruangannya itu, hanya satu orang yang Tetsuya kenal memiliki sepasang mata unik seperti ini, dan orang itu adalah...
"Seijuurou-kun?" Panggil sang Ratu dengan lembut, perlahan ia pun bangkit dari posisi berbaringnya meskipun pekerjaan tersebut menguras tenaganya, ia membiarkan selimut tipis yang tadi menyelimuti tubuh kecilnya kini jatuh ke atas pangkuannya saat sang pemilik terduduk di sana sambil menatap sang pengunjung tak diundang dengan tanda tanya yang terulas di kedua mata sebening langit biru tersebut.
Pemuda berambut merah darah yang Tetsuya kenal bernama Seijuurou itu tidak menjawab, ia hanya menatap sosok sang Ratu yang terduduk di atas tempat tidur menyedihkan itu dengan tatapan yang tak bisa Tetsuya artikan. Emosi yang menyelimuti sang duta besar Teiko itu tak mampu Tetsuya baca, dan meski wajah tampan itu terlihat datar serta menakutkan pada saat yang sama, Tetsuya terlihat tidak terpengaruh sedikit pun. Tetsuya bertanya-tanya dalam hatinya akan bagaimana Seijuurou bisa masuk ke dalam menara Seirin yang terkenal akan penjagaannya yang begitu ketat serta alasan kenapa Seijuurou menemuinya di tengah malam seperti ini. Semua pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati kecil Tetsuya itu tampaknya terlihat begitu jelas dari balik kegelapan yang membentang, karena dua detik kemudian Tetsuya merasakan telapak tangan hangat milik pemuda berambut merah darah tersebut menangkup wajahnya, membuat Tetsuya semakin tidak mengerti.
Penampakan sihir yang bukan dari dirinya membuat kedua mata Tetsuya terbuka lebar ketika lilin yang telah padam beberapa jam yang lalu kini menyala lagi secara tiba-tiba. Tetsuya tidak melakukan hal itu, dan satu-satunya orang yang berada di dalam kamarnya adalah dirinya serta Seijuurou, sehingga kemungkinan besar Seijuurou adalah penyihir seperti dirinya.
"Kau terlihat terkejut, Tetsuya," gumam Seijuurou dengan pelan, ia membelai wajah sang Ratu dengan perlahan sebelum dirinya mengambil tempat duduk di pinggir tempat tidur yang Tetsuya tempati itu. Ia terlihat sekali tidak menyukai ruangan ini, terlalu kecil serta tidak nyaman, dan rasanya Seijuurou ingin sekali membawa Tetsuya pergi dari tempat ini pada saat itu juga.
"Tentu aku terkejut," jawab Tetsuya, kedua matanya terpejam untuk beberapa saat lamanya untuk menikmati belaian lembut yang Seijuurou berikan padanya, membuatnya begitu nyaman dan tanpa sadar ia pun meletakkan tangan kirinya di atas tangan Seijuurou yang tengah menyentuh pipinya. "Seijuurou tiba-tiba saja datang mengunjungiku di tengah malam begini, dan tidak lupa ia juga mengatakan kalau dirinya adalah seorang penyihir secara frontal seperti ini."
"Seharusnya kau tidak perlu terkejut lagi, Tetsuya, sebagian besar masyarakat yang tinggal di Teiko memiliki sihir di dalam tubuh mereka. Dan aku pun bukanlah pengecualian di sini," melihat tak ada tanda-tanda penolakan maupun protes dari sang Ratu, Seijuurou mendekatkan tubuhnya dengan milik Tetsuya sebelum ia merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya.
Taiga telah membatalkan pernikahannya dengan Tetsuya, dan hal itu pun telah ia umumkan kepada masyarakatnya siang tadi. Dalam artian lain apa yang Tetsuya lakukan dengan Seijuurou pun tidak bisa dikategorikan sebagai tindakan selingkuh maupun menyalahi aturan, karena bagaimana pun juga Tetsuya sudah tidak terikat pada ikatan suci yang bernama pernikahan. Secara tidak langsung hal ini mengatakan akan apa yang Taiga buang maka akan menjadi milik Seijuurou, dan Tetsuya adalah milik Seijuurou sekarang ini.
Mungkin kehadiran Seijuurou itu mirip seperti cahaya yang menerangi kegelapan di hati Tetsuya, pikirannya yang sedari tadi terbebani itu pun langsung menghilang dengan merasakan pelukan hangat yang belahan jiwanya berikan kepada dirinya. Tetsuya baru tahu kalau Seijuurou itu begitu nyaman untuk dipeluk seperti ini, secara reflek sang Ratu pun langsung menyandarkan keningnya pada bahu Seijuurou saat pemuda berambut merah darah itu mendekapnya dengan erat. Sihir keduanya bertemu dan saling berikatan, menciptakan sebuah harmoni yang indah dimana hanya keduanya saja yang bisa merasakannya saat ini.
"Teiko penuh akan penyihir?" Tanya Tetsuya dengan suara pelan, sepertinya ia ingin melihat negara itu dan bila ia diberi kesempatan yang kedua maka Tetsuya ingin tinggal di sana. "Apa kau bisa menceritakan padaku mengenai Teiko, Seijuurou-kun?"
Dalam remangan cahaya lilin yang memberi ruangan gelap itu penerangan, senyuman kecil pun kini terpatri di bibir Seijuurou ketika mendengarkan permintaan yang Tetsuya berikan padanya. Bagi Seijuurou orang yang tengah ia peluk ini sangat unik, begitu berbeda dengan orang lain. Tidak hanya Tetsuya itu sangat mengagumkan, namun keunikan yang ia miliki itu mampu membuat Seijuurou tercengang sendiri. Bila orang lain berada dalam posisi Tetsuya, kemungkinan besar mereka akan bertanya bagaimana Seijuurou bisa berada di tempat ini melihat menara Seirin memiliki penjagaan ketat dan kamar tempat mereka berada hampir berada di puncak tertinggi, namun tidak dengan Tetsuya karena pemuda manis itu malah meminta Seijuurou untuk menceritakan mengenai Teiko kepada dirinya. Sungguh, Kuroko Tetsuya adalah orang terunik yang pernah Seijuurou temui, dan Seijuurou tak akan menyanggah kalau ia sendiri sudah terjerat dalam pesona orang unik yang bernama Kuroko Tetsuya itu.
Kedua mata heterokromatik milik Seijuurou ikut terpejam saat ia menyandarkan kepalanya pada milik Tetsuya, ia menikmati kebersamaan yang pada akhirnya bisa mereka nikmati setelah keduanya terpisah selama dua minggu lamanya. Seijuurou mengambil nafas panjang seraya membuka kedua matanya, direngkuhnya tubuh kecil dalam dekapannya itu dengan erat namun tak menyakitkan sebelum bibirnya terbuka untuk memberitahu Tetsuya mengenai Teiko.
"Teiko adalah negeri yang makmur dan menguasai berbagai sektor. Penyihir dan manusia biasa hidup secara berdampingan, dan keduanya pun masuk ke dalam dewan rakyat yang mendampingi sang Kaisar Teiko dalam memerintah kerajaan. Meski terkadang terdapat kesenjangan sosial di dalamnya, Kaisar Teiko selalu menekankan akan pentingnya hidup bersama demi kejayaan Teiko, dan tak ada yang berani membantahnya. Kaisar Teiko yang kelima belas telah membawa Teiko menuju masa keemasan, membuat Teiko menjadi kerajaan terkuat serta termakmur yang pernah ada seperti apa yang kau ketahui saat ini. Dan kejayaan ini pun sudah berlangsung lebih dar 978 tahun lamanya."
Cara Seijuurou menceritakan mengenai kerajaan Teiko itu membuat Tetsuya berpikir kalau Seijuurou adalah Kaisar dari Teiko sendiri, ide yang ia miliki tersebut membuat Tetsuya merasa terhibur karena tidak mungkin seorang Kaisar besar seperti Kaisar Akashi itu berada di dalam menara bersama dirinya, memeluk Tetsuya seperti sekarang ini. Ia menghela nafas panjang seraya membuka kedua matanya sebelum ia menyandarkan tubuhnya secara penuh pada sosok Seijuurou yang masih mendekapnya dengan erat. Meski Tetsuya tidak terlalu yakin dengan perasaan yang ia miliki sendiri, namun kehadiran Seijuurou ini membuatnya begitu nyaman, sehingga ia pun merasa tak keberatan kalau Seijuurou yang notabene bukanlah suaminya memeluknya seperti ini. Apa mungkin ini adalah apa yang mereka rasakan ketika mereka bersama belahan jiwa mereka?
"978 tahun? Kaisar Akashi pasti orang yang sangat tua, tidak ada manusia yang bisa hidup selama itu kecuali bila mereka memiliki sihir yang sangat besar sehingga sihir tersebut membantu mereka untuk terus hidup dalam waktu yang lama," gumam Tetsuya, ia mendongak ke atas untuk menatap wajah Seijuurou yang begitu dekat dengan miliknya. Saat ia melihat ke arah kedua mata herokromatik milik Seijuurou, Tetsuya merasa ada sesuatu yang ia lewatkan di sini.
"Ia adalah seorang sorcerer, tingkatan tertinggi dari seorang penyihir. Tidak heran kalau sang Kaisar memiliki umur panjang dan memimpin Teiko selama ratusan tahun," ujar Seijuurou, keterkesanan di dalam kilatan mata herokromatik miliknya tersebut membuat Tetsuya menyipitkan matanya. "Meskipun usianya itu sangat tua, ia tidak terlihat seperti fosil tua berjalan, Tetsuya."
Tetsuya merasakan dirinya mulai curiga kepada Seijuurou. Ketika ia bertanya mengenai Teiko, Seijuurou menceritakan kerajaannya seperti dirinya adalah seorang raja yang bercerita akan negeri yang ia pimpin, dan ketika Tetsuya memberi komentar mengenai usia Kaisar Akashi yang sangat tua itu Seijuurou malah terlihat begitu terhibur, bahkan seringai tipis pun bisa Tetsuya lihat meskipun keduanya tengah berada di dalam ruangan dengan penerangan yang begitu tipis. Genggaman tangan Tetsuya pada baju yang dikenakan Seijuurou itu semakin erat, ia pun juga sedikit menjauh dari sosok sang pemuda berambut merah darah untuk menatapnya dengan baik.
Himuro Tatsuya terlihat begitu terkejut setiap kali Tetsuya menyebut 'Kaisar Teiko' dalam pembicaraannya ketika mereka mengunjungi toko kue milik Murasakibara, di samping itu Seijuurou sendiri memiliki keberadaan yang begitu kuat seperti dia adalah pusat dari semuanya, terlebih sihir kuat yang menyelubunginya serta karisma yang begitu besar itu membuat otak Tetsuya menemukan sebuah jawaban dari pertanyaannya yang bahkan belum terbentuk.
"Seijuurou-kun dan Kaisar Akashi adalah orang yang sama," kata Tetsuya dengan datar. Meski wajahnya datar, emosi yang dipenuhi oleh keterkejutan itu pun jelas terlihat pada kedua bola mata berwarna birunya langit di musim panas tersebut, sebuah emosi yang membuat sang Kaisar berambut merah darah itu menyeringai semakin lebar. "Dan Seijuurou-kun tak perlu menyangkalnya karena aku punya alasan yang kuat kenapa aku mengucapkan hal demikian. Aku tidak tahu mengapa Seijuurou-kun menyembunyikan identitasnya, dan aku tidak akan menanyakan hal itu. Yang ingin aku tahu adalah mengapa Seijuurou-kun yang notabene adalah Kaisar Teiko datang ke Seirin yang merupakan negara kecil ini?"
Seringai tipis yang terulas di bibir Seijuurou tersebut tergantikan dengan senyuman lembut yang selalu ia berikan kepada Tetsuya. Calon ratu-nya ini memang orang yang sangat pintar, ia mampu menyimpulkan fakta dari apa yang ia dengar dari mulut Seijuurou dan menjadikan mereka sebuah kesimpulan yang begitu mengena. Akashi Seijuurou adalah Kaisar Teiko yang ke-15, itulah kesimpulan yang Tetsuya buat di sini dan kesimpulan tersebut tidak cacat sedikit pun.
Menggenggam jemari Tetsuya yang mencengkeram bajunya, Seijuurou pun membawa jemari mungil itu sebelum memberi punggung tangan sang Ratu sebuah ciuman singkat. Ia begitu menikmati rona merah yang muncul di pipi putih Tetsuya dalam cahaya yang tidak terlalu terang, meski rona merah itu tetap tinggal di sana namun raut wajah Tetsuya masih sedatar dinding istana dengan kedua mata yang masih menatap ke arahnya, meminta sebuah penjelasan kepada Seijuurou yang tentunya akan ia berikan nanti.
"Kuucapkan selamat karena tebakanmu itu benar, Tetsuya. Seperti yang kau simpulkan tadi, Kaisar Akashi dan Seijuurou sang duta besar Teiko adalah orang yang sama. Nama lengkapku adalah Akashi Seijuurou, Kaisar ke-15 dari kerajaan imperial Teiko," kata Seijuurou tanpa melepaskan genggamannya pada tangan mungil milik Tetsuya tersebut, jeda yang berlangsung selama lima detik pun berlalu ketika sang Kaisar membuka mulutnya lagi. "Ada alasan mengapa aku datang ke tempat ini, Tetsuya, dan dua di antara semua alasan yang kumiliki adalah aku ingin melihat langsung kerajaan Seirin serta melihat perlakuan Raja Taiga kepada masyarakat penyihir. Bayangkan betapa tak menyenangkannya ketika melihat para penyihir yang merupakan rakyatku dijatuhi hukuman mati meski mereka tak melakukan kesalahan kecuali memiliki sihir dalam tubuh mereka, Tetsuya, dan semua itu pun tak sebanding dengan bagaimana perlakuan mereka kepada ratu-ku."
"Ratu dari Seijuurou-kun?" Tetsuya memiliki sebuah ide akan ke mana pembicaraan ini akan berlanjut, dan ia bukanlah orang yang naif untuk tidak mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh Seijuurou, namun ia tak ingin mengambil ide gila itu sebagai pemikiran berat sebelum ia mendapatkan kepastian dari sang Kaisar sendiri.
Dan Tetsuya pun merasakan kalau dirinya memang benar akan ide tersebut begitu melihat kilatan tajam yang terpatri di kedua mata herokromatik tersebut, menggantikan kilatan jenaka yang Tetsuya lihat beberapa waktu yang lalu. Semua itu juga didukung akan betapa kuatnya sihir Seijuurou muncul di permukaan tubuh mereka, begitu mengikat sampai membuat Tetsuya hampir kehabisan nafas, menandakan kalau Seijuurou tengah murka akan ide ratu yang ia temukan terenggut secara paksa dari tangannya. Dan bila Tetsuya benar, maka ratu yang dimaksud oleh Seijuurou tidak lain adalah Tetsuya sendiri, sang Kaisar telah merencanakan untuk menjadikan Tetsuya menjadi seorang ratu untuk yang kedua kalinya, kali ini berada di Teiko.
Pemuda yang memiliki marga awal bernama Kuroko itu pun merasakan cengkeraman tangan Seijuurou pada tubuhnya semakin erat, bahkan Tetsuya berani bersumpah kalau ia tadi melihat kilatan keposesifan muncul di kedua mata indah milik sang Kaisar Teiko yang ke-15. Menakutkan, namun juga memberi Tetsuya perasaan aman seperti rumah.
"Kau adalah ratu-ku, Tetsuya, dan tak akan kubiarkan Taiga mengambilmu dari hadapanku ketika aku ada di sini," desis Seijuurou dengan begitu tajam, menyuarakan rasa murkanya kepada sang Raja Seirin yang telah memperlakukan Tetsuya seperti ini. Ia pun menarik tubuh Tetsuya kembali ke dalam pelukannya. "Aku tak pernah menyukai bagaimana Taiga memimpin Seirin, ia menggunakan dendam pribadinya karena kesalahan seorang penyihir yang telah membunuh ibunya di masa lalu untuk memusnahkan semua masyarakat penyihir yang ada di bawah kepemimpinannya, dan semua itu tak sebanding dengan apa yang Taiga lakukan kepadamu. Kau tahu, Tetsuya, aku ingin sekali membuat Taiga menderita sampai ia memohon padaku untuk membunuhnya, bahkan kematian pun kurasa tak sebanding atas dosa yang sudah ia lakukan padamu."
Dalam pelukan Seijuurou itu Tetsuya mendengarkan apa yang Seijuurou katakan, jelas kentara sekali kalau Seijuurou ingin membunuh Taiga dan membuatnya menderita, namun Tetsuya memiliki sebuah dugaan kalau apa yang Seijuurou maksud adalah lebih dari itu semua. Seijuurou mengatakan kalau para penyihir yang ada di Seirin adalah masyarakatnya, artinya Seijuurou menganggap Seirin adalah wilayah kekuasaannya meski secara hukum Seirin itu berdiri sendiri, artinya Seijuurou ingin menakhlukkan Seirin dan menyeretnya untuk masuk ke dalam wilayah Teiko.
Penjajahan, kata itulah yang mampu Tetsuya cerna setelahnya, membuat pemuda manis yang berada dalam dekapan hangat sang Kaisar Teiko membeku untuk beberapa saat karena keterkejutan yang ia alami. Bila Seijuurou mencoba menakhlukkan Seirin, itu artinya peperangan yang hebat pun akan terjadi di sini, dan secara langsung hal tersebut akan mengakibatkan banyaknya orang yang tak bersalah menjadi korbannya. Tetsuya tak akan membiarkan hal itu terjadi, Seirin adalah negara tempat Tetsuya dilahirkan serta dibesarkan, dan ia tak ingin ambisi Seijuurou membuat Seirin menderita.
Tetsuya mencoba memberontak di dalam pelukan Seijuurou, ia ingin melepaskan diri dari dekapan sang Kaisar Teiko meski semua usaha yang ia lakukan tersebut gagal dan sia-sia belaka, Seijuurou yang sepertinya mengerti akan tindakan Tetsuya itu tak melepaskan dirinya. Rontaan yang Tetsuya berikan semakin keras meskipun mereka berdua tahu kalau usahanya tidak berguna sama sekali, sampai dua menit kemudian tubuhnya yang sedari tadi sudah tak memiliki tenaga pun akhirnya terkulai lemas di dalam pelukan sang Kaisar merah.
Mengerti akan kekhawatiran sang Ratu, Seijuuroun tertawa kecil sebelum tangan kanannya mengusap rambut Tetsuya dengan lembut.
"Tetsuya, sebagai seorang ratu kau pasti tahu kalau apa yang Taiga lakukan itu tidak benar. Ia tak berhak memberikan hukuman mati kepada rakyatnya hanya karena mereka memiliki sihir, terlebih pengadilan yang ia lakukan pun juga tak memenuhi standar yang baik. Memiliki sihir itu bukan berarti kita ini buruk, Tetsuya, sihir yang ada dalam tubuh kita adalah kelebihan yang Tuhan berikan kepada kita dan kita pun harus menerimanya. Tak ada sihir yang buruk kecuali bila si pengguna menggunakannya dengan tujuan buruk, kau dan aku tahu akan hal ini," ujar Seijuurou, ia pun membawa tubuhnya untuk berbaring di atas tempat tidur yang keras dan dingin itu sebelum membawa tubuh mungil sang Ratu untuk berbaring di atasnya, menggunakan dada bidangnya sebagai bantal untuk Tetsuya. "Tetsuya adalah orang yang baik, ia memiliki sihir dan menggunakannya untuk menyembuhkan penyakit orang lain serta menumbuhkan tanaman obat di pekarangan rumahnya beberapa tahun yang lalu."
Tetsuya sedikit terlonjak karena ucapan tersebut karena rahasianya disebutkan begitu santai oleh Seijuurou, namun tubuhnya kembali rileks saat Seijuurou membelai tengkuknya, membuat sang Ratu merasakan tubuhnya merinding untuk beberapa saat lamanya sebelum dirinya kembali memejamkan kedua matanya untuk sekali lagi. Ia pun mendengarkan ucapan sang Kaisar seraya mendengarkan detak jantung Seijuurou yang berjalan begitu seimbang.
"Seijuurou-kun tahu akan hal itu," gumam Tetsuya yang kini sudah kembali normal.
"Tentu, aku mendapatkan fakta itu ketika kau mengajakku mengunjungi rumahmu, Tetsuya. Rumahmu memiliki residu sihir yang sangat besar, dan semuanya berasal dari kebun milikmu yang ditumbuhi oleh alang-alang dan juga tanaman mati yang tidak lain adalah tanaman obat langka yang hanya bisa tumbuh saat kau merawatnya menggunakan sihir. Aku langsung menyadari akan hal itu, tidak heran kalau Shigehirou menggantikan posisimu sebagai tabib di desamu."
Mendengar nama Ogiwara itu membuat Tetsuya langsung membuka kedua matanya, ia mendongak sesaat untuk menatap sang Kaisar dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Tetsuya tahu kalau ia memberikan izin kepada Ogiwara untuk menggunakan tanaman obatnya tersebut untuk mengobati orang-orang yang membutuhkan, namun yang ia tidak ketahui adalah hubungan Ogiwara di sini dengan yang Seijuurou ungkapkan, bukankah Ogiwara sudah menghilang sejak setahun yang lalu?
Melihat ekspresi polos yang penuh akan tanda tanya dari Tetsuya itu membuat Seijuurou mendaratkan sebuah ciuman pertama pada kening sang Ratu, eskpresinya begitu menggoda.
"Apa Tetsuya tahu kalau Shigehirou sebenarnya berada di tempat ini? Dugaan sebagai seorang penyihir karena mampu mengobati orang dengan begitu cepat menggunakan tanaman sihir adalah alasannya, dan Taiga pun menahannya di menara Seirin selama setahun," kata Seijuurou lagi. "Satu alasan lagi kenapa aku mengatakan Taiga bukanlah raja yang bijak, ia tak mampu membuat keputusan sendiri dan menjatuhkan hukuman kepada rakyatnya meski mereka tak terbukti memiliki sihir."
Tetsuya merasakan otaknya tak mampu berpikir untuk beberapa saat setelah Seijuurou memberikan informasi yang sangat penting. Ia tak pernah menduga kalau Ogiwara yang merupakan kakak lain ayah dan lain ibu dengannya itu harus mengalami penderitaan seperti itu hanya karena ia menggunakan tanaman milik Tetsuya, dan bagaimana Tetsuya tak pernah tahu akan hal ini? Pemuda berparas manis itu lagi-lagi menghela nafas panjang, kelihatannya Taiga tak memberikan hukuman mati kepada Ogiwara karena ia tahu Ogiwara adalah teman baik Tetsuya, dan ia tak ingin membuat Tetsuya sedih karena ia memberikan hukuman mati kepada Ogiwara. Namun semuanya itu berubah sekarang ini, Taiga sudah membatalkan pernikahan mereka berdua yang artinya ia tak akan segan-segan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Ogiwara, dan Tetsuya memiliki firasat kalau Ogiwara pun akan dihukum bersama dengannya.
Semua ini adalah salahku, Ogiwara-kun jadi terbawa ke dalam masalah karena aku, pikir Tetsuya yang untuk pertama kalinya dalam kurun waktu dua minggu ini menyalahkan dirinya akibat nasib buruk yang temannya miliki itu.
Sebutir air mata tanpa sadar pun terjun dari pelupuk mata Tetsuya, membuat Seijuurou semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh rapuh milik Kuroko Tetsuya. Sepertinya Taiga masih belum puas untuk menghukum dirinya, tidak hanya ia membatalkan pernikahan mereka serta memberi Tetsuya hukuman mati, namun mantan suaminya itu juga akan menghukum mati Ogiwara Shigehirou yang merupakan saudara angkat Tetsuya tersebut. Ogiwara Shigehirou adalah satu-satunya orang yang Tetsuya miliki setelah ia menjadi yatim piatu, dan sepertinya takdir begitu kejam memisahkan mereka berdua dalam keadaan yang seperti ini.
"Seijuurou-kun..." Tetsuya tak kuat menahan gejolak emosi yang ia derita ini, dan ia pun langsung menenggelamkan wajahnya pada dada Seijuurou untuk menghilangkan semua emosi yang mencekiknya tersebut. Ia ingin tertidur dan terbangun lagi untuk menemukan kalau fakta ini hanyalah mimpi kosong belaka.
Isakan lembut dari sang Ratu pun teredam oleh dada Seijuurou, dan tangisan itu pun adalah yang pertama terjadi setelah ia ditahan di dalam menara Seirin. Semua ini bukan untuk dirinya, namun untuk seorang pemuda yang merupakan kakak angkatnya yang karena kesalahannya itu pun ia harus dihukum mati. Tetsuya merasa sakit pada dadanya, semua emosi serta perasaan ini begitu menyakitkan, dan ia pun terus menangis sampai tubuhnya tak memiliki tenaga sedikit pun yang pada akhirnya membuatnya tertidur.
Sang Kaisar yang masih memeluk tubuh mungil Tetsuya itu masih terjaga, ia menggunakan belaian lembutnya untuk mengusap kesedihan yang Tetsuya miliki meski hal tersebut tak ada gunanya, bahkan Seijuurou pun juga menggunakan sihirnya untuk membungkus tubuh calon Ratu imperial Teiko tersebut. Semuanya berasal dari dalam, Seijuurou tak bisa menjangkaunya secara langsung, dan untuk pertama kali dalam hidupnya Seijuurou merasakan dirinya diliputi kemarahan yang luar biasa. Berani-beraninya manusia rendahan seperti Kagami Taiga membuat calon permaisurinya seperti ini, benar-benar tak bisa dimaafkan.
"Tungguhlah sebentar, Tetsuya, aku akan melepaskanmu dari belenggu yang mengikatmu. Bersabarlah, sayang," gumam Seijuurou sebelum ia memberikan kecupan singkat pada kening, hidung, dan pada akhirnya bibir Tetsuya.
Waktu yang telah dijanjikan oleh Taiga pun akhirnya tiba, tiga hari setelah pengumuman mengenai hukuman mati untuk Tetsuya diumumkan kepada rakyat Seirin pun akhirnya hukuman tersebut akan dilakukan siang ini. Semalaman penuh Tesuya tak bisa tidur mengingat nasib yang akan ia terima di siang nanti ketika matahari terbit, ia tak akan mampu melihat hari esok yang cerah maupun dapat bersanding dengan Seijuurou di bangku pelaminan. Ia akan menyusul kedua orangtuanya serta Ogiwara di surga, mungkin itu adalah hal terbaik yang akan Tetsuya terima setelah penderitaan yang tiada henti selalu mengujinya.
Ogiwara telah mendahului Tetsuya untuk menyusul orangtuanya di surga, pemuda itu mendapatkan hukumannya kemarin dengan dibakar hidup-hidup di depan publik. Bahkan Tetsuya tak mampu memberikan salam perpisahan untuk kakak angkatnya karena semua itu berjalan dengan begitu tiba-tiba. Tetsuya sangat bersyukur ia tak bisa melihat prosesi hukuman mati yang Ogiwara terima karena ia yakin dirinya tak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak masuk ke dalam kobaran api demi menyelamatkan Ogiwara, dan ia sangat menyesal akan hal ini. Andai saja Tetsuya meluangkan waktunya untuk mengunjungi Ogiwara di masa lalu, mungkin semua ini tidak akan terjadi pada pemuda berambut oranye tua tersebut.
Duduk di atas kursi kayu yang berhadapan dengan jendela kecil di ruangan itu, Tetsuya menatap matahari dan menikmatinya untuk yang terakhir kali. Beberapa jam lagi ia tak akan bisa merasakan hangatnya matahari mengenai kulitnya maupun melihat betapa indahnya langit biru yang cerah itu, karena sebentar lagi adalah giliran Tetsuya untuk menghadapi hukumannya. Sang Ratu Seirin tersebut tak perlu menoleh ke samping untuk melihat Momoi yang tengah berdiri di sampingnya dengan ekspresi sayu serta penuh akan kesedihan terpancar di sana, pelayan setianya itu akan terus mendampingi Tetsuya sampai saat yang terakhir, bahkan Momoi akan menyaksikan bagaimana orang yang dicintainya itu akan kehilangan nyawanya dengan cara yang begitu tragis. Mengingat hal itu langsung membuat Momoi menitikkan air matanya lagi, namun ia langsung mengusapnya karena ia tak ingin membuat sang Ratu mengkhawatirkan dirinya.
Mereka berdua menikmati ketenangan yang terjadi itu untuk yang terakhir kalinya, dan tak perlu ada suara yang mengiri di antara keduanya pun semua itu sudah cukup. Tak sanggup melihat betapa tegarnya orang yang ia kagumi itu meski orang tersebut tengah menderita, Momoi pun langsung ambruk dan terduduk di lantai. Wanita muda itu tanpa ragu melingkarkan kedua lengannya pada pinggang langsung Tetsuya dan membenamkan wajahnya pada paha sang Ratu, ia menangis sejadi-jadinya.
"Tetsu-sama, tolong jangan tinggalkan saya. Saya mohon..." isakan tangis yang bercampur dengan suara sengau dari Momoi itu membuat Tetsuya memberikan senyuman sayu di sana. Dengan tangan kanannya Tetsuya membelai helaian panjang merah muda milik pelayan setianya tersebut.
"Semuanya akan baik-baik saja, Momoi-san. Kau adalah gadis yang kuat, jangan menangis hanya karena masalah yang aku hadapi ini," ujar Tetsuya yang mencoba untuk menenangkan.
Perkataan lembut yang begitu menenangkan dari sang Ratu itu malah membuat Momoi terisak lebih keras lagi, ia tak ingin kehilangan orang yang ia kagumi ini begitu saja, ia tak ingin Tetsuya dihukum mati oleh sang Raja Seirin. Momoi harap sang Kaisar Teiko bisa menyelamatkan Tetsuya, namun Momoi tak tahu apakah janji dari Seijuurou untuk menolong Tetsuya itu hanya sebuah janji kosong belaka saja.
Untuk menenangkan pelayannya itu akhirnya Tetsuya pun menggumamkan senandung lembut yang sering ibunya senandungkan ketika ia masih kecil. Lantunan melodi yang berupa senandung lembut itu membuat suasana tegang yang sedari tadi merambat kini tergantikan oleh ketenangan, bahkan isak tangis Momoi yang tak luput dari pendengaran Tetsuya pun kini sudah mulai tenang sampai sang wanita muda itu menghentikan tangisnya. Tetsuya terus menyenandungkan lagu tersebut sampai sebuah ketukan pintu pun terdengar, membuat keduanya menoleh ke arah pintu untuk melihat Kiyoshi sudah berdiri di ambang pintu.
"Tetsuya-sama, kereta kuda yang akan membawa Anda ke alun-alun kota sudah siap, kami sudah menunggu Anda," ujar Kiyoshi dengan kalem, ekspresinya mungkin terlihat tenang namun kedua matanya menyorotkan kesedihan yang luar biasa. Mereka semua akan kehilangan seorang ratu yang hebat hari ini, dan mereka tak bisa melakukan apapun karena itu.
Anggukan singkat pun Tetsuya berikan sebagai balasan.
"Kiyoshi-san," panggil Tetsuya dengan pelan, ia pun segera bangkit dari posisi duduknya setelah Momoi beranjak dari sana. "Aku akan mengambil kesempatan yang Raja Taiga berikan padaku, aku akan membuat pengakuan di publik sebakai kata-kata terakhir sebelum api yang disiapkan membakarku sampai tak tersisa."
"Baik, Tetsuya-sama. Saya akan menyampaikan permintaan Anda kepada Yang Mulia Raja," kata Kiyoshi yang disertai oleh anggukan. "Mari, Tetsuya-sama, saya akan mengantarkan Anda menuju alun-alun kota."
"Iya."
Tetsuya pun menghembuskan nafas panjang setelah Momoi membantunya mengenakan mantel untuk menyelimuti tubuhnya sebelum mereka berdua keluar dari dalam ruangan itu dengan dipandu oleh Kiyoshi yang sudah berjalan di depan mereka berdua. Dua orang pengawal yang menjaga pintu ruangan Tetsuya pun langsung mengikuti sang Ratu dan pelayannya dari belakang, sebuah penjagaan ketat untuk mengantisipasi kalau Tetsuya kabur pun dilakukan. Sungguh, secara tak langsung hal ini membuat Tetsuya sakit hati, ia tak akan lari dari hukuman yang diberikan oleh Taiga tersebut. Adanya pengawal atau pun tidak, Tetsuya akan tetap mengikuti Kiyoshi menuju alun-alun kota dimana altar kematiannya sudah disiapkan.
Secara reflek Tetsuya memejamkan kedua matanya ketika ia merasakan sinar matahari yang sangat banyak menyinarinya saat ia keluar dari dalam menara Seirin. Begitu lama Tetsuya dikurung di dalam menara ia tak pernah sekali pun merasakan hangatnya sinar matahari, dan ini adalah kali pertama ia merasakannya dalam waktu dua minggu ini. Tetsuya sangat bersyukur ia masih bisa merasakan kehangatan sementara dari sang surya sebelum tubuhnya akan menjadi abu dan jiwanya ditarik oleh Tuhan. Ia terus berjalan mengikuti Kiyoshi sampai mereka pun tiba di halaman menara dimana sebuah kereta kuda telah menanti merek semua. Sang penasehat kerajaan Seirin pun membukakan pintu bagi Tetsuya, yang kemudian menyuruh sang Ratu untuk segera masuk ke dalamnya. Baik Tetsuya dan Momoi pun segera masuk ke dalam kereta kuda serta mengambil tempat duduk di sana, dan tidak lama kemudian kereta kuda yang membawa mereka semua dari pelataran menara Seirin menuju alun-alun kota pun berjalan.
Di sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka pembicaraan, dan rasanya akan bohong sekali kalau Tetsuya tidak merasakan takut sedikit pun. Sesungguhnya ia merasa takut menghadapi kematian yang diarasemenkan oleh mantan suaminya sendiri, dan ekspresi apa yang harus Tetsuya perlihatkan kepada Taiga saat mereka berdua bertemu lagi dalam detik-detik sebelum pembakaran dirinya? Dalam hati Tetsuya terus memanjatkan doa, ia mencoba untuk tegar dan tidak memperlihatkan ketakutan yang ia rasakan.
"SELAMATKAN RATU TETSUYA!"
"TUHAN AKAN MELINDUNGIMU, YANG MULIA!"
"RATU TETSUYA!"
"TOLONG JANGAN TINGGALKAN KAMI, YANG MULIA!"
Teriakan demi teriakan yang mengelu-elukan nama Tetsuya pun terdengar begitu kencang, membuat sang pemilik nama menoleh ke arah jendela yang berbalut jeruji besi itu untuk melihat barisan yang dibentuk oleh rakyatnya saat mereka menyambut kedatangannya. Mereka yang hadir di sana mengenakan baju berkabung berwarna hitam meski sang Raja telah melarang rakyatnya untuk mengenakan pakaian berkabung untuk Tetsuya, kelihatanya mereka semua terlalu mencintai sang Ratu sampai mereka memberontak kepada raja.
Isak tangis pun terdengar semakin keras, dibarengi oleh ucapan-ucapan doa dari orang-orang ketika kereta kuda yang membawa sang Ratu pun berhenti dan Tetsuya keluar dari dalam kereta tersebut. Senyum penuh ketegaran yang terpatri di bibir Tetsuya tidak meredup, ia seperti memiliki kekuatan untuk menghadapi ini semua meski ia sudah tak memiliki masa depan lagi. Altar yang mempersembahkan kematiannya pun sudah disiapkan di hadapannya, dan ini adalah saatnya.
Para wanita serta beberapa laki-laki yang hadir di alun-alun kerajaan pun tak sanggup untuk menahan air mata mereka, nama Tetsuya terus dielu-elukan dengan penuh harum di antara suara tangis mereka, bahkan ketika Tetsuya berjalan lurus untuk menuju panggung kematiannya pun beberapa orang yang ada dalam barisan depan mencoba untuk menggapai sang Ratu untuk menyentuhnya, memberikan dukungan moral.
Aroma kematian yang berada di tempat itu tercium begitu kental, tak bisa dipungkiri kalau panggung kematian yang Taiga persiapkan itu akan mengakhiri semuanya dalam sekali tebas, nyawa Tetsuya sudah tak tertolong lagi. Berhadapan dengan altar itu, ia meminta Momoi membantunya untuk melepaskan mantel yang tengah ia kenakan, menyisakan Tetsuya yang hanya terbalut oleh kemeja sederhana berwarna putih dan celana polos berwarna hitam, sebuah pakaian sederhana yang Tetsuya kenakan untuk menyambut kematiannya. Pemuda berambut biru langit tersebut tak lagi menoleh ke belakang setelah ia menaiki tangga pendek untuk menuju panggung kematianya. Di atas sana Tetsuya bisa melihat sebuah pasak besar terpasang di antara sekumpulan kayu dalam jumlah yang banyak, pasak itu akan dipergunakan untuk mengikat Tetsuya saat hukuman itu dilakukan.
"Yang Mulia, Anda bisa memberikan kalimat terakhir Anda kepada publik sebelum kami melakukan prosesi hukuman ini," ujar seorang laki-laki yang Tetsuya yakini adalah algojo yang akan mengikat tubuh Tetsuya pada pasak di detik-detik kehidupannya tersebut.
Sang Ratu memberikan anggukan singkat. Ia menatap ke arah podium kerajaan dimana ia bisa melihat Taiga duduk di atas singgasananya dengan mengenakan pakaian cerah, begitu berbeda dengan rakyatnya yang mengenakan pakaian gelap untuk berkabung. Kelihatannya Taiga sudah tidak peduli apakah Tetsuya hidup atau tidak, pemikiran yang seperti ini membuat Tetsuya menggigit bibirnya, dan apakah Taiga harus menggenggam tangan sang selir yang bernama Furihata itu tepat di hadapannya seperti itu? Tak ingin berlama-lama melihat pemandangan itu, sang Ratu pun menatap ke arah mereka yang sedari tadi menyuarakan agar Tuhan memberikan perlindungan kepada Tetsuya.
Tetsuya pun memberikan senyuman kecil kepada mereka sebelum menarik nafas panjang-panjang dan kemudian menghembuskannya lagi. Ia pun membuka mulutnya.
"Rakyat Seirin yang aku cintai, aku berdiri di sini untuk menyambut kematian yang diberikan padaku, yang menurut keputusan hukum aku telah bersalah dan patut untuk mendapatkan hukuman mati ini. Aku tidak akan memberikan penyanggahan atas hukuman ini serta tak akan menuduh siapapun untuk bertanggung jawab," Tetsuya pun menelangkupkan kedua tengannya secara bersamaan dan meletakkannya di depan dadanya, bibirnya melengkung kecil membentuk sebuah senyuman kecil. "Meski demikian aku ingin mendoakan raja agar Tuhan selalu memberikan perlindunganNya pada Beliau serta kejayaan dalam pemerintahan kerajaan Seirin karena Beliau adalah raja yang besar dan patut untuk mendapatkan belas kasih dari Tuhan. Aku akan mengucapkan selamat tinggal pada dunia dan kepada rakyatku, aku harap kalian semua mau berdoa untukku juga."
Ucapan terakhir yang diucapkan oleh Tetsuya itu mendapatkan reaksi yang begitu besar dari masyarakat, tangisan pun mulai terdengar dan tak jarang dari mereka meneriakkan nama Tetsuya serta berdoa kepada Tuhan agar Tetsuya mendapatkan belas kasih.
"SELAMATKAN RATU TETSUYA!"
"TUHAN SELALU BERSAMA ANDA, YANG MULIA RATU."
Dan masih banyak lagi.
Algojo berbadan kekar yang mempersilakan Tetsuya untuk mengucapkan kalimat terakhir tadi pun kini menuntun Tetsuya untuk menuju ke arah sekumpulan kayu serta sebuah pasak besar yang tertancap di tengah panggung tersebut. Kedua mata Tetsuya pun ditutup menggunakan kain berwarna hitam yang terikat di kepalanya, dan tubuhnya pun dirantai pada pasak besar yang membuatnya tak bisa bergerak maupun melarikan diri. Nasib dari seorang Kuroko tetsuya sudah berakhir di tempat ini, dan ia pun akan segera menyusul kedua orangtuanya dan Ogiwara di surga sana, Tetsuya harap kesakitan sementara yang nanti akan ia rasakan tidak terlalu menyakitkan.
"BERIKAN PENGHORMATAN TERAKHIR KITA KEPADA RATU TETSUYA!" Seseorang berteriak, dan masyarakat serta prajurit yang hadir di sana (minus keluarga kerajaan dan petingginya) langsung berlutut untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Ratu Sejati dari Seirin.
Api yang dibuat oleh algojo tadi pun kini mulai menyebar pada sekumpulan kayu yang mengelilingi tubuh Tetsuya, rasa hangat yang berubah panas pun mulai Tetsuya rasakan meski itu semua belum menyakitkan.
Sepertinya ceritaku akan berakhir di sini. Maafkan aku, Seijuurou-kun, aku tak bisa menepati janjiku padamu untuk mendampingimu, pikir Tetsuya saat ia merasakan kehangatan dari api mulai bertambah intens.
Saat Tetsuya merasakan api mulai menyentuh dirinya, sesuatu yang ajaib pun terjadi di sana, sebuah hal yang sebelumnya tak pernah terjadi. Api yang menyala dan akan membakar tubuh mungil Ratu Seirin itu tiba-tiba saja diselimuti oleh es abadi, begitu pula dengan rantai yang mengikat tubuh sang Ratu dan mengakibatkan benda itu putus dengan begitu ajaib. Namun, semua itu tak sebanding dengan munculnya petir besar dari langit dan berwarna merah yang menyambar panggung kematian Tetsuya tersebut, dan saat petir tadi menghilang mereka semua bisa melihat seorang pemuda yang memiliki aura penuh akan kekuatan serta keregalan tersebut berdiri di depan sosok sang Ratu. Sepasang mata heterokromatik yang begitu dingin itu mengarah pada sang Raja Seirin yang kala itu tengah duduk di singgasananya. Pemuda itu menggenggam sebuah pedang yang tak biasa, dan ia pun mengarahkan tangannya yang terbebas ke arah langit sebelum memerintahkan petir merah tadi untuk menghancurkan panggung kematian yang menurutnya sangat bodoh itu.
Mereka semua tercengang atas kemunculan pemuda yang merupakan duta besar kerajaan Teiko tersebut, tidak hanya sang duta besar itu berani menantang raja dengan menggagalkan hukuman mati untuk sang Ratu, namun ternyata ia adalah seorang penyihir.
"Taiga, tidakkah kedua orangtuamu mengajarkan agar kau tidak mengganggu naga yang tengah tertidur?" Tanya Seijuurou dengan seringai tipis, ia pun membantu Tetsuya untuk berdiri dan melepas ikat kepala yang menutupi kedua mata yang sangat ia sukai itu. "Atau mungkin kesombonganmu itu sudah membutakanmu sampai kau berani mengusik naga yang tengah tertidur itu dengan mengambil apa yang berharga baginya?"
Dan pada saat itu juga peperangan pun akhirnya meletus di antara kubu Taiga dan kubu Seijuurou di tengah acara pembakaran sang Ratu yang telah digagalkan oleh Kaisar Teiko yang bergelar Naga merah dari Teiko itu sendiri. Tak mungkin sang Kaisar tak akan bertindak melihat calon permaisurinya mendapatkan ketidakadilan seperti ini.
AN: Terima kasih sudah mampir ke cerita sederhana ini dan membacanya.
Author: Sky
