Do You Believe In Love? © Bychancehappened
Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing: Narusasu
Genre: Angst/Romance
Published: Jul 12, 2015
Story id: 11373896
Do You Believe In Love?
Bychancehappened
AN: Karena ada yg nanya, aku bakal ngejelasin lagi tentang 'carrier'. Carrier adalah gen pembawa, semacam kelainan genetik bawaan dari gen ibu dan dalam hal ini Sasuke bisa hamil.
Naruto mengerang ketika kesadarannya kembali. Perlahan ia membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali, mencoba menerka dimana dirinya berada.
Ruangan itu sangat gelap. Tidak ada suara, tidak ada cahaya, tidak ada apapun selain kegelapan.
Naruto menggelengkan kepalanya. Mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sebelum ia tak sadarkan diri... Tapi pikirannya masih mengabur dan tak bisa mengingat sesuatu.
Pelahan ia duduk, menyangga tubuhnya dengan tangan yang gemetar. Ia mendengar kursi berdecit ketika tubuhnya bergerak, dan kemudian perlahan-lahan ia mulai mengingat apa yang terjadi.
"Tentu saja," gumamnya, "dia menusukku dengan kunai beracun."
Tangannya menyentuh dimana luka menganga di dadanya itu berada, seperti yang ia duga, luka itu sudah menghilang tanpa bekas. Tidak ada orang yang akan menyangka bahwa ia baru saja ditusuk beberapa jam yang lalu.
Mendesah, ia mulai menghidupkan lampu meja yang ada di samping sofa. Lampu satu-satunya yang ada di ruang tamu sebab Naruto tidak mampu membayar tagihan listrik terlalu banyak.
Naruto berdiri secara perlahan dan berjalan menuju jendela, membuka tirainya lebar-lebar.
Di luar masih gelap dan hujan masih turun. 'Mungkin aku pingsan beberapa jam...' pikirnya.
Ia mengulurkan tangannya dan membiarkan hujan membasahinya. Ia merasakan air dingin itu menyentuhnya, membuat tubuh dan pikirannya tenang.
Naruto menyukai hujan. Sejak kecil ia menyukainya karena hujan dapat membersihkan segala kesedihannya.
Namun sekarang berbeda, sekarang hujan membuatnya merasa bahwa ia bukan monster. Hujan tidak menganggapnya berbeda, bagi 'hujan' ia sama seperti makhluk hidup lainnya.
Hujan tidak akan menghakiminya, tidak akan mengasihaninya ketika 'mereka' menyamarkan air matanya... tidak, hujan menenangkan pikirannya yang berkabut, memberinya harapan untuk terus melangkah... lagipula 'Setelah hujan berhenti selalu ada matahari yang terbit', kata-kata itu Naruto ingat setiap kali ia melihat badai.
Mendesah, Naruto berjalan menuju pintu dan memakai sandalnya, tidak berniat untuk mengunci pintu rumahnya. Lagipula apa yang bisa dicuri dari apartemennya?
Perlahan Naruto menuruni tangga rumahnya. Lalu menjejaki jalanan berlumpur akibat hujan dan mulai berjalan tanpa tujuan ke jalan yang sepi.
Ini bukan pertama kalinya Naruto melakukan hal ini, tidak, sebaliknya... ia melakukannya setiap hari sampai sekarang.
Ketika seluruh penduduk desa tertidur, kadang-kadang ia menjelajah ke berbagai jalanan yang sepi, membayangkan orang-orang mengakui keberadaannya dan menyapanya ketika ia lewat.
Kini ia tidak peduli bagaimana air hujan mulai membasahi pakaiannya. Ia terus berjalan layaknya zombie tanpa melihat sekitar. Mata sebiru lautnya menatap horizon dengan tatapan kosong.
Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, Naruto tidak pernah merasa kosong dan kering ketika berjalan sendirian di tengah malam badai seperti ini. Biasanya ia selalu merasa lebih baik setelah berjalan-jalan, tapi hari ini nampaknya sangat berbeda.
'Mungkin karena aku berpikir aku bisa berteman dengannya...' Ia bergumam, 'Betapa bodohnya aku... setelah apa yang aku lakukan... seharusnya aku sudah tahu...'
Naruto tidak tahu berapa lama ia berjalan, jadi ketika matanya menatap hamparan gedung yang mengecil, ia sadar bahwa ia sudah berada di daerah kumuh Konoha. Ia mendesah dan mengusap matanya yang lelah.
Hujan telah berhenti dan siluet cahaya terlihat di langit sebelah timur, mengindikasikan bahwa matahari akan terbit sekitar setengah jam lagi.
Naruto membelok pada gang terdekat untuk memotong jalan ke rumahnya. Ia harus kembali ke rumah sebelum desa yang tertidur ini mulai bangun dan dunia dalam imajinasinya menghilang. Ia sedang tidak ingin melakukan teleportasi, sebaliknya ia ingin menikmati udara pagi.
Tiba-tiba kaki Naruto tersandung oleh sesuatu, ia melihat ke bawah dan mendapati figur seseorang terbaring di tanah berlumpur yang kotor.
Naruto menahan napasnya. Itu Sasuke... meskipun ia tidak bisa melihat wajahnya, dari potongan rambut dan jubah yang dipakainya, Naruto tahu bahwa orang ini adalah orang yang sama yang mencoba membunuhnya beberapa jam yang lalu. Dan sekarang pria ini terbaring di tanah kotor.
Tanpa membuang waktu, Naruto berlutut di sebelah pria itu, tak peduli dengan air lumpur yang membasahi piyamanya. Ia membalikkan tubuh pria raven itu untuk melihat wajahnya lebih jelas. Wajah pria itu terlihat sangat pucat dan bibirnya membiru.
Namun Naruto mendesah lega ketika melihat pria itu masih bernapas, meskipun terputus-putus dan sesekali terbatuk.
'Dia masih hidup,' gumamnya.
Ia tahu seharusnya ia membenci pria ini karena telah mencoba untuk membunuhnya, tapi untuk sesaat ia merasa sangat sedih.
"Kau sama sepertiku," bisiknya, "tidak akan ada yang peduli jika kau besok menghilang, sama halnya seperti; tidak akan ada yang memberiku penghormatan terakhir meskipun aku memberikan seluruh hidupku untuk melindungi desa ini."
Pria raven itu mengerang, mengambil kembali atensi Naruto. Ia melihat pria yang tak sadarkan diri itu beberapa saat sebelum matanya memancar penuh tekad.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati seperti ini, aku janji." Ia berkata dengan mantap. Naruto tidak ingin mati seperti itu; sendiri, terlupakan. Tidak. Jadi ia tidak akan membiarkan orang lain mati dengan cara seperti itu juga, tidak selama ia masih bisa membantu.
Naruto segera berdiri sambil mengangkat tubuh Sasuke, bridal style. 'Tubuhnya dingin sekali,' pikirnya.
Ia menarik tubuh Sasuke bersandar di dadanya, sedekat mungkin. Berbagi panas tubuhnya adalah yang bisa ia pikirkan untuk sedikit menghangatkan pria itu.
Sasuke mungkin tidak akan mengijinkan Naruto melakukan hal ini jika ia dalam keadaan sadar, tapi Naruto tidak peduli, menyelamatkan nyawanya adalah prioritas utama Naruto. Jadi, ia akan melakukan apapun agar Sasuke bisa bertahan.
Tanpa membuang waktu lagi, Naruto menghilang dalam pusaran angin dengan Sasuke dalam gendongannya.
Naruto tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak pernah merawat seseorang begitu juga sebaliknya.
Menaruh Sasuke di ranjang, Naruto menatap pria yang menggigil itu sambil mengamati setiap pergerakannya.
"Demi Tuhan... melawan kematian lebih mudah daripada melakukan ini," gumamnya.
Sasuke tiba-tiba terbatuk, tangannya meremas kuat kain seprai dan wajahnya terlihat kesakitan.
Naruto merasakan dorongan yang sangat kuat untuk melakukan sesuatu, apa pun untuk menghentikan rasa sakit pria itu, tapi ia tak berdaya.
Ia tidak bisa membawa Sasuke ke rumah sakit, mereka pasti tidak akan menerima karena mereka 'menghadiahkan' Sasuke padanya agar pria itu menderita. Mereka pasti senang melihatnya kesakitan seperti ini.
Tiba-tiba ia teringat bahwa ada satu orang yang bisa memberikan beberapa saran, rekan satu timnya—dan satu-satunya teman—dan seorang ninja medis terbaik di Konoha, Sakura.
Naruto melesat menuju ruang tamu, hampir tersandung kaki sofa. Ia meraih teleponnya, menghubungi nomor Sakura dan menunggu.
"Ayo, Sakura. Aku butuh bantuanmu." Ia bergumam.
Setelah beberapa saat sambungan itu diangkat. "Halo?" jawab sebuah suara yang mengantuk.
"Sakura!" Naruto hampir berteriak. "Sakura, aku butuh bantuanmu."
"Naruto," kata Sakura dengan nada monoton, "apa yang kau butuhkan?"
"Sakura... Sasuke pingsan di tengah hujan, dia sangat pucat, bibirnya membiru dan juga terbatuk-batuk. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."
"Sasuke?" tanya Sakura bingung. 'Sepertinya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat,' pikirnya.
"Oh! Aku belum memberitahumu. Dia adalah..." Naruto berhenti, kebingungan untuk menjelaskan. "... tanggungjawabku," lanjutnya kemudian.
Sakura mengingat kejadian waktu itu. "Oh. Seorang 'carrier' yang dihadiahkan untukmu?" jawabnya dengan suara yang keras.
Suara batuk lagi-lagi terdengar dari kamar dimana Sasuke berada.
"Sakura, cepat beritahu aku apa yang harus dilakukan... Aku akan menjelaskan padamu nanti."
.
Menaruh teleponnya, Naruto berjalan menuju kamar secepat mungkin. Sakura menyuruhnya untuk melepaskan pakaian yang basah dan membuat tubuh Sasuke tetap hangat.
Naruto merasa sangat bodoh. Ia mengganggu Sakura pagi-pagi buta sekaligus membiarkan Sasuke menggigil dengan pakaiannya yang basah.
Menaiki ranjang, Naruto melihat pria itu. 'Dia sangat kecil,' pikirnya.
Dengan tangan gemetar Naruto melepaskan jubah hitam besar dari tubuh Sasuke, memperlihatkan baju biru navy yang juga basah dan seperti melekat pada tubuhnya.
"Kau pasti membunuhku jika kau melihatku melakukan ini," bisik Naruto sambil membuka satu persatu kancingnya.
Naruto merasa pipinya merona untuk sesaat. Tidak pernah sekali pun dalam hidupnya, ia melucuti pakaian seseorang, apalagi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia merasa seperti seorang pria mesum.
Ketika seluruh kancing terbuka, ia menarik Sasuke ke posisi duduk dan dengan perlahan melepaskan pakaiannya.
Naruto menatap tubuh kurus itu, meneguk ludahnya saat pria itu merintih tidak nyaman.
'Dia sangat cantik.' Secepat pikiran itu datang, ia menggelengkan kepalanya kasar. 'Jangan berpikir seperti itu, demi Tuhan dia sedang sakit!' omelnya pada diri sendiri.
Ia meneguk ludahnya lagi ketika teringat apa yang harus dilakukan selanjutnya, yaitu melepaskan celana pria itu. Menutup mata rapat-rapat, dengan cepat Naruto melepas kait celana dan menarik celana itu sampai lutut, menyisakan boxer yang masih terpakai.
Ketika ia berusaha menarik keluar lubang celana itu, tangannya menyentuh sesuatu yang tajam. Matanya bergulir pada kaki Sasuke dan tersentak.
Ada pecahan kaca dan serpihan kaleng yang menancap di kaki pria itu. Lukanya masih mengeluarkan darah dan sedikit membiru.
Dengan perlahan Naruto melepaskan celana itu dari kaki Sasuke, tidak ingin pria itu merasa kesakitan lebih lama. Ia merebahkan kembali tubuh Sasuke dan menyelimutinya serapat mungkin, tapi Sasuke masih saja menggigil.
'Sakura bilang, aku harus menggosok tangan dan kakinya supaya hangat,' gumamnya.
Kemudian ia kembali menuruni ranjang dan berlutut di dekat kaki Sasuke.
Ia membuka selimut yang menutup pada bagian kaki, memeriksa luka itu lebih dekat sambil mengumpat. Ia bahkan tidak punya salep yang bisa ia gunakan.
Berpikir cepat, ia melesat keluar kamar dan kembali tak lama kemudian sambil membawa sebaskom air hangat, kain bersih dan gulungan perban.
Ia kembali duduk di posisi sebelumnya dan menaruh baskom air itu dekat kakinya.
"Maafkan aku," bisiknya pelan sebelum menarik keluar potongan kaca dan serpihan-serpihan yang menancap satu persatu.
Lukanya kembali mengeluarkan darah, dengan cepat ia membasahi kain dengan air hangat dan mengusap darah itu. Ia mendengar Sasuke merintih tapi ia tetap melanjutkan pekerjaannya.
Setelah ia selesai membersihkan lukanya, ia segera membebatnya dengan perban semampunya, tapi tetap terlihat berantakan di matanya.
Naruto tidak pernah membutuhkan perawatan seperti ini. Kyuubi selalu menyembuhkan lukanya jadi ia tidak pernah berpikir untuk belajar merawat luka, tetapi sekarang ia menyesal karena kurangnya pengetahuan dalam hal itu.
Naruto menyadari bahwa Sasuke masih menggigil di dalam selimut. Ia mencoba menggosok kaki pria itu tapi terhenti karena perban yang melilit di sana. Ia mengangkat tangannya, menatap telapak kaki itu sambil mencoba mencari cara lain untuk menghangatkannya.
Setelah beberapa saat, ia memosisikan tangannya lagi pada kaki itu namun bukan untuk menggosoknya. Ia menyentuh perban di sana secara perlahan dan menyalurkan chakra dari tangannya.
Pendar chakra berwarna biru membungkus kaki pucat itu, seperti kepompong.
Mulut Sasuke membuka dan mengeluarkan rintihan pelan, jari kakinya menekuk karena sensasi hangat yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Naruto merasa wajahnya memerah. Pelan-pelan ia mengangkat tangannya lalu menutup sepasang kaki itu dengan selimut.
Berdiri, ia menaiki ranjang dan merawat luka lain di lengannya dengan hati-hati.
Ia sadar bahwa Sasuke telah berhenti menggigil dan beberapa warna di wajahnya telah kembali. Bibir yang membiru sebelumnya perlahan menghilang dan terganti dengan warna merah muda.
Naruto mendesah lega sekaligus kelelahan. Ia masih memakai pakaian yang sama sejak semalam. Baju itu sudah mengering dan lumpur membentuk pola aneh di sana.
Senyum kecil mengembang di bibirnya ketika ia melihat dada Sasuke bergerak naik turun secara teratur. Naruto memalingkan wajah dan berjalan pelan keluar kamar dan menutup pintu hingga menimbulkan debaman pelan.
.
Naruto bersenandung dengan pelan sambil memotong beberapa sayuran. Sudah hampir malam. Ia sudah membersihkan diri, melakukan tidur siang singkat dan memeriksa keadaan Sasuke.
Pria itu masih tertidur, dan Naruto memutuskan untuk membuatkan makan malam. Sasuke mungkin akan bangun sebentar lagi dan Naruto tahu pria itu butuh makanan yang sehat. Lagipula Sasuke belum makan selama tiga hari.
Ini pertama kali bagi Naruto memasak untuk orang lain selain dirinya, ia merasa aneh.
Jika biasanya hampir setiap hari ia makan ramen, tapi hari ini ia memasak dan berbagi makanan dengan seseorang, berpikir seperti itu membuat jantung Naruto berdegup senang.
'Dia tidak akan menerima makanan dari seorang pembunuh.' Suara dalam kepalanya berkata, tapi Naruto buru-buru mengabaikannya. Ia tidak ingin hal itu merusak suasana hatinya. Meskipun hal itu benar, Naruto hanya bisa berharap yang terbaik sekarang.
Tiba-tiba saja, terdengar benda jatuh dan pecah membentur lantai yang berasal dari kamarnya.
Naruto tersentak menoleh. Pisau di tangannya jatuh ke meja dan ia berlari menuju ke sana.
Ia membanting pintu terbuka. "Apa yang—" Naruto berhenti ketika melihat ke dalam kamar.
Mangkuk yang ia letakkan di meja telah jatuh ke lantai; hancur menjadi serpihan-serpihan kecil bersamaan dengan jam mejanya.
Mata Sasuke terpejam rapat, alisnya berkerut. Ia menggeliat tak nyaman di balik selimut seperti hewan yang terluka. Terdapat jejak air mata di pipi. Isakan kecil juga terdengar dari mulutnya.
'Dia mimpi buruk,' pikir Naruto.
Ia berjalan hati-hati ke ranjang menghindari pecahan kaca di lantai, ia duduk di sisi ranjang dan menatap pria itu.
Ia mengulurkan tangan bermaksud membangunkan Sasuke, namun diurungkan. Ia rasa Sasuke tidak akan bangun di saat seperti ini.
Naruto mendengar isakan lagi, dadanya terasa terbelit kencang. Dengan tangan yang gemetar, ia mengusap pipi pria raven itu dengan lembut. Menghapus air matanya sambil membisikkan kata-kata menenangkan.
Setelah beberapa saat, sang Uchiha berhenti menggeliat dan terkulai dalam sentuhan Naruto. Namun napasnya masih sedikit terengah.
Dan Naruto menyadari bahwa Sasuke terserang demam.
'Aku harus menurunkan demamnya,' pikir Naruto.
Naruto mengumpulkan pecahan-pecahan kaca dan menaruh kembali jam mejanya di tempat semula, yang mengejutkan jam itu tidak rusak.
Mengisi mangkuk lain dengan air dingin, Naruto kembali dari dapur dan duduk di samping Sasuke. Ia menaruh kain basah di dahinya.
Naruto dengar bahwa cara itu bisa menurunkan demam; ia berharap hal itu bisa bekerja juga pada Sasuke.
Ia menyingkirkan anak rambut dari dahi Sasuke yang berkeringat. Dengan ragu jarinya membelai helai itu dan terkejut dengan kelembutan teksturnya.
Naruto melihat lebih dekat wajah Sasuke. Pria itu terlihat sangat rapuh, lemah seperti anak kecil. Naruto mendengar pria itu melenguh nyaman ketika ia membelai rambutnya. Ia tersenyum tulus.
"Selamat tidur..." bisiknya, mematikan lampu dan membiarkan kamar diselimuti kegelapan.
TBC...
Yaaay, fic terjemahan berlanjut. Btw author aslinya orang India loh, ada yg mau chat sama dia? nyeritain tentang Uttar*n misalnya XD
Fic ini sengaja aku share bertepatan ultah Sasuke hari ini 23/7
Happy bday, Sasuke ^^
Review?
