Huaaa... pusing abis pembekalan KKN!! Dapet di Purwakarta. Ada orang Purwakarta di sini??

Ambudaff : hihihi... reviewnya Ambu mah bikin ketawa aja... peluk-peluk boneka pulshie Fred yang dikasih Ambu Cerita ini udah selesai kok, Mbu. Tinggal diupload upload upload satu-satu (kaya LIS season 1. Wekeke... gaya euy, pake season segala! XD) Euh, apanya yang lebih 'mengerikan' dari Sirius, Mbu? menyiapkan sesuatu untuk dilempar ;

Eceu Blacklicious : Iya nih, rajin ngupdate. Mumpung UAS belum mulai. Mulai UAS tanggal 10 besok... (pusing) hehe... suka NejiTen yah? Tar tambah ke sini tambah kentel NejiTen-nya. Sebenernya aku bukan penggemar pair ini, tapi seneng aja nulis tentang mereka walaupun OOC abis-abisan. Nyahaha... lapangan merah! Jadi inget Ospek! Iyah, bener, wajib wisata kuliner. Yeah, hidup Jatinenjer Metropolitan City!! Hihi... Mau ketemuan? Buoleeeh...

Sora Aburame : Aih... syukur deh kalo slight comedy-nya kerasa. Gak bakat bikin yang lucu-lucu c. Beneran! Makasih udah baca. R&R yang ini juga yah.

Runaway-dobe : Aku memang paling suka cerita yang waff (warm and fuzzy feeling) seputar family dan friendship. Suka pusing sendiri kalo bikin romance. Susah... Thanks udah baca... review yang ini juga yah!


Disclaimer : Masashi Kishimoto lah... bukan aku!


--

A HinataNejiHanabi fic

Alternate Universe, very OOC

NejiTen NaruHina

--

FAMILY LOVE

4

Selama kurang lebih tigapuluh menit mereka mengantri, Hanabi tidak pernah melepaskan pegangannya pada Neji dan Hinata, seakan tidak rela kedua kakaknya diambil orang-orang asing itu, dan terus-terusan mendelik pada Naruto. Tidak lupa ia juga sesekali melempar pandang curiga pada Temari dan Tenten. Begaimana dengan Lee? Hanabi mengacuhkannya seakan ia manusia tak kasat mata.

Setelah tiba giliran mereka, Hanabi malah bingung sendiri. Gadis itu tercabik antara keinginan untuk tidak melepaskan kedua kakaknya atau mencegah Naruto dekat-dekat Hinata atau Neji bersama salah satu gadis di belakang itu.

"Eh, stop! stop!" teriaknya galak pada Naruto ketika pemuda itu hendak duduk di sebelah Hinata. "Kamu ENGGAK BOLEH duduk bareng Nee-sanku! Neji nii-san saja yang duduk di sini!" kata Hanabi sok ngatur.

Naruto memutar bola matanya. "Hai hai..." ujarnya mengalah dan kembali menarik kakinya, membiarkan Neji yang bertampang geli duduk di sana.

'Kalau begini seenggaknya Nee-san dan Nii-san aman,' batin Hanabi sambil melirik kedua cewek yang sudah duduk bersama-sama di beberapa baris di belakang mereka. Lee sudah duduk ceria di samping pria tinggi besar bertampang sangar, tapi lagi-lagi Hanabi tidak memedulikannya. 'Tapi aku jadi duduk sendirian deh. Biasanya kan aku bareng Neji nii-san. Hhh...' batinnya lagi sambil mencari tempat yang tersisa, di gerbong paling depan, yang kebetulan tempat favoritnya.

"Ngapain kamu di sini?" tanya Hanabi kaget ketika tiba-tiba Naruto sudah duduk di sampingnya di gerbong paling depan. Matanya mendelik.

Naruto memutar bola matanya lagi. "Tempat yang tersisa hanya di sini, Nona," sahutnya menahan tawa. "Terima nasib sajalah..."

Hanabi memelototinya.

Sementara itu di beberapa gerbong di belakang mereka Hinata memucat dan mulai berkeringat dingin.

"Kamu kenapa, Hinata?" tanya Neji khawatir. Hinata menggelengkan kepala.

Pengaman sudah dipasang.

"Nii-san, aku gak jadi deh. Mau turun saja. Takut..." kata Hinata sambil berusaha melepaskan pengamannya dan langsung panik ketika tahu pengaman itu sudah terkunci. "Aduuuh... bagaimana ini... Gak bisa dibuka!" gadis itu langsung menjerit histeris sendiri ketika kereta mulai bergerak pelan. Beberapa orang yang duduk di depan dan belakang mereka terkikik.

"Santai saja, Hinata. Nikmati saja pemandangannya. Bagus lho kalau dilihat dari atas," ujar Naji menenangkan.

Tapi Hinata tidak menganggap pemandangan itu indah. Ia sudah terlanjur ngeri melihat rel yang meliuk-liuk mengerikan di depannya. "Oh tidak... Oh tidak... Oh tidak..." bisiknya penuh kengerian ketika kereta bergerak menanjak. Neji menahan tawa di sebelahnya.

"OH TIDAAAAAAAAAKKK!!" Hinata berteriak dengan segenap kekuatan paru-parunya ketika kereta menukik, meluncur jauh lebih cepat dari sebelumnya. Hanya saja bukan hanya Hinata saja yang menjerit kali ini, tapi semua penumpang. Kereta itu meluncur liar, berputar-putar, menukik curam, menanjak nyaris vertikal, meliuk-liuk seperti ular sinting, membuat Hinata merasa organ-organ tubuhnya sedang dikocok-kocok.

Gadis itu terkejut sendiri ketika tiba-tiba saja kereta mengurangi kecepatan dan akhirnya berhenti. Ia masih bengong ketika pengamannya terangkat dan orang-orang mulai bergerak turun. Mungkin ia tidak akan tersadar kalau saja Neji tidak menepuk bahunya.

"Hei, sudah selesai. Atau mau naik sekali lagi?" Neji mengulurkan tangan.

Hinata menggeleng cepat-cepat dengan ngeri, menyambar tangan sepupunya dan beranjak, tubuhnya gemetaran. "Aku... tidak mau... naik benda terkutuk itu lagi. Enggak mau..." gumamnya tak jelas.

"Hn..." Neji mengangguk seraya meremas lembut tangan Hinata yang masih gemetar untuk menenangkannya. Ekspresinya geli.

Hanabi menyusul mereka ke bangku taman yang sebelumnya tak lama kemudian bersama Naruto dan yang lain, tampak gembira. "Oooh... yang tadi itu seru sekali! Aku mau coba lagi!" serunya berapi-api.

"Betul! Aku juga mau coba lagi!" Lee menyahut tidak kalah bersemangat. Lagi-lagi Hanabi tidak menghiraukannya.

Tampang mereka semua berantakan. Bahkan Neji. Wajahnya merah dan anak-anak rambutnya yang biasanya rapi mencuat kemana-mana. Tapi Hinata justru pucat pasi.

"Mual?" tanya Neji cemas seraya meletakkan tangannya ke punggung Hinata ketika gadis itu mengatupkan tangan ke mulutnya. Hinata mengangguk pelan.

"A-aku... mau ke toilet..." katanya seraya beranjak menuju toilet.

"Hinata-chan!" Naruto hendak menyusulnya tapi ditahan Hanabi.

"Kakakku mau ke TOILET CEWEK. Please deh!"

Naruto menggeram sebal. Jelas ia juga mencemaskan Hinata.

"Aku juga mau ke toilet. Hinata kelihatannya kurang oke," kata Tenten sambil melirik Neji. Pemuda itu mengangguk mengerti, menggumamkan terimakasih padanya.

"Tenang saja, Naruto-kun!" Lee menepuk bahu Naruto yang uring-uringan saking cemasnya. "Tenten itu anggota palang merah paling cekatan di kampus kami! Hinata-san pasti baik-baik saja. Benar kan, Neji-kun?"

"Ya," sahut Neji. Ada nada kebanggaan samar dalam suaranya. Temari nyengir. Neji merasakan wajahnya memanas ketika menangkap tatapan gadis itu dan buru-buru melihat ke arah lain.

"Harusnya Nee-san gak usah ikut naik kalau nantinya jadi sakit begitu," kata Hanabi.

"Hei, kan kamu yang menyeretnya naik, anak kecil!" hardik Naruto.

"Jangan menyebutku anak kecil, Foxey!" balas Hanabi sengit. Mereka saling membeliak.

Naruto baru akan membuka mulut untuk membalas ketika Neji membentak mereka, "STOP! Berhenti bertengkar! Hanabi, kalau kau bertingkah kekanak-kanakan terus, aku tidak akan bicara lagi padamu! Naruto..." ia berhenti sejenak, "Aku tahu kita baru kenal. Tapi kalau kau menyakiti salah satu adikku, aku tidak akan ragu menendang bokongmu!"

Hanabi memberengut. Neji nii-sannya berhenti bicara padanya adalah hal terakhir yang ia inginkan di dunia ini. Naruto menghenyakkan diri di bangku, masih mendelik pada Hanabi.

"Yare yare... kelihatannya Hyuuga Neji-sama sang ketua senat yang terkenal kesangarannya seantero kampus itu mulai menampakkan wujud aslinya," bisik Temari pada Lee yang mengangguk-angguk setuju.

"Tapi ngerasa gak sih, kalau ada Tenten dia gak pernah segalak itu? Sangarnya sih iya, tapi gak pernah marah-marah..." Lee balas berbisik.

"Iya, betul... Kalau sama kita-kita sih, marah ya marah," Temari menyeringai. "Jaimnya kalau ada Tenten aja."

Lee mengikik. "Iya iya... pssst... psssst..."

"Kalian juga! Berhenti menggosipi orang!" hardik Neji tiba-tiba pada keduanya sambil mendelik marah.

Temari dan Lee langsung berhenti mengikik. Lee menyilangkan telunjukkan di depan bibir, menahan cengiran. Temari melihat ke arah lain, bersiul kecil.

Sepuluh menit kemudian Hinata kembali dengan ditemani Tenten. Wajahnya sudah lebih segar, meskipun masih terlihat lelah. Naruto langsung melompat berdiri menyambutnya. Kali ini Hanabi tidak berusaha mencegahnya. Gadis itu masih merengut diam di bangkunya.

Naruto memapah Hinata ke bangku.

"Sudah gak apa-apa kok, Naruto-kun," kata Hinata menenangkan, tersenyum. "Makasih ya, Tenten-san," ucapnya pada Tenten yang mengangguk.

"Kamu mau minum? Minum, ya..." Naruto merogoh-rogoh ke dalam tas besarnya setelah Hinata duduk di sebelah Hanabi dan mengeluarkan sebotol air mineral. Ia membukanya sebelum mengulurkannya pada Hinata yang menerimanya sambil mengucapkan terimakasih.

"Lho, Hanabi-chan kenapa?" Hinata menanyai adiknya khawatir ketika menyadari Hanabi diam saja. Ia terkejut ketika melihat mata adiknya itu berkaca-kaca. "Hei, kok malah nangis? Ada apa, Hana-chan?" Hinata dengan lembut merengkuh bahu adiknya.

Tiba-tiba saja Neji merasa amat bersalah. Pemuda itu sedikit menyesal sudah membentak Hanabi saat ia teringat yang dibisikkan Hinata padanya tadi pagi, "...Hanabi... sedang PMS..." Tenten pernah memberitahunya soal itu saat Temari marah-marah terus sepanjang hari dan berakhir menangis di kantor senat mahasiswa ketika sedang rapat, "Yah... cewek kalau lagi PMS bisa jadi sangat sensitif dan gampang tersinggung. Maklum ya, Neji..."

Hanabi menggeleng pelan dan buru-buru menghapus air matanya. "Enggak, Nee-san. Aku cuma cemas Nee-san sakit," dustanya. Padahal air matanya itu karena dimarahi kakak sepupunya.

"Oh!" Hinata tersenyum, membelai kepala Hanabi. "Aku sudah baikkan kok. Jadi gak usah cemas lagi ya, Sayang..."

Hanabi mengangguk, melirik sekilas ke arah Neji sebelum menoleh pada kakak perempuannya. "Nee-san maaf, ya. Gara-gara aku maksa..."

"Udah, gak apa-apa..." sela Hinata, menepuk-nepuk lengan Hanabi.

Sunyi beberapa saat sementara Hinata merangkul adiknya.

"Hei, gimana kalau kita main lagi?" Lee memecah keheningan yang canggung itu.

Berbeda dari sebelumnya, kali ini Hanabi menanggapi omongan Lee. "Yeah. Aku juga... pingin main lagi, tapi Onee-san..." ia menatap Hinata, lalu Naruto. Masih ada rasa tidak rela tersirat pada tatapannya.

Naruto yang mengerti arti tatapan itu menghela napas. "Hai hai... aku tidak mungkin dekat-dekat Hinata tanpa izinmu, kan? Jadi aku akan ikut kamu biar kamu bisa ngawasin aku. Oke? Hinata sebaiknya istirahat saja di sini," katanya pada Hinata. Gadis itu tersenyum padanya. Mungkin ini akan jadi kesempatan Naruto mengambil hati adiknya.

Hanabi tersenyum sekilas, kemudian kembali memandang Hinata. "Tapi Nee-san..."

"Biar aku menemaninya," sahut Neji. "Kamu gak apa-apa kan bareng Naruto, Hanabi?"

"Denganku juga!" seru Lee, menepuk dadanya.

"Gak apa-apa. Siapa takut?" Hanabi beranjak dari bangku. "Onee-san tunggu di sini saja, ya. Kalau ada apa-apa hubungi lewat ponsel saja!"

"'Kay!" Hinata menyahut. Dan adiknya bersama kedua pemuda itu segera menghilang di antara kerumunan orang, meninggalkan Hinata bersama Neji, Tenten dan Temari.

Suasana langsung terasa kikuk. Neji menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah, Tenten pura-pura sibuk memperhatikan kerumunan orang seakan mereka sangat menarik, Temari mendecakkan lidah dengan tidak sabar, memandang kedua teman kampusnya itu bergantian. Hinata menangkat alis menatap Nii-sannya. Bingung.

"Um... Neji, Hinata-san. Kayaknya kami mau mencari Gaara dan Shikamaru sekarang," ucap Tenten kemudian.

Gerakan kaki Neji berhenti mendadak. "Oh, baiklah..." sahutnya dengan ekspresi datar. Meskipun ada kekecewaan samar dalam suaranya.

Kemudian Tenten menyeret Temari dari sana. "Hei, ngapain nyariin Gaara segala? Kukira kau mau bertemu Neji..." Temari memprotes dalam bisikan sebelum kedua gadis itu menghilang di antara kerumunan orang.

"Ne, Neji nii-san?"

"Hm?" Neji masih memandang ke arah Tenten dan Temari menghilang barusan.

"Jadi... yang rambutnya pirang atau cokelat nih?"

"Apa?!" pemuda itu kaget, menoleh cepat ke arah Hinata.

Hinata memutar matanya. "Temari-san atau Tenten-san?"

"Apanya?" Neji pura-pura tidak mengerti. Wajahnya mulai memanas.

Hinata terkikik. "Pacar pertamamu, sebelum mobil Nii-san. Mengerti kan, maksudku?"

"Ah! Um..." Neji tampak gugup. "Hinata?"

"Hm?"

"Tadi sebenarnya Hanabi menangis karena kumarahi. Maaf, ya..."

Hinata tertawa kecil. "Sudah kuduga. Hanabi-chan tidak mungkin menangis hanya karena aku mual. Dan jangan mengalihkan pembicaraan, nii-san!" ia mendadak galak. "Kau belum menjawab pertanyaanku."

Neji menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Harus dijawab, ya?"

"Harus! Aku kan sudah cerita tentang Naruto-kun dari jaman kapan tau padamu. Gantian dong..."

"Hai hai..." Neji diam sejenak. "Menurutmu yang mana?"

"Kok malah balik nanya sih?" Hinata memprotes. Lalu ia mengetuk-ngetukkan jarinya ke botol air mineral yang diberikan Naruto tadi sambil berpikir. "Kalau menurut feeling aku sih, um... Tenten-san. Benar tidak?"

Neji tersenyum tertahan, yang diartikan Hinata sebagai, "Benar!" Gadis itu tertawa.

"Belum resmi, ya?"

Neji menggeleng.

"Kenapa gak..."

Rrr... Rrr... Ponsel Hinata berbunyi. Gadis itu buru-buru mengambil ponselnya dari dalam tas. "Dari Otousama," ia memberitahu Neji.

"Ya, Otousama? Hm... iya, masih di KoLand... Hm... Iya... Eh, mau ke luar kota? Kok mendadak sih?... Hm... Hai... Hmm... Oh, Hanabi lagi main tuh... Kalo Neji nii-san ada. Mau bicara? Hai..."

Hinata memberikan ponselnya pada Neji. "Otousama mau ngomong," katanya.

Neji mengambil ponsel Hinata. "Hiashi Ji-sama? Hai... Hai... Menginap? Um... baik. Hai, pasti. Saya usahakan tidak terlalu malam. Hai... Baik." Ia mengembalikan ponselnya pada Hinata.

"Otousama? Hai... hati-hati ya. Jangan terlalu capek. Vitaminnya diminum. Dan jangan merokok! Hai hai... Bye, Otousama..." gadis itu menutup ponselnya. "Disuruh menginap ya, nii-san?" ia menanyai Neji. Pemuda itu mengangguk.

"Hhh... Otousama terlalu sibuk akhir-akhir ini. Padahal dokter Tsunade sudah memberitahunya supaya lebih banyak istirahat. Kurasa Otousama butuh cuti beberapa hari..." beberapa menit berikutnya Hinata sibuk curhat tentang ayahnya pada Neji. "Neji nii-san cepetan lulusnya ya... biar bisa bantuin Otousama di kantor. Aku juga akan belajar keras supaya cepat lulus."

"Yeah..." Neji mengangguk. Tersenyum kecil, senang karena Hinata sepertinya sudah melupakan topik pembicaraan mereka sebelumnya. "Ne, Hinata. Bagaimana kalau kita menyusul Hanabi?"

"Lho... bukannya tadi pingin nyusul Tenten-san?" kata Hinata, nyengir nakal.

Oh, sial. Hinata masih ingat rupanya, batin Neji.

"Apaan sih, Hinata... Udah ah, mau nyusul Hanabi." Neji beranjak.

"Hei, Nii-san! Jangan ninggalin dong!" Hinata menyusulnya setelah menjejalkan botol air mineralnya ke dalam tas. Gadis itu mengamit lengan sepupunya dan berkata nakal, "Bagaimana kalau aku berpura-pura jadi Tenten-san. Anggap saja latihan berkencan sebelum jadian beneran!"

"Hinataaaaaa..." Neji mengacak-acak rambut Hinata dengan gemas. Gadis itu tertawa-tawa.

--

Sementara menunggu Hanabi puas bermain, Neji dan Hinata menghabiskan waktu berkeliling KoLand, belanja pernak-pernik KoLand, makan hotdog, berfoto-foto di rumah kostum. Hinata akhirnya berhasil membujuk kakak sepupunya itu berfoto dengan kostum indian setelah sekian lama gagal. Dengan riang gembira gadis itu menyelipkan foto Neji di dompetnya, menggantikan foto Neji yang sebelumnya (yang diambil sepuluh tahun yang lalu saat Neji baru masuk Junior High School of Konohagakure. Masih cupu banget), di sebelah fotonya bersama Hanabi dan Hiashi. Alhasil, Neji keluar dari rumah kostum itu dengan wajah coreng moreng ala ketua suku Indian.

Mereka juga sempat bertemu Sasuke dan Sakura yang sedang mengantri bianglala sambil bergandengan tangan sok mesra, juga Sai dan Ino di kedai es krim. Sai asyik memotret Ino yang sedang makan es krim sok imut dengan kamera ponselnya.

Lee dan Temari menertawakan penampilan Neji ketika mereka bertemu di ice skating sore harinya. Dengan wajah coreng moreng dan hiasan kepala bertanduk merah yang dibeli Hinata sebelumnya, pemuda yang biasanya tampil cool dan keren itu tampak menggelikan.

"Berhenti tertawa! Awas kau!" desisnya sebal pada Lee yang terbahak sampai terbungkuk-bungkuk. Ia melirik was was pada Tenten yang hanya tersenyum geli.

"Tampan sekali, Neji. Jelas kau harus berpenampilan seperti ini di Musma nanti," kekeh Temari. Gadis berambut pirang pasir itu mengeluarkan kamera digitalnya. "Foto ya..."

"Kurang ajar," umpat pelan Neji seraya melesat menjauh, menghindari jepretan kamera Temari.

Sementara itu tak jauh dari mereka, Hinata dan Naruto berskating berdua. Naruto yang membimbing, karena Hinata tidak terlalu pandai meluncur.

"Hanabi kemana, ya?" tanya Hinata sambil mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok adiknya.

"Tadi ketemu teman-temannya. Tuh, di sana..." jawab Naruto seraya mengedikkan kepala ke arah salah satu kerumunan. Hanabi ada di antara mereka, tampak asyik mengobrol dengan anak laki-laki bersyal panjang. Naruto tertawa kecil. "Lucu sekali adikmu itu..."

Hinata mengangkat alisnya.

"Yeah. Sister complex. Kelakuannya itu mengingatkan pada salah satu temanku. Dia juga begitu..." Naruto berhenti sejenak, tersenyum melihat Hanabi dikerumuni teman-temannya di kejauhan. "Tapi adikmu itu lumayan mudah dibujuk, ya."

"Dibujuk bagaimana?" Hinata tak mengerti.

Naruto tertawa sebelum menjawab. "Kau tahu tidak, adikmu itu naksir pada si Teme? Sasuke," ia menambahkan, melihat Hinata tampak tak mengerti.

Gadis itu tertawa kecil. "Yah... aku tahu. Hanabi-chan mengambil foto Sasuke-kun diam-diam waktu dia kunjungan ke sekolahnya. Tapi kurasa bukan naksir, Naruto-kun. Hobinya memang menyensus cowok-cowok cakep, dia sendiri yang bilang."

"Hobi macam apa itu? Ada-ada saja..." Naruto geleng-geleng kepala sambil tertawa. "Yah, seperti kubilang tadi, dia mudah dibujuk. Setelah aku menjanjikan akan memberinya foto bertanda tangan eksklusif Uchiha Sasuke, dia langsung mengizinkanku menemanimu."

"Oooh... Naruto-kun," kikik Hinata geli. Seorang yang dingin seperti Sasuke mau menandatangani fotonya sendiri, rasanya sulit dibayangkan. "Apa Sasuke-kun mau?"

"Harus mau!" sahut Naruto penuh tekad. "Yuk, meluncur lagi!" pemuda pirang itu meraih tangan Hinata lagi dan membawa gadis itu meluncur bersamanya mengelilingi arena yang lumayan ramai itu.

Mereka berhenti ketika Naruto bertemu temannya yang tengah menonton orang-orang berskate-ria di luar pagar pembatas. "Oi, Gaara!" sapanya cerah pada pemuda berambut merah itu.

"Naruto," balas Gaara datar.

"Ow, man! Jangan bermuka masam begitu dong. Kita kan sudah lama gak ketemu," Naruto meninju pundak Gaara main-main.

"Hn," Gaara mengusap-usap tempat yang tadi ditinju teman lamanya.

"Kenalin nih Gaara, cewekku," Naruto memperkenalkannya pada Hinata. "Hyuuga Hinata. Cewek paling cantik dan paling baik di kampusku!" cetusnya bangga, membuat wajah Hinata merona merah.

"Hyuuga?" Gaara menoleh pada Hinata. "Siapanya Hyuuga Neji?"

"A-aku adik sepupunya," jawab gadis itu sopan. "Salam kenal, eh..."

"Gaara," si rambut merah mengulurkan tangannya menjabat tangan Hinata.

"Salam kenal, Gaara-kun," Hinata tersenyum.

"Hn."

"Gaara dan aku bertemu waktu ada kejuaraan karate antar universitas. Dia ini hebat sekali, lho, Hinata. Dia menghajar Sasuke habis-habisan. Dan Gaara nyaris saja mengalahkanku!" tutur Naruto pada kekasihnya. "Ne, Gaara? Sendirian saja?"

"Tidak juga. Nih, bareng Nara," Gaara mengedikkan kepala ke arah pemuda berkucir dan berjaket hijau lumut yang bersandar di pagar pembatas di sampingnya. Pemuda itu memandang orang-orang dengan tatapan malas. "Harus memastikan dia tidak macam-macam dengan Temari."

"Tch!" dengus pemuda Nara itu. "Merepotkan."

Naruto nyengir. "Mirip Hanabi, kan, dia..." bisiknya pada Hinata. Gadis itu mengangguk.

"Hei, klub karate di kampusmu sudah mulai penerimaan anggota baru belum? Di kampusku sudah. Buset deh, peminatnya bejibun. Tapi paling-paling lama-lama menyusut. Tahu kan, seleksi alam..."

Sementara Gaara sibuk mengobrol dengan Naruto, pemuda berkucir tadi diam-diam pergi. Ia menyewa sepatu skate dan melesat ke dalam arena, menghampiri gadis pirang berkucir empat yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.

"Whoops, Temari," kata pemuda itu ketika ia meluncur mendekat dan berhenti di dekat Temari, membuat gadis itu terhuyung kaget.

"Shikamaru!" engahnya. "Kukira kau dengan Gaara."

"Dia.. eh... sedang agak sibuk sekarang. Aku pergi diam-diam," sahut Shikamaru sambil nyengir. "Terjebak seharian penuh dengan adikmu yang pasang tampang sangar terus? Yang benar saja. Merepotkan!"

Temari tertawa. "Kalau dia tahu kau kabur, dia bisa ngamuk lho. Kau tahu Gaara, kan?" ujarnya seraya mengamit lengan Shikamaru.

Shikamaru mendengus. "Biar saja dia ngamuk. Yang penting aku bisa bersamamu," gombalnya membuat wajah Temari merona. Gadis itu mencubit pinggang Shikamaru main-main. Shikamaru merangkulnya.

"Ehem ehem..." suara Tenten menyadarkan keduanya. Gadis itu berkacak pinggang. "Dilarang mesra-mesraan di depan umum, ya!"

"Halah! Bilang aja kamu iri. Iya kan, Tenten?" goda Temari. Ia melirik Neji yang berdiri tak jauh dari sana, sibuk menggosok-gosok bekas make up di wajahnya yang tak mau hilang. "Oi, Neji! Tenten mau mesra-mesraan denganmu, nih!"

"Temari!" bentak Tenten malu. Wajahnya merah padam.

"Eh, apa?" Neji tampak bingung.

Tenten menghela napas lega. Untung saja Neji tidak mendengar kalimat Temari yang terakhir. Tenten nyengir ke arah serombongan besar cewek yang baru saja melewati mereka, yang meluncur terhuyung-huyung sambil menjerit-jerit berisik. Untung mereka lewat...

--

"Eeeh... KEMANA NARA!!" teriak Gaara sambil celingukan mencari 'tawanan'nya yang hilang.

"Gak usah teriak-teriak begitu kenapa sih, Gaara," kata Naruto sambil menyumpal telingannya yang berdenging akibat teriakan temannya itu dengan tangan.

"Um... ano... Gaara-kun. Tadi sepertinya aku melihatnya pergi ke sana..." Hinata menunjuk ke arah Shikamaru tadi pergi.

"Oh, sial! Awas saja, Nara!!" geram Gaara marah sambil beranjak pergi dengan aura penuh dendam kesumat. Naruto dan Hinata melongo menatap punggungnya.

"Ooooiii... Naruto-kun!!"

Naruto dan Hinata menoleh, mendapati pemuda berpenampilan jadul, Lee, meluncur mendekat sambil melambai-lambaikan tangannya. Rambut ngebobnya bergoyang-goyang sementara ia mendekat.

"Oi, alis tebal!" balas Naruto.

Lee berhenti di samping Naruto. "Bagaimana kalau kita berlomba cepat-cepatan meluncur? Untuk membuktikan murid siapa yang lebih hebat! Gai-sensei atau Hatake Kakashi!"

Naruto merasa tertantang. "Oke. Siapa takut!"

"N-Naruto-kun... itu berbahaya. Di sini kan banyak orang," ujar Hinata cemas.

"Tidak apa-apa, Hinata-chan," Naruto menenangkan. "Aku kan pandai meluncur. Tidak akan ada yang terluka."

"Tapi... bagaimana kalau kau diusir satpam?" Hinata melirik cemas ke arah dua satpam bertampang sangat yang mondar-mandir berjaga di kejauhan.

"Tidak akan. Tenang saja, oke? Kamu sebaiknya menunggu di tempat Neji, ya," ia menoleh pada Lee. "Finisnya di mana?"

"Tempat Neji-kun!" sahut Lee sambil menunjuk Neji di kejauhan.

"Berapa putaran?"

"Dua saja cukup. Tempat ini luas."

"Oke. Hinata-chan, tunggu aku ya," Naruto mengedip pada Hinata yang tampak cemas. Pemuda itu melepaskan tangan gadisnya setelah sebelumnya membimbingnya ke pagar pembatas.

Hinata menahan napas ketika kedua pemuda nekat itu mulai meluncur. Mula-mula pelan, tapi lama-kelamaan kecepatan mereka bertambah. Hebat sekali cara mereka berkelit, menghindari orang-orang, meskipun kadang nyaris menabrak orang. Gadis itu dapat mendengar teriakan dan umpatan orang-orang yang nyaris tertabrak sementara ia merayap di sepanjang pagar pembatas menuju tempat kakak sepupunya bersama teman-temannya yang lain.

--

TBC…

--

Gak bisa bikin romance… Toloooong…

Review, ya… Aku sangat sangat sangat membutuhkan review kalian semua!! puppy-dog-eyes mode ON