Back to The Real Uchiha Clan
Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre: Family/Romance/Angst/ Fantasy
Rated: T
Pair: Sasuke x Sakura, 'Sasuke' X Sakura
Warning: Ada OC
Chapter 4
Kediaman Uchiha Nakashi
Fajar hampir menyingsing dari ufuk timur. Sinar kemerahan pagi mulai menyusupi rumah kediaman Uchiha Nakashi yang penghuninya masih tampak resah akibat kedua putra mereka menghilang misterius. Stella ibu dari Sasuke dan Miro hanya terisak sendu karena terlalu lama menangis. Kedua putra mereka belum pulang kerumah sejak kemarin siang. Dia terus memeluk erat foto kedua putranya sembari terisak terduduk di sofa.
Nakashi sang kepala keluarga harus dibuat bingung atas menghilangnya kedua putra mereka. Handphone Sasuke dan Miro sama-sama tidak aktif. Dia sudah menghubungi semua teman Sasuke dan Miro namun mendapat jawaban yang sama yaitu Sasuke dan Miro sudah pulang. Saksi terakhir mengatakan Miro dan Sasuke bahkan sudah pulang bersama kemarin.
"My dear, aku yakin Sasuke dan Miro tidak apa-apa." Nakashi berusaha menenangkan istrinya yang sedari tadi menangis. Dia menggengam erat tangan istrinya seraya mengelus-elus puncak kepala Stella dengan pelan. Nakashi paham betul batin istrinya sangat sedih atas hilangnya putra mereka karena dia sendiripun sama linglungnya. Namun, sebagai sosok kepala keluarga dia harus terlihat tegar dihadapan sang istri.
"Tapi kita tidak bisa berdiam diri, kita harus lapor polisi!" Saran Stella. Mata blue safirnya sedikit membengkak karena terus menerus menangis. Nakashi sungguh tidak tega melihat kondisi istrinya seperti ini, bahkan sejak sore Stella belum mau makan. Tentu saja hal ini makin mengusik pikiran Nakashi untuk semakin cemas.
"Tapi kita belum bisa melakukannya, ini belum 2x24 jam. Polisi belum mau menangani kasus ini." Nakashi berusaha setenang mungkin dan terus berpikiran positif agar tidak larut dalam kepanikan.
"Miro! Sasuke! Dimana kalian?" Stella terisak sedih.
.
.
.
"Kaa-san!" Miro memekik keras dalam tidurnya. Mata indah warisan sang bunda harus membulat ketika tersadar. Dia bermimpi buruk, dalam mimpinya dia tersesat dan tidak dapat menemukan ibunya dimanapun. Nafasnya masih terengah-engah pertanda belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.
"Kau tidak apa?" Suara baritone Sasuke menyapa indera pendengaran Miro. Bocah itu reflek bangkit dari pangkuan Sasuke. Bukannya menjawab pertanyaan Sasuke justru perhatian sang bocah harus teralih dengan keadaan Sasuke yang bertelanjang dada. Miro baru menyadari selama tidur berselimutkan baju Sasuke.
"Kyaaaaa ! Apa yang Nii-san lakukan? Porno!" Reflek Miro menutup matanya dengan kedua tangan. Bagaiamanapun juga Miro tetaplah anak kecil yang masih banyak belajar. Dia masih sangat ingat kata-kata ibunya bahwa anak kecil belum boleh liat yang tidak senonoh.
"Hn?" Sasuke hanya menjawab datar. Dia tahu bocah itu shock melihatnya bertelanjang dada. Tak mau banyak komentar Sasuke mengambil kimono putihnya untuk segera dipakai.
"Aku sudah pakai baju, sekarang buka matamu." Jawab Sasuke untuk memberi isyarat. Sasuke masih menunjukkan topeng stoicknya dihadapan Miro yang sudah membuka mata.
"Te-terimakasih!" Gagapnya cepat. Mau tidak mau Miro harus mengucapkan terimakasih kepada pemuda yang telah merelakan bajunya untuk dijadikan selimut.
"Tak apa!" Jawabnya tanpa tersenyum.
Kedalaman hutan Lindungan Bunyi
Di tepi sungai hutan lindungan bunyi nampak seorang pria tua renta berambut putih sedang menyesapi dinginnya air yang mengalir tenang. Dia menyesapi air dengan rakus layaknya manusia yang dehidrasi. Wajah keriputnya terpantul jelas di kejernihan air sungai. Di sana dia bisa melihat wajah tua dengan mata penuh ambisi akan kekuasaan. Pria renta ini adalah contoh manusia yang mempunyai hasrat menguasai dunia dengan segala cara.
Dia baru saja mengorbankan setengah kapasitas cakranya untuk memenuhi hasrat dan ambisinya. Uchiha Madara musuh utama dunia shinobi ternyata belum mati setelah perang besar dunia shinobhi. Kenyataannya dia dapat meregenerasi sel-sel tubuhnya kembali untuk hidup meski tidak sekuat dulu.
"Khu khu khu khu!" Tawa mengerikan masih bisa keluar dari mulut rentanya. Suara mengerikan itu menggema dikedalaman hutan sehingga menciptakan aura suram.
"Sebentar lagi! Sebentar lagi!" Kata Madara layaknya orang sinting yang kehabisan obat. Tangan keriputanya mengenggam erat pertanda ada hasrat ingin dicapai. Tawa Madara makin melebar ketika membayangkan keberhasilan mengambil kekuatan murni dari bocah Klan Uchiha lain.
"Ha ha ha ha ha!" Dia menutupi wajahnya yang tertawa lepas. Meskipun saat ini ia belum bisa mengambil sumber energi itu namun keberhasilannya membawa kembali klan Uchiha yang dimitoskan pergi adalah suatu kebanggan yang tak tertandingi. Siapa yang menyangka cerita turun-temurun nenek moyangnya benar, dan sebentar lagi dia akan menggunakannya untuk menguasai dunia.
"Aku akan datang kembali, Shinobi sialan!" Katanya lantang seraya membuka tangannya lebar-lebar.
Air sungai yang tadinya jernih mendadak keruh akibat pancaran energi negative Madara. Tempat dia berdiri kini jadi saksi bisu akan hasrat buruk seorang Madara Uchiha.
Rumah Sakit Konoha
"Terimakasih suster!" Ucap Sasuke seraya tersenyum pada suster muda yang ia ketahui bernama Harumi. Tidak lama setelah ranjangnya dihancurkan Sakura, datang seorang suster yang mengaku mendapat perintah untuk memindahkan Sasuke diruang lain.
Harumi membalas Sasuke dengan senyuman lembut sambil menyelimuti Sasuke yang masih enggan kembali berbaring. Pemuda tampan itu lebih memilih untuk terduduk.
"Permisi tuan," Kata Harumi begitu menyelesaikan tugasnya. Sasuke mengangguk pelan untuk memberi isyarat suster itu boleh pergi.
"Aneh, tidak biasanya bangun tidur tubuhku lemas begini." Gumamnya pada diri sendiri. Sejujurnya dia masih tidak mengerti kenapa sekarang dirumah sakit. Seingatnya terakhir kali kondisinya masih dalam keadaan terikat sampai seorang pria berambut pirang melakukan sesuatu padanya.
Mata merahnya dialihkan untuk melihat sinar mentari pagi yang terlihat indah dari jendela kamar.
"Miro, Kaa-san, Tou-san!" Gumamnya pelan. Dia menyadari pasti sang adik dalam kondisi sama, tersesat di dimensi yang dipenuhi orang-orang aneh. Setelah sembuh, Sasuke bertekad akan mencari adiknya dan mencari jalan pulang entah bagaimana caranya.
"Harus, aku harus menemukan Miro!" ujarnya serius dengan penuh keyakinan.
Untuk beberapa saat dia benar-benar sendiri dalam ruang perawatan sampai seseorang membuka pintu kamar perawatannya. Sasuke memandang intens pada siapa yang datang. Seorang gadis cantik dengan warna rambut aneh dan seorang pemuda pirang bermata blue safir yang membawa nampan sarapan.
"Halo Nona Haruno-san." Kata Sasuke kaku.
Entah kenapa mendadak lidahnya kaku begitu melihat gadis bertenaga preman masuk keruangannya. Memori buruk tentang betapa kuat tenaga gadis berambut soft pink masih jadi dominasi kesan utama dalam memorinya.
"Cih! Rupanya kau masih berani menyapaku Teme!" Ucap Sakura kasar. Raut wajah itu tentunya sudah tidak manis bagi Sasuke.
Dibagian ini sekarang Naruto yang bingung. Memang dia sudah mendengar cerita dari nenek Tsunade dan penuturan langsung Sakura. Tapi dia tidak akan mengira Sakura memanggil pemuda asing ini dengan sebutan Teme.
Sudut perempat Sasuke langsung naik begitu dipanggil dengan sebutan 'Teme' oleh Sakura.
"Kalau kau masih marah soal kejadian tadi aku minta maaf, tapi kuharap kau jangan memanggilku dengan sebutan kasar seperti itu. Kurasa tidak ada orang tua yang rela anaknya dipanggil brengsek." Perkataan halus itu meluncur dari bibir Sasuke dan sekali lagi tepat mengenai sasaran pada kepribadian Sakura. Ditelinga Sakura perkataan lembut itu terasa tajam dan sialnya apa yang dikatakannya adalah benar.
Kalau begini terlihat seperti Sakura yang tidak pernah dididik berkata sopan dan pemuda ini adalah figure pemuda yang bisa menahan emosi.
Wow tanpa penjelasan lebih lanjut Naruto sekarang paham hubungan Sakura dan Sasuke adalah insang yang tidak akur.
"Hah, dimana-mana Uchiha itu menyebalkan!" Sakura hanya bisa menggeram kesal menanggapi perkataan Sasuke sembari menuding dan menghentakan kaki.
Sasuke membalas perkataan Sakura dengan senyuman.
"Sudah-sudah Sakura, tidak baik bertengkar di rumah sakit." Tumben sekali Naruto berada pada posisi orang yang melerai. Padahal biasanya situasi terbalik, Naruto yang berisik dan Sakura yang akan menengahi.
"Oh iya perkenalkan namaku Uzumaki Naruto, cita-citaku adalah menjadi Hokage, dattebayo!" Kata Naruto bersemangat sembari mengulurkan tangannya. Sasuke terheran ketika melihat tingkah konyol pemuda bersurai pirang di depannya itu.
"Uchiha Sasuke, kau bisa memanggilku Sasuke. Senang berkenalan denganmu Uzumaki-kun." Jawabnya sambil menjabat tangan yang diulurkan teman gadis berambut soft pink.
"Ha ha ha ya ampun tidak usah seformal itu, kau bisa memanggilku Naruto saja!" Naruto sedikit geli mendengar salam perkenalan Sasuke. Orang asing ini adalah manusia pertama yang memanggilnya dengan nama Uzumaki-kun. Panggilan sopan dari Sasuke jujur terdengar aneh ditelinganya.
"Ehm baiklah Naruto, salam kenal." Ralat Sasuke sembari ikut tertawa.
"Ya ampun sumpah kau itu beda sekali dengan Teme yang kukenal." Naruto tanpa canggung sudah duduk di ranjang perawatan Sasuke bahkan tanpa ragu merangkul pemuda asing yang baru saja diajaknya kenalan.
"Yeah aku sudah mendengarnya sampai bosan." Rutuk Sasuke pada teman barunya. Sasuke mendengus sebal karena hampir setiap orang yang ditemui hampir mengatakan hal yang sama.
"Sebenarnya Sasuke yang mereka kenal semirip apa dengan diriku? Sampai-sampai orang-orang ini heboh begitu!" Batin Sasuke keheranan.
"Sudah cukup, Naruto kau minggir dulu. Aku akan memeriksa S-a-s-u-k-e!" Interupsi Sakura dengan penuh penekanan. Gadis ini jadi semakin sebal karena dikacangin Sasuke dan Naruto.
"Ah iya-iya!" Naruto segera turun dari ranjang Sasuke dan membiarkan Sakura melakukan tugasnya.
Iris viridian beradu tatapan dengan iris merah sharingan. Sakura masih menatap tajam Sasuke namun sang pemuda memilih mengalihkan pandangan matanya pada Naruto yang duduk manis di kursi seberang.
"Buka bajumu!" Perintah Sakura dengan nada galak. Tanpa banyak komentar Sasuke lebih memilih untuk menuruti keinginan sang gadis dari pada harus beradu mulut lagi.
Perhatiannya teralih ketika tangan gadis itu mengeluarkan cahaya hijau yang merasuki tubuhnya. Rasa hangat dan nyaman bisa dirasakan mengalir melalui pembuluh darahnya. Sensasi itu layaknya terapi yang menyegarkan. Setelah cukup lama dalam posisi itu, Sakura sedikit menarik nafas panjang pertanda apa yang dilakukan telah selesai.
"Naruto, pastikan dia memakan sarapannya. Aku akan membuat ramuan khusus untuk memperbaharui energinya." Kata Sakura pada Naruto. Gadis itu tanpa banyak bicara langsung melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan.
"Terimakasih, Haruno-san!" Ucapnya sebelum Sakura keluar dari ruangan.
"Wah sepertinya hubunganmu dengan Sakura kurang baik!" Komentar Naruto begitu pintu kamar perawatan tertutup.
"Aku kira begitu, Naruto ada yang ingin kutanyakan. Apa kau mengenal Sasuke yang Sakura kenal?"
Raut wajah Naruto sedikit terkejut ditanyai seperti itu.
"Ah tentu, si Teme ekh maksudku Sasuke itu teman kami satu tim." Cuma perasaan Sasuke saja atau memang suara pemuda bersurai pirang itu terdengar sedih. Ekspresi yang ditunjukkan Naruto jelas ada ketidakberesan tentang Uchiha Sasuke yang mereka kenal.
"Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Sasuke hati-hati.
Naruto tersenyum getir. "Dia pergi berkelana." Jawabnya singkat. Pemuda bermata merah sedikit mengangkat alis mendengar jawaban Naruto yang mengambang.
"Bisakah kau ceritakan secara detail? Aku dari kemarin penasaran, banyak yang bilang kami mirip." Sasuke berusaha mengorek informasi lebih dalam lagi mengenai sosok Uchiha Sasuke yang ada di dimensi ini.
"Eng maksudmu detailnya tentang Sasuke?" Iris safirenya sedikit menampakkan emosi keengganan di dalamnya.
"Iya, aku hanya ingin tahu seperti apa sosok Sasuke yang kalian kenal." Jawabnya mantap. Naruto terdiam sejenak seolah hendak menyusun kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
"Seperti yang kau bilang, Sasuke Uchiha yang kami kenal mempunyai paras sangat mirip denganmu hanya saja matanya berwarna hitam tidak merah sharingan seperti milikmu." Terang Naruto pada Sasuke.
"Tunggu darimana kau tahu mataku ini namanya sharingan?" Kakak tunggal Miro ini sekarang jadi tambah bingung darimana orang asing ini tahu istilah sharingan. Seingatnya dia tidak melihat orang ini diruang interogasi.
"Disini siapa yang tidak tahu mata itu, sharingan itu erat kaitannya dengan Uchiha. Sharingan juga bisa dikatakan salah satu kekuatan spesial yang dimiliki klan Uchiha. Dengan mata itu keturunan Uchiha bisa menggunakan jurus-jurus ninja yang hebat. Sasuke juga bisa mengaktifkan sharingan layaknya mata milikmu sekarang ini." Tutur Naruto dengan jelas.
"Ngomong-ngomong beneran kamu sejak lahir matamu sudah seperti itu?" Naruto balik bertanya dengan raut wajah penasaran. Sasuke membalas dengan anggukan mantap.
"Kata ayah dan ibu memang sejak lahir mataku begini. Foto-foto waktu bayi milikku juga menunjukkan mata ini." Tangan kanan Sasuke menuding bola matanya untuk lebih menguatkan argument.
"Oh baiklah, tapi apa kamu tidak pernah merasakan sensasi aneh dengan mata itu seperti gerakan yang terekam jelas dimata atau kemampuan menyalin sekali pandang." Sepertinya rasa ingin tahu Naruto terhadap Sasuke lebih besar sehingga dia justru lebih banyak bertanya sekarang.
Tangan kanan Sasuke ia topangkan kedagu tanda berpikir.
"Hmmmmmmm, sepertinya tidak pernah. Aku yakin pandangan mataku normal layaknya manusia lainnya." Ia bisa menyimpulkan begitu karena merasa kehidupannya dengan mata ini berjalan normal saja. Dia juga tidak ingat ada kejadian aneh-aneh menimpa dirinya.
"Hei kau bisa tidak mengantarku ke salah satu kenalan Uchiha yang kau kenal. Aku ingin menanyakan sesuatu." Pinta Sasuke pada Naruto. Harapannya jika dia mengenal Sasuke tentu dia juga mengenal keluarganya. Kalau dia bisa bertemu dengan klan Uchiha di dunia ini setidaknya dia bisa bertanya tentang sejarah klan mereka untuk dianalisis.
Naruto terdiam sedih. "Maaf, tapi semua klan Uchiha disini sudah meninggal dan hanya menyisakan Sasuke yang sekarang berkelana entah kemana." Mendengar penuturan Naruto dia merasa turut prihatin dengan kondisi klan Uchiha.
"Pastinya Sasuke sangat sedih hanya dia yang tersisa, kalau boleh tahu bagaimana bisa klan Uchiha hanya menyisakan Sasuke?"
Naruto sedikit menimang untuk menyampaikan informasi ini. Dia bingung harus berkata versi sejujurnya atau versi yang diketahui publik. Bercerita hal sebenarnya hanya akan membuka aib di Konoha sedangkan bercerita versi publik itu bukan ide yang bagus mengingat masalah Uchiha kakak beradik itu sangat komplek.
"Kau tidak perlu bercerita jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa." Ujar Sasuke memecah lamunan Naruto. Pemuda raven itu memang punya rasa ingin tahu yang tinggi tapi dia masih punya cukup pengendalian diri untuk informasi yang istilahnya "top secret". Jika pemuda bersurai pirang ini tidak bisa bercerita pasti dia punya alasan khusus yang mungkin ini menyangkut rahasia yang harus dijaga.
"Sasuke." Lirih Naruto pelan, dia tertegun dengan perkataan bijak pemuda yang satu ini.
Pemuda bermata sharingan itu menyengir lebar. "Tidak apa-apa aku paham!"
Dhug!
Naruto malah menjitak pelan kepala pemuda yang juga memiliki aksen ekor bebek dikepalanya.
"Aish! Sakit! Kenapa memukulku?" Tuntut Sasuke tidak terima pada Naruto.
Tawa Naruto justru meledak.
"Ha ha ha ha ha ha, sumpah aku gak biasa lihat Sasuke senyum. A-aneh!" Bukannnya minta maaf justru pirang satu ini malah semakin menertawakan Sasuke. Baginya melihat Sasuke tersenyum lebar adalah hal yang sangat luar biasa langka.
"Sudah kubilang jangan samakan aku dengan dia!" Sebuah bantal sudah melayang tepat diwajah Naruto. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Sasuke yang sudah kesal. Untung saja hanya bantal kalau ada bola basket pasti kepala Naruto bisa puyeng mengingat Sasuke satu ini adalah salah satu atlet basket andalan SMAnya.
.
.
.
Suasana pasar yang terletak di desa lindungan bunyi sangat membuat Miro terbelalak. Sedari tadi mata blue safirnya tidak henti-henti menoleh ke kanan-kiri untuk melihat aktivitas penduduk desa yang jarang ditemui. Sasuke memutuskan untuk keluar dari hutan setelah bocah berusia delapan tahun itu menolak mentah-mentah sarapan pagi yang disediakan Sasuke. Menyebalkan memang namun Sasuke masih menyimpan rasa peduli pada bocah satu ini.
"Kau mau apa?" Tawar Sasuke pada Miro yang berjalan disampingnya. Tangan kanannya terpaksa menggandeng bocah delapan tahun ini agar tidak tertinggal di kerumunan pasar.
"Disini ada sandwich?" tanya Miro polos. Sasuke langsung menatap tajam pada Miro seolah mengatakan jangan minta yang aneh-aneh.
"Ugh.. baiklah, bubur saja." jawab Miro mengkeret. Tanpa pikir panjang dia reflek menunjuk kedai bubur yang ada disamping kanannya. Tanpa memberi jawaban Sasuke menarik tangan mungil Miro untuk masuk ke kedai bubur yang cukup ramai.
Begitu mereka berdua masuk reflek hampir seluruh mata menatap mereka intens. Sasuke dengan tampilan khas ninja dan lambang Uchiha dipunggungnya tentu akan sangat mudah dikenali. Beberapa dari mereka nampak gugup melihat Sasuke yang notabene mantan missing nin dan salah satu ninja penyelamat dunia Shinobi hadir di tengah kedai bubur kecil seperti ini. Mereka rata-rata bingung harus berekspresi bangga atau takut mengingat Uchiha terakhir ini dikenal sebagai pribadi yang dingin.
Tanpa ambil pusing Sasuke menyeret Miro untuk duduk di meja yang masih cukup untuk dua orang. Pandangan heran kini tertuju pada Miro yang digandeng oleh Sasuke. Siapa yang tidak penasaran dengan Miro yang memiliki paras mirip Sasuke. Jika mereka tidak ingat status Sasuke sebagai Uchiha terakhir pasti mereka akan berkesimpulan dia adik Uchiha Sasuke.
Miro yang tidak tahu menahu memutuskan menyembunyikan wajahnya dengan menunduk begitu mereka duduk di meja.
"Permisi Tuan anda mau pesan apa?" Tanya pelayan itu dengan nada gugup. Pelayan itu datang setelah Sasuke dan Miro duduk. Miro memandang kakak berparas cantik di depannya, meski dia tersenyum namun iris safirenya bisa melihat ekspresi takut yang tersembunyi.
"Dua bubur dan dua teh hangat!" jawab Sasuke pendek tanpa memberi tawaran pada Miro.
"Baiklah!" Jawab pelayan itu dengan sigap dan berlalu untuk memenuhi pesanan dari Sasuke. Mereka menunggu dalam keheningan sampai dua mangkuk bubur dan teh hangat tersaji dihadapan mereka.
.
.
"Ahhhhh, kenyangnya. Terimasih Nii-san." Ujar Miro disertai sunggingan senyum. Jujur ini adalah makanan paling normal yang Miro makan disini. Dengan ceria dia menggeser mangkuk bubur yang sudah kosong itu kedepan. Pandangannya sedikit aneh ketika melihat mangkok bubur milik Sasuke sama sekali tidak tersentuh.
"Sudah?" tanya Sasuke dengan serius seraya berdiri dari kursi. Miro membalas dengan anggukan kecil. Melihat sang bocah menyelesaikan sarapannya sudah membuatnya tenang.
"Apapun yang terjadi tetap dibelakangku, mengerti!" Kata Sasuke sambil menatap sekitarnya dengan waspada. Dengan gerakan cepat dia lalu meninggalkan uang di meja serta menarik tangan kecil Miro untuk keluar dari tempat itu.
"Nii-san mau kemana kita?" Miro sama sekali tidak paham dengan kelakuan Sasuke. Sekarang mereka sudah dijalanan yang sepi, sekeluarnya dari kedai Miro langsung diajak berjalan dengan cepat oleh Sasuke.
"Keluar kau penguntit!" Hardik Sasuke tajam. Sejak memasuki desa Sasuke sudah tahu ada sesorang yang menguntit mereka. Dari cakra yang dirasakan dia tahu ini adalah cakra yang sama yang dengan di hutan.
"Khe khe khe ketahuan juga rupanya, senang bertemu kembali Sasuke!" Dari balik pohon muncullah orang tua yang terlihat renta dengan rambut putih menjuntai. Meskipun terlihat lemah tapi sosok itu kini sukses membuat Sasuke membeku melihatnya. Pantas saja Sasuke familiar dengan cakra ini.
"Kau?" Geram Sasuke marah.
Uchiha Madara musuh di dunia shinobi, orang yang seharusnya sudah mati tapi dia kini berdiri dihadapan Sasuke. Meskipun penampilannya berubah namun Sasuke masih dapat mengenali baik sosok itu.
Dengan sigap Sasuke sudah menarik katana miliknya seraya mengaktifkan sharingan untuk menghadapi sosok satu ini.
Madara tersenyum mengejek melihat kesigapan Sasuke. "Tidak perlu repot-repot seperti itu Sasuke, aku hanya ingin mengambil bocah itu."
BUAGH!
Belum juga Madara selesai berbicara nyatanya Sasuke sudah terlempar akibat tendangan telak. Dalam sekejap Miro sudah dalam dekapan sang musuh.
"Nii-san!" Teriak Miro reflek begitu melihat tubuh Sasuke terpelanting jauh.
Bersambung
Emiliaindri, Andromeda no Rei, linda yukarindha, Poetrie-chan
Terimakasih saya ucapkan pada pada readers, tentunya cerita ini masih banyak kekurangan untuk itu jika berkenan mohon berikan kritik, saran, masukan dan lain-lain untuk bisa diperbaiki.
Terimakasih
Review?
