That Chic Senior

It's BTS fanfic | KookGa | fluff | do not plagiarism | this story copyright © by minyunghei

Enjoy!

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi menggigit bibir bawahnya seraya dirinya menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Memainkan bandulnya dengan gelisah.

Oke, Yoongi baru menyadari dirinya ini sangat bodoh.

"hah, kenapa bisa aku bersikap seperti itu dihadapannya?"

Yoongi mengetukan kepalanya pada cermin besar didepannya. Merutuki kebodohannya. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu Jungkook nanti. Yoongi sangat malu.

Yoongi menghela nafasnya sambil menatap pantulan dirinya. Cincin kuning lemon dengan bandul anak bebek? Uh, itu sama sekali tidak keren.

Dan Yoongi menyalahkan dirinya yang mempunyai 'sisi lembut' untuk anak bebek. Karena menurutnya mereka sangat lucu dan Yoongi sangat gemas ingin memilikinya.

Setelah beberapa menit dengan posisi yang sama, Yoongi akhirnya menegakkan tubuhnya. Dirinya sudah rapi dengan kostum boneka yang menjadi maskot restauran tempatnya bekerja ini. Kostum Kumamon.

Yoongi menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum memakai kepala dari boneka itu.

Sebenarnya, sampai sekarang pun Yoongi belum mengerti kenapa maskotnya harus Kumamon di restauran ayam panggang?

Hanya pemiliknya yang tahu.

.

Yoongi memberikan brosur terakhirnya pada seorang wanita yang kebetulan melewati restaurannya. Dan beruntunglah brosurnya habis hari ini. Pekerjaannya terasa lebih ringan.

Dan tubuh Yoongi sudah terasa gerah sedari tadi. Ia ingin segera melepaskan kostum ini dan pulang kerumah untuk mandi dengan air dingin.

Tapi sepertinya hari ini Yoongi cukup sial. Baru saja ia berbalik untuk memasuki restaurannya, seorang pemuda menubruknya yang membuat Yoongi terjungkal kebelakang dan kepala kostumnya lepas begitu saja.

"aw.."

Pemuda itu tampak terkejut. Ia segera menghampiri Yoongi dengan terburu-buru lalu berjongkok di depannya.

"maaf aku tidak melihatmu disana. Kau baik-baik saja?"

Yoongi yang sebelumnya sedang mengaduh kesakitan dan mencari kepala kostumnya akhirnya mengadahkan kepalanya dan ia mendapati seorang pemuda dengan sebungkus ayam panggang take-away ditangannya.

"ya," pemuda itu menyodorkan tangannya untuk membantu Yoongi berdiri dan Yoongi pun menerimanya.

"lain kali hati-hati." Yoongi membersihkan kostumnya dari debu dan menatap pemuda itu yang tengah tersenyum kearahnya.

Senyumnya menyeramkan. Sungguh.

"er, aku masuk dulu. Terima kasih sudah berkunjung."

Yoongi baru berjalan beberapa langkah dan memang hari ini adalah hari sialnya, kepala kostum yang tengah dipegangnya jatuh tergelinding dan berhenti di kaki sang pemuda.

Yoongi menghela nafasnya. Tuhan, aku hanya ingin pulang.

Pemuda itu mengambilnya. Ia memberikannya pada Yoongi. Lalu berkata, "omong-omong, namaku Kim Taehyung."

Yoongi hanya memaksakan sebuah senyuman. Berharap pemuda Taehyung itu segera pergi dan tidak banyak bicara lagi.

"senang berkenalan denganmu, bye."

"tunggu! Namamu siapa?"

Oh god, anak ini banyak bicara.

"Shin Minah." Yoongi memalsukan namanya karena ia berpegang teguh pada prinsip 'berhati-hatilah pada orang asing'.

Pemuda Taehyung itu tampak kaget. Matanya melebar dan ia menatap Yoongi dari atas sampai bawah. Membuat Yoongi ingin mencolok mata bulat itu.

"kau pacarnya Kim Woobin?!"

Yoongi hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia menepuk dadanya lalu menatap Taehyung dengan mata memincing tajam.

"pulang sana! Hari sudah sore." dan setelah itu Yoongi langsung berlari memasuki restauran.

Meninggalkan Taehyung yang masih terkejut di tempatnya.

.

.

.

Ah, rasanya Yoongi tidak mau pergi kesekolah hari ini. Entahlah, tubuhnya terasa sangat lelah padahal kemarin ia pulang lebih cepat daripada hari-hari sebelumnya.

Tapi sebagai siswa yang teladan dan tidak pernah absen dari kelas, Yoongi memaksakan tubuhnya untuk bersiap pergi kesekolah.

.

Yoongi menghentikan langkahnya saat melihat seorang pemuda tengah berdiri di depan gerbang sekolahnya. Hanya diam di sana dan sesekali mengintip kedalam.

Yoongi menautkan keningnya. Orang itu mencurigakan.

Maka Yoongi dengan diam-diam berjalan mendekati pemuda itu. Setelah Yoongi sudah berada di belakangnya, ia berdehem.

"penguntit, ya?"

"HIYAAAA!"

Pemuda itu langsung berbalik badan menghadap Yoongi. Membuat Yoongi kaget dengan refleksnya dan juga suara nyaringnya.

Pemuda itu mengerjapkan matanya lalu menggaruk tengkuknya dengan gerakan yang sangat canggung.

"aku bukan penguntit, aku murid baru disini." dan diakhiri dengan sebuah kekehan.

Yoongi hanya menganggukan kepalanya. "ya sudah, kalau begitu segera keruang tataㅡ"

"PARK JIMIN!"

Yoongi beserta pemuda yang dipanggil dengan suara berat itu segera menolehkan kepalanya kesumber suara. Dan betapa terkejutnya Yoongi melihat Taehyung tengah berlari kearah mereka. Mata kecilnya melebar.

Astaga, punya salah apa ia bertemu dengan anak ini lagi.

Yoongi baru saja mengambil ancang-ancang untuk berlari. Tetapi lengannya di tarik dari belakang dan punggungnya menabrak dada sang pelaku, Taehyung.

"Kumamon!" dengan seenaknya pula ia memeluk Yoongi dari belakang.

"Yak! Lepaskan!"

Sungguh, ini masih pagi dan Yoongi bertemu orang aneh seperti ini benar-benar luar biasa.

"Kumamon? Kenapa kau memanggilnya Kumamon?"

Dan beruntunglah Yoongi saat Taehyung melepaskan pelukannya. Tetapi ia malah melingkarkan lengannya di bahu Yoongi.

"kemarin aku bertemu dengannya, sedang memakai kostum Kumamon. Menggemaskan sekali." penderitaan Yoongi bertambah saat Taehyung mencubit pipinya.

Pemuda yang Yoongi kira penguntit itu hanya tertawa. Namanya Park Jimin. Benarkan?

"lepaskan dia, Tae. Kau sudah mendapat sasaran di hari pertama masuk sekolah, eh?"

Perkataan dari Jimin membuat Yoongi mengerutkan keningnya. Sasaran? Memangnya dia burung? Hari pertama sekolah? Jadi mereka berdua ini anak baru.

Oh, anak baru sudah berani macam-macam dengan Min Yoongi.

"tolong dengan sangat, aku ingin masuk ke kelas sekarang. Jadi lepaskan lenganmu dari bahuku." Yoongi mendesis yang malah membuat Taehyung tertawa gemas.

Jimin hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia melirik kearah seragam Yoongi untuk melihat name tag-nya. Yang tertulis nama lengkapnya di sana.

"hm, Min Yoongi?" yang dipanggil hanya menatap datar kearah Jimin sedangkan Taehyung disebelahnya mengerut bingung.

"eh? Min Yoongi?" dan Taehyung mengecek untuk memastikan. Lalu setelahnya ia memegap.

"kau bilang namamu Shin Minah!"

Yoongi mengusap wajahnya dengan kasar. Serius, ia hanya butuh Taehyung melepaskan rangkulannya. Jadi ia bisa pergi ke kelas dengan tenang.

"sudahlah, Tae." Jimin menarik lengan Yoongi agar pemuda malang itu terlepas dari rangkulan maut seorang Kim Taehyung.

"kita harus segera keruang tata usaha untuk mencari kelas."

Taehyung menganggukkan kepalanya. Ia menatap Yoongi lalu tersenyum dan mengacak rambutnya dengan gemas.

"sampai ketemu lagi, Min Yoongi!"

Yoongi hanya mendengus mendengarnya. Sampai ketika ia tanpa sengaja menatap Jimin dan pemuda itu mengedipkan sebelah matanya, diikut dengan seringaian kecil sebelum pergi berlalu bersama Taehyung.

Membuat Yoongi bertanya-tanya pada langit di atas sana. Apa salahnya?

.

.

Jungkook menautkan keningnya di saat ia melihat Yoongi yang tengah berjalan di koridor dengan langkah lesu. Tumben sekali, biasanya juga ia menyibukan dirinya dengan buku bacaan.

"selamat pagi, hyung." Jungkook melingkarkan lengannya di bahu Yoongi dan tersenyum kecil kearahnya.

Tetapi Yoongi hanya menghela nafasnya. Rasanya bahunya ini sudah terasa sakit karena dirangkul oleh Taehyung sebelumnya. Anak itu memiliki kekuatan yang besar juga rupanya.

"kenapa? Lesu sekali."

Yoongi hanya menggelengkan kepalanya. Ia tanpa sengaja menatap sekelilingnya, dan disuguhi pemandangan beberapa murid sekolahnya yang memandang mereka dengan alis bertaut.

Oh, ini akan menjadi berita besar.

"hey, hyung?" Jungkook menundukan kepalanya, melambaikan tangannya di depan wajah Yoongi.

Tidak mendapat respon dari Yoongi membuat Jungkook berdecak sebal. Ia menatap jam tangannya terlebih dahulu sebelum menarik lengan Yoongi untuk ia bawa berlari bersamanya.

Yoongi tentu saja dibuat kaget. Tapi ia hanya menurut saja mengikuti Jungkook. Yoongi hanya sedang malas berbicara hari ini.

Ternyata Jungkook membawanya ke atap sekolah. Ini pertama kalinya Yoongi berkunjung ke sini dan ia terkagum-kagum melihat atap sekolahnya yang ternyata terlihat sangat sejuk karena banyak tanaman dimana-mana.

Jungkook membawanya pada sebuah bangku taman yang berada di sana. Setelah itu ia menghela nafasnya dan mengadahkan kepalanya pada sandaran bangku.

"hyung, aku lebih baik mendengarmu marah-marah daripada kau diam saja sedari tadi." Jungkook mengerang. Sehari tidak bertemu dengan Yoongi lalu setelah bertemu ia tidak mengeluarkan suara sama sekali.

Yoongi hanya menatap Jungkook dengan pandangan datarnya. Ia membawa sebelah tangannya untuk mengelus rambut Jungkook yang melambai tertiup angin pagi.

"maaf, ada dua anak baru yang membuat mood-ku pagi ini hancur."

Jungkook yang mendengar itu segera meluruskan kepalanya, menatap Yoongi dengan pandangan bingungnya. "anak baru?"

Yoongi mengangguk. "ya, dan mereka menyebalkan."

Jungkook makin mengerutkan keningnya tidak suka. Mengetahui ada orang lain yang berada di dekat Yoongi membuatnya kesal.

"sudah, jangan membicarakan hal itu lagi. Lebih baik kita ke kelas sekarang."

Yoongi baru saja berniat untuk berdiri, tetapi Jungkook dengan seenaknya menyandarkan kepalanya di atas paha Yoongi. Sembari menutup matanya.

Yoongi memutarkan bola matanya malas. "yak!" telunjuknya menoel kepala Jungkook. "aku mau ke kelas."

"tidak perlu ke kelas. Lebih baik kita di sini saja."

Yoongi membuka mulutnya, ingin memarahi bocah ini. Tetapi ketika melihat Jungkook yang menutup matanya dengan rambut yang melambai karena terpaan angin pagi membuatnya mengurungkan niatnya.

Yoongi tidak mau mengakuinya tetapi pemandangan ini sangat indah. Dan matanya tanpa sengaja melihat pergelangan tangan Jungkook yang dilingkari sebuah tali tipis.

Dengan cincin yang Yoongi berikan kemarin sebagai penghiasnya.

Pipi Yoongi sampai bersemu entah kenapa. Ia menghela nafasnya lalu menyilangkan lengannya di depan dada. Ikut menutup matanya, merasakan angin hangat menerpa wajahnya.

Yang membuatnya tertidur tanpa sadar.

.

.

.

Yoongi mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara piano yang berada tepat di atas kepalanya.

Piano?

Yoongi mengerutkan keningnya. Dan matanya melebar di saat ia baru menyadari bahwa dirinya tengah terbaring. Dengan paha seseorang sebagai bantalannya.

'seseorang' itu siapa lagi kalau bukan Jeon Jungkook.

Maka Yoongi dengan cepat mendudukkan dirinya. Sampai membuat Jungkook berjengit kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya.

"aak! Kalah lagi."

Yoongi baru menyadari bahwa Jungkook tengah bermain di ponselnya. Yang Yoongi asumsikan dari sanalah suara piano itu berasal.

"hey, kenapa aku bisa tertidur?"

Jungkook memasukan ponselnya terlebih dahulu lalu mengangkat kedua bahunya.

"tidak tau, saat aku membuka mata kau sudah tertidur."

Yoongi hanya menganggukkan kepalanya. Ia mengambil ponselnya untuk melihat jam di sana. Dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui sekarang sudah memasuki jam istirahat.

"AH! AKU MELEWATKAN TIGA PELAJARAN!"

Jungkook hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap prihatin ke arah Yoongi. Yoongi sendiri tengah meremas rambutnya frustasi dan merengek.

"hancur sudah reputasiku.."

Jungkook hanya bisa menahan tawanya. Ia berdiri lalu tanpa bicara menarik lengan Yoongi untuk ikut berdiri. Membuat pemiliknya merengut tidak suka.

"lebih baik kita makan saja sekarang. Aku lapar."

Dan Yoongi pun tidak bisa memungkiri perutnya yang terus berbunyi.

.

.

"uh, terlalu banyak orang di sini."

Yoongi kembali lesu ketika mendapati banyak manusia memenuhi kantin sekolah. Membuat nafsunya hilang begitu saja.

"kau tunggu disini saja. Aku akan membelikan sesuatu untukmu."

"tidak perlu Jungㅡ"

"KUMAMON!"

Mata Yoongi melebar seketika. Jantungnya berdegup dengan kencang. Tidak, ini bukan cinta. Melainkan ini adalah tanda bahwa seorang pengganggu akan datang menghampirinya.

Dan benar saja, disaat Yoongi berbalik kebelakang. Dirinya dihadiahi sebuah pelukan kuat dari seorang Kim Taehyung, sang penggangu.

"ah! Kita bertemu lagi rupanya." dan jangan lupakan sahabatnya, Park Jimin dengan senyuman miring yang sangat dibencinya itu.

"hey! Apa-apaan?! Lepaskan aku!"

Taehyung segara melepaskan pelukannya, memperlihatkan senyuman kotaknya di hadapan Yoongi.

Yoongi juga dapat nendengar Jimin terkekeh. "kau menggemaskan sekali." dan mendaratkan sebuah cubitan di pipi Yoongi.

Sebelum Yoongi benar-benar meledak, Jungkook lebih dulu menarik lengannya. Merangkul Yoongi dengan posesif yang membuat kedua sahabat itu menyadari keberadaan Jungkook.

"kau membuatnya tidak nyaman." dan berbicara dengan nada yang datar tapi terdengar berat. Membuat Yoongi bergidik ngeri.

"oh," Jimin melangkah kedepan Jungkook. Memberikan senyuman untuknya.

"Jeon Jungkook, Seokjin-saem mencarimu di kelas tadi."

Yoongi maupun Jungkook sama-sama terdiam bingung. Kenapa ia mengetahui namanya?

"name tag-mu," sekarang Taehyung yang membuka suara. Ia menumpukan lengannya di bahu Jimin. "kita juga sekelas!"

Melihat kedua senyuman anak baru itu membuat Jungkook khawatir.

Dari tatapan mereka yang menatap Yoongi, sepertinya dua orang ini menaruh rasa pada senior kecilnya.

Rangkulan Jungkook mengerat di bahu Yoongi.

Tidak, ia tidak akan membiarkan Yoongi pergi darinya.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

Ide buat ff ini lagi lancar, jadinya dilanjut aja sebelum benar-benar menghilang dari dunia ffn/?

Tadinya mau masukin jimin aja, tapi seru juga kalo 95z ikutan rebutin yungi wkwk

Beware Jeon Jungkook, lol

Thank you for reading, I love you all and review please?

With Love,

minyunghei