Modern Ninja

By Juubi

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

And High School DxD belongs to Ichiei Ishibumi

Rate T (maybe)

Warning : Au, OOC, tipo dll

Enjoy it

..

.

"Baiklah, pelajaran kita cukupkan sampai disini. " Seorang wanita dewasa yang bekerja sebagai guru di Higashi Akademi merapikan perlengkapan sebelum berjalan kepintu keluar. Tepat didepan pintu, wanita itu berhenti dan menatap para murid yang sedang merapikan perlengkapan mereka, tatapannya berhenti pada seorang murid baru yang duduk dipojok ruangan. "Naruto-san. Kau diminta kepala sekolah untuk menemuinya diruangannya. "

"Baik sensei. " Naruto mengangguk kecil kemudian dia kembali merapikan perlengkapan nya. Setelah selesai dia berjalan keluar begitupun dengan murid lainnya. Bel pertanda berakhirnya pelajaran hari ini sudah berbunyi bertepatan dengan keluarnya sensei tadi, saat-saat yang membosankan bagi Naruto sudah berakhir tapi dia tidak bisa merayakannya karena sekarang dia harus segera menghadap kepala sekolah.

Saat ini dia sedang berjalan dikoridor bangunan utama sekolah. Bangunan utama sekolah adalah bangunan dua tingkat yang berbentuk seperti huruf 'U' dengan sebuah taman ditengah-tengah. Bangunan disebelah kanan dikhususkan sebagai ruang kelas dari kelas satu sampai kelas dua, ada sekitar dua puluh kelas yang berada dilantai satu dan lantai dua, dibangunan tersebut juga ada dua kamar mandi. Kemudian bangunan disebelah kiri, dilantai dua menjadi ruangan kelas tiga sedangkan dilantai satu terdapat beberapa ruangan perlengkapan sekolah seperti perpustakaan, kantin, dan beberapa ruangan organisai sekolah. Sedangkan bangunan ditengah adalah bangunan tempat para guru atau staf sekolah yang lain berada.

Pandangan Naruto sekarang beralih kehalaman sekolah, memandang dari lantai dua ini membuat dia bisa melihat hampir seluruh halaman itu. Halaman dan juga taman itu banyak ditumbuhi pohon yang dibawahnya dibangun sebuah tempat duduk yang biasanya dipakai para murid untuk bersantai, mengobrol dengan teman, ataupun memakan bekal. Ditengah halaman itu juga terdapat dua Lingkaran Fuin yang saling berdekatan. Tapi bukan itu yang sekarang dipandang oleh mata beriris samudra itu melainkan beberapa murid yang sedang berkumpul.

Hari ini adalah hari bagi kelas satu untuk memilih organisai yang ingin mereka masuki dan hari bagi murid senior untuk mempromosikan dan menjelaskan organisai nya, ada beberapa organisai yang ada disekolah ini yaitu organisai olahraga raga, organisai seni, organisai sastra, dan yang terakhir dan yang paling populer, organisasi ninja. Walaupun bisa dikatakan sebagai olahraga, organisasi ninja memiliki tempat tersendiri disekolah ini, Organisasi ninja disekolah ini memiliki peran yang penting hampir semua kegiatan disekolah dikuasai oleh organisasi itu. Keamanan sekolah, kedisiplinan murid, bahkan beberapa aturan sekolah diatur oleh mereka, tapi tentu saja dengan persetujuan kepala sekolah. Jadi tidak heran kalau banyak murid yang ingin bergabung dengan organisasi itu, tapi untuk dapat bergabung para murid harus melewati tes kelayakan untuk menjadi seorang ninja.

"Kirotsuchi-san. " Merasa dipanggil, Naruto menengok kebelakang untuk melihat siapa yang memanggil dirinya. Disana pemuda pirang itu melihat seorang perempuan berambut putih panjang dengan poni rata didepan.

"Hanakai-san, ada apa? " Naruto tersenyum lembut ketika perempuan yang bernama Momo Hanakai sudah berada didepan nya. Momo Hanakai adalah salah satu perempuan yang satu kelas dengan Naruto, mereka berdua berkenalan saat jam istirahat pertama tadi. Walaupun baru kenal, Naruto sudah lumayan akrab dengan perempuan berambut putih itu, begitupun dengan teman sekelas Naruto yang lain. Dengan sifat Naruto yang mudah diajak bicara atau mengajak bicara bukan hal yang sulit untuk dirinya mendapatkan teman disekolah ini meskipun dihari pertama.

"Karna kau murid baru disini, kau belum bergabung dengan organisasi sekolah kan. " Perkataan Momo dibalas anggukan kecil Naruto membuat wanita itu tersenyum manis. Dia kemudian memberikan selembar kertas pada Naruto. "Apa kau ingin menjadi anggota dari White Dragon. "

White Dragon adalah nama dari organisasi ninja disekolah ini, nama itu ditentukan oleh sang ketua organisasi salah satu keisrtimewaan yang dimiliki oleh sang ketua. Keistimewaan ketua lainnya, dia dapat membuat peraturan untuk anggota lainnya sesuka hatinya. Momo adalah salah satu anggota dari organisasi itu yang sekarang bertugas mempromosikan organisasi nya, itu terbukti dengan adanya sebuah pin berbentuk simbol ninja Konoha berwarna silver yang terpasang didada kirinya.

Naruto memandang kertas yang ternyata sebuah formulir pendaftaran, kemudian pandangannya beralih keara Momo. "Mungkin nanti, saat ini aku sedang dipanggil oleh kepala sekolah. "

"Baiklah, tapi kamu harus ingat pendaftaran Hanya berlangsung selama seminggu. " Momo berbalik bersiaf untuk pergi tapi dia tak lupa memberi lambain tangan pada Naruto. "Kalau begitu sampai jumpa. "

Naruto ikut melambaikan tangan kepada Momo, ketika perempuan itu sudah jauh Naruto berbalik dan kembali melanjutkan jalannya menuju ruang kepala sekolah. Ruangan kepala sekolah berada dilantai dua dibangunan tengah jadi Naruto tidak perlu susah untuk menuruni tangga cukup dengan berjalan disepanjang koridor saja dia sudah bisa ketempat kepala sekolah.

Sekarang Naruto sudah sampai didepan pintu ruang kepala sekolah, dengan mengetuk pintu beberapa kali Naruto sudah dipersilahkan masuk oleh orang yang berada didalam. Naruto pun membuka pintu tersebut dan masuk kedalam, ketika dia masuk dia dapat melihat seorang pria yang dia ketahui sebagai kepala sekolah. Sebagai murid yang baik dan sopan, Naruto membungkuk kan badannya. "Selamat siang, sensei."

Azazel nama pria tersebut tersenyum melihat Naruto, salah satu tangannya menunjuk sebuah kursi yang berada diruangan itu. "Silahkan duduk." Naruto mengikuti perkataan Azazel dengan duduk dikursi yang ditunjuk oleh pria itu. Azazel masih mempertahankan senyuman nya ketika Naruto sudah duduk. "Bagaimana hari pertamamu disini? "

"Cukup menyenangkan, sensei. " Naruto menjawab dengan nada yang sedikit gugup, siapa coba yang tidak gugup bila ditatap orang dengan pangkat tinggi yang terus tersenyum kepada kita. Naruto yang terus ditatap oleh Azazel hanya bisa tersenyum yang sedikit dipaksakan dan menggaruk belakang kepalanya. "Jadi, kenapa saya dipanggil kesini sensei? "

"Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu, Naruto. " Wajah Azazel jadi serius membuat pemuda didepannya menjadi sedikit tegang. "Dan kuharap kau mau menjawab nya. "

"Baiklah sensei. "

"Apa kau seorang ninja? " Sebagai jawaban dari pertanyaan Azazel, Naruto menganggukan kepalanya. Pria yang menjabat sebagai kepala sekolah itu mengambil sebuah kertas dan kemudian membacanya. "Menurut informasi yang ku dapat, kau adalah ninja type sensor. Apa itu benar? "

"Itu tidak sepunuhnya benar. " Apa dasarnya Naruto memang bukan ninja type sensor, kemampuan sensornya didapat saat dia belajar senjutsu dan kyubi mode jadi bisa dikatakan bahwa kemampuan sensornya itu hanya sebagai bonus dari latihannya. Menatap pria didepannya yang juga sedang menatap dirinya dengan pandangan bertanya membuat Naruto sedikit gugup, itu bisa diketahui dari wajahnya yang tersenyum gugup dan tangannya yang menggaruk belakang kepalanya. "Sa-saya hanya memilki kemampuan sensor yang tidak terlalu hebat. "

Azazel semakin menatap intens pada Naruto, orang yang ditatap semakin gugup. Azazel yang mengetahui maksud dari ekspresi Naruto itu menghembuskan nafasnya, dia mencoba untuk sedikit lebih lembut pada pemuda pirang itu. "Bisa kau tunjukan. "

"Apa maksud sensei? "

"Kau tau maksudku. Kurasa ucapan ku tadi sudah sangat jelas. " Azazel tersenyum manis pada Naruto, tapi entah kenapa senyuman itu membuat Naruto takut.

Menghela nafas, Naruto mulai memejamkan matanya mencoba berkosentrasi dengan kemampuannya. Sebenarnya tidak perlu seperti itu Naruto sudah mengetahui orang-orang yang bersembunyi diruangan ini, saat ini dia hanya berpura-pura agar Azazel tidak menaruh curiga padanya. "Di atas dua orang, disampin kanan satu orang, disamping kiri satu orang, dan dibelakang sensei satu orang. "

Azazel menatap tak percaya pada pemuda didepannya ini. Tidak hebat apanya, kemampuan pemuda itu sangat hebat menurut Azazel. Orang-orang yang disebutkan Naruto tadi adalah ninja elit yang sangat ahli dalam menyembunyikan tekanan chakra tapi dengan begitu mudahnya Naruto mengetahui mereka, bahkan Azazel sendiripun tidak bisa mendeteksi salah satu orang yang bersembunyi itu. Dia semakin penasaran dengan pemuda itu, jiwa peneliti nya mulai muncul membuat dia ingin mencoba sesuatu pada Naruto. Tiba-tiba saja Azazel tertawa yang dapat membuat orang tidak mau berada didekatnya bahkan untuk Naruto sekalipun.

"Hentikan! " Sebenarnya Naruto ingin sekali mengganjal mulut orang didepannya ini dengan rasengan tapi mengingat pria itu adalah seorang kepala sekolah yang artinya harus dia hormati, Naruto hanya bisa berkata dengan nada yang sedikit keras atau bisa dibilang membentak agar pria itu berhenti tertawa. Memang apa yang Naruto lakukan hingga membiat pria itu tertawa menurut Naruto tidak ada yang lucu dari perkataan ataupun sikapnya.

"Ha ha ha... Khe khe... Huuuh. " Dengan hembusan nafas yang agak panjang, Azazel bisa menghentikan tawanya, kemudian wajahnya kembali menunjukan ekspresi serius. "Kemampuan mu sungguh mengagumkan, membuatku tertarik... Hei ada apa dengan ekspresi mu itu. Jangan berpikir yang bukan-bukan. "

Naruto yang tadinya sudah pucat mendengar Azazel tertarik padanya hanya bisa nyengir gugup ketika sadar pikirannya salah. Menenangkan dirinya dengan menarik nafas, dia kembali memasang wajah serius. "Apa masih ada yang ingin sensei bicarakan. "

"Oh ya, satu lagi. " Ekspresi Azazel kembali berubah menjadi semangat membuat Naruto sweatdrop melihat setiap perubahan ekspresi pria itu. "Apa kau tertarik dengan secred gear. "

"Secred gear? "

Azazel mengangguk semangat, dia kemudian membusungkan dadanya tangannya juga memukul dadanya pelan. "Asal kau tau aku pembuat secred gear terhebat di Hi no kuni. "

Naruto menatap datar pria didepannya ini, apa benar dia ini kepala sekolah. Sikap pria itu sungguh aneh, kadang serius, kadang humoris, kadang kekanak-kanakan. Duh, seandainya saja Naruto tau sifat pria itu yang lain?

"Jadi, apa kau tertarik memiliki sebuah secred gear? Aku bisa membuatkan mu satu. "

"Mungkin untuk saat ini aku belum memerlukan benda itu. " Sebenarnya Naruto sedikit tertarik dengan secred gear tapi saat ini ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan. Kekuatannya saat ini masih belum dia kuasai secara penuh, jadi untuk saat ini dia tidak perlu benda itu. "Tapi ada sesuatu yang ingin ku pelajari. "

"Dan apa itu? "

"Lingkaran Fuin. "

..: Modern Ninja :..

Duduk disebuah kursi panjang dengan pohon yang berdiri kokoh dibelakang, cuaca yang lumayan panas tidak menjadi halangan bagi pemuda itu karena pohon dibelakang menjadi payung yang menghalangi cahaya matahari. Sepotong roti yang dia beli dikantin tadi dan tak lupa juga sebotol air mineral menjadi teman bersantai buat Naruto menikmati waktu istirahat nya. Hari ini adalah hari kedua Naruto berada disekolah ini, dan setelah mengikuti dua mata pelajaran, dia dan murid lainnya dipersilahkan beristirahat untuk mengisi perut ataupun menghilangkan setres.

Menikmati sepotong roti dengan perlahan, mata dengan iris biru itu memandang kesekitar. Bukan hanya dirinya yang menghabiskan waktu istirahat ditaman, beberapa murid juga berada disini. Kebanyakan dari mereka melakukan hal yang sama dengan Naruto yaitu menikmati makanan mereka tapi ada juga yang hanya sekedar mengobrol dengan temannya ataupun tidur (baca bersantai).

Roti miliknya sudah habis dia makan, kemudian tangannya bergerak mengambil botol dan dengan perlahan meminum isinya. Pemuda dari masa lalu ini menikmati air yang masuk kedalam mulutnya yang kemudian turun ke tenggorokan dan berakhir dilambungnya, rasa dingin dan menyegarkan dia rasakan dari air tersebut. Ketika dia berhenti minum, air dalam botol masih tersisa setengah tak ingin membuangnya, dia kembali meminum air tersebut hingga tak tersisa lagi.

Merasa sudah selesai, Naruto berdiri dan mulai berjalan meninggalkan halaman. Waktu istirahat masih sekitar delapan menit lagi, jadi pemuda berambut pirang berantakan itu memutuskan untuk mengelilingi sekolah ini dulu. Dalam perjalanannya, Naruto selalu mendapatkan pandangan dari murid lain yang dia tidak tau artinya, pandangan itu berasal dari murid perempuan dari berbagai kelas tapi tak jarang murid laki-laki juga memberi pandangan yang sama. 'Mungkin aku tampan.' Pikirnya narsis.

Puas menjelajah sekolah dibagian dasar, Naruto mulai menaiki tangga mencoba menjelajah dilantai dua. Mata bergerak kesana kemari memperhatikan setiap ruangan dilantai dua, sekarang ini ia berada dibangunan yang dikhususkan untuk kelas tiga. Lagi asik-asiknya memperhatikan, tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang mencurigakan. Matanya menajam melihat tiga orang laki-laki yang memasuki sebuah ruangan, tapi bukan itu yang menjadi fokus Naruto melainkan seorang perempuan yang berada dikekangan ketiga laki-laki tersebut, dengan jelas Naruto melihat perempuan itu berusaha lepas dari kekangan pria-pria itu.

Tanpa bertanyapun Naruto tau apa yang dilakukan ketiga pria itu dan dia juga tau apa yang selanjutnya terjadi. Dengan perlahan Naruto berjalan mendekati ruangan yang dimasuki oleh ketiga orang yang menyeret perempuan tadi, sebisa mungkin dia tidak membuat suara agar tidak diketahui keberadaan. Ketika berada didepan ruangan tersebut, Naruto mencoba mengintip lewat jendela ruangan tersebut. Matanya membulat melihat kejadian didalam.

...

"Lepas! " Teriakan lemah keluar dari mulut mungil seorang perempuan. Perempuan tersebut tak henti-henti berontak mencoba melepaskan diri dari ketiga pria yang mengunci pergerakannya. Nimura Ruruko nama perempuan tersebut, memiliki rambut berwarna coklat, dan mata dengan iris hijau siswa kelas satu disekolah ini. Keinginan nya untuk menjadi anggota organisasi ninja disekolah ini berakhir menjadi malapetaka.

Karena ingin secepatnya menjadi anggota, Ruruko menemui seniornya yang sudah menjadi anggota organisasi itu, dirinya meminta agar segera dilakukan tes untuk dirinya walaupun tes itu dimulai saat pulang sekolah. Ketiga seniornya itu menyanggupi permintaan nya, dan tanpa pikir panjang dia mengikuti ketiga orang itu kesebuah ruangan. Dia mulai curiga saat ruangan yang ditunjuk pria itu hanya ruangan kosong, dengan perlahan dia mencoba untuk pergi tapi salah satu dari pria itu mengetahui niatnya membuat dirinya ditangkap dan diseret kedalam, saat dirinya mau berteriak minta tolong mulutnya ditutup dengan tangan kasar pria itu.

"Lepa_ Ah! " Ucapan Ruruko terputus dan digantikan teriakan kesakitan ketika rambut coklatnya ditarik paksa membuat dirinya mendongak, mata memandang tajam pria didepannya yang sedang menjambak rambutnya sedangkan kedua pria lainnya mengunci kedua tangannya. Ketiga pria itu menyeringai kejam.

"Kau lumayan canti_ ugh. " Pria yang memegang rambut Ruruko itu tidak sempat menyelesaikan ucapan nya ketika gadis itu menyarangkan lututnya diperut pria tersebut.

Dengan sekali tarikan, kedua tangan Ruruko berhasil terlepas. Dengan sisa kekuatannya gadis itu berlari kepintu keluar tapi baru saja menyentuh gagang pintu baju bagian belakangnya ditarik membuat dia terlempar dan menabrak dinding ruangan tersebut. Kedua tangannya kembali dikunci dan kali ini kakinya juga dikunci oleh kedua pria tadi.

'Plak!'

Ruruko berhenti berontak saat pria ketiga menampar pipinya, dari sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah, rambutnya juga sangat berantakan. Pria yang menampar pipinya itu menyeringai. "Begitu lebih baik. "

Dengan sekali tarikan tangan yang sedikit dialiri chakra, pria tersebut merobek baju Ruruko dan membuangnya disembarang tempat. Dia menyeringai melihat pemandangan didepannya begitupun juga dengan kedua temannya. Berbeda dengan Ruruko, gadis itu membulatkan matanya shock dengan apa yang dilakukan pria itu, dia kembali berontak berusaha melepaskan dirinya dari kekangan kedua pria itu. Mata mengeluarkan cairan bening yang semakin lama semakin deras. "Lepaskan hiks... Kumohon jangan hiks... "

"Tenang saja. Ku jamin kau akan menikmatinya. " Wajah dengan seringai bejat perlahan mendekat kebenda yang sejak tadi dia pandangi begitu juga dengan salah satu tangannya. Tapi ketika dirinya hampir berhasil menyentuhnya sebuah tangan memegang kerah belakangnya dan menariknya dengan kuat membuat dirinya harus merasakan sakit akibat menbentur lantai kramik.

Sang pelaku tak berhenti sampai disitu, setelah berhasil menjatuhkan satu pria dia kembali menendang pria yang masih terkejut atas kehadirannya mengunci membuat satu pria yang mengunci pergerakan perempuan tadi terlempar dan menabrak dinding hingga menimbulkan retakan pada dinding tersebut. Pria terakhir melepaskan pegangannya pada gadis itu dan berniat menyerang sang pelaku yang mengganggu kesenangan mereka tapi baru hendak memukul dia sudah mendapat tendangan diperut yang membuat dia terlempar kearah pintu. Pintu itu jebol bahkan pagar pengaman dikoridor ikut hancur karena menahan benturan tubuhnya.

Ruruko yang sudah terlepas dari kuncian hanya bisa terduduk dengan tangan memeluk lututnya menyembunyikan tubuhnya. Matanya tertuju kepada sang penyelamat yang sedang memunggunginya, seorang pemuda dengan rambut kuning jabrik yang memakai blazer hitam khas seragram sekolah.

Naruto memandang datar pada pria didepannya yang dalam posisi duduk dengan pandangan tajam yang terarah padanya, melirik kesamping dia dapat melihat pria yang tadi menghantam dinding sudah kembali bangkit. "Kalian membuatku muak! "

Suara yang dikeluarkan Naruto terdengar datar dan juga dingin membuat siapa saja yang mendengar merasakan apa yang namanya ketakutan. Menghiraukan wajah pucat kedua pria tersebut, Naruto mulai melepas blazer nya dan dengan perlahan memberikannya pada gadis dibelakangnya. "Gunakan ini untuk menutupi tubuhmu. "

Ruruko menatap wajah Naruto yang tersenyum lembut pada dirinya, nada bicara pemuda itu juga berubah menjadi lembut tidak seperti yang pertama dia dengar tadi. Dengan rona merah dipipinya Ruruko menerima blazer Naruto.

"Ka-kau!.. Beraninya kau... apa kau tidak tau siapa kami. " Pria yang sudah berdiri dari posisi duduk berteriak murka kepada Naruto.

"Pergilah ke UKS. " Naruto yang masih menghadap Ruruko berbicara dengan lembut, dia juga tersenyum untuk menenangkan gadis dihadapannya ini. "Biar aku urus mereka. "

Ketika Naruto berbalik dua orang pria itu sudah berkumpul dihadapan Naruto. Tatapan tajam dan tekanan chakra dari kedua pria itu sama sekali tidak membuat Naruto takut. Dengan pandangan datar dan super dingin Naruto membalas tatapan kedua pria itu. "Enyalah kalian."

...

Para murid dihalaman sekolah dikejutkan dengan jatuhnya seorang murid dari lantai dua bangunan sekolah, para murid berbondong-bondong menghampiri pria malang yang sudah tidak sadarkan diri itu. Belum menghilang keterkejutan para murid, mereka kembali terkejutu saat dari bagunan tempat pria tadi jatuh, keluar atau lebih tepatnya terlempar dua orang pria dengan kecepatan tinggi. Kedua pria tersebut terlempar lebih jauh dari pria pertama bahkan kedua pria tersebut terseret beberapa meter ditanah saat mereka mendarat.

Pandangan para murid kembali beralih menuju koridor atas yang sudah kehilangan pagar pembatas. Disana berdiri seorang pemuda berambut kuning dan mata sebiru langit yang kelihatan dingin, memakai seragram sekolah (tanpa blazer). Ketika mata biru yang dingin itu melihat pria pertama yang dia jatuhkan mulai sadar, dia segera melompat menuju pria itu dengan tumit siap dilayangkan.

Ketika tumitnya hampir mengenai perut pria itu, tiba-tiba sebuah es yang berbentuk kubah menahan serangan nya. Merasa serangannya gagal, Naruto melompat kebelakang dan menatap orang yang menghentikan serangan nya. "Apa mau mu? "

...

..

TBC

.

Yoo. Bagaimana dengan chap ini baguskah atau jelek, berikan komentar anda dengan menekan review. Saya ucapkan terima kasih kepada kalian yang telah mau men fol, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca. Dan maaf saat ini saya tidak bisa membalas review kalian karena saya lagi buru-buru.