Disclaimer :: Naruto © Masashi Kishimoto
Hari ini berlalu begitu cepat. Tanpa sadar matahari kini telah tenggelam. Warna jingga mega-mega pun sudah terhapus oleh malam. Seharian ini dilalui oleh Ino dengan berusaha membuat sakura tetap tertawa. Semua caranya berhasil, tetapi tetap saja tawa dan senyuman itu tak muncul pada kedua mata sakura.
Setelah memaksa Sakura untuk bersiap untuk jalan-jalan tanpa memberi tahunya kemana mereka akan pergi, akhirnya mereka pun telah siap menghadiri pesta kejutan yang telah dipersiapkan.
Keduanya telah terlihat begitu mempesona dengan riasa natural yang membingkai wajah cantik mereka. Baju Ino terasa sedikit terlalu besar untuk Sakura kenakan. Tapi apa boleh buat ia sudah menyerah untuk menolak rengekan sahabatnya.
Setelah memastikan semua pintu dan jendela telah terkunci tak lupa juga memberi makan kepada Lucy dan Lucky, mereka berjalan kaki menuju arah yang ditunjukan oleh Ino.
"Belok kiri" Ino memberi aba-aba sambil menarik lengan Sakura.
"Ino kita mau kemana?" Meskipun Ino tampak sangat bersemangat Sakura malah terlihat sebaliknya. Dia merasa sedikit sebal dengan Ino yang merahasiakan kemana mereka akan pergi.
"Sudahlah Sakura, sebentar lagi juga sampai kok" Mereka berjalan semakin cepat.
'Sebenarnya ada apa sih?' Sakura bertanya-tanya dalam hati. Tak biasanya Ino menjadi sanggat bersemangat seperti ini jika tidak berhubungan dengan shopping atau tentang cowo.
Tiba-tiba ponsel Ino berdering. Tak ingin Sakura melihat identitas penelponya, Ino mengangkat pangilan telpon itu setelah berjalan menjauhi Sakura.
"Halo?" Suara Ino terdengar sangat lirih. Sakura pun tak dapat mendengar apapun dari pembicaran Ino. Ekspresinya berubah menjadi terkejut, entah apa yang sebenarnya terjadi.
#Fanfiction#
"Halo, Aunty aku sudah hampir sampai, ada apa?" Sapa Ino kepada penelpon yang tak lain adalah tantenya sendiri.
"Uh maaf Ino, pesta kejutannya tidak bisa dirayakan di rumah. Kami sedang suting, gara artis sombong itu kami telat pulang Tolong kamu bawa Sakura kesini saja ya?"
"Ah begitu ya, apa boleh buat, tolong Aunty smskan saja alamatnya" kecewa, tentu Ino merasa kecewa. Tapi bukankah tantenya telah bersusah payah untuk meluangkan waktu demi membatu mengadakan pesta ini.
"Maaf ya, ini sungguh di luar dugaan" suara wanita di sebrang sana bernada bersalah.
"Tidak Aunty, aku yang sangat berterima kasih, meskipun sedang sibuk Aunty tetap mau menolongku. Terima kasih Aunty, love you!"
Setelah menutup telepon dan membaca sms yang berisi alamat lokasi suting tantenya, Ino kembali menghampiri Sakura.
"Sakura ayo kita naik taxi saja" Ino berkata sambil melambaikan tanganya dan sebuah taxi menghampiri mereka.
Lagi-lagi Ini menutupi tujuan mereka dari Sakura. Saat sang supir taxi bertanya kemana mereka akan pergi, Ini hanya menunjukan sms dari tantenya tadi.
Sedikit sebal dengan Ino yang dari tadi sore beringkah kekanak-kanakan, Sakura hanya diam di sepanjang perjalannan. 'Menyebalkan.'
#Fanfiction#
Di lokasi suting
Pegawai catering Akimichi telah datang membawa semua pesanana makanan yang sudah dipesan sebelumnya. Reaksi beragam terlihat dari wajah-wajah kru film yang lain. Ada yang merasa terkejut, gembira, dan terganggu. Di sisi lain mereka merasa heran dengan produser dan sang istri sedang berdiri dan meminta maaf karena telah mengganggu.
"Semua ini gara-gara artis sok senior yang merepotkan itu, bahkan dia datang lebih terlambat dari pada Kakashi" Minato melihat istrinya yang sedang marah. Aura hitam wanita yang berdiri di sampingnya itu mampu membuat bulu kuduk minato berdiri.
"Kushina tenang sedikit ya, ini pengambilan gambar terakhir sebelum kita suting di Indonesia. Lagipula karakter yang dia perankan akan mati hari ini" reaksi sang istri menunjukan bahwa dia telah sedikit tenang. Tapi tetap saja ekspresi cemberut tidak pudar sedikitpun.
Minato menghembuskan nafas panjang, sungguh hari ini begitu melelahkan. Hal pertama yang dia hadapi adalah istrinya mendadak meminta sebuah pesta kejutan. Bukankah Kushina tau bagaimana jadwal mereka sekarang ini sedang padat.
Hal memusingkan kedua yang harus dia menunggu aktris pemeran nenek-nenek yang tak kunjung datang. Hampir tiga jam mereka menunggu. Alhasil semua kru harus bekerja lembur. Hal ini juga yang membuat Kushina marah. Betapa hari ini sangat sempurna.
"Ah Minato-senpai, ada apa ini?" Tiba-tiba Kakashi yang sedari tadi hanya duduk dan membaca buku kesayangan miliknya ikut-ikutan penasaran dengan bertambah banyaknya orang-orang di area suting.
"Kakashi, maaf aku ingin mengadakan pesta tanpa memberi tau mu" Minato hanya bisa tertawa dan menggaruk tengkuknya meskipun tidak gatal sama sekali.
"Keponakanku ingin kami membuat sebuah pesta kejutan untuk sahabatnya, sebenarnya kami ingin membuatnya di rumah, ya tapi karena kita lembur aku dan Kushina mengadakannya di sini" imbuhnya.
"Tapi kalian berdua tidak harus menunggu di sini" sang sutradara muda berpenampilan nyentrik menaikkan salah satu alisnya.
"Ini hari terakhir kita suting sebelum berangkat ke Indonesia, aku ingin bisa berada di sini sampai selesai. Lagi pula angap saja ini ucapan terima kasih kepada semua kru yang telah bekerja keras"
Minato melihat semua persiapan pesta telah tertata rapi. "Mohon perhatiannya" seketika semua kru mengalihan pandangan mereka ke arah Minato.
"Sebelumnya Aku ingin meminta maaf karena telah merepotkan kalian semua. Tapi Aku mohon bantuan kalian untuk malam ini"
#Fanfiction#
Ino dan sakura telah sampai di alamat yang diberikan oleh Kushina.
Hanya ada gedung gelap dan tak ada satu orang pun yang berlalu-lalang. Gedung itu diselimuti kegelapan, hanya ada satu lorong yang diterangi oleh kegelapan.
"Ino apa yang kau lakukan! Kenapa kau membawaku kemari?" Kesabarannya mulai tipis. Sudah terlalu lama Ino bertingkah seperti anak kecil
"Ayolah Sakura, sedikit lagi kok" Ino menarik tangan Sakura untuk tetap berjalan menyusuri lorong. Semakin dalam mereka memasuki gedung sepi itu, maka semakin mencekam suasana yang mereka rasakan.
"Jangan gila Ino. Jika kau memang ingin uji nyali di tempat menyeramkan ini, aku akan pulang sendiri" Rontahan Sakura untuk melepaskan genggamannya sama sekali tidak Ino hiraukan.
Lampu lorong berakhir tepat di depan sebuah pintu besar yang berwarna hitam. Tertempel kata 'stop' berwarna kuning di salah satu daun pintu itu. Merekapun berhenti.
"Ayolah Aku janji kau tidak akan kecewa" sebuah seringai muncul di wajah Ino.
Tanpa ba-bi-bu, Ino membuka pintu di hadapan mereka dan mendorong Sakura masuk ke dalam lalu menutupnya.
Sakura mencoba untuk mendorong pintu dari dalam. Selisih kekuatan antara mereka hampir membuat Ino kewalahan. Akan tetapi seorang pria yang tak dia kenal tiba-tiba muncul. Dia membantu Ino untuk tetap menahan dorongan Sakura.
Sakura sudah hampir putus asa . Sekuat apapun dia mendorong pintu itu tetap saja tidak terbuka. Lenganya pun mulai lemas dan tak mampu lagi untuk mendorong.
"Ino buka pintunya! Ino buka pintunya, Ino!" Sakura berteriak kepada Ino, tapi sepertinya pintu itu kedap suara. Karena Ino sama sekali tidak merespon.
Sakura mengedor-gedor pintu dihadapannya. Berharap Ino membuka kembali pintu itu dan membiarkannya keluar dari tempat gelap ini.
"Ino buka pintunya!"
'Clankk' tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh dari sudut ruangan. Tak jelas benda apa itu, tapi mampu membuat rasa takut sakura membesar.
Sakura mengebrak pintu lebih keras daru pada sebelumnya. Kepanikkan pun akhirnya muncul saat ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
"INO BUKA PINTUNYA! INO BUKA! AAAA!" Sakura menjerit saat sepasang lengan kekar mendekapnya dari belakan.
Salah satu dari kedua lengan itu melingkar di pinggang sakura dan yang satu lagi membekap mulutnya. Sakura dapat merasakan gambaran tubuh lelaki yang sedang membekapnya.
Jelas sekali jika perlawanan dari tubuh mungil Sakura sama sekali tak berpengaruh pada orang ini. Laki-laki ini lebih tinggi dari pada Sakura. Otot-otot di daerah dada dan perutnya terasa sangat padat, membuat Sakura seperti tertekan pada sebuah tembok yang kokoh.
"Emn mn mn mn!" Usaha Sakura untuk tetap berteriak sama sekali tak membuahkan hasil. Suara yang keluar hanya celotehan tak jelas.
"Sstt.. tenanglah sedikit. Jika kau tenang, semuanya akan berjalan lebih cepat" Pria misterius itu berbisik di telinga Sakura. Suaranya mampu membuat Sakura merinding.
'Astaga! Apa dia ingin membunuhku?' ' mata Sakura membelalak dengan apa yang dia fikirkan sendiri.
Sekresi hormon adrenalin yang mendadak meningkat membuat Sakura mendapatkan energi tambahan untuk meronta. Kedua kakinya menendang-nendang ke segala arah. Tangan Sakura pun mampu lolos dan menciba untuk menarik tanggan misterius yang menutup mulutnya.
Saat Sakura hampir menggapai tangan di depan mulutnya, tanpa dia duga usahanya meleset. Bukan tangan yang dia tarik, melainkan Sakura mencakar tangan pria itu. Perlahan bau khas darah mulai tercium.
"Ah, sudah aku bilang bukan, jangan macam-macam atau aku akan membuat kau semakin menderita" kemarahan dapat terdeteksi dari suara pria itu. Sakura dapat merasakan hembusan nafas yang memburu darinya.
Bagai terhipnotis, kalimat itu mampu membuat Sakura terdiam tak meronta.
"Gadis yang baik" Sakura dapat merasakan jika lelaki itu tersenyum.
Merasa sangat tidak berdaya air mata Sakura mulai tercucur.
"Jangan menangis" si lelaki misterius berkata saat dia mengangkat sakura. Entah mengapa nada suaranya berubah menjadi begitu gentel.
Sakura hanya pasrah saat lelaki itu membawanya semakin jauh memasuki ruangan.
"Sekarang" Sakura mendengar orang itu bicara kembali entah kepada siapa.
Tapi...
"Selamat ulang tahun Sakura!"
Seluruh ruangan berubah menjadi terang benerang. Banyak sekali orang yang tidak ia kenal berkumpul di sini sambil membawa sebuah kue ulang tahun.
Sakura semakin menangis saat tersadar jika ini semua hanya kejutan. Dia hanya dikerjai. Fakta itu membuat Sakura merasa malu, marah, sekaligus bahagia.
Tanpa sadar Sakura malah memeluk lebih erat pria yang tadi dia kira penjahat. Sakura menyembunyikan wajahnya di dada sang penjahat.
"Hey, sudah jangan menangis" pria itu tetawa dengan sikap Sakura. Seolah memberikan waktu si gadis untuk lebih tenag, pria itu mengelus rambut pink Sakura.
"Ayo semua, sambil menunggu Sakura kembali tenang, silahkan nikmati hidangannya" suasana hati Kushina yang telah membaik membuatnya menjadi sangat bersemangat kembali.
"Hm, Sakura bisakah kau lepaskan Kakashi sebentar? Kami harus melanjutkan shooting" Minato berkata kepada Sakura yang masih belum saja melepaskan Kakashi.
'Blush' Sakura melepaskan pelukannya dan meminta maaf pada Kakashi dan Minato.
"Maaf" malu dengan wajahnya yang memerah Sakura terus saja menunduk tanpa melihat ke arah siapa pun.
"Tidak apa-apa" Kakashi tersenyum dan melangkah pergi bersama Minato dan beberapa kru yang lain.
"Sakura, sepertinya kau suka dipeluk kakashi ya?" Ino bicara dengan nada yang menyebalka kepada Sakura.
"Ino! Jahat sekali kau ini!" Luapan kejengkelan Sakura timbul saat melihat Ino. Seketika ia mencubit kedua pipi sahabatnya dengan sekeras mungkin.
"Sakura maaf!"
TBC...
Okey, teman-teman menurut kalian, kalian lebih setuju klo kakashi pakek masker apa tidak di ff ini? Jawab via terserah deh, bbm boleh, review boleh. Terima kasih.
