Sebelumnya..

R-chan: memang membingungkan.. Authornya juga bingung nulisnya ini _ ahh iya, tapi udah dikasih sejumlah penjelasan di A/N ini. terimakasih sudah berkunjung dan mampir disini ^^

Guest: sudah kok, ini! terimakasih sudah berkunjung dan mampir! ^^

Karen: Umm.. Halo? Author balasnya pakai bahasa Indonesia aja ya? ._.

Iya, ini juga lagi mikirin kesitu. bagaimana menceritakan perbedaan mereka. karena jujur, buat ff ini nekat. persiapan ga ada, alur masih belum disusun, jadinya begini, cuma buat iseng-iseng sekalian nyalurin ide :'D Ditunggu aja di next chapternya, sementara lagi mencari cara..

Sisanya PM ^^


A/N:

'Kuroko' merujuk pada 'Kuroko Tetsuya'

'Tetsuya' merujuk pada 'Akashi Tetsuya'

Penggambaran karakter: keduanya punya sifat yang sama dan karakter yang sama. Bedanya 'Akashi Tetsuya' disini terlihat lebih kekanakan dari 'Kuroko Tetsuya', mungkin?

'...' Tetsuya berbicara

... Kuroko berbicara


"Kemana saja kau selama ini? Kenapa kau pergi dari rumah, Tetsuya?"

Yang ditanya mundur beberapa langkah, membuat jarak beberapa meter dari pemuda bersurai merah yang sedang memandangnya tajam.

Tetsuya bungkam. Bingung ingin menjawab apa.

"Pulang sekarang."

Itu—terdengar seperti perintah ditelinga Tetsuya.

Tetsuya memeluk bola basketnya, masih diam. Jujur, ia tidak suka nada bicara yang dilontarkan oleh orang dihadapannya ini, terlebih sepasang manik berbeda warna yang sedang memandangnya sinis. Sepertinya kakaknya yang satu ini sedang marah.

Tetsuya menggeleng pelan, "Tidak mau."–dan menjawab dengan pelan, tapi perkataannya cukup sampai ditelinga Akashi.

"jangan membuatku mengulang ucapanku, Tetsuya."

Akashi maju selangkah, Tetsuya mundur selangkah.

Akashi maju lagi, Tetsuya kembali mundur.

Terdengar helaan nafas berat dari mulut Akashi, "Kau membuatku marah, Tetsuya."

Akashi kembali melangkah- tidak, berlari—cukup cepat sampai membuat Tetsuya telat bereaksi dan tertangkap, bola ditangannya terlepas, menggelinding entah kemana. Akashi mencengkram lengan Tetsuya kasar.

Tetsuya memberontak- "Jangan menjadi anak nakal. Cukup turuti dan jawab pertanyaanku." – Akashi mencengkram tangan Tetsuya lebih kuat lagi.

"Ah!" Tetsuya mengaduh, "L-Lepas, Akashi-kun.."

"Jawab pertanyaanku, Kenapa kau pergi?"

Diam.

"Tetsuya." Akashi kembali memperkuat cengkramannya, "Jawab."

Tetsuya tetap diam, mengabaikan tangannya yang sudah memerah akibat cengkraman Akashi.

Sesungguhnya, ia tidak merasakan apa-apa. Mau Akashi meremas tangannya sampai hancur pun, ia tetap tidak merasakan apa-apa, mungkin? Tetsuya jadi ingin mencoba.

Tetsuya menundukkan kepalanya, menghela nafas- "Kalian.. berubah." - sambil berujar pelan.

"Apa maksudmu?" Mengerutkan keningnya, perlahan Akashi mulai mengendurkan cengkraman tangannya.

"Seharusnya aku yang tanya pada Akashi-kun. Apa maksud Akashi-kun dan yang lainnya memperlakukanku seperti ini."

"Hah?" kerutan didahi Akashi makin dalam, "Apa yang kau bicarakan? Tentu saja kami memperlakukanmu seperti adik kami—

"Tidak!" nada bicaranya ia tinggikan, sedikit membentak. Sepasang manik bulat biru muda menatap Akashi, sedikit mendongak akibat perbedaan tinggi badan. "Lebih tepatnya, kalian mempelakukanku seperti sesuatu yang akan pecah atau hancur bila tidak dijaga baik-baik. Kalian pikir aku selemah itu?!"

"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Akashi-kun. Tidak selemah yang kau pikirkan,"

Akashi membuka mulutnya—

"Jadi tinggalkan aku."

"Jangan pedulikan aku."

Tetsuya merasakan deja vu, sepertinya ia pernah melakukan hal yang sama pada seseorang, disana, didunianya yang asli.

Kemudian keduanya terdiam.

"Hahahahahahahahahaha..!" Akashi tertawa keras, cukup keras sampai membuat beberapa perhatian orang-orang disekitar sana tertuju pada mereka berdua.

Tetsuya terdiam, mengamati kakaknya yang sedang tertawa berlebihan seperti itu. Apakah ada yang salah dengan kata-katanya? Tetsuya rasa tidak.

Puas tertawa, Akashi menghela nafas, "Menarik." -Menghapus sedikit air mata yang ada diujung pelupuk matanya.

"Katakan, Tetsuya. bagaimana cara kau membuktikan kata-katamu itu?" raut wajah Akashi kembali datar seperti biasanya, "Kalahkan kami. Kalahkan kami berlima, kemudian aku akan mengakui kalau kau kuat."

Tetsuya menunjukan senyum tipisnya, 'Memang itu yang akan kulakukan, Akashi-kun.'

"Tapi aku tidak yakin, dengan gaya permainan basketmu yang seperti itu.. kurasa kau tidak akan mampu berdiri berhadapan dengan kami.

"Dengar, Tetsuya. Didunia ini kemenangan adalah segalanya. Pemenang diakui dan pecundang ditolak. Sampai saat ini aku tak pernah kehilangan apapun, dan tak akan pernah. Karena aku selalu menang, aku selalu benar.

"Tapi sebelum kau bisa berdiri melawan kami.." Akashi merogoh sesuatu didalam saku jas sekolahnya, memperlihatkan senyum anehnya. Tetsuya dapat melihat logam yang berkilau terkena pantulan sinar matahari senja. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi, mengarahkannya pada Tetsuya..

"!"

.

.

.

.

BRUK!

Tetsuya mencoba bangun. Nafasnya sedikit tersengal, "Ha.. ha.. ha.."

Ia memegangi kepalanya yang barusan membentur ubin kamar apartemen kecilnya, sedikit pusing. Barusaja ia terjatuh dari tempat tidurnya.

Hanya mimpi.

"Mimpi macam apa itu.."

Tetsuya melihat jam digital yang berada dimeja samping tempat tidurnya, waktu menunjukan pukul 06.15

Ini waktunya ia bangun.

Sedikit malas, Tetsuya bangkit, berdiri, meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit pegal. Kemudian merapikan tempat tidur kecilnya yang sedikit berantakan.

Ia masih terpikirkan oleh mimpi barusan.

Mimpi itu memang benar-benar pernah terjadi, waktu itu. Tapi untuk bagian akhirnya.. Tetsuya tak habis pikir.

'mungkin ini akibat semalam aku menonton film horror 'Kutukan Iblis Bergunting'

Tetsuya buru-buru mengambil handphonenya, mencari file berjudul 'Kutukan-Iblis-Bergunting-Horror-Movie' lalu menekan tombol 'delete'.

Selesai menghapus film berdurasi 02:30:21 tersebut, Tetsuya buru-buru melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

Hari ini hari pertamanya memasuki SMA barunya, Seirin High. Dan, tepat tiga bulan ia meninggalkan rumah.


From You to You

KnB milik Tadatoshi Fujimaki-sensei, desu.

~Cerita ini barulah milik saya~


Seirin High.

Terlihat keramaian siswa-siswa baru di depan sekolah. Banyak senior yang berteriak mempromosikan klub mereka dan membujuk para murid baru yang masuk kesekolah tersebut. Tahun ajaran baru barusaja dimulai.

"Apa kau mau main Shogi?"

"Kalau kau orang jepang mainlah baseball!"

"Berenang seru loh!"

"Basket! Klub basket! Bagaimana dengan bergabung di klub basket?"

"Koganei! Jangan menawarkan dengan cara begitu."

"Lalu sebaiknya bagaimana?"

"Anak-anak baru! Bergabunglah dengan Klub Basket! Karena klub basket membutuhkan bantuan sket dance!"

"Sudah cukup. Hentikan plesetanmu itu Izuki."

"Mitobe! Teriak yang kencang ya!" Koganei meneriaki seseorang yang bernama Mitobe di sampingnya.

"…". Kelihatannya Mitobe tetap diam. Karena memang itulah karakteristiknya.

"kau tidak akan melakukannya (berbicara), ya kan.."


Berterimakasih kepada hawa keberadaannya yang tipis, Tetsuya bisa berjalan melewati para senpai yang sedang gila promosi klub mereka tanpa diganggu.

Ia sibuk dengan buku kecil bersampul kuning ditangannya, sambil mencari keberadaan denah pendaftaran klub disekolah itu.

Setelah berjalan cukup lama sambil menyelip diantara kerumunan orang yang tidak menyadari dirinya, akhirnya langkah kakinya terhenti didepan papan mading yang berisi denah tempat-tempat pendaftaran klub, matanya sedikit menyipit mencari keberadaan tulisan 'Klub Basket', kemudian bibirnya tertarik keatas membentuk senyum tipis, Tetsuya menemukan apa yang ia cari.

Tetsuya hanya cukup berjalan lurus dari tempatnya berdiri, langkah kakinya membawanya ketempat pendaftaran klub. Banyak meja-meja yang tersusun rapi yang diatasnya terdapat tulisan klub yang mereka buka pendaftarannya.

Mendekati meja yang bertuliskan 'Klub Basket', Tetsuya dapat melihat dua orang senpainya—laki-laki dan perempuan yang sepertinya sedang bertengkar kecil, terlihat seperti sepasang kekasih di mata Tetsuya.

Ia langsung mengambil form pendaftaran dan mengisinya. Anehnya, senpainya masih tidak menyadari keberadaannya.

"Ano.." Tetsuya berusaha menarik perhatian, tapi tetap diabaikan.

Sedikit kesal juga. Jadi Tetsuya menaruh form yang sudah ia isi tepat didepan senpainya, kemudian pergi.

Setelah beberapa langkah menjauh, Tetsuya mendengar sedikit keributan dari meja yang barusaja ia tinggalkan. Terlihat beberapa orang yang sekarang sedang berkumpul disana. Mengabaikannya, Tetsuya terus melangkah menjauh.


"Yosh! Sepertinya semua anak kelas satu sudah disini!"

Aida Riko berujar semangat pada rombongan anak-anak yang sedang berbaris rapi dihadapannya, "Perkenalkan, aku pelatih klub basket pria, Aida Riko. Yoroshiku!"

"Eeeh?!"

"Bukannya yang disitu?"

Salah satu anak bertanya. Menunjuk pria tua yang sedang duduk mengamati mereka. "Dia guru pembimbing kita, Takeda-sensei." Aida menjawab. Yang benar saja pria tua renta itu menjadi pelatih klub basket pria, mau jadi apa klub ini?

"Serius?! Mana mungkin!"

Sepertinya anak kelas satu ini masih belum mempercayai kalau Aida Riko lah yang akan melatih mereka nanti.

Aida mengabaikannya, "Sekarang, setelah kalian mengenal Takeda-sensei..

"Lepas baju kalian!"

Semua diam. Kemudian..

"Eh..?"

"APAAAAAAA?!"

"KENAPAAAAA?!"

Aida tersenyum penuh kemenangan.

Setelah semua melepas atasan mereka sambil berbaris rapi, Aida berjalan sambil mengamati tubuh mereka satu-persatu.

"Kau sepertinya agak kesulitan dalam bergerak cepat ya? Kau sepertinya hanya bisa melompat kesamping lima puluh kali dalam dua puluh detik, kan? kalau mau main basket, kau harus bisa lebih baik lagi."

"Ha-Hai'."

"Tubuhmu terlalu kaku,"

"Kalau kau, tubuhmu harus sedikit lebih berisi."

Satu-persatu, Aida mengomentari tubuh yang ada dihadapannya dengan hanya melihat.

Kemudian ia mematung. Mengamati tubuh kekar dihadapannya, mulut Aida sedikit terbuka.

"Apa?"

Apa ini? Semua angkanya melewati batas. Ini bukan angka dari anak kelas satu SMA! Bahkan aku tidak bisa melihat potensinya. Ini pertama kalinya aku melihatnya, Bakat alami!

"Pelatih, mau sampai kapan kau melamun begitu?"

Suara Hyuuga berhasil mengembalikan Aida ke alam sadarnya.

"Ah, maaf. Selanjutnya adalah.. " Aida mencari daftar nama yang belum ia periksa di papan jalan miliknya.

"Kau sudah melihat semuanya. Kagami yang terakhir."

"Ah, benarkah? Eh.. apa Kuroko-kun ada disini?"

"Oh.. yang dari Teiko itu.."

Kalau ada orang sehebat itu seharusnya aku bisa langsung mengenali—

"Ano, permisi?" seseorang tiba-tiba muncul dan maju kehadapan Aida sambil mengacungkan tangannya,

Aida bersiap berteriak.

"Kuroko itu, Aku."

"AAAAAAAAA!"

"Apa? sejak kapan dia ada disana?!" Hyuuga yang baru menyadarinya ikut terkejut.

"Sudah dari tadi." Jawab orang yang mengaku Kuroko, polos.

Padahal ada didepan mata, tapi aku tidak menyadarinya.

Eh? tadi dia bilang namanya Kuroko? Apa maksudnya seperti.. tidak terlihat?!

"Kalau begitu berarti dia adalah anggota Kiseki no Sedai? Apa kau anggota tim inti?" Koganei bertanya.

"Eh? mana mungkin. Iya kan, Kuroko-kun?" Hyuuga mengkonfirmasi ke orangnya langsung.

"Aku ikut dalam pertandingan utama, kok."

"Tuh, kan?"

Satu detik..

Dua detik...

"Eh..?" Hyuuga dan Koganei memasang wajah bingung, "APAAA?!" dan langsung berubah menjadi raut tidak percaya.

Aida mengabaikannya, "L-lepas bajumu!"

"Hai'." Kuroko menurut, melepas kaos putih polosnya yang sedari tadi ia pakai.

Kemudian mata Aida Riko membulat. Tidak, bukan hanya Aida, tapi semua yang ada di gym.

Tubuh anak dihadapannya ini lemah dan dibawah rata-rata dlihat dari statistiknya. Padahal ia sudah diujung masa pertumbuhannya.

Tapi bukan ini yang membuatnya kaget.

Diatas kulit putih pucatnya, berhias jahitan panjang disana-sini, ada juga memar kebiru-biruan, dan juga sejumlah luka yang belum sempurna kering.

.

.

"Ada apa?" Tetsuya bertanya dengan wajah polosnya, memerhatikan wajah para senpainya juga teman-temannya yang sedang memandangnya dengan wajah yang aneh. "Ada yang salah?"

Salah satu senpai berkacamata mendekatinya, kemudian tanpa sadar tangannya menyentuh salah satu memar ditubuhnya, "Hei, darimana kau dapatkan semua luka ini?"

Tetsuya diam, tidak bereaksi sama sekali. Normalnya, bila ada yang menyentuh luka yang masih basah ditubuhnya, seseorang akan bereaksi seperti mengerang kesakitan atau menepis kasar tangan orang yang menyentuhnya sambil memarahinya, bukan?

Tapi Tetsuya tidak. Ia hanya diam seolah tidak merasakan apa-apa,

"Oi, Hyuuga! Jangan sentuh, Baka! Itu pasti sakit!" Aida menepis kasar tangan Hyuuga dari tubuhnya.

Malah orang lain yang menggantikan reaksinya.

"Ma-maaf, apa aku menyakitimu?"

Tetsuya menggeleng.

"Kuroko.. Maaf kalau ini menyinggung. Bila aku boleh menebak, apakah kau mengalami penyiksaan oleh orang tuamu?" salah satu senpai dengan wajah seperti kucing bertanya pada Tetsuya.

"EH?! YANG BENAR KUROKO?!"

"Bukan! Kalian salah.."—mencoba mengkonfirmasi, "Aku tidak punya orang tua.."

Semua diam.

"Ini?" Kuroko mengusap salah satu jahitannya, "Beberapa bulan lalu, aku mengalami kecelakaan yang lumayan parah, ini bekasnya."

Tetsuya juga bingung, kenapa luka-lukanya ini tak kunjung kering dan menghilang.

Apakah tubuh ini mulai membusuk, tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Tetsuya khawatir, tubuhnya tidak cukup kuat sampai ia berhasil menyelesaikan misinya didunia ini.

"Separah itukah..?" Hyuuga bertanya.

"Umm.. mungkin? Katanya jantungku sempat berhenti berdetak, setelah itu aku koma selama sebulan." Tetsuya dengan entengnya menjawab.

Semua terdiam dengan raut wajah bersalah.

"Sudahlah, pelatih. Lebih baik lanjutkan." Tetsuya merasa risih dengan tatapan para senpai dan teman-temannya yang memandangnya iba dengan tatapan bersalahnya.

Tapi mereka masih diam. Mungkin bingung ingin mulai darimana, sedikit bersalah karena sudah bertanya hal yang tidak seharusnya ditanyakan.

Tetsuya merasakan sesuatu menyelimuti tubuh topless nya, sebuah jaket hitam.

Kepalanya mendongak, melihat pada siapa orang yang sudah memakaikannya.

"Ini.. K-kau bisa kedinginan." Itu—Kagami Taiga yang sedang memalingkan wajahnya kearah lain.

Tetsuya menyentuh tangan Kagami yang masih memegang pundaknya, sambil tersenyum tipis "Terimakasih. Kagami-kun?"

"B-Bukan apa-apa!" Kagami buru-buru menyingkirkan tangannya dan menyembunyikannya.

Aida Riko menghela nafas, "Yosh! Ayo kita lanjutkan. Dan maafkan kelancangan kami, Kuroko, yang sudah mengingatkanmu—

"Tidak apa-apa, Pelatih." Tetsuya menyela, "Dan.. kalau bisa, bisakah kalian memanggilku Tetsuya saja?"

.

.

.

'Ne, Kuroko.. menurutmu, berapa lama lagi tubuh ini bisa bertahan?'

Sepertinya mulai membusuk.. Entahlah aku juga tidak tau.

Waktumu disana sangat berharga, pergunakan waktumu disana dengan baik, Tetsuya.

'Tentu saja.'


Chapter 2: Kuroko itu Aku - END