disc: knb (c) fujimaki tadatoshi. no profit gained, no copyright infringement intended

warn: ini AU dan err masih alay?


[ time machine] –scifi

.

.

Dari semua hal absurd yang bisa saja terjadi di dunia ini, Izuki tidak pernah menyangka bahwa seseorang yang jatuh dari langit (jatuh dari langit, Izuki berani sumpah demi nama apapun yang ada di dunia ini) dan melubangi atap kamarnya. Hal berikutnya yang Izuki tahu adalah orang itu sudah berada tepat di atasnya, menindihnya—hari itu adalah hari dimana Izuki pertama kali menyesal karena memilih bermalas-malasan di tempat tidur dibanding membantu Aya dan Mai membuat kue.

"HNGGG!"

"Whooops! Maaf, maafkan aku!"

Orang yang jatuh dari langit itu tidak memiliki potongan malaikat sama sekali (yeah, sekilas pikiran naif bahwa orang itu adalah malaikat yang sayapnya patah sempat menghampiri benak Izuki saat itu—"Oh, demi Tuhan, aku bodoh sekali.") dan lebih cocok disebut orang eksentrik dengan pakaian yang betul-betul tidak cocok dengan udara hari ini. Orang bodoh mana lagi yang mengenakan mantel bulu di pertengahan Agustus yang panas menyengat? Izuki sudah tidak bisa membedakan lagi siapa yang gila, dirinya atau orang itu.

"Maafkan aku, pasti berat ya?" Berat sekali, pikir Izuki, untung saja aku bukan Kuroko Tetsuya atau aku akan gepeng sekarang. "Wow. Atapmu berlubang."

"Kaupikir bagaimana kaubisa masuk, hah?" Izuki tak bisa menahan geram yang perlahan merambat menuju puncak kepalanya, sambil berpikir untuk berhenti bergaul dengan Hyuuga untuk sementara waktu. "Dan hei, bagaimana kau bisa jatuh dari langit dan melubangi atapku tanpa mati?"

Orang misterius itu adalah pemuda berambut hitam kehijauan dengan senyuman yang lebar—tunggu, senyuman ini rasanya pernah dilihat Izuki, tapi dimana? Ia lebih tinggi sekitar tujuh senti dari Izuki, terbukti ketika ia berdiri, dan jika diperhatikan lekat-lekat, pemuda itu adalah orang yang menarik.

Izuki belum bisa menyimpulkan apakah pemikirannya semenarik penampilannya atau tidak.

"Kurasa aku telah bersikap kasar karena melubangi atapmu tanpa memperkenalkan namaku terlebih dahulu, hm?" Izuki yakin akal sehat nun jauh di sana pasti menjerit karena bagaimanapun juga tidak akan ada yang mau atapnya tiba-tiba dilubangi baik oleh kenalan maupun orang asing. "Namaku Moriyama Yoshitaka. Salam kenal."

Ia menyodorkan tangan kanan yang ditatap Izuki dengan bingung.

"Handshake?" Moriyama mengangkat alis.

"Aku yakin kau tidak melubangi atap seseorang hanya untuk handshake."

"Persisten," gumam Moriyama (namun tetap terdengar, dan bagaimana caranya mempertahankan senyum lebar sambil menggumam itu jauh di luar tingkat kognisi Izuki) kemudian meraih tangan Izuki dengan inisiatifnya sendiri. "Oke, jadi kau boleh memanggilku apapun, Mori, Yoshi, Yo-chan—asalkan jangan Alpaca atau Cassanova, dua nama itu sangat tidak cocok untukku."

Alpaca! Cassanova! Demi Bumi dan segala macam isinya, Izuki merasa otaknya sudah hilang.

"Namaku Izuki Shun, dan senang bertemu denganmu."

"Sekarang tanggal berapa?" Pertanyaan aneh lagi—walaupun Izuki bisa memaklumi pertanyaan yang satu ini, ayolah, ia adalah pemuda yang memakai mantel bulu di musim panas.

"17 Agustus."

"Tahun?"

"2013." Izuki mengernyitkan alis. "Kautahu, umat manusia sudah menciptakan penemuan bermanfaat yang diberi nama kalender, kaubisa mengeceknya kalau kau mau."

Moriyama menghela napas.

"Astaga, aku terpental cukup jauh," ia mengeluh, lalu mengecek pinggangnya, menyelipkan tangan di balik mantel dan mengeluarkan sebuah ponsel—ponsel?—dari sana. "ASTAGA, PANTAS SAJA. APA YANG TERJADI DENGANMU, MY DARLING."

Izuki bergidik dan ketika ia mulai memperhatikan, ponsel-tapi-bukan-ponsel yang dipegang Moriyama betul-betul bukan ponsel. Ia tidak memiliki tombol-tombol atau layar sentuh seperti ponsel pada umumnya, namun hanya sebuah bidang yang tampaknya seperti pembaca sidik jari serta monitor kecil. Di bagian sampingnya terdapat sebuah tombol misterius berwarna merah—Izuki cukup membaca banyak komik bahwa tombol merah memiliki banyak sekali arti.

"Shun-chan, sebetulnya aku tak mau mengatakan ini, tapi karena My Darling rusak ..." demi kappa dan mentimun kesayangannya, Shun-chan? "... bisakah aku tinggal sejenak di rumahmu sampai aku bisa memperbaiki My Darling? Aku tidak akan merepotkan, aku hanya makan tiga kali sehari—"

"Whoa, whoa, tunggu!" Izuki ingin sekali menjejalkan etika bertamu ke kepala Moriyama kali ini. "Kau melubangi atapku dan sekarang memohon untuk tinggal di rumahmu, apa kau gila? Kau alien yang jatuh dari Neptunus, ya?"

Senyum lebar itu kini semakin mencurigakan.

"Setidaknya lebih baik daripada mereka," Moriyama berkata setengah berbisik. "Aku penjelajah waktu."


Moriyama akhirnya tinggal untuk membetulkan atap kamar Izuki juga membetulkan My Darling-nya. Izuki tidak pernah mendapatkan penjelasan yang jelas tentang apa sebetulnya My Darling, tapi ia bisa menyimpulkan bahwa benda itu adalah semacam mesin waktu. Moriyama memberikan penjelasan selama satu jam penuh bagaimana cara kerja My Darling, meskipun tidak semuanya bisa diresap otak Izuki. Ia terlihat seperti anak kecil yang antusias ketika Izuki menanyakannya soal perangkat My Darling, perjalanan waktu, ruang dan dimensi, namun sungguh Izuki menanyakan hal itu hanya untuk membuktikan bahwa orang ini bukan orang gila dengan delusinya yang liar—bukan untuk mendapatkan kuliah sains gratis.

"Kautahu Cleopatra, Ratu Mesir?" Moriyama bertanya sambil mengencangkan mur My Darling-nya dengan obeng. "Jangan bilang siapa-siapa, tapi dia punya tanda tanganku. Oh ya, dan aku sempat berlibur di atas Titanic, untung saja My Darling melemparku ke Istana Versailles sebelum kapal itu menabrak gunung es—"

"Tunggu," Izuki sudah tidak bisa lagi mengelaborasi informasi dalam otaknya. "My Darling-mu itu punya pemikiran sendiri atau bagaimana?"

"Apakah kau sudah mengenal istilah software?"

Software, ya, ya, kau bodoh sekali, Izuki Shun.

"Tentu saja My Darling-ku ini bukan hanya sekadar alat tanpa sistem operasi, dia juga punya software pembantu seperti radar, dan ia juga menyimpan data-data sejarah dunia. Keren sekali, eh? Aku menyelesaikan My Darling ketika umurku 13 tahun—well, itu sangat memalukan—dan aku sangat bangga padanya."

"Hm ... hm ..." Izuki tidak akan heran lagi jika suatu hari Moriyama menikahi My Darling-nya. "Lalu kenapa kau memutuskan untuk menjadi penjelajah waktu? Kau—sama sepertiku kan, manusia biasa?"

Senyum lebar itu lagi.

"Mencari belahan jiwa."


endnote: waaah jadi mirip doctor who #lalau