Judul: Why Zitao Really Hates Kris Wu?

Tokoh: Huang Zitao, Wu Yifan / Kris Wu, Huang Sehun, Lu Han, Kim Jongin, Park Chanyeol

Kata Pengantar: 1. Terinspirasi dari novel I Hate Rich Men

2. Genderswitch

3. Typo is still alive

4. Selamat membaca

Jongin segera mengantarkan Kris dan Zitao ke kamar tempat ia dan Sehun berbagi kamar, dan Sehun memang ada di sana. Namun pemandangan Sehun yang sedang menindih dan mencium Lu Han tentu saja bukan sambutan yang diharapkan oleh Kris dan Zitao. "HUANG SEHUN!" pekik Zitao nyaring, melupakan tubuhnya yang masih sedikit demam.

Sehun dan Lu Han yang mendengar pekikan nyaring Zitao, segera melepaskan tautan bibir mereka dan membenarkan posisi mereka. Dan dengan emosi, Zitao menghampiri Sehun lalu menarik telinga Sehun, sampai-sampai Sehun meringis kesakitan.

"YA! Lepaskan!" pinta Sehun namun tak Zitao lepaskan, ia malah semakin menarik telinga Sehun dan berkata, "sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan hah?"

"Aku hanya mencium Lu Han. Lepaskan!"

"Hanya mencium kamu bilang? Jika tidak aku hentikan mungkin saja kalian sudah melakukan lebih dari sekedar berciuman, " marah Zitao.

"Aku sudah dewasa, aku tau batasanku! Aku bilang lepaskan!" kata Sehun yang akhirnya berhasil melepaskan diri dari jeweran Zitao.

Zitao menatap Sehun tak percaya, yang entah diartikan Sehun sebagai apa, namun perkataan Sehun setelahnya membuat Zitao merasa gagal sebagai ibu untuk pertama kalinya, "dan jika memang aku terlanjur melakukannya bersama Lu Han barusan. Kamu tenang saja, aku akan..."

Plakk.

Zitao menampar Sehun dengan keras dan berteriak marah pada Sehun, "aku tak pernah mengajarimu untuk jadi lelaki berengsek seperti mereka!"

### Why Zitao Really Hates Kris Wu? ###

"Kemasi barang-barangmu dan kita pulang ke Seoul sekarang juga!" perintah Kris sambil menyeret Lu Han kembali ke kamarnya.

"Aku tidak mau!" balas Lu Han sambil terus berontak agar Kris melepaskan cengkraman tangannya.

Mendengar penolakan Lu Han, Kris menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya agar bisa menatap Lu Han. "Kamu sudah berbohong padaku dan sekarang kamu berani melawanku. Sebenarnya apa yang kamu inginkan?"

"Aku hanya ingin paman Wu percaya padaku," jawab Lu Han tegas.

"Bagaimana bisa kamu memintaku percaya jika di saat bersamaan kamu sedang berbohong padaku? Kamu bilang kamu akan pergi ke Jepang, tapi nyatanya ini bukan Jepang, Lu Han!"

Kris melanjutkan, "aku hanya mengkhawatirkanmu, aku tidak mau kamu dimanfaatkan dan disakiti seperti empat tahun lalu."

"Tapi Sehun bukan mereka, Sehun baik dan dia benar-benar mencintaiku!"

"Kamu juga berkata seperti itu saat aku mengingatkanmu soal mereka empat tahun lalu," timpal Kris, membuat Lu Han tak bisa lagi menahan emosinya dan berteriak, "berhenti bersikap seolah kamu adalah ayahku! Aku bisa mengurus diriku sendiri, tidak usah sok peduli padaku!"

Dan perkataan Lu Han berhasil membuat Kris kalah telak. Kris melepaskan cengkramannya dari tangan Lu Han dan mengusap wajahnya lelah, lalu pergi dari tempat itu. Meninggalkan Lu Han yang menangis sendirian karena mendengar ucapan terakhir Kris sebelum pergi, "kalau begitu, silakan pergi dari hidupku!"

Kris tak percaya kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya, sahabatnya yang sudah meninggal pasti sekarang sangat kecewa pada Kris karena memperlakukan Lu Han, anaknya, dengan begitu buruk. Tapi Kris masih merasa ia tak sepenuhnya bersalah, salahkan saja emosinya yang langsung terpancing karena apa yang ia lihat di kamar Sehun dan juga perkataan Lu Han barusan. Ia tak mau mengulang kesalahan yang sama seperti waktu itu.

Kris baru saja akan kembali ke kamarnya, ketika ia melihat Zitao yang nampak kacau berjalan menuju kolam batu di belakang hotel. Melupakan tujuan awalnya, Kris memutuskan untuk membuntuti Zitao yang berjalan ke arah kolam batu yang memiliki air terjun di dalamnya itu.

Zitao terlihat tertekan dan butuh teman bicara, sehingga Kris mendekati Zitao yang sedang menangis dan menyampirkan jaket tebal miliknya di atas tubuh Zitao yang sedang merunduk. "Wu Fan-ge?!" kata Zitao tak percaya ketika melihat Kris yang sedang berdiri di sampingnya.

Kris tak berkata apapun untuk membalas pertanyaan Zitao. Kris pikir Zitao belum puas menangis dan belum siap menceritakan masalahnya, sehingga ia hanya diam.

Merasa tidak ada respon dari Kris, Zitao mulai melanjutkan tangisannya. Dan setelah merasa sedikit lega, Zitao bangkit dan mengembalikan jaket tebal Kris lalu mulai beranjak pergi. "Kamu mau kemana?" tanya Kris ketika melihat Zitao yang akan kembali ke dalam hotel.

"Aku sudah puas menangis, jadi aku akan kembali ke kamarku," jawab Zitao seadanya.

Kris berjalan menghampiri Zitao dan menarik tangan Zitao lembut, "kamu memang sudah puas menangis namun belum merasa lega. Jadi ikutlah ke kamarku sebentar!"

"Tapi..."

"Aku tidak akan melakukan apapun padamu, kita hanya akan mengobrol seperti teman lama," timpal Kris cepat, karena ia sepertinya tau apa yang membuat Zitao khawatir. Zitao mengangguk dan memilih menurut saja, lagi pula Kris benar, ia masih belum siap bertemu dengan Lu Han.

Ketika sampai di kamarnya, Kris langsung mempersilakan Zitao duduk di kursi, sementara Kris duduk di atas tempat tidur yang berhadapan langsung dengan kursi yang diduduki oleh Zitao. "Sebelumnya, terima kasih, Wu Fan-ge!" kata Zitao tulus dan membuat Kris balas tersenyum.

"Bukan masalah besar!" balas Kris santai, "dan jika tak keberatan, kamu sudah boleh memulai ceritamu sekarang! Aku tau kamu butuh teman bicara."

Zitao menatap Kris sebentar lalu berkata, "aku berdebat dengan Sehun dan Sehun sepertinya sangat marah padaku. Ini pertama kalinya aku merasa sangat kecewa pada Sehun, jadinya aku begitu emosional sampai sampai aku menamparnya."

Zitao mengusap air matanya yang kembali mengalir dan melanjutkan, "tapi sepertinya di sini bukan hanya aku saja yang merasa sakit hati melihat kejadian tadi. Lu Han bagaimana?"

"Aku juga bertengkar dengan Lu Han dan ia juga marah padaku. Dan sekedar informasi, walaupun aku tidak menangis, aku juga tetap merasa sedih," timpal Kris dengan tatapan sendu mengingat perdebatannya dengan Lu Han tadi.

"Aku turut sedih, walaupun sisi jahatku ingin sekali mengucap syukur."

Kris tidak mengerti dengan reaksi Zitao yang seakan senang dengan pertengkarannya dengan Lu Han, apa jangan-jangan Zitao masih mencintainya dan ingin kembali padanya, pikir Kris. "Maksudmu apa?"

"Jika Lu Han marah pada Wu Fan-ge dan tidak mau memaafkan gege, mungkin Lu Han akan membatalkan pertunangannya dengan Wu Fan-ge. Dengan begitu aku masih memiliki kesempatan untuk mengambil Lu Han sebagai istri Sehun. Mungkin Sehun mau memaafkanku karena hal itu," jawab Zitao polos membuat Kris mengerutkan dahinya, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi serius Zitao dan mengingat pemikiran Kris sebelumnya. Terima kasih untuk kepolosan Zitao yang membuat Kris sedikit melupakan kegalauannya karena bertengkar dengan Lu Han tadi, "apa ini artinya kamu menolak permintaanku untuk menjauhkan Sehun dari Lu Han, Taozi?"

Zitao menganggukan kepalanya dan Kris semakin kencang tertawa. Kris sampai menangis karena tertawa, membuat Zitao kesal dan hampir melemparkan kursi yang ia duduki kepada Kris. "Sebenarnya, Lu Han bukan tunanganku," kata Kris membuat Zitao membulatkan matanya dan bertanya dengan keras, "APA? KENAPA?"

"Sebenarnya Lu Han adalah anak waliku, lebih tepatnya dia anak sahabat baikku yang meninggal karena kecelakaan pesawat lima tahun lalu," jawab Kris, "lagi pula kamu percaya saja, aku tidak mungkin suka pada gadis yang usianya baru setengah dari usiaku."

"Lalu kenapa Wu Fan-ge ingin sekali memisahkan Sehun dan Lu Han?"

Kris memikirkan jawaban yang pas untuk Zitao, bagaimanapun Zitao adalah keluarga Sehun kan, jadi ia harus menjaga perasaannya. "Itu sebenarnya yang membuat Lu Han marah padaku, aku menuduh Sehun hanya mau memanfaatkan Lu Han saja. Ditambah melihat kejadian tadi, membuatku semakin yakin kalau Sehun bukan anak baik-baik."

Zitao baru saja akan membela Sehun ketika Kris memberinya isyarat bahwa ia tidak mau ceritanya dipotong dan Zitao pun terpaksa menelan kembali pembelaannya.

"Aku tau, aku salah. Mungkin itu akibat sikapku yang terlalu overprotectiv pada Lu Han setelah Lu Han lulus SMP. Tapi aku melakukan itu karena aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Aku tidak mau Lu Han dimanfaatkan oleh teman dan pacarnya seperti saat ia SMP," lanjut Kris dan membuat Zitao mengangguk mengerti.

"Kamu sepertinya sudah merasa lebih baik dari tadi, Taozi," kata Wu Fan berusaha mengalihkan pembicaraan, ia merasa ada masalah lain yang harus ia selesaikan dengan Zitao, selain mengakui bahwa ia bukan tunangan Lu Han.

Zitao mengangguk lagi untuk mengiyakan, "Wu Fan-ge kan tau, ketika aku marah dan sedih, aku hanya perlu menyendiri sejenak dan berbicara dengan seseorang tentang masalahku. Setelah merasa tenang dan lega, baru aku bisa berpikir jernih untuk memikirkan tindakanku selanjutnya."

"Oya, sebenarnya aku juga mau mengakui sesuatu," kata Zitao ketika ia mengingat sesuatu yang memang harus ia luruskan, "Sehun bukan adikku, tapi dia adalah anakku!"

"APA?" teriak Kris dengan ekspresi yang berlebihan, "maaf, ekspresiku jelek sekali, maaf!"

Zitao mengerucutkan bibirnya dan berkata, "aku benci sekali ekspresi terkejutmu, Wu Fan-ge!"

"Tidak masalah, aku tau kamu sudah membenciku sejak lama."

"Baguslah kalau Wu Fan-ge sudah tau. Tapi sebagai ibu dari Sehun, aku mewakilinya untuk meminta maaf padamu atas kejadian tadi."

"Hemm," gumam Kris sambil nengangguk singkat.

Setelahnya tidak ada lagi percakapan antara Kris dan Zitao karena Kris malah sibuk melamun memikirkan sesuatu. Kris pikir, jika Sehun adalah anak Zitao dan ia seumuran dengan Lu Han, maka kemungkinan besar Sehun adalah anak dari salah satu pria yang memperkosa Zitao 18 tahun yang lalu.

Kris akhirnya kembali menatap Zitao yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan aneh. "Wu Fan-ge baik-baik saja?" tanya Zitao keheranan.

Namun Kris tak menjawab pertanyaan Zitao, karena beberapa detik setelah Zitao bertanya, Kris langsung memeluk Zitao dengan erat. Zitao tak mengerti apa alasan Kris memeluknya? Apa lagi, Kris memeluknya sambil menggumamkan banyak kata maaf, bahkan menangis.

Setelah selama beberapa saat mencoba mencerna maksud pelukan Kris, akhirnya Zitao mengerti arti pelukan Kris, pelukan yang membuat Zitao serasa ditarik ke masa lalu. Entah kenapa, keinginan Zitao untuk menangis seperti anak kecil dan meluapkan semua rasa di hatinya pada Kris atau yang lebih sering ia panggil Wu Fan-ge itu kembali muncul, padahal sudah 18 tahun Zitao mengubur keinginanya tersebut.

Dan akhirnya Zitao pun menyerah, ia akhirnya ikut menangis bersama Kris dan merengek seperti anak kecil seperti keinginannya. "Wu Fan-ge. Wu Fan-ge, kenapa kamu meninggalkanku?" tanya Zitao pelan, "saat itu aku tidak tau harus bagaimana, kenapa Wu Fan-ge meninggalkanku?"

Inilah kesalahan Kris yang sesungguhnya pada Zitao. 18 tahun lalu, Kris terlalu sibuk membalaskan dendamnya pada Liu dan teman-temannya, sehingga ia abai pada Zitao yang lebih membutuhkannya. Saat itu dipikiran Kris hanya satu, ia harus menghancurkan mereka yang sudah menghancurkan hidupnya karena telah memperkosa kekasihnya di depan matanya sendiri. Jadi jangan pikir, Kris tak melakukan apapun saat itu.

Walaupun Kris akui saat Zitao diperkosa ia tak melakukan apapun. Tapi jangan terburu-buru menyalahkan Kris, karena saat itu Kris memang benar-benar tak bisa menolong Zitao, karena sebelum Kris sadar dari efek obat tidurnya, Liu ternyata menyuntikan cairan sedatif yang membuat tubuh Kris lumpuh untuk sementara waktu. Membuatnya hanya bisa diam membeku melihat hidup orang yang dicintainya hancur begitu saja.

Kris pikir, mungkin Zitao bisa mengerti alasan mengapa Kris tak menolongnya saat pemerkosaan itu terjadi. Namun Zitao pasti tak akan memaafkan Kris yang meninggalkannya setelah itu. Karena Kris tau, Zitao benci sikap Kris yang seolah menolongnya, namun nyatanya Kris juga lah yang menjatuhkan dan menghancurkannya.

Karena itu saat Zitao diusir oleh orang tuanya, Zitao tak meminta pertolongan darinya, tapi justru memilih untuk berlari jauh dari Kris. Bahkan Zitao tak meninggalkan jejak untuk Kris mengejarnya. Tapi sekarang, Zitao berada dalam pelukannya, apa ini arti dari datangnya kesempatan kedua untuk Kris?

Tangisan Zitao sudah tak terdengar lagi, sekarang ia sudah tertidur karena terlalu lelah menangis. Namun Kris percaya, semua akan indah pada waktunya, jadi Zitao pasti akan bahagia setelah masalah ini berlalu. Dengan lembut Kris membenarkan letak selimut Zitao dan mengecup kening Zitao sambil berkata, "selamat malam, Taozi!"

### Why Zitao Really Hates Kris Wu? ###

Keesokan paginya, Zitao terbangun sendirian di kamar hotel milik Kris, karena Kris yang seharusnya tidur di kursi sudah menghilang dari tempatnya. Ini seperti de javu, pikir Zitao, Kris meninggalkannya lagi seperti waktu itu.

Namun saat Zitao hendak turun dari atas tempat tidur, ia menginjak sesuatu yang terasa tak seperti lantai, sesuatu itu begitu empuk dan lembut seperti selimut, tapi anehnya sesuatu yang diinjak Zitao itu bisa berteriak. Dan ketika Zitao melihat ke bawah, "Wu Fan-ge!"

"Ya ampun, Taozi, jangan teriak dan berhenti menginjak perutku!" balas Kris sambil mengeratkan balutan selimut tebal yang ia ambil paksa dari Chanyeol yang tadinya ingin menumpang tidur di kamar Kris tadi malam.

"Maaf!" timpal Zitao yang langsung turun dari sisi lain tempat tidurnya dan berjongkok di dekat Kris, lalu menggoyang-goyangkan tubuhnya, agar Kris cepat bangun.

Karena merasa Zitao tak akan menyerah, Kris pun tiba-tiba bangkit dari tidurnya, dan membuat Zitao terkejut, sehingga Zitao menabrak kursi di belakangnya.

"Ya ampun!" pekik Zitao heboh dan membuat Wu Fan benar-benar terbangun dan langsung bertanya, "are you okay?"

"Ini sakit! Tapi, ahh, sudahlah, tidak apa-apa! Kalau Wu Fan-ge mau tidur lagi naiklah ke atas, aku mau kembali ke kamarku!"

"Mau pergi sekarang?"

Zitao mengangguk, lalu bertanya, "kenapa? Wu Fan-ge masih mau aku temani?"

"Sebenarnya mau, tapi sebaiknya kamu selesaikan dulu masalahmu dengan Sehun!"

"Wu Fan-ge juga harus menyelesaikan masalah gege dengan Lu Han!"

"Hemm, segera," gumam Kris pelan.

Setelah berpamitan, Zitao pun meninggalkan kamar Kris dan kembali ke kamarnya, dan saat ia membuka pintu kamarnya bersama Lu Han, ia langsung disambut Sehun yang memeluknya sambil menangis. "Mama! Maafkan aku!" kata Sehun lirih.

Zitao sebenarnya kaget, namun melihat Sehun yang sepertinya sudah kembali menjadi Sehun yang biasanya membuat Zitao lega. Zitao pun tersenyum dan menepuk pundak Sehun, lalu berkata, "jangan menangis! Sehunku yang kuat tidak boleh cengeng seperti ini."

Mendengar Zitao yang berkata demikian, Sehun malah menangis semakin kencang, membuat Jongin dan Lu Han yang tertidur di ruangan yang sama langsung terbangun. "Kamu kenapa, Hun? Ya ampun, noona!" pekik Jongin heboh ketika melihat Zitao.

Sedangkan Lu Han, ia hanya menatap Zitao sambil menangis, membuat Zitao terpaksa melepaskan pelukan Sehun dan beralih memeluk Lu Han. "Maaf! Maafkan aku, bibi!"

"Jangan menangis! Aku marah bukan karena aku benci pada kalian, aku hanya tidak mau kalian berdua berakhir seperti aku. Kita lupakan saja masalah kemarin, ok?" tawar Zitao dan dibalas Lu Han dengan anggukan kepala.

"Lihat! Gara-gara aku kalian jadi layu begini!" komentar Zitao ketika melihat mata ketiga remaja di depannya jadi memiliki kantung mata seperti dirinya, "uhh, aku jadi merasa bersalah! Padahal harusnya kalian bisa tidur nyenyak tadi malam."

"Bagaimana aku bisa tidur nyenyak, jika kamu menghilang secara tiba-tiba seperti kemarin," gerutu Sehun pada ibunya, "jika kamu marah padaku, kamu boleh memukulku, menjewerku atau memakiku berengsek seperti kemarin, tapi jangan pergi tanpa pamit!"

"Baik!" balas Zitao sambil mengelus pipi Sehun yang kemarin ia tampar, "apa ini masih sakit?"

Sehun menggeleng," tidak, karena aku memang pantas mendapatkannya. Lagi pula hatimu pasti lebih sakit dari pada pipiku ini."

"Aku tidak apa-apa! Tapi jangan kamu lakukan lagi, aku tidak mau kamu menghancurkan masa depanmu."

"Iya, aku mengerti, mama!" kata Sehun sambil memeluk Zitao erat.

"Tunggu! Mama? Siapa yang dipanggil mama oleh Sehun?" tanya Jongin tiba-tiba.

Zitao melepaskan pelukannya pada Sehun dan merangkul putranya tersebut, "tentu saja aku."

"Jadi yang Sehun bilang soal noona yang adalah eomma-nya itu serius?"

"Kamu pikir aku bercanda?"

"Aku kira itu hanya akal-akalanmu saja supaya aku tidak dekat-dekat dengan Zitao noona?!"

Sehun memutar bola matanya malas, lalu berkata dengan nada menggoda, "sekarang kamu sudah tau kenyataannya kan?! Masih mau mendekati ibuku?"

Jongin baru saja akan menarik tangan Zitao dari pelukan Sehun dan memulai pembelaannya, ketika suara pintu terbuka dan suara Kris menginterupsinya, "jangan sentuh tangan Taozi!"

"Paman Wu?" / "Wu Fan-ge?" panggil Lu Han dan Zitao bersamaan pada Kris yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Sepertinya penyakit Kris yang suka bertingkah seenaknya belum hilang juga.

"Tadinya aku kemari untuk menyelesaikan masalahku dengan Lu Han, tapi ternyata ada hal lain yang harus aku selesaikan terlebih dahulu," kata Kris sambil menjentikan jarinya tanda memanggil Chanyeol. Dan yang Kris maksud hal lain yang harus ia selesaikan itu adalah mengeluarkan Jongin dari ruangan itu dengan cara sama yang membuat Kris bisa bertemu Zitao dua hari yang lalu, menyuruh Chanyeol menculiknya.

### Why Zitao Really Hates Kris Wu? ###

Tiga bulan kemudian...

Sehun sudah berangkat ke Amerika sejak satu minggu yang lalu, dan hal itu berhasil membuat Zitao jadi tidak semangat semingguan ini. Pekerjaan baru Zitao yang hampir selalu ia lakukan adalah merebahkan kepalanya di atas meja kerja sambil mengetukan jemarinya dia atas layar ponselnya, menunggu Sehun meneleponnya.

"Masih belum menelepon juga?" tanya Kris yang sejak pulang dari resort ski, jadi sering mampir ke butik milik Zitao di Myeongdong.

"Belum, ngomong-ngomong Wu Fan-ge tidak pergi kerja?"

"Tidak, aku bosan melihat Chanyeol di kantor," jawab Kris yang sedang asyik memperhatikan hasil desain milik Zitao yang sengaja digantung di ruangan mini milik Zitao ini.

"Begitu ya?" balas Zitao dengan nada lesu sambil kembali ke kegiatan sebelumnya, mengetuk-ngetuk layar ponselnya.

Drrttttdrrrrttt...

"Akhirnya~~" pekik Zitao lega dengan wajah cerah ketika akhirnya ponsel putih Zitao bergetar pelan dan menampilkan nama Sehun di layarnya.

"Sehunaaaaaa!" panggil Zitao manja karena ternyata Sehun tak hanya meneleponnya, namun melakukan video call padanya.

Dan kali ini, Sehun tak melakukan video call sendirian, tapi bersama Lu Han yang berada di sampingnya. "Selamat malam, bibi Huang!" sapa Lu Han hangat.

"Selamat malam apanya? Di Seoul bahkan belum tengah hari," gerutu Zitao kesal karena Lu Han mengingatkannya pada perbedaan waktu antara Seoul dan Washington yang cukup banyak. Entah kenapa, setiap Zitao ingat seberapa jauh jaraknya dengan Sehun sekarang, ia selalu ingin menangis.

"Jangan menangis! Aku tidak ada di sana untuk memelukmu! Jangan membuatku merasa menyesal karena berada di sini."

"Maafkan aku! Tapi kamu juga jangan bicara seperti itu. Kamu tidak lihat wajah Lu Han yang langsung sedih karena perkataanmu barusan?!" balas Zitao yang langsung ditimpali oleh Lu Han, "tidak apa-apa, bibi! Sehun memang begitu, dia terlalu khawatir padamu."

"Lu Han benar. Karena itu aku bermaksud membayar seorang bodyguard untuk menjagamu selama aku pergi," kata Sehun yang langsung ditimpali Kris yang tiba-tiba ikut masuk dalam video call mereka, "kamu tidak butuh bodyguard untuk menjaga ibumu, tapi babysitter!"

"Apa?" tanya Zitao kesal, sedangkan Sehun dan Lu Han tertawa terbahak-bahak.

"Tapi pertanyaannya sekarang adalah, memang ada babysitter yang mau menjaga bayi sebesar dia? Kalau kamu kenal orang itu, tolong kenalkan padaku!" kata Sehun sambil tertawa, tak mempedulikan wajah Zitao yang sudah tertekuk kesal.

"Sebenarnya sekarang ini, aku sedang tidak terlalu sibuk, jadi aku menawarkan diriku sendiri, bagaimana?" balas Kris cepat.

"Baiklah, kirimkan saja surat lamarannya padaku, biar aku lihat, apa kamu memenuhi kualifikasi atau tidak," goda Sehun pada mantan kekasih ibunya tersebut.

"Soal itu, jujur saja aku tidak tau caranya membuat surat lamaran kerja, jadi biarkan aku melamarnya dengan cara lain," kata Kris, "nah Taozi, coba angkat tangan kirimu!"

Tanpa curiga Zitao mengangkat tangan kirinya, Zitao pikir Kris ingin melakukan highfive dengan dirinya. Namun Zitao salah, karena sepertinya jempol dan jari telunjuk Kris mengapit sebuah benda yang beberapa saat kemudian sudah melingkari jari manis Zitao.

"OMO!" pekik Lu Han heboh ketika sadar walinya itu melamar Zitao dengan sebuah cincin emas putih yang sudah turun temurun di keluarga Wu.

"Sehunaaaa!" panggil Zitao pada Sehun sambil memperlihatkan jari manisnya, "aku harus bagaimana?"

Kris memutar bolanya malas dan berkata, "kamu tak harus menanyakannya pada Sehun kan?! Cukup mengatakan iya apa susahnya?! Kita harus menikah jauh lebih dulu dari Sehun dan Lu Han! Kamu mau punya anak yang seumuran dengan cucumu nanti?"

Sehun yang dari tadi diam akhirnya ikut berkomentar juga, "jadi selama ini, selain Jongin, kamu juga menganggapku saingan, walaupun dalam konteks berbeda?"

"Yaa, begitulah."

Sehun memutar bola matanya malas, namun dia malah mengatakan hal yang berhasil membuat Kris melocat kegirangan, "sepertinya mulai dari hari ini kita akan kurang tidur, Lu. Bukannya menyiapkan pesta pernikahan sangat merepotkan?"

Lu Han mengangguk membenarkan sambil tersenyum gembira. "Baiklah, kita akhiri saja video call-nya, sepertinya calon suamimu ingin bicara empat mata denganmu. Bye!" tutup Sehun sambil melambaikan tangannya bersama Lu Han.

Setelah video call itu berakhir, Kris segera menghentikan lompatannya dan menatap Zitao dengan tatapan meminta jawaban, "bagaimana? Jawabannya pasti 'iya' kan?!" tanya Kris yang ternyata dibalas Zitao dengan anggukan kepala, membuat Kris makin bahagia.

Kris baru saja akan memeluk Zitao ketika secara bersamaan Jongin membuka pintu ruang kerja mini milik Zitao. "Heh? Ternyata paman belum lelah juga menggoda noona-ku?" tanya Jongin sengit kepada saingannya untuk mendapatkan Zitao, Kris.

Untuk pertama kalinya Kris tak membalas ucapan Jongin dengan ketus, ia malah mendekati Jongin sambil tersenyum dengan tangan kanan mengangkat ke atas. "Karena aku sedang senang, aku tidak mau bertengkar denganmu, ayo highfive denganku!"

"Hah? Dasar paman aneh! Tapi tunggu, paman senang kenapa?" tanya Jongin sambil mengangkat tangannya untuk ber-highfive dengan Kris.

"Aku sudah melamar Zitao dan kami akan segera menikah! Highfive!" jawab Kris sambil menepukan telapak tangannya pada milik Jongin. Dan membuat Jongin langsung menatap Zitao yang sedang menunjukan cengiran canggung dan tangan kirinya, dimana cincin dari Kris sudah melingkar di sana.

Jongin lalu mengalihkan pandangannya pada telapak tangannya yang tadi ber-highfive dengan Kris. Ternyata highfive barusan adalah tanda bahwa Jongin harus menerima pahitnya patah hati. Jongin butuh eomma-nya sekarang, sehingga tanpa pamit, Jongin langsung berlari keluar dari ruangan Zitao sambil berteriak, "EOMMA!"

### END ###

Christal Alice: Terima kasih review-nya =))

fallforhaehyuk: Terima kasih review-nya. Mari lempar Kris! Dan FF-nya sudah di-update dan tamat.

Peachzt: Terima kasih review-nya. Aku juga sebenernya ga tega, tapi ini demi kepentingan cerita.

zoldyk: Terima kasih review-nya. And I really love your review. Hhe.

Nia: Terima kasih review-nya. Dan salam kenal juga.

exindira: Terima kasih review-nya. Syukurlah kalau konfliknya udah berasa #fiuhhhhh #lega

zakurafrezee: Terima kasih review-nya. Iya nih, KrisHun lagi kompakan menyakiti Zitao #hukks

frea-chan exotic shipper: Terima kasih review-nya

Heyitsmezifan: Terima kasih review-nya. Gimana, suka kan sama endingnya? Hhe

Michelle kim: Terima kasih review-nya. Biar Jongin jadi urusan Kris, soal Kyungsoo, biar Jongin menemukannya dengan caranya sendiri #eaaaaa

orang: Terima kasih review-nya. Maaf ga bisa minggu sore update-nya. Hhe

harimau. lawas: Terima kasih review-nya. Semoga suka endingnya, soalnya aku pecinta happy ending.

awlia: Terima kasih review-nya. Happy ending nih! Semoga suka, sudah cukup aku menyiksa Zitao di FF ini.

Peach RH: Terima kasih review-nya. Dan mari kita buang Wupan!

KissKris: Terima kasih review-nya. Tapi jangan cabik aku *0*

zhe: Terima kasih review-nya. Yup, salah satu dari teman kuliah Wupan

kyung. kyungie: Terima kasih review-nya. Ayo cekek Wupan!

dia. huang91: Terima kasih review-nya. Aduh, saking keselnya CAPSLOCK-nya macet. Maafkan aku CAPSLOCK!

Akusukaff: Terima kasih review-nya. Sudah dilanjut, semoga suka.

Nasumichan Uharu: Terima kasih review-nya. Kenapa harus minta maaf, malah aku berterima kasih karena kamu sudah mau review, fav. dan follow.

dewicloudsddangko: Terima kasih review-nya. Di-update sesuai jadwal kan?! Ada yang sadar ga sih aku update setiap dua hari sekali?! Hhe.

Reezuu Kim: Terima kasih review-nya. Sudah di-update dan semoga suka dengan ending-nya.

Jin Ki Tao: Terima kasih review-nya. Tapi semua indah pada waktunya kan? Hhe.

jettaome: Terima kasih review-nya. Apapun buat Jongin kecuali Zitao. Dan apapun buat kamu supaya matiin CAPSLOCK-nya, kasian CAPSLOCK-nya jadi korban kemarahan xD

indahtara14: Terima kasih review-nya. FF-nya sudah tamat. Emang pendek banget ya?

Njitao: Terima kasih review-nya. Iya ihh langsung marah-marah aja, itu CAPSLOCK-nya kasian

Huang Mir: Terima kasih review-nya. Nah, Jongin udah tau

dragonpeach: Terima kasih review-nya. Iya, Kris bohong -_-' ga jadi p*** kok

Guest: Terima kasih review-nya. Aduh aduh CAPSLOCK-nya.

Akhirnya FF-nya tamat juga, semoga teman-teman suka akhir ceritanya. Dan aku benar-benar berterima kasih kepada teman-teman yang sudah membaca, mem-fav., mem-follow FF ini. Lalu buat teman-teman yang me-review FF ini, seribu kata terima kasih buat kalian, dukungan dan komentar kalian benar-benar berarti buatku.

Sebelum pamit, aku pengen tanya sesuatu, dari begitu banyak KrisTao moment (yang real bukan FF), moment mana yang paling teman-teman suka dan moment mana yang paling temen-temen benci? Jawab ya...

Dan jangan lupa juga...

Review? Kritik dan saran?

See you next time :**