Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. We don't own anything except our stories.
Author : grettama
ID : 1770697
.
Names
.
"Teme, tolong kecapnya."
"Jangan jadi pemalas, Dobe."
"Hehe. Trims, Teme."
"Kau mengenakan celanaku lagi, Dobe?"
"Jangan asal tuduh, Teme!"
"Tapi benar 'kan, Usuratonkachi?"
"Er… dasar Brengsek. Benar sih. Masih ada di keranjang pakaian kotor."
"Kau harus janji untuk mencucinya, Dobe."
"Iya, iya, Teme! Bawel amat sih."
"Dobe, jangan monopoli bantalnya."
"Jangan dekat-dekat! Dasar Teme mesum!"
Haruno Sakura memandang kedua temannya yang masih asik berseteru di depan televisi dari balik majalahnya yang sekarang hanya bertengger di depan wajahnya tanpa dibaca. Mata hijaunya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti saat sedang menonton pertandingan bulu tangkis.
"Ganti salurannya, Dobe." —Sakura melirik ke kanan, ke arah Uchiha Sasuke.
"Ih, suka-suka aku dong mau nonton apa. Jangan egois, Teme." —Sakura ganti melirik ke kiri, ke arah Uzumaki Naruto.
"Pantas saja kau tetap bodoh kalau tontonanmu begini, Usuratonkachi." —kembali ke kanan.
"Aku kan menonton ini untuk hiburan, Brengsek!" —kembali ke kiri.
Sakura masih tetap mengawasi dari balik majalahnya.
"Eh, Teme, menurutmu besok pagi enaknya kita sarapan apa?"
"Apapun asal tidak ramen, Dobe. Kau harus jaga kesehatan perutmu."
"Hm, kalau begitu kau yang masak saja deh, Teme."
Sakura mengangkat alisnya. Ia sudah mengenal kedua sahabatnya ini sejak SMP. Mereka berdua begitu sering bertengkar sampai membuat Sakura stres sampai ketika di hari kelulusan SMP ia mendapati mereka berdua berciuman di bawah pohon sakura, ia benar-benar mengira kalau itu fatamorgana. Tapi kenyataannya tidak. Kedua sahabatnya itu memang resmi berpacaran setelah lulus SMP. Sakura luar biasa bahagia dengan kabar itu, merasa bahwa mungkin hari-hari stresnya karena mendengar adu mulut mereka berdua telah berakhir, tapi dugaannya salah.
Bahkan sampai saat ini, ketika mereka bertiga sudah dewasa dan memiliki pekerjaan masing-masing dan Sasuke dan Naruto sudah tinggal satu atap, cekcok mulut di antara mereka berdua tidak juga dapat dihindarkan. Namun karena Sakura sudah terbiasa mendengar pertengkaran mereka selama kurang lebih lima belas tahun, ia sepertinya sudah kebal. Selama mereka tidak saling mendiamkan lebih dari tiga hari saja, maka tak ada yang perlu Sakura khawatirkan.
Tetapi, ada satu hal lain yang membuat Sakura penasaran.
"Dobe, di saluran tiga ada band favoritmu tuh."
"Wah iya! Kita nonton itu saja ya, Teme."
Itu yang membuat Sakura penasaran. Cara mereka memanggil satu sama lain.
Sakura mengernyit, memutuskan untuk meletakkan majalahnya daripada tangannya merasa pegal karena harus terus memeganginya meski tidak dibaca.
"Hei," panggil Sakura, membuat Sasuke dan Naruto menoleh bersamaan dari layar televisi, "apa kalian pernah memanggil satu sama lain dengan nama asli kalian alih-alih nama julukan?"
Selama beberapa saat, mereka berdua hanya diam dan menatap Sakura. Kemudian…
"Kau ngomong apa sih, Sakura!" seru Naruto seraya melempar bantalnya ke arah Sakura dengan salah tingkah sementara Sasuke berdehem dan berpaling, menyembunyikan sedikit semu merah di wajah pucatnya.
Menghindari bantal Naruto, Sakura menyeringai lebar. Tepat sasaran.
"Habis, daritadi kalian hanya mengeluarkan panggilan macam 'teme', 'dobe', 'usuratonkachi' atau 'brengsek' dengan begitu kasualnya. Dan aku sendiri tidak punya ingatan tentang kalian yang saling panggil dengan nama asli. Seingatku, sejak SMP pun kalian sudah saling bersumpah-serapah begitu. Apa susahnya memanggil dengan nama asli? Sasuke, dan Naruto. Kan lebih enak didengar…," dalih Sakura, masih menyeringai.
Naruto dan Sasuke buka mulut, hendak membantah, tapi tak ada suara yang keluar.
Sakura memutuskan untuk terus menggoda mereka. "Cobalah sekali saja. Panggil nama satu sama lain dengan benar."
Naruto dan Sasuke saling berpandangan.
"Naru—"
"Sasu—"
Mereka berujar berbarengan, tapi sebelum mereka bisa menyelesaikan memanggil nama satu sama lain, wajah mereka sudah berubah menjadi merah padam sekaligus, bahkan tanpa melewati fase merah jambu.
Naruto langsung membungkuk dan bergelung, menghindari tatapan Sasuke dan menyembunyikan wajahnya yang merah padam meskipun usahanya sia-sia karena sekarang telinga dan lehernya sudah merah juga.
Sasuke sendiri buru-buru berpaling, tak ingin memandang Naruto, sibuk berkonsentrasi pada titik tak kasat mata di atas televisi dan mengatur napasnya dengan harapan itu bisa membuat wajahnya kembali pucat alih-alih merah.
Sakura terbahak. "Oke, oke, maafkan aku. Aku hanya ingin tahu. Memberi orang terkasihnya panggilan sayang adalah sebuah kebebasan buat semua orang, tak terkecuali kalian. Bukan urusanku kalian mau memanggil satu sama lain dengan sebutan apa."
Sakura bangkit dari duduknya. "Aku pamit pulang. Kalian baik-baik ya. Sampai minggu depan," ujar Sakura, "Aku yang dapat giliran menraktir kalian minggu depan, jadi tenang saja," tambahnya seraya menutup pintu apartemen Naruto dan Sasuke di belakangnya, meninggalkan dua sejoli itu sendirian.
"Untung dia segera pulang," ucap Naruto seraya bangkit dari bergelungnya. Sasuke mengangguk menyetujui.
Sakura sendiri berjalan ringan meninggalkan kedua sahabatnya, sama sekali tak menyadari kalau dua pemuda yang ditinggalkannya sedang berkutat dengan libido masing-masing.
.
Naruto menyingkir dari Sasuke untuk memberi partnernya itu jarak. Mereka berdua berbaring berdampingan, terengah, bahkan sama sekali tidak merasa perlu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang terekspos.
"Kita harus berterimakasih pada Sakura," ujar Naruto.
Sasuke mengangguk. "Aku sama sekali tak menyangka mendengar namaku keluar dari mulutmu bisa berdampak sehebat ini."
Naruto terbahak. "Sama."
.
Thanks for reading!
Please review :)
