Empat figur itu kasak-kusuk tidak jelas. Duduk melingkar di pangkalan ojek kompleks Karasuno dengan wajah mencurigakan. Sesekali terdengar bisikan semacam 'jangan lupa bawa tali!' juga 'pengaman perlu? Kotak tisu?' dan bisikan-bisikan lain yang demi kemaslahatan bersama harus disensor karena bisa mengakibatkan fiksi ini naik rating jadi dewasa.
Tarik napas. Buang. Tariiiiik. Buaaaang.
"Anu—" Sosok pirang itu menginterupsi debat panas perkara strategi perang yang sedang dilakukan empat figur itu (lebih tepatnya tiga figur plus satu mayat hidup yang dipaksa berpartisipasi). Mereka semua terperajat.
"—Oh, Kei! Pagi yang indah! Gimana kabarmu? Masih bisulan?" Si jambul burung hantu membalikkan badannya, niat hati basa-basi tapi gagal dengan menyedihkan. Sosok pirang yang dipanggil Kei itu memijat dahinya pusing.
"Aku cuma mau kasih saran, kalau mau membicarakan orang sebaiknya jangan pas ada orangnya. Strategi kalian kebongkar semua," katanya. Lalu ngeloyor pergi tanpa mengacuhkan tiga wajah kaget yang terarah kepadanya.
Nggak usah sok terkejut begitu bisa kali! Kei ngedumel dalam hati. Memang penyakitnya trio sinting itu sedang kumat jadi mendramatisir keadaan merupakan hal yang wajib dilakukan. Kasihan Akaashi terjebak di tengah predator-predator alay itu cuma karena dia pacarnya Bokuto.
Pasalnya mereka memang betulan membicarakannya tadi. Lebih tepatnya membicarakan strategi kencan untuknya dan Neng Shoyo hari Minggu besok.
Ah ... kencan, ya?
Mengejar Matahari
.
.
[Chapter 4: Dia Milikku]
Haikyuu milik Haruichi Furudate, tidak ada keuntungan pribadi yang saya ambil dari menulis fiksi ini selain kesenangan dan hiburan semata. Judul chapter ini diambil dari lagu Yovie & Nuno berjudul serupa.
Kei menghela napas. Ia berjalan di bawah terik matahari, tangannya menjinjing kantong kresek berisi belanjaan sang bunda. Bungsu Tsukishima itu habis disuruh beli beberapa rempah ke warungnya Pak Takeda. Kei tidak bawa motor karena jaraknya juga tidak jauh, cuma berbeda gang dengan rumahnya, jadi lebih baik jalan kaki.
Pikirannya kembali mengawang. Memikirkan kencannya dengan Neng Shoyo lusa nanti. Sebenarnya dibilang kencan juga sepertinya bukan. Neng Shoyo hanya mengajaknya nonton film. Kei merasa dirinya kegeeran kalau menganggap Neng Shoyo mengajaknya kencan.
Eh, tapi Neng Shoyo bilangnya 'jalan', 'kan? Bolehlah berharap sedikit.
Pikirannya makin ruwet ketika mengingat kalau teman-temannya tahu perkara ini. Kei cukup kenyang dengan kegilaan mereka semua jadi ia sebisa mungkin ingin melindungi Neng Shoyo biar nggak kecipratan sial karena bergaul dengan trio sinting itu.
Kei sebenarnya tidak niat cerita ke siapa-siapa, tapi ketika Akaashi curiga karena kelakuannya jadi aneh (iya, Kei paling nggak bisa berlaku biasa saja kalau habis ketemu Neng Shoyo) dan menginterogasinya, akhirnya ketahuan kalau dia mau kencan dengan Neng Shoyo hari Minggu besok. Pemuda berambut pirang itu tenang-tenang saja tadinya, karena Akaashi itu bisa dipercaya.
Kesalahan terbesar Kei adalah melupakan kalau Akaashi dan Bokuto sudah jadian. Jadi, ya, sekali Akaashi cerita ke Bokuto, si jambul burung hantu itu langsung ember cerita ke dua teman sintingnya. Kei harus buat catatan mental buat mengingatkan diri sendiri supaya jangan pernah, sekalipun jangan pernah, menyimpan rahasia di Bokuto.
Kalau sudah begini, rasa gugupnya karena mau kencan dengan Neng Shoyo sudah tertutupi rasa khawatir trio sinting itu bakal menguntit dan bikin kencannya berantakan.
Kei mematut penampilannya di depan cermin, membetulkan bentuk kerah kemejanya, merapikan sisiran rambutnya (meski percuma karena dari lahir memang selalu acak-acakan). Kalau sebelumnya ia merasa lebih ke khawatir daripada gugup, sekarang rasa gugupnya kembali dengan intensitas berlipat-lipat. Ia sudah beberapa kali bolak-balik kamar mandi buat membuang hajat gara-gara perutnya mules.
Setelah bermenit-menit memandangi pantulan bayangannya di cermin, akhirnya Kei memutuskan kalau ia sudah kelihatan cukup pantas buat bersanding sama Neng Shoyo. Ia menghembuskan napas, meraih kunci motor lalu berangkat menuju kediaman Neng Shoyo.
Apa yang terjadi, terjadilah.
Setibanya di sana, Neng Shoyo tampak sudah menunggunya di depan gerbang dengan gaya khasnya. Kaos tanpa lengan, celana jeans dan sepatu sneakers putih. Mau berapa kali pun melihat Neng Shoyo berpenampilan seperti itu, Kei tidak akan pernah bosan. Dan tidak akan pernah terbiasa karena demi Tuhan tangan Neng Shoyo itu mulus sekali. Kaos tanpa lengan itu jadi ujian terbesar buat Kei.
"Kenapa, A, ngeliat sampai segitunya?" Neng Shoyo bertanya. Kei buru-buru kembali ke realita.
"Habisnya Neng Shoyo geulis pisan, Aa jadi terpana." Neng Shoyo tertawa kecil mendengarnya.
"Aa juga ganteng kok. Cocok pake kemeja itu."
Kei rasanya kepingin meledak di tempat. Neng Shoyo itu memang top sekali kalo urusannya menggoda iman Kei.
"N-Neng, udah yuk ah berangkat, nanti telat." Kei mengibarkan bendera putih, kalau dilanjutkan sesi gombal-menggombalnya bisa-bisa ia yang kalah lalu pingsan lagi.
Kei kecewa. Ke. Tje. Wa.
Dikiranya Neng Shoyo ngajak nonton film romantis atau film horor—yang mana pun nggak masalah, yang penting bisa modus sok terharu atau sok melindungi—eh ternyata nonton film superhero. Ia menangis dalam hati sambil memakan berondong jagungnya, terpuruk karena gagal modus. Neng Shoyo tidak memperhatikan karena asyik mengikuti jalan cerita.
Tapi kalau begini bisa membuat Neng Shoyo bahagia, Kei rela deh.
Akhirnya Kei berpasrah jiwa dan ikut menonton film itu. Lumayan seru sebetulnya, tapi ya mau sampai lebaran monyet pun enggak bisa cari momen pas buat modus kalau film yang ditonton isinya dua cowok berkostum spandex adu jotos (otaknya memang modus terus isinya). Namun baru beberapa menit ia fokus mengikuti film, Kei merasakan ada tangan yang menyenggol tangan kanannya.
Mak. MAAAAK.
Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Berhubung orang yang ada di sebelah kanannya itu Neng Shoyo, berarti ini tangan Neng Shoyo, 'kan? Iya, 'kan? IYA, 'KAN?!
Kei tidak berani melihat langsung.
Mama pernah bilang, kalau ada kesempatan, raih! Karena belum tentu kesempatan yang sama akan datang buat kedua kalinya.
Kei cuma berusaha berbakti kepada orang tua dengan menuruti petuahnya. Dengan semangat 45, ia mencoba menggenggam tangan itu. Tidak ada perlawanan. Kei mulai merasa perutnya mules lagi.
Beberapa detik berlalu, tapi masih tidak ada perlawanan dari tangan yang ia genggam. Kei menganggap itu sebagai lampu hijau. Kepala pirang itu menoleh ke samping, ke arah Neng Shoyo, memandangi wajahnya. Yang dipandangi sadar lalu menatapnya balik, mengulas senyum di bibir tipisnya.
(Kei sudah kepingin teriak-teriak seperti fujoshi melihat hint OTP.)
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Kei sama sekali tidak berminat memutus kontak matanya dengan Neng Shoyo. Ia membalas senyum Neng Shoyo dengan senyum yang (ia anggap) paling ganteng, sambil berdoa dalam hati semoga ia tidak terlihat seperti kuda kebelet kawin. Pemuda manis itu hanya tertawa kecil dan kembali fokus ke filmnya, tangannya memakan berondong jagung yang tadi terabaikan.
Kei cuma senyum-senyum melihatnya.
Eh, tunggu.
KALAU TANGAN NENG SHOYO DIPAKAI BUAT MAKAN BERONDONG, INI TANGAN SIAPA?!
Kikikan pelan di belakang punggungnya jadi jawaban. Kei langsung menoleh dengan beringas. Bisa ditebak, ada empat makhluk di jejeran bangku belakangnya. Satu kepala abu-abu dengan tinggi menjulang, satu kepala jambul burung hantu, satu kepala jigrak, dan satunya lagi manusia berwajah datar yang ekspresi wajahnya seperti kepingin mati.
Pantes tangannya segede papan penggilesan! Ternyata itu tangannya Lev. Kei bersumpah kalau ia terlahir lagi nanti, hal pertama yang akan ia lakukan adalah membunuh pemuda bermata kucing itu.
Kei menghela napas, kencannya hari ini akan lebih merepotkan dari yang ia kira.
Filmnya sudah selesai, Kei dan Neng Shoyo sedang berjalan keluar dari bioskop sambil membicarakan jalan ceritanya tadi. Begitu sudut matanya menangkap empat sosok yang ia kenal, Kei langsung mendorong Neng Shoyo buat keluar duluan.
"Duluan saja, Neng. Tunggu Aa di luar. Aa kebelet mau ke toilet,"katanya, menjawab wajah heran Neng Shoyo. Pemuda berambut jingga itu tidak terlihat curiga dan menurut saja.
Kei langsung menghampiri gerombolan pembuat ulah itu.
"Jadi," Lev langsung merinding mendengar nada bicara Kei, biarpun ia lebih tinggi bersenti-senti dari sosok pirang itu, tapi Kei punya aura menyeramkan kalau matanya sudah menyipit, "kalian ngapain di sini?"
"K-Kami cuma kepingin bantu biar kencanmu lancar, kok..." aku Lev. Kei memutar bola matanya.
"Yang ada kalian malah bakal bikin kencanku berantakan. Dan apa-apaan pula tadi? Ngapain kau nyelipin tanganmu ke sampingku?!"
"I-itu, tadinya aku mau mancing biar kamu megang tangan Neng Shoyo. Rencananya aku mau langsung narik tanganku begitu kau ngerasa ada yang nyentuh tanganmu, tapi ternyata Kei langsung nyamber tanganku."
Lagi masak nggak bisa bedain mana tangan gue mana tangan gebetan sendiri? Payah! Lev ngedumel dalam hati.
"Ya sudahlah, yang sudah kejadian biarkan kejadian. Yang penting sekarang kalian pulang."
"Tapi—"
"Pulang."
"Kei—"
"Pu-lang," Kei memberikan penekanan lebih di perintahnya. "Katanya temen? Dukung aku buat deketin Neng Shoyo, lah."
Bokuto buka mulut, "Tapi justru itu—"
"Nggak. Kalian nggak bisa bantu. Aku bisa kencan dengan benar jadi tidak perlu bantuan kalian kali ini."
Bokuto baru mau membuka mulut lagi ketika Akaashi menyikutnya pelan.
"Sudahlah, benar kata Kei. Kita harus pulang. Lagian kalian aku kasih tahu nggak pernah mau dengerin, sih."
"Tapi Akaashi—"
"Bokuto-san, pulang. Atau kita putus."
Mamam. Bokuto langsung berlutut memohon ampunan. Akhirnya mereka sepakat buat pulang. Kei bisa bernapas lega sekarang.
Begitu bisa memastikan kalau mereka benar-benar pulang, Kei langsung keluar menyusul Neng Shoyo. Sosok pendek itu tampak sedang duduk di salah satu kursi panjang sambil memainkan ponselnya.
"Neng." Kepala jingga itu mendongak, tersenyum.
"Oh, sudah, A?"
"Sudah. Yuk, mau ke mana habis ini?"
"Jalan-jalan aja, A. Jam makan siang masih agak lama."
Akhirnya mereka jalan-jalan tidak jelas di dalam mall. Melihat-lihat baju tanpa ada minat buat membeli, masuk ke toko buku dan cuma membaca sembarang buku yang sudah dibuka. Meski tidak jelas begitu, tapi Kei senang. Karena Neng Shoyo jadi lebih banyak bicara. Mereka membicarakan banyak hal, warna kesukaan Neng Shoyo, merek baju langganan Neng Shoyo, juga cerita-cerita soal kuliahnya.
Neng Shoyo mungkin tidak sadar, tapi Kei cuma separo mendengarkan karena ia terlalu fokus memandangi pemuda pendek itu. Memandangi gerak bibirnya, memandangi gerakan tangannya kalau menjelaskan, memandangi rambutnya yang mengembang seperti gula kapas, dan hal-hal lain yang tidak signifikan tapi selalu membuat Kei salah fokus.
Sesi jalan-jalan diakhiri ketika perut mereka mulai berdendang minta diisi. Sudah jam makan siang, Kei dan Neng Shoyo berbelok ke salah satu restoran cepat saji buat mengisi perut. Neng Shoyo menolak ketika mau ditraktir, katanya sudah cukup Kei tidak mau dibayar kalau mengantarnya pulang, ia tidak mau merepotkan lebih jauh.
Ah, Neng, padahal kalau buat Neng mah apa juga Aa kasih.
Setelah memesan dan membayar makanan masing-masing, mereka duduk di salah satu meja. Sengaja memilih yang dekat jendela biar bisa melihat pemandangan di luar, meski pemandangannya juga hanya jalan raya yang dipadati kendaraan.
Tidak banyak percakapan yang terjadi karena mereka berdua sama-sama kelaparan. Bahkan Kei yang biasanya salah fokus memandangi Neng Shoyo kali ini makan dengan khusuk. Keduanya asyik dengan makanan masing-masing.
"Hinata?"
Hingga akhirnya sebuah suara memecah kesunyian di antara mereka. Neng Shoyo menoleh, mendapati seorang pemuda berambut hitam kelimis berjalan menghampirinya. Pemuda itu lebih tinggi dari Neng Shoyo tapi sepertinya lebih pendek dari Kei. Tangannya membawa baki berisi makanan pesanannya.
"Kau ngapain di sini?" tanya sosok itu. Nada bicaranya bikin sebal, Kei tidak tahu kenapa. Fakta kalau ia berani mengganggu mereka saja sudah membuatnya kesal.
"Makan, lah. Matamu tidak bisa melihatnya?" jawab Neng Shoyo. Sepertinya Neng Shoyo juga sebal pada orang itu, nada bicaranya sama sekali berbeda dengan yang ia gunakan kalau ngobrol dengan Kei.
"Siapa ini?" tanya orang itu lagi. Kei mulai kesal karena orang itu banyak tanya, tapi juga bertekad buat mengintimidasi. Ia bangkit berdiri, ternyata benar ia lebih tinggi dari orang itu. Mata orang itu menyipit tidak suka.
"Tsukishima." Kei mengulurkan tangan buat basa-basi, siapa tahu bisa sekalian meremukkan tangan orang itu kalau ada kesempatan.
"Oh," orang itu menyimpan bakinya di meja mereka, sama sekali mengabaikan tangan Kei yang terulur. Kali ini mata Kei yang menyipit tidak suka.
"Aku Kageyama. Kalian tidak keberatan kan kalau aku bergabung?"
Wah, wah. Ini namanya deklarasi perang.
Halo! Maafkan update-nya sore banget karena sesungguhnya saya lagi agak hectic ngurus tugas akhir huhuhu
Sama saya mau libur update dulu seminggu, jadi minggu depan (Rabu, 31 Mei 2017) saya nggak bakal update karena di minggu itu saya ada UAS dan juga lagi ngebut nyelesein tugas akhir. Mohon pengertiannya /w\
Saya akan update lagi dua minggu dari sekarang. Terima kasih dan sampai jumpa di chapter berikutnya!
