Hajimemashite, Minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu

Disclaimer : Taito Kubo-Sensei

Warning : OOC, AU, Typo(s)

Pairing : IchiRuki

Rate : Teen


Trim'z ama semua iank uda nge'repiu


Aizawa Ayumu Oz Vessalius, So-chand cii Mio imutZ, ochibi4me, Meyrin Mikazuki, tsuki-kurosaki, Kurosaki Mitsuki, ojou-chan, Yanz Namiyukimi-chan, Aika Ray Kuroba, Nana Naa, Sayuukyo Akira Recievold, Kyu9, Chappy Ruru, sarsaraway20, Michi-chan Phantomhive626, aka yamada, nMz-icHiki Aoi, Yuki-ssme, SatsukiSodeNoMugetsu5, Minami Tsubaki, Jee-eugene, Just Ana.


LIFE IS LIKE A CINDERELLA

== Ruki ==

Chapter 4


Perlahan dibukanya mulut mungil miliknya dengan perlahan, kemudian Rukia mulai ambil bicara, "A—aku…"

"Ya?" desis Ichigo merasa tak sabar dengan jawaban Rukia.

"A—aku m…"

"Ah, sudahlah! Aku tahu kau akan mengatakan 'mau', kau tak kan bisa menolakku," jelas Ichigo tenang.

Di dalam lubuk hati Rukia yang terdalam, ingin ia mengatakan 'Ya'. Kenapa tidak? Bukankah Rukia tak dapat mengingkari dirinya sendiri, bahwa sebenarnya ia pun menyukai Ichigo.

Namun debaran jantung Rukia membuat bibirnya kelu untuk mengucapkan kata tersebut. Ia masih takut, mungkinkah semua akan menyenangkan bila ia menjawab 'ya'?

Atau malah akan lebih merumitkan bila ia menjawab 'tidak'? Telapak tangan Rukia mulai mendingin sekarang, ia tak sanggup lagi, ia ingin lari sekarang juga.

Dengan cepat didorongnya tubuh Ichigo dari hadapannya. Memang sebelumnya ia sempat mematung karena terkejut, namun sekarang ia harus benar-benar pergi bila ingin selamat.

Ichigo terkejut dengan perlakuan Rukia, mungkinkah sang gadis menolaknya? Ini tidaklah biasa bagi Ichigo. Ditatapnya dalam Rukia yang kini masih terdiam di depannya. Gadis itu mencengkram baju di bagian dadanya dengan kuat, seolah menahan sesuatu.

"I—ini membuatku gila…" bisik Rukia sangat lirih.

"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Ichigo memastikan keadaan Rukia yang menurutnya sedikit aneh.

Diangkatnya sendiri wajah yang tertunduk itu oleh Rukia, sepasang matanya bertabrakan langsung dengan iris sandy brown Ichigo.

Dengan cepat wajah sang gadis menjadi memerah mengingat kata-kata menggairahkan yang beberapa saat yang lalu sempat keluar dari mulut lelaki tersebut.

"AAA—!" dengan teriakan panjang Rukia berlari meninggalkan sosok Ichigo yang masih terbengong di tempat.

Hening, lelaki tersebut masih saja heran, kenapa Rukia berlari seperi itu? Namun perlahan bibir Ichigo tersenyum lebar. Menyangga punggung tegapnya merapat pada dinding tak jauh darinya.

Didongakkannya kepala miliknya ke atas dan memejamkan kedua iris tajamnya, senyum hangat masih tersungging di bibirnya, hingga ia berkata,

"Terima kasih, Ibu. Cinderella itu benar-benar ada, dan aku sudah menemukannya." keheningan sejenak mengisi pikiran Ichigo, mengingat masa di mana ia mengenal seorang gadis dalam dongeng legendaris tersebut.

Tak lama kemudian dilangkahkannya sepasang kaki panjangnya untuk meninggalkan tempat tersebut, Ichigo bergumam, "Setidaknya, ia belum menolakku." lanjutnya dengan seringai ringan.

*(n_n)*

D'etudes Café

Sungguh tak dapat disangka, sang pangeran benar-benar menawarkan dirinya pada Rukia. Hatinya tak tenang sekarang, mungkinkah ia bermimpi lagi? Karena…

"Kenapa ia bersikap seolah tak terjadi apa pun?" tanya Rukia dalam hati yang kini tengah duduk tak tenang di salah satu meja bernomor tujuh bersama sang calon suami, Kurosaki Kaien.

Dilihatnya Rukia dengan tatapan aneh oleh Kaien, berkali-kali Rukia tertangkap basah tengah melirik seseorang, tepatnya segerombolan Mahasiswa D'etudes Noches yang kini menempati jejeran kursi di depannya dengan meja yang sama.

Terdiri dari, Ashido, Grimmjow, Renji, Inoue, Neliel dan juga Ichigo. Entah kenapa, ada hal yang terasa mengganjal di hati Rukia. Padahal ia berpikir, setelah kejadian tersebut Ichigo akan merubah sikapnya. Tapi ini? Tetap saja, mereka seolah-olah tak saling mengenal.

Ichigo begitu tenangnya bercanda gurau bersama Grimmjow dan Renji, sama sekali tak memandang ke arah Rukia yang sesekali mencuri padang ke arahnya. Ini membuat Rukia sedikit kecewa.

"Kau baik-baik saja, Rukia?" tanya Kaien sambil menyentuh sebelah kanan dari pipi Rukia, membawa sepasang iris Indigo tersebut menatap langsung iris Aquamarine yang kini terpampang jelas di depannya.

Dengan gugup Rukia menjawab, "A—aku… aku baik-baik saja, Kaien… Eee— aku permisi ke kamar mandi sebentar," dengan langkah yang dibuatnya setenang mungkin Rukia berangsur meninggalkan meja bernomor tujuh tersebut.

Tapi tanpa disadari Rukia, sepasang iris sandy brown tersebut terus memandang sosoknya, menatapnya teduh hingga tubuh sang gadis menghilang di balik pintu. Lelaki tersebut tersenyum sekilas.

"Hei, kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Kau memang abnormal, Ichigo!" kata Renji saat mendapati Ichigo tersenyum tak jelas saat ini. Dan menurutnya itu hal yang aneh.

Ichigo mengacuhkan pernyataan Renji dan kini kedua matanya tengah terfokus pada handphone layar sentuhnya. Ia menyeringai sekilas kemudian menatap Renji.

"Aku harus pergi," kata Ichigo dengan senyum sumringah.

Grimmjow dan Renji hanya bisa saling menatap dan secara bersamaan mereka berkata, "Panggilan lagi?"

Ichigo sama sekali tak menjawabnya, sedangkan Inoue dan Neliel hanya bisa menundukkan kepala mereka. Tak mampu menatap Ichigo yang kini tengah tersenyum memohon pamit kepada teman-temannya.

Di bagian ujung meja, Kaien hanya bisa mendesah pelan. Ichigo sama sekali tak bisa merubah kebiasaannya tersebut. Kaien tahu benar apa yang dirasakan saudara kembarnya itu.

"Mau sampai kapan kau seperti ini, Ichigo?" bisik Kaien untuk dirinya sendiri.

Ichigo tertawa saat kedua sahabatnya, yaitu Grimmjow dan Renji menahannya dengan cara menarik kedua lengan Ichigo.

"Hei, kalian mulai lagi," kata Ichigo dengan kekehan ringan.

"Sudahlah Ichigo, kau seperti orang bodoh," kata Grimmjow begitu saja.

"Grimmjow benar, setidaknya… ajak aku juga, hahaha…" terang Renji yang langsung mendapat tinjuan ringan pada bagian perut oleh Grimmjow.

"Diamlah… Aku hanya ingin melakukan apa yang kuinginkan, kalian telah membuatnya menunggu," kata Ichigo sambil mengarahkan pandang pada meja bernomor dua.

Sontak semua mata tertuju pada sosok sang gadis manis berambut dark slate blue dengan poni manis yang menutupi sempurna dahinya. Anak rambut panjangnya tergerai membingkai wajah manisnya yang terkesan datar.

Tubuh tinggi semampainya terbungkus gaun indah berwarna olive yang sangat serasi dengan iris dark green miliknya. Penampilan yang sungguh menawan, bahkan nyaris sempurna.

"Ja—jadi… dia? Dari Marga Kurotsuchi itu? Kau benar-benar hebat, Ichigo!" kata Renji yang sempat terkejut dengan korban Ichigo tersebut.

Ditepuknya ringan bahu Ichigo, menandakan kebanggaan yang amat mendalam bagi Renji. Ia tahu betul seluk beluk Marga Kurotsuchi yang terkesan misterius, pendiam atau bahkan menakutkan.

Ichigo hanya bisa melempar senyum terbaiknya dan kini meninggalkan meja bernomor tujuh tersebut. Grimmjow hanya bisa geleng-geleng kepala, sedangkan Renji mengacungkan kedua jempolnya ke arah Ichigo.

"Dasar! Kau payah, Renji." bisik Grimmjow yang sama sekali tak dipedulikan oleh lelaki bernama Abarai Renji tersebut.

*(n_n)*

Kini dengan wajah yang kembali normal, Rukia mulai melangkahkan kaki menuju ke arah pintu keluar dari toilet tersebut. Dan saat ia memasuki ruangan D'etudes Café, dilihatnya seseorang tengah berbincang mesra dengan gadis cantik tepat di meja bernomor dua.

Meja yang terletak di pojok ruangan yang tentu saja memudahkan akses mereka. Kedua tangan sejoli tersebut saling menggenggam erat di atas meja.

Sang lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Ichigo tengah tertawa bahkan tersenyum begitu gembiranya menanggapi setiap kata yang keluar dari bibir gadis di hadapannya.

Gejolak aneh timbul merasuki relung hati Rukia. Mungkinkah ia merasa iri? Atau bahkan cemburu? Disaat Rukia berpikir dan memejamkan matanya erat, tanpa disadari Rukia, ia telah melewatkan sesuatu yang penting.

Tentu saja, kedua mata Rukia melebar sempurna, saat dilihatnya kedua insan tersebut berciuman di depan matanya. Gadis itu bisa melihat ekspresi wajah Ichigo yang begitu serius dengan kedua mata yang di pejamkan sempurna.

Sayangnya Rukia tak dapat melihat wajah sang gadis karena gadis tersebut duduk membelakangi lokasi dimana Rukia berada.

Mematung, Rukia membeku di tempat, terpaku dengan kejadian yang sungguh membuatnya kelu tak dapat berkata, bergerak atau bahkan mengalihkan pandangannya.

Hingga saat Ichigo membuka matanya perlahan, Ichigo bisa melihat dengan jelas, sosok Rukia yang masih terdiam memandang ke arahnya dengan wajah terkejut.

Awalnya Ichigo juga merasa kaget dengan kehadiran Rukia, tapi biar bagaimana pun ia tengah bersama gadis yang telah membelinya. Ia harus profesional.

Sebenarnya saat Ichigo membuka kedua matanya, ia berniat untuk menyudahi ciuman lembut tersebut, namun entah apa yang dipikirkannya saat itu. Sebelah tangannya mengalung pada tengkuk Kurotsuchi Nemu. Kembali berciuman dan menutup matanya kembali, mengacuhkan Rukia.

Kedua mata Rukia melabar sempurna. Ia marah, entah kenapa ia sangat marah sekarang. Dengan langkah mantap dan debaran jantung kencang Rukia berjalan mendekati meja bernomor dua tersebut.

Ia berdiri tepat di antara mereka berdua, menunggu ciuman tersebut usai. Ingin rasanya Rukia melerai mereka tapi ia tahu posisinya sekarang.

Begitu keduanya usai, Ichigo hanya tersenyum ke arah Nemu, yang dibalas dengan senyuman manis oleh gadis tersebut. Dan tanpa respon yang berarti dan seolah bisa menebak kehadiran Rukia, ditatapnya datar gadis yang kini terdiam di sampingnya.

"Ada hal yang ingin kau bicarakan? Katakanlah," kata Ichigo datar dan menatap dingin ke arah Rukia.

Awalnya semangat Rukia jatuh saat Ichigo mengatakan hal tersebut pada dirinya. Seolah-olah dirinya seorang pengganggu. Dan juga kilatan mata Ichigo membuatnya benar-benar berdebar sekarang.

"Kau kira, dirimu sempurna? Seenaknya mempermainkan perasaan seorang gadis," kata Rukia dengan nada geram menatap langsung ke arah kedua iris Ichigo yang menatapnya santai.

Ichigo memejamkan matanya kemudian tertawa sejenak, "Aku tak pernah menyakiti mereka… justru aku membuat mereka bahagia, benarkan, Nemu?" tanya Ichigo yang langsung mendapatkan anggukan dari Nemu.

"Apakah kau tak bisa menghentikan semua ini? Kupikir tindakanmu ini sangat bodoh," kata Rukia tegas dan penuh penekanan.

Ichigo hanya tersenyum ringan dan berkata, "Semua orang juga berkata seperti itu, hanya saja… aku ingin tahu alasanmu, Nona Kuchiki?" tanya Ichigo dengan nada enteng dan seringai iblis andalannya.

Rukia terdiam sejenak, kemudian secara perlahan bibirnya terbuka dan terucap kalimat, "Tidak ada alasan untuk itu... Lagi pula apa kau tidak memiliki orang yang benar-benar kau sayangi?"

Ichigo masih terdiam menanti lanjutan kalimat dari bibir mungil tersebut, "Aku percaya, kau bukan orang seperti itu… Atau mungkin… Ada seseorang yang membuatmu seperti ini? Katakan pada orang itu, Apa kau berhasil membuatnya senang? Kurasa tidak."

Ichigo terdiam sejenak, kenapa Rukia bisa berkata seperti itu? Mungkinkah ia tahu alasan yang sesungguhnya? Melihat Ichigo yang sama sekali tak bereaksi dengan kata-katanya, ia hanya bisa tersenyum kecut dan merubah ekspresi wajahnya.

"Ah, aku bodoh sekali… Maaf telah mengganggu kalian… aku permisi," kata Rukia singkat dan kini berjalan cepat menuju pintu keluar.

Dan sosok Rukia yang mendekati pintu keluar berhasil ditangkap oleh indra penglihatan Inoue. "Mau kemana dia?" kata Inoue yang membuat semua orang yang berada di meja ke-7 menolehkan pandang ke arah dimana Inoue menatap.

Seorang gadis dengan gaun indah pendek bernuansa peach puff tersebut tengah tergesa-gesa menuju ke arah pintu keluar. Semua orang terheran, kenapa Rukia keluar tanpa berpamitan dulu dengan mereka?

Kaien berdiri dan meninggalkan meja, sekilas ia melihat siluet kekecewaan pada gadis Kuchiki tersebut. Dan ia memutuskan untuk melihat keadaannya, mengejarnya.

*(n_n)*

Ichigo masih terdiam, namun kemudian ia tersenyum, "Aku permisi dulu," kata Ichigo datar.

Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Ichigo langsung mengambil langkah menuju pintu keluar sebelah timur dan beranjak pergi.

*(n_n)*

Rukia terus saja meruntuki tindakannya. Kenapa ia bisa mengatakan hal seperti itu pada Ichigo? Padahal mereka tak begitu akrab sama sekali.

Bahkan dapat dikatakan hanya sekedar tahu nama dan beberapa godaan yang terkesan hanya sebuah ilusi. Rukia menjadi malu sendiri saat mengingatnya. Mukanya terasa panas sekarang.

"Ah! Bodoh! Bodoh!" kata Rukia geram dan terus berjalan dan berbelok ke arah timur dari D'etudes Café, menuju ke gerbang keluar.

Dilain pihak, Kaien yang mengejar Rukia kini tengah kebingungan mencari sosok gadis mungil tersebut. Namun saat ia melihat ke arah ujung gedung, seorang gadis yang menurutnya adalah Rukia mengambil langkah berbelok ke arah timur.

"Itu dia," kata Kaien yang kini kembali melangkahkan kakinya untuk mengejar Rukia.

Rukia terus menatap ke arah tanah yang dipijaknya, ia merasa amat malu. Sejak kapan ia seberani itu? Pada seorang pangeran sekalipun. Bahkan ia bukanlah seseorang yang penting bagi Ichigo.

"Hah… bodohnya aku," bisik Rukia sekali lagi yang diikuti dengan desahan napas beratnya.

"…kau melupakan sesuatu, Kuchiki…"

Rukia bisa mendengarnya, seseorang menyebutkan namanya, dan saat Rukia mengangkat wajahnya. Ia bisa melihatnya sekarang, seorang lelaki tinggi yang sangat identik dengan senja itu.

Hembusan angin menerpa rambutnya, senyumnya dan wajah tampannya. Rukia terdiam mengagumi sosok yang kini bersandar ringan pada sebuah Pohon Maple besar berwarna coral dan begitu rindang.

Seluruh bagian dari tubuh tersebut nampak seperti senja, seluruhnya bernuansa jingga, apalagi dengan warna pohon tersebut, daun bintang yang berguguran, benar-benar mampu membuat sang indigo terpesona.

Hanya berjarak dua meter saja, seorang lelaki bernama Kurosaki Ichigo tersebut berdiri dan menatapnya teduh. Rukia merasa terhipnotis dan tak mampu berbuat apa pun saat salah satu lengannya ditarik lembut oleh jemari kokoh Ichigo.

Kejadian tersebut sangatlah cepat. Dan tiba-tiba saja Rukia bersandar pasrah di balik pohon tersebut. Ichigo mengurung tubuh Rukia dengan sebelah lengannya yang ia sandarkan begitu saja di samping kepala Rukia.

Sedangkan tangan yang lain meraih dagu Rukia, mengangkat wajahnya, "Kau melupakan sesuatu, Midget… kau melupakan… ini…"

Cup!

Mata Rukia melebar sempurna. Berciuman, mereka benar-benar berciuman. Bibir Rukia terasa hangat oleh bibir lelaki tersebut, mengapit dengan lembut bibir miliknya.

Ichigo memejamkan matanya, berusaha mengeluarkan seluruh perasaanya melewati ciuman tersebut. Dan Ichigo berharap perasaannya benar-benar tersampaikan.

"Rukia! Rukia!"

Dapat didengarnya begitu jelas, suara Kaien yang meneriaki namanya. Dan Rukia yakin benar saat ini Kaien tengah berada tepat di balik pohon yang sama.

Isi otak Rukia benar-benar kacau, sedangkan Ichigo sama sekali tak menggubris teriakan tersebut. Sebelah tangannya kini menjalar menuju punggung Rukia.

Dengan lembut dan perlahan memeluk tubuh sang gadis, berusaha meyakinkan Rukia, makna tersirat dari tindakannya. Ditekannya punggung gadis tersebut merapat pada dirinya, terus memberi kehangatan pada bibir sang gadis.

Rasa tersebut benar-benar tersampaikan, perasaan takut dan was-was sirna begitu saja. Ia sama sekali tak mempedulikan Kaien yang masih saja meneriaki namanya. Ia terbuai dan kini memejamkan kedua matanya, berusaha mencari tahu, makna tersirat dari tindakan Ichigo.

Beberapa saat kemudian Ichigo mulai menjauhkan wajahnya dan secara perlahan pula membuka matanya. Kini kedua pasang iris tersebut saling berpandangan, mencoba mencari jawaban yang ingin didengar masing-masing.

"Apakah kau sudah mengerti? Kau adalah Cinderella-ku, mulai hari ini kau menjadi milikku. Dan kau tak bisa menolaknya,"

Rukia bisa mendengarnya, mendengar sang senja mengukuhkan dirinya sebagai Cinderella miliknya. Tapi, tak ada kata yang mau terucap dari bibirnya.

"Ku anggap itu adalah jawaban 'ya', takkan kubiarkan seseorang merebutmu dariku," kata Ichigo datar dan kembali mendekat pada wajah Rukia.

Dan hanya disaksikan oleh senja saat itu saja, Kuchiki Rukia telah resmi menjadi Cinderella dari Pangeran bergelar Penjual diri tersebut.

Dan disela-sela ciuman mereka, Ichigo berkata, "Aku berhenti— dan aku adalah milikmu seutuhnya, Cinderella,"

*(n_n)*

Masih terdiam, Rukia memilih untuk diam saat ini. Kaien yang tidak mengetahui apa pun menganggap sikap Rukia adalah hal biasa, karena mereka memang belum saling akrab satu sama lain.

Padahal Kaien telah mencari-cari Rukia hingga mengelilingi D'etudes Café, dan ternyata Rukia tengah duduk terdiam di dalam Lamborghini Gallardo hitamnya, sungguh membuatnya cemas, dan ternyata kecemasan tersebut adalah kesia-siaan saja.

Voorjar Ev

"Aku harus kembali ke Het Voorjar dan akan kembali sore ini. Dan untuk pagi ini kau bisa berangkat dengan Ichigo." kata Kaien sambil tersenyum manis pada Rukia.

Bagai petir yang tiba-tiba menyambar dirinya. Saat ia mendengar nama tersebut, jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat. Sedangkan Ichigo masih tetap memasang wajah datar seolah tak peduli.

"Baiklah, aku pergi, Rukia," kata Kaien datar dan mengecup ringan kening Rukia.

Rukia tersadar saat bibir tersebut berhasil bersentuhan dengan keningnya. Ia kembali melempar senyum pada Kaien, "Hati-hati di jalan,"

Blam!

Pintu besar tersebut tertutup dan kini menyisakan Ichigo dan Rukia yang masih terdiam di tempat masing-masing. Memang hari masih sangatlah pagi, sekitar pukul 06.00 dan Rukia masih belum menyiapkan keperluan untuk hari ini.

"Kutunggu di depan, sampai pukul 06.30," kata Ichigo yang kini berjalan santai menuju ke ruang makan.

"Ta—tapi…" kata Rukia gugup saat mendapati dirinya yang masih mengenakan drees tidur.

Ichigo kembali mengacuhkan Rukia dan melanjutkan langkahnya menuju ke arah ruang makan. Rukia yang merasa diacuhkan hanya bisa menggembungkan pipinya kesal.

"Sebenarnya apa yang dipikirkan lelaki itu? Sikapnya mudah berubah," kata Rukia pelan yang kini berlari menuju ke arah ruang riasnya.

*(n_n)*

Sepasang iris milik Ichigo menatap teduh ke arah hamparan Bunga Tulip di sampingnya. Ternyata lumayan indah juga, dan kenapa ia baru saja menyadarinya? Bunga itu seperti Cinderella miliknya, dan ia memutuskan untuk memetik satu dari ratusan diantaranya.

"Ma—maaf, aku terlambat!" pekik Rukia yang kini berdiri di samping Ichigo dengan kaki telanjang karena highheels yang seharusnya dikenakannya kini tergenggam pada salah satu tangannya.

Ichigo tersenyum dan mendekat ke arah Rukia, mengambil posisi bersimpuh dengan satu kaki di hadapan Rukia. Mengacungkan Bunga Tulip merah ke hadapan Rukia.

"Terimalah…" kata Ichigo datar.

Dengan salah satu tangannya Rukia meraih bunga tersebut dan menerimanya dengan senyum lebar. Namun tidak berhenti sampai di situ saja.

Ichigo meraih sepatu kaca berwarna es yang senada dengan gaun azure yang di kenakan Rukia tersebut, memakaikannya dengan senang hati pada sepasang kaki Rukia.

Awalnya Rukia ingin menolak dan menghindar, tapi ia gugup dan memilih untuk diam. Begitu terpasang sempurna, Ichigo mengambil posisi berdiri tepat di depan Rukia.

Kemudian jemari Ichigo menyentuh bibir Rukia, menghapus lipgross berwarna linen yang memenuhi berlebih pada beberapa bagian bibir Rukia. Dan berusaha memberi kesan selembut mungkin pada Rukia.

Untuk meyakinkan hasilnya, Ichigo mendekat ke wajah Rukia, ingin melihatnya lebih dekat, "Sempurna, kau cantik sekali, Cinderella," kata Ichigo dengan senyum lembut.

Deg!

Jantung Rukia berdebar hebat saat didapatinya bibir Ichigo yang terangkat manis membentuk sebuah senyuman tulus. Ia merasa sangat senang dan beruntung bisa melihat senyuman yang menurutnya adalah senyuman termanis yang pernah dilihatnya seumur hidup.

Ia bisa melihat wajah tampan Ichigo yang begitu mempesona dirinya. Ini membuatnya mulai terbuai oleh paras lelaki tersebeut. Sungguh lelaki penggoda.

Tak lama kemudian handphone Ichigo berbunyi dan kini kedua mata Ichigo terfokus sempurna menatap layar handphone miliknya. Dan tiba-tiba saja raut wajahnya berubah menjadi serius dan gelisah.

Dengan cepat Ichigo menarik pergelangan tangan Rukia, menuntunnya dengan cepat memasuki Lamborghini Murcielago miliknya.

Rukia tak diberi kesempatan sedikit pun untuk berbicara. Dengan cepat Ichigo menginjak gas dengan kasar, dan melaju kencang meninggalkan Voorjar Ev.

*(n_n)*

Ichigo terus berlari menyusuri lorong-lorong luas di hadapannya. Bau obat yang sangat menyengat berhasil menusuk indra penciuman Rukia.

Lelaki itu berlari sangat kencang dan terkesan tergesa-gesa. Bahkan Ichigo sama sekali tak mempedulikan Rukia yang kini tak sanggup lagi mengejar langkah panjangnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rukia dalam hati yang kini hanya bisa menatap punggung tegap Ichigo yang menjauh darinya.

Voorjar Ex

Begitulah papan nama yang terpampang di depan sebuah pintu besar berwarna keemasan. Rukia ragu memasuki ruangan tersebut meskipun pintu besar tersebut telah terbuka lebar untuk dimasukinya saat ini.

Namun sekarang, ia memutuskan untuk mengintip pada salah satu jendela kaca berukuran sedang di hadapannya.

Ia melihat, sangat jelas. Ichigo tengah memeluk seorang gadis berponi dengan rambut berwarna slate gray. Senyuman manis tersungging di bibir gadis tersebut, kedua matanya memiliki iris berwarna coral lebar.

"Siapa gadis itu?" tanya Rukia pada dirinya sendiri.

Meskipun pelan Rukia dapat mendengarnya, Ichigo berkata, "Kau baik-baik saja? Tenanglah… aku sudah datang, aku akan menemanimu,"

Seolah mendengar pernyataan yang tabu, Rukia memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut. Tersenyum ringan dan membalikkan badannya untuk menjauhi rungan tersebut.

"Rukia, dimana Ichigo? Kenapa kau sendiri?" kata seseorang yang kini berdiri tepat di depan Rukia.

"Kaien? Kenapa kau ada disini?" tanya Rukia heran mendapati Kaien di depan matanya sekarang, padahal beberapa saat yang lalu lelaki tersebut berkata akan menuju ke Het Voorjar.

"Aku baru saja mendengar kabar, dia telah sadar, bagaimana kalau kita masuk?" kata Kaien yang kini meraih tangan Rukia dan menuju ke dalam rungan tersebut.

*(n_n)*

"Bagimana keadaannya, Ichigo?" tanya Kaien begitu saja saat mendapati Ichigo masih saja menatap nanar ke arah gadis tersebut.

Rukia memandang lekat-lekat gadis yang identik dengan warna merah tersebut. Dress tidurnya yang berwarna merah, selimut, bahkan interior design, semua berwarna merah dengan sedikit selingan berwana crimson yang terkesan anggun.

"Dia pasti baik-baik saja, benarkan, Senna?" tanya Ichigo yang kini menepuk lembut kepala sang gadis.

Gadis tersebut hanya tersenyum dan meraih salah satu tangan Ichigo, "Aku senang kau disini, Ichigo!" kata sang gadis dengan wajah ceria.

"Tentu saja, aku langsung kemari saat mendengar kau sadar," kata Ichigo dengan senyum lembut.

Rukia yang melihat langsung adegan tersebut hanya bisa terdiam di tempat. Senna yang menyadari kehadiran Rukia kini tersenyum lebar dan mulai ambil bicara.

"Siapa gadis manis itu, Kak Kaien?" tanya Senna ramah.

Rukia segera mengangkat wajahnya dan menatap Senna yang baru saja memujinya. Kaien tersenyum sekilas kemudian merangkul bahu Rukia dan berkata,

"Dia calon istriku, Kuchiki Rukia," jelas Kaien pada Senna.

Senna hanya bisa menggangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Tapi sebuah cengkraman berhasil dirasakannya, tepatnya pada salah satu tangannya, tangan yang saat ini bergenggaman dengan Ichigo.

Diangkatnya wajah miliknya, mencoba membaca ekspresi wajah Ichigo lebih jelas. Senna melihatnya, siluet kekesalan tercermin jelas pada paras tampan lelaki tersebut.

Awalnya Senna terkejut, kemudian Senna tersenyum. Ia bisa merasakan kekesalan Ichigo dari genggaman erat yang ia rasakan pada telapak tangannya itu. Ia sedikit kecewa.

"Kau manis sekali, Kuchiki, sangat serasi dengan Kak Kaien… Panggil saja aku Senna, Aku mencintai Ichigo, dan suatu saat nanti kami akan menikah!" jelas Senna dengan nada yang sungguh riang.

Ichigo hanya tersenyum dan membelai lembut kepala sang gadis, Senna hanya bisa tertawa riang menatap Ichigo lembut.

"Apa-apaan ini?" kata Rukia terkejut mendapati kenyataan di depan matanya.

T`B`C`


Ruki lagi tergila-gila sama Senna nih, ternyata Senna gak sejelek yang Ruki kira. Malah kasihan banget, Ruki pengen buat Readers suka sama Senna juga, melalui Fic ini, moga tersampaikan. Hahaha... *dihajar Ichiruki FC*


Arigatou and Mata Ashita "^_^"


R P

E L

V E

I A

E S

W E