"Hinata apa semua berkas yang Kubutuhkan sudah kau siapkan?" pria berambut raven bertanya kepada salah seorang wanita yang bekerja di Divisi Keamanan Intelijen yang sama-sama di bawah naungan AMJ (Agent Militer Jepang).

"Semua berkas yang Captain Uchiha-san minta sudah di revisi dan tinggal menunggu ditanda tangani oleh Komandan Danzou-sama." Hinata memberikan sebuah map berwarna merah yang berada di tangannya kepada Sasuke.

"Hn. Terima kasih."

Baru beberapa langkah berjalan mendekati pintu, ponsel sasuke bergetar di saku celana seragam Agent miliknya.

Drttt Drtttt...

Sasuke merogoh ponsel tersebut dan meletakannya di telinga. Setelah berbicara sebentar dengan sang penepon, Sasuke membalikan badannya ke arah Hinata yang tercengang melihat ke arahnya. Tanpa ada persetujuan terlebih dahulu ia melemparkan ponselnya ke arah Hinata. Untung saja wanita berambut indigo tersebut mempunyai gerakan yang cukup reflex untuk menangkapnya. Salah satu sudut alis Hinata tertarik yang tengah memadang sang Captain seolah bertanya 'Siapa ini?' atau lebih tepatnya meminta penjelasan.

" Kekasihmu," ucapnya datar lalu berjalan melewati pintu, meninggalkan sang nona indigo yang mukanya sudah merah padam menahan malu. Di angkatnya panggilan telepon tersebut.

"Moshi-moshi...Ya, Naruto-kun.."

.

.

.

.

.

.

CRACKED

Disclaimer Naruto is belongs to Masashi Kishimoto

Story © pure mine nuria-agazta

WARNING: AU, OOC, Typo(s), bad diction, alur lompat-lompat, etc.

Rate: M (for bloody)

.

.

.

.

.

.

Nuria tahu fict ini masih banyak kekurangannya,

Mohon bimbingannya.

Jadi, saran dan concrit yang membangun sangat di perlukan.

'Don't Like Don't Read'

Kalau tidak suka..menyingkir lebih baik

HAPPY READING^^

.

.

.

.

.

Chapter 3

.

.

Ruang rapat yang tadinya hanya di isi beberapa orang kini mulai dipenuhi beberapa anggota Divisi tertentu yang memang sengaja dipanggil untuk ikut serta dalam rapat Mission Khusus.

Sang Komandan Jenderal memasuki ruangan pertanda rapat mission khusus ini akan segera di mulai. Semua sudah duduk di kursi masing-masing termasuk sang Captain― Uchiha Sasuke.

Komandan memberikan isyarat kepada Sasuke untuk melakukan tugasnya sebagai penanggung jawab akan mission khusus ini. Di depan para peserta rapat Sasuke berusaha menjelaskan rancangan strategi yang dibuatnya dan mengumumkan siapa saja yang akan terlibat dalam mission khusus ini. Di bukanya map merah yang berada di tangannya dan membacakan beberapa arsip biodata orang-orang yang di rekrutnya untuk menjalankan misi ini bersamanya.

"Dari Divisi Penyidikan saya merekrut Uzumaki Naruto, Nara Shikamaru dan Yamanaka Ino." Pandangan Sasuke mengarah ke arah orang-orang yang berada di depan mejanya.

"Dari Divisi Keamanan Intelijen saya membutuhkan dua orang yang ahli di bidang Telekomunikasi khususnya di bagian Crack Hacker..." Sasuke menggantungkan ucapannya lalu meletakan map merah tersebut ke atas meja rapat.

"Saya memilih Hoshikagi Suigetsu dan Hyuga Hinata," ucapnya tegas penuh kepastian. Pernyataan Sasuke barusan membuat lelaki bermata violet di seberang meja sana tersentak kaget. 'Tch! Sialan..Awas kau Sasuke!' batin Suigetsu kesal. Suigetsu dari Divisi Keamanan Intelijen memang lumayan cukup dekat dengan Sasuke, tapi ia tak pernah habis pikir kalau dirinya juga di rekrut dalam Misssion Khusus tersebut. Ia yang terbiasa bekerja di dalam ruangan terpaksa harus terjun langsung ke lapangan dan itu baru pertama kali baginya. Menghela nafas berat, Suigetsu menerimanya dengan lapang dada walaupun raut mukanya sungguh tidak rela dengan keputusan sepihak ini.

Semua mata masih tertuju kepada Sasuke untuk mendengarkan nama-nama lain yang terlibat dalam Mission Khusus.

"Kepolisian Jepang juga akan mengirim beberapa anggotanya untuk membantu kita dalam menangani kasus ini."

Suasana rapat yang tadinya hening dan begitu serius tiba-tiba di kejutkan oleh bunyi alarm peringatan yang menggema ke seluruh penjuru gedung Markas Pusat.

Nettt...Netttt...

Semua orang yang berada di ruangan rapat sontak terkejut dan bertanya-tanya apa yang tengah terjadi.

Brakkkk...!

Suara pintu ruangan rapat di buka kasar oleh seseorang. Semua mata kini memandang ke arah orang yang berada di depan pintu. Pria beseragam Opsir Militer tersebut terlihat panik dan wajahnya begitu pucat. "Lapor Komandan Danzao-sama, Sistem Keamanan kita di blokir seseorang dan beberapa data-data penting Kemiliteran sudah di curi melalui Satelit Khusus yang tidak di kenal," ungkap pria tersebut menghadap langsung di depan sang Atasan.

Komandan Danzao menggeram kesal. Ia berdiri dari kursinya dan mengatakan kepada orang-orang yang di sana bahwa rapat ini di tunda karena harus menangkap 'tikus tanah' penyusup terlebih dahulu. Semua mengangguk paham.

"Hyuuga dan Hoshikagi ikut aku ke ruangan brankas data pusat, bantu tim yang lain untuk melacak satelit tak di kenal tersebut."

"Siap Komandan!" Hinata dan Suigetsu mengangguk hormat dan mengikuti Komandannya yang sudah lebih dahulu keluar ruangan. Bebeapa orang sudah meninggalkan ruang rapat dan kembali ke aktifitas masing-masing menyisakan Sasuke dan rekan sejawatnya.

"Teme...apa kita tidak membantu mereka? Bukankah itu juga masalah Agent Militer dan kita juga harus ikut menanganinya, bukan?!" Naruto terlihat bingung dengan situasinya karena tim Divisi lain biasa-biasa saja menanggapinya dan terkesan tidak peduli.

"Hn. Itu bukan tugas kita, Dobe."

"Kenapa?" Naruto bertanya lagi dengan wajah sok innocent miliknya. Ini yang paling membuat Sasuke kesal. Kenapa? Teman pirangnya ini terlalu banyak bertanya.

"Itu tugas Divisi Security Data Center karena itu memang tugas mereka menjaga data-data penting milik Kemiliteran Jepang dan semua Divisi lain tidak boleh ikut campur mengenai hal tersebut. Lagi pula tidak boleh sembarangan masuk ke ruangan mereka selain staff karena tempat tersebut begitu tertutup dan rahasia," terang Sasuke panjang lebar berusaha menjelaskan kepada teman kuningnya yang bodoh itu. Di sisi Naruto ia malah manggut-manggut tak jelas mendengar penjelasan sahabat sekaligus rekannya. Naruto bersumpah itu merupakan kata-kata Sasuke yang paling terpanjang yang pernah di ucapkannya jika Naruto bertanya akan sesuatu pada Sasuke. Biasanya Sasuke hanya menjawab 'Hn hn' saja. Naruto yang masih berada di alam bawah pikirannya terkejut karena Sasuke memukul kepalanya keras.

Bletakkk..

"Awww! Sakit Teme," pekiknya marah.

"Siapa suruh kau memasang wajah idiotmu di depanku," ujarnya enteng. Naruto mendelik tak suka sambil mengerucutkan bibirnya. Sasuke mendengus melihatnya. ' Dasar rubah bodoh,' rutuknya dalam hati.

.

.

.

.

.

Satu minggu berlalu setelah pembobolan Data Center milik Kemiliteran Jepang. Mereka― Divisi Keamanan Intelijen―melacak Satelit milik sang hacker melalui radar khusus dan menemukan Short Code rumit. Karena kemampuan tim yang tidak perlu di ragukan lagi mereka berhasil memecahan kode rumit tersebut. Sesuatu yang mengejutkan muncul setelah melihat lambang atau logo yang tertera 'Krasnyye Oblaka' (Awan Merah).

Tokyo Hyundai Airport, 25 Juni XXXX pukul 08.32 a.m

Di tengah padatnya manusia yang sedang berlalu-lalang melintas di dalam bandara terbesar yang ada di Asia tersebut terlihat seorang gadis tengah menyeret tas kopernya begitu tergesa-gesa. Beberapa kali ia tak sengaja menyenggol orang-orang yang melintas di depannya. Sepertinya ia sungguh terburu-buru.

Setelah sampai di jalanan trotoar di luar area bandara ia menyetopkan taxi dan memberitahukan sang supir alamat yang akan di tujunya. Di balik kaca jendela taxi tersebut ia memperhatikan pemandangan Kota Konoha yang di penuhi gedung-gedung tinggi pencakar langit. Tak lupa baliho Partai Pemerintahan di sudut-sudut jalan tersusun rapi, dan LCD Kota yang menampilkan beberapa produk iklan terkenal serta Pusat Departement Store yang sangat ramai di kunjungi masyarakat. Sudah lama sekali rasanya ia tidak mengunjungi Kota kelahirannya ini. Rasanya rindu sekaligus 'Benci'. Kota yang kurang memperhatikan kreadibilitas yang namanya keadilan. Terjaganya Hak Asasi Manusia pun masih di pertanyakan. Kalau kau memiliki pangkat yang tinggi kau bisa mengatur orang-orang di bawahmu sesuka hati. Asyik melamun tiba-tiba ponsel yang berada di tas tangan miliknya bergetar tanda adanya panggilan masuk.

"Hn. Que es? Acabo de recibir," ucapnya malas pada seseorang di seberang telepon. Karena pengaruh Jet lag atas penerbangannya tadi tenaganya lumayan cukup terkuras.

"Si, unos minutos mas que se llega a gran laurie's del hotel." Setelah mengakhiri percakapan telepon tersebut ia menggambil koran yang sempat dibelinya saat berada di bandara tadi lalu membacanya dengan seksama. Di garis line depan koran tersebut memberitakan sebuah berita yang menjadi Trending Topic minggu ini yang tengah ramai di perbincangkan.

HOT NEWS

'Mafia terbesar di dunia yaitu Akatsuki berhasil mengobrak-abrik data-data penting Kemiliteran Jepang dan mencurinya untuk kepentingan pribadi. Usut punya usut ada unsur balas dendam dari kedua belah pihak mengenai masalah Tragedy Remedy Farma Corporation beberapa tahun lalu yang sampai sekarang belum terkuak siapa dalang di balik itu semua. Bagaimana menurut pendapat anda tentang berita mengejutkan ini? Apakah kualitas kerja Kemiliteran Jepang sudah mulai menurun dan tidak bisa diandalkan kembali? Apakah Akatsuki dalang dari Tragedy Mati Massal itu? Belum ada yang bisa memecahkannya.'

Sumber

Gadis cantik itu melipat dan meletakan koran itu di samping tempat duduknya. Ia sedikit mengangkat sudut bibirnya setelah membaca berita yang di bacanya tadi. Berita tersebut terlalu melebih-lebihkan. Kebanyakan para Wartawan dan Jurnalist memang sering memberi sedikit 'bumbu-bumbu' dalam mencetak berita untuk membuat para pembaca tertarik. Bagi mereka sedikit berbohong tidak masalah agar perusahaan berita mereka menjadi sorotan dan berita-berita mereka laku di khalayak ramai. Gadis tersebut tengah tersenyum memikirkan langkah-langkah yang akan di lakukannya nanti. Ia akan memberikan 'kejutan yang lebih wow' lagi dibanding berita tadi tentunya.

"El nuevo juego se inicia," gumamnya pelan dan matanya yang begitu―err...kosong dan di selimuti kabut yang namanya kebencian.

.

.

.

Klik..

"Ugh! Shitt, berita macam apa itu? Mereka terlalu menjelek-jelekan citra Kemiliteran Jepang." Naruto yang kesal setelah melihat acara berita di TV tadi langsung mematikannya dan melempar remote TV ke atas sofa yang di dudukinya.

Beberapa Agent saat ini tengah berkumpul di tempat base camp mereka setelah selesai mengadakan rapat Mission Khusus. Dan misi ini akan di mulai minggu depan bertetapan dengan hari penyambutan Agent Militer Rusia yang akan bertolak ke Jepang untuk latihan Militer bersama. Akan ada acara penyambutan besar-besaran di Hall Room Markas Pusat Kemiliteran Jepang nanti.

"Ck. Mendukusei. Kau mengganggu waktu tidurku Naruto?" sungut Shikamaru kesal karena acara tidurannya terganggu oleh suara Naruto yang begitu berisik.

"Habisnya aku kesal dengan berita yang bermunculan sekarang, apakah mereka tidak pernah berpikir kalau kita juga berusaha yang terbaik akan misi waktu itu." Naruto memakan stick balado miliknya kesal lalu tiduran di sofa seberang Shikamaru.

"Naruto-kun y-yang sab-bar yah." Sang kekasih menenangkan Naruto yang tengah emosi.

"Misi waktu itu bukan hanya gagal tapi kita juga banyak kehilangan rekan," kata Suigetsu menambahkan. Ucapan Suigetsu yang lumayan sakral itu membuat bulu kuduk merinding anggota Agent lain yang tengah melirik takut-takut ke arah Sasuke.

Captain Agent yang sering di buru para wanita itu meminum kopi hitam tanpa gula miliknya santai di pojokan sofa. Sasuke sangat sadar kalau ia tengah di perhatikan oleh anggota rekannya yang lain― tatapan prihatin mungkin, tapi ia terlihat biasa-biasa saja. yang berlalu biarlah berlalu tapi itu semua bisa di jadikan pelajaran untuk di masa depan nantinya. Lagi pula Sasuke sudah berusaha merelakan gadisnya yang sudah berada jauh di langit sana. Kehilangan orang yang disayang tentu saja menyakitkan tapi ia harus tetap melanjutkan hidupnya.

"Hei Shika! Aku dengar gossip yang beredar kau sedang dekat dengan 'Puteri Gurun Pasir' Wali Kota Suna itu,yah?" Naruto mengalihkan pembicaraan untuk mencairkan suasana yang lumayan err―jangan di bahas di depan sang Captain.

"Hahh...berisik kau Naruto!Dasar merepotkan." Shikamaru memutar matanya bosan lalu melanjutkan acara tidurannya kembali. Coba kau telisik lebih jauh muka tuan jenius Agent Kemiliteran Jepang ini sedang memerah seperti buah tomat kesukaan Captain Sasuke.

"Huuu...Kau sama saja dengan Teme, tidak bisa di ajak bercanda." Naruto menjulurkan lidahnya ke arah Shikamaru. Mengejek dan menggoda Shikamaru serta Sasuke sering dilakukannya untuk menghangatkan suasana yang suram di antara mereka. Naruto memang memiliki bakat melawak di antara anggota yang lain.

Sasuke mendelik tak suka ke arah Naruto karena namanya ikut di bawa-bawa. Naruto yang di pelototi seperti itu seketika menutup mulutnya rapat-rapat. 'Sasu-Teme sebelas-dua belas sama jelmaan iblis kalau dia marah,' inner Naruto merinding saat terlintas di kepalanya Sasuke mencakar-cakar mukanya yang tampan.

Ck. Narsis sekali kau Uzumaki Naruto.

Hinata dan Ino terkikik geli melihat interaksi rekan-rekan mereka yang sungguh harmonis dan rukun itu(?)

"Ngomong-ngomong soal misi, apa pembobolan data center pusat ada hubungannya dengan kasus yang lalu?" Ino bertanya kepada rekan-rekannya dengan wajah yang begitu penasaran.

Semua tatapan tertuju kepada nona Agent pirang seolah ikut mempertanyakan kasus pembobolan dengan kasus terdahulu apakah saling berkaitan.

"Kami belum bisa memastikan hal tersebut, tapi pelaku pembobolan itu memang dilakukan oleh Akatsuki," kata Suigetsu menjelaskan.

"Aku tidak begitu terkejut jika yang melakukannya Akatsuki. Mereka sindikat kelompok yang paling berbahaya dan susah ditangkap," ungkap Naruto pasrah.

"Ak-ku dengar da-ri informan lain mengatakan jika FBI melacak keberadaan mereka di Dubai, UEA." Hinata mencoba mengingat informasi yang tidak sengaja ia dapatkan saat makan di cafetaria Markas Pusat Agent kemarin.

"Benarkah itu Hinata-chan?" tanya Naruto memastikan.

"Ak-ku tidak be-gitu yakin Naruto-kun," ujar Hinata malu-malu.

Tangan Sasuke mengepal di dalam saku celananya. Jika ada informasi mengenai Akatsuki rasanya hormon adrenalinnya meningkat drastis. Dia tidak boleh lengah lagi sekarang. 'Aku akan menangkapmu Nii-san,' tegasnya dalam hati.

"Bagaimana menurutmu Shika?" tanya Ino. Shikamaru memiliki otak jenius ia sering menganalisis suatu kejadian dengan akurat.

"Entahlah, aku merasa ini baru awalan. Aku takut akan terjadi sesuatu yang mengerikan setelah ini." Kata-kata Shikamaru mengambang dan sedikit keraguan di dalamnya. Semua Agent memikirkan perkataan Shikamaru di pikiran mereka masing-masing.

.

.

.

Hall Room Markas Pusat Kemiliteran Jepang, 01 july XXXX pukul 10.00 a.m

Terlihat iring-iringan mobil berkelas yang berjejer dari belakang mengawal sebuah limosin hitam di depannya. Mereka semua adalah orang-orang penting perwakilan dari Agent Kemiliteran Rusia yang akan mengadakan latihan Militer bersama. Pintu Limosin terbuka dan keluarlah Jenderal Militer Rusia yang menggunakan seragam khas Militer dengan berbagai macam lencana beserta topi yang menjadi lambang negaranya. Komandan Danzao menyambut kedatangan pihak Militer Rusia itu lalu mengajak mereka masuk ke dalam Hall Room Gedung mewah tersebut. Pidato penyambutan dan ikrar kerjasama di antara kedua negara akan segera dimulai.

Hall Room tempat di adakan pesta penyambutan berada di lantai 13. Lokasi gedung yang berada di pusat tengah Kota yang merupakan kawasan elit di apit dua gedung pencakar langit Hotel berbintang lima di sebelahnya yakni Laurie's Grand Hotel dan Luxury Hall. Desain interior dinding gedung Hall Room di impor langsung dari Yunani. Kedap suara di bagian luar gedung dan anti guncangan gempa. Kaca transparan gedung dibuat untuk melindungi dari pancaran sinar UV dan anti peluru ke seluruh ruangan. Setelah beberapa menit menggunakan lift sampailah mereka di ruangan yang cukup besar yang di kanan-kirinya sudah tersusun rapi kursi-kursi yang akan di tempati. Red Carpet tergelar dan di isi beberapa satuan anggota Militer Jepang di sampingnya yang berbaris melakukan penghormatan. Seragam Militer lengkap dan senapan laras panjang― mereka melakukan atraksi penghormatan senjata saat Komandan Jenderal Jepang dan Rusia memasuki ruangan Hall Room.

Uchiha Sasuke yang sudah duduk di kursi paling depan mengingat ia salah satu orang penting di Kemiliteran Jepang berdiri menyambut para tamu tersebut dan mempersilahkan mereka duduk. Acara berlangsung hikmat di mulai pidato dari Komandan Jenderal Agent Jepang hingga beberapa suguhan acara lainnya.

Tepat pukul 11.32 Pidato Khusus dari Jenderal Militer Rusia yanga akan menjelaskan beberapa penelitian yang tengah di lakukan di Rusia saat ini. Kerjasama Biological Weapon. Setelah Remedy Farma Corporation hancur beberapa tahun lalu akibat demonstrasi besar-besaran dan menyebabkan tragedy mati massal, penelitian di lanjutkan oleh pihak BWSBiogical Weapon Sovietwalaupun sudah di tentang oleh pihak Biro Investigasi Federal (FBI).

"Kami dan segenap BWS sedang melakukan pengujian terhadap senjata psikotrononik yang bisa melumpuhkan pikiran manusia hingga ke kondisi setara dengan 'mayat hidup'." Komandan Intelijen Rusia itu berhenti sebentar lalu menjelaskan kembali atas penelitian tersebut.

"Penelitian ini setingkat lebih baik di bandingkan dengan penelitian yang dilakukan Remedy Farma saat itu," katanya membanggakan kulitas penelitian negaranya.

"Yang kita ketahui Remedy Farma melakukan kesalahan sehingga uji coba yang di lakukan gagal , bahan percobaan itu sendiri tidak dapat di kendalikan dan bermutasi sehingga penyebarannya yang meluas..."

Di layar LCD Inframerah yang berada di tengah-tengah Hall Room menampilkan aktifitas eksklusif para pekerja BWS yang sedang melakukan penelitian terhadap seorang tahanan negara. Mereka mengambil sampel darah sebagai bahan wadah uji coba.

Penelitian BWS ini merupakan senjata super yang dapat menyerang sistem syaraf pusat. Sebagai senjata yang dapat melumpuhkan musuh-musuh dan para pembangkang tentunya. Biological Weapon ini menggunakan radiasi elektromagnetis seperti yang di temukan pada microwave. Gelombang radiasi tersebut berfrekuensi rendah dapat mempengaruhi sel-sel otak, mengubah kondisi psikologis, bahkan memungkinkan seseorang mengirim perintah atau saran pada pikiran seseorang. Senjata yang dapat di katakan sebagai instrumen baru untuk mencapai tujuan politik dan strategis suatu negara.

"...Bahkan kami sudah mengungguli Amerika Serikat atas penelitian ini," ujarnya mengakhiri pidato.

Sasuke yang sedang duduk manis di kursinya berkali-kali mendengus mendengar penjelasan Komandan Rusia tersebut. 'Omong kosong,' pikirnya. Buat apa membuat penelitan seperti itu kalau ujung-ujungnya merenggut korban. Kurang lebih seperti itu pendapat yang ada di otak Sasuke saat ini.

"Mereka semua sama bodohnya dengan Remedy Farma," gumamnya pelan. "Semua yang telibat di Remedy Farma mati akibat percobaan mereka sendiri sekarang pihak Rusia melakukan yang sama, mereka ingin mengulang sejarah,eh?" Dalam hati Sasuke menertawakan mereka semua.

Seluruh hadirin keanggotaan militer kedua negara memberikan applause terhadap penelitian yang dilakukan pihak BWS tersebut dan juga sebagai penutup pidato salah satu orang terhormat di Rusia.

Baru saja akan melakukan acara penyerahan senjata antara kedua negara tiba-tiba terdengar suara ledakan di salah satu lantai Hall Room dalam gedung.

Wushhhh... Doommm..

Seluruh lampu gedung Hall Room lantai tiga belas mati bersamaan seperti sudah di rencanakan seseorang. Secara acak hanya lantai tiga belas saja yang mengalami gangguan listrik. Para hadirin gedung berdiri dari kursi mereka dan mulai terlihat panik. di ruangan yang gelap gulita tersebut mereka meminta penjelasan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Shikamaru yang posisinya dekat dengan bagian sound system segera mengambil tindakan cepat. Ia memberitahukan agar semua para hadirin untuk tetap tenang, dengan menggunakan alibi bahwa ada kesalahan teknis pada sistem generator listrik dan sedang diperbaiki secepatnya. Ia meminta beberapa agent untuk memeriksa kondisi generator yang berada di lantai basement gedung.

"Sasuke apa yang sebenarnya terjadi?" Naruto yang tiba-tiba berada di depan Sasuke terlihat begitu panik.

"Hn. Aku tidak tahu," ucapnya ragu. Sasuke berfirasat akan terjadi sesuatu yang buruk setelah ini. Dari awal mulainya acara entah mengapa hatinya mengatakan akan terjadi sesuatu.

"Shikmaru sudah melakukan tindakan tepat, sebaiknya kita juga harus turun tangan mengecek sistem generator di lantai basement,Teme!" Naruto menarik tangan Sasuke untuk pergi ke arah pintu keluar gedung Hall Room acara. Sasuke tidak merespon malah menarik tangannya kembali.

"Ada apa? Kita tidak bisa membuang-buang waktu," kata Naruto cemas.

"Pergilah duluan, nanti aku akan menyusulmu. Ada yang harus aku lakukan terlebih dahulu." Tanpa meminta persetujuan Naruto, Sasuke meninggalkannya dan berlari ke arah panggung Hall Room dengan sebersit senter kecil di tangannya sebagai penerangan.

Basement...

"Sebenarnya apa yang terjadi?" Salah seorang Agent yang baru saja datang bertanya kepada teknisi yang bekerja di bagian tersebut.

Ia turun menuruni tangga dan menepuk bahu teknisi yang terlihat sudah berumur itu.

Sretttt...

Dari arah belakang seseorang menyuntikan sesuatu ke tubuhnya. Tubuh Agent tersebut merosot jatuh ke lantai seiring kesadarannya yang mulai menghilang.

"Si..a..pa ka..uu." Tak sempat melanjutkan ucapannya Agent tersebut terhempas di lantai basement yang dingin.

"Selesaikan dia, Igor. Kita tak mempunyai banyak waktu," ujar teknisi tersebut lalu membuka topeng kulit yang melapisi wajahnya.

"Aa.. ," ujarnya dengan seringai yang mengerikan. Ia mengeluarkan Pistol SIGP250 dari dalam holster yang berada di pinggangnya dan mengarahkan moncong senjatanya di pelipis Agent tersebut. Darah mengalir deras dan menceceri lantai. Suara tembakan tidak akan berpengaruh di tempat genarator listrik karena suara mesin yang bekerja begitu nyaring.

"Mission Complete. Ayo kita pergi dari sini." Mereka melompati jendela hingga kaca tersebut pecah berkeping-keping.

Mereka terus berlari hingga menemukan jalan buntu. Di area belakang gedung itu sendiri di pagari kawat listrik bertegangan tinggi seperti tulisan yang tertera di atasnya 'Warning 200 ribu Volt'. Karena sudah memprediksikan akan terjadi seperti ini, pria yang di panggil Igor tersebut mengeluarkan grapple gunnya lalu mengarahkannya ke lantai teratas gedung. Begitupun teknisi palsu itu juga melakukan hal yang sama.

Brakkk..

Pintu Basement ruang pengendali terbuka lebar.

"Apa yang ter..jaa..di.." Para Agent yang lain berdatangan dan menyusul Agent senior Uzumaki Naruto di belakang mereka. Mereka terperangah melihat salah satu rekan mereka mati dengan darah berceceran di lantai menyisakan kaca jendela yang pecah karena di hancurkan seseorang.

"Lapor, Senior!Seseorang telah menyekap beberapa teknisi kita di dalam kamar mandi gudang," kata agent bawahan Naruto yang baru saja datang.

'Sebenarnya apa yang telah terjadi?' pikir Naruto cemas.

.

.

.

"Tugas kami selesai, kini giliranmu mengakhirinya."

"Good Job..G.A," ucap seseorang lewat sambungan telepon.

"Sisanya serahkan padaku. Kembalilah ke Cuarteles," lanjutnya. Panggilan pun terputus.

"Kalau terus-terusan di sini bisa-bisa aku masuk angin." Pria berambut merah bernama Igor itu menyindir rekan di sampingnya.

"Tch! Itu karena kerjamu yang lambat," katanya melewati Igor. Ia menghidupkan helikopter yang sudah stand by di sana. Dari awal mereka sudah mempersiapkan semuanya sesuai rencana.

Si pria merah Igor menyusul― masuk ke dalam helikopter. Angin berhembus kencang karena lokasi atap gedung ini memang di peruntukan untuk pendaratan helikopter para Agent Militer. Di tengah-tengah lantai atap gedung bertuliskan lambang 'H' yang kentara besar dan simbol-simbol kemiliteran yang entah apa artinya. Suara helikopter berbunyi tanda akan melakukan penerbangan. Mereka tak perlu takut ketahuan karena gedung sendiri di modifikasi kedap suara. Kalau kau ingin melakukan sesuatu kau harus tahu mengenai informasi musuh-musuhmu walaupun sekecil apapun.

Pria bercode nick name G.A mengambil alih kemudi helikopter dan terbang menjauhi gedung Hall Room Kemiliteran Jepang tersebut. Hebat sekali, tak ada yang menyadari keberadaan mereka. Sepertinya mereka memang spesialis di bagian penyusup.Ck

.

.

.

"Sudah kau perbaiki generator listrik di bagian lantai tiga belas?" Naruto bertanya kepada teknisi di depannya.

"Sudah. Semua sudah dalam keadaan normal," katanya yakin.

"Setelah ini kau dan teman-temanmu yang lain ikut aku ke ruang introgasi untuk menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya," perintah Naruto.

"Baiklah, Senior."

.

.

.

Lampu-lampu yang tadi mati kini menyala kembali di lantai Hall Room acara.

Para hadirin kemiliteran yang berada di sana bisa bernafas lega dan duduk kembali di kursinya masing-masing. Walaupun sebersit di otak mereka bingung dengan apa yang tengah terjadi sebelumnya.

Sasuke mengangguk kepada Shikamaru di seberang sana seolah mengatakan 'semuanya sudah teratasi'.

Sasuke memanggil salah satu Agent bawahannya dan memintanya untuk memanggil para Agent yang sudah menangani kesalahan teknis itu untuk segera kembali ke Hall Room. Cukup banyak Agent yang keluar dari Hall Room setelah matinya listrik.

"Tamu di persilahkan duduk kembali, semua sudah teratasi." Suara Komandan Danzou menggema di dalam ruangan gedung acara.

Komandan Rusia berjalan ke sisi panggung untuk turun dan duduk di kursinya kembali. Baru setengah perjalanan, tiba-tiba Komandan terhormat Rusia itu roboh dan terjatuh keras di lantai. Sebuah peluru menembus kaca sisi kanan gedung dan mendarat tepat di otak kepala sang Komandan Rusia. Peluru berdiameter 6,7 x 44 mm dapat menembus sisi kaca yang padahal gedung kaca itu sendiri sudah di desain anti peluru. Sejanta api yang canggih bukan.

Semua hadirin terbelalak. Shock apa yang mereka lihat.

Semua Agent Rusia berdiri dari kursinya dan mengambil senjata mereka dan mengarahkannya ke setiap sudut ruangan. Puluhan laser mengarah di berbagai sisi. Dan bunyi alarm peringatan darurat tingkat satu di nyalakan. Ahli medis berlarian untuk memeriksa kondisi Komandan Rusia itu namun sayang nyawanya sudah tak bisa di selamatkan lagi. Dari sisi kanan kepala terlihat lubang yang mengeluarkan banyak darah. Syaraf-syaraf otak semua sudah terputus begitupun detak jantung.

.

.

.

"Senjata yang hebat, Nicole!" Dari sisi gedung yang lain lebih tepatnya sisi kanan Hall Room Kemiliteran Jepang, seorang gadis duduk di samping jendela sambil memegang senjata laras panjang. Posisi lantai gedung yang bersamaan di lantai tiga belas mempermudahmu melihatnya dari seberang gedung.

"Aku membuatnya setahun yang lalu, dan aku senang kalau kau menyukainya," katanya sambil tengkurap di atas ranjang.

"Kaca anti peluru gedung itu tidak ada apa-apanya di banding senjata buatanku," tambahnya menyombongkan diri.

"Kau benar, tapi kau juga salah." Gadis di dekat jendela tersenyum penuh arti sambil melihat ke arah seberang gedung. Orang-orang di sana begitu panik sampai-sampai saling mengacungkan senjata satu sama lain.

Wanita yang becode name Nicole mengangkat alisnya bingung. Ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan rekannya itu. Seolah mengerti isi pikiran Nicole, wanita itu pun menjelaskan, "Senjata buatanmu memang hebat tak salah kau sebagai pembuat amunisi, tapi jika senjata yang hebat tidak di gunakan oleh orang yang hebat itu tidak akan ada artinya," katanya meledek.

"Ck. Bilang saja kau membanggakan dirimu," dengus Nicole tak percaya.

"Tapi aku akui kau memang sniper hebat yang pernah ku kenal," katanya sambil tersenyum.

"Aa..Sharp Shooter juga," tambah gadis di samping jendela.

"Huh..terserah kau lah. Ayo pergi, Cherry. Semuanya pasti sudah menunggu di Cuarteles."

.

.

.

Sasuke menjambak rambutnya frustasi. 'Sebenarnya apa yang telah terjadi' kata tersebut berseleweran di otaknya. Sudah yang ke berapa kalinya Sasuke mengumpat setelah kejadian ini. Gedung Hall Room tengah ribut saling menyalahkan satu sama lain atas matinya Komandan Rusia. Sepertinya setelah ini Jepang dan Rusia akan perang dingin kembali. Rencana yang di susun sedemikian rupa lenyap seketika.

Sasuke bergerak ke arah datangnya peluru tadi di susul Shikamaru di belakangnya.

"Senjata yang hebat." Shikamaru berkata di samping Sasuke. Mereka memperhatikan lubung yang cukup besar tersebut. Dan perhatian mereka teralihkan ke sisi seberang gedung. Seolah mendapat lampu terang di atas kepala mereka masing-masing. Tanpa perlu penjelasan satu sama lain mereka sudah paham. Mereka berlari ke lantai bawah gedung.

"Ayo cepat Shikamaru." Sasuke mengepalkan tangannya.

"Bisakah kau sabar sedikit. Kau ingin ke sana dengan tangan kosong. Dilihat dari kejadian tadi dia bukan orang yang sembarangan. Aku tidak mau mati konyol." Shikamaru memasang baju anti peluru dan holster dada dengan beberapa senjata di dalamnya lalu melapisinya kembali dengan jaket kulit. Sasuke juga melakukan hal yang serupa.

"Bagaimana pihak hotel bisa lengah seperti ini?" Sasuke memasukan pisau belati di holster pinggang miliknya.

"Pasti mereka sudah merencanakan ini sejak awal termasuk matinya listrik Hall Room," ungkap Shikamaru sambil memasukan beberapa peluru ke dalam Revolver miliknya.

"Laurie's Grand Hotel..." gumam Sasuke pelan. Ia merasa akan bertemu seseorang yang terduga di Hotel tersebut. Salahkan Sasuke yang terlahir sebagai Uchiha karena memiliki insting yang kuat.

"Atau jangan-jangan...!" Mata Sasuke membulat, mengingat seseorang yang pernah ada di hidupnya.

.

.

.

"Kalian mau kemana? Urusan kita dengan Kemiliteran Rusia belum selesai," teriak Ino yang berlari ke arah Sasuke dan Shikamaru.

"Ada yang harus kami selesaikan. Kau mintalah Naruto untuk membantumu untuk mengevakuasi mayat Komandan Rusia itu," perintah Sasuke. Shikamaru menoleh ke arah Sasuke tetapi Sasuke tidak terlalu menanggapinya. Bisa di ambil kesimpulan jika Sasuke tidak ingin ada yang tahu terlebih dahulu tentang penyidikan dadakan ini. Ino ingin menolak tapi Sasuke terlebih dahulu mengatakan "aku tidak menerima bantahan," katanya dingin.

"Baiklah," ucap Ino terpaksa.

Sasuke berlari keluar area Gedung Kemiliteran melewati beberapa mobil-mobil yang lewat di jalanan trotoar tepat di belakangnya Shikamaru menyusul. Hingga ia bertabrakan dengan sebuah mobil super sport keluaran Pagani. Karena begitu terburu-buru Sasuke tidak memperhatikan saat ia akan menyeberang jalan.

"Apa kau tidak apa-apa Sasuke?" Shikamaru menanyakan keadaan Sasuke yang sejak kejadian penembakan tadi lebih banyak melamun.

"Hn," gumamnya pelan. Sang pemilik mobil keluar dengan muka garang.

"Apa yang kau lakukan, kau ingin mati,eh?" Seorang wanita berperawakan tinggi dan langsing mengamuk.

"Maafkan teman saya, ia tadi terlalu terburu-buru hingga tidak melihat kalau anda akan melintas," kata Shikamaru mengambil alih keadaan.

Wanita itu masih tidak terima. Kalau mobil Sport mahalnya rusak bagaimana? Memangnya ia mau ganti rugi? Padahal ia baru membelinya kemarin. Tidak lucu kan kalau rusak.

Pintu kaca mobil Sport itu terbuka. Terlihat seorang gadis memakai kacamata hitam dan semua helai rambutnya tertutupi topi Snap backnya itu hingga tak terlihat sehelai pun rambutnya.

Semua mata mengarah padanya tak terkecuali Sasuke. Entah mengapa detak jantung Sasuke berdetak tak karuan. Ia merasa mengenal gadis tersebut entah di mana. Sasuke berusaha memperhatikan wajahnya sambil mencoba mengingat-ingat.

"Nicole no importa, debemos ir mas rapido." Gadis itu menutup kaca mobil kembali.

"Huh..awas kau!" Wanita bernama Nicole itu melotot kepada mereka berdua lalu kembali ke dalam mobilnya. Mobil menjauh dan semakin menjauh. Sasuke masih memperhatikan mobil tersebut di tempatnya berpijak dari kejauhan.

"Kau mengenalnya?" Shikamaru memecah keheningan.

"Tidak." Sasuke menggelengkan kepalanya pelan.

"Lalu ada apa?"

"Aku hanya teringat Sakura. Tapi sudahlah, kita harus cepat. Aku takut mereka sudah pergi dari Hotel―melarikan diri." Sasuke menepuk-nepuk celananya untuk membersihkan bekas debu setelah terjatuh di tanah aspal tadi, "apa yang kupikirkan?" desisnya sangat pelan. Ia berusaha memfokuskan pikarannya. 'Maafkan aku sayang,' ucapnya berkali-kali dalam hati sambil membayangkan wajah seorang Haruno Sakura.

TBC

.

.

A/N:

Hn. Que es? Acabo de recibir = Hn. Ada apa? Aku baru saja sampai.

Si, unos minutos mas que se llega a gran laurie's del hotel =Ya, beberapa menit lagi aku akan sampai di Laurie's Grand Hotel.

El nuevo juego se inicia =Permainan ini baru di mulai.

Aa...bueno. Conalegria = Aa...baiklah. Dengan senang hati.

Cuarteles = Markas

Nicole no importa, debemos ir mas rapido = Sudahlah Nicole, kita harus cepat pergi.

Holster = tempat menyimpan berbagai jenis: Holster dada, pinggang, paha.

grapple gun = sejenis senjata berbentuk pistol(bentuknya berbeda-beda) tetapi bukan untuk menembak dengan peluru melainkan sebagai alat pengait; bisa berpindah tempat satu ke tempat lain layaknya spider-man.

Pistol SIGP250 = buatan Amerika dan Jerman. Pistol semi otomatis. Di dasarkan pada operasi mundur dan di lengkapi dengan 17 peluru. Memiliki tampilan besi dengan basis 147 mm.

* Haiii...Lama banget baru publish ya? Nuri baru selesai UN jadi baru bisa ngetik. I'am very sorry about this. Bagaimana dengan yang satu ini? Maaf jika ceritanya jadi aneh dan tidak di mengerti, Setelah selesai PTN insallah Nuri bakalan Update penpik nuri yang terbengkalai. Doa'in Nuri di terima PTN yahh reader :D

* Maaf jika ada kesalahan dalam pengetikan bahasa Rusia dan Spanyolnya. Typo dan kesalahan eyd.

*Nuria sendiri tidak ada bermaksud untuk mendiskriminasi suatu negara, orang, atau pemerintahan apapun. Semua asli demi terbentuknya fict ini. Tolong di maklumi xD

*Dan tentang senjata psikotrononik itu memang asli nyata. Karena saat ini Rusia memang sedang melakukan penelitian itu. Silahkan searching di mbah google kalau mau tau lebih lengkap.

*Fictnya pendek lagi? Nuria gak kuat ngetik lama-lama itu pun ngetiknya lewat Smart Phone terlebih dahulu baru di salin ke lappy jadi agak lumayan ribet.

*Maaf gak bisa balas review satu-satu, lain kali nuri akan membalasnya jika sempat. Mungkin nuri PM aja jika ada yang ingin bertanya. And see you later reader^^

'Je te vois dans le chapitre suivant'

Mind To Review Everyone no exception Silent Reader..

Salam Kece,

Nuria Agazta