[3]
Ini hari Minggu, hari paling menyenangkan karena semua orang terbebas dari segala pekerjaan juga sekolah.
Pagi itu, Yuichiro sudah bersiap-siap akan keluar rumah. Seseorang berdiri di belakangnya, ketika remaja itu tengah mengenakan sepatu.
"Mau ke mana?" tanya Guren tiba-tiba, pria ini melipat kedua tangannya, menyandarkan tubuhnya pada dinding.
"Kencan.." Tak menoleh, Yuichiro menjawab asal-asalan.
"Kencan? Orang bodoh mana yang mau-maunya berhubungan dengan dirimu..?" ledek pria dewasa ini juga asal-asalan.
"Cerewet!" Yuichiro segera bangkit berdiri kemudian meraih ranselnya, "Aku pergi!" Remaja ini berlari keluar rumah.
"Hati-hati, jangan pulang terlalu malam.." teriak Guren, berharap si anak mendengar.
Walau hubungan ayah-anak ini tak terlalu baik, namun Guren tetaplah ayahnya, rasa khawatir tentu saja sering muncul. Apa lagi, Yuichiro hanya anak satu-satunya.
Akan pergi ke mana remaja ini? Tentunya tujuan dirinya hanya satu, hutan itu. Alasan kencan itu lucu, Yuichiro tak pernah berpikir jika kata itu yang akan keluar ketika ayahnya bertanya. Tapi ya sudahlah, anggap saja jika dirinya memang akan berkencan. Kencan di dalam rumah.
Ini kejadian di hari sebelumnya. Yuichiro sengaja mengajak Shinoa pergi ke toko boneka, ia berpikir jika gadis itu akan lebih tahu boneka apa yang pantas diberikan untuk seseorang. Mungkinkah Shinoa berpikir Yuichiro membeli boneka untuk dirinya? Jika iya, maka remaja itu akan sangat bersalah telah memberikan harapan palsu terhadap gadis itu. Tahu sendirikan tujuan Yuichiro membeli boneka untuk diberikan pada siapa?
"Wah, lucu.." ucap Mikaela kegirangan ketika dirinya mendapatkan boneka beruang dari temannya itu.
"Syukurlah jika kau menyukainya.." Yuichiro menghembuskan napasnya lega.
"Aku menyukainya karena kamu yang memberikannya.. Hehe, ini pertama kalinya aku mendapatkan hadiah.." Saking senangnya, Mikaela memeluk erat si boneka beruang tersebut.
Melihatnya, Yuichiro malah terkekeh geli, "Kamu jadi kayak anak perempuan.."
"Huh?" Manik biru menatap bingung, "Kau sendiri yang memberikan boneka, makanya aku jadi seperti anak perempuan.."
"Begitukah? Maafkan aku.."
Mikaela tersenyum manis, "Tidak apa.. Diberi apa pun aku juga senang kok.. Oh ya, kau tahu sejarah boneka beruang?"
Yuichiro menggeleng, "Memang gimana sejarahnya?"
"Namanya 'Teddy Bear', ini diambil dari nama seorang presiden AS tahun 1902. Waktu itu presiden sangat suka berburu, namun suatu hari ia tak mendapatkan buruan apa pun. Nah, karena merasa tidak enak, akhirnya pihak tuan rumah mengikat seekor beruang agar bisa ditembak oleh presiden. Tapi menurut cerita, presiden menolak karena merasa kasihan terhadap si beruang.."
"Lalu, hubungannya dengan boneka beruang apa?"
"Dengarkan dulu, aku belum selesai, Yuu-chan! Cerita tersebut meluas cepat di AS. Seorang animator di sana mengambil tema itu dan menjadikannya sebuah karya gambar kartun. Gambar itu menyebar luas di publik. Dan kemudian, toko boneka pada waktu itu menyiptakan sebuah boneka beruang yang sama persis seperti di gambar tersebut. Mereka juga mengirimkan surat pada presiden untuk meminta ijin menggunakan nama 'Teddy' sebagai nama boneka itu."
"Tunggu, memang nama presidennya siapa?"
"Kau tidak tahu? Namanya 'Theodore Roosevelt', dialah presiden AS ke-26.." terang Mikaela mengakhiri penjelasannya.
Yuichiro angguk-angguk, "Dari 'Theodore' jadi 'Teddy', lucu sekali.."
"Kabarnya si presiden juga mengijinkan namanya digunakan. Dan karena namanya digunakan, maka boneka bentuk beruang itu laku keras pada waktu itu.."
"Ahaha, kau tahu banyak ya, Mika? Aku saja tak sampai memperhatikan hal kecil seperti itu.."
"Hehe, aku membacanya dari buku.."
Buku? Yuichiro setengah berpikir, kira-kira ada berapa banyak buku yang dimiliki temannya itu.
Dan setelah itu, perbincangan mereka berlanjut. Awalnya sih hanya membicarakan hal-hal kecil seputar boneka inilah, boneka itulah. Hingga berujung pada beberapa jenis tanaman yang menghiasi daerah jendela kamar tersebut.
Mikaela bilang jika tanaman hias itu ada beberapa yang membahayakan namun ada juga yang menguntungkan. Memang jika meletakkan tanaman dalam ruangan itu tak bagus, katanya sih bisa menyerap oksigen secara berlebihan di waktu malam hari. Sehingga pada waktu tidur, manusia akan kekurangan asupan oksigennya dong.
Menurut Yuichiro, Mikaela adalah sosok yang sempurna, tahu banyak tentang segala hal. Hal-hal kecil yang tentunya Yuichiro sendiri tak mengetahuinya. Dan jika ditanya dari mana Mikaela tahu banyak hal, jawabannya adalah dari buku. Entah kenapa, buku merupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Ya karena buku adalah sumber pengetahuan. Iya gak sih?
"Aku lelah.. Aku mau tidur sebentar.."
Yuichiro melihat jam digital di pergelangannya. Jam sudah menunjukkan waktu siang, wajarlah jika ini waktunya tidur siang. Tapi itukan biasanya dilakukan anak-anak. Ah sudahlah.
Yuichiro menganggukkan kepala kemudian bergerak membantu Mikaela berbaring di kasur. Remaja bersurai kuning itu berterimakasih, perlahan memejamkan kedua matanya.
Dengkuran lembut terdengar samar. Secepat itukah dia tertidur? Yuichiro tak habis pikir, apa Mikaela benar-benar kelelahan? Remaja bersurai gelap itu kembali duduk di kursinya, perlahan ikut-ikutan memejamkan mata.
Sejauh ini, indera pendengaran dapat menangkap kicauan burung. Bagaimana pun juga, ini rumah di tengah hutan. Udara sejuk terasa berhembus perlahan dari arah jendela. Tak ada bising-bising orang berbincang, suara kendaraan, bahkan tv rumah tetangga. Seriuslah, tinggal di tempat tenang seperti ini tentunya dapat menyembuhkan diri dari segala penyakit.
Yuichiro kembali membuka mata, menatap ke arah Mikaela yang nampak tertidur pulas. Apa Mikaela sudah merasa sedikit baikan?
Ingin rasanya Yuichiro bertanya, tapi ia tak ingin bertanya terlalu jauh tentang penyakit yang diderita temannya itu. Karena walaupun dijelaskan, Yuichiro sendiri tak dapat berbuat apa pun untuk menjadikan segalanya lebih baik. Iya kan?
Yuichiro menghembuskan nafasnya pelan, hingga akhirnya dia malah ikut ketiduran.
Kemudian terasa sebuah udara hangat berhembus pelan, Yuichiro terbangun dan mendapati Mikaela sudah berada di hadapannya. Kedua tangan remaja bersurai kuning itu terletak di pundak Yuichiro, nampak tengah memberikan selimut. Manik hijau membelalak terkejut, jarak ini terlalu dekat, wajah Mikaela jadi jelas sekali terlihat di matanya.
"Ah, apa aku membangunkanmu?" tanya Mikaela sedikit tertawa kecil, "Aku pikir kau merasa kedinginan, hehee.." terangnya kemudian.
Saat ini Mikaela telah turun dari kasur. Yuichiro bisa melihat jelas bagian kaki temannya itu. Mikaela menggunakan celana pendek berwarna putih hanya selutut. Kakinya tak beralas, sekitar betisnya nampak sangat kurus, seperti tak memiliki daging. Perban putih juga meliliti kakinya, agak kendur hingga bisa dilihat jelas jika kulitnya yang putih pucat sedikit terkelupas, terdapat pula bercak-bercak berwarna merah gelap kehitaman.
Mungkin saat ini penglihatannya Yuichiro lagi tidak beres, namun manik hijaunya menangkap adanya tulang mengecap di daging temannya itu. Bahkan ketika Mikaela berjalan saja, jejak-jejak berwarna merah sedikit tertinggal di lantai.
"Mi- Mika.., kakimu.." ucap Yuichiro pelan.
"Tenang.. Aku bisa mengatasi ini.." balasnya sembari tersenyum manis.
Yuichiro menatap lurus ke arah manik biru itu. Temannya itu tersenyum tapi ada sesuatu yang ia sembunyikan, seperti merasakan kesakitan. Yuichiro ingat dulu Mikaela mengatakan akan terasa sakit jika dirinya menggerakkan kakinya.
Jadi sudah pasti jika Mikaela tidak bisa berjalan dengan kondisi seperti ini. Dan dia juga tak baik-baik saja. Semua sudah jelas dari raut kesakitannya yang terlukis samar. Baiklah, Yuichiro memang bukan ahli membaca raut wajah, tapi tak ada salahnya kan dia berpikir demikian?
Lalu sekarang, Mikaela turun dari kasur dengan susahnya hanya untuk memberikan selimut? Hanya supaya si Yuichiro tidak kedinginan?
Yuichiro entah kenapa kesusahan untuk bernapas. "Aku bisa mengatasi kedinginan ini. Kau seharusnya tak memaksakan diri, Mika.." ucapnya.
Mikaela terdiam, "... Baiklah.."
Yuichiro berdiri dari duduknya, hendak membantu Mikaela kembali ke kasur. Ia membopongnya. Dengan keadaan hampir berpelukkan seperti ini, Yuichiro bisa merasakan aroma tubuh temannya itu. Aroma obat. Yuichiro entah kenapa merasa mual.
"Hei, Yuu-chan.. Bagaimana jika kita keliling rumah? Aku bosan di kamar terus.." usul Mikaela tiba-tiba.
"Apa? Tidak! Aku menolak! Kau sedang tidak baik-baik saja, Mika!" balas Yuichiro tentunya menolak.
"Aku sudah bilang jika aku bisa mengatasi ini.." Mikaela bergerak melepaskan rangkulannya, berusaha untuk berdiri tegak. "Lihat?"
Yuichiro mengamati dengan hati-hati, "Kau yakin?"
Kepala bersurai kuning mengangguk mantap, "Nah, ayo keluar.. Kau pasti laparkan?" Mikaela melangkahkan kakinya pelan, namun baru beberapa langkah saja, keseimbangannya goyah membuat dirinya hampir saja terjatuh.
Yuichiro segera buru-buru meraih temannya itu, menyangga dengan lengannya agar Mikaela tak benar-benar terjatuh ke lantai dingin. Manik biru melirik, menatap ke arah temannya yang tengah menunjukkan raut kekesalan.
"Yuu-chan.. Mukamu jelek.."
"Ini yang kau sebut bisa mengatasi!?" Nada suara Yuichiro meninggi. "Kembali ke kasur dan istirahat! Masalah lapar itu bukan apa-apa!" lanjutnya sedikit membentak.
"Yuu-chan mah gitu.."
"Lah mau gimana lagi!?"
Mikaela cemberut, menundukkan kepala, mulai merasa bersedih hati. Remaja bersurai kuning itu melangkah dalam diam, menolak dibantu temannya kembali ke kasur. Apa ini? Yuichiro garuk-garuk kepala, apa temannya itu ngambek?
"Baiklah-baiklah.." ucap Yuichiro akhirnya. Mikaela melirik, apanya yang baiklah? Yuichiro melangkah lebar mendekati temannya itu, kemudian ia berlutut memunggungi. "Naiklah.."
"Huh?" Mikaela bingung.
"Kubilang naiklah! Akan kugendong dirimu! Aku tak mungkin membuatmu kesusahan kan!?" Yuichiro sepertinya sedang frustasi.
"Oh.." Mikaela mengangguk, "Kenapa gendong di belakang? Aku pikir bakalan bridal style.." tanyanya sedikit jahil.
"Cerewet!"
"Kau yakin? Aku berat loh.."
"Shut up! And just do it!"
"... Okay.." Mikaela akhirnya menurut naik ke punggung Yuichiro. "Yuu-chan kalau ngambek jelek.." gumamnya pelan.
Yuichiro diam, lelah meladeni.
Sebenarnya tubuh Mikaela tak terlalu berat, Yuichiro sendiri sempat terkejut ketika mengendongnya. Entahlah dirinya tengah mengendong perempuan atau laki-laki yang kekurangan gizi. Ngomong-ngomong, Mikaela itu selalu berada di kamar setiap saat, apa pola makannya teratur?
Tiba di ruang makan, di sana nampak mejanya sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan. Yuichiro melongo, sejak kapan?
"Kenapa hanya diam saja?" tanya Mikaela di belakang punggung temannya itu.
"Aa, ini.." Yuichiro kesusahan merangkai kata-kata.
"Sebaiknya segera makan, nanti keburu dingin.."
Yuichiro melangkah dalam diam, ia membantu temannya itu duduk di atas kursi. Pikiran aneh-aneh menghantui otaknya. Apa dokter yang katanya datang setiap hari itu yang menyediakan ini semua? Tapi masa ada dokter datang untuk memasak? Atau jangan-jangan ketika tadi dirinya tidur, Mikaela diam-diam bergerak dan menyiapkan ini semua?
Masa iya? Jika dilihat dengan sebelah mata saja, hidangan ini terlalu mewah, maksudnya, Yuichiro jarang-jarang makan yang tampilannya lengkap macam begini. Biasanya makan seperti ini jika ada perkawinan teman bokapnya, atau tidak jika bokapnya lagi baik ngajak makan di restoran bintang atas. Jadi mana mungkinkan Mikaela menyiapkannya sendirian dengan kondisi seperti itu?
"Yuu-chan pasti berpikir tentang semua ini kan?" suara Mikaela tiba-tiba membuyarkan Yuichiro dari bengongnya.
"Kau serius tinggal di sini sendirian?" Akhirnya Yuichiro bersuara.
"Iya, begitulah.. Memangnya siapa yang mau tinggal di sini bersamaku?"
"Lalu bagaimana dengan ini semua? Kau mana mungkin kan mempersiapkan ini semua? Lagipula jika semisal dokter yang kau maksud itu datang, mana mungkin kan.."
Lelah mendengarkan celoteh Yuichiro yang sepertinya tak ada batas, Mikaela bergerak tanpa suara menyuapkan sepotong daging ke dalam mulut temannya itu. Yuichiro bungkam sembari mengunyah pelan.
"Apa ini?" tanyanya.
"Salmon, enak kan?"
Yuichiro terdiam kemudian berkutat pada makanannya. Tak tahulah ini makanan asalnya dari mana, setidaknya rasa tak pernah bohong. Mikaela terkekeh geli melihat temannya yang dicekoki makanan saja sudah diam tanpa suara. Mungkin Yuichiro lagi lapar, makanya tadi cerewet banget.
Masalah dengan makan akhirnya sudah selesai. Yuichiro sudah tidak mau berkomentar lagi tentang makanan penutup atau pencuci mulut. Bodo amat itu semua asalnya dari mana, setidaknya perut bisa kenyang.
Kembali melanjutkan perjalanan. Bisa dibilang rumah ini luas, selama ini kan Yuichiro hanya main langsung ke kamar saja, tak pernah dirinya lihat-lihat ruangan lain. Mikaela menawarkan berdiam di perpustakaan namun Yuichiro menolak, cari ruangan lain saja, perpustakaan itu memusingkan. Dan berhentilah mereka di ruangan dengan piano berwarna putih di tengahnya.
"Wah.." Yuichiro entah kenapa malah terkagum-kagum. "Kau bisa main piano?" tanyanya kemudian.
"Tidak.. Biola aku bisa.." balas Mikaela santai.
"Lalu kenapa kamu punya piano?"
Mikaela menatap ke arah lain, nampak sedang berpikir, "Hiasan? Dekorasi? Entahlah, aku suka suaranya.."
"Dasar kau ini.." Yuichiro menurunkan temannya itu di kursi.
"Yuu-chan sendiri? Bisa main?"
"Jangan ditanya, sejak kecil hanya bisa niup terompet pas tahun baru.." ucap Yuichiro sembari menekan tuts secara asal-asalan.
"Ini.." Mikaela menyerahkan beberapa lembaran kertas.
"Dari mana kau mendapatkannya?"
"Aku menemukannya tergeletak di bawah kursi.."
Yuichiro melirik ragu, tadi ketika pertama masuk ia sama sekali tak melihat adanya kertas atau sejenisnya di bawah kursi. Ah sudahlah, buang semua pikiran negatif.
"Jika membaca not balok kamu bisakan? Ayo main ini bersama, aku primo, kamu secondo."
"Konsepnya ansambel ya? Jangan bercanda, ah!" Yuichiro menurut duduk di samping kiri temannya, "Jika membaca langsung, aku mana bisa.."
"Berlatihlah untuk primavista, Yuu-chan. Secondo kan lebih mudah dari primo.."
"Cerewet kau!"
Permainan amatiran pun berjalan, agak macet-macet bahkan kadang salah menekan nada. Yuichiro itu memang tak terlalu mahir musik. Mikaela entah kenapa kembali cekikikan melihat tingkah temannya yang dikit-dikit latah jika salah baca. Lucu saja, bukan berarti menghina loh..
"Ah..?" Mikaela tiba-tiba menghentikan pergerakkan jarinya.
"Kenapa?" Yuichiro bertanya, melihat ke arah temannya kemudian beralih ke jari jemarinya.
Jari-jari itu sedikit bergetar, bahkan ketika berusaha untuk digerakan, dapat terdengar bunyi tulang gemeretak. Agaknya, Mikaela berusaha untuk kembali menggerakkan jari-jarinya.
Yuichiro segera meraih tangan Mikaela, "Mungkin kau kelelahan.. Sebaiknya kembali istirahat!" Tak pikir panjang, remaja ini segera menggendong temannya itu kembali ke kamar.
Mikaela terduduk dalam diam ketika dirinya sudah tiba di kamar, jari meremas ujung pakaiannya sendiri.
"Hei.." Yuichiro yang berada di hadapannya, sedikit membungkukkan badan. "Mau kubantu mengganti perban?"
Mikaela mengangkat wajahnya, terkejut. "Tak perlu, itu akan merepotkanmu.."
"Tidak apa.. Lagipula dokter yang seharusnya membantumu tak datang hari ini.. Dan, perban itu seharusnya diganti kan?"
Mikaela kembali menundukkan kepala, "Baiklah, jika itu maumu.. Ambilkan sebaskom air hangat, handuk bersih, dan pergilah ke ruangan obat di samping barat taman dalam. Ambil obat cair serta krim di sana, oh, dan juga perban.." terangnya panjang lebar.
Yuichiro tak yakin dirinya dapat mengingat penjelasan itu dengan benar. Setidaknya ia harus mengambilkan apa yang dibutuhkan, bukannya ia berencana membantu?
Makan sekitar beberapa menit untuk Yuichiro mencari, hingga akhirnya semua yang diperlukan sudah terkumpul. Yuichiro tak bohong jika dirinya tadi sedikit mual di ruangan obat. Itu obat ada banyak sekali macamnya, apa Mikaela berencana membuka toko obat?
Ah, sudahlah!
"Kau akan jijik melihatnya, sebaiknya tak perlu membantu.." ucap Mikaela ketika Yuichiro sudah berlutut di hadapannya.
"Sudah mana sini, perlihatkan kakimu!" suruh remaja bersurai gelap itu kemudian.
Mikaela perlahan menjulurkan kakinya. Sekarang Yuichiro bisa melihat dengan jelas seperti apa kaki temannya itu. Auh, ini benar-benar sangat mengerikan. Ketika tangan Yuichiro menyentuhnya saja, daging itu amat sangat lembek. Bau obat serta darah mengoar, Yuichiro rasanya ingin muntah tapi dirinya menahan.
Pertama melepas perban. Remaja bersurai gelap itu melakukannya dengan hati-hati. Mikaela sedikit merintih. Yuichiro berusaha menyamankan dengan handuk basah. Serius, perbannya sedikit lengket dengan kulit temannya itu, mungkinkah sudah tak di ganti cukup lama?
Benda putih yang cukup kokoh terlihat di antara daging itu. Yuichiro berpikir, ini tulang? Tapi penyakit apa ini?
Setelah melepas perban, Yuichiro membersihkan darah-darah yang sudah menghitam dengan handuk basah. Kemudian mengoleskan krim obat apalah itu yang tadi diambilnya dari ruangan obat. Remaja ini melakukannya dengan hati-hati, tak ingin jika temannya merasakan sakit.
Terakhir, lilitkan kembali kaki itu dengan perban baru. Dan selesai..
"Oke.." Yuichiro mengelap tangannya dengan handuk baru. "Merasa lebih baik sekarang?" Remaja ini menatap temannya yang sepertinya masih terdiam.
Mikaela menatap kosong ke arah lantai.
"Hei, Mika.." panggil Yuichiro pelan, menyentuh pundak temannya itu.
"Huh?" Mikaela mengangkat wajahnya, menatap ke arah Yuichiro. "Oh, iya.. Terima kasih.."
Yuichiro mendengus, kesal karena dicuekin sepertinya.
"Sebaiknya kau pulang sebelum malam.." ucap Mikaela, memperhatikan ke arah jendela.
Pandangan Yuichiro mengikuti temannya, ya memang, hari di luar sana nampak hampir malam. Jam juga sudah menunjukkan pukul 6 kurang 10 menit.
Yuichiro mendengus, sebenarnya remaja ini tak mau buru-buru untuk pulang. Toh nanti di rumah juga ayahnya tidak ada. Tapi mau bagaimana lagi? Si pemilik rumah sudah menyuruh untuk pulang, jadi ya harus nurut dong.
"Aku sebenarnya tak ingin meninggalkanmu secepat ini, Mika.." Yuichiro berkata jujur, sembari melangkah mengambil tasnya yang tadi tergeletak di samping kursi.
"Aku tahu.. Aku juga tak ingin berpisah denganmu.." balas remaja bersurai kuning itu pelan.
Yuichiro terdiam, ternyata temannya itu juga berpikiran sama dengan dirinya. Entah dirinya merasa senang atau apa..
Remaja bersurai gelap itu melangkah ke hadapan si Mikaela, tangan menjulur kemudian mengacak-acak surai kuning itu. Mikaela sedikit bergumam protes.
"Hehe.." Yuichiro terkekeh kecil, "Ya sudah, aku pulang.. Kamu jaga diri baik-baik ya.."
Yuichiro akhirnya pergi keluar. Manik biru terus memperhatikan hingga remaja bersurai gelap itu menghilang di balik pintu. Hati terbesit untuk bergerak, maka remaja ini menggerakkan kakinya dengan susah payah, berjalan ke arah jendela memperhatikan temannya yang entah kenapa sudah keluar rumah dengan tergesa-gesa.
Mikaela tersenyum lembut sembari memegangi kepalanya sendiri.
-[xXx]-
Yuichiro melangkahkan kakinya secara perlahan menuruni tangga rumah Mikaela. Dirinya sejak tadi terus memikirkan tentang keadaan temannya itu. Maksudnya, Mikaela benar-benar tinggal sendirian dalam rumah itu, tanpa siapa pun yang mengurus atau menemani.
Apa lagi tentang penyakit yang diderita Mikaela, kaki itu.. Membayangkannya saja Yuichiro merasa ngeri sendiri. Lalu bagaimana cara Mikaela mengurus semua itu tanpa ada orang di sisinya?
Yuichiro mendengus singkat, mengingat-ingat ucapan Mikaela sebelumnya, jika katanya setiap hari ada dokter yang datang dan mengganti perbannya. Jadi sudah pasti jika temannya itu baik-baik saja.
Apa guna risau? Sudah pasti jika Mikaela akan baik-baik saja kan?
Kriet!
Yuichiro menegakkan tubuhnya, menghadap ke arah samping dimana tadi bunyi itu berasal. Dan ternyata, seekor kucing hitam muncul dari balik pintu di samping tangga.
"Oh, rupanya kau.."
Kucing hitam itu menatap ke arah Yuichiro dengan matanya yang berwarna kuning. Tatapan matanya sama seperti ketika Mikaela menatap dirinya dan menyuruhnya untuk cepat pulang. Seketika Yuichiro terdiam, entah kenapa merasakan merinding di sekitarnya.
Ada apa ini?
Suasana sekitar tiba-tiba terasa gelap. Angin entah darimana berhembus lembut membuat bulu kuduk seketika berdiri. Yuichiro sendiri entah kenapa merasa risau. Ia kembali melangkah, langkah cepat menuju ruang utama.
Tiba-tiba, lantai bergetar. Manik hijau menatap ngeri ketika tembok kanan maupun kiri bergerak hendak menghimpitnya. Dengan segera remaja ini membawa diri ke arah pintu. Parahnya terkunci.
Yuichiro mau tak mau mendobraknya dan BRAK!
Tembok kanan kiri sudah merapat. Yuichiro terduduk kaku di pekarangan rumah Mikaela, maniknya menatap horor rumah di hadapannya. Perlahan melirik ke arah lain, ke arah sekitar. Langit sudah gelap, angin berhembus kasar, menggoyangkan pepohonan di hutan. Keadaan cukup gelap, tak ada bulan di atas sana yang mau menyinari.
Yuichiro tanpa pikir panjang bangkit berdiri kemudian menggerakkan dirinya berlari ke luar hutan. Sulur-sulur berduri bunga mawar entah kenapa terlihat hendak menutupi jalan. Remaja itu mempercepat langkahnya dan melompati tanaman itu.
Nafas sedikit tersenggal-senggal akibat berlari tadi. Ada apa dengan ini semua?
Remaja itu memalingkan pandangannya kembali melihat ke belakang, ke arah hutan. Tak ada apa-apa di sana, tak ada sulur-sulur berduri yang menghalangi. Itu hanya rumah Mikaela. Lalu tadi itu apa?
Yuichiro tak habis pikir. Entah kenapa jantung berdengup kencang, perasaannya berkecamuk, entah ketakutan atau apa. Remaja ini segera melanjutkan perjalanannya, berlari secepat yang ia bisa menuju satu tujuan, yaitu rumahnya sendiri.
Akhirnya remaja ini tiba di rumah, seorang pria dewasa terduduk di teras. Nampaknya, pria itu tengah menunggu kepulangan anaknya.
Mengetahui jika Yuichiro sudah datang, Guren segera berdiri dan menghampiri anaknya, "Anak bodoh, jam berapa sekarang!?" ucapnya seperti mau marah.
Yuichiro terdiam, mengangkat wajahnya menatap pria itu. Manik ungu kelam milik Guren entah kenapa sedikit terkejut.
"Hei, ada apa denganmu?"
Yuichiro kembali menundukkan kepala. Entah kenapa dirinya terasa ingin menangis.
-[xXx]-
[4]
Hari berikutnya, Yuichiro melangkah gontai memasuki rumahnya. Sekolah di hari Senin itu memang menyebalkan, selain menyita waktu, sungguh sangat pelajarannya amat membosankan.
"Oh, sudah pulang rupanya?"
Yuichiro sedikit bengong menatap ke arah ayahnya yang tengah duduk santai di sofa depan televisi. Tumben ayahnya itu ada di rumah, biasanya juga pulang larut.
"Hari ini tak terlalu banyak kerjaan, jadi bisa cepat pulang.." terang Guren seperti mengerti maksud bengong anaknya itu. "Sudah makan?" tanyanya kemudian. Gelengan pelan merupakan jawaban. Guren mendengus pelan kemudian bangkit dari duduknya, "Ya sudah, sana istirahat sebentar.. Akan papa buatkan makan.."
Entah hari ini merupakan keburuntungan atau apa. Yuichiro merasa jika ayahnya belakangan ini bersikap peduli sekali. Apa karena kejadian kemarin? Setelah kembali, Yuichiro langsung saja mengurung diri di kamar. Guren sudah bersusah payah mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Jika dipikirkan, Yuichiro entah kenapa ingin tertawa sendiri. Kemarin itu dia kenapa ya?
Remaja itu memasuki kamarnya, meletakkan tas di atas meja kemudian memandang ke luar jendela. Hari ini cuaca nampak mendung, untung saja dirinya sudah tiba di rumah sebelum hujan turun.
Jika dipikirkan, hari ini dia tidak pergi ke rumah Mikaela ya? Yuichiro entah kenapa merasa risau sendiri. Sungguh, ada apa dengan dirinya? Apa yang ia khawatirkan? Rumah di tengah hutan? Temannya itu? Atau kaki kering yang menjijikkan itu?
Yuichiro memejamkan matanya kuat. Sudahlah. Untuk apa dipikirkan?
Seketika rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Dengan keadaan seperti ini, sudah bisa dipastikan jika Yuichiro tak mungkin pergi ke rumah temannya itu.
Remaja bersurai gelap ini mebawa diri ke kasur, merebahkan diri, melamun menatap langit-langit. Matanya perlahan menutup, mungkin sedikit kelelahan.
Dalam tidur, Yuichiro entah kenapa bermimpi tentang temannya itu. Mikaela nampak tengah terduduk menatap ke luar jendela, seperti terus menunggu akan datangnya seseorang. Namun hari itu, seseorang yang dimaksud tak kunjung datang, padahal cuaca di luar nampak cerah. Mikaela berpikir jika sesuatu yang buruk terjadi pada seseorang itu.
Hingga hari demi hari bahkan minggu serta bulan, dia tetap tidak datang. Mikaela akhirnya berpikir jika dirinya telah dilupakan, lalu untuk apa dirinya menunggu? Untuk apa dirinya terus mempertahankan hidup?
Yuichiro segera terbangun dari tidurnya. Tubuhnya entah kenapa bergetar, ia terkejut atau mungkin ketakutan?
Tanpa pikir panjang, remaja itu segera bangkit berdiri dan ke luar dari kamar.
"Yuu?" Guren tampak terbingung ketika melihat anaknya dengan langkah terburu-buru ke luar dari rumah.
Yuichiro terus saja berjalan bahkan berlari tanpa mempedulikan panggilan ayahnya di belakang sana. Tak peduli juga dengan rintik hujan yang sudah semakin deras. Dalam perjalanan, Yuichiro kembali mengulang perkataan Mikaela ketika mereka pertama kali bertemu.
Kau tidak takut? Itu yang ditanyakan temannya.
Mikaela bertanya demikian, karena dia tahu, setiap orang akan ketakutan melihat dirinya. Hingga sekarang pun, Mikaela selalu menjaga jarak dengan dunia luar, karena dirinya juga takut jika mendapat penolakan.
Lalu, Yuichiro datang dan dengan bodohnya mengatakan jika dirinya tidak takut. Mungkinkah selama ini hanya Yuichiro yang mau mengulurkan tangannya. Menemani bahkan menerima Mikaela apa adanya.
Yuichiro merasa dirinya tolol, ketika dirinya merasa ketakutan bahkan jijik dengan penyakit temannya itu. Untuk apa dirinya harus takut?
Langkah kaki terhenti, remaja itu tidak ingat sejak kapan dirinya sudah tiba di depan rumah temannya itu. Seluruh pemandangan di sekitar masih sama seperti dulu. Rumah itu bahkan segala tanaman di sekelilingnya. Lalu yang kemarin itu bohongkan?
Yuichiro melangkah perlahan memasuki rumah tersebut. Begitu pintu utama terbuka, angin yang cukup hangat menerpa dirinya. Yuichiro berusaha menstabilkan detak jantung bahkan napasnya yang naik turun.
Kaki menaiki tangga menuju atas. Memantapkan hati hingga akhirnya membuka pintu kamar di hadapannya.
"Yuu-chan?" Mikaela nampak terkejut dengan kehadiran temannya itu.
Yuichiro tak berkata-kata, ia melangkahkan kakinya mendekat dan duduk di kursi yang biasanya ia tempati.
Manik biru itu menatap khawatir ke arah pakaian temannya yang basah, "Kenapa? Di luarkan hujan.."
"Itu.." Yuichiro melirik ke arah lain. Ini di luar perkiraan, dirinya sendiri juga tidak tahu kenapa dengan nekat menerobos hujan hanya untuk mengunjungi temannya. Tak menemukan alasan lain, akhirnya Yuichiro jujur terhadap dirinya sendiri. "Karena.. Karena aku merindukanmu.." akunya sembari tersenyum kecil.
Mikaela terdiam, membulatkan mata, tentunya terkejut. Namun kemudian, senyum manis menghiasi wajahnya, mungkin kah ia senang?
Ya, senyum itulah yang ingin Yuichiro lihat setiap saat. Karena remaja ini tahu, Mikaela tak memiliki siapa-siapa lagi selain dirinya, hanya Yuichiro-lah teman satu-satunya. Dan dengan semua itu, Yuichiro bersumpah dalam hati tak akan pernah meninggalkan Mikaela, apa pun yang terjadi.
