Sehun
Manik rusa itu membulat tak percaya ketika mendengar ucapan yang keluar dari pemuda pemilik manik heterocome yang berdiri di hadapannya. Wajahnya yang datar datar tanpa ekpresi kini tampak kaget mendengar ucapan sehun.
"A-apa?" Dengan tergagap pemuda bersurai coklat itu-Luhan bertanya lagi. Menatap bingung Sehun yang sekarang masih memenjarakan tubuh mungilnya dengan lengannya.
Punggung Luhan sudah membentur tepian mobil milik Sehun. Semua orang yang disana bahkan banyak yang menatap mereka. terutama kaum hawa, yang tak hentinya menatap ketampanan dari seorang Oh Sehun. Seorang kapten Basket dari SIHS yang datang ke SOPA itu adalah hal yang langka bukan?
"Aku akan pindah ke SOPA . Hari ini juga." Sehun memamerkan senyumannya-ah bukan melaikan seringaiaannya yang selalu ditunjukan untuk Luhan , sebelum pemuda bersurai blonde itu berbisik pelan di telingannya. Bahkan Luhan harus menahan napasnya , ketika hembusan napas hangat Sehun menerpa lehernya.
Jantungnya benar-benar sudah berdetak tak karuan sekarang, ia ingin lari sekarang juga tapi tubuhnya tidak bisa bergerak, ketika Sehun semakin merapatkan tubunhnya.
Luhan menelan salivanya gugup.
Dengan perlahan ia mendongakkan kepalanya, untuk menatap Sehun yang masih menatapnya dengan intens.
Manik rusanya terhipnotis dengan manik heterocome milik Sehun, apa yang di kepalanya seakan hilang seketika saat menatap mata Sehun yang menatapnya dengan dalam.
" Jadi Lu , ayo kita masuk ke kelas sekarang, sebentar lagi bell masuk akan berbunyi" Sehun masih tersenyum, mentap Luhan yang masih terdiam.
"T-tunggu Sehun-ah, apa kau benar-benar serius tentang keputusan mu?" Luhan kembali bertanya dengan wajah bingungnya. Sepertinya, kesadaran Pemuda bersurai coklat itu belum sepenuhnya kembali.
"Hn, aku serius Lu."
"Sehun-ah, sebenarnya apa yang kau inginkan? Kenapa kau harus pindah kesini?" Luhan dapat melihat Sehun menyunggingkan senyum menawannya.
Sehun mendekatkan wajahnya, hingga jarak diantara mereka semakin menipis, aroma mint yang menguar dari tubuh Sehun sekarang berbaur dengan aroma vanilla milik Luhan. Entahlah, Luhan bahkan menghirup aroma itu dengan cepat, apalagi aroma tubuh mereka yang bercampur itu sangat pas dan sesuai.
"Aku menginginkan mu Lu." Alis Luhan mengernyit heran, saat mendengar ucapan dari Sehun. Apa pendengarannya sekarang sedang bermasalah? Seorang Oh Sehun menginginkannya? Hey ! Itu tidak masuk akal bukan? Tolong katakan pada Luhan kalau ia hanya salah dengar.
"Kau gila Sehun-ssi." Luhan menatap Sehun tajam. Mencoba mencari tau , bahwa sang pemilik manik heterocome yang ada di dapanya ini tengan berbohong atau mabuk.
"Ya, aku gila karena menginginkan mu Lu." Luhan mendorong tubuh Sehun, agar menjauh darinya. Dan dia berhasil, tubuh Sehun terdorong beberapa centi. Luhan menarik napasnya dengan pelan dan menghembuskannya dengan kasar sebelum menatap Sehun yang tersenyum penuh arti kearahnya.
"Sehun kau benar-benar gila, aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran dan keinginanmu itu. Jangan main-main Sehun-ah. Jika ayah mu tau kau pindah sekolah, kau akan di hukum. Kau harus pergi Sehun, bell masuk sudah berbunya beberapa saat yang lalu, kau harus tetap sekolah di SIHS, dan kembali ke tempat mu." Baru kali ini Luhan berbicara panjang lebar dengan Sehun. Sungguh , Luhan hanya ingin menyadarkan keinginan aneh seorang Oh Sehun. Luhan tidak bisa menjamin, jika ayah Sehun tahu bawa anak nya pindah ke SOPA sekolah baru seperti ini. Ayah Sehun itu kejam, Luhan hanya tidak ingin Sehun di hukum oleh ayahnya, ketika Sehun kalah dalam pertandingan Winter Cup saja Sehun mendapat hukuman dari ayahnya karena dalam keluarga Oh tidak ada yang namanya kekalahan. Tentu saja, keluarga Oh selalu menang, tidak ada kata 'kalah' dalam kamus mereka.
"Tidak, sebelum kau menuruti keinginan ku, Luhan." Dan alis Luhan mengernyit heran. Kenapa sekarang dia harus menuruti si brengsek Oh Shit hun ini.
"Sehun-ssi aku tidak akan menuruti semua keinginan mu itu. Lebih baik kau segera pergi."
"Kalau begitu aku akan tetap pindah ke SOPA. Bagaimana menurut mu, Lu?" Luhan menghela napas pelan. Ia lelah, tidak ingin mengubris ke inginan Sehun. Lagi pula kenapa ia harus jadi milik Sehun? Dia bukan gay kan? Lagi pula Luhan masih menyukai perempuan, walaupun itu patut untuk di pertanyakan.
"Baik, aku akan menuruti semua kemauan mu Oh Sehun, dan sekarang kau bisa pergi." Luhan mendorong tubuh Sehun, sehingga tubuh pemuda berambut blonde itu menjauh dari darinya.
"Keputusan yang tepat, Luhaniie`fuih~`Sehun meniup telingan Luhan dengan sensual." Dan Sehun kembali memamerkan seringaiannya miliknya. Membuat Luhan bergidik ngeri dan geli secara bersamaan saat melihatnya. Sepertinya keputusan menerima tawaran dari Sehun itu adalah hal yang buruk.
"Luhaie, kenapa kau tidak masuk kelas? Suara melengking milik Baekhun membuat Sehun dan Luhan menoleh ke arahnya. Luhan yang melihat Baekhyun bagaikan dewa penyelamat itu tersenyum senang. Sedangkan Sehun mendecih tak suka ketika pemuda pendek bereyeliner itu mendekat kearah mereka."Oh Sehun kenapa kau ada disini?"
"Bukan urusan mu pendek." Sehun menatap tajam Baekhyun. Sementara Luhan menggaserkan tubuhnya ke samping Baekhyun agar menjauh dari Sehun.
"Aku akan menjemput mu sepulang sekolah, Lu." Sehun mengacak surai coklat milik Luhan sebelum ia berbalik dan masuk kedalam mobilnya, dan menjalankan mobilnya menjauh dari Luhan yang sekarang menatap mobil Sehun dengan pandangan kosong.
"Ada hubungan apa kau dengan Sehun, Lu?" Baekhyun bertanya, ketika melihat mobil Sehun sudah menjauh dari pandangannya. Lalu menatap Luhan dengan pandangan menyelidik.
"Tidak ada Baek." Luhan menundukan kepalanya. Sungguh, ia masih meruntuki keputusan nya itu. Seharusnya ia tidak menuruti kemauan Sehun. Akan menjadi bencana jika Sehun menyuruhnya hal hal aneh. Apalagi ketika mengingat perkataan pemuda itu ingin memilikinya. Hell! Jantungnya bahkan berdeta tak karuan ketika memikirkan perkataan yang di ucapkan oleh Sehun tadi. Demi Tuhan! Ini salah. Seharusnya ia menolak saja tai. Hei lu penyeselan memang selalu datang terakhir.
"Baiklah, ayo kita ke kelas saja Lu." Dan Baekhyun menarik tangannya sehingga Luhan mengikuti langkah pemuda bereyeliner itu.
O)(O
Tidak terasa waktu sudah menunjukan sore hari dan itu bertanda sekolah akan segera di bubarka, di tempat lain seorang lelaki tampan baru saja menyelesaikan latihan basket bertsama teman satu tim nya, ya dia adalah Oh Sehun.
"Yosh, akhirnya latihan selesai juga. Aku tidak menyangka bisa secepat ini." Chanyeol mengelap keringat yang sudah membasahi pelipisnya dengan handuk kecilnya. Latihan basket hari ini cukup melelahkan. Apalagi aturan baru yang di keluarkan oleh Sehun selaku kapten tim basket mereka yang super ketat. Membuat tim SIHS harus berlatih dengan sangat keras, agar mereka tidak mengalami kekalahan lagi seperti di Winter Cup melawan SOPA.
"Setelah ini kau akan langsung pulang, Hun-ah?" Kai yang sedang menegak minumannya menoleh ke arah Sehun yang sudah bersiap untuk pulang. Tumben sekali Sehun ingin pulang cepat biasanya ia akan berlatih dulu hingga larut. Karena pemuda itu sudah absen beberapa hari ini. Seharusnya Sehun labih giat lagi berlatih dari biasanya karena ia tidak masuk latihan selama tiga hari.
"Aku akan menjemput Luhan terlebih dahulu." Ketika mendengar jawaban dari sang kapten semua yang masih berada di lapangan serempak menoleh kearahnya dan menatap Sehun dengan mata yang sia keluar dari tempatnya. Sejak kapan Sehun menjadi supir pribadi Luhan?.
"Eh? Kenapa kau harus menjemput Luhan, hun-ah."
"Ada yang harus aku selesaikan dengannya," Sehun tersenyum simpul. Sebelum berbalik pergi dan melambaikan sebelah tangannya. Menjauh dari teman" nya yang menatap Sehun takjub.
"Aku merasa Sehun semakin berbeda, auranya berubah."
"Kau benar, mungkin dia sedang jatuh cinta? Ia bahkan rela pergi jauh hanya untuk menjemput Luhan-nya?." Dan ketika pertanyaan dari Kai itu keluar semua tim SIHS mulai memikirkan perkiraan hubungan Sehun dan Luhan. Kecuali Jihwan manager basket mereka yang kini nampak tidak menyukai obrolah itu.
O)(O
Semua Tim Basket SOPA sudah tampak kelelahan. Keringat sudah membasahi pelipis mereka masing-masing. Latihan tadi cukup menguras tenaga tapi itu semua terasa sangat menyeangkan jika bisa di lakukan bersama-sama.
"Setelah ini kalian bisa pulang, istirahatlah yang cukup karena besok kalian akan berlatih dengan keras lagi. Ayahku akan datang besok untuk kembali melatih fisik kalian." Sang pelatih Kim Jonghan menyeramkan. Ah, lalaki itu sudah menyiapkan semua rencananya agar SOPA semakin menjadi Tim terbaik nomor satu di korea untuk kejuaraan nasional nanti, walaupun kenyataan nya pemain Tim SOPA mungil-mungil dan berwajah imut tetapi jangan remeh kan kekuatan mereka.
"Bersiaplah, kita akan segera pulang." Suara dari Lay menggema, membuat semuanya bersorak setuju, dan bersiap untuk pulang
Setelah lima belas menit berlalu, semuanya sudah nampak siap dengan tas masing-masing dan segera untuk pulang. Kecuali pemuda bersurai coklat, yang masih belum siap sama sekali.
"Luhan-ah, kau tidang ingin pulang?"pertanyaan dari Kyungsoo membuat Luhan menoleh padanya. Menggeleng pelan, sebelum menjawab.
"Tidak Kyung, aku akan disini sebentar lagi."
"Yasudah, kami duluan Luhan-ah." Xiumin tersenyum ke arah Luhan diikuti oleh semua temanya yang mengucapkan 'Sampai jumpa besok Luhan-ah.'
"Jadi kau masih akan disini, Lu?" Baekhyun yang masih berada di samping Luhan menatap heran temannya itu. Pasalnya, Luhan jarang sekali terlihat melamun seperti ini. Ia seperti mempunyai masalah yang tak bisa ia ceritakan pada siapapun.
"Ya, Baek." Luhan mentap Baekhyun seolah berkata 'aku tidak apa-apa' membuat Baekhyun mengangguk pelan.
"Baiklah, aku pulang duluan Lu." Baekhyun berdiri, dan mulai berjalan menjauh dari pemuda bersurai coklat tersebut. Tapi sebelum langkahnya sampai menuju pintu keluar, ia berbalik danberkata "Jika kau mempunyai masalah, kau bisa menceritakan padaku." Dan Luhan hanya bisa tersenyum simpul. Ternyata Baekhyun benar-benar peduli padanya. Bahkan ia bisa menyadari bahwa Luhan mempunyai masalah.
"Tentu saja Baek." Dan setelah itu Baekhyun berbalik dan benar-benar pergi meninggalkan Luhan bersama Zhu yang masih setia berada di sampingnya. Lapangan basket sudah menjadi sangat sepi. Luhan sangat suka keheningan seperti ini, yang membuatnya merasa tenang dan ia bisa memikirkan semua masalahnya yang berhubungan dengan seorang Oh Shit Hun. Hanya satu nama yang menggangu pikirannya, apalagi dengan pernyataan Sehun dua hari yang lalu. Ya, sudah dua hari sejak pertanyaan itu dan Luhan belum bertemu Sehun lagi. Luhan benar benar tidak bisa melupakannya. Jika mengingatnya saja, wajah Luhan akan berubah menjadi warna merah.
"Hah," Luhan menghela napas pelan, sebelum berdiri dari duduknya, dan mengambil bola basket yang berada di ujung ring. Ia mengambil bolaitu dan mendribblenya perlahan. Jika mengingat ia harus sendirian di tempat latihan dan memainkan bola basket seperti ini. Luhan jadi mengingat pertemuannya dengan Sehun ketika masih Satu sekolah dulu.
"Arrgghhttt, menyebalkan. Aku benci perasaan membingungkan ini!" dan bola yang ada di tangan Luhan terlempar begitu saja. Luhan mengacak surai coklatnya frustasi. Ia masih bingung akan semua perasaan anehnya, yang selalu datang ketika Sehun ada di dekatnya.
"Apa yang membuat mu bingung Lu?" dan suara bariton yang sangat Luhan kenali itu membuat tubuhnya menegang di tempat. Diiringi langkah kaki yang terdrngar menggema dan semakin membuat Luhan gugup. Ia bahkan harus menelan salivenya saat merasakan hangat yang kini berada di bahunya. Ia tidak ingin berbalik sekrang.
"Luhanieeehh," dan bisikin disertai sedikit desahan di telinganya membuat tubuh Luhan semakin meremang dan ia semakin yakin kalau Sehun tepat berada di belakang tubuhnya.
"S-sehun-ah?" mencoaba memastikan Luhan bertanya. Ia dapat melihat Sehun yang tersenyum kearahnya. Sial! Senyum yang sudah lama tidak Luhan lihat itu membuat ia salah tingkah dan hanya bisa terdiam ketika Sehun menyentuh pipinya dengan lembut.
"Aku akan membuatmu mengerti dengan perasaanmu, Luhan. Dan bisikan seduktif di telinganya membuat sinyal tanda bahaya yang ada otaknya berbunyi. Waspadalah Luhan!.
ToBeCountinued...
Makasih udah mau baca FF abal abal ini maklum ini aja masih remake, walaupun begitu semua ceritanya aku ubah dari yang aslinya. Maaf bila ada kekurangan kata atau typo yang berterbaran, masih baru soalnya. Wkwkwkwk
Sekali lagi makasih buat yang udah mau baca dan reviewnya..
Maaf late updatenya aing sibuk ma tugas kuliah yg numpuk kayak gunung dan alhamdullilah hari ini tugas aing selesai semua nunggu UAS mungkin agak lama update chap selanjutnya
REVIEW JUSEYO
Gamsahamnida
xie xie
thanks
