Hyeehhaa~~ sudah lama sekali tidak updet.. hooho~

selain sibuk sedang dilanda malas...

but a special thx to Hye Rin No Hyuuga who encourage me to stay updating this story X3

Love u soo much Rin-saaaann~

bunch of thx for your support!

well... to make a long story short this is the updated... :D

Enjoy~

(a big sorry for the typo; I'm very sleepy so will not double check :P)

Disclaimer: not mine not mine not minee... It's Masashi Kishimoto-san's

Well, except Karashi.. He is mine :P

[-_-] [-_-] [-_-]

"Seret dia!" Perintah shinobi berambut klimis dengan tatapan dingin.

"Heeeh… Kau yakin Kido-san? Kurasa dia tak akan bertahan lama… terlebih lagi, kita tidak bisa bermain dengan temannya disana." Sahut yang berjanggut seperti kambing.

"DIAM TOKI! Bahkan kekkai yang dibuat oleh keparat ini belum hilang! Apa kau pikir dia akan mati semudah itu?!"

"Hmm.. Kido-san benar Toki… Kelihatannya kekkai yang dibuat bocah ini melebihi kekuatan si manusia sinting satu ini." Sahut temannya lagi yang berambut coklat.

"Kau ingin bertarung denganku, eh pesuruh?!" tantang shinobi yang dipenuh perban merasa tersinggung.

"Sudahlah kalian semua! Jangan membuang-buang waktu lagi! Kerjakan apa yang telah kukatan! Jangan ada kegagalan lagi!" hardik si rambut klimis yang selalu merasa sebagai ketua tim –nya. Ketiga temannya pun sambil menggerutu mulai mengerjakan perintah Kido. Walau kemampuan mereka semua sebenarnya setara, bagaimanapun juga Kido yang sudah lebih berpengalaman dibandingkan yang lain membuat ketiganya menyegani shinobi berambut klimis tersebut.

"Ohh, Ranko…! Sudahlah… Lepaskan dia! Atau kau yang harus membereskan semua ini." Erang Haeba kesal akan perlakuan teman sintingnya yang tergila-gila akan Keindahan Karashi.

"Apa boleh buat… yang seperti ini memang jarang. Aku tidak heran kalau manusia sinting satu ini begitu tergila-gila." sahut Toki.

"Jadi sekarang kau terserang virus Ranko?"

"Hey! Aku masih waras! Jangan menghina kau…"

"Hahahah! Tak kusangka ternyata kau juga tertarik pada bocah ini."

"Sudah kukatakan sialan…! Aku bukan orang sinting seperti si manusia perban ini…!" gerutu Toki diikuti tawa Haeba.

"Kalian ku diamkan malah semakin menjadi-jadi… apa kalian juga ingin merasakan 1 atau 2 jutsu ku?" hardik Ranko kesal namun, hanya tawa yang ia dapatkan sebagai balasan dari hardikannya.

"Sudah, sudah… kita harus cepat membereskan ini sebelum Kido-san mulai mengamuk lagi." Lanjut Haeba yang mulai bisa menenangkan dirinya. Kedua temannya langsung menuruti usul si rambut coklat.


"Iruka…" sebuah suara lembut yang ia rindukan berbisik memanggil namanya.

"Nggh…." erangnya lemas.

"Iruka… bangun Iruka…" panggilnya lagi.

"5 menit lagii…." Sahut Iruka dengan suara bangun tidurnya tanpa membuka mata.

"Ruka-chan…"

'Ruka-chan?' pikirannya mulai terusik.

"Ayolaah… bukannya hari ini kau harus mengadakan outing untuk para berandal kecil itu? Karashi sudah membuatkan pancake maple kesukaanmu…" begitu kalimat tersebut selesai diucapkan, bola mata berwarna coklat hangat itu terbuka lebar. Tubuhnya terlonjak hebat, dalam sekejap ia sudah berada dalam posisi duduk berhadapan dengan pemilik suara yang membangunkannya sedaritadi.

"Ka…. Kashi-kun…?" panggilnya tak percaya akan apa yang dihadapannya.

"Pagi, Ruka-chan… sepertinya tidurmu nyenyak sekali…. Apa kau memimpikan aku?" tanya pria berambut silver acak-acakan dihadapannya sembari mengecup kening coklat si lumba-lumba.

Iruka tidak membalas kecupan kekasihnya tersebut, ia masih berdiam berusaha mencerna apa yang telah terjadi.

"Ada apa Iruka? Kau tidak enak badan?"

"… ti-… tidak… hanya saja aku-"

"AAAARRRRGGGGHHHHH!"

"H-HAH?!"

"Ruka-chan? Kau baik-baik saja?"

"Kau tidak dengar teriakkan itu?"

"Teriakan?"

"GAAAAHHH! Kkh… AAKKHH!"

"Ka-"

"Iruka?! Ka-"

"SIAPA?!" erang Iruka takut. Kontan ia menutup kedua telinganya, berusaha meredam suara teriakan yang berkecambuk dalam telinganya namun, suara tersebut masih terdengar jelas. Ia tidak memperdulikan Kakashi yang menggoncangkan tubuhnya dengan panik - khawatir akan dirinya. Iruka memenjamkan kedua matanya dan menguatkan tekanan di telinganya walau begitu suara erangan kesakitan tersebut masih terngiang jelas di telinganya.

Dan ketika sang lumba-lumba membuka matanya sekali lagi, sadarlah ia akan apa yang telah terjadi. Rasa sakit dan nyeri di tubuhnya menandakan bahwa keadaannya sekarang bukanlah mimpi. Pemandangan di depan matanya sekarang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya membangunkan Iruka sepenuhnya dari mimpi indahnya tadi. "KAARAASHIIII!" kontan ia memanggil si gagak yang tergeletak tidak berdaya, habis-habisan di permainkan oleh para ninja dari Iwa tersebut. Mendengar teriakan parau calon sang kakak iparnya tersayang, dengan susah payah Karashi berusaha mengangkat kepalanya, mencari tatapan mata Iruka, memberikan signal bahwa ia baik-baik saja.

"Hai manis… apa istirahatmu cukup?" ujar Ranko dengan nada mengejek.

"Tentu saja… bocah ini sudah mati-matian melindungi dirinya, tidak mungkin dia tidak tidur lelap." Sindir Toki sambil menjambak rambut Karashi membuat si rambut silver mengerang pelan, memaksanya melihat Iruka di balik kekkai buatannya. Mendengar hal itu, seberapapun Iruka berusaha menahan luapan emosi dalam dadanya, ia tidak mampu melakukannya. Betapa ia ingin memotong lidah tajam shinobi Iwa tanpa perasaan tersebut.

Keadaan Karashi sekarang tidak sebaik yang ia katakan pada Iruka, bahkan lebih parah dari yang lalu. Luka-luka yang ada di tubuhnya bekas penyiksaan sebelumnya masih belum sembuh, bahkan masih parah, ditambah lagi siksaan yang ia terima sejak beberapa menit yang lalu. Napasnya tersengal, menandakan betapa lelah dan tersiksanya ia sekarang ini. Tanpa makanan dan air minum, belum lagi siksaan yang ia terima, membuat Karashi setengah mati. Tiga alasan yang membuatnya masih bernapas sampai sekarang ini adalah: harga dirinya sebagai adik dari sang Copy Ninja, keselamatan Iruka, dan keinginannya untuk sekali lagi bertemu dengan Shizune yang ia cintai.


"Kau ini benar-benar keras kepala yah bocah…" geram Kido.

"Ayolah tampan… kalau kau menuruti perkataan Kido-san, setidaknya kalian masih bisa menikmati sisa hidup kalian… lepaskan kekkai-mu. Kami berjanji tidak akan menghabisi temanmu." Bujuk Ranko.

"KARASHI! Kumohon… lepaskan kekkai ini!" erang Iruka setengah memohon setengahnya lagi menahan luapan amarahnya. Karashi hanya memberikan senyuman pahit sebagai jawaban. Ia sudah tidak sanggup bicara. Kerongkongannya kering, bibir pucatnya terluka dan pecah-pecah, darah segar kembali menghiasi ujung bibir Karashi.

"Dengarkan dia bocah… Ada baiknya sekali-kali kau menuruti temanmu." Ujar Ranko lagi. Karashi hanya meresponnya dengan senyum mengejek khas dirinya. Kido yang pada dasarnya memang bukan penyabar, mulai mendidih emosinya.

"HAEBA! AMBILKAN RANTAI ITU!"

"Ka-… Kau yakin Kido-san..? Dia bisa-"

"APA KAU TIDAK DENGAR?!"

"Ba..- Baik…" sahutnya panik sambil terburu-buru pergi dari ruangan tersebut. Percakapan singkat itu membuat dahi Iruka mengernyit khawatir. Semburat angin dingin menyelusup masuk ke dalam tubuh Iruka, membuatnya bergidik ngeri. Ia benci akan keadaan gantung seperti ini, ia tahu mereka merencanakan sesuatu, ia tahu Karashi dalam bahaya namun, ia tidak dapat berbuat apa-apa selain menonton, semua berkat kekkai bodoh di depannya ini.

"KARASHII! Kumohon hentikan semua ini!" isak Iruka tak sanggup lagi menahan campur aduk emosi dalam dadanya, "BIARKAN AKU MEMBANTUMUU!" teriak Iruka putus asa. Karashi menatap kedua mata coklat Iruka, bola mata yang tadinya penuh harapan dan semangat hidup, kini tergantikan oleh rasa putus asa dan kesedihan yang amat mendalam. Rasa bersalah mulai menggelitik hati Karashi, ia tahu sedikit banyak ialah yang menyebabkan kehancuran dalam bola mata coklat tersebut namun, ia tidak mampu bila harus menuruti keinginan kekasih kakaknya. Ia tidak ingin pemuda di seberang sana ikut merasakan penderitaannya, karena bagaimanapun juga Iruka tidak terlatih untuk menghadapi bahaya seperti ini, lain hal dengan dirinya. Sebagai seorang ANBU spesial, Karashi sudah mencicipi berbagai jenis siksaan mental maupun raga sebagai syarat latihan utama. Walau memang ia sedang dalam kondisi kurang fit, bukan berarti Karashi tidak mampu menahan siksaan yang dihujankan ke tubuhnya namun, siksaan bertubi-tubi sedari kemarin membuatnya kewalahan dan hal inilah yang menjadi pertimbangan Karashi untuk mengurung Iruka di seberang sana. Bagaimanapun juga ia teramat sayang pada kekasih kakaknya di seberang sana, ia tidak ingin Iruka mengalami hal yang sama seperti dirinya.

'Iru…ka….'

'Kaa-'

'maafkan… aku..'

'Karashi… hentikan kumohon… jangan bebankan semuanya pada dirimu…'

'…'

'Biarkan aku menanggungnya bersama denganmu.'

'Iruka… kau harus hidup… khh… apapun yang terjadi…'

'Ka-'

"Kido-san… ini…" ujar Haeba begitu kembali ke dalam ruangan sembari menyerahkan sepasang rantai belenggu pada ketua timnya. Kido merengut belenggu besi tersebut dari Haeba dengan cepat lalu dengan kasar mengangkat dagu si rambut silver, "kau lihat ini?!" ledeknya senang. Kido memegang ujung rantai besi tersebut sedangkan ujung lainnya ia biarkan jatuh terjuntai di depan wajah Karashi, memberikan Karashi detail dari rantai belenggu tersebut. Kedua bola kristal azure milik Karashi membesar, terkejut sekaligus ngeri melihat detail rantai belenggu di depan matanya. Bagaimana tidak, seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat rantai belenggu yang seperti dimiliki para ninja ini. Rantainya memang hanya rantai besi biasa, yang membuat si gagak merinding adalah bagian belenggu tangan. Belenggu tersebut mempunyai panjang kira-kira 12 cm. Bagian dalam belenggu tersebut terdapat besi-besi kecil mencuat seperti duri-duri kecil, memang tidak terlalu banyak namun, cukup untuk mencabik daging si pengguna.

"HAAHAHAHA! Bagaimana? Sepertinya kau senang… tubuhmu memberikan signal itu padaku." Ejek Kido diikuti tawa Toki. Karashi hanya mendelik tajam sebagai respon.

"Tentu saja dia menyukainya Kido-san…. Bagaimana kalau sebaiknya kita biarkan dia mencicipi bagaimana rasanya…" tambah Toki.

Kontan Karashi memberontak dengan hebat, ia sudah tidak memperdulikan luka-luka di tubuhnya, yang ia tahu sekarang, ia harus cepat menyelamatkan dirinya namun, apa daya tubuhnya sudah terlalu lemah.

"TOKI! RANKO! PENGANGI DIA!" perintah Kido tanpa membuang waktu lagi.

Para ninja yang namanya dipanggil langsung menuruti perintah sang ketua dan menahan rontaan sang shinobi belas kasihan, Toki langsung menahan punggung Karashi dengan lututnya sedangkan tangannya langsung merejang tengkuk dan pergelangan tangan kanan Karashi. Ranko di lain pihak sibuk menahan kedua kaki dan pergelangan Karashi lainnya.

"HENTIKAN! KUMOHON JANGAN! LEPASKAN DIAAA!" Teriak Iruka panik dari balik kekkai. Tanpa memperdulikan resikonya, pemuda berkulit eksotis tersebut menggebrak kekkai tak tergoyahkan di depannya dengan sekuat tenaga.

"AHAAHAH! LIHAT! INILAH AKIBATNYA BILA KAU TAK MAU MENDENGARKAN PERINTAHKU BOCAH!" tawa Kido kejam.

Ranko dan Toki hanya tersenyum dingin sedangkan Haeba hanya bisa menuruti perintah ketuanya tersebut. Sebenarnya shinobi Iwa berkuncir tersebut tidak sampai hati melakukan hal ini namun, bagaimanapun mereka adalah musuh, karenanya tak ada yang bisa ia perbuat.

"Ayolaah… Ini kesempatan terakhir… akan kubujuk Toki-san bila kau mau melepas kekkai busukmu itu." Ujar Ranko berusaha merayu Karashi untuk merubah pendiriannya. Karashi tidak meresponnya, Ia masih berusaha meronta dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari para ninja yang menahan dirinya.

"Kau memang keras kepala…." Desah Ranko kesal.

"KKHHH!" Karashi mengerang cukup keras begitu Toki menguatkan tekanan di punggung Karashi. "Toki!" seru Kido. Hanya dengan memanggil namanya, Toki mengerti keinginan sang ketua, dengan kasar, ia menguatkan cengkramannya di pergelangan tangan kanan Karashi dan memaksa menjulurkan tangannya ke depan, memudahkan Kido untuk menjangkaunya. Karashi mengepalkan tangannya dan meronta semakin liar, melihat hal tersebut, Kido semakin puas dan senang. Tanpa menunggu lebih lama lagi, shinobi berambut klimis itu menginjak punggung tangan Karashi dan melingkarkan belenggu besi yang ia pegang ke pergelangan tangan si pemuda malang. Senyum puas nan kejam terhias di wajah Kido sesaat setelah ia menutup belenggu tersebut, teriakkan parau dari kerongkongan kering Karashi melesak nyaring tak tertahankan. Mendengar teriakkan mengerikan yang tak pernah didengar sebelumnya, kedua lutut Iruka bergetar hebat, tak mampu menahan berat tubuhnya lagi, ia jatuh berlutut dengan air mata berderai. Darah yang mengalir deras akibat desakkan duri-duri dingin belenggu besi di pergelangan tangan Karashi mulai menggenangi lantai dimana tangan itu terkulai lemas. Ada sedikit getaran yang terlihat di tangan itu, menandakan Karashi masih berjuang untuk mempertahankan kesadarannya namun, tubuhnya tidak bisa diajak kompromi. Napas Karashi mulai tidak beraturan, sesekali ia terbatuk, pandangannya mulai pudar, tawa kejam dari para ninja Iwa juga jeritan putus asa Iruka terasa semakin menjauh dari telinganya. Tak lama kemudian, ia diliputi kegelapan.


"Kido…" seorang kakek berjubah putih yang mengalungi stetoskop berjalan masuk sembari memanggil shinobi yang dihormati tersebut tanpa menggunakan embel-embel.

"Doryu-sensei…."

"Apa kau seudah menemukan 'wadah' yang layak?" tanya si kakek tanpa menghiraukan keterkejutan Kido. Ranko, toki dan Haeba hanya menyaksikan percakapan mereka tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.

"Errr… kurasa… yaa… sudah…" sahutnya lagi sambil melirik pada shinobi Konoha berambut silver yang tergeletak bersimbah darah.

"… dia? Menyedihkan! Kau anggap dia layak mencoba ramuanku, hah?!" hardik tetua shinobi tersebut begitu melihat Karashi sembari menendang bahu Karashi pelan, mencari tanda-tanda kehidupan dari pria itu. "Dia bahkan tidak bergerak! Kau anggap apa percobaan ini ?!" lanjutnya.

"Ma… Maaf Doryu-sensei… ada seorang lagi… namun,…"

"APA?!"

"I.. Ia dilindungi kekkai…"

"Hancurkan!"

"Kami tidak sanggup…."

"TIDAK BERGUNA! MENYEDIHKAN!" geram sang ilmuwan naik darah. Mendengar percakapan tersebut, Iruka sadar dirinya dalam bahaya, ia ingin segera lari namun, ia tidak bisa meninggalkan adik kekasihnya disana. Doryu tua mendekati dinding kekkai yang melindungi Iruka dan menyentuh kekkai tersebut. Namun, siapa sangka bahwa kekkai yang dibuat Karashi masih aktif dengan baik menjalankan tugasnya -melindungi si pemuda manis- menghanguskan tangan kiri si Doryu tua. Terkejut, Doryu kontan menarik tangannya yang hangus dan memaki-maki. Ada rasa lega dalam diri Kido dan kawan-kawannya melihat kegagalan sang kakek.

"KEKKAI APA INI?! SIAPA YANG MEMBUATNYA?!" seru Doryu penuh amarah, menatap Kido, sedangkan yang ditatap merasa keberaniannya menciut. Dengan tangan gemetar, Kido mengarahkan telunjuknya ke pemuda yang masih tergeletak di atas genangan darahnya sendiri. Mata Doryu terbelalak tak percaya. Kekuatan macam apa yang dimiliki si pemuda silver hingga walau tak sadarkan diri namun, jutsu-nya masih bekerja dengan baik. Sesaat kemudian Doryu tua tersadar. Ia mengingat dengan jelas rambut silver itu. Rambut silver yang hanya dimiliki oleh shinobi yang pernah terkenal di masa jayanya, Konoha no Shiroi Kiba, dan sekarang ini ia teringat akan satu shinobi Konoha yang sedang naik daun, Sharingan no Kakashi! 'Mungkinkah ini orangnya?' batin sesepuh itu.

"Apa dia ini si Copy Ninja terkenal itu?" tanya Doryu sambil melirik Kido dengan tajam.

"….. Sepertinya bukan… si lemah di dalam kekkai itu memanggilnya Karashi."

"Karashi?"

"Y-yaa…."

"… sepertinya dia memang ada hubungan dengan para shinobi terkenal itu." Gumam si tua. "Dan apa yang telah kau lakukan padanya?" lanjut Doryu dengan nada meninggi, "TIDAKKAH KAU TAHU DIA INI ASET YANG SANGAT BRILIAN UNTUK PERCOBAAN INI!"

"Maa..- maaf Doryu-sensei… tapi kami,"

"BODOH!" hardik ilmuwan kawakan tersebut kesal setengah mati, "Cukup dengan nama dan ciri-ciri seperti ini saja, seharusnya kalian sadar bocah ini punya hubungan dengan si Copy Ninja! Dan tahukah kalian, aku sangat mengingikan bereksperimen menggunakan Copy Ninja keparat itu!" lanjutnya berang.

Kido dan teman-temannya hanya menunduk lemas, bagai mangsa yang sudah terpojok oleh predator. Doryu mendengus kesal, sebelum akhirnya ia memerintahkan para Ninja Iwa, "Siapkan dia! Aku akan mengambil ramuanku! Dia harus sudah siap sekembalinya diriku!"

"Ba-BAIK!" seru para ninja Iwa tanpa perlu diperintah.

"TUNGGU!" teriak Iruka panik. Ia tahu tetua tersebut akan mencelakakan Karashi dan ia harus menghentikannya dengan cara apapun. Doryu menatapnya dingin, mencari tahu apa yang diinginkan si pemuda di balik kekkai.

"A… -ku mohon… Kau boleh… melakukan ekspe-… rimen mu padaku… t-tapi jangan sakiti dia… jangan sakiti dia lebih dari ini…"ujar Iruka perih, ia sudah tak sanggup menyaksikan penderitaan Karashi lebih lanjut.

"Dengan cara apa aku bisa menyuntikan ramuanku padamu bocah?!"

"Aku akan berusaha keluar dari sini…."

"Aku tidak akan menunggu lebih dari lima menit sekembalinya aku." Tanpa membuang waktu lagi, Doryu tua meninggalkan ruangan tersebut.

"Kalian benar-benar partner yang menggelikan!" Sambar Kido muak, "Bereskan dia!" lanjutnya memerintahkan anak buahnya. Iruka tidak menggubrisnya dan mulai sibuk mencari cara menghancurkan kekkai di depannya. Entah bagaimanapun, ia harus bisa menghancurkan benda pelindungnya ini.

Sementara itu, Karashi yang masih tidak menyadarkan diri, dengan kasar diseret oleh Ranko dan Toki, membuat jejak darah di lantai ke dinding dimana ia disandarkan sekarang. Haeba yang tidak sepenuhnya tega, akhirnya mendekati Karashi dan mengalirkan sejumlah chakra pada si pemuda berambut silver itu.

"Apa yang kau lakukan!?" teriak Kido heran.

"Berusaha meredam amarah Doryu tua itu. Kalau bocah ini mati ditengah prosesnya, tentu tua bangka itu akan marah pada kita." Ujar Haeba memberi alasan yang sangat tepat pada ketuanya.

"Dia benar Kido-san… terkadang jalan pikirannya masuk akal." Sahut Ranko, diikuti anggukan kepala Toki tanda setuju. Kido hanya merengut kesal karena bagaimapun juga ia menyetujui alasan anak buahnya.

Raut wajah Karashi sedikit membaik, desah napasnya mulai teratur namun, kelelahan dan siksaan yang ia terima sebelumnya tetap tidak sebanding dengan pertolongan yang ia dapatkan.

"Ambilkan air! Bila dibiarkan bocah ini tidak akan sadar sampai besok!" perintah Kido. Ranko berinisiatif mengambil ember air yang tadi digunakan untuk menampung air es dan pergi dari situ. Toki sibuk mengikat sisi lain rantai belenggu yang meremukkan tangan Karashi ke pengait besi di tembok, membiarkan darah mengalir membasahi lengan Karashi, menetes menggenangi lantai.

Sementara itu, shinobi Konoha berkulit coklat yang berada di dalam kekkai, masih berusaha keras mengeluarkan diri dari pelindung yang sangat kuat itu. Dengan sekuat tenaga, ia menggebrakkan kedua tangannya yang kini mulai terasa sakit akibat usaha yang ia lakukan sedaritadi namun, kekkai tersebut tetap saja tidak bergeming. Iruka hampir saja putus asa, ia nyaris saja menghentikan usahanya kalau saja ia tidak melihat retakan kecil yang mulai terbentuk tepat dimana ia berulang kali memukulnya. Melihat bahwa hasil usahanya tidak sia-sia, Iruka kembali berjuang melepaskan diri dari situ.


"Kkhhh!" erang Karashi begitu sekujur tubuhnya terasa perih dan ngilu. Dengan berat ia membuka kelopak matanya, yang pertama kali ia rasakan adalah rasa ngilu di seluruh tubuhnya juga kelelahan yang luar biasa.

"Apa yang kau rasakan sekarang bocah?" tanya sebuah suara berat yang agak bergetar, terdengar sangat berwibawa namun juga sombong. Kedua Kristal azure milik pemuda berambut acak-acakkan tersebut bergerak mencari sumber suara. Dan penglihatannya terfokus pada seorang tua berambut putih yang hanya tumbuh di sekitar pinggir kepalanya. Memang Karashi masih berusaha mengatur napasnya namun, tidak terlihat darinya usaha untuk menjawab pertanyaan yang didengar tadi.

"Gaah…!" Kido yang tidak sabaran langsung merengut rambut silver Karashi dan menariknya, memaksa Karashi mendongakkan kepalanya.

"Hmmm… Aku jadi sedikit memahami mengapa keadaanmu jadi menyedihkan begini. Katakan! Apa kau adik dari Sharingan no Kakashi?!" tanya Doryu kembali bertanya pada Karashi.

Sedangkan yang ditanya hanya merespon dengan tatapan mata dingin menusuk. PLAKK! Dengan enteng, tangan kanan si Doryu tua langsung melayang menghantam pipi kanan si shinobi yang umurnya terpaut jauh darinya.

"Sepertinya kau memang terlatih untuk mempermainkan emosi shinobi lain…. Apa rankingmu sebagai shinobi bocah?" dan si tua tetap tidak mendapat jawaban yang layak seperti yang ia harapkan.

"Kido… Kurasa siksaanmu kurang…. Sebaiknya kau,-"

"TUNGGU! Kau berjanji untuk menunggu selama lima menit!" Teriak Iruka belum sepenuhnya berhasil lepas dari kekkai yang melindunginya.

"Aku merubah rencanaku bocah… Lagipula temanmu ini lebih menarik untuk menjadi eksperimenku daripada dirimu."

"K…KAU…!" pekik Iruka berang. Doryu tidak memperdulikannya, ia mendekati Karashi, menjulurkan tangannya ingin meraih si pemuda tampan berkulit pucat. Tanpa mengetahui apa yang diinginkan oleh ninja tua tersebut, sebagai shinobi berpengalaman, isnting Karashi memerintahkan tubuhnya untuk segera memberontak namun, dengan segala luka, kelelahan dan rasa perih yang diderita tubuhnya sekarang ini, ia tidak mampu membuat banyak.

"KIDO! TAHAN DIA!" perintah Doryu melihat raut wajah Karashi. Tanpa diperintah dua kali, Kido langsung mencekik leher belakang dan lengan Karashi. Kido menahan pergerakan pemuda itu dengan berat badan bertumpu di lutut kanannya. Karashi mengerang keras begitu punggungnya merasakan ketajaman lutut Kido, sedangkan tangan kiri Karashi dengan tenang disesapi jarum suntik berisi cairan bewarna merah keunguan ramuan Doryu.

"HENTIKAN! KUMOHON HENTIKAAAANNNNNN!" jerit Iruka berusaha menghentikan mereka. Dengan seluruh kekuatannya yang tersisa, ia menggebrak kekkai yang akhirnya menghilang karena tak lagi mampu menahan serangan Iruka. Iruka langsung kehilangan keseimbangannya ke arah depan karena tak ada lagi kekkai yang menjadi tumpuan, nyaris saja ia terjungkal. Namun terlambat…,Karashi sudah mengerang menahan sakit begitu cairan merah keunguan tersebut dipompa masuk ke dalam jaringan darahnya. Melihat kejadian itu, Iruka kontan berlari dengan cepat kearah shinobi tua yang sama kejam dengan anak buahnya. Sayang, Doryu bukan hanya ditakuti oleh Kido dan teman-temannya hanya karena dia seorang ilmuwan gila, Doryu tua juga merupakan master taijutsu di Iwa ini. Serangan Iruka bukan tidak ia sadari, ia hanya sengaja memancing agar Iruka mendekat. Begitu Iruka masuk ke dalam jarak serangannya, dengan satu hantaman ke perut, Iruka sudah kembali melayang ke belakang, menghantam tembok.

"UHUK!" Si lumba-lumba yang tidak siap menghajar tembok di belakangnya, langsung terbatuk dan muntah darah lalu merosot lemas ke lantai. Pandangannya kabur akibat hantaman di punggungnya tadi. Toki mendekati chuunin yang masih terbatuk-batuk itu. Senyum dingin menghiasi wajahnya begitu ia melayangkan sebuah tendangan ke perut Iruka. Darah segar kembali tersembur dari bibir Iruka. Tanpa menunggu lagi, Toki merengut rambut gelap Iruka, menjambaknya memaksa Iruka menatap kepadanya.

"Aku heran… Apa kau ini lternyata lebih bodoh daripada perkiraanku yah? Kau bisa saja lari meninggalkan bocah itu, dengan begitu kau bisa selamat… tapi… AHAHAHAHAH! LIHATLAH! KAU SOK JADI PAHLAWAN… DAN KALIAN BERDUA AKAN MATI!" ejek Toki penuh kepuasan.

Iruka mengernyitkan kedua alisnya sebelum akhirnya ia merasa perutnya kembali dihantam oleh kepalan tangan Toki. Pandangan Iruka mulai berair, "mana mungkin aku meninggalkan Karashi? MANA MUNGKIN?!" batin Iruka penuh amarah. Ia tidak ingin hidup mereka berakhir sampai sini saja namun, jalan pikirannya sudah buntu untuk mencari akal untuk melarikan diri. Apalagi dengan keadaan Karashi yang sudah habis-habisan seperti itu, pelarian mereka tentu tidak akan mudah. Di tengah kegalauan yang berkecambuk dalam pikiran si lumba-lumba, tiba-tiba saja jeritan kesakitan yang sangat memilukan terdengar dari Karashi. Jeritan itu tidak hanya menyayat hati yang mendengarnya tetapi juga membangkitkan bulu kuduk. Jeritan kesakitan yang bercampur sebuah erangan. Erangan yang terdengar bagai monster yang baru saja bangkit dari kubur. Iruka kontan memfokuskan padangannya ke arah pemuda yang sudah ia anggap bagai adiknya sendiri dengan perasaan bercampur aduk. Disana, dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat gigi taring Karashi mulai memanjang dengan ujung tajam, persis taring serigala, dari punggungnya darah mulai menyiprat dan sepasang benda berbulu berwarna hitam muncul dari luka dipunggungnya, kedua telinga Karashi ikut memanjang, mencuat kesamping menyerupai telinga rubah. Iruka hanya bisa ternganga melihat pemandangan tersebut, entah mimpi apa yang sedang dilihat di depan matanya ini.

TBC

[-_-] [-_-] [-_-]


And there~

How is it? :P

Hope all of u enjoy it~

Thx for those who have review the story ;D

those who havent, don't forget to RnR

Ur Review will be my pleasure..~ [^o^]/