Annyeoongg! Aah, sudah lama tidak jumpa! Mian readers, authornya lagi suka sibuk sendiri . Btw, berhubung author bukan tipikal humoris, kemungkinan cerita ini nggak akan berumur panjang *huhu, hiks* Tapi tenaaaanng, belum berakhir di part ini kok. Paling yaah, 1-2 part lagilah, hehe. So, this is the new part! Please enjoy it and happy reading! :)
"Aargh, damn!" erang seorang namja berperawakan kurus sambil mengernyit kesakitan. Kedua tangannya memegangi pinggangnya yang dua jam ini ia paksakan untuk meliuk-liuk mengikuti gerakan dance yang diajarkan pelatihnya. Demi meraih impiannya sebagai entertainer, lebih tepatnya penyanyi sekaligus penari, ia tidak memedulikan rasa sakit yang mendera pinggangnya setiap usai latihan. Sewaktu kecil ia pernah mengalami kecelakaan yang berdampak buruk pada pinggangnya dimana ia sempat menyerah untuk meraih impiannya itu. Namun impian itu tidak pernah pudar, hingga kemudian Tuhan memudahkan jalannya menuju impian itu dengan berita kelolosannya sebagai salah satu trainee di SM management tahun lalu.
"Ada apa Jongin-ssi? Apa ada masalah?" tanya pelatihnya yang kebetulan mendengar erangan namja itu. Lelaki yang baru memasuki usia 30 itu telah lima tahun menjadi pelatih dance bagi para trainee laki-laki SM management dan menghasilkan banyak penari handal, salah satunya bernama Lee Hyukjae atau yang lebih dikenal sebagai Eunhyuk Super Junior.
"Animnida songsengnim." dusta Jongin. Ya, tidak banyak yang mengetahui kalau dirinya memiliki cedera di pinggang yang mejadi salah satu bagian tubuh vital dalam banyak gerakan dance.
"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan lagi. Masih ada beberapa gerakan yang harus kalian kuasai hari ini." tegas pelatihnya kepada 25 trainee laki-laki yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk namja yang bernama lengkap Kim Jongin.
"Nee." jawab para trainee patuh meskipun sebagian besar dari mereka sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Begitupun dengan Jongin. Namja itu berusaha untuk mengabaikan rasa sakit yang mendera pinggangnya dan berkonsentrasi dengan gerakan-gerakan baru yang diajarkan pelatihnya. Ia tahu bahwa ini bahkan belum juga menjadi awal dari perjuangannya, karena itu rasa sakit tidak dapat menghentikannya begitu saja.
-o0o0o-
Seorang yeoja yang baru selesai dengan agenda individunya tampak berjalan tergesa-gesa menuju salah satu ruang latihan di gedung SM. Meski jelas ia sudah tampak lelah -teramat lelah- namun jadwal latihan dance tidak dapat ditinggalkannya hanya dengan alasan kelelahan. Ia tahu bahwa seluruh member yang tergabung dalam girlband SNSD bersamanya juga memiliki kepadatan agenda individu sepertinya dan tetap harus mengikuti latihan dance yang telah dijadwalkan.
Karena merasa terburu waktu, yeoja itu mempercepat langkahnya dan tanpa sengaja menabrak salah seorang trainee laki-laki yang mendadak keluar dari salah satu ruang latihan. Bruk!
"Auw!" pekik yeoja itu pelan sambil mengusap bahu kanannya yang tersenggol cukup keras dengan dada trainee itu.
"Aduh," pekik trainee itu sambil mengernyit kesakitan dan memegangi pinggang kirinya. Rupanya tabrakan tidak sengaja itu membuat tas tangan sang yeoja mengenai pinggang kirinya dengan cukup keras.
"Ah, mianhamnida. Jeongmal mianhamnida." ucap yeoja itu yang refleks membungkukkan badan dan meminta maaf pada trainee yang baru saja ditabraknya.
"Gwaenchanayo. Nan gwaenchana." balas trainee itu yang belum menyadari siapa gerangan yang bertabrakan dengannya. Trainee itu mengangkat dagu dan terkejut begitu mengenali siapa yeoja yang ada di hadapannya saat ini.
"Yoona noona?"
Yoona mendongakkan kepalanya dan melihat seraut wajah laki-laki muda yang beberapa hari lalu berkenalan dengannya.
"Jo..ngin-ssi?" panggil yeoja itu memastikan.
"Ne, senang noona masih mengingatku. Maaf atas kecerobohanku." ucap Jongin sambil membungkuk dalam di hadapan Yoona.
"Ah, sudahlah, lupakan itu. Toh aku juga salah tidak memperhatikan jalan di depanku." balas Yoona, tersenyum manis. Tangannya terulur dan menyentuh lengan namja itu, meminta namja itu untuk tidak lagi membungkuk padanya.
"Tapi aku benar-benar minta maaf noona." ucap Jongin lagi.
"Baiklah baiklah, aku maafkan. Baru selesai latihan ya?" tanya Yoona ramah.
"Ne, noona. Baru saja.. Aargh.." jawab Jongin yang mendadak mengerang kesakitan.
"Eh? Wae geuraeyo? Apa kau sakit?" tanya Yoona panik. Kedua matanya menelisik seluruh tubuh namja itu, berusaha mencari di bagian mana namja itu merasakan sakitnya.
"A.. Animnida noona. Aku tidak.. apa-apa.." elak Jongin dengan seluas senyum paksa. Yoona menaikkan kedua alisnya tidak percaya.
"Kau yakin? Tapi wajahmu pucat sekali." balas Yoona khawatir. Yeoja itu bahkan lupa dengan jadwal latihannya demi melihat kondisi hoobaenya.
"Aku.. yakin. Aku.. tidak apa-apa, noona." elak Jongin lagi. Yoona menurunkan kedua bahunya, menatap pasrah bercampur cemas atas kekeraskepalaan namja di hadapannya itu.
"Baiklah kalau memang kau baik-baik saja." Yoona baru saja ingin melanjutkan perkataannya ketika ponsel yang berada di dalam tasnya berdering. Yeoja itu bergegas membuka penutup tasnya dan mengambil benda mungil itu.
"Yeoboseyo? Ah, ne, mianhae eonnie, aku hampir saja lupa! Ne, ne, aku segera ke sana. Annyeong." Yoona menutup flip ponselnya dan kembali memandang Jongin.
"Ah, Jongin-ssi, mianhae, aku harus ke ruang latihan. Member lainnya sudah menungguku di sana. Tapi.." Yoona menggantung ucapannya dan menatap namja itu kebingungan.
"Sudahlah noona, aku tidak apa-apa. Lebih baik noona cepat ke ruang latihan. Maaf karena telah menghambat noona." ucap Jongin. Yoona menggigit bibir bawahnya, tidak yakin apa yang harus ia lakukan sampai kedua matanya menangkap satu sosok yang ia yakin dapat membantunya.
"Leeteuk oppa!"
Namja yang dipanggil 'Leeteuk' segera menoleh dan melayangkan pandangan bertanya pada pemanggilnya.
"Ah, Yoong, wae?" tanya Leeteuk sambil mengubah arah jalannya begitu tahu Yoona-lah yang memanggilnya.
"Aku ingin minta tolong pada oppa, boleh kan?" tanya Yoona. Leeteuk tersenyum lembut dan memperlihatkan lesung pipinya yang menawan.
"Tentu saja! Sejak kapan kau jadi sungkan padaku, huh?" tanggap Leeteuk sedikit menggoda yeoja yang sudah lima tahun dikenalnya.
"Sudahlah oppa, aku sedang buru-buru. Oh iya, kenalkan ini Jongin, salah satu trainee di sini. Dia teman Taemin." ujar Yoona sambil memperkenalkan keduanya satu sama lain. Jongin membungkuk kepada Leeteuk dan tersenyum segan.
"Annyeong hasimnikka sunbae. Naneun Kim Jongin imnida. Bangapseumnida."
"Dan Jongin, ini Park Jungsoo oppa atau yah sekarang lebih dikenal sebagai Leeteuk oppa. Kau tentu tahu kalau dia adalah leader Super Junior dan member tertua bahkan di agensi.. Aaw! Ya! Itu sakit oppa!" ringis Yoona sambil mengusap kepalanya yang baru saja mendapat jitakan dari Leeteuk.
"Dasar bocah! Senang sekali membuatku terlihat sangat tua di mata trainee muda kita. Kau mau aku susah mendapat jodoh, huh?" omel Leeteuk setengah bercanda.
"Aish, memang kenyataannya seperti itu kan? Jangan sok muda deh, lebih baik oppa sadar umur sebelum Taeyeon eonnie, ah, iya, aku lupa! Taeyeon eonnie sudah menungguku!" pekik Yoona begitu menyadari dirinya sudah membuat member lainnya menunggu di ruang latihan.
"Ckck, anak ini, belum tua tapi sudah pikun. Oh iya, cepat katakan apa yang harus kulakukan untuk membantumu." tanggap Leeteuk cepat.
"Ah iya! Itu, aku minta tolong pada oppa untuk mengantar Jongin setidaknya sampai lobby. Dia sedang sakit tapi tidak mau mengaku padaku. Aku hanya takut terjadi apa-apa padanya. Bisa kan aku meminta itu padamu, oppa?" pinta Yoona gamblang dan sukses membuat Jongin tersentak.
"Tidak perlu noona! Tidak perlu sunbae! Leeteuk sunbae tidak perlu mengantarku. Aku tidak apa-apa. Sungguh aku tidak apa-apa." tolak Jongin cepat-cepat.
"Jongin-ssi, aku tahu kau sakit, meskipun aku tidak tahu sakit apa itu. Yang pasti wajahmu pucat dan bahkan.." Yoona menghentikan ucapannya dan menyentuh wajah namja itu "kau berkeringat dingin. Jadi jangan menyangkal atau menolak bantuanku, ne?" tegas Yoona. Sementara itu, baik Jongin maupun Leeteuk, menatap bingung bercampur kaget atas tindakan yang baru saja Yoona lakukan.
"A.. Ah, baiklah noona. Aku sungguh minta maaf sudah merepotkanmu." ucap Jongin akhirnya. Namja itu tahu ia tidak akan dapat menolak lagi. Terlebih saat yeoja itu mendadak menyentuh wajahnya, tubuhnya langsung memberikan reaksi aneh yang tidak dimengertinya. Ada apa ini? Kenapa aku jadi salah tingkah?
"Yoong.. Yoong-aa.. Sejak kapan.. kau.. menjadi perhatian seperti ini.. selain terhadap Bummie?" tanya Leeteuk terbata. Ia masih tidak habis pikir dengan apa yang baru saja Yoona lakukan pada trainee muda itu. Bahkan kepadaku saja ia tidak seperhatian itu! Batin namja itu bingung.
"Aish, ada apa dengan kalian? Apa itu salah? Apa salah kalau aku perhatian kepada namdongsaengku sendiri? Sudahlah, aku sudah sangat terlambat. Sekali lagi aku minta tolong padamu oppa untuk mengantar Jongin sampai ke lobby." tanggap Yoona santai. "Dan kau, Jongin-ssi, cepat sembuh ya." lanjut yeoja itu dengan senyum manisnya. Setelah itu, tanpa memperhatikan kebingungan yang masih terpancar dari paras Leeteuk-Jongin, Yoona berlari pelan menyusuri koridor dan menghilang ke dalam salah satu ruang latihan dalam gedung itu.
"Jongin-ssi, mari kita ke bawah." ajak Leeteuk, tersenyum seolah mengantar seorang trainee yang baru saja dikenalnya dan dalam keadaan sakit ke lobby adalah hal biasa. Padahal di pikirannya masih berputar banyak pertanyaan tentang perilaku Yoona yang menurutnya aneh dan tidak biasa. Ah, aku bisa menanyakannya nanti, putus Leeteuk dalam hati. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah melakukan apa yang diminta yeoja itu padanya.
Jongin segera tersadar dari keterpakuannya dan memandang Leeteuk, "Ne sunbae." Keduanya lalu berjalan bersama -dengan Jongin yang berjalan terpincang sambil memegangi pinggang kirinya- menuju lobby gedung SM yang berada di lantai satu.
-o0o0o-
"Jonginnie! Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?" tanya seorang namja kepada namja lainnya yang terbaring di tempat tidur.
"Ah, ternyata kau hyung. Aku sudah tidak apa-apa, meski yah, masih sakit sedikit." jawab Jongin lemah. Namja itu berusaha untuk bangun dan mendudukkan dirinya ketika tiba-tiba ada satu tangan yang menahannya.
"Sudahlah Jongin-aa, jangan memaksakan diri kalau memang masih sakit." Jongin menolehkan kepalanya dan mendapati sosok yang dikenalnya.
"Minho hyung? Kau juga ikut? Tapi.. Bukankah SHinee sedang ada promo tour?" tanya Jongin bingung. Ia kembali merebahkan diri karena memang pinggangnya masih belum bisa diajak kompromi.
"Memang, tapi mendengar kabar dari Taemin kalau kau sakit membuatku khawatir. Karena itu aku dan Taemin menjengukmu. Apa kau tidak senang kalau kami datang?" tanya Minho setengah bercanda.
"A.. Ani, aniyo. Tentu saja aku senang. Hyung jangan salah paham dulu." sergah Jongin cepat.
"Hahaha, kau ini! Selalu saja menganggap serius candaanku. Aku hanya bercanda, Jongin-aa." sahut Minho dalam tawanya. Jongin memajukan bibirnya, merasa kesal karena lagi-lagi kena dicandai oleh para hyungnya.
"Oh ya, darimana Taemin hyung tahu kalau aku sakit?" tanya Jongin tiba-tiba kepada namja yang pertama bertanya padanya tadi. Seingat namja itu, ia tidak memberitahukan insiden sakitnya kepada siapapun dan tidak ada yang mengetahuinya tadi kecuali..
"Yoona noona. Aku tahu itu dari Yoona noona." jawab Taemin dingin. Namja itu menatap Jongin dengan pandangan cemburu yang membuat Jongin bingung.
"Ada apa denganmu, hyung? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jongin tidak mengerti. Taemin hanya membuang muka dan berdiri menjauh dari ranjang Jongin.
"Ada apa dengannya hyung? Apa aku telah berbuat salah padanya?" tanya Jongin yang kali ini ditujukan pada Minho. Namja itu kemudian tersenyum penuh arti dan mendekat ke arahnya.
"Dia cemburu padamu. Apa kau tidak tahu kalau dia sangat menyukai Yoona noona?" jawab Minho dalam bisikan yang cukup keras untuk didengar Taemin.
"Apa?"
"Hei, siapa bilang aku cemburu? Hyung jangan mengada-ada! Aku tidak cemburu! Cih." sangkal Taemin cepat sambil membalikkan badannya menghadap Minho dan Jongin.
"Akuilah Taemin-aa, aku tahu kau cemburu. Iya kan?" goda Minho.
"Be.. Benarkah itu hyung? Kau cemburu padaku?" tanya Jongin hati-hati.
"Ani! Siapa yang cemburu padamu? Aku sama sekali tidak cemburu padamu. Minho hyung hanya mengada-ada. Jangan dengarkan dia." sanggah Taemin lagi. Kulit wajahnya yang semula putih bersih perlahan memerah seperti kepiting rebus.
"Taemin-aa..?" Rupanya Minho belum menyerah untuk menggoda dan membuat maknae kelompoknya itu mengaku.
"..."
"Hyung?" Kali ini Jongin yaang bersuara, namun tidak bermaksud untuk menggoda Taemin, melainkan mencari kebenaran atas pernyataan Minho sebelumnya.
"..."
"Taeminnie?" Lagi-lagi Minho menggoda maknaenya.
"..."
"Aaargghh, baiklah! Baiklah! Aku mengaku kalau aku menyukai Yoona noona! Aku mengaku kalau aku cemburu padamu, Jongin-aa! Sekarang kalian puas, huh?" aku Taemin setengah berteriak. Wajahnya kini benar-benar memerah dengan napas yang sedikit tersengal.
Baik Minho maupun Jongin hanya mampu terpana mendengar pengakuan Taemin. Terlebih Jongin yang diam-diam juga memiliki perasaan yang sama untuk orang yang sama. Ya, seorang trainee muda bernama Kim Jongin telah jatuh cinta pada seniornya yang baru setahun lalu debut, Im Yoona.
Bagaimana ini? Apa aku harus mengalah untuk Taemin hyung? Tapi.. aku sudah terlanjur menyukai Yoona noona. Aarrgh, aku bingung!
-o0o0o-
Terrt. Sebuah ponsel flip berwarna merah muda-putih bergetar pelan, menandakan ada satu pesan masuk. Getaran itu langsung menyadarkan pemiliknya yang tengah berkutat dengan sebundal naskah dialog yang harus dihapalnya untuk take adegan berikutnya. Dengan satu tangan masih menggenggam bundalan naskah, ia mencari benda mungil itu di dalam sakunya dan menariknya keluar. Ia membuka flip ponselnya dan mendapati satu pesan baru di layarnya. Belum sempat ia membuka pesan itu, sebuah tangan kekar seorang lelaki menepuk pelan bahunya.
"Yoona-aa, sutradara sudah memanggil kita ke lokasi berikutnya." Yeoja yang dipanggil Yoona itu mendongak dan tersenyum mendapati sesosok namja yang belakangan ini selalu menemaninya di lokasi syuting.
"Oh, ne. Kalau begitu ayo kita ke sana Jaejung oppa!" ajak Yoona antusias. Yeoja itu bergegas berdiri dari duduknya dan berjalan bersama Park Jaejung, lawan main dalam daily drama pertamanya, menuju lokasi yang dimaksud. Satu pesan yang masuk ke dalam ponselnya segera terlupakan karena ia terlanjur tenggelam dalam agenda syuting strippingnya.
Sementara itu, seseorang yang mengirimi yeoja itu pesan tengah gelisah menunggu balasan. Aish, kemana anak itu? Kenapa pesanku belum juga dibalas?
"Kibum-ssi, sudah saatnya kita take scene selanjutnya." tegur seorang namja paruh baya kepada seorang namja berparas tampan yang sempat terlihat gelisah.
"Ah, ne. Baiklah hyung. Mari." ajak namja bernama Kibum itu sambil memaksakan seluas senyum untuk menutupi kegelisahannya. Kumohon Yoong, balaslah pesanku, pinta namja itu dalam hati sebelum berlalu dan tenggelam dalam kepadatan jadwal syutingnya.
-o0o0o-
"Yoona-aa! Yoona-aa! Gidariseyo!" panggil seorang namja kepada Yoona yang baru saja selesai tampil bersama kelompoknya di panggung salah satu acara musik ternama di Korea.
"Ah, Onew oppa! Annyeong." sapa Yoona sambil membungkuk dalam kepada Onew yang notabene setahun lebih tua darinya. Onew balas membungkuk singkat dan kembali memandang Yoona dengan ekspresi cemas.
"Yoona-aa, aku butuh bantuanmu sekarang." pinta Onew tanpa basa-basi. Yoona langsung mengerutkan alis kebingungan.
"Bantuan apa oppa?" tanya Yoona. Yeoja itu memilih untuk memisahkan diri dari kelompoknya yang beristirahat di ruang ganti dan mendekati Onew.
"Taemin.. Taemin.." Namja itu tidak tahu harus mulai dari mana, sehingga yang mampu diucapkannya hanyalah nama Taemin, maknae kelompoknya, yang memang menjadi masalahnya saat ini.
"Ada apa dengan Taemin, oppa?" tanya Yoona lagi. Kali ini ia mencondongkan tubuh ke arah Onew dan menunjukkan raut kecemasannya.
"Dia sakit, Yoona-aa. Demamnya tinggi sekali. Padahal malam ini kita harus tampil. Dia menolak untuk minum obat. Dia bilang.. Dia bilang.." lagi-lagi Onew terbata-bata dalam memberikan jawaban yang sukses meningkatkan kecemasan Yoona.
"Apa? Kenapa oppa tidak jujur saja pada manajer oppa tentang keadaan Taemin? Setahuku pihak acara tidak akan memaksa untuk tampil kalau memang kondisinya tidak memungkinkan." jelas Yoona cepat.
"Aniyo, Yoona-aa. Kami sudah mengatakan hal itu dan memaksanya untuk beristirahat di dorm, tapi dia ngotot ingin tetap tampil. Sebenarnya dia mau minum obat asalkan.. asalkan.. kau yang mencekokinya." ucap Onew yang akhirnya berhasil mengatakan apa yang sebelumnya tersumbat di tenggorokannya.
"Apa?! Aish, dasar anak itu! Baiklah oppa, aku mau. Dimana ruang ganti kalian?" tanya Yoona gemas. Bukan apa-apa, tetapi sejak Yoona mengenal Taemin, ia sudah jatuh hati pada namja itu dan terlanjur menyayanginya seperti adik sendiri. Maklum saja, Yoona adalah bungsu dari dua bersaudara dalam keluarganya. Meski tingkah lakunya sangat kekanakan, namun di dalam hatinya ia sangat menginginkan kehadiran seorang adik yang lucu. Dan hal itu ia dapatkan dari Taemin. Bukan berarti Seohyun tidak ia anggap sebagai adik, namun pemikiran Seohyun yang seringkali lebih dewasa darinya membuat Yoona merasa kalau dialah sang maknae. Meskipun begitu, ia tetap berusaha untuk menjadi kakak yang baik bagi Seohyun.
"Eh? Ah, kalau begitu ayo ikut denganku. Ruang ganti kami ada di sana." ajak Onew sambil menuntun yeoja itu menuju ruang ganti kelompoknya. Begitu sampai di depan ruang ganti bertuliskan 'SHinee's Room', Yoona langsung mendorong pintunya ke belakang dan melesat menuju satu sosok yang terbaring di atas sofa tanpa memperhatikan tatapan member SHinee lainnya.
"Taeminnie! Astaga, lihat dirimu sekarang! Lemas dan wajahmu sangat pucat. Dan.. " Yoona menggantung ucapannya lalu menempelkan punggung tangannya ke kening Taemin. "Demammu tinggi sekali! Dengan demam setinggi ini kau masih nekat mau tampil? Ckck. Apa kau sudah minum obat, huh?" lanjut Yoona dalam omelannya. Sementara itu Taemin hanya mampu terbengong-bengong menyaksikan bukti ke-overprotektif-an Yoona.
"Yoona noona, apa yang kau..?" belum sempat Taemin menyelesaikan ucapannya, yeoja itu sudah mengacungkan telapaknya dengan beberapa butir obat di atasnya.
"Minum ini dan kau boleh tampil, arraseo?" perintah Yoona tegas. Sementara Taemin yang masih belum bisa memproses perintah Yoona hanya terdiam. Karena obat-obat itu tidak juga diambil oleh Taemin, Yoona merasa gemas dan berniat untuk meminumkannya secara paksa.
"Kau mau minum sendiri atau aku yang akan memasukkan paksa obat-obat ini ke mulutmu?" tanya Yoona tegas. Taemin tersadar dan membelalakkan kedua matanya.
"Ne?! Ani! Biar aku yang meminumnya sendiri, noona." tolak Taemin yang langsung mengambil semua butiran obat itu dan meminumnya dalam sekali tenggak.
"Nah, begitu kan lebih baik. Good boy." puji Yoona sambil mengusap dan menepuk pelan kedua pipi Taemin. "Ini minumnya." lanjut Yoona sambil mengangsurkan sebotol air mineral yang ada di atas meja. Taemin berusaha menggapai dan memegang botol itu, namun rasa pusing tiba-tiba menderanya.
"Aargh" ringis Taemin yang kembali menjatuhkan kepalanya ke sandaran lengan sofa yang ditidurinya. Yoona terkesiap kaget, begitupun member SHinee lainnya hingga mereka langsung mendekat dan mengerumuni Taemin.
"Taemin-aa, kau kenapa?"
"Mana yang sakit?"
"Apa perlu kupanggil manajer hyung dan memintanya untuk mengantarmu ke rumah sakit?"
Banyak pertanyaan berdengung di kepala Taemin dan membuat kondisi namja itu semakin memburuk. Dengan sisa tenaganya, ia berusaha untuk mendudukkan diri dan membuat satu keputusan.
"Aku tetap akan tampil. Aku sudah minum obatnya dan aku akan baik-baik saja. Aku janjikan itu pada kalian." putus Taemin yang menimbulkan kalimat penolakan dari member lainnya.
"Andwe, Taemin-aa! Kau tidak harus tampil. Kau harus istirahat."
"No, big no Taemin! Aku tidak akan mengijinkanmu tampil."
"Kau sedang sakit, Taemin-aa, kau jangan memaksakan diri."
Taemin merasa pusing dengan rentetan larangan dari para hyungnya yang mendadak menjadi super bawel malam ini. Meski demamnya memang belum turun, namun ia tidak merasa selemah itu. Terlebih setelah Yoona datang dan sangat terlihat mengkhawatirkannya. Entah kenapa kekhawatiran dan perhatian yang baru saja yeoja itu tunjukkan telah menyuntikkan tambahan tenaga dalam diri Taemin, membuatnya yakin kalau dia akan sanggup tampil malam ini.
"Hyung! Diamlah! Aku pusing mendengar kebawelan kalian. Pokoknya malam ini aku tetap mau tampil. Titik tanpa koma." tegas Taemin sekali lagi yang berhasil membungkam mulut Minho, Key, Jonghyun, dan bahkan Onew sang leader.
"Tapi Taeminnie.." Yoona yang hendak menyuarakan keberatannya langsung dibungkam Taemin dengan pelukan tiba-tiba ke arahnya.
"Tenanglah noona, aku tidak akan apa-apa. Aku senang noona mengkhawatirkanku. Gomawoyo. Sepertinya aku harus lebih sering membuatmu khawatir agar kau mau memperhatikanku, hehe." bisik Taemin halus sambil menyunggingkan senyum jahilnya yang tentu saja tidak dapat dilihat Yoona.
"Taemin-aa, apa-apaan kau..?" tanya Yoona yang masih dibekap Taemin dalam pelukannya. Yeoja itu baru benar-benar tersadar dan hendak berontak melepaskan diri ketika pelukan Taemin mengendur dan kemudian terlepas.
"Ayo hyung, sepuluh menit lagi kita tampil! Kajja!" ajak Taemin antusias seolah demam yang dirasakannya mendadak hilang. Minho, Key, Jonghyun, dan Onew masih beku dalam keterkejutannya sampai Taemin terpaksa berteriak sekali lagi.
"HYUNG! Ayo!"
"Ah, ne, ne." Keempat orang itu tersentak sadar dan bergegas menyesaki pintu keluar menuju backstage, meninggalkan Yoona yang masih ternganga kebingungan. Sebelum menghilang ke dalam backstage, Taemin kembali menyembulkan kepalanya dari balik pintu dan tersenyum, "Saranghaeyo Yoona noona".
