Orange Peel
.
Suasana begitu canggung saat ini. Luhan tengah berhadapan duduk didepan pria itu, yeah tunangannya. Park Chanyeol. Saat ini Luhan tengah merasakan perasaan yang berkecamuk. Kenapa? Dua tahun yang lalu mereka –Chanyeol Luhan- bertunangan, mereka berhubungan ketika waktu sudah dekat dengan kelulusan universitas.
Lalu tidak memakan waktu yang cukup lama, hanya sekitar 3 bulan. Chanyeol menginginkan Luhan untuk menjadi tunangannya. Tentu saja saat itu Luhan percaya pada Chanyeol, karena ia sudah terjerat dalam pesonanya.
Akhirnya 2 minggu sebelum kelulusan mereka memutuskan untuk tunangan, dan 2 minggu kemudian dimana waktu belum lama setelah mereka tunangan. Chanyeol menghilang, Luhan berpikir bahwa awalnya Chanyeol mungkin sedang sibuk. Tetapi setelah kurang dari 2 minggu, Luhan mulai curiga, mendatangi apatermen dimana Chanyeol tinggal, mencari kemana saja. Ke tempat-tempat yang Chanyeol suka. Hingga akhirnya ia merasa lelah dan merasakan bahwa ia sudah dipermainkan.
Chanyeol menghilang tanpa jejak, meninggalkan Luhan dengan luka dan air mata yang menyayat ketika pria itu sama sekali tidak memberitahunya perihal apapun.
Dan sekarang pria itu datang lagi disaat Luhan sudah menyamarkan luka lama yang hampir rapih terbungkus, seakan bungkusan itu retak kembali dan ingin meledak kapanpun itu.
Chanyeol menatap Luhan dalam, Luhan memberanikan diri untuk menatap matanya.
"Aku.. aku minta maaf".
"..."
"Ya, aku memang lelaki brengsek. meninggalkanmu tanpa ada kabar sama sekali, maafkan aku Luhan-ah".
"..."
"Luhan jawab aku".
"..."
"aku tahu kau sangat marah, tapi sungguh aku benar-benar minta maaf padamu".
"ya kau memang brengsek. Lebih baik kau pergi, jangan memohon apapun padaku. Lupakan semuanya".
"aku masih mencintaimu, sungguh aku sangat menyesal".
"aku tidak peduli".
"Lu—"
"pergi!".
"setidaknya dengarkan penjelasanku dulu!". Suara Chanyeol naik satu oktaf, ia ingin Luhan mendengarkannya terlebih dahulu mengapa ia pergi begitu saja. Namun sepertinya Luhan tidak tertarik.
"apa yang harus ku dengar dari mulut sampahmu itu? Apa penting?". Oow kata-kata Luhan mulai menandakan kemarahan yang tersirat saat ini.
"Luhan—"
"Pergi!". pinta Luhan dengan nada yang dingin. Chanyeol tidak banyak bicara lagi selain beranjak dan menuju pintu keluar rumah Luhan. Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, Luhan melirik sinis menatap punggung tegap itu.
"Hari libur yang buruk". Ucapnya
.
.
.
.
Hari weekend berakhir, dan aktivitas sehari-hari pun dimulai. Sehun bangun 1 jam sebelum Aley bangun, sekarang pukul 4. entahlah, ia merasa bersemangat sekali hari ini. Pikiran saat hari kemarin dia mengantarkan Luhan pun melintas, bagaimana cara Luhan berbicara. cerewet, dan seperti orang yang mudah akrab dengan siapapun. Terlihat dari wajahnya yang memperlihatkan sisi kemandirian, dan hangat. ah kenapa pagi-pagi seperti ini memikirkan orang? Konyol sekali. Memikirkannya saja membuat Sehun tersenyum sendiri.
apa tuan Oh ini sudah terjerat pesona guru dari anaknya?
.
Orange Peel
Present by Ohandeer
HunHan GS!
..
..
Sehun dan Aleyna sudah berada didalam mobil, Sehun mengantar Aleyna lebih pagi karena ada pekerjaan yang menunggunya setelah ini. Aleyna sibuk dengan games yang sedang ia mainkan, ia lebih senang bermain games di handpone Sehun dari pada psp.
Dan dijalan pun ia melihat Luhan berada di halte, sudah jelas tengah menunggu bus datang. Rasanya Sehun ingin menghampiri kemudian memberikan tumpangan pada Luhan, namun rasa gengsi pun menghampiri dirinya. kalau saja Aley melihat ini, pasti ia sudah bersemangat untuk berhenti dan mengajak Luhan untuk berangkat bersama-pikir Sehun. Dan mobil Sehun melaju melewati Luhan.
.
HunHan
.
Walau Luhan tidak ingin bertemu dengan Chanyeol sedikitpun, ia tetap mengawasi Luhan dari kejauhan. buktinya saat ini ia sedang berada diseberang halte, didalam mobil. Rasa bersalah selalu meliputi hatinya sendiri, perasaannya. Chanyeol mencoba untuk memperbaiki semuanya, walau terasa sangat sulit. Jikalau Luhan tidak menerimanya lagi, setidaknya biarkan Chanyeol mendapatkan maaf dari Luhan, ataupun kalau tidak bisa mendapatkan maaf, izinkan Chanyeol untuk terus melindunginya walau hanya dari jarak kejauhan. Ia masih sangat menyayangi Luhan.
setelah melihat gadisnya menaiki bus tujuan, ia segera mengikutinya. ia telah berjanji untuk menebus kesalahannya. Tapi rencana tetaplah rencana, terkadang rencana itu tak berjalan mulus seperti contoh saat ini yang terjadi entah karena terlalu fokus atau bagaimana iapun menabrak seseorang dengan mobil mulusnya. Hal kecil dipagi hari yang membuatnya kesal, tetapi ia tetaplah pria tampan yang bertanggung jawab. Chanyeol turun dan melihat korban, sudah tergeletak terlihat tengah meluruskan kakinya.
Chanyeol berdecak sebal, bisa-bisanya dia menabrak orang seperti ini.
"nona, apa kau baik-baik saja?".
"Yak! apanya yang baik-baik saja, lihatlah aku terkilir karenamu". Ucapnya disertai ringisan singkat. Perempuan itu melirik Chanyeol yang sedang menatapnya, ugh dekat sekali jarak mereka membuat perempuan itu memalingkan wajahnya.
perempuan cantik yang memiliki wajah polos, tapi cukup cerewet.
"Apa yang kau lihat!".
"Ti tidak, ah aku akan membawamu kerumah sakit".
"Tidak, aku tidak mau. Aku bisa berobat sendiri".
"Benarkah?".
"Ya".
"Sekarang apa?".
"Bantu aku berdiri bodoh!".
Chanyeol meghela napasnya pelan, dan membantu perempuan itu berdiri
"Maafkan aku nona".
"Sudahlah". Ujarnya kemudian meninggalkan Chanyeol.
.
.
.
.
Luhan sudah sampai di mejanya, dia menyandar sejenak. Bersyukur karena tidak terlambat, Luhan anti dengan kata terlambat. Walau ia bekerja menaiki bus itu tidaklah menjadi masalah baginya jika menyangkut dengan kedisplinan. selain mandiri, Luhan juga disiplin.
Masih ada 20 menit lagi untuk masuk ke kelas, tadi pagi ia menunggu bus tujuan lama sekali tidak seperti biasanya yang hanya 5 menit menunggu bus pun datang.
Dan.. ia merasa seperti melihat Sehun? entahlah, apa karena pikirannya saja atau bayangan semata?
Melihat wajah Sehun seperti melihat seseorang yang berada di masa lalu. Ah masih pagi sudah berpikir hal-hal seperti ini.
'Kringg kring,
Kring kri— "yeoboseo?"
"Aah ya, ada apa Sehun.. ssi?"
'tak usah sok formal, ingatlah kemarin kau bersifat seperti apa'
"Ck, kau ini. Cepat katakan ada apa". Ujar Luhan kesal tetapi dengan nada berbisik, tidak mungkin ia berbicara dipagi hari dengan nada yang kesal, yang akan dilihat oleh guru-guru lain. Dia menjaga imej.
'ok, bisakah kau keluar? Aku di samping halaman sebelah kanan sekolah ini. Aku ingin berbicara, dan oh ya! jangan membuat ku lama. Aku sibuk'
"Yak kau apa-apa—
'cepat'.
Klik, panggilan berakhir. Kurang ajar sekali, pikir Luhan.
Baru bertemu sehari-kemarin- sudah langsung bersikap seolah-olah Luhan adalah teman lama. Bertemu sehari saja dengan cara sengaja seperti kemarin merasa tidak ingin bertemu orang itu lagi. dan sekarang Sehun yang meminta menemuinya. Ck, benar-benar.
Dan Luhan pun pergi menuju dimana Sehun berada.
.
.
.
Luhan melihat Sehun yang sedang menghadap utara , punggung tegas dibalut dengan kemeja hitam membuatnya kagum. Belakangnya saja sudah kagum, bagaimana dengan yang lain?
"Ada apa?". Sehun pun membalik badannya ketika ada suara dari belakang, disana ia bisa melihat Luhan.
"Aku ingin memintamu untuk menjadi guru pembimbing Aleyna dirumah". Jawab Sehun to the point, lagi pula Luhan tidak suka untuk sekedar basa basi.
"Untuk apa?". Bodoh, ya tentu saja untuk menjadi guru privat sang anak.
"Hanya saja aku merasa yah terkadang sibuk, kau bisa mengatur jadwal mengajar Aley kapanpun kau mau. Dan Aku terkadang tidak sempat membantu pekerjaan rumahnya. Ya, aku tahu masih terlalu kecil seukuran Aley untuk—
"Cukup. kau terlalu bertele-tele. jadi kapan aku bisa memulai?".
"Besok, karena aku juga belum bilang dengan Aley".
"Baiklah, aah aku harus mengajar". Ucap Luhan final dengan sedikit menundukkan badannya, walau terkesan blal-blakkan tetapi ia tidak pernah melupakan sopan santun dalam hidupnya.
Sehun tersenyum seiring menghilangnya tubuh Luhan dibalik tembok, sebenarnya ini juga merupakan modus agar Sehun bisa mengorek lebih dalam tentang Luhan.
.
.
.
orange peel
Aku selalu melihatnya dari jauh,
Aku tidak pernah berani menghadap langsung dengannya
entah apa yang membuat aku seperti seorang pengecut
aku hanya bisa mencari tentang kehidupannya,
satu hal yang paling konyol adalah
aku tidak pernah mengetahui namanya.
Tetapi aku menemukan fakta unik tentangnya, ia menyukai parfum beraroma kulit jeruk.
Selain itu, ia juga menyukai kulit jeruk.
Tidak, tidak untuk dikonsumsi, tetapi hanya sebagai hobi ketika selesai memakan sebuah jeruk ia selalu menyimpan kulit jeruk tersebut selama seharian penuh.
Aku juga tidak pernah mengetahui apa itu sebabnya, sampai pada akhirnya dengan kebodohanku. Aku ketahuan tengah memperhatikannya yang sedang duduk dibangku taman sekolah dengan sebuah kulit jeruk ditangannya. Ia menyerngit bingung tentu saja, dan aku mulai gugup. kemudian aku melihatnya tersenyum lembut, dan dia melambaikan tangannya padaku, gestur tangan yang menunjukkan mengajakku untuk menghampirinya. Oh ya Tuhan aku semakin salah tingkah. aku tidak menolak, dengan nyali seadanya Aku menghampirinya.
Dia bertanya apa yang aku lakukan, dan aku jawab dengan jujur. Dia tertawa renyah, entah mengapa membuat ku malu, sebenarnya siapa yang gadis disini?
Aku memang selalu gugup dengan wanita yang aku sukai, seperti saat ini. Tetapi ia menjawab rasa penasaranku. ia bilang bahwa baginya sebuah kulit jeruk mempunyai aroma yang khas sehingga tidak ada yang menyamakan aromanya, warna yang cerah.. ia menyukainya, baginya memberikan kecerahan terhadap hidup. Dalam sebuah hal kecil berpengaruh baginya. Kulit jeruk yang terasa pedih jika terkena mata, melambangkan bahwa kehidupan tidak hanya senang. Ada pedih juga, dan rasanya yang pahit menambahkan fakta bahwa hidup tidak selamanya akan berjalan manis. Ketika kulit jeruk menghitam serta mengering, baginya masalah yang dihadapi seakan selesai dan siap untuk dibuang dijadikan sebuah masa lalu. Dan dengan intinya, ia menyukai makna kulit jeruk menurutnya sendiri.
orange peel
.
.
.
Chanyeol adalah orang yang mandiri, ia adalah seorang pengusaha dengan proyek besar dimana-mana. Dengan keterpaksaan dulu ia meninggalkan Luhan, ia berada di Jerman untuk mempelajari lebih dalam tentang dunia perbisnisan. Otaknya yang lancar membuatnya cepat menangkap apa yang dipelajari.
Merenung sejenak tentang Luhan. Ia merasa perasaanya seakan tak lagi sama seperti dulu. Tetapi masih terbesit rasa sayang yang teramat untuk Luhan. Ia sangat menyesal, bisa-bisanya membuat seorang wanita menangis apalagi karena dirinya. Tidakkah ia terlihat seperti lelaki yang tak bertanggung jawab?
Ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk menebus kesalahannya selama ini kepada Luhan. Walaupun Luhan belum bisa atau mungkin tidak akan melihatnya lagi, dalam artian tidak mau bertemu dengan Chanyeol, tetapi Chanyeol tetap akan menebus kesalahannya dimasa lalu. Membuat Luhan merasa bahagia, apapun untuknya.
Tiba-tiba terbesit dikepalanya sosok wanita mungil, cantik, cerewet mungkin yang ia tabrak—entahlah Chanyeol merasakan rasa berbeda saat melihatnya, apalagi menangkap obsidian mata cokelatnya itu.
Apa ia menyukai perempuan itu?
.
.
.
.
Hari telah berganti, ini hari selasa. Hari dimana Luhan akan mengajarkan beberapa pelajaran yang Aleyna tidak tahu. Lima menit lagi ia akan kesana, Luhan melirik jam ditangannya pukul 2 siang. Luhan berpikir tidak perlu mengajar terlalu keras untuk anak seumuran Aleyna,maksutnya keras adalah ia tidak harus mengajar Aleyna terlalu banyak. Menekankan agar Aley mengerti, Luhan sabar dalam hal mengajar. Ia akan mengajar Aley dengan perlahan sampai anak itu mengerti.
Luhan dengan semangat dalam dirinya beranjak pergi untuk mengajar Aleyna, ia mendapatkan alamat apatermen Sehun dari yeah Sehun sendiri. Sehun mengiriminya pesan singkat tadi.
Sehun juga bilang, ia tidak akan berada diapatermen. Kalian tahu sendiri Sehun juga merupakan orang yang sibuk akan pekerjaannya.
Luhan berjalan sampai akhirnya ia sampai dihalte. Menunggu bus tentu saja.
Ia memikirkan sedikit tentang pertemuannya dengan Sehun, terkesan sangat aneh. Sehun tampan, Luhan akui. Kesan pertama melihat Sehun ia sebenarnya merupakan orang yang ramah tetapi ada sisi lain yang membuatnya terlihat menjadi orang yang mengesalkan. Mungkin Sehun juga merupakan salah satu orang yang bisa akrab dengan orang lain sama seperti dirinya. Dan entah mengapa ia tidak mengerti, setiap bertemu Sehun sudah seperti Kucing dan Puppy galak ada saja yang diperdebatkan.
Luhan tertawa kecil ketika mengungkapkan kata Kucing dan Puppy galak, dan akhirnya ia sadar dari keterlamunannya saat mendengar suara mesin bus semakin mendekat hingga akhirnya Luhan berdiri dan menghentikan bus tersebut.
.
.
.
.
Sudah jam 14.35 tapi Lulu ssaem belum datang-pikir Aley-
Aleyna, gadis cilik itu sudah menunggu-nunggu diajarkan oleh Lulu ssaem. Pengajaran ekstra. Saat Ayahnya memberitahu bahwa ia akan mengikuti pembelajaran dirumah bersama Lulu ssaem, ia amat excited. Ia langsung menyetujui apa yang dikatakan Ayahnya.
Aleyna sudah menghabiskan 1 cup es krim sambil menunggu guru cantiknya, tetapi belum datang juga. Ayahnya sudah meninggalkannya dari 3 jam yang lalu karena ada pekerjaan yang menanti Ayahnya-begitu kata Sehun.
Dan mata cantik milik Aleyna berbinar saat mendengar bel dari pintu apatermennya. Ia langsung beranjak dari kursi dapur, berlari kecil menghampiri pintu tersebut.
Dan tada— Ssaem yang ditunggunya pun telah datang.
"Hai Aleyna. Maaf ssaem sangat lama ya?". Sapa Luhan. Luhan terlambat karena perjalanan dari sekolah ke apatermen ini memakan waktu kurang lebih 20 menit. Belum lagi lantai apatermen ini berada di lantai 8, memang sih menaiki lift tapi bukan berarti tidak akan memakan waktu kan?
"Tidak apa ssaem, ayo masuk". Ujar Aleyna dengan girang, sembari mengajak masuk Luhan.
.
.
Sudah setengah jam mereka, Luhan dan Aleyna berada di ruang tamu untuk membantu materi apa yang tidak ia mengerti. Dan Luhan bersyukur bahwa Aleyna ternyata mudah menangkap saat ia ajarkan.
Saat ini Luhan sedang memberikan 10 soal matematika tentang perkalian, anak itu sendiri yang memintanya. Luhan yakin, anak tersebut akan tumbuh menjadi gadis yang pintar nantinya saat dewasa.
Sambil menunggu Aleyna mengerjakan soal, mata Luhan menelusuri setiap sisi diruangan ini. Menurut Luhan apatermen ini cukup luas dan yeah mewah. Siapapun tahu apatermen ini memang mewah. Cat putih melapisi dinding-dinding, serta pajangan-pajangan lucu di meja panjang.
Menelusuri terus sampai matanya melihat sebuah foto berbingkai lumayan besar, menampakkan seorang wanita cantik dengan rambut hitamnya digerai, memakai dress peach selutut dengan flat shoes senada dengan warna dress. Simple sekali, tetapi menampakkan betapa naturalnya wanita tersebut. Dengan make up tipis dan gaya yang elegan. Senyumnya begitu manis. Luhan melihat sebuah tulisan tertera pada bingkai tersebut di bawahnya bertuliskan Oh min jung dengan gaya tulisan miring, dan Luhan tersadar, apakah itu almarhumah istri Sehun sekaligus ibu dari Aleyna?
"Ssaem aku sudah selesai". Ucap Aleyna dengan bangga tentu saja, Luhan pun menoleh dan mengambil hasil kerja anak itu. Dari 10 soal, ia mendapatkan 2 salah. Tetapi bagi anak seumurannya sudah bagus bisa mengerjakan perkalian.
"Apa ssaem tadi melihat foto ibu?".
"Eh?"
"Aku tadi memperhatikan ssaem sedang melihat foto itu". Katanya sambil menunjuk foto yang tadi Luhan perhatikan.
"Dia ibuku, cantik sekali kan?". Luhan mengangguk dengan senyum yag terpatri diwajahnya. Tetapi dia tidak ingin membicarakan ini, dia tidak mau Aleyna menjadi sedih seketika mengingat ibunya yang sudah meninggalkannya sejak lama ke alam sana.
"Apa kau ingin eskrim? Sebagai hadiah bahwa kau sudah berani dan mendapat nilai baik dari ssaem barusan. Bagaimana?'.
"Aku mau ssaem! Aku ganti baju sebentar". Ujarnya girang, dia memang anak yang periang.
Tidak lama menunggu Aleyna berganti baju, ia melihat anak itu memakai celana putih selutut dengan atasan baju berlengan panjang berwarna soft pink. Ia membawa sebuah sisir dan kunciran kelinci putih. Ia meminta Luhan agar menguncir rambut si anak dengan model pony tail.
Setelah selesai menguncir, Aleyna memakai sepatu putihnya. Ia bisa memakai sendiri, katanya.
Ting Tong
Bel apatermen berbunyi membuat 2 makhluk manis ini berpandangan satu sama lain.
"Apakah itu ayahmu?".
"Hmm aku juga tidak tahu ssaem. Tapi kenapa ayah tidak langsung masuk ya?".
Benar juga, ini kan apatermen Sehun. Lagi pula apatermennya menggunakan password. Lalu siapa?
"Apa itu Kuma ahjussi ya?".
"Siapa itu?".
"Dia teman Ayah, sangat tampan. Kuma ahjussi baik, dan sering main kesini sejak seminggu yang lalu".
"Biar ssaem yang bukakan, kau pakailah sepatu".
Luhan melihat dari intercome, ia melihat sosok lelaki tetapi membelakangi pintu. Ia membuka pintu apatermen, lalu melihat pria tersebut tengah memainkan ponselnya masih dengan posisi membelakangi. Ia memakai topi putih dan jaket kulit, sepatu putih, dan celana jeans hitam. Ia seperti pernah melihat orang ini walau melihat dari belakang. Ini seperti—
"Chanyeol". Ujar Luhan saat pria itu berbalik. Oh Tuhan, Luhan hanya tidak ingin bertemu Chanyeol untuk sementara waktu.
"Oh hai Lu". Balas Chanyeol tak kalah terkejut, jadi Kuma Ahjussi itu Chanyeol?
"Kuma ahjussi!". Teriak Aleyna, berlari kecil menghampiri Chanyeol.
"Hai cantik, eum kalian mau kemana?".
"Aku dan Lulu ssaem mau memakan ice cream, apa Kuma ahjussi mau ikut?". Oh ternyata Luhan adalah guru Aleyna. Chanyeol sekilas menatap Luhan. Luhan mengalihkan pandangan, menunduk menatap sepatu Chanyeol. Sedangkan Chanyeol bingung, ia tidak biasa menolak ajakan dari Aleyna. Tetapi disisi lain ia juga tidak merasa enak dengan Luhan, wanita itu pasti merasa tidak nyaman akan kehadirannya yang tiba-tiba seperti ini.
"Cantik maafkan kuma jussi tidak bisa ikut, apa Ayahmu ada?".
"Ayah masih bekerja". dengan nada yang khas anak kecil. Sebenarnya Chanyeol kesini untuk main saja seperti biasanya. Namun melihat Luhan berada disini ia merasa jadi tidak enak. Dan sejujurnya Chanyeol ingin ikut dengan mereka, tapi apa boleh buat. Tampak dari muka Luhan seperti tidak ingin jika ia ikut.
"Baiklah, kalau begitu Kuma ahjussi pamit ya".
"Kenapa cepat sekali?".
"Ahjussi ada urusan lain, cantik". Dengan seyum menawannya sambil mengusak pelan rambut Aleyna.
"Aku pergi Lu". Ucap Chanyeol dengan nada sedikit gugup, Luhan mengangguk singkat. Dan setelah itu Chanyeol pun pergi.
"Apa Lulu ssaem mengenal Kuma jussi?". Tanya Aleyna, dan Luhan mengangguk saja.
"Aah Ayo kita berangkat, sebelum hari gelap".
.
.
.
Langit sudah sedikit jingga, matahari sebentar lagi akan pulang kerumahnya. Sehun pun juga baru saja selesai dengan pekerjaannya. Ia memang sedang bekerja sama dengan perusahaan besar, sehingga ia harus teliti dan bekerja ekstra untuk pekan ini.
Menyandar pada kursi kerjanya, sembari memejamkan mata. Membayangkan anaknya yang mungkin sekarang berada dirumah sendiri atau mungkin masih ada Luhan disana.
Dan ia jadi membayangkan sosok istri, ketika ia pulang kerja sang istri menyambut memberikannya teh hangat. Dan menyiapkan air hangat untuk mandi, menyiapkan pakaian tidur dan ah— Oh Sehun sebaiknya kau pulang sekarang. Sehun menggeleng tak percaya dengan apa yang dipikirkannya, bisa-bisanya ia berpikiran seperti ini.
.
.
.
Aleyna berada dimeja makan, memakan masakan Luhan. Memasak seadanya tentu saja. Luhan memasak sayur sop, dan omelet. Hanya itu yang bisa ia dapatkan dikulkas rumah ini. Mereka sudah berada dirumah sejak 20 menit yang lalu. Dan mereka juga belum mendapati Sehun yang berada dirumah.
Luhan tidak tega meninggalkan Aleyna sendirian, Luhan sangat sayang pada anak-anak. Maka dari itu ia menunggu Sehun pulang, tadi juga Luhan sempat mandi sebentar karena ia merasa lengket pada tubuhnya.
Mata Luhan menatap Aleyna yang sedang makan dengan lahap. Ia bilang masakan Luhan sangat enak.
Kemudian Luhan melirik jam dinding, sudah pukul setengah 7, Sehun belum pulang juga? Apa pekerjaannya sangat banyak? pasti melelahkan sekali.
"Aleyna kapan Ayahmu pulang?".
"Entahlah ssaem mungkin sebentar lagi, atau bisa jadi Ayah baru pulang nanti larut malam".
"Aah begitu". Luhan mengangguk paham. Dan setelah itu ponselnya berdering, Sehun menelponnya.
.
'ne?'
'Apa kau masih dirumah?'
'Ya, aku masih disini'
'Kalian sudah makan?'
'Sudah'
'Aku sedang dalam perjalanan, tunggu sebentar'
'Baiklah. Cepat pulang dan hati-hati' klik.
Begitulah setelah Luhan mengucapkan kata itu, ia tadi tidak menyadari bahwa ucapannya seperti seorang istri yang khawatir akan suaminya yang sedang dalam perjalanan pulang.
Luhan berjalan ke pantry, dia ingin membuatkan teh untuk Sehun. Seperti mendapat dorongan ia melakukan ini. Setelah teh yang masih hangat itu jadi, Luhan duduk di kursi makan menunggu sosok pemilik apatermen ini datang. Aleyna sudah masuk ke kamarnya, ia bilang ingin menggambar.
Tak sampai 5 menit menunggu, terdengar suara pintu terbuka. Luhan yakin itu Sehun, Luhanpun mengambil teh yang sudah ia buat sambil menghampiri Sehun. Luhan sedang melihat Sehun berada dipintu Aleyna, sedikit membukanya. Sehun sedang melihat apa yang dilakukan sang anak. Setelah itu iapun menutup pintu dengan perlahan dan ketika berbalik ia mendapati Luhan dengan cangkir ditangannya.
"Sehun, ini minumlah". Ucap Luhan memberikan cangkir itu pada Sehun yang senang hati diterima. Sehun meminum sedikit teh itu, terasa sekali sensasinya. Sudah lama ia tidak merasakan hal seperti ini. Apa pemikirannya tadi akan terwujud?
"Maaf jika aku lancang, tapi boleh aku menyiapkan air hangat untukmu? Kau tampak lelah". Wow Luhan melembut, tak biasanya seperti ini. Sehun dengan senang hati menerima kebaikan wanita itu. Memangnya kapan lagi wanita itu akan bersikap seperti sekarang ini?
"Silahkan, kau tahu kamarku kan? Masuklah tak apa". Luhan tahu kamar Sehun dari Aleyna, disini terdapat 4 kamar.
Sehun ke dapur dan melihat masakkan yang tersaji didepannya. Ia lapar, sangat. Baiklah lebih baik Sehun makan terlebih dahulu, simple tetapi enak sekali, pikir Sehun.
Sehun terus memakannya sampai tak tersisa, rasa lapar dicampur enaknya makanan yang baru saja ia makan mendorongnya untuk menghabiskan ini semua. Sampai-sampai si pembuat masakkan tersenyum manis, Luhan memperhatikan Sehun dari tadi, berniat untuk memberitahu Sehun bahwa air untuk mandi sudah siap. Tetapi melihat Sehun yang sama lahapnya dengan Aleyna saat makan membuat ia merasa tidak tega. Dan akhirnya menunggu Sehun selesai.
"Sehun". Panggil Luhan, Sehun menoleh.
"Airnya sudah siap, dan sudah jam 8. Aku pamit pulang". Luhan berkata dengan nada biasa, tetapi tetap lembut.
"Lu, kau tunggu sebentar saja. Aku akan mengantarmu pulang oke?". Luhan ingin menjawab tetapi didahului oleh Sehun
"Tidak ada penolakkan Lulu ssaem". Ya mau berbuat apapun juga sepertinya Sehun tidak mau dibantah. Luhan menurut saja.
"Lu, ada buah jeruk dikulkas. Kau boleh memakannya jika kau mau". Setelah itu Sehun masuk ke dalam kamarnya. Mendengar kata jeruk Luhan sangat tertarik. Ia sangat menyukai buah jeruk sedari dulu.
Luhan mengambil 1 saja, mengupasnya dan memakannya. Manis yang ia rasa. Sampai habis tersisa kulit dan bijinya. Bijinya ia buang, tetapi tidak dengan kulitnya. Ia rindu akan kebiasaannya menyimpan kulit jeruk.
"Luhan apa yang kau cari?". Sehun sudah mandi dengan berpakaian yang casual.
"Apa kau punya plastik kecil?".
"Ada tunggu sebentar". Sehun mengambil plastik transparan berukuran sedang, dan memberikannya pada Luhan. Luhan memasukkan kulit jeruk tadi. Sehun menatap Luhan tetapi sebelum ia bertanya. Luhan sudah mengungkapkan mengapa ia melakukan ini.
"Ini kebiasaanku, aku suka jeruk. Aku sering menyimpan kulit jeruk didalam plastik". Ucapnya, menatap kulit jeruk yang sudah ada didalam plastik. Membuat Oh Sehun diam, terkejut dan berpikir.
.
.
.
TBC YAAAA HEHE
HAIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII, HADUH LAMA BGT YAAAAAA. Yang pertama aku minta maaf karena keterlambatan. Aku ada acara ldp waktu itu, kemudian memanfaatkan waktu libur untuk istirahat. Sekarang baru bisa dilanjut. Yang kedua, bagaimana dengan ceritanya? Apa semakin ngawur? Cuma ini yang ada dipikiranku saat ini. Dan aku berencana ff ini gak sampe lama chapternya, aku tidak berencana membuat ff ini rumit. Nanti aku nya yg rumit. tadinya ini Cuma 2k+, tapi aku lanjutin lagi sampe 3k+. Maaf yang udah bosen sama ff ini. ini murni dari otak saya.
AKU JUGA MAU BIKIN FF BARU HUNHAN, TAPI MAU NYELESEIN FF INI DULU. Tapi baru rencanasih, bisa aja gajadi.
Aku juga minta maaf untuk kesalahan chapter sebelumya tentang penulisan aku-saya – pada dialog HunHan. Aku tidak sadar, dan tidak mengedit2 lagi, Terimakasih sudah diingatkan. Kemudian disini aku juga membuat HunHan cepet akrab walau baru ketemu gitu. Aku lupa password akun ini, kemudian inget lagi. Aplikasi office dihpku error, jadi late update. Ketika modem ada pulsa dipake buat tugas, jadi gabisa cepet apdet kemarin2. Pengennya sih apdet cepet buat chap depan, tapi entahlah.
MVNYA EXO BEDA GITU SAMA TEASER, LAGUNYA JUGA AKU GA PAHAM. GANYAMBUNG SAMA TEASER. TAPI TETEP SUKAAAA T.T GANTENG BGT, PEGANGIN AKU TOLONGGGGG. WALAU GAADA BABY LU, DAN KRIS DADDY T.T
TRANSFORMER, MY ANSWER JUGA FAV. SEMUANYAAA DEH.
Suara lay bener2 ngingetin aku sama bias kesayangan yang jauh disana, dan belum lagi rambut apple hair xiumin. Mengingatkan bias kesayangan saat mv overdose. Yekan baper lagi deh.
TERIMAKASIH READERS TERCINTA SUDAH MAU BACA, REVIEW, FOLLOW, FAV, DAN MAKASIH SILENT READERS. AKU CINTA KALIANN
Udah, See you next chap!
ohandeer, 15.04.03 19:54
Wanna review?
