Halo, saya kembali dengan chap 4 dari 'Because of You'. Terima kasih sudah membaca 3 chapter sebelumnya, semoga suka.

Kalau berkenan saya ingin mendengar kritik dan saran sehingga saya bisa membuat fic ini lebih baik lagi. Maafkan typo yang beterbaran di sana dan di sini.

Semoga menyukai chapter ini

Happy reading :)


Because of You

Char: Mikasa A. / Levi A.

Genre: tadinya genrenya mau drama/romance/hurt comfort tapi sepertinya akan ada tambahan Genre di tengah-tengah cerita jd semacam adventure.

Because of You © Pena Usang

Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

Seberkas cahaya menerobos masuk melalui tirai warna beludru gelap yang membungkus jendela sebuah ruangan bernuansa modern minimalis. Ruangan itu didominasi warna putih dan warna abu-abu. Interior ruangan itu dibuat luas dan serba minimalis. Hanya ada 1 tempat tidur berukuran king size, set sofa abu-abu yang sewarna dengan dinding.

Seorang perempuan menghenyakkan dirinya di sofa berwarna abu-abu. Terdengar helaan nafas puas dari bibir tipisnya. Terobosan cahaya matahari sekilas mengenai wajahnya, rambut blonde yang dijepit ke atas kecuali bagian wajah yang dibiarkan terurai jatuh menutup sebagian wajahnya, dan sorot saphhire yang seolah akan menelanmu jika kau melihatnya. Hidung sedikit bengkok miliknya menghirup nafas panjang untuk kemudian di keluarkan kembali secara perlahan. Dia selalu melakukan ini, awalnya hanya karena percaya jika menghirup nafas dalam-dalam akan membuat inderanya bekerja lebih baik—karena teori orang-orang pandai berkata demikian— lalu akhirnya menjadi kebiasaan di saat-saat tertentu seperti yang dia lakukan sekarang.

Iris sapphire miliknya melirik ke sebuah lembar foto di atas meja di hadapanya. Ada sosok perempuan yang bukan dirinya terpampang di foto itu. Rambut hitam legam sebahu, iris kelabu yang seolah hanya menunjukan ekspresi dingin yang menyedihkan jika di telaah, juga syal merah yang terlilit di lehernya. Gadis itu adalah Mikasa yang sepertinya tidak menyadari kalau fotonya diambil ketika itu.

"Reiner.." perempuan itu memanggil.

Pintu setinggi 2 meter di belakang perempuan itu terbuka dengan bunyi derit perlahan yang hampir tak terdengar. Dari balik pintu itu, muncuk sesosok laki-laki berambut pendek berwarna pirang yang hampir sama dengan miliknya melangkah masuk dengan mantap. Tubuh lelaki yang dipanggil reiner itu cukup kekar dan langkah kakinya pun mantap. Meski sekilas dia memiliki wajah yang tidak terlalu bersahabat, tapi jika diperhatikan dia memiliki sorot mata yang melindungi.

"Kau butuh sesuatu Annie?" tanya Reiner dengan nada beratnya. Dia melihat separuh punggung Annie yang tertutup sofa kelabu.

"Aku ingin kau segera membereskan sesuatu." Annie mengangkat tangan kanan miliknya dan tanpa menoleh ke belakang dia memberikan foto Mikasa dan sebuah amplop coklat kepada Reiner. "Kurasa dia memiliki sesuatu soal project falke kita dua tahun lalu. Aku ingin kau mencarinya, karena aku tidak menemukan itu di mayat laki-laki yang tanpa sengaja muncul dan membuat segalanya repot."

"Maksudmu soal bukti ketika kita sedang menghabisi tikus pembelot itu?"

"Ya. Agak sulit melacak kehidupan lelaki itu karena dia dibesarkan di panti asuhan dan sudah meninggalkan panti itu sejak lama dan tidak ada yang tau kabarnya setelah itu. Sepertinya ada seseorang berperan dalam menghilangkan keberadaan gadis ini."

Sejenak suasana hening, Reiner meraih amplop coklat yang berisikan informasi tentang Mikasa. Dia membuka amplop itu dan membaca dengan seksama informasi yang diberikan Annie. "Malam ini akan kubereskan Annie."

"Hn.." Jawab Annie pelan mengakhiri pembicaraan mereka di ruangan itu.

==oo0oo==

Waktu menunjukan pukul 19.00 ketika akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Akan tetapi gerakanya langsung terhenti ketika dia menyadari kalau mungkin saja Levi akan menunggunya di depan seperti yang beberapa minggu ini dia lakukan. "Ah sialan.." Mikasa berdecak. Dia mulai lelah dengan kehidupanya dan dia masih harus menghadapi Levi. Mikasa bisa berdebat dengan Levi sampai dia tau Levi tidak akan bisa dia akan mengakhiri perdebatanya dengan kalimat yang tidak perlu untuk di jawab atau ditimpali, tapi tetap saja Levi akan melakukan sesuatu sampai Mikasa menuruti setidaknya separuh dari keinginanya. Kali ini Mikasa ingin sendiri dan memikirkan masak-masak mengenai hal-hal yang sepertinya akan menghampirinya. Bukan berati Mikasa tidak mempertimbangkan segala tindakan dan ucapan Levi yang memohon pada Mikasa untuk percaya padanya. Hanya saja dia tidak bisa semudah itu menyerahkan apa yang Eren perjuangkan hingga merenggut nyawanya pada orang yang baru 2 minggu dikenalnya.

Mikasa selesai membereskan meja dan bawaanya, sejenak dia mengetuk-ngetuk pelan mejanya sambil berfikir. Alisnya sedikit mengernyit ketika dia ingat sesuatu soal pintu belakang kantor miliknya yang jarang digunakan. Tanpa berfikir panjang dia mengambil syal merah pemberian Eren lalu melilitkannya di lehernya untuk mencegah kehanatan tubuhnya keluar atau mungkin agar dia selalu merasakan Eren di dekatnya. Kemudian Mikasa melangkah keluar dari ruangan dan menuju pintu belakang yang jarang digunakan oleh pekerja di ruangan itu.

Mikasa sedikit mengendap-endap sembari mengamati sekitarnya, kalau-kalau Levi ternyata masuk ke ruanganya seperti beberapa waktu lalu. Ketika dia memastikan jika tak ada lelaki itu di sana dia segera berbelok untuk menuju ke pintu belakang kantornya. Pintu tua itu berderit pelan ketika Mikasa menarik kenop pintu. Setelah menciptakan celah yang cukup untuk dirinya dia menyelinap. Udara dingin menyeruak menyapa wajah dan indranya. Mikasa berlari-lari kecil sembari melihat jalanan depan kantornya, dan ya benar saja dia mendapati Levi tengah bersandar di mobil hitam miliknya sembari melihat ke dalam gedung.

Setelah Mikasa cukup yakin kalau Levi tak akan melihat atau menyadari Mikasa telah melarikan diri darinya, Mikasa merapatkan syal merah miliknya dan berjalan lurus. Ada tempat yang sudah lama tidak dia datangi.

Tempat itu hanya berupa kedai kopi kecil yang mungkin banyak orang tidak akan menyadari jika itu adalah sebuah kedai kopi karena bentuk banguanya yang lebih menyerupai toko buku kuno. Tidak salah memang karena kedai kopi itu tidak hanya ditujukan kepada penikmat kopi, tapi juga pada orang-orang yang suka dengan buku. Bahkan mereka lebih dulu menjual buku bekas yang seringkali merupakan buku langka daripada kopi.

Mikasa memesan secangkir latte dan duduk di ujung ruangan yang tersembunyi oleh rak buku, tempat itu merupakan tempat favoritnya karena dia bisa melihat jalanan di luar dari jendela yang tidak terlalu besar di sampingnya. Dia membuka kembali naskah 'YOU' yang beberapa waktu lalu diterima oleh Hannes-san dan memeriksa dengan seksama sehingga nantinya naskah itu bisa menjadi buku yang dapat disukai oleh banyak orang.

==oo0oo==

Levi melirik jam tangan yang terpasang di tanganya. Waktu menunjukan pukul 21.00. dia mendengus sebal. 'apakah Mikasa sudah tersedot ke dunia lain lagi?' pikirnya. Dari pengamatan Levi semenjak dia menemui Mikasa, perempuan itu suka sekali pulang malam, awalnya dia berfikir karena Mikasa menghindarinya. Tapi mungkin saja Mikasa memang suka pulang malam, karena semenjak hari pertama merekap bertemu, Mikasa paling cepat pulang pada pukul 19.00. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam dan menjemput –menyeret dalam bahasa halus Levi— perempuan yang berdedikasi tinggi pada pekerjaanya seperti Mikasa.

Di tengah-tengah langkahnya menuju gedung kantor Mikasa, ponsel Levi bergetar. Levi mengambil ponsel itu dari sakunya dan melihat nama Erwin tertera di layarnya yang sedang menyala.

"Ya."

"Kau di mana?" kata suara di ujung.

"Seperti biasa, berusaha mendapatkan kepercayaan seseorang." Ujar Levi.

"Pastikan kau menemukanya secepat mungkin. Ada laporan rumah gadis itu baru saja diledakkan. Masih belum ada kabar mengenai korban. Tapi kuharap tak ada yang sampai jadi korban karena kejadian ini."

Levi sempat terhenti ketika Erwin berkata kalau rumah Mikasa diledakkan.

"Kurasa Annie sudah mengendus keberadaanya. Levi.."

Levi menggeram, sebelum Erwin menyelesaikan perkataanya dia memutuskan telepon dan berlari ke ruangan Mikasa. Jika rumah Mikasa sudah diketahui, maka tempat pekerjaan Mikasa juga sudah diketahui. Nyawa perempuan itu sedang dalam bahaya sekarang. Levi mendapati ruangan Mikasa sudah gelap, pandanganya menyapu seisi ruangan berharap ada lampi kubikal yang masih menyala dan seseorang di dalam sana sedang berkelana di dimensi lain. Hati Levi mencelos ketika dia tidak melihat ada cahaya di ruangan itu selain cahaya dari jalanan yang samar masuk melalui kaca. Bayangan terjadi sesuatu dengan Mikasa memenuhi pikiranya. Dia segera menuju ke kubikel Mikasa sembari melirik kubikel lainya. Entah harus merasa lega atau apa, Levi tidak menemukan keberadaan Mikasa di ruangan itu.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Levi berlari kembali ke mobilnya yang terparkir di luar gedung untuk ke rumah Mikasa, berharap tidak ada kabar buruk bahwa Mikasa ditemukan diantara puing bangungn yang meledak. Keringat dingin mengalir di wajah Levi ketika dia masuk ke mobil dan membanting pintunya kuat-kuat. Sebelum menyalakan mobil, Levi mencari nama Erwin di ponselnya dan menghubunginya.

"Dia tidak ada di ruangan. Aku akan ke rumahnya."

"Jangan gegabah Levi. Pikirkan kalau yang kau lakukan selama ini tidak diketahui oleh siapapun kecuali aku dan dirimu sendiri. Kemunculanmu di sana tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian itu karena itu sudah jadi tugas dari divisi lain."

"Sialan!" Levi meminggirkan mobilnya dan memaki dirinya sendiri yang terasa tidak berguna.

"Kau coba hubungi dia. Cari keberadaanya. Masih belum pasti apakah dia jadi korban atau tidak. aku akan mencari informasi di sini."

Levi menghela nafas panjang. Benar apa yang dikatakan Erwin, dia harus tetap rasional saat ini. "Baiklah. Kabari aku segera." Levi menundukan kepalanya di kemudi mobil. Berkali-kali menarik nafas panjang dan menghembuskanya kembali. Mungkin komplotan Annie juga sudah mengetahui nomor ponsel Mikasa. Jika gadis itu mengaktifkan ponselnya maka akan ketauan saat ini juga. Levi segera mencari nama Mikasa di ponselnya dan menghubungi Mikasa. Dari ujung teleponya Levi mendengar mesin operator menjawab kalau ponsel Mikasa sedang tidak dapat dihubungi dan mengalihkanya ke pesan suara untuk Mikasa.

Levi masih tidak bisa tenang, dia tidak bisa menemukan Mikasa di kantor atau di rumahnya, entah kenapa secuil dari pikiranya mengatakan jika Annie sudah mendapatkan Mikasa dan membuang ponsel Mikasa entah ke mana, dan Levi berusaha menepis dugaannya sebisa mungkin. Mungkin saja jika dia tidak bisa menemukan keberadaan Mikasa, Annie juga demikian.

Sejenak dia di gerogoti perasaan bersalah dari masa lalunya ketika dia melihat rekan-rekanya di habisi. Levi masih ingat ketika dia menemukan ketiga rekanya di sebuah ruangan dalam keadaan tak bernyawa. Pandangan mereka kosong, darah tercecer di lantai, sofa dan beberapa perabot lain. Dia masih mengiatnya dengan jelas bagaiman bagian tubuh rekanya tak lagi utuh karena tercerai berai di ruangan itu. Perut Levi mual mengingat rasa bersalahnya, bahkan dia kembali bisa mencium bau anyir dari masa lalunya. keringat dingin mulai membasahi dirinya, nafasnya terengah ketika dia membayangkan hal yang sama menimpa Mikasa.

Annie akan merenggut perempuan itu jika dia tak segera menemukanya. Annie akan merenggutnya, parasnya, sorot dinginnya, nafasnya bahkan suaranya. Semua itu akan lenyap jika dia tak segera menemukan Mikasa, tapi Levi juga tak tau harus bagaimana.

Dering telepon menyadarkan Levi. Nama Erwin kembali muncul.

"Dia tidak ada di sana. Ada korban terluka tapi itu bukan dia."

Levi menghembuskan nafas lega. Sedikit pikiranya kembali jernih ketika Erwin mengatakan kalau Mikasa tak ada di sana. Tapi dia masih merasa frustasi karena Levi benar-benar tak bisa memikirkan Mikasa pergi ke mana karena dia baru mengenal Mikasa dan Mikasa hampir tak mengatakan apapun tentang dirinya. Levi hanya tau bahwa keberadaan Mikasa sering kali hanya ada di rumah, tempat Mikasa bekerja atau supermarket di dekat tempat tinggalnya.

"Kumohon tetaplah hidup, Mikasa.." Ucap Levi lirih.

Ponsel Levi kembali berdering singkat beberapa waktu kemudian. Dia melihat ada nomor tak di kenal mengirimkan pesan padanya.

Cepat cari Mikasa di kedai kopi buku di daerah trost. Di sebelah Hotel Grand Maria ada kedai kopi yang seperti toko buku. Dia pasti akan ke sana. Bawa Mikasa ke tempatmu dan lindungi dia, jangan biarkan dia keluar bahkan jika dia ingin bertemu Armin. Aku hanya bisa percaya padamu, kumohon percayalah padaku.

Seusai membaca pesan panjang di ponselnya, Levi segera menghapus pesan itu dan menuju ke kedai kopi yang ditunjukan oleh pengirim pesan misterius itu. Distrik Trost hanya 15 menit jika dia menggunakan mobil. Levi memacu mobilnya secepat dia bisa.

'kumohon Mikasa, kau harus baik-baik saja..kumohon..'

10 menit kemudain Levi sampai di depan kedai kopi yang dia cari. Kedai kopi itu kecil bahkan terlihat seperti toko buku. Levi bergegas turun dan berlari ke arah kedai kopi itu. dia harus menyelamatkan Mikasa secepat yang dia bisa. Begitu memasuki kedai kopi, Levi mengabaikan sapaan ramah dari pelayan dan mengedarkan pandangannya, dia akan mencari hingga kesudut ruangan manapun di kedai ini. Batinya seolah menjeritkan nama Mikasa, ya dan Levi merasa sesak karena ini harapan terakhirnya untuk menemukan Mikasa.

Setelah beberapa menit, Levi sampai di salah satu sudut ruangan di balik rak buku. Di sana dia melihat sosok yang sedari tadi dicarinya hingga rasanya dia ingin mengorbankan apapun untuk menemukan Mikasa. Mikasa sedang tertunduk, secangkir latte yang masih separuh dan beberapa potong toast masih tersisa di meja tempat Mikasa tenggelam ke dunia bukunya. Seulas senyum kelegaan tersungging di wajahnya. Levi merasa dia baru bisa benar-benar bernafas.

'Syukurlah..kau masih ada di sini..'batinya.

Mikasa mendapati langkah kaki dan mendongak, dia terkejut ketika mendapati Levi berdiri di hadapanya dengan keadaan yang tak bisa di bilang seperti bagaimana levi yang biasanya. " ." Mikasa sontak berdiri. "Bagaimana kau tau aku ad.." belum sempat Mikasa menyelesaikan kalimatnya, tangan Levi menariknya dan tanpa bisa mengelak Levi mendekapnya erat.

"Syukurlah kau baik-baik saja."ucap Levi lirih. "Aku hampir gila karena tidak menemukanmu."

Mikasa masih terkejut ketika Levi tiba-tiba memeluknya. Dia bahkan bisa mencium parfum maskulin yang pakai Levi dan merasakan jantung Levi berdetak juga nafas Levi yang terngah-engah. Mikasa heran kenapa Levi bersaha hingga dirinya sampai seperti ini untuk menemukanya.

Levi mempererat pelukanya pada Mikasa, seolah dia adalah sosok yang sangat berharga dan akan hilang jika Levi melepaskanya begitu saja. Seiring dengan nafas Levi yang kembali normal, dia menyadari sesuatu, entah sejak kapan Mikasa telah menjadi sosok berharga bagi dirinya, tanpa dia sadari Mikasa telah merenggut sebagian kewarasanya hari ini. Ini diluar kendali Levi, ini bukan lagi menyangkut rasa bersalah dan masa lalunya. Semua ini hanya tentang Mikasa, hanya tentang Mikasa yang kini ada di dekapanya dan bagaimana Levi jadi menginginkan Mikasa. Entah sejak kapan keinginannya untuk dipercaya oleh Mikasa sudah menjadi obsesi pribadinya pada perempuan itu.

Levi menghela nafas panjang sekali lagi sebelum dia melepaskan Mikasa dengan dari dekapanya. Sekarang ini ada hal lain yang lebih penting daripada obsesinya pada Mikasa. Dia harus melindungi Mikasa sampai dirumahnya.

"Cepat kemasi barang-barangmu, kita pergi dari sini dan kau akan aman bersamaku. Akan kujelaskan nanti." Levi menggenggam tangan Mikasa sembari memasukan naskah yang tadi dibaca Mikasa ke dalam tasnya. Dia merogoh tas Mikasa dan menemukan ponsel itu dalam keadaan mati. Dia menghembuskan nafas lega. Levi melepas simcard dari ponsel Mikasa dan menginjaknya hingga tidak bisa digunakan lagi, kemudian dia juga melakukan hal yang sama pada ponsel Mikasa.

"Hei! Apa yang kau lakukan? Itu ponselku!" Suara Mikasa meninggi.

"Kau bilang dalam mimpimu waktu itu, kau ingin hidup. Jangan protes dan ikut saja denganku." Mikasa tak bisa membalas Levi karena dia merasa kaget dengan perkataan Levi. 'Hiduplah Mikasa..' lalu suara Eren menggema begitu saja di pikiran Mikasa.

Masih menggengam tangan Mikasa, Levi memberikan beberapa uang kepada pelayan untuk membayar makanan dan kopi Mikasa. Sebelum keluar dari kedai kopi itu, Levi menaikan syal Mikasa hingga menutupi sebagian wajahnya. Setidaknya wajahnya tertutup sebagian saat ini pikir Levi.

Deru mesin mobil milik Levi membelah jalanan malam Distrik Trost. Levi tidak peduli dengan cacian dari orang-orang yang hampir ditabrak atau menabraknya. "Pastikan kau tidak memperlihatkan wajahmu sampai aku melepas syalmu sendiri." Perintah Levi.

Mikasa ingin menanyakan banyak hal pada Levi. Apa yang terjadi sampa Levi bertindak sangat hati-hati dan menyembunyikan Mikasa. Tapi dia mengurungkan niatnya karena Levi bilang dia sendiri yang akan menjelaskanya, jadi Mikasa akan menunggu Levi menjelaskan.

30 menit kemudian Mikasa tiba di sebuah rumah yang pernah sekali dikunjunginya atau lebih tepatnya Levi yang membawanya karena Mikasa pingsan. Sesampainya di pekarangan Levi menyuruh Mikasa untuk tetap di dalam sampai Levi bilang dia boleh turun. Perasaan Mikasa tidak enak dan mau tak mau dia memiliki pikiran negatif tentang apa yang telah terjadi. Mungkin saja apa yang selama ini dia takutkan akan terjadi.

Tanpa menyalakan lampu halamanya, Levi mengunci gerbang dan membawa Mikasa masuk ke dalam rumahnya. Mikasa seperti dipaksa untuk terburu-buru mengikuti Levi, dia hampir menabrak perabotan Levi di ruang tengah. Levi bahkan tidak menyalakan lampu apapun di rumahnya dan membawa Mikasa dengan terburu-buru ke kamarnya.

"Duduklah." Kata Levi. Menarik nafas lega ketika berhasil membawa Mikasa sampai di sini.

"Aku menunggu penjelasanmu." Kata Mikasa masih berdiri di hadapan Levi yang setengah tertunduk,

Levi menatap lurus ke arah Mikasa seberkas cahaya luar yang masuk melalui celah gorden kamar Levi cukup menjelaskan bahwa keadaan kali ini serius.

"Annie menemukanmu. Dia barusaja meledakkan rumahmu." Kata Levi lugas.

==oo0oo==

Mikasa mengerjapkan matanya perlahan, udara dingin menggerogoti tubuhnya yang tak berbalut selimut. Tapi Mikasa sudah tak bisa memejamkan matanya lagi padahal matahari belum nampak karena tak ada seberkas cahaya yang tampak di balik tirai kamar yang dia tempati.

'Annie menemukamu. Dia barusaja meledakkan rumahmu.'

Kata-kata Levi terngiang di kepalanya. Annie barusaja meledakkan rumahnya. Annie, nama yang hanya beberapa kali didengarnnya dan semenjak dia mendengar nama itu disebutkan untuk pertama kalinya, hidupnya berubah kelabu, Mikasa kehilangan seseorang yang paling berharga di hidupnya. Sudah sejak lama dia tidak mendengar nama itu. ketika nama itu kembali di sebutkan, seseorang datang menemuinya dan dia kembali kehilangan sesuatu yang berharga. Apartemen yang penuh dengan kenangan Eren ketika dia dan Eren masih hidup bersama, dihancurkan begitu saja.

'Ah...lagi-lagi aku kehilangan sesuatu.' Ucapnya dalam hati.

Mikasa bisa mengingat wajah tidur Eren di sofa karena dia terlalu lelah untuk kembali ke kamar. Dia mengingat kehangatan dan wangi Eren ketika Eren mendekapnya hingga terlelap. Juga wajah merajuk Eren ketika makanan kesukaanya tidak bisa di makan lagi karena jatuh. Wajah Eren yang demam karena kehujanan ketika menjemput Mikasa. Juga senyum Eren ketika Mikasa pulang. Eren yang menjadi satu-satunya tujuan hidup Mikasa sudah lama pergi, begitu juga kenangan dengan Eren yang dihancurkan begitu saja oleh seseorang yang bernama Annie.

'Ah, lagi-lagi aku kehilangan..' ucap Mikasa sekali lagi. Hatinya sesak, rasa lelah dan keraguan selalu melandanya semenjak kepergian Eren. Benar, Eren adalah segalanya untuk Mikasa, dia adalah perwujudan nyata dari dunia Mikasa. "Eren,..aku tidak tau harus pulang ke mana.."

Mikasa bangkit dari tempat tidurnya, perlahan dia berjalan keluar dari kamarnya. Menembus kegelapan yang hampir solid tanpa cahaya bulan yang menerobos masuk.

'Jika Eren tak lagi ada di sini, maka untuk apa selama ini aku bertahan? Untuk apa aku hidup jika duniaku sudah lama direnggut. Selama ini aku seperti hidup dalam kehampaan..Eren..aku tak tau apa saja yang telah kulakukan, aku tak bisa mengingatnya..Eren..aku hidup seperti tetesan air yang terus menguap dan melebur dengan udara. Aku tidak bisa lagi..aku tidak tau harus hidup seperti apa..'

Tangan Mikasa meraih benda berkilap yang tertangkap di sudut matanya. Salah satu sisinya tajam dan warna keperakan yang terkena cahaya pantulan bulan memperjelas bentuk pisau yang ada di tangan Mikasa. Pandangan Mikasa kosong melihat pisau itu. dengan perlahan Mikasa menghadapkan sisi tajam pisau di pergelangan tanganya. Perlahan pisau itu mengiris kulitnya, dan perlahan gumpalan merah pekat mulai terlihat di bagian tangan yang terkena pisaunya.

Tangan Mikasa mendadak terhenti.

"Eh..kenapa aku tidak bisa?"

Tangan Mikasa terhenti dengan sendirinya. Mikasa bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa mengiris nadinya. Otaknya jelas memerintahkan tangannya untuk merobek nadi miliknya dengan pisau, tapi tanganya tidak bergerak.

"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa?"tanyanya lagi.

'Hi..dup..bertarunglah Mikasa.' Mikasa tersentak dengan suara yang melintas di benaknya.

'Bertarunglah.'

'Kau bilang, kau ingin hidup.'

Air mata Mikasa merebak. Suara Eren memenuhi benaknya.

'Kumohon Mikasa, tetaplah hidup...untukku. kumohon tetaplah hidup.'

Bunyi pisau yang jatuh menggema di seluruh ruangan yang kemudian disusul oleh isak tangis Mikasa. Perlahan tangisan itu berubah menjadi sebuah raungan kecil. Seolah semua luka yang diterima Mikasa kembali terbuka dan diobati dengan sakit.

'Kumohon Mikasa, tetaplah hidup untukku.'

Detik itu Mikasa menyadari jika Eren tak akan benar-benar pergi jika dia bisa tetap mengingat sosok Eren.

"Maafkan aku Eren..Hiks.." ucap Mikasa di sela isak tangisnya. 'Kumohon maafkan aku, bagaimana bisa aku berfikir untuk mengakhiri hidupku sendiri padahal kau selalu berjuang menyelamatkanku agar aku tetap hidup?'

Mikasa tercekat ketika tiba-tiba kata-kata itu terngiang. Suara lelaki yang saat itu masih kecil yang menolongnya hingga dia sendiri hampir celaka, suara lelaki yang selalu menginginkan Mikasa untuk hidup dan berani. Mikasa terisak pelan ketika dia mengingatnya dan karena bagaimana mungkin dia bisa lupa jika yang dititipkan Eren padanya tidak hanya luka di hari dia terbunuh, tapi juga keberanian. Bagaimana mungkin Mikasa sendiri lupa apa arti pengorbanan Eren padahal dia berkata akan melindungi pengorbanan Eren. Bahkan hingga saat ini, Eren masih hidup di diingatan Mikasa untuk kembali menyelamatkanya.

'Bagaimana aku bisa lupa jika aku adalah bukti keberadamu?'

'Aku akan hidup. Aku akan hidup agar aku dapat terus mengingatmu.'

"Maafkan aku Eren...Hiks..Aku..tidak akan pernah lupa lagi..aku tidak akan menyerah lagi..aku akan hidup untuk mengingatmu.."

Derap langkah kaki terdegar dari ruangan di sebelah Mikasa. Bersamaan dengan itu saklar lampu dinyalakan dan cahaya lampu memenuhi ruangan.

"MIKASA!"

Levi mendapati Mikasa terduduk disebelah dapurnya, dia terisak dan tertunduk, tubuhnya gemetar. Sebilah pisau tergeletak di dekat kakinya, Levi melihat ada noda darah di sebagian sisi tajam pisau itu. lalu dengan tergesa dia menendang pisau itu ke sembarang arah dan meraih Mikasa. Tubuh gadis itu dingin dan gemetar, di pergelangan tanganya ada sebuah goresan luka yang mengeluarkan darah. Mikasa hampir membunuh dirinya sendiri.

"Apa yang kau lakukan?" Pekik Levi.

Mikasa masih terisak dan dia tidak menjawab pertanyaan Levi. Dengan perlahan dia membantu Mikasa berdiri dan membawanya ke atas kursi. Levi bangkit untuk mengambil kotak obat.

"A..aku..akan hidup." Levi mendengar Mikasa terbata mengatakanya, lalu dia menoleh ke arah Mikasa.

Meski dengan pandangan nanar, Levi seperti mendapati serpihan sorot kehidupan di mata Mikasa. Mikasa bersungguh-sungguh mengatakannya. Perlahan, Levi merunduk di hadapan Mikasa, diletakanya kotak obat di samping Mikasa. Jemarinya menyentuh wajah Mikasa lalu menghapus jejak air mata di pipinya. Dia menatap dengan jelas iris kelabu yang selalu terlihat sendu, dia berharap suatu hari tatapan sendu itu akan kembali mendapatkan aura kehidupanya kembali. Kini sepercik kehidupan terlihat.

"Ya." Jawab Levi lembut.

"Kau menangis." Kata Levi. "Juga kedinginan. Seperti anak anjing yang tersesat dan berusaha menemukan jalan pulang."

Levi menarik tangan Mikasa yang terluka oleh sayatan pisau. Dia menghembuskan nafas lega ketika dia tau luka Mikasa tidak dalam dan darahnya sudah hampir berhenti. Dengan telaten Levi membersihkan luka Mikasa. Sesekali dia melirik ke wajah Mikasa. Ekspresi gadis itu masih tak terlalu kelihatan. Levi masih kesulitan menerka apa yang Mikasa pikirkan. Dia menduga mungkin karena Annie meledakkan rumah Mikasa lantas Mikasa berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Levi masih tidak yakin kalau itu cukup untuk membuat Mikasa melakukan tindakan ini, apakah mungkin karena Eren Jeager?

"Aku..pertama kali bertemu Eren di Shiganshina's Hall." kata Mikasa.

Levi melirik Mikasa dan melihat ekspresi gadis itu masih sama. "Hn." Jawab Levi sembari meneruskan pengobatanya pada Mikasa.

"Kedua orang tuaku dibunuh di depan mataku, oleh seseorang yang memiliki dendam. Dia ingin mengabisi seluruh keluarga kami. Aku selamat di hari itu. Tapi orang itu melarikan diri. Si lelaki usang. Saat itu aku masih sembilan tahun"

Levi berfikir jika Mikasa ingin berusaha terbuka pada Levi dengan menceritakan kisahnya. Tapi dia tidak menyangka jika Mikasa pernah mengalami itu semua di usia sembilan tahun. Levi menahan geramanya sembari mengutuk orang yang merenggut kehidupan anak kecil berusia sembilan tahun.

"Lalu, orang itu datang lagi. Dia berusaha membunuhku. Ketika itu Eren datang dan dia berusaha menolongku. Dia sendiri hampir terbunuh. Lalu Eren bilang,, aku harus bertarung. Aku harus bertarung untuk hidup. Aku mengumpulkan keberanianku, hanya keberanianku karena Eren bilang aku harus bertarung. Aku mengambil pisau yang kusimpan di laci, lalu menusuk laki-laki itu tepat di jantungnya."

Levi masih mendengarkan cerita Mikasa dan dia berfikir mungkin Mikasa ingin memberitaunya nilai Eren bagi Mikasa. Kenapa laki-laki bernama Eren Jeager bisa memenuhi Mikasa hingga ketika dia pergi, Mikasa begitu terasa kosong.

"Saat itu aku hanya bisa mendengarkan suara Eren. Lalu aku memutuskan jika Eren adalah tujuan hidupku. Eren adalah duniaku. Eren, karena dia inginaku hidup maka aku hidup. Dan aku sudah memutuskan jika Eren pergi maka akupun akan pergi. Karena eksistensiku bukanlah apa-apa tanpa Eren."

"Lalu hari itu, Annie dan orang-orang itu membunuh Eren. Duniaku, selama ini aku hidup di dunia yang dipenuhi oleh Eren. Setiap nafasku adalah milik Eren. Tapi dia pergi."

Levi terdiam, dia tau ini adalah perkembangan yang bagus untuknya karena dengan menceritakan semua ini maka Mikasa sudah menumbuhkan rasa percaya padanya. Tapi entah bagaimana di sudut hatinya, ada bagian dari dirinya yang terluka mendengar betapa Eren Jeager berharga bagi Mikasa. Eren adalah dunia Mikasa. Keberadaanya sebesar itu hingga rasanya mustahil bagi dirinya untuk menggapai Mikasa.

"Hari itu Eren menyelamatkanku, dia bilang.." suara Mikasa tergetar. "Dia bilang aku harus tetap hidup..untuknya. Padahal..aku sudah berjanji akan melindungi perngorbananya dan hidup." Levi mendapati tetesan air menjatuhi permukaan tanganya. "Tapi aku..malah ingin mengakhiri hidupku sendiri karena kupikir..Eren sudah tidak ada lagi di sisiku...tapi.. bahkan ..kenangan Eren yang tersisa masih saja...melindungiku."

Levi menggenggam tangan Mikasa. Berusaha menenangkan tanganya yang gemetar.

"Aku lupa..dan fokus pada kehilangan Eren..padahal Eren tidak akan meninggalkanku kalau aku masih bisa menginatnya..aku malah ingin menghapus bukti keberadaanya di dalam diriku dengan membunuh diriku sendiri." Mikasa terisak. "Aku..akan hidup untuk Eren. Aku akan bertarung.." Mikasa balas menggenggam tangan Levi.

"Meski terlambat.. aku.. ingin percaya padamu, Levi."


To be continoued~

Hai halo sebelumnya terima kasih kepada reader yang sudah membaca sampai dengan chap ini. Jujur saya tidak menyangka bisa kembali menulis dan melanjutkan fic ini. Ini fic yang settingnya adalah perselisihan antara penegak hukum dan mafia, jujur saya belum pernah membuat fic tentang ini dan saya tidak terlalu percaya diri apakah cerita ini bisa diterima. Saya pernah vakum menulis selama hampir 2 tahun karena berbagai hal, dan tiba-tiba saya ingin membuka ffn lagi.

Saya berusaha menulis apapun di kelanjutan fic ini lalu merevisinya, mungkin agak kelihatan ada alur yang membingungkan di chapter sebelumnya, atau ada nya paragraf yang kurang bisa menjelaskan dengan baik perasaan dan kejadian yang ada, saya minta maaf untuk itu. setelah saya mencoba seperti itu, entah kenapa saya bisa menuliskan kembali Because of you sampai dengan seperti ini dan ide perlahan-lahan muncul.

Saya tau fic saya masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi sifat tokohnya maupun alur ceritanya, jd saya mengharapkan kritik dan saran untuk fic ini, so mind to review?

Thanks:)