Halo minna~ ==' sekian lama aku sudah tidak membuat lemon. Jadi ragu masih bisa atau tidak, jadi untuk awal-awal implisit dulu dah #mojok# sebenarnya aku mau bilang, saat ini aku lagi bimbang setelah ini akan terus membuat fic lemon seperti dulu lagi atau tidak. Soalnya ada yang membebani pikiranku "orz
Sudahlah, selamat membaca!
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : Lemon, AU, OOC, implisit, typo?
Genre : Romance/Angst
Pairing : ItaSaku/SasuSaku
Flames NOT ALLOWED and that won't work with me
.
.
FOR MY OTOUTO
CHAPTER 4 : THIS TIME
Second POV
"Baik, hati-hati ya Sasuke-kun,"
Kau masih berdiri di depan pintu kamarnya. Pintu kamar istri adik semata wayangmu itu. Mata onyx milikmu melembut, menatap punggung adik iparmu dengan tatapan nanar. Kau menggigit bibir bawahmu saat merasakan punggungnya bergetar, menahan beban yang seharusnya tidak dia tanggung. Saat kau memikirkan baik-baik apa yang harus kau lakukan, dia berbalik. Mata hijau emerald yang selalu bisa menyihir hatimu itu kini berkaca-kaca.
Bibir tipis nan ranum yang selalu kau inginkan itu terbuka, "Aku.. sudah menelpon Sasuke-kun," dia menarik nafas dalam-dalam, "dia tidak akan pulang malam ini, ada tugas dinas mendadak selama tiga hari," lanjutnya lagi. Nadanya bergetar karena menahan tangis yang ingin meledak.
Kau mengangguk, "Kau belum mengatakannya?" tanyamu berat. Kau tahu pertanyaan itu sebenarnya akan membebaninya. Namun kau juga tahu, bahwa masalah ini tidak bisa diselesaikan semudah membalik telapak tangan. Mau tak mau gadis di depanmu itu harus menjawab.
"Tidak," kepala gadis itu kembali menunduk, "aku terlalu takut untuk mengatakannya,"
Kau yang mulai mengerti situasi berjalan mendekati gadis yang tertunduk itu. Kau menatap rambut soft pink miliknya, sedetik kemudian tanganmu bergerak untuk mengelusnya. Tangan kekarmu menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukanmu, membiarkan dia menangis kencang di dada bidangmu. Dia terisak, sementara kau menatapnya sedih. Berulang kali pertanyaan yang sama berputar di kepalamu, 'apa-yang-harus-kulakukan?'
"Hiks hiks, Itachi.." dia mengisak menyebut namamu. Mengiba, dia membutuhkan kasih sayang lebih hari ini. Membutuhkan hiburanmu. Isakan itu mengartikan segalanya, dan intinya adalah dia membutuhkanmu.
Kau tahu itu. Kau juga tahu, alasan mengapa gadis itu membutuhkanmu saat ini adalah karena adikmu tidak ada dan tidak tahu masalah yang kalian hadapi sekarang. Sakit rasanya kalau mengingat alasan itu. Mau bagaimana lagi, inilah takdirmu, takdir kalian. Kau sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adikmu lebih dari apapun di dunia ini. Kau kakak yang baik, rela berkorban demi apapun untuk adikmu, semua memujimu bahwa kau adalah kakak yang teladan dan patut dicontoh. Tapi semua anggapan itu kau tepis seiring berjalannya waktu. Saat kau sadar bahwa kau mencintai gadis yang dicintai juga oleh adikmu, kau mengklaim dirimu sebagai kakak yang gagal.
Dan sekarang, kau berniat mengembalikan nama baikmu meski itu mustahil. Kau berniat membahagiakan adikmu juga gadis yang kau cintai itu. Dengan cara yang salah, yeah dan kau juga tahu itu. Kau akan memberi anak pada adikmu. Semulus mungkin jangan sampai adikmu tahu, bahwa anak yang nanti akan dianggap sebagai anak hasil pernikahan antara Sasuke dan Sakura, adalah anak yang memiliki darah dan daging Itachi Uchiha.
Keputusanmu sudah bulat, tanganmu mengangkat wajahnya lalu menatap mata hijau emerald miliknya. Mata itu masih mengeluarkan bulir-bulir air mata yang seolah mengirimkan pesan padamu bahwa dia benar-benar terluka. Kau tersenyum kecil, senyum yang kau usahakan setengah mati untuk muncul agar bisa sedikit menghibur gadis yang kau cintai itu, "Sakura," bibirmu menyebut namanya. Pelan tapi lembut.
"Apa kau menerima rencana ini?" kau menarik nafas sedalam mungkin, berusaha sedikit menghilangkan grogi yang berkelebat di dadamu.
Gadis itu terdiam sesaat. Wajahnya menyiratkan keraguan sampai akhirnya dia berkata, "Ya, mohon bantuannya Itachi," dia tertunduk. Ya, kau pasti tahu. Bahwa gadis itu merasa amat sangat bersalah, bukan hanya membohongi suaminya, sekarang secara tidak langsung dia akan mengkhianati kepercayaan yang diberikan suaminya padanya.
Kau tersenyum sedih, "Aku tidak akan memberi tahu Sasuke, kau tenanglah Sakura," itulah kata-kata yang kau keluarkan saat menghibur hatinya. Kau sudah siap dengan semua ini, Itachi. Lakukanlah.
Dengan suara degup jantung yang berdetak kencang mengiringimu untuk menarik kepala gadis itu mendekat. Dia menurut dan pasrah akan takdir kejam yang melandanya. Kau berhasil menyentuhkan bibirmu dengan bibirnya yang selalu menggodamu setiap waktu. Ada yang ganjal, kau tahu itu. Padahal dulu kau sangat menginginkannya, menginginkan ciumannya. Sangat marah saat adikmu yang mendapatkannya, bukan kau. Tapi kenapa? Kenapa di saat kau berhasil mendapatkan ciuman itu, ada yang sakit. Dadamu bergemuruh seakan ingin melepaskan ciuman itu, meski begitu di sisi lain kau merasa terbang karena kesenangan sementara ini.
Kau pagut perlahan bibir itu lalu menjilatnya lembut. Seakan mengerti, pasanganmu itu membuka sedikit bibirnya mempersilahkan dirimu masuk untuk bertamu sesaat. Memberi sensasi yang tidak biasa, kau luapkan seluruh emosi dan perasaanmu dalam ciuman itu. Kau keluarkan emosi saat kau marah melihat adikmu dengan gadis itu, saat adikmu bisa membuatnya tersenyum, dan saat adikmu mendapatkannya. Perbuatanmu itu membuatnya berhasil mengerang tertahan di tengah ciumanmu.
Kau lepaskan ciuman kalian. Kau menatapnya sesaat sebelum akhirnya kau menggiring dia ke atas tempat tidur di kamar itu. Kau akan memulainya, memulai perbuatan yang akan menjerumuskanmu ke dalam siksaan duniawi yang sesungguhnya. Kau sudah siap, aku harap begitu.
Kau menatap gadis yang terbaring di bawahmu itu. Dia menutup mata hijau emeraldnya, takut menghadapimu, takut menghadapi kenyataan. Kau kecup perlahan dahinya agar setidaknya itu bisa membuat dia sedikit tenang. Kau mencium tiap lekuk wajahnya, garis rahangnya, dagunya, hingga kemudian leher jenjangnya. Kau berhasil menahan diri saat melihat beberapa tanda kecil yang sudah dibuat adikmu itu. Jangan pernah lupa bahwa gadis di depanmu ini sudah pernah melakukannya dengan adik kesayanganmu, hei Itachi.
Dengan satu tarikan nafas, kau mengacuhkan tanda itu dan kembali menjalankan aktifitas ciumanmu. Mencium dadanya, mendengar detak jantungnya yang sama sepertimu. Kau tarik perlahan resleting pakaian yang menutupi tubuh indah gadis itu. Memperlihatkan pemandangan yang selalu ingin dilihat semua kaum Adam tak terkecuali dirimu. Kau menyentuhnya perlahan dan sedikit meremasnya membuat dia mengeluarkan suara indahnya. Dan dalam hati kecilmu, kau senang mendengar suara itu hingga kau menyentuhnya dengan bibir tipismu. Membuat gadis itu kembali mendesah di tengah perlakuanmu.
Gadis itu menengadah sengaja merentangkan tangannya, memberimu akses leluasa untuk meneruskan perjalananmu. Kau mengerti dan memberikannya sentuhan-sentuhan yang memabukkan. Sampai klimaksnya bagian bawah kau sentuh terasa basah. Basah akibat perlakuanmu. Mengejang, mengerang, mendesah, terengah-engah, itulah respon Sakura saat mendapat sentuhanmu. Dan kau terus memanjakannya hingga pertahanan gadis itu runtuh, dia tergeletak pasrah.
Kau pun mulai membuka seluruh pakaianmu. Membiarkan dia menyentuh tubuhmu, kepalamu, lalu bibirmu. Kalian melayang, melupakan kenyataan dan memasuki kenikmatan semu. Dengan mata onyxmu yang gelap dan dalam itu, kau berhasil menariknya ke dalam duniamu. Membuat dia melupakan beban berat yang saat ini dipikulnya. Membuatnya merasa nyaman dengan sentuhanmu, membuatnya tenang, jangan sampai kesedihan kembali terukir di wajahnya yang cantik itu. Dengan segenap keberanian, kau bersiap memasuki gadis itu.
Dia sedikit berteriak saat kau memasuki dirinya. Kau elus kepalanya dan mencium bibirnya agar bisa mengurangi sedikit sakit. Kau berhasil. Dirimu sudah sepenuhnya masuk. Dengan gerakan yang tidak concrit darinya, kau mulai bergerak. Mengeluarkan sedikit dan memasukinya kembali. Dia terus mengeluarkan suara-suara yang menggodamu. Sementara kau terus memberinya kenikmatan duniawi, dia meremas dan menjambak rambut panjangmu, mencakar punggungmu. Tak sanggup menahan kenikmatan tiada tara yang kau berikan bertubi-tubi padanya.
Kau tetap menggerakkan yang di bawah sana, sementara tanganmu menahan tubuhmu agar tidak jatuh menimpa gadis yang kau sayangi itu. Perlahan kau membuka mata onyxmu. Kau menatap gadis di bawahmu. Meski mata hijau emeraldnya tertutup, peluh membanjiri wajahnya, rambut soft pinknya yang tergerai berantakan, mulutnya terbuka mengeluarkan erangan-erangan yang sanggup membangkitkan semangatmu, dia tetap cantik apa adanya.
Gerakan erotis yang kalian lakukan membuat ranjang ini berdecit sekali-kali. Cahaya rembulan yang dengan ikhlas menemani perbuatan tercela kalian tidak juga kalian hiraukan. Kalian sudah terhanyut sungai kenikmatan yang mengalir deras. Saking derasnya kalian tidak akan bisa berhenti dan akan terus terbawa sampai ujung sungai.
Dan ujung itupun tiba, kau dan dia berteriak bersama pada ujung kenikmatan. Kau mengalirkan apa yang sudah kau tahan dari tadi ke dalam tubuh gadis itu. Membuatnya merasakan kehangatan dari tubuhmu yang kau berikan. Cahaya rembulan yang menyinarimu bisa membuatnya melihat peluh-peluh yang mengilat di tubuhmu. Kau terengah-engah kelelahan begitu pula dia.
Gadis itu menatapmu nanar, "Gomen ne Itachi," ucapnya dengan nada penuh penyesalan. Kau bisa melihat dia akan kembali menangis, rasa bersalah kembali menghantui dirinya. Jangan Itachi, jangan sampai air mata itu keluar. Kau harus menghentikannya!
"Sakura," panggilanmu berhasil membuatnya membuka mata hijau emeraldnya. Masih menatapmu dan menunggu ucapan yang berikutnya akan kau katakan, "ada yang sudah lama ingin kukatakan padamu," ucapmu lagi.
Dia terdiam. Kau bisa melihat dari matanya yang setengah tertutup, dia akan tertidur sebentar lagi. Sebelum itu, cepat katakan apa yang kau ingin katakan Itachi, "Aishiteru, Sakura,"
Dia tersentak, matanya sedikit terbelalak. Menatapmu yang tengah terdiam dengan tatapan tidak percaya. Bibirnya bergetar, pada akhirnya air mata kembali pecah dan mengalir di pipinya. Bibir tipisnya terbuka, menyebut namamu, "I.. Itachi..."
"Sudah, tidurlah," kau menyela sebelum dia mengatakan sesuatu padamu. Kau tidak mau mendengarnya bukan? Kau takut kata-kata penolakan yang malah keluar dari bibir itu. Bibir gadis yang kau cintai.
Kau menjatuhkan diri di sampingnya. Dengan cekatan, kau menarik selimut untuk menutupi tubuhmu dan tubuhnya yang telanjang seutuhnya. Kau sedikit memaksanya tidur dengan agak menekan kepalanya di atas bantal. Kau kecup dahinya sampai akhirnya kau menarik tubuhnya ke dalam rengkuhan pelukanmu. Kau masih bisa mendengar isakan yang memilukan telingamu itu.
Kau terdiam, semuanya sudah berakhir. Masa-masa saat kau bisa sedekat itu dengannya. Yang pertama kalinya, namun juga untuk yang ke terakhir kali. Setelah ini kau harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Kau bahagia dan sedih dalam saat bersamaan. Bahagia karena kini bisa bersama gadis yang kau cintai meski hanya sesaat sekaligus sedih karena sudah mengkhianati kepercayaan adikmu bagaikan sekejap.
"Setelah ini..."
Saat kau bergumam, kau bisa mendengar isakan gadis itu berhenti. Entah karena kelelahan, tertidur, atau karena ingin mendengarkanmu. Yang jelas kau tidak peduli. Tapi apa kau sadar Itachi? Kata-katamu berikut ini memang akan menyakiti dirimu sendiri. Tapi kau tidak tahu kan? Kalau kata-kata-katamu juga akan menusuk gadis yang berada di pelukanmu itu secara tidak langsung.
"...tolong bahagia bersama Sasuke,"
"Demi aku..."
To Be Continued
Hueee hiks Itachiii~ (TTATT) #mewek#
Ok, special thanks for :
Kin-chan, Kuroneko Hime-un, Ka Hime Shiseiten, kakkoii-chan, Uchiha Vnie-chan, Alfa Phantomhive, R-chan, aya-na rifa'i, sava kaladze, , miss emerald, logan, Haruchi Nigiyama, Michiru No Akasuna, Chiwe-SasuSaku, Aiko JoonBe Hachibi-chan, Akina Takahashi, moonmu3, Ame chocoSasu, mysticahime-saiga, Cyfz Harunoo, Konanlovers Chan, Nu-Hikari Uchiha, Delasachi luphL, Wasurenagusa29, kuraishi cha22dhen, shizukari fourteen, chartikaa, Pink Uchiha, Namichan
Maaf kalau aneh hiks, ini Second POV pertama saya sih =_= Sekitar dua chap lagi, fic ini bakal tamat. Aiyeee XDD btw, boleh minta review? :3
