REUNION
(EVERLASTING LOVE)
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Family, Friendship
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
Whenever love went wrong, ours would still be strong because we'd have our own EVERLASTING LOVE
.
.
Pertemuan ini adalah yang pertama kalinya untuk Donghae setelah sepuluh tahun tinggal di London. Tidak di sangka, hari ini bisa berkumpul lagi dengan teman-teman lama. Sepuluh tahun berlalu tapi mereka semua masih sama, kecuali usia mereka yang bertambah dan status masing-masing yang sudah berubah tentunya. Saat berkumpul seperti sekarang tidak ada yang bersikap dewasa, mereka semua hanya tahu tertawa dan saling mengusili, sama seperti dulu. Sejak sampai duapuluh menit yang lalu, Donghae hanya dia sambil memperhatikan satu-persatu teman-temannya yang sedang mentertawakan masa lalu mereka saat masih menjadi idola dulu, lucu memang karena ada banyak kejadian yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Sesekali Donghae ikut menimpali tapi tidak terlalu banyak bicara, ia hanya tertawa saat Hangeng melontarkan lelucon tentang masa lalu mereka. Selebihnya, Donghae hanya diam dan terkadang melamun.
Bukan apa-apa, hanya saja Donghae memang tidak pernah banyak bicara dan tidak tahu bagaimana cara membuat lelucon. Sebenarnya, dengan adanya acara kumpul-kumpul seperti ini Donghae jadi kembali teringat pada kejadian yang sangat ingin ia lupakan. Hari dimana Donghae meninggalkan Hyukjae adalah hari dimana mereka berkumpul seperti ini. Semakin diingat, semakin Donghae merasa dirinya sangat egois.
"Kenapa diam saja? Merasa asing karena baru kembali lagi ke Korea setelah bertahun-tahun tinggal di London?"
Siwon menghampiri Donghae yang tiba-tiba memisahkan diri dan duduk di taman belakang rumah Youngwoon bersama anak-anak yang sedang bermain. Para orang dewasa sedang berkumpul di dapur membicarakan soal masa lalu dan sedikit minum-minum tapi Donghae malah nampak lesu dan tidak bersemangat, padahal ini reuni pertama mereka setelah sepuluh tahun tidak bertemu.
"Bukan begitu, kau tahu sendiri aku tidak bisa minum. Aku bawa mobil dan ada anak-anak, jadi aku tidak bisa minum."
"Kenapa serius sekali? Ayolah, bersenang-senang sedikit."
"Kalian memang aneh, ini pesta untuk anak-anak tapi kalian malah berkumpul di belakang dan membuat acara sendiri."
"Wah, sepertinya Lee Donghae sudah sedikit lebih dewasa."
Seorang laki-laki berwajah oriental menghampiri Donghae dan Siwon, dia kemudian duduk di samping Donghae kemudian merangkul bahunya.
"Oh, Hyung."
"Masalahmu dan Hyukjae belum di selesaikan? Sebaiknya kau jujur padanya, kalau kau diam saja seperti ini masalahmu tidak akan pernah selesai dan hubungan kalian akan terus salah paham."
Masalah itu. Donghae tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana pada Hyukjae, Donghae takut jika ia menjelaskannya pada Hyukjae hubungannya dengan Hyukjae yang mulai membaik ini justru akan berantakan. Jujur saja, Donghae tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Hyukjae saat dia tahu alasan di balik Donghae meninggalkannya. Mungkin saja, Hyukjae akan semakin membencinya dan hubungan baik ini akan berakhir begitu saja.
"Hangeng Hyung! Kenapa membicarakan hal itu di saat seperti ini? Sudahlah, lupakan dan kita bersenang-senang. Donghae sudah cukup murung sejak tadi, sebaiknya kita jangan membahas masalah itu dulu."
Inginnya Donghae juga seperti itu, ia ingin bersenang-senang seperti kata Siwon. Tapi masalahnya, semangatnya sudah merosot duluan saat teringat betapa brutalnya Haru dan Hyukjae ketika belanja tadi siang. Donghae bahkan tidak bisa membayangkan, berapa juta Won yang harus ia bayar di akhir bulan nanti. Haru dan Hyukjae benar-benar monster credit card! Mereka membeli barang-barang mahal tanpa berpikir sama sekali, tidak peduli apakah mereka memerlukan barang itu atau tidak. Mereka hanya terus membeli dan membeli. Ingatkan Donghae, ini pertama dan terakhir kalinya Donghae membawa Haru dan Hyukjae belanja! Ia tidak mau mengulang kejadian hari ini di masa depan.
"Kalian tahu? Sepertinya aku harus berpikir kembali untuk menikahi Hyukjae. Sebenarnya, yang membuat aku lesu hari ini adalah karena Haru dan Hyukjae memiliki kebiasaan mengerikan yang sama!"
Siwon dan Hangeng saling bertukar pandang, mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Donghae.
"Benar, sebelum menikah ada banyak yang harus di pikirkan! Terutama soal keuangan keluarga."
Tiba-tiba saja Youngwoon bergabung dengan obrolan mereka, Donghae pikir Youngwoon terlalu sibuk mengawasi Jungsoo yang mulai heboh bergosip. Akhirnya, laki-laki bertubuh gempal itu ikut bersama obrolan Donghae karena sudah tidak tahan dengan obrolan Jungsoo yang semakin melantur kemana-mana.
"Kau benar, Hyung. Aku belum menikah dengan Hyukjae tapi kebiasaan belanjanya sungguh mengerikan! Kau tahu? Hyukjae dan Haru menghabiskan berjuta-juta Won dalam beberapa jam saja! Aku bisa gila!"
"Kau tahu? Jungsoo jauh lebih mengerikan daripada Hyukjae, dia bisa berbelanja seharian penuh menggunakan uangku dan pada akhirnya barang-barang yang ia beli hanya akan jadi pajangan di rumah. Setelah puas berbelanja dia masih minta uang cash padaku katanya, untuk pegangan sehari-hari. Jika aku tidak memberikan apa yang dia mau, dia akan merajuk dan tidak membiarkan aku masuk ke kamar!"
Donghae, Siwon dan Hangeng hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka bertiga tahu betul bagaimana perasaan Youngwoon sekarang, karena mereka juga mengalami hal yang sama. Ternyata, mau menikah dengan siapapun masalah keuangan tetap harus dipikirkan baik-baik. Hangeng pernah mengalami hal yang sama dengan Youngwoon, Heechul memang tidak gila belanja tapi sekalinya belanja dia akan minta rumah atau mobil baru! Kadang, Junhui anaknya juga bertingkah sama dengan ibunya. Jika ada gadget keluaran terbaru, Junhui ingin memilikinya dan jika Hangeng menolak maka ibunya yang maha galak itu akan murka dan habislah Hangeng. Tidak jauh-jauh, Siwon juga mengalami hal yang sama. Kibum memang terlihat tenang dan bukan shopaholic, tapi sekalinya Kibum melirik barang bermerk matanya akan bersinar seterang matahari di siang hari.
"Ngomong-ngomong, kenapa hanya ada kita? Jongwoon Hyung dan Shindong Hyung dimana?"
"Seperti biasa."
Youngwoon menunjuk ke ruang tengah dengan dagunya, menunjukan dimana Shindong dan Jongwoon berada. Rupanya, mereka sedang menonton televisi sambil menikmati berbagai macam makanan. Entah sudah berapa banyak makanan yang masuk ke dalam perut mereka, yang jelas piring kosong yang kira-kira ada sepuluh itu kini berserakan dihadapan mereka berdua.
Ah, sudah bisa di duga mereka pasti akan seperti itu. Dari dulu, makanan apapun yang di masak oleh Ryeowook akan jadi bahan rebutan mereka berdua. Untuk masalah makanan, Shindong selalu nomor satu tapi jika yang memasak itu Ryeowook maka Jongwoon tidak rela berbagi dan jadilah mereka berebut makanan.
"Mereka masih sama saja."
"Donghae, aku harap kau jujur pada Hyukjae. Aku tahu, aku tidak berhak ikut campur masalah kalian tapi aku peduli pada kalian. Sebaiknya, kau jujur dan katakan semuanya pada Hyukjae. Diam tidak akan menyelesaikan masalah."
Donghae menghela nafas panjang, ia pikir Youngwoon tidak akan membahas masalah itu lagi, tapi mau bagaimana lagi? Hampir semua teman-temannya tahu masalah itu dan mau tidak mau Donghae harus bersedia menerima saran dan nasihat mereka. Lagi pula, saran mereka ada benarnya juga. Entahlah, mungkin untuk saat ini mereka lebih baik begini saja. Bukan berarti menyepelekan masalah, hanya saja Donghae sedang ingin menikmati rasa rindunya bersama Hyukjae terlebih dahulu. Mengenai masalah itu, Donghae akan pikirkan cara yang terbaik untuk menjelaskannya pada Hyukjae nanti.
.
.
"Dulu, kupikir Hyukjae yang akan menikah dengan Donghae duluan. Tidak di sangka mereka justru berpisah, padahal dulu semua orang sering menyebut mereka pasangan fenomenal."
Hyukjae meringis mendengar kata-kata Jungsoo. Hyung yang satu itu mulutnya tetap sama seperti dulu, blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Sebenarnya, Hyukjae tidak semangat lagi mengikuti obrolan ini karena entah kenapa setelah Ryeowook menyebutkan bahwa Donghae punya alasan saat meninggalkannya, Hyukjae jadi berpikir kemana-mana. Kenapa Donghae tidak memberitahukan alasannya dan membiarkan Hyukjae terus salah paham padanya? Sebenarnya alasan macam apa?
Karena penasaran dengan kata-kata Ryeowook yang setengah-setengah itu, Hyukjae meninggalkan meja makan dan menarik Ryewook ke lantai atas. Hyukjae perlu penjelasan dari Ryeowook dan ingin tahu alasan Donghae meninggalkannya. Mungkin saja ini jalan yang akan membuat hubungan Donghae dan Hyukjae menjadi lebih baik. Setidaknya, Hyukjae berharap hubungannya dengan Donghae akan ada kejelasan setelah alasan itu terngkap.
"Aku perlu tahu alasan Donghae meninggalkanku."
Ryeowook menghela nafas, entah sudah berapa juta kali Hyukjae mengatakan hal itu. Bukannya Ryeowook ingin menutup-nutupinya, hanya saja jika Ryeowook sembarangan mengatakannya, Ryeowook takut hubungan Donghae dan Hyukjae bukannya membaik tapi justru menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena jika aku yang mengatakan, kesalahpahaman di antara kalian akan semakin besar. Masalah ini hanya kalian berdua yang bisa menyelesaikannya, percuma kau bertanya padaku atau yang lainnya karena alasan itu hanya bisa diucapkan oleh Donghae Hyung sendiri."
Lelah, Hyukjae benar-benar lelah terus mendesak Ryeowook. Percuma bertanya pada Ryeowook, dia memang penjaga rahasia yang baik. Sekeras apapun usaha Hyukjae mendesaknya, Ryeowook tidak akan pernah mengatakannya. Ah, pasti akan lebih mudah bagi Hyukjae jika yang mengetahui alasan kenapa Donghae pergi adalah Jungsoo yang terkenal bocor itu. Sayangnya, Jungsoo tidak tahu-menahu soal masalah Donghae. Tentu saja, kalau dia tahu masalah ini bukan rahasia lagi namanya.
"Kalian belum selesai dengan obrolan kalian?"
Setelah gagal menggali informasi dari Ryeowook, Hyukjae kembali ke meja makan dan kembali bergabung dengan obrolan absurd teman-temannya. Entah apa yang mereka bicarakan sekarang, yang jelas mereka cekikian tidak jelas sambil berbisik-bisik.
"Kali ini ganti topik!"
Heechul menjentikan jari lentiknya di hadapan wajah Hyukjae, membuat Hyukjae terkejut. Apapun topiknya, jika Heechul dan Jungsoo yang membahasnya pasti tidak jauh-jauh dari gossip.
"Apa?"
"Seberapa kuat kalian bercinta dengan pasangan kalian?"
Lihat? Dugaan Hyukjae benar.
Gila! Obrolan ini semakin gila! Dulu, Hyukjae memang yang paling mesum di antara mereka tapi setelah menikah, kadar mesum mereka meningkat jauh di atas Hyukjae. Lihat saja sekarang, mereka bahkan menceritakan masalah yang sebenarnya sangat pribadi dan tidak untuk di bagi dengan orang lain.
"Kau dan Donghae tinggal serumah, kan? Sudah sejauh apa hubungan kalian? Berapa kali kalian melakukannya dalam sehari?"
Pertanyaan Heechul membuat Hyukjae menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bagaimana tidak? Ia harus menjawab pertanyaan aneh itu di hadapan semua orang yang kini sedang menatap lurus ke arahnya, menunggu jawaban.
"Kenapa menanyakan hal itu? Ada anak-anak di rumah, kami harus menjaga sikap."
"Kalau begitu, ganti pertanyaan. Saat melakukannya apa Donghae tahan lama?"
Demi Tuhan! Jika saja Heechul tidak lebih tua darinya, Hyukjae mungkin sudah memukul kepalanya agar sadar dan tidak membicarakan hal-hal seperti itu karena ada anak-anak di sekitar mereka yang kapan saja bisa mendengar obrolan mereka.
"Itu—pribadi, Hyung!"
"Sudahlah, jangan ganggu Hyukjae. Kita ganti topik!"
Setelah Jungsoo menghentikan pertanyaan Heechul yang mulai menganggu Hyukjae, ia tidak lagi bergabung di meja makan dan memilih ke ruang tengah bersama Jongwoon. Samar-samar, Hyukjae hanya mendengar Jungsoo yang menanyakan soal penanaman rahim yang dilakukan Heechul beberapa tahun silam. Di antara mereka semua memang hanya Heechul yang berani melakukan hal ekstrim itu, dia nekat mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan Junhui. Padahal kalau dia memang mau punya anak, dia bisa mengadopsi bayi seperti yang dilakukan Jungsoo, Ryeowook dan Kibum toh Hangeng juga tidak keberatan dengan hal itu. Tapi, memang pada dasarnya Heechul itu orang yang nekat jadi sah-sah saja dia melakukan hal ekstrim seperti itu dan hal itu juga yang membuat Hangeng semakin mencintainya.
"Kau seharian ini hanya melamun, sebenarnya ada apa?"
Pertanyaan Jongwoon membuyarkan lamunan Hyukjae, ia menggeleng pelan saat Jongwoon menawarkan kue buatan Ryeowook. Hari ini suasana hatinya sedang tidak tentu, menyebabkan nafsu makannya berkurang.
"Hyung, tahu sesuatu tentang Donghae?"
"Kalaupun aku tahu, aku tidak akan mengatakannya. Sejak dulu kalian selalu memendam masalah, seharusnya pasangan kekasih itu tidak hanya berbagi cinta tapi juga berbagi masalah dan mencari solusi bersama. Jika kalian masih terus seperti dulu, maka masalah yang sama akan terus terjadi dan tidak ada kemungkinan lagi untuk kalian kembali bersama."
Hyukjae menghela nafas panjang. Jongwoon benar, sudah saatnya mereka menjalani hubungan yang jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Tidak hanya sekedar berbagi cinta, tapi juga berbagi masalah dan mencari solusinya bersama. Mungkin sebulan ini sudah cukup bagi Donghae dan Hyukjae membangun suasana, kini saatnya mereka untuk membicarakan masa lalu mereka dan menyelesaikannya agar bisa memulai sesuatu yang baru tanpa ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Kau sama saja dengan Ryeowook. Sudahlah, aku pergi melihat anak-anak dulu di belakang."
Melihat anak-anak bermain dengan gembira di taman belakang rumah Jungsoo, membuat Hyukjae tidak bisa menahan senyumnya. Setidaknya dengan melihat anak-anak gembira, beban pikirannya soal hubungannya dengan Donghae sedikit berkurang. Melihat mereka berkumpul bersama, Hyukjae seperti melihat dirinya dan member Super Junior lainnya dalam bentuk yang lain, terutama saat melihat Jeno yang terlihat sama persis dengan Donghae. Jeno tidak banyak bicara seperti anak-anak yang lainnya, dia hanya diam di dekat Junhui yang sedang bermain dengan Jeongin sambil memperhatikannya dengan seksama. Saat Junhui tersenyum, maka Jeno akan tiba-tiba ikut tersenyum, mata sendu yang serupa dengan ayahnya itu tidak pernah lepas memandangi wajah Junhui. Apa ini? Apa jangan-jangan Jeno menyukai Junhui?
Hyukjae mengalihkan pandangannya pada Haru, gadis kecil itu bermain dengan Nahee di dekat kolam berenang. Biasanya Haru selalu aktif dan berlari kesana kemari dengan Jisung, tapi setelah bertemu dengan Nahee hari ini, ia jadi gadis yang lebih tenang. Nahee memang gadis yang anggun, bocah berusia delapan tahun itu sama persis dengan ibunya yang anggun dan tenang. Lucunya, Haru jadi meniru semua gerak-gerik Nahee dengan canggung. Sepertinya, Hyukjae harus membiasakan Haru bermain dengan Nahee agar gadis itu mulai bersikap layaknya seorang gadis dan tidak bertingkah seperti anak laki-laki.
Pandangan Hyukjae beralih lagi pada Jisung yang sedang bermain mobil-mobilan dengan Kiwon dan Jongwook. Entah apa yang sedang mereka bicarakan tapi sepertinya Jisung sedang menceritakan sesuatu pada teman barunya itu. Jisung nampak antusias menceritakan sesuatu, sementara Kiwon dan Jongwook hanya memperhatikannya dengan seksama dan sesekali bertepuk tangan. Selain suka bicara, Jisung memang suka menjadi pusat perhatian. Jisung suka ketika semua orang memperhatikan apa yang dia bicarakan dan memberikan reaksi yang antusias. Mungkin di masa depan Jisung akan menjadi Hyukjae yang berikutnya di dunia hiburan Korea. Siapa yang tahu.
"Ibu! Sakit!"
Tiba-tiba saja jeritan Junhui membuyarkan lamunan Hyukjae, matanya menatap Junhui yang sedang duduk di rumput dengan panik. Sepertinya mereka bermain dengan tenang tadi, kenapa Junhui tiba-tiba berteriak histeris?
"Ada apa, Junhui?"
Heechul berlari mendahului Hyukjae dan menghampiri anaknya yang sedang duduk di rumput sambil memegangi rambutnya yang menyentuh bahu. Jeritan Junhui tadi membuat Heechul panik setengah mati karena ia pikir anak kesayangannya itu masuk ke kolam berenang atau terbentur sesuatu.
"Jeno menarik rambutku, bu! Sakit sekali! Bocah sialan itu suka sekali menggangguku! Tadi dia menakut-nakutiku dengan cacing dan sekarang dia menarik rambutku!"
Jeno? Penyebabnya Jeno? Donghae dan Hyukjae yang kebetulan berada di dekat taman belakang, saling bertukar pandang. Sepertinya tadi Hyukjae melihat Jeno hanya diam saja memperhatikan Junhui dan Jeongin, kenapa tiba-tiba? Lagi pula, biasanya Jeno bermain dengan tenang dan tidak pernah menganggu siapapun. Junhui sampai memaki dan meneriaki Jeno, tapi Jeno tidak bergeming sama sekali dan tetap menunjukan wajah datarnya bahkan ketika Junhui berteriak memanggil namanya dengan frustasi, dia hanya tersenyum tipis.
Sebelum pertengkaran semakin menjadi, Hyukjae menghampiri Jeno dan membawanya menjauh dari Junhui. Bocah itu menatap Hyukjae dengan tatapan yang sulit di artikan, mata sendunya melengkung menandakan ia sedang tersenyum lebar.
"Jeno, hari ini kau kenapa? Kenapa menganggu Junhui Hyung?"
"Tidak tahu, Jeno hanya suka mendengarnya menjerit. Rambutnya juga panjang dan halus, Jeno suka menyentuhnya."
Kau bukannya menyentuhnya, tapi menariknya.
Donghae dan Hyukjae mendesah bersamaan. Apa ini? Jeno menyukai Junhui yang lebih tua darinya? Donghae berdecih, tidak di sangka sifat Jeno sama persis dengannya. Selalu mengusili orang yang disukainya. Donghae jadi teringat pada saat pertama kali ia bertemu dengan Hyukjae di gedung SM Entertainment dulu. Saat itu, mereka masih menjadi Trainee dan belum mengenal satu sama lain. Setelah di kenalkan oleh beberapa pelatih di sana, Donghae menjadi akrab dengan Hyukjae dan entah kenapa, Donghae suka sekali menganggu dan mengusili Hyukjae karena Donghae senang mendengar Hyukjae menjerit dan memanggil namanya dengan frustasi.
"Minta maaf pada Junhui Hyung dan berjanji jangan melakukannya lagi, okay?"
Jeno mengangguk antusias, ia berlari memeluk Junhui dan kemudian ia berjinjit untuk meraih bibir Junhui. Semua orang yang ada di sana membulatkan matanya, tidak percaya. Wah, Jeno benar-benar mengkopi semua sifat ayahnya. Apa yang dilakukan Jeno pada Junhui sekarang mengingatkan semua orang pada kejadian beberapa tahun silam saat Donghae tiba-tiba mencium Hyukjae dihadapan semua orang yang ada di Practice Room.
Setelah mengecup bibir Junhui, Jeno berlari memeluk kaki Hyukjae dan menyembunyikan wajahnya. Malu rupanya. Matanya memandangi Hyukjae penuh arti, seolah menyampaikan. Ya, aku memang menyukainya. Benar-benar anak ayah, semua yang ada padanya sama persis dengan apa yang dimiliki Donghae.
"Kau menyukai Junhui rupanya. Kalau kau menyukainya, kau harus memperlakukannya dengan baik. Kau tahu? Heechul Samchon sangat galak!"
Sementara itu Heechul kehilangan kata-katanya dan hanya bisa memijat pelan pelipisnya. Anak jaman sekarang kenapa agresif sekali? Jangan harap Heechul akan menyerah Junhui begitu saja hanya karena Jeno anak Donghae. Heechul tidak akan menyerahkan anak kesayangannya pada sembarang orang.
"Hei, Lee Donghae! Kalau anakmu menyukai Junhui, katakan padanya agar memperlakukan Junhui dengan baik! Aku bukan tipe ibu mertua yang baik!"
Donghae tertohok, belum apa-apa Heechul sudah mengancamnya. Ah, apa harus menjadi keluarga dengan Heechul? Tidak bisakah Jeno menyukai Kiwon saja? Setidaknya orangtuanya kaya raya dan Kibum tidak segalak Heechul.
.
.
Sepulang dari rumah Jungsoo, Hyukjae langsung membawa anak-anak masuk ke kamar mereka masing-masing. Acara yang seharusnya untuk anak-anak ini justru jadi acara bergossip para orangtua hingga malam dan menyebabkan anak-anak kelelahan, termasuk Donghae yang tidak berhenti mengeluh sepanjang jalan karena di paksa minum oleh Youngwoon. Hasilnya, Donghae mabuk hanya karena dua gelas Soju dan terpaksa Hyukjae yang membawa mobil.
Setelah memastikan anak-anak nyaman di tempat tidurnya, Hyukjae kembali lagi ke mobil untuk membawa Donghae masuk. Donghae bahkan tidak bisa berjalan dengan benar saat mabuk, membuat Hyukjae repot saja.
"Sudah aku bilang jangan minum! Kau sendiri kan tahu, kau payah dalam urusan minum!"
Hyukjae mengomeli Donghae yang sedang meracau tidak jelas. Sejak tadi, Donghae hanya mengucapkan kata maaf tapi tidak tahu untuk apa. Hyukjae membaringkan Donghae di tempat tidur, kemudian ia melepaskan sepatu dan mantel yang dikenakan Donghae. Sebenarnya, Hyukjae juga ingin membuka kemeja Donghae dan menggantinya dengan piyama tapi niatnya ia urungkan karena takut Donghae melakukan hal yang lebih. Apa lagi, sekarang dia sedang mabuk.
"Hyukjae, Lee Hyukjae!"
Mendengar namanya di panggil, Hyukjae kembali menghampiri Donghae dan tidak sempat menyelesaikan kaitan kancing piayamanya karena takut Donghae membutuhkan sesuatu.
"Kau butuh sesuatu?"
"Aku membutuhkanmu."
"Sialan! Sedang mabuk beginipun kau masih sempat merayu! Tidur sana!"
Belum sempat Hyukjae beranjak dari tempatnya, Donghae sudah menarik lengannya dan berbalik menindih Hyukjae. Jelas saja hal itu membuat Hyukjae kaget karena ternyata tenaga Donghae saat mabuk tidak berkurang sama sekali, dia bahkan sanggup mencengkram tangan Hyukjae hingga pergerakan Hyukjae terkunci.
"Maafkan aku karena akulah yang mengkhianatimu duluan."
Di tengah nafasnya yang tersengal, Donghae mengecupi seluruh wajah Hyukjae sambil mengucapkan kata maaf berkali-kali. Tadinya, Hyukjae ingin meronta dan menendang Donghae agar menjauh tapi setelah melihat airmata yang mengalir di pipi Donghae, Hyukjae seperti beku dan tidak bisa bergerak. Bahkan ketika Donghae membuka seluruh kancing piyamanya, Hyukjae diam saja karena Donghae masih terisak dan mengucapkan kata maaf terus-menerus.
"Kenapa minta maaf? Sebenarnya kau kenapa?"
Hyukjae menangkup kedua pipi Donghae, memaksanya untuk berhenti mencumbu seluruh tubuhnya. Sebelum Donghae bertindak lebih jauh, Hyukjae ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Donghae dan untuk apa permintaan maaf itu?
"Aku mengkhianatimu tapi aku terus mencintaimu seperti orang gila, apa yang harus aku lakukan?"
"Apa—"
Sebelum Hyukjae kembali berkata-kata, Donghae langsung membungkam bibir Hyukjae. Melumatnya dengan sedikit kasar dan menuntut. Sementara itu, Hyukjae hanya bisa membelalakan matanya. Ia tidak mengerti, kenapa Donghae jadi tiba-tiba seperti ini? Hyukjae bahkan belum sempat mencerna apa yang dikatakan Donghae barusan, tapi Donghae sudah kembali mencumbu seluruh tubunya dan membuatnya terbuai oleh sentuhan Donghae yang memabukan. Hyukjae memang cepat terbuai oleh sentuhan Donghae, terlebih ketika tangan Donghae meraba seluruh lekuk tubuhnya dengan teliti.
"Aku benar-benar mencintaimu."
Mata Hyukjae terpejam, ia tidak sanggup membalas kata-kata Donghae saat bibir Donghae menyentuh puncak dadanya dan telapak tangannya menyentuh paha dalam Hyukjae dengan sensual. Hyukjae hanya sanggup melenguh dan menggigit bibirnya, menahan semua kenikmatan berlebih yang diberikan Donghae. Donghae benar-benar memanjakan seluruh tubuhnya dengan menyentuh titik-titik tertentu yang membuatnya semakin terbuai dan melayang. Hyukjae melenguh kencang karena lutut Donghae menekan sesuatu di bagian selangkangannya, rupanya Donghae sedang membuka kemeja dan celananya dengan tergesa-gesa. Hyukjae menahan dada Donghae sesaat sebelum Donghae memasukinya, saat melakukannya tempo hari Donghae menggarapnya dengan kasar dan berjam-jam menyebabkan bagian belakang Hyukjae sakit karena luka-luka kecil.
"Do it slowly, yang kemarin masih sakit."
"Aku tahu."
Pipi Hyukjae merona merah karena Donghae tidak melepaskan kontak matanya ketika ia meraba seluruh permukaan kulit Hyukjae yang halus.
Shit! He is so freaking sexy!
Sesuatu bersiap memasukinya dan Hyukjae segera memejamkan matanya, rasa sakit dan menyenangkan itu akan kembali di rasakan oleh Hyukjae.
"Ugh, so full!"
Mata Hyukjae tertutup dengan rapat dan bibirnya terbuka, mendesahkan nama Donghae dengan keras. Kenikmatan yang diberikan Donghae terlalu berlebihan hingga membuatnya lupa daratan dan terus meneriakan nama Donghae, tidak peduli pada anak-anak yang mungkin saja terbangun karena desahan mereka yang tidak terkontrol.
"You're so tasty, like usual."
"Donghae! Don't stop!"
Donghae bergerak semakin kasar lagi saat Hyukjae melenguh dan mendesah frustasi, ia suka melihat wajah penuh kenikmatan Hyukjae yang berada di bawahnya. Bagaimana Hyukjae mendesah dan bagaimana Hyukjae menggigit bibirnya semua terlihat bagai godaan di mata Donghae yang memacu Donghae untuk bergerak semakin cepat lagi dan semakin dalam lagi.
"You're beautiful."
Di tengah desahannya, Donghae tetap memuja Hyukjae dengan berbagai pujian yang membuat Hyukjae semakin melenguh. Donghae menyibakan poni Hyukjae yang mulai basah karena keringat, mata mereka bertemu saat mereka sama-sama akan mencapai puncaknya dan kabut putih kembali menyelimuti mereka berdua.
"Ah! Lee Hyukjae!"
"Ugh! Penuh!"
Nafas Donghae tidak beraturan setelah mengeluarkan puncaknya di dalam Hyukjae, ia bergerak ke samping tanpa melepaskan tautannya. Dengan nafas yang masih berantakan, Donghae menarik Hyukjae yang masih lemas ke dalam pelukannya.
"Maaf."
Berikan aku waktu sedikit lagi, sedikit lagi hingga aku punya keberanian untuk mengungkapkan semuanya padamu…
.
.
"Mom! Semalam aku mendengar sesuatu yang berisik. Mom mendengarnya juga? Aku takut! Bagaimana kalau ada hantu?"
Jisung berceloteh dengan mulut yang penuh dengan roti, ia tidak tahan menceritakan apa yang ia alaminya semalam pada ayahnya yang sekarang ia panggil dengan sebutan mom itu.
"Oh—benarkah? Mom tidak dengar apapun."
Mata Hyukjae melirik Donghae yang tampak santai menghabiskan sarapannya, ia berharap Donghae mengerti lirikan matanya dan membantunya menjawab pertanyaan anak-anak.
"Haru Noona juga mendengarnya! Benarkan?"
Haru mengangguk antusias. Sama seperti Jisung, ia juga mendengar suara-suara aneh tapi ia tidak berani keluar kamar karena takut kalau suara aneh itu benar-benar suara hantu.
"Hm, kalian habiskan sarapannya. Mom harus bicara dengan dad, jangan nakal dan makan dengan tenang. Mengerti?"
Setelah melihat anak-anaknya mengangguk patuh, Hyukjae menyeret Donghae ke kamar mandi. Bukan sengaja, hanya saja ruangan itu adalah yang paling dekat dengan mereka sekarang. Hyukjae perlu mendiskusikan sesuatu dengan Donghae soal anak-anak yang semakin besar dan semakin kritis dari hari ke hari.
"Ada apa? Kenapa menyeretku ke kamar mandi? Pagi-pagi sudah ingin melakukannya, hm?"
Donghae mengelus dagu Hyukjae kemudian menarik Hyukjae ke dalam pelukannya, ia mengecupi leher Hyukjae yang masih penuh dengan bercak merah akibat ulahnya semalam dengan sensual. Mengundang brahi Hyukjae agar cepat naik. Ah, menghirup aroma tubuh Hyukjae di pagi hari membuatnya rileks dan tenang. Seperti candu, aroma Hyukjae membuatnya ketagihan dan ingin terus menghirupnya setiap hari.
"Mesum! Kau tidak lihat? Anak-anak semakin besar dan semakin kritis, mereka akan menanyakan hal apapun pada kita. Bukankah sebaiknya kita mencari Taman Kanak-kanak untuk mereka bertiga?"
"Hm, Jeno dan Haru pernah sekolah saat di London dulu tapi berhenti karena aku mengajak mereka pindah. Karena urusan galeri yang menyita waktu, aku sampai lupa mencarikan sekolah untuk mereka di sini. Kau ingin mereka sekolah? Baiklah, kita akan cari sekolah yang bagus untuk mereka. Aku hanya perlu mengurus beberapa berkas untuk menyekolahkan mereka bertiga. Kenapa? Kau ingin punya waktu berduaan denganku tanpa di ganggu anak-anak?"
"Bukan begitu!"
Bahkan di saat genting seperti ini pun Donghae tidak bisa di ajak serius dan mulutnya terus saja mengucapkan kalimat kotor yang jujur saja membuat Hyukjae sedikit tegang. Bibir Donghae mulai mendekati bibir Hyukjae. Suasananya sudah mendukung, Hyukjae hanya perlu memejamkan matanya dan membiarkan Donghae mengambil alih kendali atas tubuhnya. Donghae menarik tubuh Hyukjae mendekati toilet dan membuatnya duduk di pangkuan Donghae, bibir mereka masih bertautan saat Donghae berusaha menarik kaos putih Hyukjae dan menarik celana trainingnya.
"Kau mau melakukannya di sini?"
"Tentu, selagi anak-anak sibuk dengan sarapannya, aku—"
"Mom! Kenapa lama sekali? Jisung ingin pipis!"
Sial!
Donghae menarik kembali tangannya yang tadi hendak masuk ke dalam celana Hyukjae, selalu saja di saat yang penting dan menentukan. Donghae menghela nafas sambil memandang Hyukjae, tak lama kemudian mereka berdua terkekeh. Rasanya lucu sekali. Dulu, saat mereka masih menjadi sepasang kekasih melakukan hal seperti ini bukanlah hal yang sulit. Tapi sekarang, setelah ada anak-anak hadir di antara mereka, mau melakukan hal yang sedikit mesrapun susah.
"Kurasa lebih cepat kita menyekolahkan mereka maka akan lebih baik untuk—"
"Kita!"
"Dad! Mom! Kenapa lama sekali?"
Jisung mulai menggedor pintu dengan kencang, ia benar-benar perlu ke kamar mandi sekarang juga! Tapi ayah dan ibunya tidak juga membukakan pintu kamar mandi.
"Ugh, terlanjur tegang. Kau mau menghisapnya dulu?"
"Lee Donghae, kau benar-benar terdengar seperti maniak!"
Tanpa menghiraukan keinginan Donghae, Hyukjae turun dari pangkuan Donghae dan membukakan pintu kamar mandi untuk Jisung. Anaknya sudah dalam keadaan darurat rupanya, wajahnya merah dan kedua tangannya menangkup selangkangannya.
"Ugh! Lama! Jisung sudah terlanjur pipis di sini!"
.
.
ooODEOoo
Lima bulan berlalu begitu cepat, anak-anak sudah masuk sekolah dan kesibukan Donghae di galeri semakin padat begitupun dengan Hyukjae yang selalu berada di studio. Terkadang, Hyukjae sampai tidak pulang karena harus menyelesaikan proses editing lagu yang telah ia buat. Akhir-akhir ini, Donghae juga tidak punya banyak waktu untuk keluarganya karena sebentar lagi Donghae akan mengadakan pameran yang dihadiri oleh wartawan dari berbagai negara.
Hari ini sebenarnya Donghae ada janji makan malam dengan Hyukjae, katanya dia ingin membicarakan sesuatu yang tidak bisa mereka bicarakan di rumah karena ada anak-anak. Sudah pukul tujuh tapi Donghae masih berkutat dengan pekerjaannya, sesekali ia melirik jam tangannya karena khawatir pada Hyukjae yang mungkin saja sudah menunggunya sejak tadi.
"Bisa kau selesaikan ini untukku? Gantung saja di pojok ruangan, sisanya akan aku selesaikan malam ini setelah urusanku beres."
"Ya, pak."
Akhirnya Donghae memutuskan untuk menyuruh asistennya menyelesaikan pekerjaannya yang sebenarnya hampir selesai itu. Donghae terpaksa meninggalkannya karena ia tidak bisa telat lebih lama lagi, Hyukjae pasti akan sangat marah jika ia terlambat. Sejujurnya, saat Hyukjae mengajaknya makan malam tanpa anak-anak, Donghae merasa cemas. Donghae takut, Hyukjae akan mananyakan soal kejelasan hubungan mereka. Donghae masih belum siap memberitahu Hyukjae alasan kenapa ia meninggalkan Hyukjae dulu, karena jujur saja Donghae masih belum bisa membayangkan reaksi apa yang akan diberikan Hyukjae saat dia tahu kejadian yang sebenarnya.
Pukul setengah delapan tepat, Donghae sudah berdiri di depan sebuah restoran mewah ia hanya tinggal masuk tapi perasaannya semakin tidak enak karena mengingat hal yang random. Semakin berusaha rileks semakin Donghae tidak bisa mengendalikan pikirannya. Beberapa bulan ini, hubungannya dengan Hyukjae sudah mulai membaik bahkan bisa dikatakan mereka sudah kembali mesra meski hubungan mereka masih tanpa status dan tidak jelas. Donghae takut setelah makan malam ini, hubungan mereka akan kembali dingin dan jelas saja hal itu akan berdampak pada anak-anak yang mulai merasa nyaman dengan Donghae dan Hyukjae sebagai orangtua mereka.
"Aku memperhatikanmu sejak tadi, kenapa tidak masuk dan malah berdiri di sini seperti orang bodoh?"
Sejak kapan Hyukjae berdiri di hadapannya? Donghae terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak menyadari kehadiran Hyukjae.
"Oh, itu—itu tidak ada apa-apa, ayo masuk."
"Kau memikirkan sesuatu? Hubungan kita misalnya?"
Sejak awal Donghae sudah tahu, pembicaraan ini pasti mengarah kesana. Donghae diam saja, matanya fokus pada buku menu dan berpura-pura sibuk memilih makanan apa yang akan ia makan malam ini. Donghae memang ingin Hyukjae kembali padanya tapi untuk memberikan Hyukjae sebuah alasan, Donghae tidak yakin soal itu.
"Aku memikirkannya, tapi bukankah kau sendiri yang bilang? Kita biarkan saja terus seperti ini sampai kita menemukan alasan kenapa kita harus kembali."
"Kau punya alasan, kenapa tidak memberitahu aku soal itu? Teman-teman kita yang lain tahu alasanmu, kenapa hanya aku sendiri yang tidak tahu?"
Donghae menghela nafas, ia menyingkirkan buku menu yang tadi ia jadikan tameng untuk menghindari tatapan Hyukjae. Tangannya meraih jemari Hyukjae kemudian menggenggamnya, lembut.
"Tak bisakah kita bicarakan itu nanti? Ini makan malam pertama kita setelah sepuluh tahun."
Yang bisa dilakukan Hyukjae sekarang hanyalah mengalah, ia menarik tangannya yang di genggam Donghae dengan perlahan dan mulai menyantap makan malamnya dengan tenang. Percuma, di desak sekeras apapun, Donghae tidak akan pernah memberitahukan alasannya kecuali kehendak itu datang dari dirinya sendiri. Meski sedikit kecewa, Hyukjae memutuskan untuk tetap bersabar karena ia tahu Donghae akan memberitahukan alasannya suatu saat nanti.
"Saat kita melakukannya sepulang dari rumah Jungsoo Hyung waktu itu, aku mendengarmu terus mengucapkan kata maaf dengan airmata yang berlinang. Kenapa?"
"Aku mabuk, aku tidak tahu apa yang aku katakan saat itu."
"Kau merasa bersalah padaku?"
"Hyukjae, kau sudah selesai? Kita jalan-jalan ke Sungai Han dan melihat jembatan Banpo, aku sudah lama sekali tidak kesana. Selagi tidak ada anak-anak, sebaiknya kita manfaatkan waktu yang langka ini untuk berkencan. Bagaimana?"
Hyukjae tahu, Donghae sedang mengalihkan pembicaraan dan menghindari topik pembicaraan yang bersangkutan dengan masa lalu. Meskipun begitu, Hyukjae tetap mengangguk dan menyambut uluran tangan Donghae. Mereka berjalan meninggalakan restoran dan menyusuri jalan menuju Sungai Han sambil bergandengan tangan. Kebetulan jarak dari restoran ke Sungai Han memang tidak jauh, jika di tempuh sambil berjalanpun mungkin hanya akan menghabiskan waktu sekitar duapuluh menit.
"Sudah lama sekali kita tidak seperti ini."
"Hm, terakhir kita melakukan hal seperti ini saat usia kita baru menginjak angka duapuluh."
"Sudah banyak yang berubah."
"Ya, termasuk hubungan kita."
Hening.
Suasana kembali canggung saat Hyukjae kembali menyebutkan soal status hubungan mereka. Kata-kata Hyukjae barusan bagai sentilan untuk Donghae. Apa mau di kata? Memang Donghae lah yang bersalah dan Hyukjae berhak mengatakan apapun karena pihak yang tersakiti di sini adalah Hyukjae.
"Untuk saat ini, yang bisa aku lakukan untukmu hanyalah meminta maaf. Kau berhak membenciku, kau berhak memakiku dan kau berhak melakukan apapun padaku. Tapi satu hal, jangan tinggalkan aku."
Hyukjae berbalik menghadap Donghae, matanya menatap jauh ke dalam mata hazel Donghae. Tanpa di mintapun, Hyukjae tidak akan meninggalkan Donghae karena Hyukjae sadar bahwa ia juga tidak bisa menjalani hidup yang keras ini tanpa Donghae di sisinya. Meski Donghae terus bungkam dan enggan mengatakan alasannya, Hyukjae akan tetap berada di samping Donghae dan menunggu sampai Donghae siap mengatakan alasannya.
Jemari Hyukjae menyentuh pipi Donghae, ia mengelusnya dengan lembut sebelum akhirnya menempelkan bibir mereka berdua. Hyukjae memagut bibir Donghae duluan karena tidak mendapat reaksi apa-apa dari Donghae. Semakin lama, ciuman yang awalnya lembut itu semakin menuntut. Suara decakan dari bibir mereka memecah keheningan, saling bersahutan dengan gemericik air dari permukaan Sungai Han.
Aku hanya membutuhkanmu. Selamanya hanya membutuhkanmu untuk terus memegang tanganku dan memberi warna yang berbeda di kehidupanku hari ini, esok dan seterusnya.
.
.
"Ada yang menunggu Donghae-ssi di ruang tamu sejak satu jam yang lalu, kenapa baru pulang sekarang?"
Seorang pelayan menyambut kedatangan Donghae dan Hyukjae di halaman rumah. Sejak empat bulan yang lalu, pelayan wanita paruh baya yang biasa bekerja di rumah Sora itu pindah ke rumah Hyukjae dan menjadi pelayan di rumah Hyukjae. Saat Donghae dan Hyukjae harus bekerja di waktu yang bersamaan, Hyukjae perlu seseorang untuk menjaga anak-anak, itu sebabnya ia meminta salah satu pelayan di rumah Sora untuk membantunya mengurus rumah dan anak-anak.
"Ahjumma, siapa yang datang?"
"Entahlah, dia seorang wanita cantik. Cepat masuk, tidak baik membiarkan tamu menunggu terlalu lama."
Hyukjae melirik jam tangannya sekilas, kemudian ia melirik Donghae. Jam sepuluh lewat, apa masih pantas di sebut bertamu? Terlebih katanya dia seorang wanita, wanita macam apa yang mencari laki-laki malam-malam begini? Belum apa-apa hati Hyukjae sudah memanas, ia kembali melirik Donghae dengan tatapan berbeda. Lebih tajam dan lebih mengintimidasi. Hyukjae penasaran, wanita macam apa yang berani-beraninya mencari Donghae malam-malam begini.
"Apa?"
"Kau mengundang seorang wanita ke rumah?"
"Memangnya aku sudah gila? Untuk apa?"
"Lalu kenapa ada seorang wanita datang ke rumah mencarimu malam-malam begini?"
"Mana aku tahu!"
"Kenapa kalian malah berdebat di sini?"
Suara pelayan itu menghentikan argumen Donghae dan Hyukjae, mereka sama-sama mendengus lalu saling membuang muka. Baru juga melewatkan malam yang romantis di pinggir Sungai Han, sekarang sudah bertengkar lagi karena kehadiran seorang wanita yang entah siapa itu.
"Kau datang? Tega sekali membuatku menunggu."
Hyukjae menatap wanita itu, tidak suka. Nada bicaranya membuat Hyukjae ingin melemparnya dengan vas bunga. Tapi tunggu, kenapa dia terlihat akrab dengan Donghae? Bahkan dia berbicara dengan bahasa informal. Siapa dia?
"Lee Sagan? Sedang apa di sini?"
Mata Hyukjae membulat, ia tidak percaya ternyata Donghae memang mengenal wanita itu. Hati Hyukjae bukan panas lagi, tapi sudah terbakar dan hampir hangus. Berani sekali ada wanita yang mencari—mantan—kekasihnya malam-malam begini dengan pakaian yang super mini seperti kekurangan bahan.
"Kau kenal dia?"
"Oh, ya. Dia—dia Lee Sagan, mantan istriku."
Hati Hyukjae mencelos.
Mantan istri?
"Jadi, dia Lee Hyukjae? Mantan kekasihmu itu? Well, jangan salah paham. Aku kesini bukan untuk cari gara-gara, aku kesini hanya untuk melihat anak-anakku sebentar. Kudengar kau pulang ke Korea, jadi aku mencarimu ke rumah ibumu tapi dia bilang kau ada di sini. Jadi, sampailah aku di sini."
"Untuk apa mencari anak-anak? Kupikir kau sudah tidak peduli pada mereka."
"Yeah, aku memang ibu yang buruk untuk mereka tapi kau jangan lupa, aku adalah orang yang melahirkan mereka ke dunia ini. Naluriku sebagai ibu tidak bisa kupungkiri, aku merindukan mereka. Tapi, saat aku menemui mereka barusan sepertinya mereka membenciku dan menganggapku seperti orang asing. Kau yang mengajarkan mereka untuk membenciku? Ibunya sendiri?"
Hyukjae tidak tahan lagi berada di tengah-tengah pertengkaran mantan suami istri itu. Ini rumahnya dan tiba-tiba seorang wanita bergaya ala gadis barat dengan rambut pirang mencolok datang membuat keributan dengan bahasa campur aduk yang membuat Hyukjae ingin melempar wanita itu dengan sepatu.
"Aku ada di ruang tengah kalau kau mencariku, jangan terlalu lama mengobrol karena ini sudah malam. Dan jangan membuat keributan, aku tidak mau anak-anak bangun karena keributan kalian."
Karena muak dan sudah tidak tahan lagi dengan pertengkaran mereka berdua, Hyukjae memilih ke ruang televisi dan memberikan kesempatan pada sepasang mantan suami istri itu untuk berbicara. Sejujurnya, hati Hyukjae tidak tenang dan api cemburu terus membakarnya karena wanita yang mengaku mantan istri Donghae itu sangatlah cantik! Dia tinggi semampai, kulitnya putih, hidungnya mancung dan matanya bulat bersinar. Tidak heran, Haru begitu cantik karena lihat saja ibunya, Haru mewarisi kulit putih dan mata bulat ibunya.
"Untuk apa aku mengajari mereka membencimu? Tidak ada gunanya untukku."
Samar-samar, Hyukjae mendengar suara Donghae yang sedikit meninggi. Sepertinya dia kesal? Hyukjae memejamkan matanya, ia memfokuskan indera pendengarannya agar lebih jelas lagi menguping pembicaraan mereka berdua.
"Lalu kenapa?"
"Kau meninggalkan mereka dan menganggap mereka layaknya sampah! Aku rasa wajar jika anak-anak membencimu! Saat kau memilih pergi dengan laki-laki lain dan mengejar karirmu, apa pernah kau memikirkan anak-anak? Bagaimana perasaan mereka saat melihat ibunya pergi dan membentak-bentak ayahnya seperti orang gila? Saat kau pergi dari rumah, kau sudah menjadi orang asing bagi mereka."
"Kau pikir aku pergi karena keinginanku? Semua ini karena kau! Kau yang membuat aku keluar dari rumah! Kau memang tidak pernah mengusirku, tapi sadarkah kau? Kau tidak pernah menganggap aku ada, kau tidak pernah mengaggapku sebagai istrimu, kau juga tidak pernah memberiku sedikit cinta padahal aku sudah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik! Sadarkah kau? Kaulah yang membuat aku keluar dari rumah! Aku melakukan segalanya demi rumah tangga kita, tapi dalam hatimu tidak pernah ada tempat untukku! Tempat itu selalu menjadi milik orang lain, kau tidak pernah membiarkan tempat itu menjadi milikku meskipun hanya sedetik."
Jantung Hyukjae berdegup kencang, ternyata konflik rumah tangga Donghae lebih rumit dari apa yang pernah ia perkirakan. Awalnya Hyukjae kira, mereka bercerai karena mantan istri Donghae yang gila kerja tapi ternyata mereka berpisah karena tidak adanya cinta di antara mereka dan parahnya lagi, mereka berpisah karena Donghae yang masih menyisakan ruang di hatinya untuk Hyukjae.
"Sejak awal kau tahu aku tidak pernah mencintaimu, tapi kau selalu datang padaku dan mendesakku untuk segera menikahimu karena kau sedang mengandung anakku! Apa yang bisa aku lakukan? Aku memang melakukan kesalahan padamu dan niatku menikahimu hanyalah untuk bertanggungjawab, bukankah sejak awal kau juga tahu? Lalu, kenapa baru sekarang kau membahasnya?"
Kesalahan?
Jadi Donghae menikahi wanita itu karena kesalahan? Apa maksudnya ini?
"Jadi kau tetap menyalahkanku? Kau menganggap semua ini kesalahanku? Bajingan! Kau memang bajingan! Kau seharusnya sadar, semua ini juga kesalahanmu! Kau juga bersalah, brengsek!"
"Mom."
Hyukjae dan wanita yang bernama Sagan itu sama-sama melirik ke arah tangga dimana Haru sedang berjalan sambil menggosok matanya, sepertinya gadis kecil itu terbangun karena terkejut mendengar teriakan Donghae dan Sagan yang menggema di seluruh penjuru rumah. Hyukjae beranjak dari tempat duduknya berniat memeluk Haru dan menenangkannya tapi sebelum Hyukjae meraih Haru, Sagan sudah mendahuluinya dan memangku Haru dengan paksa. Tangan kecil Haru menggapai-gapai ke arah Hyukjae, dia tidak suka di pangku oleh ibu kandungnya yang sudah dia anggap seperti orang asing itu. Tangisan Haru semakin pilu karena Sagan tak kunjung melepaskannya, hal itu benar-benar membuat hati Hyukjae berdenyut sakit. Sebelumnya, Haru tidak pernah menangis sampai menjerit sekencang itu.
"Lepaskan dia, kau tidak melihatnya? Dia tidak mau kau menyentuhnya!"
Donghae meraih Haru dengan paksa dan memberikannya pada Hyukjae yang kini berdiri di sampingnya. Setelah Haru berada dalam pangkuannya, Hyukjae segera pergi dari tempat itu. Ia membawa Haru ke kamarnya dan tidak peduli lagi pada pertengkaran Donghae dengan mantan istrinya, yang ada dipikiran Hyukjae sekarang hanyalah bagaimana caranya menenangkan Haru yang tampak ketakutan hingga membuat tubuh kecilnya bergetar hebat.
Selesaikan dan pergilah dari sini!
.
.
Donghae tidak habis pikir, bagaimana bisa mantan istrinya datang ke rumah Hyukjae dan membuat keributan bahkan hingga membuat Haru menangis histeris. Karena ulah mantan istrinya itu, Haru menangis sampai muntah-muntah dan jatuh sakit. Wanita sialan itu benar-benar keterlaluan! Dulu, dia meninggalkan anak-anak tanpa berpikir panjang dan sekarang dia datang setelah sekian lama lalu membuat Haru menangis ketakutan. Donghae yang biasanya tenang dan tidak pernah berkata kasar sampai harus melakukannya karena mantan istrinya itu sudah sangat keterlaluan. Donghae akui, semua yang dikatakan Sagan memang benar adanya. Dari awal pernikahan mereka terjadi, Donghae tidak pernah mencintainya bahkan Donghae tidak pernah berniat sedikitpun untuk menikah dengannya. Tapi apa boleh buat? Donghae melakukan sebuah kesalahan fatal yang membuatnya terjebak dalam situasi rumit hingga akhirnya ia harus menikahi Sagan yang pada saat itu tengah mengandung anaknya.
Pada awalnya, Donghae hanya ingin bertanggungjawab sebagai laki-laki dengan menikahi Sagan yang tengah mengandung anaknya secara resmi. Dengan syarat, setelah sebulan pernikahan Donghae akan menceraikannya. Tapi kemudian Sagan menuntut sesuatu yang lebih, dia tidak mau bercerai dengan Donghae. Sagan membuat penawaran, dia akan bercerai dengan Donghae setelah melahirkan bayinya. Donghae setuju, bagaimanapun semua ini terjadi karena kesalahannya dan mau tidak mau Donghae harus bertanggungjawab hingga selesai.
Sembilan bulan berlalu, Sagan melahirkan anak kembar yang sehat. Meski pada awalnya Donghae tidak menginginkan kehadiran bayi-bayi itu, Donghae tetap terharu saat melihat kedua bayinya lahir ke dunia. Nalurinya sebagai ayah muncul begitu saja saat melihat kedua bayinya menangis dengan nyaring. Sejak dulu, Donghae memang menyukai anak-anak jadi begitu melihat darah dagingnya sendiri lahir ke dunia, Donghae tidak bisa membencinya meski sesungguhnya Donghae membenci seseorang yang melahirkan mereka berdua. Bagi Donghae, kesalahan yang ia buat dengan Sagan tidak ada kaitannya dengan bayi mereka yang tidak berdosa ini. Jadi, perjanjian tentang cerai itu Donghae lupakan begitu saja demi anak-anak mereka yang tidak berdosa. Meskipun mereka hidup berumah tangga tanpa cinta, Donghae tetap mempertahankan hubungan mereka karena Donghae tidak mau anak-anaknya hidup tanpa figur seorang ibu.
Empat tahun kemudian, tidak ada yang berubah dalam rumah tangga mereka. Donghae dan Sagan tidak pernah sekamar, bahkan bicarapun jarang. Mereka hanya berinteraksi ketika salah satu dari si kembar sakit, selebihnya mereka hidup seperti tidak mengenal satu sama lain. Pada akhirnya, Sagan memilih keluar dari rumah. Dia ingin mengejar karirnya dan sudah mendapatkan laki-laki lain yang lebih baik dari Donghae, jadi dia memutuskan untuk pergi dari rumah dan menggugat cerai Donghae. Tentunya, perceraian tidak berjalan dengan mulus. Mereka bertengkar dan saling berteriak di depan anak-anak bahkan Sagan menampar Donghae di depan Jeno dan Haru yang saat itu baru berusia empat tahun.
Akhirnya mereka berpisah, sejak saat itu mereka tidak pernah saling berhubungan lagi dan menganggap satu sama lain tidak ada. Sagan yang fokus dengan karirnya dan Donghae yang fokus merawat anak-anak sambil menjalankan pekerjaannya sebagi fotografer. Setelah sekian lama tidak bertemu dan hidup masing-masing, tiba-tiba saja Sagan muncul di rumah Hyukjae dan membuat keributan. Donghae pikir, urusannya dengan Sagan sudah selesai. Tapi ternyata, dia datang ke Korea dan membahas masalah yang sudah berlalu dihadapan Hyukjae yang tidak tahu apa-apa.
"Kau belum tidur?"
Suara Hyukjae membuyarkan lamunan Donghae, ia berbalik menghadap ke arah Hyukjae. Sejak mereka sampai di tempat tidur, mereka hanya diam dan saling memunggungi. Donghae tahu, Hyukjae pasti penasaran dengan apa yang terjadi hari ini tapi Donghae belum bisa menjelaskannya sekarang karena ini terlalu mendadak dan Donghae tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Aku tidak bisa tidur."
"Tapi aku ada di sampingmu. Kau bilang, kau hanya tidak bisa tidur jika tidak ada aku di sampingmu."
Hyukjae ikut berbalik dan menatap langsung ke mata hazel Donghae, hatinya tidak tenang sejak kedatangan Sagan tadi. Apa lagi, wanita itu membuat Haru ketakutan hingga jatuh sakit dan sekarang Donghae jadi murung begini. Meski Hyukjae merasa risih saat Donghae terus menggodanya, tapi melihat Donghae jadi murung dan pendiam seperti ini justru membuat Hyukjae tidak tenang.
"Maaf aku membuat keributan, kau pasti kaget. Hm?"
"Tidak apa-apa."
Entah kenapa, Donghae tiba-tiba ingin menangis saat melihat Hyukjae tersenyum hangat ke arahnya. Donghae beringsut, semakin mendekatkan dirinya pada Hyukjae kemudian ia menenggelamkan kepalanya di dada Hyukjae. Airmata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga, Donghae menangis tersedu-sedu sambil memeluk Hyukjae. Dadanya sesak dan ia merasa sangat tertekan karena kata-kata Sagan yang membuatnya tertohok tadi. Mungkin Sagan benar, semua ini bukan hanya kesalahan Sagan seorang. Selama ini Donghae selalu menganggap dirinyalah yang paling benar tanpa mau mendengarkan Sagan tentang apa yang dia rasakan selama hidup bersama Donghae. Donghae selalu menutup telinga soal itu dan sekarang ia sadar, semua ini terjadi karena keegoisannya.
"Aku laki-laki brengsek, aku menyakitimu dan menyakiti wanita itu tanpa sadar. Masih pantaskah aku memintamu untuk kembali padaku?"
Airmata Donghae mengalir deras hingga membasahi piyama Hyukjae, rasa bersalah itu menyelimuti Donghae sampai membuatnya sulit bernafas. Sengaja atau tidak sengaja, Donghae memang telah menyakiti dua orang sekligus. Seandainya saja dulu Donghae tidak berpikir pendek dan mendengarkan penjelasan Hyukjae terlebih dahulu, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Donghae memang bodoh, ia tidak bisa bersabar dan selalu berpikir pendek. Akhirnya, selain menyakiti diri sendiri, ia juga menyakiti dua orang lainnya.
"Menangislah, karena hanya dengan menangis bebanmu akan sedikit lebih ringan. Aku sungguh tidak tahu bebanmu ternyata seberat ini."
Hyukjae tidak berani menanyakan apapun, ia hanya diam sambil menepuk-nepuk punggung Donghae. Mungkin belum saatnya ia bertanya, jika Donghae sudah tenang nanti barulah ia akan bertanya. Lagi pula, Donghae pasti membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya. Mengenai alasan, Hyukjae yakin Donghae akan mengatakannya cepat atau lambat. Hyukjae hanya perlu bersabar dan menunggu sebentar lagi.
Alasan itu ada dan aku ingin memberitahumu, tapi masihkan cinta itu akan tetap sama saat kau tahu alasanku?
.
.
TBC
Ada typo? maaf gak di edit ^^
Akhirnya konflik heheheheheh...
Malem ini saya gak bisa balesin review ya ^^ maaf banget krn ini msh jam kerja kantor jadi waktunya mepet, ini saya update krn udh janji sama kalian bakalan update seminggu sekali. jadi, meskipun di kantor dan msh sibuk saya tetep nyuri2 waktu buat update FF ini ^^ tadinya mau di update 2 hari yg lalu tp saya sakit huhu jadi di tunda deh kkkkk maaf ya ^^
Makasih sama yg selalu hadir di kotak review, saya selalu baca semua dan semua selalu jadi penyemangat saya ^^
okay, last. Review?
Thank you sooooo sooo sooooo much ^^ and love you guys ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
