Fic Collab with Saita Hyuuga Sabaku
.
.
.
Tittle : Ima Made Nan Domo
(Sekarang Hingga Berapa Kalipun)
Judul Ost Naruto by The Mass Missile
Author : Hani Yuya dan Saita Hyuuga Sabaku
.
.
.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku slight SasuKarin, GaaSaku
Rate : M (for save)
Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort
Warning : AU, OOC, gaje, typo, abal, Eyd berantakan, ga nyambung, dsb.
.
.
.
Don't Like, Don't Read
.
.
.
Chapter 4 : Keputusasaan – by Hani Yuya
.
.
.
~(^_^~) Happy Reading (~^_^)~
.
.
.
Tuk Tuk Tuk
Sejak tadi gadis bersurai merah muda itu tak hentinya mengetuk meja kotatsu dengan gelisah. Manik emeraldnya sering kali menatap jam dinding yang berada tepat di hadapannya.
Handphone miliknya sengaja ia taruh di atas meja tepat di hadapan wajahnya agar jika Sasuke menelponnya ia akan segera tau dan mengangkatnya.
Sejak tadi ia menunggu kedatangan calon suaminya Uchiha Sasuke, namun sampai sekarang ia tak kunjung datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, padahal tadi pagi Gaara berkata Sasuke akan datamg menemuinya segera.
Jarak antara apartemen Gaara dan apartemen Sasuke tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu perjalan satu jam untuk sampai kesana. Tapi kenapa sampai saat ini Sasuke tak kunjung datang, sudah 6 jam Sakura menunggu kedatangan Uchiha bungsu itu datang menjemputnya.
Tuk, sebuah tangan menepuk kepalanya pelan. Gaara meletakkan sebotol kaleng minuman penyegar di atas meja.
"Minumlah, sejak tadi kau belum makan atau minum apapun. Sebentar lagi makanan yang ku pesan akan sampai, kita sarapan dulu sambil menunggu tunanganmu itu datang," ujarnya seraya duduk di depan Sakura.
Sakura mendesah pelan, ia hanya menatap hampa kaleng minuman yang tersuguhkan di hadapannya itu. Yang ia inginkan saat ini hanya Sasuke, ia hanya ingin Sasuke datang menjemputnya segera. Dan menjelaskan kesalahpahaman dirinya dengan Karin tadi malam.
Ting Tong bel apartemen Gaara berbunyi, senyum sumringah tercetak jelas di wajah cantik gadis musim semi itu. Ia segera beranjak dari duduknya dan berlari menuju pintu masuk.
"Sasu~" perkataannya tak ia lanjutkan ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu masuk apartemen. Bukan sosok pemuda tampan dengan gaya rambut bak pantat ayam keturunan Uchiha, tapi dua orang yang berbeda genre itu kini berdiri dihadapannya, seakan mengintimidasi dirinya.
Seorang pria setengah baya dengan rambut raven sebatas pinggang yang terlihat cukup berumur namun garis tegas dan ketampanannya tak hilang dimakan usia. Dan seorang lagi wanita berkacamata berambut merah. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan dibalik wajah polosnya. Sejak tadi bibirnya tak berhenti menyunggingkan sebuah senyum kepuasan.
Sakura berdiri mematung, sejak tadi ia tak bergerak sedikitpun. Tatapan menusuk pria setengah baya itu seakan membuat tubuhnya kaku.
"Sakura! Siapa yang datang?"
Terdengar suara teriakan Gaara dari arah ruang tamu. Sakura mengabaikan pertanyaan Gaara, dia masih diam.
"Sakura, siapa yang datang?"
Gaara terus berteriak, namun tetap tak mendapatkan jawaban. Karena penasaran ia beranjak dari sana dan berjalan mendekati Sakura.
Deg... matanya membulat ketika melihat siapa saja yang ada di depan pintu apartemennya, "Madara-sama dan~… Karin?!" ujar Gaara terkejut.
Gaara melirik Sakura dari sudut matanya, tubuhnya bergetar, wajahnya memucat, keringat dingin deras mengucur dari wajah porselinnya.
"Jadi ternyata semua berita itu benar?" pria yang dipanggil Madara itu mulai angkat bicara.
"Berita?" ucap Gaara dengan raut wajah bingung.
"Tch, tak usah berlagak bodoh Sabaku-san... kalian berdua sudah tertangkap basah olehku. Sejak awal aku tak setuju jika cucuku-Sasuke berhubungan dengan gadis musim semi ini!" Madara mendelik tak suka ke arah Sakura,"akhirnya kau benar-benar telah menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya nona Haruno, kau telah mencoreng nama baik Klan Uchiha! Kau tak pantas bersanding dengan Sasuke! Hari ini berhentilah berharap menjadi bagian dari kami. PERNIKAHANMU DENGAN SASUKE DIBATALKAN!" ujar Madara panjang lebar penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Sakura dan Gaara terbelalak tak percaya mendengar penuturan Madara. Liquid bening lolos dari manik Emerald wanita musim semi itu.
"Tu- tunggu dulu Madara-sama aku tak mengerti apa maksud semua perkataanmu?" ujar Gaara terlihat bingung.
Sreettt
Madara melemparkan beberapa lembar foto ke tubuh Gaara, membuat beberapa lembar foto itu jatuh berhamburan di lantai. Gaara lalu memungut selembar foto yang terjatuh tepat di bawah mata kakinya. Lagi-lagi ia dikejutkan dengan gambar yang tersuguhkan di foto itu. Disana terpapar jelas dirinya dan Sakura yang sedang bergelut mesra di atas ranjang tanpa sehelai benang sedikitpun.
Ia tak mungkin melakukan hal yang bisa membuat wanita yang disukainya hancur dalam penyesalan dan membenci dirinya. Karena perasaan cintanya pada sang gadis melebihi dirinya sendiri.
Tangannya mengepal erat, ia menekan bibir bawahnya untuk meredam amarahnya. Dengan wajah yang dibuat setenang mungkin Gaara menjelaskan kesalahpahaman ini.
"Anda salah paham Madara-sama, kami tak mungkin melakukan ini! Lihat!" Gaara memperlihatkan foto yang ia pegang. "ini jelas-jelas hasil editan seseorang! Kurasa anda tau akan hal ini! Atau anda pura-pura tak menyadari-"
"CUKUP SABAKU-SAN!"
Belum sempat Gaara menyelesaikan kalimatnya Madara memutusnya dengan suara yang lantang dan penuh amarah. Ia seakan tak ingin mendengarkan penjelasan Gaara padanya. Tatapannya seakan berkata 'Apapun kebenarannya itu tak akan mengubah keputusannya tentang pembatalan pernikahan Sakura-Sasuke'.
Gaara menghela nafas panjang. Sreet...sret, ia merobek foto yang ia pegang, menatap tajam manik Onyx yang juga menatapnya tajam.
"Apapun yang kukatakan aku yakin kau tak akan mengubah keputusanmu bukan Madara-sama?! Karena sejak awal kau tak membutuhkan jawaban dari kami," ujar Gaara dengan tatapan yang menusuk. Masih dengan nada setenang mungkin.
Suasana disana semakin mencekam, wajah Sakura semakin memucat. Ia meremas baju tepat di depan dadanya kencang.
"Hn, baguslah jika kau mengerti," jawab pria paruh baya itu santai. Lalu ia mengalihkan pandangannya menatap Sakura kembali, "besok Sasuke dan Karin akan menikah. Kuharap kau tidak akan mengacaukan acara resepsinya," ucapnya datar.
Karin menyeringai lebar. Ia tak menyangka jika rencananya berjalan dengan sempurna. Sebentar lagi ia akan menikah dengan Sasuke, hanya dengan hitungan jam dari sekarang, maka ia resmi menjadi nyonya Uchiha.
Air mata Sakura semakin menganak sungai. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali, seakan tak mau mempercayai semua perkataan yang diucapkan Madara padanya.
"Tidak Jii-san, kumohon kau bohong kan!" ujarnya seraya menarik lengan kemeja Madara.
Madara menghempaskan tangan Sakura kasar, ia menatap Sakura penuh kebencian. "Sejak awal aku tak merestui hubungan kalian, bukankah kau sudah kuperingati sejak dulu Sakura! Gadis miskin seperti dirimu tak akan cocok bersanding dengan Sasuke! Salah satu pewaris sah Uchiha corp!" gertaknya.
Sakura tak percaya mendengar kata-kata sinis dari Madara untuk ke dua kalinya. Kakinya lemas seakan tak bertulang, tubuhnya linglung dan jatuh terduduk di lantai. Air mata yang menganak sungai masih setia mengalir dari sudut mata emeraldnya yang kini meredup. Ia teringat masa lalu di saat ia dan Sasuke berjuang mempertahankan hubungan mereka dan meyakinkan Madara. Namun sekarang ia merasa seakan jerih payah mereka dulu sia-sia, karena nyatanya Madara sampai saat ini pun tak mengakuinya sebagai kekasih Sasuke.
*Flash back on *
Brak! Madara menggebrak meja kencang. Membuat semua orang yang berada di ruangan bernuasansa eropa itu langsung menoleh ke arahnya.
"Aku tak merestui hubungan kalian!" Desisnya marah.
Sasuke tampak menggenggam tangan Sakura semakin erat. Bukannya takut, ia malah menatap Onyx Madara dengan tatapan penuh keyakinan.
"Kenapa? Apa kesalahannya, sehingga Jii-san sangat membencinya?" tanya Sasuke antusias.
"Hn, kesalahan mutlaknya adalah ... karena dia terlahir di keluarga yang miskin! Dia tak sepadan dengan kita Sasuke!"
"Tch, bukankah orang yang menganggap orang miskin dialah yang miskin?"
"Apa maksud perkataanmu Sasuke?!"
"Aku benar kan Jii-san?! Lebih baik miskin harta daripada miskin hati. Kau memiliki segalanya tapi kau tidak memiliki hati! Dan Sakura memang tidak memiliki harta yang melimpah tapi ia kaya akan hati."
"KAU BERANI MELAWANKU SASUKE!"
Madara melayangkan telapak tangannya ke wajah Sasuke. Plakkk.
Onyx Sasuke membulat,"SAKURA!" teriaknya. Karena refleks Sakura mendorong tubuhnya dan memggantikan posisinya, alhasil wajah porselin gadis musim semi itu yang terkena dampak amarah Madara,"kau tak apa-apa?" lanjut Sasuke seraya mengusap pipi Sakura yang terlihat memar.
Sakura mengangguk, menggenggam telapak tangan Sasuke,"kumohon jangan berkata kasar pada Jii-san, ini semua salahku yang seenaknya jatuh cinta padamu Sasuke," ekspresi wajahnya terlihat sedih, matanya berkaca-kaca, "seharusnya aku tau diri, bahwa aku hanyalah orang yang bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Uchiha corp ini. Aku bukanlah siapa-siapa Sasuke-kun, kita bagaikan langit dan bumi. Wajar jika Madara-Jii san tak merestui hubungan kita."
"Sakura."
Sakura menggigit bibir bawahnya pelan, "kita akhiri saja Sasuke! Aku tak ingin kau berselisih paham dengan kakekmu hanya demi mempertahankan aku disisimu."
"A ... apa maksudmu Sakura! Jangan bercanda?!"
Sakura perlahan melepaskan genggamannya. Susah payah ia bertahan agar tidak menangis, tapi akhirnya cairan bening menetes dari sudut matanya. Ia berusaha tersenyum meski dadanya terasa sakit. Sungguh ini adalah keputusan yang sangat berat meninggalkan orang yang amat dicintainya.
Dengan langkah yang berat ia mulai berjalan menjauhi Sasuke. Namun baru beberapa langkah Sasuke memeluk tubuhnya dari belakang. Sasuke tak akan pernah membiarkan kekasihnya pergi.
"Aku tak akan membiarkanmu pergi! Kalau kau pergi aku akan ikut denganmu," ucapnya tanpa keraguan sedikitpun.
"Lepaskan Sasuke! Biarkan aku pergi, hiks!" ronta Sakura.
"Tidak akan kulepaskan! Tak akan pernah,"ucapnya sendu.
Tap tap tap
Madara yang sejak tadi menonton opera sabun yang dimainkan cucunya merasa jengkel, ia melengos pergi melewati mereka berdua. Ia harus mengakui kekalahannya. Dia tau betul watak Sasuke, ia tak akan menyerah begitu saja dan menuruti semua kemauannya.
Madara berhenti tepat di ambang pintu, tanpa menoleh ia mengajukan sebuah perjanjian.
"Kali ini aku mengaku kalah. Tapi jika suatu saat hubungan kalian pecah karena kehadiran orang ketiga, maka kalian harus berpisah. Kuharap kau paham maksudku Sasuke. Karena klan Uchiha tak akan pernah mengakui seorang penghianat."
"Hn, aku mengerti."
Tanpa bicara lagi Madara meninggalkan keduanya. Sakura tak pernah tau bahwa Madara sempat tersenyum sebelum meninggalkan ruangan itu. Ya, dia sudah memprediksi suatu saat pasti akan muncul orang ketiga diantara mereka, dan itu cukup memecah belahkan hubungan yang mereka pertahankan dengan ikatan yang dinamakan 'cinta' menjadi 'kebencian'. .
.
.
.
#flashback off#
.
Puk, Sakura terhentak kaget karena seseorang menepuk bahunya. Ia tersadar dari lamunannya lalu menoleh dan mendapati sosok pemuda merah-sahabatnya disana.
"Kau tak apa-apa Sakura?" tanya Gaara khawatir.
"Gaara ... hiks." Sakura hanya terisak.
Gaara memandang nanar sosok wanita musim semi di hadapannya. Wanita yang sangat ia cintai sejak dulu begitu rapuh saat ini. Cahaya yang ia lihat di manik Emeraldnya meredup.
'Tck, sial!" Ia menggeram frustasi karena tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Sreet! Gaara menarik tubuh rapuh Sakura ke dalam pelukannya, ia tak peduli masih ada Madara dan Karin disana.
"SAKURA!"
Tiba-tiba terdengar suara baritone yang terdengar cukup familiar. Sontak Sakura mengangkat wajahnya dan mencari sumber suara, dia yakin itu adalah suara dari sosok pemuda yang sangat ia rindukan.
"Sa-su-ke-kun," isaknya pelan ketika mendapati pemuda raven berdiri di hadapannya.
Sontak Gaara melepaskan pelukannya. Dan mengalihkan pandangannya menatap Sasuke. Sedangkan Sasuke menatap nanar pemandangan yang tersuguhkan dihadapannya, tatapannya terpaku pada foto yang berhamburan di lantai, foto yang membuat ia merasa dikhianati.
Tadinya ia ingin mencoba membicarakan hal ini dengan Sakura secara baik-baik. Namun ia mengurungkan niatnya, hatinya hancur melihat wanita yang ia cintai berpelukan bersama sahabat merahnya. Ia merasa dikhianati untuk ke dua kalinya.
"Sasuke!"
Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara yang yang terdengar tak asing di telinganya. Onyxnya membulat ketika sadar akan kehadiran kakeknya dan Karin disana. Karena sebelumnya ia sama sekali tak menyadari keberadaan mereka.
"Jii-chan, apa yang kau lakukan disini? Mungkinkah?" Onyxnya menatap shappire milik Karin, namun wanita itu tak takut dengan tatapan mematikan yang disuguhkan Sasuke padanya. Ya, tentu saja Karin merasa diatas angin saat ini karena Madara ada dipihaknya, sejak dulu Madara memang sangat menyayangi wanita merah berkacamata itu.
"Pulanglah! Hubungan kalian berdua sudah berakhir, kalian sendiri yang menunjukkan padaku betapa rapuhnya ikatan kalian. Wanita itu sudah menghianatimu, begitu juga kau. Kau sudah mengkhianatinya Sasuke. Kau tak lupa perjanjian kita dulu bukan?"
"Hn." Hanya sebuah kata absurd yang dikeluarkan Sasuke. Onyx dan Emerald bertemu, tatapan Sasuke terhadap Sakura berbeda dari biasanya. Tatapannya terlihat sedih, kecewa dan marah.
Tubuh Sakura bergetar, ia tau Sasuke marah padanya saat ini,"Sa-su-ke-kun," ucapnya gagap.
Dengan telapak tangannya yang dikepal Sasuke berjalan menghampiri Madara melewati Sakura yang masih duduk bersimpuh di lantai. Deg ... Sakura terbelalak tak percaya melihat Sasuke dengan cuek berjalan tanpa sedikit pun menoleh kearahnya.
Sakura berdiri menghampiri Sasuke, Ia memegang telapak tangannya lalu menggenggamnya erat, "Kumohon dengarkan penjelasanku dulu Sasuke-kun, hiks. Kumohon!" pinta Sakura.
"Tck." Dihempaskan kasar tangan Sakura, "klan Uchiha tidak membutuhkan seorang pengkhianat," ujarnya penuh amarah lalu melengos pergi.
Sakura terbelalak tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sasuke tega mengucapkan kalimat yang menyakiti hatinya. Padahal Sasuke juga mengkhianatinya bukan? Bahkan ia melihat dengan kedua matanya sendiri saat berkunjung ke apartement Sasuke tadi malam. Tapi ia masih memaafkan Sasuke, malah menganggap kejadian itu hanya sebuah kesalahpahaman. Tapi ... kenapa Sasuke tak mau mempercayainya? Serapuh inikah ikatan mereka?
Gaara yang melihat perbuatan Sasuke pada Sakura menggeram kesal ia menarik baju Sasuke tepat di dadanya.
"Kau benar-benar pria yang buruk Sasuke! Kau bahkan percaya pada foto editan itu, heh dan tak mau mendengar penjelasan kekasihmu!" geramnya kesal.
"Aku tak perlu penjelasan apapun ... kuucapkan selamat berbahagia untuk kalian berdua," ujarnya sarkastik dengan tatapan penuh kebencian, lalu dihempaskan tangan Gaara.
Sasuke terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Ia pergi dengan tangan yang dikepal meninggalkan Madara dan Karin disana. Lalu disusul dengan Madara di belakang dan Karin yang tersenyum bahagia. Dia sangat puas melihat Sakura menderita saat ini, dewi fortuna sepertinya kini memihak padanya.
Gaara menjambak rambut merahnya frustasi, dan menghantamkan kepalan tangannya ke tembok berulang kali. Ia marah, sangat marah merasa tak terima sahabat pinknya diperlakukan tak adil, namun ia sendiri tak dapat menolongnya.
Sakura menangis histeris, lelehan air mata terus mengalir dari sudut matanya. Hatinya sakit bagai tertusuk ribuan jarum menerima perlakuan kasar dari orang yang paling dicintainya, terlebih lagi Sasuke tak mempercayainya.
.
.
.
.
.
Waktu berjalan sangat cepat bagi Sakura. Baru kemarin ia bertengkar hebat dengan Sasuke, dan sekarang mungkin hubungan dia dan Sasuke akan benar-benar berakhir.
"Makanlah, sejak kemarin kau belum makan apapun!" Gaara membawa sepiring nasi omelet dan segelas susu ke dalam kamar yang dipakai Sakura.
"Hari ini Sasuke-kun menikah bukan? Apa yang harus kulakukan untuk meyakinkannya, Gaara-kun?" ujarnya histeris, tatapan matanya kosong, rambut soft pinknya kusut, baju yang dipakainya pun lusuh. Terlebih lagi matanya bengkak karena menangis seharian.
"Sudahlah, lupakanlah dia. Pria sepertinya tak pantas kau pikirkan lagi," ujar Gaara dengan nada sedikit tinggi.
Sakura menggelengkan kepalanya, "TIDAK! Aku mencintainya ... aku tak akan pernah bisa hidup tanpanya, kau yang paling tau itu kan Gaara-kun," bantah Sakura menatap tajam jade Gaara.
"Ck!" Gaara mencengkram pundak Sakura,"KENAPA HANYA SASUKE YANG SELALU ADA DI BENAKMU HA! KAU TAK PERNAH SEKALIPUN MENGANGGAPKU ADA SAKURA! ujarnya dengan nada tinggi.
"Gaara-kun!"
Gaara mengendorkan cengkramannya lalu menyenderkan kepalanya di pundak sang gadis. "Padahal aku selalu mencintaimu," ujarnya parau.
Emerald Sakura membulat ketika mendengar pernyataan Gaara. Kepalanya seakan ingin pecah, ia tak menyangka Gaara yang sudah dianggap sahabat karibnya memiliki perasaan khusus padanya.
Sontak Sakura mendorong tubuh Gaara dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia segera mengambil jaket yang bertengger di kursi lalu pergi keluar meninggalkan Gaara disana. Tapi refleks Gaara beranjak dan menarik pergelangan Sakura.
"Tunggu dulu Sakura ... dengar dulu penjelasan~" belum sempat Gaara menuntaskan kalimatnya, Sakura menarik kasar tangannya.
"CUKUP! Aku tak ingin mendengar lebih dari ini, aku mau pulang," ujarnya penuh penekanan.
"Tch, tunggu Sakura! Aku tak akan membiarkan kau pulang dengan keadaan kacau seperti ini!"
Sakura tak menghiraukan perkataan Gaara, ia terus berlari ke luar apartemen dan menuju parkiran mobil, ia khawatir dengan keadaan Sakura saat ini. Keadaan hatinya tak stabil, ia tak akan mengijinkan sahabat sekaligus wanita yang dicintainya menyetir sendiri mobilnya. Gaara merutuki dirinya sendiri karena tanpa sadar menyatakan perasaannya disaat yang tidak tepat.
'Tch, apa yang kulakukan tadi! Aku benar-benar lepas kontrol, sial!' rutuknya dalam hati.
BRUKKK
"SAKURA!"
Gaara terbelalak tak percaya tiba-tiba Sakura jatuh tak sadarkan diri. Ia segera menggendongnya dan membawanya kerumah sakit.
Tak lama kemudian mereka sampai dirumah sakit dan mereka langsung membawa Sakura ke UGD. Sejak tadi Gaara tak berhenti mondar - mandir di depan pintu UGD ia sangat mengkhawatirkan keadaan Sakura.
Kreekkk
Seorang dokter wanita berambut blonde keluar. Dia tersenyum dan menepuk pelan pundak Gaara.
"Selamat kau akan menjadi ayah," ucapnya spontan. Jade Gaara membulat.
"A-ayah? Maksudmu Sa-ku-ra ha-mil?" tanyanya terbata-bata tak percaya.
"Ya, gadis soft pink tadi hanya kelelahan fisik dan mentalnya. Itu tak baik untuk kesehatan bayi dan ibunya, kuharap kau membuatnya sedikit rileks," lanjut dokter wanita itu santai lalu meninggalkan Gaara yang diam membatu.
Gaara menjambak rambutnya frustasi, tangan kanannya mengepal sangat erat sehingga cairan merah pekat mengalir karena cengkraman kukunya yang tajam. Giginya bergeletuk, aura membunuh menguar dari tubuhnya.
"SASUKE! KUBUNUH KAU SIALAN!"
.
.
.
TBC
Huwaaaaa...Arigatou Hani senpai, udah dilanjut. Chapter ini keren banget. Emosinya berasa banget.
Yosh...Minna, selamat membaca.
Review berupa kritik dan saran sangat kami perlukan untuk perbaikan ke depannya.
Terima kasih bagi yang sudah me-review, favorite dan follow cerita kami :*
