Disclaimer: Inazuma Eleven yang asli punya Level-5. (dan nggak main basket ^^v)
Warning: AU, OOC, shounen-ai, gaje, bad descript, EYD tidak sesuai, posibbly typo, perubahan POV, dsb.
Pair: HirotoxMidorikawa
Kantoku Daisuki
- Day of The Match -
.
.
.
Lusanya saat pagi hari aku bersiap-siap pergi ke sekolah. Ku masukkan baju seragam yang sudah dilipat rapi ke dalam tas, lalu kuikat rambut hijauku menjadi ponytail. Kupakai sepatu olahraga putih dengan tali hijau kesayanganku.
Sekedar memastikan penampilan, aku mematutkan diri di depan cermin kamarku. Jersey tim basket sekolah ternyata boleh juga ya, tak kalah menarik dengan yang kupakai dulu di Aliea Academy.
Ng …. Aliea Academy yah ….
Sejujurnya aku tidak tahu banyak soal akademi itu, aku hanya tahu dari Neechan kalau dulu aku pernah belajar sepak bola di akademi itu.
Tapi kenapa aku sendiri tidak ingat?
Ah entahlah, lagipula kepalaku sering sakit kalau berusaha memikirkannya.
.
.
"Neechan! Aku berangkat!" seruku seraya menutup pintu.
Namun saat aku berbalik badan, kulihat Hiroto tengah bersandar di pagar depan rumahku yang terbuka sembari memutar-mutar kunci di tangannya.
"Hiroto?" tegurku.
Yang kutegur itu tampak terperanjat sebelum ia berbalik badan menghadap padaku, "Oh, ohayou, Ryuuji!" ujarnya.
"Da-darimana kau tahu rumahku?" tanyaku bingung.
Hiroto hanya tersenyum kecil, "Nanti saja jawabnya, ayo kuantar kau ke sekolah." katanya.
"He?" aku mengangkat sebelah alisku, tambah bingung.
"Tidak perlu ha-he-ho begitu kan? Hayaku, nanti kau terlambat lho." kata Hiroto yang telah duduk di atas motor sport-nya tersebut.
"U-uhn." Aku pun menghampirinya. Ragu-ragu aku memegang jok motornya.
"Ikeh, Ryuuji." ucap Hiroto, lembut.
Aku mengulum bibirku kemudian naik ke motornya, kemudian kuselipkan tanganku di saku jaket Hiroto.
Tangan Hiroto yang berlapis sarung tangan itu menepuk pelan saku jaketnya, dimana tanganku tersimpan, lalu ia menghidupkan mesin motornya dan kami pergi ke sekolah.
Sesampainya di sana, ternyata Gouenji dan Kidou telah menungguku, mereka tampak gelisah.
"Ohayou!" seruku sambil berlari menghampiri mereka.
"Ah! Datang juga, kami telah menunggumu daritadi, tahu!" omel Kidou, sementara Gouenji hanya menampakkan ekspresi stoic-nya.
"Gomen …." kataku pelan.
"Ini, isi formulirnya, lalu kumpulkan ke Kudou-sensei." Kidou menyerahkan selembar kertas padaku.
"Kenapa tidak kalian isi sendiri saja selagi menungguku?" tanyaku protes, karena kolom-kolom di formulir tersebut masih bersih.
"Tulisan kami tidak ada yang bagus." jawab Kidou singkat, padat, dan tidak masuk akal.
"Kan ada Kazemaru …." Aku bergumam tak jelas sembari mengisi formulir tersebut.
"Nih, sudah!" aku menunjukkan tulisanku yang (sedikit) rapi itu, plus tanda tanganku yang bentuknya seperti rumput bergoyang.
"Err …. Ya sudah, kita kumpulkan, sensei ada di stadion." ujar Kidou, sedikit sweatdrop.
"Oke, ah iya Hiroto, kau juga mau ke stadion kan?" tanyaku pada Hiroto.
"Hai. Aku akan menyusul." jawab si rambut merah itu.
"Baiklah, jaa~" aku berlari mengikuti Kidou dan Gouenji ke stadion indoor.
.
.
"Gouenji, Kidou, Ryuuji! Kalian darimana saja, eh?! Pertandingan sudah hampir dimulai!" seru Kazemaru sewot.
"Sabar Kazemaru, sabar hehehe …." Endou berusaha menenangkan teman dekatnya itu sambil menunjukkan cengiran khasnya.
"Gomen gomen gomen …." Aku menggaruk kepalaku sembari tertunduk, dua kali kan aku dimarahi teman-temanku.
"Ah, kalian di sini ternyata. Kidou, mana formulir yang saya berikan padamu?" tiba-tiba Kudou-sensei datang.
"Oh, ini, sensei." Aku buru-buru menyerahkannya pada beliau.
Sensei berkumis tebal itu memeriksa setiap tulisan di formulir itu, "Baiklah. Sudah lengkap, sekarang silakan masuk ke lapangan." ujar beliau.
"Hai!" balas kami berlima.
Aku menaruh tasku di pinggir lapangan, lalu sambil sedikit meregangkan otot aku melangkah memasuki lapangan semen yang tiga hari sebelumnya aku tiduri seusai latihan itu.
Kami segera membentuk formasi. Aku melempar pandanganku ke seluruh penjuru tribun penonton, lalu tampaklah si rambut merah yang selama ini melatihku, Hiroto, ia tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya padaku.
Aku membalas senyumnya lalu kembali fokus dengan keadaan tempatku berdiri sekarang.
Wasit memasuki lapangan dengan memegang si oranye bundar di tangannya. Kemudian beliau memberi tanda agar kapten tim maju.
Aku, dan, oh ternyata kapten tim lawan adalah Natsumi, si putri kepala sekolah itu tampak tersenyum angkuh padaku.
Che. Dia pikir aku akan mengalah padanya? Kubalas senyum angkuh itu dengan senyum-meremehkan-ala-Midorikawa-Ryuuji.
Lalu wasit menjelaskan aturan mainnya, kemudian menentukan ring masing-masing tim, setelah itu beliau bersiap melempar bolanya ke atas.
Aku dalam posisi siaga, mataku melirik sekitarku, ring timku ada di sebelah kiri sana, dan di serong kananku ada Gouenji.
Bagus jadi nanti begitu bola dilempar aku bisa langsung menepaknya ke arah Gouenji.
Priiitt …. Peluit melengking diiringi riuh rendah suara penonton yang memadati tribun stadion ini.
Sesuai strategi kilatku barusan, aku menepak si bundar oranye itu ke arah Gouenji dan si muka stoic itu meneruskan bolanya pada Kazemaru.
Aku berlari sampai ke dekat ring, Kazemaru yang menyadarinya langsung mengumpan pada Kidou yang amat sangat bebas karena tidak ada yang menjaganya.
Tap. Kidou menerima bolanya, kemudian si googles itu mendribblenya.
"Ryuuji! Shoot!"seru Kidou sembari melakukan chest-pass padaku.
"As your wish!" aku pun melakukan slamdunk seperti yang diajarkan Hiroto.
"Yeeeaaahh!" sorak sorai pendukung tim kelasku membahana, tentu saja karena aku berhasil mengganti angka nol di papan skor menjadi angka 2.
Aku berhigh-five dengan Kidou lalu kulihat Hiroto melepaskan tinju ke udara dan tersenyum lebar padaku.
Bola mataku membesar melihat senyumnya itu ….
Ugh …. Sepertinya aku pernah melihat senyuman itu ….
(Normal POV)
Seorang wanita berambut yang memakai blus berwarna krem itu melangkah tergesa saat memasuki stadion yang telah dipadati siswa-siswi yang menonton pertandingan basket itu.
"Ah sudah mulai sejak tadi rupanya …." gumam wanita bernama Hitomiko itu saat melihat papan skor yang menampilkan angka 37 – 34.
Wanita itu melayangkan pandangannya untuk mencari tempat duduk yang kosong, dan ia menemukan Hiroto yang akan beranjak dari kursinya.
"Hiroto!" seru Hitomiko sambil menghampiri si rambut merah.
Hiroto pun menoleh, "Eh? Neechan?"
"Bagaimana permainan Ryuuji, Hiroto?" tanya Hitomiko.
"Oh, dia bermain dengan baik, Neechan." Jawab Hiroto seraya tersenyum.
"Yokatta …." Hitomiko menarik napas lega, "Ngomong-ngomong kau mau kemana Hiroto?"
"Aku harus pergi, Neechan." kata Hiroto.
"Kenapa? Permainannya belum selesai kan?" tanya Hitomiko bingung.
Hiroto hanya tersenyum tipis, ia melenggang pergi sambil melambaikan tangannya dan berkata, "Jangan lupa sampaikan suratku pada Ryuuji ya, Neechan."
"De-demo …. Hiroto?!"
Hitomiko tak dapat mengejar Hiroto yang telah berbaur di tengah padatnya penonton.
.
.
(Ryuuji's POV)
Setelah permainan sudah berlangsung cukup lama, aku mulai merasa lelah, peluh membasahi jersey-ku dan napasku terengah-engah.
Aku melirik sekilas papan skor, masih harus mencetak 13 poin lagi untuk mencapai poin yang seharusnya yaitu 50.
"Times remaining, 15 minutes to go." seru suara dari mikrofon.
"Nani?!" Aku agak terkejut mendengarnya, 15 menit untuk mengejar 13 poin apa cukup?
Kepalaku menoleh ke arah tribun penonton, lho kemana Hiroto? Dia tidak ada di sana?
Bukk. Aku tertimpuk bola karena lengah, lalu bolanya dengan mudah direbut tim lawan.
"Ryuuji! Daijoubu?" tanya Kazemaru.
"A-ah nandemonai." jawabku sembari memegangi kepalaku yang tertimpuk bola.
"Woooww!" sorakan pendukung tim lawan terdengar. Astaga, bahkan mereka sudah mencetak dua poin lagi, skor mereka nyaris imbang dengan skor timku.
"Kami tidak akan kalah!" seru Gouenji, ia menaikkan skor dua poin dengan slamdunk-nya. Kali ini pendukung tim kelas kami yang bersorak.
Aku mencoba mengenyahkan hal yang membuyarkan konsentrasiku, namun aku tak tahan untuk tidak menoleh ke tribun penonton. Hiroto, kemana kau?
'Aduh .… fokuslah Ryuuji, kau sedang bertanding ….' Aku memberikan sugesti pada diriku sendiri.
Karena konsentrasiku goyah, tim lawan selalu berhasil mencuri bola dan mencetak angka, namun berkat kerjasama yang baik tim kelasku juga selalu berhasil menyamakan kedudukan.
"Ryuuji, kau ini kenapa? Fokuslah pada pertandingan!" seru Kidou.
"Go-gomen …." ujarku takut, karena Kidou tampaknya marah padaku.
"Lakukanlah yang terbaik! Kami percaya kau bisa jadi kapten bagi kami!" seru Gouenji.
"Minna …." gumamku tertahan.
Ah, bagaimana bisa aku bertindak gegabah seperti ini? Baka kau Ryuuji!
Papan skor menampakkan angka 48 – 47, timku ketinggalan dan waktu sudah masuk ke menit-menit terakhir. Kalau hanya slamdunk saja, skor kami hanya melampaui satu poin saja dari mereka. Lagipula mereka berpotensi merebut bolanya kemudian menyelesaikan permainannya.
Itu tak boleh terjadi!
Tiba-tiba terlintas suatu teknik di benakku.
Three-point-shoot!
Yeah! Aku harus melakukannya, harus, atau aku akan mempermalukan kelasku dan memuaskan keangkuhan Natsumi.
Aku melesat maju, kulihat bola ada dalam kuasa timku, langsung saja kupinta bola itu.
"Endou!"
"Ah, Ryuuji!" Endou melakukan passing jauh.
Aku menerima umpannya lalu mendribble si bundar oranye itu sekali dan bersiap melakukan teknik itu.
'Rahasianya ada pada kekuatan dorongan tanganmu, Ryuuji ...'
Ucapan Hiroto terngiang di benakku, saat itu juga bola basket di tanganku telah kutembakkan ke ring.
Waktu seolah berhenti sejenak sampai akhirnya terdengar sorak sorai dari tribun penonton diikuti oleh lengkingan peluit tanda permainan usai.
"Yattaaaa!" Endou melepaskan tinju ke udara sembari melompat tinggi.
Sementara aku hanya berdiri mematung, terkesima saat melihat skor bagian kelasku menunjukkan angka 50.
Berhasil? Kami berhasil!
Senyumku perlahan mengembang, namun tiba-tiba ….
"Ukh …."
Kepalaku mendadak sakit sekali. Pandanganku pun memburam.
Sekilas aku melihat sosok anak berambut merah, tersenyum lembut ke arahku.
.
.
Senyum itu ….
"Hiro …. to …."
.
.
Brukk.
"Ryuuji!"
- To Be Continued -
note: gomennasaaii minna-san~ saya telat update dua hari x_x *sujud*
sebetulnya saya mau update kemarin, tapi saya malah ketiduran pas ngetiknya dan gajadi update (_ _") *dilempar sendal*
etto ... sepertinya endingnya sedikit janggal yah? '_' *plakk nyadar juga*
anw, sudikah readers-sama mengoreksi chapter ini di review? *bows*
